• Tidak ada hasil yang ditemukan

ARTIKEL GEO. PARIWISATA

N/A
N/A
Viery Armensyah

Academic year: 2023

Membagikan "ARTIKEL GEO. PARIWISATA "

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Pengaruh Pariwisata terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Kota Bukittinggi Viery Armensyah20136081

Mahasiswa Departmen Geografi, Faklutas Ilmu Sosia, Universitas Negeri Padang [email protected]

Abstrak

Kota Bukittinggi merupakan salah satu destinasi pariwisata yang populer di Indonesia.

Selain memiliki keindahan alam dan budaya yang kaya, Kota Bukittinggi juga memiliki aksesibilitas yang baik dan infrastruktur yang memadai sehingga menjadi salah satu tujuan wisata yang diminati wisatawan.Metode penelitian yang digunakan oleh peneliti yakni literatur review. Literatur review merupakan penelitian yang menggunakan sumber data dari artikel yang relevan kemudian dilakukan review terhadap artikel.. Bidang Kepariwisataan ditetapkan sebagai potensi unggulan daerah Kota Bukittinggi adalah berangkat dari kondisi alam dan geografis Kota Bukittinggi itu sendiri. Kota bukittinggi saat ini mempunyai luas + 25.239 km2 terletak ditengah-tengah Propinsi Sumatera Barat dengan ketinggian antara 909 M – 941 M diatas permukaan laut. Suhu udara berkisar 17, 1oC sampai 24,9oC, Jadi, pariwisata dapat memberikan pengaruh yang positif terhadap pertumbuhan ekonomi Kota Bukittinggi dengan meningkatkan pendapatan, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan investasi di wilayah tersebut. Namun, perlu diingat bahwa pariwisata juga dapat memberikan dampak negatif terhadap lingkungan dan masyarakat setempat jika tidak dikelola dengan baik. Oleh karena itu, perlu adanya perencanaan dan pengelolaan yang baik dalam pengembangan pariwisata di Kota Bukittinggi agar dapat memberikan manfaat yang optimal bagi pertumbuhan ekonomi wilayah tersebut.

Kata Kunci : Ekonomi, Pariwisata,

(2)

Pendahuluan

Industri pariwisata berkembang cukup pesat setiap tahunnya di Indonesia karena Indonesia terkenal dengan banyak pesona, keindahan alam dan keanekaragaman budayanya, sehingga jumlah wisatawan domestik maupun mancanegara terus meningkat.

Menurut (Organisasi Pariwisata Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa, 2013), selama enam dekade terakhir, pariwisata telah tumbuh dan terdiversifikasi sebagai salah satu sektor ekonomi terbesar dan paling cepat berkembang di dunia. World Travel and Tourism Council (WTTC), yang menyumbang sekitar 9,2% dari produk domestik bruto (PDB), dan angka ini diperkirakan akan terus tumbuh lebih dari 4% per tahun selama 10 tahun ke depan (WTTC). , 2010). . Beberapa manfaat pariwisata bagi perekonomian menurut (Antari, 2013) adalah sebagai berikut: menyumbangkan devisa, meningkatkan pendapatan masyarakat, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan sektor ekonomi, membuka peluang investasi, mendorong kegiatan usaha dan berpotensi mengumpulkan APBN dari pajak tidak langsung.Kota Bukittinggi merupakan salah satu destinasi pariwisata yang populer di Indonesia. Selain memiliki keindahan alam dan budaya yang kaya, Kota Bukittinggi juga memiliki aksesibilitas yang baik dan infrastruktur yang memadai sehingga menjadi salah satu tujuan wisata yang diminati wisatawan.

Sejak diundangkannya UU No. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang otonomi daerah, setiap daerah memiliki kebebasan dan hak untuk menentukan arah pembangunan ekonominya. Untuk itu diperlukan kemampuan daerah untuk menggali dan mengembangkan potensinya sebagai sumber kegiatan ekonomi.

