• Tidak ada hasil yang ditemukan

artikel pkl syifa

N/A
N/A
Syifa Adira Mariana

Academic year: 2025

Membagikan "artikel pkl syifa"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

Penentuan Kimiawi Kadar Krom Oksida Menggunakan Metode Titrasi Berdasarkan SNI 06-0645-1989 Dan SNI ISO

5398-1:2018 Di Unit Pengelola Pengujian, Inspeksi, dan Sertifikasi PPKUKM DKI Jakarta

Syifa Adira Mariana

1Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Jakarta Jl. Rawamangun Muka, Rawa Mangun, Jakarta Timur, DKI Jakarta 13220, Indonesia

Email: [email protected]

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kadar krom oksida (Cr₂O₃) pada kulit tersamak menggunakan dua metode pengujian, yaitu SNI 06-0645-1989 dan SNI ISO 5398-1:2018, di Unit Pengelola Pengujian, Inspeksi, dan Sertifikasi Produk Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (UPPISP PPKUKM) Provinsi DKI Jakarta. Kulit yang diuji merupakan kulit samak krom dari kambing dan anak sapi, yang harus memenuhi standar mutu perdagangan. Metode yang digunakan adalah titrasi iodometri, yang terbukti efektif dalam mengukur kadar kromium. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kadar Cr₂O₃ pada sampel bervariasi, dengan rata-rata kadar Cr₂O₃ menggunakan metode SNI 06-0645-1989 sebesar 3,07% dan SNI ISO 5398-1:2018 sebesar 2,98%. Uji statistik t-test menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan antara kedua metode (p > 0,05), yang mengindikasikan bahwa kedua metode dapat diandalkan untuk analisis kadar Cr₂O₃. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa sampel kulit yang diuji aman digunakan, karena kadar krom oksida berada di bawah ambang batas yang ditetapkan oleh SNI, serta kedua metode pengujian memberikan hasil yang konsisten. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam standarisasi produk kulit di Indonesia dan perlindungan konsumen.

Kata kunci: Cr₂O₃, kulit tersamak, titrasi iodometri, SNI .

Abstract

This study aims to analyze the chromium oxide (Cr₂O₃) content in tanned leather using two testing methods, namely SNI 06-0645-1989 and SNI ISO 5398-1:2018, at the Unit of Testing, Inspection, and Certification of Industrial Products, Trade, Cooperatives, Small and Medium Enterprises (UPPISP PPKUKM) in DKI Jakarta Province. The tested leather is chrome- tanned leather from goats and calves, which must meet trade quality standards. The method employed is iodometric titration, which has proven effective in measuring chromium content.

The test results indicate that the Cr₂O₃ content in the samples varies, with an average Cr₂O₃ content of 3.07% using the SNI 06-0645-1989 method and 2.98% using the SNI ISO 5398- 1:2018 method. Statistical t-test analysis shows no significant difference between the two methods (p > 0.05), indicating that both methods can be relied upon for Cr₂O₃ analysis. The conclusion of this study is that the tested leather samples are safe for use, as the chromium oxide content is below the threshold set by SNI, and both testing methods provide consistent results. This research contributes significantly to the standardization of leather products in Indonesia and consumer protection.

Keywords: Cr₂O₃, tanned leather, iodometric titration, SNI.

(2)

Pendahuluan

Unit Pengelola Pengujian, Inspeksi dan Sertifikasi Produk Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (UPPISP PPKUKM) Provinsi DKI Jakarta merupakan Organisasi Perangkat Daerah di bawah Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah yang memiliki tugas memberikan jasa pelayanan pengujian, inspeksi dan sertifikasi pada produk-produk PPKUKM. UPPISP PPKUKM merupakan satu-satunya laboratorium di bawah pemerintahan provinsi DKI Jakarta yang menguji produk tekstil. UPPISP PPKUKM berfungsi untuk memberikan jasa pelayanan pengujian yang mengutamakan hasil uji akurat dan tepat waktu untuk memuaskan pelanggan dan menetapkan sistem manajemen sesuai SNI ISO/IEC 17025:2017. Salah satu pelayanan pengujian yang dilakukan adalah uji kadar krom oksida kulit tersamak.

