1
MAKALAH
AYAT-AYAT EKONOMI
BERBURU
Dosen Pengampu : Dr. Jirhanuddin, M.Ag Dr. Hj. St. Rahmah, M.Si
Oleh : Khilmi Zuhroni NIM : 17015043
PROGRAM STUDI
MAGISTER EKONOMI SYARIAH
PASCA SARJANA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PALANGKARAYA
2017
2
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, marilah senantiasa kita panjatkan kehadirat Allah SWT. atas semua nikmat dan karunia-Nya yang diberikan kepada kita sehingga sampai saat ini kita masih dapat beraktivitas dengan baik. Shalawat dan salam semoga selalu terucapkan kepada junungan Nabi besar kita Muhammad SAW beserta para keluarga, sahabat dan pengikutnya hingga akhir zaman.
Pada kesempatan ini, penulis diberikan kesempatan untuk mengangkat judul makalah ayat-ayat Ekonomi tentang berburu. Sebagai bahan perbaikan dan penyempurnaan, penulis berharap adanya pertanyaan-pertanyaan, masukan dan saran berkaitan dengan materi tersebut sehingga dapat menambah kekayaan bahan dan wacana dalam mengembangkan materi makalah ini.
Kesulitan penulis dalam mengembangkan makalah ini terutama terletak pada referensi dan gagasan kontekstualisasi berburu dalam kehidupan saat ini. Sebab dalam terminologi umum berburu selalu dikaitkan dengan kehidupan masyarakat tradisional dengan pola kehidupan yang sederhana. Kedua, berburu selalu dikaitkan dengan binatang buruan yang barang tentu tidak lagi menjadi pekerjaan utama dalam memenuhi kebutuhan ekonomi masyarakat.
Oleh karena itu, kepada semua pihak (Bapak/ibu Dosen ayat-ayat ekonomi dan temen- temen Mahasiswa) atas segala saran dan masukan sehingga nantinya materi ini dapat berkembang, penulis ucapkan banyak terimakasih.
Demikian mudah-mudahan memberikan manfaat. Wassalah.
Palangkaraya, November 2017 Penulis.
3 DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... 1 KATA PENGANTAR ... 2 DAFTAR ISI ... 3 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ... 4 B. Rumusan Masalah ... 5 C. Tujuan Makalah ... 5 BAB II PEMBAHASAN
A. Ayat – ayat Tentang Berburu ... 6 B. Analisis Ayat dan Hukum Berburu ... 9 C. Kontekstualisasi Ayat dalam Ekonomi Syariah ... 13 BAB III PENUTUP
A. SIMPULAN ... 14 B. SARAN ... 14 DAFTAR PUSTAKA ... 15
4 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Islam sebagai agama Rahmat yang dibawa oleh Muhammad SAW mengajarkan kepada manusia untuk memperoleh kebaikan (keberuntungan) dalam kehidupan di dunia dan diakhirat.
Keseimbangan kehidupan dunia dan akhirat ini menjadi pondasi yang penting bagi kehidupan manusia, bahwa kehidupan dunia adalah sunnatullah yang tidak bisa ditolak dan ditinggalkan.
Oleh karenanya manusia harus berbuat yang terbaik untuk memperoleh kebaikan hidup (maslahah) di dunia ini. Sementara kesadaran akan kehidupan di akhirat harus terwujud dalam keyakinan hidup bahwa setiap yang dilakukan oleh manusia dalam kehidupan dunia akan dimintai pertanggung jawaban kelak di akhirat.
Untuk menjamin kemaslahatan hidup tersebut, Islam menurunkan syariah (aturan) untuk mengatur tata cara kehidupan manusia termasuk di dalamnya adalah aturan-aturan tentang kehidupan ekonomi. Ayat-ayat ekonomi yang tersurat dan tersirat di dalam Al Quran semuanya mengandung hikmat bagi kelangsungan hidup manusia.
Berburu, sebagai bagian dari cara manusia memenuhi kebutuhan hidupnya, termasuk diantara muamalah yang diatur dalam Islam. Hal tersebut dapat dilihat dari ayat-ayat yang mengatur tentang berburu.