Identifikasi industri basis dan industri dominan harus bertindak sebagai pendorong utama pertumbuhan suatu daerah. Karena setiap perubahan yang terjadi pada sektor fundamental akan berdampak eksponensial terhadap perekonomian daerah

Kota Bukittinggi merupakan salah satu kota di provinsi Sumatera Barat. Kota ini tidak memiliki potensi sumber daya alam berupa hutan, mineral, gas alam dan perikanan laut yang dapat dijadikan sebagai sumber pasokan perekonomian kota. Namun, kota Bukittinggi letaknya strategis, berada di persimpangan ekonomi antara wilayah Barat- Timur dan Utara-Selatan Sumatera. Secara keseluruhan, kelokan dan perbukitan membuat udara segar dan bersih, dan ada sejumlah tempat wisata yang menjadikan Bukittinggi tujuan wisata dan kota resor populer di provinsi Sumatera Barat. (RKPD Kota Bukittinggi 2012). Masuknya pariwisata sebagai salah satu industri unggulan Bukittinggi

(3)

tentunya akan mempengaruhi perkembangan kawasan tersebut, baik secara ekonomi maupun tata ruang. Dilihat dari perannya dalam PDRB 2012, kontribusi industri pariwisata (grosir dan eceran, hotel, restoran, transportasi, hiburan) mencapai 36,93%.

Angka ini merupakan kontribusi yang luar biasa dan tinggi terhadap GDPR. Namun secara sektoral, selain perdagangan besar dan eceran serta transportasi, proporsi kontribusi sektor lain seperti hotel, restoran dan hiburan relatif rendah, tepatnya kurang dari 3%. Besar kecilnya kontribusi PDRB suatu industri bukanlah satu-satunya ukuran apakah suatu industri dapat berkembang menjadi industri yang strategis dan dominan.

menentukan rencana pengembangan ke depan (Arsyad, 1999:109), dan apakah sektor tersebut dapat memberikan efek pengganda pada produksi, pendapatan rumah tangga dan angkatan kerja, dan apakah sektor tersebut dapat menjadi sektor yang menarik dan merangsang pertumbuhan dan pengembangan bidang lain atau tidak. Sampai saat ini belum diketahui pengaruh pariwisata terhadap perekonomian Bukittinggi secara keseluruhan. Untuk itu perlu dilakukan kajian “Pengaruh Pariwisata Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Kota Bukittinggi”.

Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan peneliti adalah literature review. Tinjauan Pustaka adalah penelitian yang menggunakan sumber data dari artikel yang relevan kemudian mengkaji artikel tersebut. Makalah ini dapat ditemukan di situs web seperti pubmed, portal penelitian, google Scholar, dll. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan Google Scholar untuk mencari artikel terkait. Teknik pengumpulan data yang digunakan dipilih sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Kriteria artikel yang digunakan adalah memiliki masa publikasi minimal 5 tahun dan fokus pada pariwisata serta dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi.

Hasil dan Pembahasan

Pengaruh pariwisata terhadap pertumbuhan ekonomi kota Bukittinggi dapat dilihat dalam beberapa aspek, antara lain:

Penciptaan lapangan kerja. Pariwisata dapat menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat setempat, baik secara langsung maupun tidak langsung. Misalnya, banyak orang bekerja di industri perhotelan, restoran, biro perjalanan, dll.

(4)

Peningkatan pendapatan. Pariwisata dapat meningkatkan pendapatan masyarakat setempat, melalui penjualan produk oleh pedagang kaki lima, atau melalui penyewaan kendaraan, atau melalui pajak dan retribusi yang dibayarkan oleh wisatawan.

Pembangunan infrastruktur. Pariwisata dapat menjadi sumber pendapatan pemerintah, yang dapat digunakan untuk membangun infrastruktur seperti jalan, jembatan dan pekerjaan umum lainnya. Hal ini akan mempermudah akses ke berbagai tempat wisata dan meningkatkan kualitas pelayanan yang diberikan.