Kulit merupakan kulit samak khrom yang berasal dari kulit kambing atau kulit anak sapi yang biasanya dibuat untuk bahan pembuatan produk sandang, kulit boks harus memiliki syarat-syarat tertentu agar memenuhi standar mutu perdagangan. Analisa diperlukan untuk mengetahui kualitas kulit apakah kulit tersebut sudah sesuai dengan SNI, SSI dan standar mutu perdangan.

Kadar krom oksida kulit tersamak adalah jumlah senyawa krom yang ditetapkan sebagai Cr

2O3 yang terdapat dalam kulit tersamak yang dinyatakan dalam persen berat. Pengujian kadar krom dalam kulit bertujuan untuk mengetahui jumlah krom pada kulit tersamak yang menyebabkan kulit tersebut menjadi matang. Kadar krom oksida dinyatakan sebagai persen dari berat contoh kulit, yang dinyatakan sebagai berikut 1 mL Thio Sulfat setara dengan 0,0253 gram krom oksida.

Standardisasi produk merupakan hal terpenting untuk menjamin kelayakan produk ketika diperdagangkan baik dalam lingkup nasional maupun dalam lingkup internasional. Selain itu, standarisasi produk akan menjadi acuan untuk menjamin perlindungan konsumen baik pada produk impor, maupun produk yang akan diekspor ke luar negeri. Hampir setiap negara di dunia memiliki standar untuk produk yang akan mereka pasarkan, termasuk negara Indonesia, yang menetapkan Standar Nasional Indonesia (SNI) pada setiap produk yang akan di perdagangkan (Wahyuni, 2020).

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah titrasi iodometri, yang telah terbukti efektif dalam mengukur kadar kromium, terutama pada kulit yang disamak dengan kromium yang diperkirakan memiliki kadar krom oksida tidak lebih dari 2,5-3,5%. Metode ini tidak hanya memberikan keakuratan dalam pengukuran, tetapi juga sesuai dengan standar SNI 06-0645-1989 dan SNI ISO 5398-1:2018, yang menjamin kepatuhan terhadap syarat mutu yang berlaku.

Metode

Alat dan Bahan

Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah lemari asam, penangas listrik, neraca analitik, cawan porselen, labu takar 500 ml, buret 50 ml, gelas ukur 100, gelas ukur 500ml, kertas saring, lemari asam, corong kaca, pewaktu, erlenmeyer 500 ml, Erlenmeyer 250 ml, pipet volume 10 ml, 25 ml dan 50 ml, pipet tetes, kompor listrik dan batu didih. Bahan yang digunakan pada penelitian ini yaitu sample kulit, asam klorida (HCL) 38%, asam nitrat (HNO3), Asam sulfat (H2SO4) 98%, Asam perklorat (HClO4), asam fosfat (H3PO4), larutan Kalium Iodida (KI) 10%, larutan Natrium tiosulfat (Na2S2O3), larutan kanji dan air suling.

(3)

Pembuatan Larutan K2CrO30.1N

Larutan K2CrO3 berfungsi sebagai pelarut dalam pembuatan larutan standarisasi. Larutan K

2CrO3 dibuat dengan cara ditimbang K2CrO3 sebanyak 0.49 gram kemudian dimasukkan kedalam Labu Ukur 100 mL lalu dilarutkan dengan Aquadest hingga tanda tera dan dihomogenkan.

Pembuatan Larutan KI 10%

Larutan KI dibuat dengan cara ditimbang bubuk KI sebanyak 10 gram dan dilarutkan dengan Aquadest hingga 100 mL kemudian beri label dan simpan pada wadah gelap dan tertutup.

Pembuatan Larutan Larutan Amilum 1%

Larutan amilum berfungsi sebagai indikator dalam titrasi iodometri. Larutan amilum dibuat dengan cara ditimbang sebanyak 1 gram dan larutkan dengan Aquadest hingga 100 ml kemudian panaskan sampai larutan jernih.

