ASUHAN KEPERAWATAN PADA An. D dengan HIPERTENSI DI RUANG FLAMBOYAN, RS. HASAN SADIKIN I. PENGKAJIAN
A. Identitas
1. Identitas Pasien
Nama : Tn. D
Tempat tanggal lahir / umur : Bandung, 08 Agustus 1966 / 54 tahun
Jenis kelamin : Pria
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Wiraswasta
Golongan darah : A
Diagnosa medik : Hipertensi
No. Medrec : 28020
Tanggal masuk RS : 20 Maret 2020 pukul 10.00 Tanggal pengkajian : 21 Maret 2020 pukul 08.00
Alamat : Kp. Mariuk RT 002/RW 001 Desa Bojong
Salam Kec. Rancaekek Kab. Bandung
Nomor Telepon : 081394661208
2. Identitas Penangggung Jawab
Nama : Ny. N
Umur : 48 tahun
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Alamat : Kp. Mariuk RT 002/RW 001 Desa Bojong
Salam Kec. Rancaekek Kab. Bandung
Hubungan dengan pasien : Istri B. Riwayat Kesehatan
1. Keluhan utama : Pasien mengatakan pasien sesak nafas
2. Riwayat kesehatan
a. Riwayat kesehatan sekarang
Pasien mengatakan pasien mengalami sesak nafas ketika ia merasa sakit kepala dan pusing, hal ini terjadi ketika pasien mengalami kelelahan dan kecapean. Pasien mengatakan pusing yang dirasakan seperti tertusuk. Pasien mengatakan nyeri di rasakan di kepala bagian belakang, leher dan pundak.
Skala nyeri yang dirasakan 5 dari 0-5. Pusing yang dirasakan hilang timbul, tetapi kemarin pasien merasa terus pusing dan pagi hari ini pasien sesak nafas sehinggga istri dan anak pasien langsung membawanya ke RS. Hasan Sadikin b. Riwayat kesehatan dahulu
Pasien mengatakan 5 tahun lalu, ia sempat dirawat di RSUD Majalaya karena Diare. Pasien tidak pernah mengalami kecelakaan dan tidak pernah di operasi. Pasien tidak pernah mengalami alergi terhadap makanan serta obat- obatan.
c. Riwayat kesehatan keluarga
Pasien mengatakan ayah pasien memiliki riwayat penyakit Hipertensi.
d. Genogram
Keterangan : ∆ = Pria → = Pasien
O = Wanita × = Meninggal dunia
× (HT) O
→ × ∆
O
Type equation here.
∆ O O
C. Pemeriksaan fisik
a. Penampilan Umum
Pasien terlihat lemas dan pucat b. Tingkat kesadaran
Compos Mentis c. Tanda Tanda Vital
Suhu 38 °C, Nadi 87 x/ menit, Tekanan Darah 170/100 mmHg, Respirasi 23 x/menit, Bising ususnya 10 x/menit
d. Pertumbuhan
Berat Badan sebelum sakit 72 kg, Berat badan saat sakit 66 kg, Tinggi Badan 160 cm
e. Kepala
• Inspeksi
Posisi kepala simetris terhadap bahu, bentuk dan ukuran bulat proposional, tidak ada lesi, kulit kepala bersih, rambut berwarna hitam tidak ada ketombe, distribusi rambut merata tidak ada benjolan,
• Palpasi
Tidak ada nyeri tekan, tidak ada rambut rontok, dan tekstur rambut halus.
f. Mata
• Inspeksi
Posisi mata simetris satu sama lain, bentuk dan ukuran proposional alis kanan kiri simetris distribusi bulu merata, bulu mata pasien sedikit dan tidak lentik, warna kelopak mata sama dengan daerah lainnya, terdapat kantung mata yang mulai menghitam, kornea berwarna cokelat, sklera berwarna cukup merah, ukuran dan bentuk iris dan pupil proposional, saat terkena cahaya pupil pasien mengecil, sampai ukuran 3,5 mm, dan pasien dapat menyebutkan huruf di shellen pada jarak 6m, pasien dapat melihat cahaya melintas. Pasien dapat menggerakkan bola matanya ke atas, kebawah, kekanan, kiri.
