Perilaku Pemilih Masyarakat Dalam Pemilihan Umum (Studi Kajian Sosiologi Politik)
Nur Anna Sahada/20058110 Seksi: 202120580072 Jurusan Pendidikan Sosiologi
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perilaku pemilih masyarakat terhadap pemilihan umum serentak pada tahun 2019. Penelitian ini menggunakan pendekatan dan metode kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan melakukan wawancara dan selanjutnya dianalisis dengan deskriptif kualitatif. Adapun hasil penelitian ini adalah menujukkan bahwa pada umumnya perilaku pemilih masyarakat mempunyai karakteristik pribadi sosial yang berbeda-beda, namun dari berbagai macam perbedaan itu para pemilih cukup banyak yang peduli dan sadar akan hak politik mereka serta peran mereka sebagai masyarakat atau warga negara. Perilaku pemilih masyarakat dalam menentukan pilihannya dipengaruhi oleh pendekatan dari teori Afan Gaffar yaitu Mazhab Columbia atau pendekatan sosiologis. Perilaku pemilih masyarakat yang dimana mereka menentukan pilihannya yang dirasa paling disukai atau paling cocok.Hasil penelitian ini mengacu pada kesadaran sendiri untuk memilih dan melihat sosok figur bukan faktor lain.
Kata kunci:perilaku pemilih, pemilihan umum Pendahuluan
Di Indonesia Pemilihan Umum (Pemilu) dilakukan sebagai suatu wujud nyata dari demokrasi dan menjadi sarana bagi rakyat dalam menyatakan kedaulatannya terhadap negara dan pemerintah. Pemilu yang dilakukan tersebut berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945. Selain itu, pemilu yang diselenggarakan harus dengan asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) (Nur Wardhani, 2018).
Setiap masyarakat berpartisipasi dalam pemilu. Kegiatan yang dilakukan oleh warga negara dikenal dengan istilah partisipasi politik, karena pemilihan umum ataupun pemilihan kepala daerah dapat mempengaruhi peraturan dan keputusan yang otoritatif. Dalam hal ini menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat sebagai pemilih dapat mempengaruhi hasil pemilu (Salsabila & Nurmina, 2022)
Menurut Miriam Budiarjo (2008:136) bahwa perilaku pemilih merupakan sebagai kegiatan seseorang atau kelompok orang untuk ikut serta secara aktif dalam kehidupan politik, antara lain dengan jalan memilih pemimpin negara dan secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi kebijakan pemerintah (public) (Deborahana, 2019). Dan perilaku pemilih adalah bentuk dari partisipasi pemilu atau partisipasi politik, dan merupakan bentuk partisipasi yang paling elementer dalam demokrasi (Ferdian et al., 2019).
Namun, berdasarkan hasil wawancara yang diperoleh bahwa perilaku pemilih masyarakat mempunyai karakteristik pribadi sosial yang berbeda-beda, namun dari berbagai macam perbedaan itu para pemilih cukup banyak yang peduli dan sadar akan
hak politik mereka serta peran mereka sebagai masyarakat atau warga negara. Dan dengan adanya status ekonomi, karakter suku, usia, jenis kelamin, dan agama, menjadikan hal itu sebagai suatu karakteristik sosial yang memiliki pengaruh terhadap partisipasi politik (Ferdian et al., 2019).
Berdasarkan uraian diatas, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana perilaku pemilih masyarakat dalam pemilihan umum dengan melakukan wawancara serta menggunakan pendekatan atau metode kualitatif.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, yaitu kualitatif suatu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati (Atika, dr. Effendi Hasan, 2020).
Metode kualitatif menghasilkan data deskriptif, baik berupa kata-kata ungkapan tertulis, ucapan dan perilaku yang diamati dari orang-orang. Selain itu, teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah wawancara. Dalam pelaksanaan wawancara, peneliti melakukan jenis wawancara terarah (guided interview) dimana peneliti menanyakan kepada informan hal-hal yang telah disiapkan sebelumnya (Rahardjo, 2011).Jadi melalui teknik wawancara itu, peneliti berharap bisa lebih mudah mendapatkan informasi dari masyarakat yang diwawancarainya.