Pembuatan Larutan Natrium Thio Sulfat 0.1 N

Larutan Natrium Thio Sulfat berfungsi sebagai indicator dalam titrasi iodometri. Larutan amilum dibuat dengan cara ditimbang sebanyak 12,4 gram lalu masukkan kedalam labu ukur 500 mL dan larutkan dengan Aquadest sampai tanda tera. Kemudian beri label, simpan pada wadah gelap dan tertutup. Masa kadaluarsa larutan ini 3 bulan setelah tanggal pembuatan.

Pembuatan Larutan HCl 4 N

Pipet sebanyak 33 mL HCL ke dalam labu ukur 100 ml kemudian larutkan dengan Aquadest hingga tanda tera dan dihomogenkan.

Standarisasi Larutan Natrium Thio Sulfat

Isi buret dengan larutan Natrium Thio Sulfat, dimasukkan 20 ml larutan K2Cr2O7 0,1 N kedalam Erlenmeyer 500 ml, ditimbang 2 gram KI dan dimasukkan kedalam Erlenmeyer sambil digoyangkan hingga larut sempurna lalu ditambahkan 2 ml HCl 4N dan dititrasi dengan larutan Na2S2O3 sampai berwarna kuning muda, lalu ditambahkan 5 tetes indicator kanji dan dilanjut titrasi sampai larutan berwana biru muda.

Pengujian SNI 06-0645-1989

Sampel digunting dengan ukuran kecil lalu dihaluskan. Sample tersebut ditimbang dengan bobot (3,0000 ± 3,0005) g lalu dimasukkan kedalam cawan dan difurnace selama 30 menit lalu pindahkan kedalam erlennmeyer 250 ml. Didalam lemari asam ditambahkan 20 ml HNO3 pekat, 25 ml HClO4 pekat dan 20 ml H2SO4 pekat. Diletakkan corong kaca di atas erlenmeyer untuk mengurangi penguapan, dan dipanaskan sampai wama larutan menjadi jingga merah yang jernih kemudian dinginkan selama 5 menit. Setelah larutan dingin dipipet 200 ml larutan tersebut ke dalam Erlenmeyer 500 ml, tambah 10 ml asam klorida pekat, (sampai warna kuning menjadi jingga), ditambah 2 ml asam fosfat, 10 ml larutan kalium iodida 10%, lalu ditutup biarkan selama 2 menit ditempat yang gelap, kemudian dititer dengan larutan 0.1 N natrim tio sulfat dan ditambahkan 2 ml indikator larutan kanji setelah mendekati titik akhir titrasi dan dicatat mililiter larutan tiosulfat yang digunakan.

Pengujian SNI ISO 5398-1:2018

Sampel digunting dengan ukuran kecil lalu dihaluskan. Sample tersebut ditimbang dengan bobot (3,0000 ± 3,0005) g lalu dimasukkan kedalam erlenmeyer 500 ml. Didalam lemari asam ditambahkan 20 ml asam nitrat dan 25 ml campuran asam sulfat dan asam perklorat

(4)

lalu ditempatkan corong di leher Erlenmeyer dan dipanaskan hingga mendidih di atas api sedang. Ketika campuran reaksi mulai berubah menjadi oranye, api dikecilkan. Setelah terjadi perubahan warna seluruhnya diangkat Erlenmeyer dan dibiarkan dingin di udara selama 5 menit dan diencerkan hingga sekitar 200 ml dengan aquadest. Dipanaskan Kembali selama 10 menit untuk menghilangkan klorin. Dibiarkan dingin dan tambahkan 5 ml ortophosphoric acid untuk melindungi dari besi. Kedalam larutan ditambahkan 20 ml larutan kalium iodide lalu tutup labu dan diamkan selama 10 menit dalam ruang gelap.

Larutan dititrasi dengan larutan natrium tiosulfat 0,1 mol/l hingga larutan dalam wadah berwarna hijau atau biru, saat akhir titrasi ditambahkan 5 ml larutan indikator kanji dan dicatat mililiter larutan tiosulfat yang digunakan.