• Palpasi
Tidak ada nyeri tekan, benjolan dan tekstur alis halus dan merata.
• Tes lapang pandang
Pasien dapat melihat jarinya sampai 180° saat tes lapang pandang baik mata kanan maupun kiri. Pemeriksaan lapang pandang/penglihatan baik. Pengkajian gerakan ekstraokuler juga baik.
g. Telinga
• Inspeksi
Posisi telinga kanan dan kiri simetris sejajar dengan ujung mata, bentuk dan ukuran proposional, warna daun telinga sama dengan daerah lainnya, tidak terdapat edema.
• Palpasi
Tidak terdapat nyeri tekan, Tidak ada cairan dan bau pada lubang pendengaran, tidak ada lesi, pasien dapat mendengar bisikan angka secara acak pada jarak 30 cm, pasien dapat mendengar dengung garputala saat digetarkan dan didekatkan ke telinga (Tes Rinne), Pasien dapat mendengar garputala sama jelas saat garputala di letakkan di frontal (Tes Webber) dan Pasien tidak mendengar garpula saat dilakukan (Tes Swaba).
h. Hidung
• Inspeksi
Bentuk hidung pesek, ukuran proposional, posisi simetris warna hidung sama dengan daerah lain.
• Palpasi
Tidak ada lesi, tidak ada massa, tidak ada pembengkakan tidak ada nyeri tekan, tidak ada penyimpangan dasar hidung, pasien juga dapat membedakan bau dengan mata tertutup.
i. Mulut
• Inspeksi
Posisi simetri berada di tengah, ukuran dan bentuk proposional, warna bibir pucat mukosa bibir kering, tidak ada lesi, pasien dapat mengatupkan gigi dan tersenyum walaupun lemas, tidak ada karies gigi,
warna gigi putih kekuningan, warna gusi merah muda, warna lidah merah muda keputih-putihan.
• Palpasi
Pasien dapat menggerakan lidahnya kesegala sisi, tidak ada lesi, pada lidah, pada dasar mulut tidak terdapat pembengkakkan, pada pemeriksaan faringeal tidak terdapat inflamasi, tidak ada edema, tidak terdapat nyeri tekan, saat gigi dan gusi ditekan, pasien dapat membedakan rasa manis, pahit, asam, asin, saat dites pengecapan.
j. Leher
• Inspeksi
Posisi leher simetris tegak lurus, ukuran dan bentuk proposional, warna leher sama dengan daerah sekitarnya. Otot-otot leher simetris, trachea selaras,
• Palpasi
Pasien dapat memfleksikan dan menghiperkstensikan leher, tidak ada lesi dan edema, tidak ada massa diatas kelenjar tiroid, pasien dapat menelan tanpa rasa sakit, saat dipalpasi trachea pasien berada ditengah dan tidak ada nyeri tekan.
k. Dada
1. Thorax Posterior
• Inspeksi
Bentuk dada dari belakang ke depan proporsional simetris. Tidak ada penonjolan di area interkostal saat ekspirasi. Warna punggung sama dengan daerah lainnya
• Palpasi
Tidak ada benjolan, massa dan nyeri tekan.
• Perkusi
Paru paru tidak terisi cairan dan terdengar bunyi resonan
• Auskultasi
Tidak terdeteksi ada jalan nafas yang obstruksi. Gerakan lokal fremitus dapat dirasakan, semakin kebawah semakin menghilang
2. Thorax Anterior
• Inspeksi
Bentuk dada sari depan ke belakang proporsional dan simetris, warna dada sam adengan warna di daerah sekitarnya. Pasien tidak ada gangguan pada otot bantu pernafasan sternokleido marteid, trapesiur dan otot abdomen.