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, berburu adalah mengejar atau mencari (binatang dalam hutan dan sebagainya). Secara etimologi berburu dalam bahasa Arab, adalah as-said.
Bentuk masdarnya “sada” yang berarti mengambil atau menangkap. Dalam artian menangkap binatang liar yang tidak ada pemiliknya dan bukan dalam proses jual beli. Binatang tersebut tidak termasuk binatang yang diharamkan menurut syara’.
Para ulama Fikih bersepakat bahwa hukum berburu hewan itu mubah (boleh) dilakukan oleh semua orang yang ingin melakukanya, namun akan diharamkan bilamana orang yang ingin berburu pada saat melakukan ibadah haji atau umrah dan dijelaskan didalam Al-Quran surah Al- Ma’idah ayat 2 yang menjelaskan bahwa seseorang yang telah selesai menunaikan ibadah haji atau umrah boleh berburu.
Untuk memahami bagaimana ayat-ayat dalam al Quran memerinci masalah berburu, dalam makalah ini akan dicoba diuraikan sesuai dengan ayat berkaitan dengan berburu tersebut.
5 B. Rumusan Masalah
1) Bagaimana ayat-ayat tentang berburu dalam Al Quran ?
2) Bagaimana analisis ayat-ayat tentang berburu dan hukumnya ?
3) Bagaimana keterkaitan ayat-ayat berburu dengan perekonomian saat ini ?
C. Tujuan Penulisan
1) Untuk mengetahui ayat-ayat tentang berburu yang terdapat dalam Al Quran 2) Untuk mengetahui analisis ayat-ayat tentang berburu dan hukumnya
3) Untuk memahami keterkaitan ayat-ayat berburu dengan perekonomian saat ini
6 BAB II PEMBAHASAN
A. Ayat – ayat Tentang Berburu
Ayat-ayat tentang berburu di dalam al Quran terdapat dapat surat-surat berikut ini : 1) Surat Al Maidah, ayat 1 :
ْمُكْيالاع ىالْ تُ ي اام لاِإ ِمااعْ نلأا ُةاميِابَ ْمُكال ْتَّلِحُأ ِدوُقُعْلِبِ اوُفْواأ اوُنامآ انيِذَّلا ااهُّ ياأ ايَ
ُديِرُي اام ُمُكْايَ اَّللَّا َّنِإ ٌمُرُح ْمُتْ ناأاو ِدْيَّصلا يِِّلُِمُ اْيْاغ
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu. Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya”.1
2) Surat Al Maidah, ayat 2 :
ادِئلااقْلا لااو ايْداْلْا لااو امااراْلْا ارْهَّشلا لااو َِّللَّا ارِئااعاش اوُّلُِتُ لا اوُنامآ انيِذَّلا ااهُّ ياأ ايَ
لااو اوُدااطْصااف ْمُتْلالاح ااذِإاو انًااوْضِراو ْمِِِّبَار ْنِم لاْضاف انوُغا تْ با ي امااراْلْا اتْيا بْلا اينِِّمآ لااو ىالاع اوُناوااعا تاو اوُداتْعا ت ْناأ ِمااراْلْا ِدِجْسامْلا ِناع ْمُكوُّداص ْناأ ٍمْوا ق ُنآاناش ْمُكَّنامِرْايَ
ِبااقِعْلا ُديِداش اَّللَّا َّنِإ اَّللَّا اوُقَّ تااو ِنااوْدُعْلااو ِْثْلإا ىالاع اوُناوااعا ت لااو ىاوْقَّ تلااو ِِِّبْلا
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi'ar-syiar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang
1 QS. Al Maidah, ayat 1
7
mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari karunia dan keridaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian (mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”.2
3) Surat Al Maidah, ayat 4
اينِبِِّلاكُم ِحِرااواْلْا انِم ْمُتْمَّلاع ااماو ُتاابِِّيَّطلا ُمُكال َّلِحُأ ْلُق ْمُالْ َّلِحُأ ااذاام اكانوُلاأْساي اَِّمِ َّنُانَوُمِِّلاعُ ت اوُقَّ تااو ِهْيالاع َِّللَّا امْسا اوُرُكْذااو ْمُكْيالاع انْكاسْماأ اَِّمِ اوُلُكاف َُّللَّا ُمُكامَّلاع
ِبااسِْلْا ُعيِراس اَّللَّا َّنِإ اَّللَّا
Artinya : “Mereka menanyakan kepadamu: "Apakah yang dihalalkan bagi mereka?"