Perhitungan SNI 1989

w1−w2 w1−w3×500

200×V × N ×0,02533 w

SNI 1989

Wcr=V1×0,00253×100× F M0

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian yang dilakukan pada saat Praktek Kerja Lapangan adalah analisa kadar Krom Oksida pada Kulit Tersamak dengan metode Titrasi sesuai standar SNI 06-0645-1989 dan SNI ISO 5398-1:20182015 Di Unit Pengelola Pengujian, Inspeksi dan Sertifikasi Produk Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (UPPISP PPKUKM) Provinsi DKI Jakarta. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk. Titrasi yang digunakan dalam pengujian ini yaitu titrasi iodometri. Prinsip dasar metode titrasi iodometri adalahPrinsip titrasi iodometri adalah pengukuran konsentrasi zat pengoksidasi dalam larutan dengan cara menambahkan larutan standar natrium tiosulfat yang mereduksi iodine yang terbentuk dari reaksi antara zat pengoksidasi dan kalium iodida, dengan perubahan warna sebagai indikator akhir titrasi.

Standarisasi Larutan Natrium Thio Sulfat

Larutan natrium tiosulfat berfungsi sebagai larutan standar dalam berbagai proses iodometri, dan natrium tiosulfat juga digunakan sebagai titran dengan indikator amilum.

Dalam hal ini, natrium tiosulfat bereaksi dengan iodin yang terbentuk dari reaksi analit dengan larutan KI berlebih. Proses ini penting untuk menentukan normalitas larutan Na2S2

O3, yang bukan larutan standar primer, sehingga diperlukan perlakuan dengan menggunakan larutan standar KI, yang merupakan agen pengoksidasi dan standar primer yang baik. Penting untuk menstandarisasi larutan ini karena ketidakstabilannya dalam kondisi basa, di mana kestabilannya dapat dipengaruhi oleh pH rendah, idealnya pada pH 9- 10. Selain itu, sinar matahari dapat mempengaruhi larutan, yang berpotensi mengganggu proses pemanasan dan iodisasi yang kurang sempurna (Silviana et al., 2019).

Tiosulfat berperan sebagai ion hidrogen dengan sifat antioksidan, yang memengaruhi efek toksisitasnya. Natrium tiosulfat juga dapat terlibat dalam reaksi belerang dalam sintesis organik sulfur. Natrium, sebagai logam alkali yang sangat reaktif, tidak ditemukan dalam bentuk bebas di alam, dan cenderung membentuk senyawa ionik dengan unsur halogen.

(5)

Natrium juga merupakan konduktor listrik yang baik. Sebagai alternatif, substansi lain dapat digunakan sebagai standar primer dalam larutan natrium tiosulfat. Iodin murni merupakan standar yang paling jelas, meskipun digunakan bersama larutan agen pengoksidasi kuat yang membebaskan iodin dari iodida (Copper et al., 2021).

Natrium tiosulfat dapat dengan mudah diperoleh dalam keadaan kemurnian yang tinggi, namun selalu ada saja sedikit ketidakpastian dari kandungan air yang tepat, karena sifat flouresen atau melapuk-lekang dari garam itu dan karena alasan-alasan lainnya.  Karena itu, zat ini tidak memenuhi syarat untuk dijadikan sebagai larutan baku standar primer. 

Natrium tiosulfat merupakan suatu zat pereduksi, dengan persamaan reaksi sebagai berikut  :

2S2O32- S4O62- +   2e

Pembakuan larutan natrium tiosulfat dapat dapat dilakukan dengan menggunakan kalium iodat, kalium kromat, tembaga dan iod sebagai larutan standar primer, atau dengan kalium permanganat atau serium (IV) sulfat sebagai larutan standar sekundernya.  Namun pada percobaan ini senyawa yang digunakan dalam proses pembakuan natrium tiosulfat adalah kalium dikromat.