• Palpasi
Tidak ada nyeri tekan, oerawat dapat merasakan getaran vokal fremitus, semakin ke bawah semakin hilang.
• Perkusi
Kedua sisi saat dibandingkan dengan cara dimulai dari bawah klavikula kanan terdengar bunyi resonan, kecuali saat mendeteksi organ jantung dan hati bersifat dullness.
• Auskultasi
Perawat dapat membandingkan bunyi nafas dasar paru anterior dan bronkial pada pasien.
3. Jantung
• Inspeksi
Tidak ada benjolan vena pada dinding dada dan melihat pusasi iktus cordis
• Palpasi
Ikut cordis terletak di garis midclavikula sinistra intercoste V dan denyut jantung dapat dihitung pada iktus cordis
• Perkusi
Dapat menentukan batas kanan jantung setelah batas paru hepas dan menentukan batas kiri jantung setelah batas paru lembang.
• Auskultasi
Dapat mendengar bunyi jantung 1 dan bunyi jantung 2 pada masing- masing katup jantung.
4. Payudara
• Inspeksi
Ukuran dan bentuk proposional, posisi payudara kanan dan kiri simetris, warna payudara sama dengan derah sekitarnyaukuran putting dan aelora proposional berwarna coklat, putting terletak di tengah, arah putting cembung keluar,
• Palpasi
Tidak ada nyeri tekan, Tidak ada benjolan dan tidak ada massa. Tidak ada pembesaran pada kelenjar limfe-axillas dan clavicula.
l. Abdomen
• Inspeksi
Warna kulit sama dengan daerah sekitarnya, Posisi abdomen simetris.
• Palpasi
Tidak ada lesi dan edema, Tidak ada nyeri tekan di kuadran 1-4 organ
• Perkusi
Terdengar dullness di kuadran 2 dan terdengar timpani
• Auskultasi
Terdengar bising usus 10 x/menit m. Ekstermitas Atas
• Inspeksi
Posisi simetris antara tangan kiri dan kanan sejajar dan sama panjang, warna kulit sama dengan daerah sekitarnya. Jumlah jari 10. Kuku berwarna putih dan ada seedikit kotoran di kuku. Tidak ada lesi dan tidak ada edema,
• Palpasi
CRT 3 detik, denyutan arteri brachialis dan A radialis teraba jelas. Tidak ada luka.
• Rentang gerak sendi
Pasien mampu menggerakan sendi nya dan Tangan pasien dapat melakukan fleksi, ekstensi, abduksi dan adduksi, abduksi horizontal dan adduksi horizontal, deviasi radialis dan ulnaris, sirkumdaksi, rotasi internal dan eksternal.
• Refleks
Saat dilakukan tes refleks tendon trisep, bisep dan brachioradialis.
Refleks bisep dan trisep terlihat jelas. Saat dilakukan pemeriksaan trisep adanya reflek hammer, saat dilakukan pemeriksaan bisep adanya kontraksi otot bisep dan saat dilakukan pemeriksaan brachioradialis adanya supinasi normal jadi refleks bisep, trisep dan brachioradialis +++
• Sensoris dan Motoris
Pasien dapat merasakan permukaan benda halus, kasar, tajam, tumpul.
Pasien juga dapat merasakab benda dingin dan panas. Pasien dapat mengikuti intruksi yang diperintahkan perawat.
n. Ekstermitas Bawah
• Inspeksi
Posisi kaki simetris antara kanan dan kiri sejajar dan sama panjang, warna kulit sama dengan daerah lainnya, tidak ada lesi, jumlah jari 10, bentuk kaki proporsional.
• Palpasi
Tidak ada nyeri tekan, teraba jelas arteri femoralis, a. poplitea, a.dorsalis pedis. Pasien dapat melakukan kekuatan otot dengan skala 5 dari 0-5 karena dapat melawan tahanan pemeriksa dengan kekuatan maksimal.
