Bab 1
Kesehatan Olahraga (Sports Medicine) H.Y.S. Santosa Giriwijoyo
stilah "kesehatan olahraga" dipergunakan untuk menerjemahkan istilah asal sports medicine. Arti sesungguhnya dari sports medicine adalah "kedokteran olahraga". Akan tetapi bila istilah yang dipergunakan adalah kedokteran olahraga, maka bidang itu seolah menjadi kekhususan bagi para dokter, padahal telah diketahui bahwa bidang kesehatan melibatkan lingkup profesi Sumber Daya Manusia (SDM) yang lebih luas yang meliputi sarjana, ahli, ilmuwan olahraga, guru pendidikan jasmani dan olahraga, pelatih olahraga kesehatan maupun pelatih olahraga prestasi, ahli masase (masseur), ahli gizi, ahli ilmu faal, ahli anatomi-anthropometri, Ahli kinesiologi-biomekanika, ahli orthopedi, ahli rehabilitasi medik dan para dokter pada umumnya.
Kesehatan olahraga adalah sekumpulan ilmu-ilmu yang membahas segala permasalahan kesehatan yang berkaitan dengan olahraga. Artinya ilmu kesehatan olahraga menerapkan ilmu-ilmu kedokteran
yang terkait dengan tujuan memelihara kesehatan atlet, disertal/ bersamaan dengan upaya
memperbaiki penampilannya. Olahraga itu sendiri di samping sebagai tujuan yaitu mencapai prestasi yang setinggi-tingginya dalam olahraga prestasi, hakikatnya adalah juga merupakan alat untuk meningkatkan derajat kesehatan, yang berarti meningkatkan mutu sumber daya manusia. Dengan demikian maka konsep dasar kesehatan olahraga adalah pembinaan mutu sumber daya manusia menuju sehat seutuhnya sesuai rumusan sehat Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organisation WHO), melalui pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan, pelaksanaan olahraga kesehatan maupun olahraga prestasi, dan pelayanan kesehatan olahraga.
Dengan demikian, maka ruang lingkup permasalahan kesehatan olahraga tersebut sangat luas, bahkan dapat dikatakan meliputi semua aspek dalam peri kehidupan manusia. Peri kehidupan manusia menyangkut masalah Jasmani, rohani dan sosial, seperti terungkap dalam rumusan sehat Organisasi Kesehatan Dunia, yang juga telah diadopsi oleh Departemen Kesehatan R.I, yang mengatakan bahwa sehat adalah sejahtera jasmani, rohani dan sosial, bukan hanya bebas dari penyakit, cacat ataupun kelemahan.
Olahraga adalah kegiatan dalam peri kehidupan manusia yang tidak hanya melibatkan aspek jasmani, tetapi juga aspek rohani. aspek sosial dan bahkan aspek ekonomi. Dengan demikian menjadi semakin jelas betapa luasnya lingkup permasalahan kesehatan olahraga yaitu benar-benar meliputi seluruh aspek kehidupan manusia.
Lingkup Kesehatan Olahraga
Pembinaan kesehatan meliputi 4 kegiatan pokok, yaitu upaya preventif-promotif dan kuratif-rehabilitatif Akan tetapi oleh adanya berbagai keterbatasan, tidak semua masalah kesehatan olahraga dapat dibahas dalam buku ini.
Untuk memudahkan pengelompokan, maka lingkup olahraga kesehatan dibagi dalam 2 (dua) golongan, yaitu lingkup yang meliputi aspek jasmaniah dan lingkup yang meliputi aspek rohaniah dan sosial (non- jasmaniah).
1. Aspek Jasmaniah
Dapat dikatakan bahwa hampir semua ilmu kesehatan yang membahas aspek jasmaniah manusia saling berkaitan satu dengan yang lain, namun hal ini bahkan menguntungkan, karena pembaca/ Mahasiswa akan mendapatkan bahasan/informasi tertuma suatu permasalahan kesehatan olahraga dari berbagai sudut pandang ilmu kesehatan olahraga. Ilmu kesehatan olahraga yang membahas aspek jasmaniah meliputi bahasan mengenai:
1. Ilmu Kesehatan Umum yang meliputi masalah: a. Ilmu Kesehatan Statis, yang melahirkan Ilmu Kesehatan Umum dan Pendidikan Kesehatan dalam kaitannya dengan olahraga.
b. Ilmu Kesehatan Dinamis, yang melahirkan Ilmu Kesehatan Olahraga dan Olahraga Kesehatan dengan lingkup bahasannya mengenai olahraga preventif-promotif, olahraga di sekolah. olahraga pada anak, olahraga pada wanita, olahraga pada lanjut usia, olahraga penderita cacat dan olahraga prestasi dengan segala permasalahannya yang berhubungan dengan kesehatan.