Larutan thiosulfat sebelum digunakan sebagai larutan standar dalam proses iodometri ini harus distandarkan terlebih dahulu  oleh kalium dikromat yang merupakan standar primer.  Larutan kalium dikromat ini ditambahkan dengan asam klorida, warna larutan menjadi kuning.  Dan setelah ditambahkan dengan kalium iodida, larutan berubah menjadi coklat kehitaman.  Fungsi penambahan asam klorida dalam larutan tersebut adalah memberikan suasana asam, sebab larutan yang terdiri dari kalium dikromat dan klium iodida berada dalam kondisi netral atau memiliki keasaman rendah.

Indikator yang digunakan dalam proses standarisasi ini adalah indikator amilum 1%. 

Penambahan amilum yang dilakukan saat mendekati titik akhir titrasi dimaksudkan agar amilum tidak membungkus iod karena akan menyebabkan amilum sukar dititrasi untuk kembali ke senyawa semula. Proses titrasi harus dilakukan sesegera mungkin, hal ini disebabkan sifat I2 yang mudah menuap. Pada titik akhir titrasi iod yang terikat juga hilang bereaksi dengan titran sehingga warna biru mendadak hilang dan perubahannya sangat jelas.  Penggunaan indikator ini untuk memperjelas perubahan warna larutan yang terjadi pada saat titik akhir titrasi.  Sensitivitas warnanya tergantung pada pelarut yang digunakan.  Kompleks iodium-amilum memiliki kelarutan yang kecil dalam air, sehingga umumnya ditambahkan pada titik akhir titrasi.  Jika larutan iodium dalam KI pada suasana netral dititrasi dengan natrium thiosulfat, maka :

I3 +   2S2O32- 3I +   S4O62-

S2O32- +   I3 S2O3I +   2I 2S2O3I +  I S4O62- +  I3

S2O3I +  S2O32- S4O62- +  I

Dari hasil perhitungan diketahui besarnya konsentrasi natrium thiosulfat yang digunakan sebagai larutan baku standar sebesar 0,0953 N

Pengujian SNI 06-0645-1989

Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kadar Krom Oksida (Cr₂O₃) pada sampel yang diuji dengan menggunakan dua metode yang berbeda, yaitu SNI 06-0645-1989 dan SNI ISO 5398-1:2018. Pengujian kadar krom dalam kulit bertujuan untuk mengetahui jumlah krom pada kulit tersamak yang menyebabkan kulit tersebut menjadi matang. Pengu

(6)

jian kadar krom dilakukan dengan menggunakan abu pada pengujian kadar abu. Larutan abu dioksidasi dengan HNO3 pekat, HCIO4 pekat, dan H2SO4 pekat dipanaskan hingga warna larutan menjadi bikromat. Larutan didinginkan kemudian ditambah dengan air sul- ing dan dipanaskan kembali sampai klor bebasnya hilang Selanjutnya kadar krom oksidnya ditetapakan dengan iodometri.

Sampel yang diuji terdiri dari sepuluh sampel yang mewakili produk yang sering dianalisis di Unit Pengelola Pengujian, Inspeksi, dan Sertifikasi PPKUKM DKI Jakarta. Hasil kadar Cr₂O₃ yang diperoleh untuk setiap metode pengujian tercatat dalam tabel berikut:

Sampel SNI 1989 SNI 2018

1 3,20% 2,92%

2 3,5 3,00%

3 2,72% 2,92%

4 3,15% 2,97%

5 2,62% 2,90%

6 3,4% 3,03%

7 3,4% 2,97%

8 3,33% 3,08%

9 3.03% 3,06%

10 2,5 2,92%

Dari hasil pengujian tersebut, terlihat bahwa kadar Cr₂O₃ yang diperoleh dengan menggunakan metode SNI 06-0645-1989 lebih tinggi daripada metode SNI ISO 5398- 1:2018 pada sebagian besar sampel. Perbedaan nilai rata-rata kadar Cr₂O₃ antara kedua metode adalah sekitar 0,09%, dengan nilai rata-rata pada metode SNI 06-0645-1989 sebesar 3,07%, sedangkan pada metode SNI ISO 5398-1:2018 sebesar 2,98%., perbedaan ini menunjukkan adanya variasi dalam hasil pengujian yang disebabkan oleh perbedaan metodologi atau bahan kimia yang digunakan dalam kedua standar.