• Rentang gerak sendi
Pasien mampu menggerakan sendinya.
• Refleks
Saat dilakukan tes refleks tendon patella dan archilles positif. Saat dilakukan pemeriksaan patella pasien merasa kesetrum jadi patella ++
• Sensoris dan Motoris
Pasien dapat merasakan permukaan benda halus, kasar, tajam, tumpul.
Pasien juga dapat merasakab benda dingin dan panas. Pasien dapat mengikuti intruksi yang diperintahkan perawat dan pasien dapat melakukan jalan biasa dan jalan jinjit.
Kekuatan Ekstermitas atas dan bawah
3 3 3 3 o. Genetalia
• Inspeksi
Tidak ada lesi, tidak ada edema dan benjolan, keadaan genetalia bersih, tidak ada penyumbatan pada lubang uretra bagian bawah dan batang penis.
• Palpasi
Tidak ada nyeri tekan dan benjolan D. Pola Aktivitas Sehari- hari.
No. Jenis aktivitas Sebelum Sakit Sesudah Sakit 1. Nutrisi
a. Makan Jenis Frekuensi Porsi Keluhan b. Minum
Jenis Jumlah Keluhan
Nasi, Daging, Sayur 3 x / hari
1 porsi Tidak Ada Air Putih, Kopi
10 x / hari 10 gelas / hari 250 cc
Nasi, Sayur, Buah 3 x / hari
1/2 porsi Tidak nafsu makan
Air Putih 5 x / hari 5 gelas / hari 250 cc 2. Eliminasi
a. BAK Frekuensi Konsistensi Warna Bau Keluhan b. BAB
Frekuensi Warna Bau Keluhan
1-2 x / hari Padat Kuning kecoklatan
Tidak ada Tidak ada 4-5 x / hari Kuning jernih
Tidak ada Tidak ada
1 x/ hari Padat Kuning kecoklatan
Tidak ada Tidak ada 3 x / hari Kuning pekat
Tidak ada Tidak ada 3. Personal Higyne
a. Mandi b. Keramas c. Gosok gigi
2 x / hari secara mandiri 1 x / hari secara mandiri
2 x / hari
1 x / hari dibantu perawat Belum keramas
1 x / hari 4. Istirahat Tidur
a. Malam Durasi Keluhan
7 – 8 jam / hari Tidak ada
4 jam Sulit tidur
b. Siang Durasi Keluhan
1-2 jam / hari Tidak ada
1 jam Tidak nyenyak 5. Olahraga
Jenis Frekuensi Durasi
Jogging 2 x / bulan
15 menit
Belum pernah Belum pernah Belum pernah 6. Gaya Hidup
Merokok Minuman Keras Obat Terlarang
Sering Tidak pernah Tidak pernah
Belum pernah Tidak pernah Tidak pernah E. Data psikososial dan spiritual
a. Pola komunikasi
Pasien terlihat sadar penuh dan mengerti apa yang perawat katakan, cukup kooperatif walau kurang bersemangat berbicara.
b. Konsep diri Body image
Pasien bersyukur seluruh anggota tubuhnya lengkap. Tidak ada bagian yang tidak disukai.
Ideal diri
Pasien ingin segera sembuh dan segera berkumpul dengan keluarga di rumah, Pasien ingin beraktivitas kembali dan bisa berkerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Peran
Pasien seorang ayah dari 3 anak yang biasa bekerja tetapi saat sakit ia tidak bisa bekerja
Identitas
Pasien seorang ayah berusia 54 tahun Harga diri
Pasien sangat menerima dan pasrah akan sakit yang sedang dideritanya.
c. Mekanisme koping
Jika pasien memiliki masalah, ia akan menceritakannya kepada istrinya d. Data spiritual
Makna hidup
Pasien selalu bersyukur atas apa yang Allah berikan kepadanya Pandangan terhadap sakit
Pasien bersabar dan bersyukur atas apa yang dideritanya. Ia menganggap selalu ada hikmah disetiap kejadian dan sakit sebagai penggugur dosa-dosanya.