Pembangunan Industri. Pariwisata dapat menjadi motor penggerak di balik pengembangan industri terkait seperti masakan, kerajinan tangan, dan cinderamata. Hal ini akan meningkatkan daya saing kota Bukittinggi dan meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan. Meningkatkan kunjungan wisatawan. Pariwisata dapat meningkatkan jumlah wisatawan ke kota Bukittinggi, baik domestik maupun mancanegara. Hal ini akan meningkatkan pendapatan dari sektor pariwisata dan meningkatkan popularitas kota Bukittinggi sebagai tujuan wisata. Namun, beberapa aspek negatif pariwisata juga patut kita perhatikan, seperti kerusakan lingkungan, ketimpangan ekonomi dan konflik sosial.

Oleh karena itu, penting bagi pemerintah dan masyarakat untuk mengelola pariwisata secara bijak dan berkelanjutan sehingga berdampak positif bagi pertumbuhan ekonomi kota Bukittinggi.

Sektor pariwisata dinilai sebagai potensi besar kota Bukittinggi, selain kondisi alam dan geografis kota Bukittinggi itu sendiri. Kota Bukittinggi saat ini luasnya +25.239 Km2 terletak di tengah Provinsi Sumatera Barat dengan ketinggian berkisar antara 909 M – 941 M dpl, suhu udara berkisar antara 17,1 oC sampai 24,9 m oC, sesuai dengan tempat dengan iklim yang sejuk. Letaknya yang strategis berada di jalan segitiga menuju Sumatera Utara, Timur dan Selatan.

Topografi kota ini berbukit dengan pemandangan alam yang indah dan dikelilingi oleh tiga gunung Merapi, Singgalang dan Sagu sebagai pilar penyangga Bukittinggi. Inilah mengapa Bukittinggi juga dikenal sebagai "Kota Tri Arga".

Selain itu Bukittinggi juga dilengkapi dengan monumen-monumen bersejarah yang dapat digolongkan sebagai keajaiban seperti Lubang Jepang, Benteng Fort De Kock, Jam Gadang, dll. Hal ini membuktikan bahwa Bukittinggi merupakan kota tua yang sarat akan sejarah, salah satunya masih terkait dengan sejarah bangsa yaitu:

(5)

Bukittinggi menjadi ibu kota Republik Demokratik Rakyat Korea Peri pada PDRI periode Desember 1949 – Juli 1950 Destinasi wisata yang menarik untuk dinikmati. Bersinergi dengan potensi daerah lain yang lebih tinggi. Bukittinggi juga berkembang di bidang wisata komersial dan jasa, wisata kesehatan, wisata konferensi dan rekreasi serta jasa lainnya. Hal ini dapat dibuktikan dengan kontribusi industri pariwisata untuk mendukung Kawasan Lindung Bukittinggi yaitu: berada pada kisaran 30-40%. Untuk mendukung industri pariwisata, selain obyek wisata alam di dalam Kota Bukittinggi juga disediakan paket wisata untuk daerah sekitarnya. Dalam hal ini, Bukittinggi akan berperan sebagai

“fasilitas penerima” kunjungan wisatawan ke daerah lain. Saat ini, Bukittinggi memiliki 43 hotel berbintang dan melati, serta 11 wisma. Tak salah jika Bukittinggi ditetapkan sebagai kota wisata dan kota tujuan wisata provinsi Sumatera Barat pada 11 Maret 1984.

Bukittinggi ditetapkan sebagai kota wisata dan daerah tujuan wisata bagian utama Sumatera Barat. Dan pada Oktober 1987 ditetapkan sebagai kawasan pengembangan pariwisata provinsi Sumatera Barat dengan peraturan daerah nomor :25 tahun 1987.

Untuk mendukung pariwisata, kota ini telah memiliki infrastruktur akomodasi yang memadai, seperti hotel berbintang berkapasitas 660 kamar dan 1.083 tempat tidur dan hotel non bintang berkapasitas 630 kamar dan 1.261 tempat tidur, puluhan rumah makan dan rumah makan, sejumlah biro perjalanan, serta dilengkapi pasar wisata dan toko suvenir. Pemkot Bukittinggi berkenan mengedepankan citra sapta (Aman, Aman, Bersih, Sejuk, Indah, Ramah dan Rayakan) yang ditenun sejak tahun 2000 pada Pameran Umum Festival Seni Budaya Industri dan Perdagangan Bukittinggi (PEDATI).