Uji Statistik t-test

Untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara kadar Krom Oksida yang diperoleh dengan kedua metode tersebut, dilakukan uji statistik t-Test (Two-Sample Assuming Equal Variances). Berdasarkan hasil uji t-test, diperoleh data sebagai berikut:

t-Test: Two-Sample Assuming Equal Variances

3,2 2,92

Mean 3,07222222 2,98111111

Variance 0,14101944 0,00418611

Observations 9 9

Pooled Variance 0,07260278 Hypothesized Mean

Difference

0

Df 16

t Stat 0,71730025

P(T<=t) one-tail 0,24176513

(7)

t Critical one-tail 1,74588368 P(T<=t) two-tail 0,48353025 t Critical two-tail 2,1199053

Karena nilai t Stat (0,717) lebih kecil dari t Critical (2,1199) dan P-value lebih besar dari 0,05 (0,4835), maka ho diterima, yang berarti tidak ada perbedaan yang signifikan antara kadar Krom Oksida yang diperoleh dengan menggunakan SNI 06-0645-1989 dan SNI ISO 5398-1:2018 pada tingkat signifikansi 5%.

Perbedaan kadar Cr₂O₃ antara dua metode pengujian ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti perbedaan prosedur analisis, jenis bahan kimia yang digunakan, atau instrumen yang dipakai. Misalnya, dalam SNI 06-0645-1989, prosedur yang lebih lama mungkin menggunakan teknik gravimetri atau titrasi yang lebih rentan terhadap kesalahan pengukuran, sementara SNI ISO 5398-1:2018 menggunakan metode yang lebih modern, seperti spektroskopi atau teknik analisis instrumen yang lebih presisi.

Namun, hasil uji statistik yang menunjukkan bahwa perbedaan tersebut tidak signifikan, mengindikasikan bahwa meskipun metode yang digunakan berbeda, keduanya memberikan hasil yang konsisten dalam pengukuran kadar Cr₂O₃. Hal ini menunjukkan bahwa kedua metode dapat dipertimbangkan sebagai alternatif yang dapat diandalkan untuk analisis kadar Cr₂O₃, asalkan prosedur pengujian dilakukan dengan benar dan sesuai standar.

Sumber-sumber yang mendasari pengujian ini, seperti jurnal dan pedoman dari badan standarisasi, menyarankan bahwa perbandingan metode semacam ini sangat penting untuk meningkatkan kualitas dan konsistensi hasil laboratorium (Güven et al., 2020; Zeng et al., 2019). Kedua metode tersebut telah terbukti dapat digunakan untuk analisis kadar kromium oksida pada berbagai produk, meskipun memiliki sedikit perbedaan dalam hasil.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian PKL yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa:

1. Sampel Kulit yang telah diuji aman digunakan, karena berdasarkan hasil perhitungan kandungan krom oksida berada dibawah ambang batas yang telah ditetapkan oleh SNI yaitu kadar krom oksida kulit tersamak antara 2.5-3.5%.

2. Dari hasil pengujian dan analisis statistik, dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara kadar Krom Oksida yang diperoleh dengan metode SNI 06-0645-1989 dan SNI ISO 5398-1:2018.

Ucapan Terima Kasih

Terimakasih kepada instansi Di Unit Pengelola Pengujian, Inspeksi dan Sertifikasi Pro- duk Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (UPPISP PP- KUKM) selaku instansi yang memberikan kesempatan untuk melakukan praktik kerja lapangan sekaligus tempat dilakukannya penelitian ini. Terima kasih kepada penyelia dan analis laboratorium kimia UPPISP yang telah membantu dalam penelitian maupun dalam penyelesaian laporan PKL ini.