Keyakinan akan sembuh
Pasien sangat yakin bahwa ia akan sehat kembali dan dapat beraktivitas secara normal
Kemampuan beribadah saat sakit
Sebelum pasien sakit ia selalu beribadaah dan mengerjakan shalat 5 waktu, saat sakit pun pasien melaksanakan shalat di tempat tidur dan mengetahui tata caranya.
F. Data pengetahuan
Pasien dan keluarga suadah mengetahui penyakit yang sedang diderita pasien.
G. Data penunjang
1. Hasil Laboratorium
Pemeriksaan Hasil (20 Maret 2020) Nilai Normal
Leukosit 18,7 ribu / ul 5 – 10 ribu / ul
Hemoglobin 6,6 g/dl 11,7 - 15,5 g/dl
Hematrokit 22 % 33-45 %
Trombosit 310 ribu / ul 150 – 440 ribu/ul
Eritrosit 2.34 juta / ul 3.80– 5.20 juta/ ul
2. X-Ray Tidak ada 3. USG
Tidak ada H. Terapi
Nama Obat Dosis Waktu Rute
Bisoprolol 10 mg 2 x 1 / hari Oral
Amlodepine 10 mg 2 x 1 / hari Oral
Aspirin 500 mg 2 x 1 / hari Oral A. Analisis data
No. Data Etiologi Masalah
1.
2.
3.
DS : Pasien mengatakan pusing karena kecapean dan kurang istirahat, nyeri yang dirasakan seperti tertusuk dan hilang timbul.
Skala nyeri yang dirasakan 5 dari 0- 5 terjadi secara mendadak.
DO : Pasien tampak meringis dan memegang bagian kepalanya dengan skala nyeri yang dirasakan 5 dari 0- 5
KU = lemah
TD = 170/100 mmHg S = 38 ℃
N = 87 x/menit Rr = 23 x/menit
DS : Pasien mengeluh tidak nafsu makan dan mual
DO : Kekuatan Otot = 3
Mulut kering pecah-pecah, aktivitas pasien terbatas
DS : Pasien mengatakan sulit tidur karena tidak terbiasa dengan lingkungan rumah sakit
DO : KU = Lemah
Pasien tampak pucat, konjungtiva anemis, area bawah mata hitam.
Umur, Jenis kelamin, Gaya hidup
↓ Hipertensi
↓ Otak
↓
Resistensi pembuluh darah otak
↓
Tekanan pembuluh darah otak meningkat
↓ Nyeri kepala
Umur, Jenis kelamin, Gaya hidup
↓ Hipertensi
↓ Otak
↓
Resistensi pembuluh darah otak
↓
Tekanan pembuluh darah otak meningkat
↓ Nyeri kepala
↓ Anoreksia
Umur, Jenis kelamin, Gaya hidup
↓ Hipertensi
↓ Otak
Nyeri akut
Ketidakseimbangan nutrisi
Gangguan Pola tidur
↓
Resistensi pembuluh darah otak
↓
Tekanan pembuluh darah otak meningkat
↓
Gangguan pola tidur
II. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri akut b.d. peningkatan vaskuler selebral d.d. pasien tampak meringis dan memegang bagian kepalanya.
2. Ketidakseimbangan Nutrisi b.d. ketidakmampuan atau mencerna nutrisi d.d. mulut kering pecah-pecah, aktivitas pasien terbatas.
3. Gangguan pola tidur b.d. ketidaknyamanan fisik d.d. pasien tampak pucat, konjungtiva anemis, area bawah mata hitam.
III. INTERVENSI KEPERAWATAN N
o.