Katakanlah: "Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatihnya untuk berburu, kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu, Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepasnya). Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya".3
4) Surat al Maidah, ayat 94:
ْمُكيِدْياأ ُهُلاانا ت ِدْيَّصلا انِم ٍءْياشِب َُّللَّا ُمُكَّناوُلْ با يال اوُنامآ انيِذَّلا ااهُّ ياأ ايَ
ْمُكُحاامِراو
ٌميِلاأ ٌبااذاع ُهالا ف اكِلاذ ادْعا ب ىاداتْعا ِناماف ِبْياغْلِبِ ُهُفااايَ ْنام َُّللَّا امالْعا يِل
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan sesuatu dari binatang berburu yang mudah didapat oleh tangan dan tombakmu
2 QS. Al Maidah ayat: 2
3 QS. Al Maidah ayat: 4
8
supaya Allah mengetahui orang yang takut kepada-Nya, biar pun ia tidak dapat melihat-Nya.
Barang siapa yang melanggar batas sesudah itu, maka baginya azab yang pedih”.4 5) Al Maidah, ayat 95:
لا اوُنامآ انيِذَّلا ااهُّ ياأ ايَ
ٌءاازاجاف اادِِّماعا تُم ْمُكْنِم ُهالا تا ق ْناماو ٌمُرُح ْمُتْ ناأاو ادْيَّصلا اوُلُ تْقا ت
ٌةاراَّفاك ْواأ ِةابْعاكْلا اغِلابِ ايَْداه ْمُكْنِم ٍلْداع ااواذ ِهِب ُمُكْايَ ِماعَّ نلا انِم الاتا ق اام ُلْثِم ْناماو افالاس اَّماع َُّللَّا اافاع ِهِرْماأ الابِاو اقوُذايِل ااماايِص اكِلاذ ُلْداع ْواأ اينِكااسام ُمااعاط ٍمااقِتْنا وُذ ٌزيِزاع َُّللَّااو ُهْنِم َُّللَّا ُمِقاتْ نا يا ف ادااع
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barang siapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu, sebagai had-ya yang di bawa sampai ke Kakbah, atau (dendanya) membayar kafarat dengan memberi makan orang-orang miskin, atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu, supaya dia merasakan akibat yang buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan apa yang telah lalu. Dan barang siapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. Allah Maha Kuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa.5
6) Surat Al Maidah, ayat 96:
4 QS. Al Maidah ayat: 94
5 QS. Al Maidah ayat: 95
9
اام ِِّابْلا ُدْياص ْمُكْيالاع امِِّرُحاو ِةاراَّيَّسلِلاو ْمُكال ااعااتام ُهُمااعاطاو ِرْحابْلا ُدْياص ْمُكال َّلِحُأ انوُراشُْتُ ِهْيالِإ يِذَّلا اَّللَّا اوُقَّ تااو اامُرُح ْمُتْمُد
Artinya : “Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan; dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram. Dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nya lah kamu akan dikumpulkan”.6
B. Analisis Ayat dan Hukum Berburu
Dalam bahasa Arab, berburu adalah as-said. Bentuk masdarnya “sada” yang berarti mengambil atau menangkap. Dalam artian menangkap binatang liar yang notabene tidak ada pemiliknya dan bukan dalam proses jual beli.
Para ulama Fikih bersepakat bahwa hukum berburu hewan itu mubah (boleh) dilakukan oleh semua orang yang ingin melakukanya, namun akan diharamkan bilamana orang yang ingin berburu pada saat melakukan ibadah haji atau umrah dan dijelaskan didalam Al-Quran surah Al- Ma’idah ayat 2 yang menjelaskan bahwa seseorang yang telah selesai menunaikan ibadah haji atau umrah boleh berburu.7
Kalimat perintah ‘istadu’, yang berarti “berburulah” dikemukakan setelah adanya larangan berburu ketika seseorang sedang menunaikan ibadah haji dalam Surah Al-Ma’idah ayat 1 tentang berburu dikaitkan perbuatan yang dilarang untuk dilakukan dalam pelaksanaan ibadah haji atau ibadah umrah.