Peneliti juga lebih fleksibel dan leluasa untuk mengembangkan pertanyaan yang ingin diajukan kepada masyarakat milenial, perempuan dan tokoh masyarakat. Dengan demikian, peneliti akan lebih cepat mendapatkan informasi yang diinginkan.
Hasil dan Pembahasan
Perilaku pemilih merupakan suatu tingkah laku seseorang dalam menentukan pilihannya yang dirasa paling disukai atau paling cocok (Deborahana, 2019). Menurut Ramlan Surbakti (2007) bahwa perilaku pemilih adalah akivitas pemberian suara oleh individu yang berkaitan erat dengan kegiatan pengambilan keputusan untuk memilih atau tidak memilih di dalam suatu pemilihan umum (pilkada secara langsung) (Ferdian et al., 2019). Perilaku memilih ini dipengaruhi oleh berbagai faktor yang dimana turut mempengaruhi pemilih dalam menentukan pilihannya. Faktor tersebut diantaranya seperti faktor kedaerahan/daerah asal calon, identifikasi kepartaian/kedekatan pemilih dengan partai pengusung calon, dan program-program pasangan calon yang dianggap akan memberikan keuntungan bagi mereka jika si kandidat terpilih, dan faktor agama.
Selain itu, perilaku pemilih masyarakat juga sering dipengaruhi dengan pemberian dari calon yang lazim disebutpolitik uang (vote buying) atau kampanye hitam. Dibutuhkan suatu analisa yang menghubungkan fenomena-fenomena perilaku memilih, baik yang terjadi di dalam ataupun di luar individu. Asrinaldi (2012) menyatakan bahwa dengan menghubungkan variabel-variabel yang ada dalam perilaku memilih, dapat diketahui mengapa seseorang melakukan tindakan politik, sementara yang lain tidak (Ferdian et al., 2019).
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti terhadap beberapa masyarakat yang dikelompokkan menjadi 3 informan yakni milenial, perempuan, dan tokoh masyarakat. Maka demikian diperoleh gambaran tentang persepsi masyarakat terhadap pemilihan umum yang disimpulkan sebagai berikut.
1. Milenial
Hasil wawancara dari beberapa narasumber milenial merupakan kalangan pemilih pemula. Menurut Undang-Undang No. 10 tahun 2008 dalam Bab IV pasal 19 ayat 1 dan 2 serta pasal 20 menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan pemilih pemula adalah warga Indonesia yang pada hari pemilihan atau pemungutan suara adalah Warga Negara Indonesia yang sudah genap berusia 17 tahun dan atau lebih atau sudah/pernah kawin yang mempunyai hak pilih, dan sebelumnya belum termasuk pemilih karena ketentuan Undang-Undang Pemilu (Nur Wardhani, 2018). Dari hasil wawancara yang dilakukan, narasumber milenial ikut serta berpartisipasi dalam pemilihan calon kepala negara yang dilaksanakan serentak pada tahun 2019. Selain itu dalam wawancara mengenai masalah politik uang ataupun kampaye hitam, mereka mengatakan hal itu tindakan yang buruk dan merugikan masyarakat yang mengingikan pemimpin yang baik. Dan pada pemilu 2024 yang akan datang, narasumber milenial menyatakan bahwa ia akan tetap menjadi pemilih dan akan memilih calon kandidat pemimpin yang sesuai dengan kriterianya.