Kesimpulan dan Saran

Pengaruh pariwisata terhadap pertumbuhan ekonomi kota Bukittinggi dapat signifikan.

Pariwisata dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi kota Bukittinggi dengan meningkatkan pendapatan, menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan investasi di daerah.

Pertama, pariwisata dapat meningkatkan pendapatan di kota Bukittinggi dengan meningkatkan jumlah pengeluaran wisatawan untuk berbelanja, menginap di hotel dan menggunakan jasa transportasi di daerah tersebut. Selain itu, pariwisata juga dapat meningkatkan pendapatan melalui pajak dan retribusi yang dibayarkan oleh bisnis pariwisata kepada pemerintah.

(6)

Kedua, pariwisata juga dapat menciptakan lapangan kerja di kota Bukittinggi. Dengan bertambahnya jumlah wisatawan di suatu kawasan, maka akan dibutuhkan banyak tenaga kerja untuk melayani jumlah pengunjung tersebut, seperti di bidang perhotelan, restoran, transportasi, dan lain-lain. Hal ini akan menambah angka pengangguran di wilayah tersebut.

Ketiga, pariwisata juga dapat mendongkrak investasi di kota Bukittinggi. Dengan semakin banyaknya wisatawan yang datang ke suatu daerah, maka diperlukan peningkatan kualitas fasilitas wisata yang ada di daerah tersebut, seperti hotel, restoran, tempat wisata, dll. Ini akan meningkatkan investasi di wilayah tersebut dan menciptakan lapangan kerja baru.

Oleh karena itu, pariwisata dapat memberikan pengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi Bukittinggi dengan meningkatkan pendapatan, menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan investasi di daerah tersebut. Namun perlu diingat bahwa pariwisata juga dapat memberikan dampak negatif bagi lingkungan dan masyarakat setempat jika tidak dikelola dengan baik. Oleh karena itu, diperlukan perencanaan dan pengelolaan pengembangan pariwisata yang tepat di kota Bukittinggi agar dapat memberikan manfaat yang optimal bagi pertumbuhan ekonomi daerah.

Referensi

Adisasmita, Rahardjo. 2005. Dasar-Dasar Ekonomi Wilayah. Yogyakarta: Penerbit Graha Ilmu

Arsyad, Lincolin, 1999. Pengantar Perencanaan dan Pembangunan Ekonomi Daerah.

Yogyakarta: Penerbit BPFE

Bukittinggi Dalam Angka 2013. Kantor Statistik Kota Bukittinggi, 2013

Daryanto, Arief dan Yundi, Hafisrianda. 2010. Model-Model Kuantitatif Untuk Perencanaan Pembangunan Ekonomi Daerah. Bogor: Penerbit IPB Press

Marpaung. Happy. 2002. Pengetahuan Kepariwisataan. Bandung: Penerbit Alfabeta Nazara, Suahasil. 2005. Analisis Input Output. Jakarta: Penerbit Lembaga Peneribit

Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia

Nazir, Mohamad. 2003. Metode Penelitian. Jakarta: Penerbit Ghalia Indonesia

Pendit, N.S. 1999. Ilmu Pariwisata Sebuah Pengantar Perdana: Penerbit, PT. Anem Kosong Anem

(7)

Penghitungan Dan Analisis Tabel Input Output Sumatera Barat 2007. Badan Pusat Statistik dan Bappeda Provinsi Sumatera Barat, 2009

Rencana Kerja Pembangunan Daerah Kota Bukittinggi Tahun 2012, Bappeda & PM Kota Bukittinggi, 2011

Soekadijo. 1997. Anatomi Pariwisata (Memahami Pariwisata sebagai Systemic Linkage). Jakarta: Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama

Spillane, J J. 1994. Pariwisata Indonesia Siasat Ekonomi dan Rekayasa Kebudayaan,.