Dari keenam ayat dalam Al Quran yang berhubungan dengan berburu, lima ayat diantaranya membahas larangan berburu yang dikaitkan dengan ibadah haji /umrah. Sementara hanya satu ayat yang secara khusus mengatur sarana-sara yang dibolehkan dan tidak dibolehkan dalam berburu.
Kelima ayat-ayat yang berkaitan dengan berburu, yakni surat Al Maidah ayat 1, 2, 94, 95 dan 96 berisi tentang larangan-larangan yang tidak boleh dilakukan pada saat seseorang sedang
6 QS. Al Maidah ayat: 96
7 Al Mubarakfuri, Syaikh Shafiyyur Rahman. Tafsir Ibnu Katsir jilid 3, Bogor: Pustaka Ibnu Katsir, 2006, h.
11
10
dalam keadaan ihram. Sebagaimana yang dijelaskan dalam tafsir Ibnu Katsir juz 6 dalam menjelaskan surat Al Maidah ayat 1, bahwa Allah SWT menghalalkan binatang-binatang ternak yakni yang termasuk dalam binatang ternak yang jinak seperti unta, sapi dan kambing dan Allah mengharamkan berburu binatang ternak yang liar seperti kijang, banteng, dan keledai liar pada saat melaksanakan ihram.8
Dalam ayat tersebut dibolehkannya berburu adalah ketika sudah selesai melaksanakan tahallul. Demikian halnya keterangan pada Surat al Maidah ayat 2, Allah SWT membolehkan berburu pada setelah tahallul dari ihram, yakni setelah melaksanakan ibadah haji. Larangan berburu pada ayat 2 surat al Maidah ini dikaitkan dengan perintah menghormati bulan-bulan yang dimuliakan sebab didalamnya terdapat syiar-syiar kemuliaan Allah SWT.9 Demikian halnya pada sumat al Maidah ayat 94, 95 dan 96 semua terkait dengan perintah menghormati bulan-bulan haram dan pelaksanaan ihram.
Sedangkan Surat Al Maidah ayat 4 menjelaskan tentang hal-hal yang harus diperhatikan dalam berburu. Yakni berkaitan dengan sarana yang dibolehkan dan dilarang dalam berburu baik dengan anjing, macan, burung dan sejenisnya. Ibnu Katsir menyampaikan riwayat dari Inbu Abbas, bahwa binatang-binatang buas yang terlatih untuk berburu, maka binatang hasil buruan halaluntuk dimakan. Ditegaskan dalam ayat 4 ini bahwa syarat dari kehalalan binatang buruan adalah selama binatang-binatang pemburu tersebut telah terlatih menangkap binatang buruan dan pemeliknya telah menyebut nama Allah pada waktu melepaskannya.10
1. Hal-hal yang diharamkam dalam berburu.
a) Jika maksud berburu adalah hanya untuk bermain-main.
Apabila tujuan berburu hanya untuk bermain-main, yaitu menjadikan binatang sebagai sasaran dan setelah mendapatkan binatang buruan, binatang tesebut tidak dimakan oleh si pemburu dan tidak pula dimakan oleh orang lain. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa sesungguhnya Nabi bersabda :
“Janganlah kalian jadikan sesuatu yang berjiwa itu sebagai sasaran.”11 Diriwayatkan pula dari Sa‟id bin Jubair y, ia berkata ”Ibnu Umar pernah melewati beberapa orang yang menjadikan seekor ayam sebagai sasaran untuk mereka lempar. Ketika mereka