2. Perempuan
Dalam hasil wawancara dari narasumber perempuan ini dilatarbelakangi oleh profesi dan umur yang berbeda-beda. Sehingga dapat disimpulkan bahwa semua narasumber tersebut ikut berpartisipasi dalam pemilu dan ada yang cukup selektif untuk menggunakan hak suaranya dalam memilih kandidat calon pemimpin yang dilaksanakan serentak pada tahun 2019. Hasil wawancara terdapat mengenai masalah politik uang ataupun kampaye hitam. Dari beberapa narasumber perempuan tersebut, mereka menyatakan bahwa tindakan hal itu akan merugikan masyarakat Indonesia yang mengharapkan mendapatkan pimpinan yang berkualitas. Dan pada pemilu 2024 yang akan datang, narasumber perempuan menyatakan bahwa kemungkinan akan ikut kembali memilih pemilu saat itu serta juga akan memilih pemimpin yang sesuai dengan kriteria yang baik dan berkualitas dalam memimpin. Selain itu, harapan narasumber perempuan untuk pilkada 2024 nantinya, mereka berharap pemilu dilaksanakan dengan demokratis.
3. Tokoh Masyarakat
Hasil wawancara narasumber dari tokoh masyarakat ini, dilatarbelakangi dengan profesi dan umur yang berbeda-beda, sehingga dapat disimpulkan bahwa semua narasumber ikut serta berpartisipasi dalam pemilihan umum. Narasumber dari tokoh masyarakat sangat selektif dalam melihat dan memilih kandidat calon pemimpin yang dilaksanakan serentak pada tahun 2019. Ada narasumber yang ikut berpartisipasi menjadi panitia dalam pemilihan umum tersebut. Dan mengenai permasalahan terkait politik uang atau kampaye hitam, mereka sangat menentang praktik tersebut.Karena hal tersebut sudah sangat bertentangan dengan nilai-nilaiapalagidalam nilai-nilai agama. Selain itu, sudah melanggar proses pemilihan umum yang seharusnya demokratis dan tindakan itu juga tidak adil bagi seorang kandidat calon pemimpin yang seharusnya menang serta juga masyarakat yang mengharapkan mendapatkan pemimpin yang memenuhi kriteria serta berkualitas.
Berdasarkan perpensi masyarakat diatas, dapat diketahui bahwa perilaku pemilih masyarakat terhadap pemilihan pemilu sesuai dengan pilihan yang dirasa mereka paling cocok dengan kriterianya. Dan dalam mempelajari permasalahan terkait perilaku pemilih, peneliti mengacu kepada beberapa pendekatan atau mashab. Secara umum, teori mengenai perilaku pemilih dalam menentukan pilihannya dipengaruhi oleh pendekatan dari teori Afan Gaffar yaitu Mazhab Columbia atau pendekatan sosiologis. Perilaku pemilih dari pendekatan sosiologis dipegaruhi oleh pendidikan, jabatan, dan jenis kelamin. Menurut mazhab ini bahwa mereka memandang masyarakat sebagai sesuatu yang bersifat hirarkis terutama berdasarkan status, karena masyarakat secara keseluruhan merupakan kelompok orang yang mempunyai kesadaran status yang kuat. Mereka percaya bahwa masyarakat sudah tertata sedemikianrupa sesuai dengan latar belakang dan karakteristik sosialnya, maka memahami karakteristik sosial tersebut merupakan sesuatu yang penting dalam memahami perilaku politik individu (Mopeng, 2021).
Dengan demikian, hal itulah dimana para pemilih, memilih karena melihat figur dari kandidat. Melalui kampanye, masa tenang dan hari pelaksanaan pun tidak memberi dampak yang besar bagi pemilih. Seperti salah satu wawancara dengan narasumber dari perempuan yaitu E (52 tahun, Ibu Rumah Tangga) yang menentukan pilihannya saat penetapan kandidat calon karena melihat figur dan kerja nyata yang sudah dilakukan. “Kandidat yang saya pilih berdasarkan keingginan saya dan tidak ada kepentingan lain di dalamnya.”Hal yang sama diutarakan narasumber dari tokoh masyarakat yaitu AMA (27 tahun, Kepala Desa PL) saat diwawancara AMA mengatakan, “Saya memilih kandidat calon sangat selektif. Kandidat yang saya pilih dilihat dari visi dan misi kandidat calon tersebut serta juga kualitasnya untuk memimpin Indonesia. Jadi saya tidak ragu menjatuhkan pilihan saat pemilu serentak pada tahun 2019.”