Yogyakarta: Penerbit Kanisius

Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung:

Penerbit Alfabeta

Wardiyanta. 2006. Metode Penelitian Pariwisata. Yogyakarta: Penerbit. CV. Andi Offset Yoeti, Oka A. 2008. Ekonomi Pariwisata Introduksi, Informasi dan Aplikasi.

Jakarta: Penerbit: PT. Kompas Media Nusantara

Yunus, Hadi. 2000. Struktur Tata Ruang Kota. Yogyakarta: Penerbit: Pustaka Pelajar Arief Hartoko (2009); Faktor-Faktor Yang mempengaruhi Pendapatan Daerah Dari

Sektor Pariwisata Di Kotamadya Malang Dalam penelitian terdahulu oleh Arief Hartoko (2009), mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur

Austriana, Ida. 2005, “Analisis Faktor yang Mempengaruhi Penerimaan Daerah dari Sektor Pariwisata”, Fakultas Ekonomi, Universitas Diponegoro

Ayu, 2013, Regresi Panel dengan Metode Weighted Cross-Section Sur Pada Data Pengamatan GDP Dengan Heterokedastisitas dan Korelasi Antar Individu (Cross Section Correlation), Universitas Brawijaya

Dalam penelitian terdahulu oleh Fitri Saputri Anggraini (2004), mahasiswi Fakultas Ekonomi Institut Pertanian Bogor.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jumlah kunjungan wisatawan mancanegara di DKI Jakarta.

Dalam penelitian terdahulu oleh Nasrul Qadarrochman (2010), mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro. Firsti Saputri Anggraini (2004); Analisis Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Jumlah Kunjungan Wisatawan Mancanegara di DKI Jakarta

(8)

Gujarati, D.N.,2012, Dasar-dasar Ekonometrika, Terjemahan Mangunsong, R.C., Salemba Empat, buku 2, Edisi 5, JakartaI Putu Anom, 2010, Analisis Pariwisata, Fakultas Pariwisata Universitas Udayana, Bali

Kodhyat, H. (1983 : 4). Pengertian Pariwisata dan Kepariwisataan. Yogyakarta Koen Meyers, 2009, Pengertian Pariwisata, Diakses Februari 2015 Kuncoro, Mudrajad

(2009)., Metode Riset Untuk Bisnis dan Ekonomi. Erlangga. Jakart

Referensi

Dokumen terkait

Suhu udara dan kelembaban harian di Indonesia umumnya tinggi, yaitu berkisar antara 24 – 34 o C dan kelembaban 60 - 90%. Hal tersebut akan sangat mempengaruhi tingkat produktivitas

Secara umum kebijakan di sektor pariwisata yang telah dikeluarkan pemerintah daerah Kabupaten Sukabumi berhubungan positif dengan tingkat pendapatan dan penyerapan tenaga

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah jumlah wisatawan, arus kendaraan dan jumlah kamar hotel berpengaruh positif signifikan terhadap pendapatan pariwisata,

positif pada bidang pariwisata di Kota Semarang dari tahun ke tahun. berarti melebihi target sebesar 62 %. Adapun pendapatan sektor pariwisata selama lima tahun terakhir.

Suhu udara dan kelembaban harian di Indonesia umumnya tinggi, yaitu berkisar antara 24 – 34 o C dan kelembaban 60 - 90%. Hal tersebut akan sangat mempengaruhi tingkat produktivitas

Sebaliknya, pada suhu udara rata-rata yang berada pada kisaran suhu optimumnya, tanaman soba memiliki respon positif terhadap pertumbuhan dan pemasakan bulir...

Dari hasil pengujian tabel 6 dapat diketahui bahwa variabel investasi sektor pariwisata berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

Suhu udara dan kelembaban harian di Indonesia umumnya tinggi, yaitu berkisar antara 24 – 34 o C dan kelembaban 60 - 90%. Hal tersebut akan sangat mempengaruhi tingkat produktivitas