8 Al Mubarakfuri, Syaikh Shafiyyur Rahman. Tafsir Ibnu Katsir jilid 3, Bogor: Pustaka Ibnu Katsir, 2006, h. 6
9 Ash Shiddieqy, Hasbi. Tafsir Al Bayyan jilid 1, Yogyakarta: 1966, h. 396
10 Al Mubarakfuri, Syaikh Shafiyyur Rahman. Tafsir Ibnu Katsir jilid 3, Bogor: Pustaka Ibnu Katsir, 2006, h.
33
11 HR. Muslim Juz 3
11
melihat Ibnu ‟Umar mereka berlarian darinya. Maka Ibnu ‟Umar berkata, ”Siapakah yang melakukan ini? Sesungguhnya Rasulullah melaknat orang yang melakukan hal ini.”12
b) Jika yang diburu adalah binatang buruan darat, bagi seorang yang sedang ihram haji atau umrah. Hal ini sebagaimana firman Allah :
“Dan diharamkan atas kalian (menangkap) binatang buruan darat, selama kalian dalam ihram. Dan bertakwalah kepada Allah Yang kepada-Nyalah kalian akan dikumpulkan.”13
c) Memburu binatang buruan di tanah haram (Makkah dan Madinah), walaupun bagi orang yang tidak berihram. Hal ini sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Ibnu ‟Abbas ia berkata, Rasulullah a bersabda pada hari Fathu Makkah:
”Sesungguhnya negeri (Makkah) ini telah Allah haramkan ketika diciptakan langit dan bumi. Negeri ini haram dengan ketetapan Allah sampai Hari Kiamat. Dan sesungguhnya tidak dihalalkan peperangan di dalamnya untuk seorang pun sebelumku dan tidak dihalalkan pula untukku, kecuali satu saat disiang hari. Maka negeri ini diharamkan dengan ketetapan dari Allah sampai Hari Kiamat. Tidak boleh dicabut duri-durinya, tidak boleh diganggu binatang buruannya, (tidak boleh diambil) barang temuannya, kecuali bagi orang yang akan mengumumkannya, dan tidak boleh dicabut tumbuh-tumbuhannya yang masih segar.”14
d) Diharamkan berburu binatang yang jadi milik orang lain. Hal ini berdasarkan keumuman firman Allah SWT. :
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta sesama kalian dengan jalan yang batil.”15
2. Sarana Berburu
Ada dua sarana yang dapat digunakan dalam berburu, antara lain :
12 HR. Muslim Juz 3
13 QS. Al Maidah, Ayat : 96
14 HR. Bukhari Juz 4
15 QR. An Nisa, ayat : 29
12
a) Dengan al-jawarih. Al-jawarih adalah hewan buas yang memiliki taring, seperti; anjing, macan, elang, rajawali, dan yang semisalnya. Ketika berburu dengan al-jawarih, maka aljawarih tersebut harus melukai (mengalirkan darah) binatang buruannya. Jika al-jawarih tersebut membunuh binatang buruan dengan cara mencekiknya atau menabraknya, maka buruan tersebut tidak halal untuk dimakan.16
b) Dengan alat untuk berburu Peralatan yang dapat digunakan untuk berburu adalah benda tajam yang dapat mengalirkan darah, seperti; pedang, panah, tombak, lembing, senapan, dan lain sebagainya. Hal ini sebagaiman firman Allah: ”Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya Allah akan menguji kalian dengan sesuatu dari binatang buruan yang mudah didapat oleh tangan kalian dan tombak kalian.”17
Ketika berburu, binatang buruan harus terkena bagian yang tajam dari alat tersebut. Jika binatang buruan mati karena terkena bagian yang tumpul dari alat tersebut, maka binatang buruan tidak boleh dimakan.18
3. Syarat-Syarat Berburu
Syarat berburu agar hasil buruannya menjadi halal adalah :
a) Orang yang berburu harus seorang yang diperbolehkan oleh syari’at untuk menyembelih Orang yang diperbolehkan oleh syari‟at untuk menyembelih adalah seorang muslim atau ahli kitab (yahudi dan nashrani) yang telah dewasa atau mumayiz.
b) Jika menggunakan al-jawarih, maka al-jawarih tersebut harus yang terlatih.
c) Pemburu mengucapkan basmalah ketika mengawali berburu.
d) Tidak ada al-jawarih lain yang menyertainya Jika ada al-jawarih yang lain yang menyertainya, maka tidak diketahui manakah yang telah membunuh binatang buruan tersebut.
