Muatan dalam
Peranca ngan
Perunda Undang ng-
an
LEGAL DRAFTING HTN A
Bismillahirrahmanirrahim
Kelompok 4 :
Tyas Lusiana 1520107 Afaf Fayadah 1520010
Lubna Shofuroyya 1520105
Dalam Bab II tentang Asas Peraturan Perundang-undangan berisi Pasal 5, 6, dan 7 UU No. 10 Tahun 2004, ditentukan pula bahwa dalam membentuk Peraturan Perundang-undangan harus berdasarkan pada asas pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik. Asas- asas yang dimaksud itu meliputi:
a. kejelasan tujuan;
b. kelembagaan atau organ pembentuk yang tepat;
c. kesesuaian antara jenis dan materi muatan;
d. dapat dilaksanakan;
e. kedayagunaan dan kehasilgunaan;
f. kejelasan rumusan; dan g. keterbukaan.
Kriteria substansif
Pasal 6 ayat (1) UU No. 10 Tahun 2004 juga menentukan adanya asas-asas yang harus
terkandung dalam materi muatan setiap peraturan perundang-undangan. Asas-asas yang dimaksud
adalah asas:
a. pengayoman b. kemanusiaan c. kebangsaan d. kekeluargaan e. kenusantaraan
f. bhinneka tunggal ika g. keadilan
h. kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan
i. ketertiban dan kepastian hukum dan
j. keseimbangan, keserasian, dan keselarasan.
setiap produk peraturan perundang-undangan negara Republik Indonesia yang berdasarkan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, haruslah:
a. Mencerminkan religiusitas kebertuhanan segenap warga negara melalui keyakinan segenap warga terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
b. Mencerminkan prinsip-prinsip humanitas yang berkeadilan dan berkeadaban atau sila kemanusiaan yang Adil dan Beradab.
c. Menjamin dan memperkuat prinsip nasionalitas kebangsaan Indonesia melalui sila persaturan Indonesia.
d. Memperkuat nilai-nilai sovereinitas kerakyatan melalui sila kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.
e. Melembagakan upaya untuk membangun sosialitas yang berkeadilan atau perwujudan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Prinsip Materi Undang-
undang
Materi mutlak UU
materi mutlak atau pokok materi nya telah diatur Dalam Peraturan Presiden Nomor 61 Tahun 2005 tentang Tata Cara
Penyusunan dan
Pengelolaan Prolegnas,
pasal 4 ayat (2) bunyinya ”Pokok materi yang akan diatur serta keterkaitannya dengan Peraturan Perundang-undangan lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan penjelasan secara lengkap mengenai konsepsi Rancangan Undang-Undang yang meliputi:
(1)Latar belakang dan tujuan penyusunan;
(2)Sasaran yang akan diwujudkan;
(3)Pokok-pokok pikiran, lingkup atau
obyek yang akan diatur, dan
(4)Jangkauan dan arah pengaturan.
Penyusunan materi UU
Perencanaan penyusunan UU dilakukan dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) yang disusun oleh DPR, Dewan Perwakilan Daerah (“DPD”), dan pemerintah untuk jangka
menengah dan tahunan berdasarkan skala prioritas pembentukan RUU ( Pasal 16 UU 12/2011 jo. ).
Langkah perancangan dapat dilakukan dengan
menyiapkan, menginvetarisir bahan/material dan mempelajarinya, antara lain:
1) Visi, Misi, Tujuan dan Program Kebijakan Hukum dan Perundang-undangan
Prolegnas/prolegda.
2) Peraturan Perundang-undangan yang menjadi landasan hukum dalam membentuk dan
menetapkan peraturan tersebut.
3) Hasil evaluasi pelaksanaan Peraturannya,
4) Peraturan-peraturan yang harus diubah dan disesuaikan dengan
Peraturan Perundang-undangan baru;
5) Masalah yang berkembang dan
menjadi kebutuhan masyarakat untuk diatur; dan
6) Bahan-bahan lain yang diperlukan;
hasil penelitian/pengkajian yang
berkait dengan substansi pokok
materi muatan yang akan diatur.
Selanjutnya setelah dilakukan identifikasi,
verifikasi dan evaluasi, dirancang dan disusun dalam bentuk tabel atau matriks, yang berisi
antara lain; jenis peraturan apa saja yang
dirancang akan disusun dan/atau akan direvisi, dasar hukum dan tujuannya. Disamping itu, merancang rencana; kegiatan perolehan bahan dan penjaringan aspirasi masyarakat, identifikasi
dan merumuskan masalah, dan persiapan rapat koordinasi perumusan bahan dan materi
penyusunan naskah akademik.
Dalam praktik dapat kita jumpai ada 3 (tiga) variasi rumusan daya laku suatu peraturan Perundang-undangan, yaitu:
Peraturan tersebut dinyatakan berlaku pada
tanggal diundangkan. maka peraturan tersebut mempunyai daya ikat dan daya laku pada
tanggal yang sama dengan tanggal Pengundangan.
Peraturan tersebut dinyatakan berlaku beberapa waktu setelah di undangkan. Artinya bahwa
peraturan tersebut mempunyai daya laku pada tanggal diundangkan, tetapi daya ikatnya setelah
tanggal yang ditentukan.
Peraturan tersebut dinyatakan berlaku pada tanggal diundangkan, tetapi
dinyatakan berlaku surut sampai tanggal yang ditentukan.
Keberlakuan
Undang-Undang
1
2
3
Peraturan Perundang-undangan dalam lembaran resmi, maka setiap orang
dianggap telah mengetahuinya dan
secara sah berlaku dan mengikat untuk umum. Keberlakuan suatu peraturan
perundang-undangan didasari oleh
keabsahan secara formil dari peraturan perundang-undangan tersebut.
Keabsahan ini juga disebut dengan
“Daya Laku”(validitas).
Materi Muatan Undang- Undang
Adapun materi muatan sebuah peraturan
perundang-undangan berdasarkan jenis dan hierarki peraturan perundang-undangan
adalah sebagai berikut:
Undang-Undang
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang- Undang
Peraturan Pemerintah Peraturan Presiden
Peraturan Daerah Provinsi
Peraturan Daerah Kabupaten/Kota
Materi muatan peraturan
perundang-undangan yang dapat memuat ketentuan pidana hanya undang-undang, peraturan daerah
provinsi, dan peraturan daerah
kabupaten/kota, sebagaimana telah disebutkan dalam Pasal 15 ayat (1)
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan
Peratura Perundang-Undangan.