Diagnosa Tujuan / Kriteria Hasil Intervensi Rasional 1. Nyeri akut
b.d.
peningkata n vaskuler selebral d.d. pasien tampak meringis dan memegang bagian kepalanya
Setelah diberikan asuhan keperawatan 3 x 24 jam diharapkan nyeri dapat berkurang, dengan kriteria hasil :
1. Nyeri pasien dapat
berkurang 2. Merasakan
rasa nyaman setelah nyeri berkurang 3. TTV dalam
batas normal
TD :
120/80mmHg N : 80 x/menit Rr : 18x/menit S : 36℃
1. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensi f termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi.
2. Observasi TTV
3. Kontrol lingkungan yang dapat mempengaru hi nyeri seperti suhu ruangan,
1. Dengan melakukan pengkajian nyeri, dapat diketahui Tindakan keperawatan yang tepat sesuai manajemen nyeri.
2. Tanda tanda vital merupakan tolak ukur perkembanga pasien 3. Lingkungan
yang nyaman dapat
mempengaruhi keadaan pasien
pencahayaan dan
kebisingan 4. Ajarkan
pasien untuk melakukan distraksi dan relaksasi.
5. Kolaborasika n dengan dokter untuk pemberian Aspirin 500 mg
6. Kolaborasika n dengan dokter untuk pemberian Bisoprolol dan
Amlodepine 10 mg
4. Teknik distraksi dan relaksasi dapat mengurangi ketegangan dan nyeri pasien berkurang.
5. Aspirin membantu mengurang nyeri tanpa menyebabkan kehilangan kesadaran.
6. Bisoprolol dan Amlodipine dapat
merelaksasikan pembuluh darah dan dapat memperlambat denyut jantung untuk
menurunkan tekanan darah.
2. Ketidaksei mbangan Nutrisi b.d.
ketidakma mpuan atau mencerna nutrisi d.d.
mulut kering dan pecah – pecah, aktivitas pasien terbatas.
Setelah diberikan asuhan keperawatan 3 x 24 jam diharapkan nutrisi pasien dapat terpenuhi dengan kriteria hasil :
1. Peningkatan nafsu makan 2. Berat badan
ideal sesuai dengan tinggi badan
3. Mampu mengidentifika
1.Observasi TTV
2. Menghitung Berat Badan
1.Tanda-Tanda vital berubah seuai tingkat perkembangan penyakit dan menjadi indikator untuk melakukan intervensi selanjutny 2.Mengontrol berat badan adalah cara untuk mempertahankan dan menjaga berat badan agar ideal dan sesuai dengan apa yang di harapkan.
si kebutuhan nutrisi
4. TTV dalam batas normal
3.Lakukan
pengkajian adanya alergi makanan
4.Anjurkan pasien untuk meningkatkan protein dan Vitamin C.
5. Beritahu pasien tentang makanan 4 sehat 5 sempurna dan beritahu pasien tentang bahaya makanan pedas
6. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan oleh pasien
3.Alergi makanan berpengaruh dalam memberikaan makanan atau obat obatan kepada pasien.
4.Vitamin C memiliki banyak manfaat dan Protein menjadi sumber energi dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
5.Makanan 4 sehat 5 sempurna memiliki banyak manfaat salah satunya adalah mencegah kondisi kelebihan berat bdana.
Makanan oedas juga berbahaya karena dapat menyebabkan maag.
6.Jumlah kalori dan nutrisi membantu pasien agar dapat
mengembalikan berat badan supaya dapat ideal.
3. Gangguan pola tidur b.d.
ketidaknya manan fisik d.d. pasien tampak pucat, konjungtiva anemis dan area bawah mata hitam.
Setelah diberikan asuhan keperawatan 2 x 24 jam diharapkan gangguan pola tidur berkurang atau hilang dengan kriteria hasil :
1. Pasien dapat tidur nyenyak 2. Tidak terdapat
lingkaran hitam di mata 3. Pasien tidak
sering menguap
1.Observasi dan identifikasi makanan dan minuman yang dikonsumsi.