C. Kontekstualisasi Ayat dalam Ekonomi Syariah
16 Abdul Baqi, Muhammad Fuad. Al-Lu’lu’ Wal Marjan Mutiara Hadist Sahih Bukhari dan Muslim, Jakarta:
Ummul Qura, 2011, h. 941
17 QS. Al Maidah ayat: 94
18 Abdul Baqi, Muhammad Fuad. Al-Lu’lu’ Wal Marjan Mutiara Hadist Sahih Bukhari dan Muslim, Jakarta:
Ummul Qura, 2011, h. 942
13
Dalam kehidupan modern saat ini dapat dikatakan jarang sekali masyarakat yang secara khusus menjadikan berburu sebagai mata pencaharian utama untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-harinya. Kalaupun ada, saat ini berburu lebih banyak dijadikan sebagai hobi dan rekreasi.
Namun demikian, tidak menutup kemungkinan tetap ada masyarakat yang memenuhi kebutuhan hidupnya dengan berburu. Yakni masyarakat yang hidup dalam alam tradisional dan pedalaman.
Kaidah fiqh menyebutkan bahwa pada dasarnya semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil atau nash yang mengharamkannya. Maka terkait berburu, pada ayat-ayat yang telah dibahas di atas, jelas menyatakan bahwa berburu boleh dilakukan kecuali dalam keadaan yang dilarang oleh syara’ misalnya saat melaksanakan ihram baik haji maupun umrah. Berburu juga tidak boleh dilakukan di haramain, yakni Makkah dan Madinah. Serta adanya batasan- batasan dan syarakat binatang yang boleh dipakai dalam berburu.
Secara kebutuhan ekonomi tentu berburu hampir tidak lagi menjadi mata pencharian utama, namun demikian berburu saat ini banyak dijadikan sebagai paket-paket wisata dalam kegiatan-kegiatan seperti rekreasi, hiking, kamping, offroad, dan sebagainya. Sekalipun tidak lagi sebagai pekerjaan utama, berburu saat ini menjadi paket yang menantang untuk menarik banyak pengunjung dalam berbagai bentuk kegiatan tersebut.
Maka dalam konteks ini, paket-paket wisata yang tujuan utamanya adalah memperoleh penghasilan dimana berburu menjadi bagian paket tersebut perlu memperhatikan aspek-aspek syariah yang mengatur di dalamnya sebagaimana sudah dijelaskan diatas. Sehingga dengan demikian aspek ekomoni yang diperoleh dari kegiatan berburu tidak melanggar norma-norma agama, tidak merugikan bagi wisatawan, dan hasilnya tentu lebih berkah.
14 BAB III P ENUTUP
A. SIMPULAN
Dalam Al Quran ayat-ayat yang menjelaskan berburu banyak dikaitkan dengan pelaksanaan ihram baik pada ibadah haji maupun umrah. Hanya ada satu ayat yang secara spesifik menjelaskan sarana-sarana yang boleh digunakan untuk berburu, yakni yang terdapat dalam surat al Maidah ayat 4 yang menjelaskan bolehnya menggunakan berburu dengan menggunakan binatang pemburu seperti anjing, macan, burung dan sejenisnya.
Ayat-ayat yang berkaitan dengan berburu tersebut mengindikasikan bahwa berburu hukumnya adalah boleh. Yakni boleh dilakukan selama tidak melanggar ketentuan-ketentuan yang sudah ditetapkan secara syar’i.
B. SARAN
Mengingat perburuan saat ini sudah meningkat nilai ekonominya dari yang dulu untuk memenuhi kebutuhan pokok atau sebagai pekerjaan utama menjadi paket-paket yang secara ekonomis memiliki nilai tawar yang lebih menjanjikan dalam kegiatan pariwisata, maka perlu sekali memahami aturan-aturan syariah terkait berburu agar usaha pariwisata lebih menyenangkan, tenang, syari dan barakah.
15
DAFTAR PUSTAKA
Al Mubarakfuri, Syaikh Shafiyyur Rahman. Tafsir Ibnu Katsir jilid 3, Bogor: Pustaka Ibnu Katsir, 2006.
Ash Shiddieqy, Hasbi. Tafsir Al Bayyan jilid 1, Yogyakarta: 1966.
Abdul Baqi, Muhammad Fuad. Al-Lu’lu’ Wal Marjan Mutiara Hadist Sahih Bukhari dan Muslim, Jakarta: Ummul Qura, 2011.
https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/berburu