(8)

Daftar Pustaka

Güven, K., Yalçın, G., & Altun, A. (2020). Comparison of Chromium Oxide : Determination Methods in Solid Waste Analysis. Journal of Environmental Analytical Chemistry, 35(4), 1-7.

Herjanto, E. (2011). PEMBERLAKUAN SNI SECARA WAJIB DI SEKTOR INDUSTRI:

(Vol. V). Jakarta: Jurnal Riset Industri .

Kardila, R. I. (2022). ISOLASI, IDENTIFIKASI DAN SELEKSI JAMUR YANG BERPOTENSI SEBAGAI AGEN BIOREMEDIASI. Bandung:

perpustakaan.upi.edu.

Liza Wahyuni, N. A. (2020). Perlindungan Konsumen Pakaian Bayi Tidak Berstandar Nasional Indonesia Dikota Banda Aceh. PROGRESIF: Jurnal Hukum, 209-228.

Putri, A. D., Ahman, Hilmia, R. S., S. A., & S. P. (2023). PENGAPLIKASIAN UJI T DALAM PENELITIAN EKSPERIMEN (Vol. 4). Bandung: Lebesgue: Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika, Matematika dan Statistika.

Rachman, F. A., Goejantoro, R., & Hayati, M. N. (2018). Penentuan Jumlah Replikasi Bootstrap Menggunakan. Jurnal EKSPONENSIAL, 9, 35.

Syafriani, d., Darmana, A., Syuhada, F. A., & Sari, D. P. (2023). BUKU AJAR STATISTIK. Medan.

Yuliatmo, R., & Udkhiyati, M. (2020). APLIKASI ENZIM BAKTERI PADA PENYAMAKAN KULIT: REVIEW DALAM PENGOLAHAN. Yogyakarta:

Seminar Nasional Teknologi Industri hijau.

Zeng, L., Zhang, C., & Wang, Y. (2019). A Comparative Study of Standard : Methods for Chromium Content Determination in Industrial Waste. : International Journal of Chemical Analysis, 22(3), 112-118.

(9)
(10)

‘1

Referensi

Dokumen terkait

Diisi gelas piala dengan sedikit air telebih dahulu, kemudian dipipet 40 mL asam sulfat pekat, lalu dilarutkan dengan aquades hingga 250 mL. Lalu dilarutkan dengan aquades hingga

Dipipet ke tabung reaksi untuk masing-masing larutan standar, caranya : untuk konsentrasi 10 µg//ml maka dipipet larutan stok 1 ml dan ditambahkan 9 ml akuades, diaduk dengan

a Timbang 10 g sampai dengan 20 g W dengan teliti ke dalam Erlenmeyer 250 mL, tambahkan 30 mL HNO3 pekat dan biarkan 15 menit; b panaskan perlahan selama 15 menit di dalam lemari

Diisi gelas piala dengan sedikit air telebih dahulu, kemudian dipipet 40 mL asam sulfat pekat, lalu dilarutkan dengan aquades hingga 250 mL. Lalu dilarutkan dengan aquades hingga

Masukkan 20 ml larutan stok indigo ke dalam labu 1 L, kemudian tambahkan 10 g sodium dihidrat pasfat (NaH 2 PO 4 ) serta 7 ml asam posfat pekat.. Larutan sebaiknya disiapkan pada

a Timbang 10 g sampai dengan 20 g m dengan teliti ke dalam Erlenmeyer 250 mL, tambahkan 30 mL HNO3 pekat dan biarkan 15 menit; b panaskan perlahan selama 15 menit di dalam lemari

Bahan Bahan yang digunakan yaitu kulit buah salak, aluminium foil, aloksan, amil alkohol, ammonium hidroksida, aquadest, asam asetat anhidrat, asam klorida pekat, asam klorida 10%,

Voss, aluminium foil, amil alkohol, amoniak, NaOH, asam asetat anhidrat, asam klorida, asam sulfat pekat, aquadest, besi III klorida, CMC-Na 1%, etanol 70 % dan 95%, eter, larutan