2. Ciptakan
lingkungan aman dan nyaman
(pencahayaan yang redup dan tidak berisik)
1.Makanan dan minuman tertentu mempunyai kandungan yang dapat mengganggu tidur pasien seperti cafein
2.Lingkungan aman, nyaman dapat mempengaruhi agar pasien dapat tertidur nyenyak
4. Pasien dapat tidur 8 jam / hari
3. Anjurkan pasien untuk minum susu hangat sebelum tidur
4. Ajarkan pasien teknik relaksasi dan penggunaan
penghantar ridur
3. Susu mengandung asam aminotriptofan dan hoormon melatonin yang membuat tubuh tileks sehingga tidur terjaga
4. Teknik relaksasi dapat mengurangi ketegangan dan nyeri pasien berkurang, pengantar tidur memudahkan pasien rileks dan terjatuh kedalam ritme tidur.
IV. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI FORMATIF
Tanggal/Waktu dx Implementasi Paraf
21 Maret 202 08.15
08.40
09.10
1,2
1
1
Memonitor TTV
Tekanan darah : 170/100 mmHg Suhu : 38 °C
Nadi : 87 x/ menit Respirasi : 23 x/menit
Mengobsevasi nyeri
e/ pasien sudah merasakan nyeri namun sedikit berkurang
Mengontrol lingkungan
09.15
10.00
10.05
11.00
16.00
16.15
1
1
1
2
1,2
2
e/ pasien merasa nyaman dan tenang dengan lingkungannya.
Mengajarkan pasien untuk melakukan Teknik distraksi e/ pasien dapat melakukan Teknik distraksi
Memberikan terapi peroral Aspirin 500 mg
e/ pasien dapat menelan obat Aspirin Memberikan terapi peroral
Amlodipine dan Bisoprol 10 mg e/ pasien dapat menelan obat amlodipine dan Bisoprol
Mengajurkan pasien untuk tidur e/ pasien dapat tertidur
Observasi TTV
Tekanan darah : 150/100 mmHg Suhu : 38 °C
Nadi : 85 x/ menit Respirasi : 21 x/menit
Menghitung Berat badan BB sebelum sakit : 72 kg
16.30
17.00
17.30
17.45
17.50
19.00
2
2
2
1
1
2
BB saat sakit : 67 kg
Observasi adanya alergi terhadap makanan
e/ pasien tidak mempunyai aletgi terhadap makanan
Memberikan makanan kepada pasien sesuai dengan nutrisi dan kalori yang dibutuhkan
e/ pasien hanya memakan 3 sendok dengan rasa mual
Mengajurkan pasien untuk memakan protein dan Vitamin C
e/ pasien dapat mengerti
Memberikan terapi peroral Aspirin 500 mg
e/ pasien dapat menelan obat Aspirin
Memberikan terapi peroral Amlodipine dan Bisoprol 10 mg.
e/ pasien dapat menelan obat.
Mengobservasi makanan dan
minuman yang telah dikonsumsi oleh pasien selama sehari
20.00
20.10
20.20
20.30
22 Maret 2020 06.00
06.30
3
3
3
3
1,2
2
e/ pasien dapat menjawab
Menciptakan lingkungan yang aman, nyaman dan tidak berisik
e/ pasien merasa nyaman dan tenang
Memberikan pasien susu hangat sebelum tidur
e/ pasien meminum susu tersebut.
Mengajarkan pasien untuk melakukan Teknik relaksasi e/ pasien dapat mengerti dan melakukannya.
Mengajurkan pasien untuk istirahat e/ pasien dapat beristirahat
Memonitor TTV
Tekanan darah : 140/90 mmHg Suhu : 37,4 °C
Nadi : 80 x/ menit Respirasi : 20 x/menit
Menghitung Berat Badan
08.00
09.00
10.00
1005
11.00
13.00
1
1
1
1
2
3
BB sebelum sakit : 72 kg BB saat sakit : 68 kg
Mengobsevasi nyeri
e/ pasien sudah merasakan sedikit nyeri
Mengajarkan pasien untuk melakukan Teknik distraksi e/ pasien dapat melakukan Teknik distraksi
Memberikan terapi peroral Aspirin 500 mg
e/ pasien dapat menelan obat Aspirin
Memberikan terapi peroral Amlodipine dan Bisoprol e/ pasien dapat menelan obat.