Dengan pernyataan dua narasumber tersebut diatas, dapat dilihat bahwa figur dari kandidat calon yang menjadi keinginannya untuk memilih serta mendorong menggunakan hak suara yang sudah diberikan. Dan hal Ini menunjukkan adanya kesadaran yang baik dari pemilih dalam menjatuhkan pilihannya. Hasil penelitian ini mengacu pada kesadaran sendiri untuk memilih dan melihat sosok figur bukan faktor lain. Para pemilih cukup banyak yang peduli dan sadar akan hak politik mereka sebagai masyarakat. Mereka mau berpartisipasi dalam pemilu dengan datang ke TPS dimana mereka tinggal sesuai dengan undangan yang mereka dapat dan mereka berpartisipasi dalam pemilu berdasarkan keinginan mereka sendiri, tidak adanya arahan dari pihak lain, tidak adanya suatu hal yang otoriter. Dengan demikian, dapat kita mengetahui perilaku pemilih di suatu daerah, juga berguna bagi partai politik untuk melakukan pemetaan pemilih yang merupakan fondasi dalam mendesain kampanye kompetisi elektoral yang efektif dan efisien.
Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, disimpulkan bahwa perilaku pemilih masyarakat mempunyai karakteristik pribadi sosial yang berbeda-beda, namun dari berbagai macam perbedaan itu para pemilih cukup banyak yang peduli dan sadar akan hak politik mereka serta peran mereka sebagai masyarakat atau warga negara.
Terhadap pemilihan umum, perilaku pemilih masyarakat dalam menentukan pilihannya dipengaruhi oleh pendekatan dari teori Afan Gaffar yaitu Mazhab Columbia atau pendekatan sosiologis. Perilaku pemilih masyarakat adalah dimana mereka menentukan pilihannya yang dirasa paling disukai atau paling cocok.Hasil penelitian ini mengacu pada kesadaran sendiri untuk memilih dan melihat sosok figur bukan faktor lain.Para pemilih cukup banyak yang peduli dan sadar akan hak politik mereka sebagai masyarakat. Mereka mau berpartisipasi dalam pemilu dengan datang ke TPS dimana mereka tinggal sesuai dengan undangan yang mereka dapat dan mereka berpartisipasi dalam pemilu berdasarkan keinginan mereka sendiri, tidak adanya arahan dari pihak lain, tidak adanya suatu hal yang otoriter.
Daftar Pustaka
Atika, dr. Effendi Hasan, M. . (2020).Jurnal Ilmiah Mahasiswa FISIP Unsyiah Volume 5, Nomor 1: Januari 2020 www.jim.unsyiah.ac.id/FISIP.
Deborahana. (2019). PERILAKU PEMILIH MASYARAKAT PADA PEMILIHAN UMUM LEGISLATIF DI DESA SAHAN KECAMATAN SELUAS DAPIL 2 KABUPATEN BENGKAYANG TAHUN 2019 Oleh.Jurnal S1 Ilmu Politik, 1–20.
Ferdian, F., Asrinaldi, A., & Syahrizal, S. (2019). Perilaku Memilih Masyarakat, Malpraktik Pemilu Dan Pelanggaran Pemilu.NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial,6(1), 20. https://doi.org/10.31604/jips.v6i1.2019.20-31
Mopeng, D. E. (2021). Perilaku pemilih pada pemilihan kepala daerah minahasa utara periode 2016-2021 (.2021, 1–15.
Nur Wardhani, P. S. (2018). Partisipasi Politik Pemilih Pemula dalam Pemilihan Umum.
Jupiis: Jurnal Pendidikan Ilmu-Ilmu Sosial, 10(1), 57.
https://doi.org/10.24114/jupiis.v10i1.8407
Rahardjo, M. (2011).Metode Pengumpulan Data Penelitian Kualitatif. 1–4.
Salsabila, & Nurmina. (2022). Partisipasi Politik Pemilih Perempuan di Sumatera Barat Berdasarkan Usia dan Tingkat Pendidikan.6, 2822–2827.