Memberikan makanan kepada pasien sesuai dengan nutrisi dan kalori yang dibutuhkan
e/ pasien memakan dengan ½ porsi dengan rasa mual
Menciptakan lingkungan yang aman, nyaman dan tidak berisik
13.10
13.20
17.00
17.15
17.30
19.10
3
3
1,2
2
1
1
e/ pasien merasa nyaman dan tenang
Mengajurkan pasien untuk melakukan Teknik relaksasi e/ pasien dapat mengerti dan melakukannya.
Mengajurkan pasien untuk istirahat e/ pasien dapat beristirahat
Memonitor TTV
Tekanan darah : 136/90 mmHg Suhu : 37,4 °C
Nadi : 80 x/ menit Respirasi : 20 x/menit
Menghitung Berat Badan BB sebelum sakit : 72 kg BB saat sakit : 69 kg
Memberikan terapi peroral Amlodipine dan Bisoprol e/ pasien dapat menelan obat.
Mengobsevasi nyeri
e/ pasien sudah tidak merasakan nyeri
20.10
20.20
20.30
21.10
23 Maret 2020 08.00
08.20
3
3
3
3
1,2
2
Menciptakan lingkungan yang aman, nyaman dan tidak berisik
e/ pasien merasa nyaman dan tenang
Memberikan pasien susu hangat sebelum tidur
e/ pasien meminum susu tersebut.
Mengajurkan pasien untuk melakukan Teknik relaksasi e/ pasien dapat mengerti dan melakukannya.
Mengajurkan pasien untuk istirahat e/ pasien dapat beristirahat
Memonitor TTV
Tekanan darah : 130/90 mmHg Suhu : 37,45°C
Nadi : 80 x/ menit Respirasi : 20 x/menit
Memberikan makanan kepada pasien sesuai dengan nutrisi dan kalori yang dibutuhkan
08.40
09.20
1
2
e/ pasien memakan dengan seporsi tanpa rasa mual
Memberikan terapi peroral Aspirin 500 mg
e/ pasien sudah merasa baik, tidak ada nyeri kepala.
Beritahu pasien tentang makanan 4 sehat 5 sempurna dan beritahu pasien tentang bahaya makanan pedas e/ pasien dapat mengerti.
V. EVALUASI
TANGGAL DIAGNOSA EVALUASI PARAF
23 Maret 2020 Nyeri akut b.d.
peningkatan vaskuler selebral d.d. pasien tampak meringis dan memegang bagian kepalanya
S : Pasien
mengatakan sudah tidak merasakan nyeri kepala O : Pasien tidak memegang bagian kepala, Pasien tidak meringis.
A : Masalah teratasi P : Intervensi dihentikan.
23 Maret 2020 Ketidakseimbangan Nutrisi b.d.
ketidakmampuan atau mencerna nutrisi d.d.
mulut kering dan pecah – pecah, aktivitas pasien terbatas.
S : Pasien sudah mengetahui porsi makanan 4 sehat 5 sempurna dan pasien juga sudah mengetahui bahaya makanan pedas.
O : Berat badan pasien bertambah 3 kg
A : Masalah teratasi P : Intervensi dihentikan 22 Maret 2020 Gangguan pola tidur
b.d. ketidaknyamanan fisik d.d. pasien tampak pucat, konjungtiva anemis dan area bawah mata hitam.
S : Pasien mengatakan bisa tertidur nyenyak O : Tidak terdapat lingkaran hitam dibawah mata, pasien tidak sering menguap, pasien tidur 8 jam/hari A : Masalah teratasi P : Intervensi dihentikan