2. Hygiene (Kesehatan) Olahraga. Hal ini meliputi 2 aspek, yaitu atlet yang bersangkutan dan lingkungannya. Yang pertama meliputi perilaku umum dari atlet yang bersangkutan selama masa latihan, sebelum dan sesudah masa kompetisi, serta meliputi saat aktif berlatih dan istirahat, diet khusus, dan apakah menggunakan obat-obat ergogenik, serta perilaku seksualnya. Yang kedua meliputi kondisi kesehatan lingkungan tempat dilaksanakannya olahraga (kolam renang, gimnasium, stadion) serta infrastrukturnya (toilet, kamar ganti, klinik P3K, dan sebagainya).
3. Pertumbuhan dan perkembangan Masalah ini banyak dibahas dalam olahraga pada anak 4. Histologi.
Membahas masalah anatomi-fisiologi seluler-molekuler dalam kaitannya dengan olahraga
5. Anatomi. Bahasan dasarnya adalah memperkenalkan struktur dan komponen dasar tubuh manusia.
Kaitan anatomi dengan olahraga adalah dalam hal anthropometri kecabangan olahraga, yang membahas masalah profil-profil anatomis dan ukuran- ukuran anthropometris atlet yang manakah yang sesuai dengan masing-masing cabang olahraga Masalah ini disebut juga sebagai bio tipologi olahraga yaitu
membahas bio tipologi profil morfologi (somatotype), profil fungsional (ergotype), profil psikologi (psychotype) yang bagaimanakah atlet untuk masing masing cabang olahraga. Dalam hal pembibitan kecabangan olahraga, masalah ini harus mendapat perhatian yang cermat, di samping tentu saja masalah genetisnya yang secara komprehensif dapat ditelusuri dari struktur anatomis dan
antropometris serta riwayat keolahragaan dalam keluarga yang bersangkutan. Fisiologi (Ilmu Faal) yang meliputi:
6.Fisiologi yang meliputi:
a Ilmu Faal Dasar: Membahas fungsi dan mekanisme kerja berbagai organ tubuh. Bahasan disusun berdasarkan sistema- kerja sesuai sistematika dalam anatomi. Pada akhir tiap bahasan sedikit diulas kaitan perannya dalam olahraga.
b. Ilmu Faal Olahraga/llmu Faal Kerja: Ini merupakan bab dasar dalam Ilmu Kesehatan Olahraga. Ilmu Faal Olahraga Ilmu Faal Kerja membahas respons-respons dan adaptasi fisiologik dari berbagai organ tubuh terhadap kerja dan olahraga, yang merupakan pengaruh-pengaruh fisiologik yang akut (respons fisiologik) maupun yang kronik (adaptasi fisiologik). Ilmu Faal Olahraga membahas perubahan
perubahan fisiologik oleh pengaruh aktivitas jasmani yang bersifat maksimal atau mendekati maksimal.
Pokok bahasan utamanya adalah pada fisiologi pelatihan untuk pencapaian prestasi maksimal pada olahraga prestasi Sedangkan Ilmu Faal Kerja membahas perubahan-perubahan fisiologik oleh pengaruh aktivitas jasmani kronik yang bersifat optimal..
Penampilan dalam kompetisi olahraga modern menuntut atlet untuk mampu tampil dalam kegiatan dengan intensitas tinggi dan durasi panjang, yang memerlukan dukungan seluruh sistema-fungsional di dalam tubuh. Adanya kecenderungan yang terus-menerus untuk menjadi yang terbaik dan untuk memecahkan rekor telah membawa olahraga ke dalam jenis teknologi yang didasarkan kepada penelitian-penelitian ilmiah multidisiplin dengan atlet sebagai subjek penelitian. Masalah ini telah mengantarkan ke pengetahuan tentang status fisiologis yang khusus dari atlet, termasuk perubahan- perubahan fungsional dan morfologinya yang diperlukan untuk memenuhi tuntutandari olahraga tingkat tinggi. Akibatnya, beberapa parameter vital yang pada para pesantai adalah tidak normal, menjadi hal yang normal pada atlet, misalnya adanya bradikardia pada pelari jarak jauh Masalah selanjutnya adalah bagaimana menciptakan atlet yang terlatih dan bagaimana menentukan batas antara fisiologis dan patologis (over training). Untuk para praktisi dokter olahraga, masalah yang perlu dicermati adalah bagaimana mengenali awal adaptasi yang tidak adekuat terhadap stres olahraga yang merupakan awal sesungguhnya dari terjadinya masalah patologi dalam olahraga.
7. Evaluasi Kesehatan Olahraga terhadap Atlet
Tujuannya ialah mengevaluasi potensi dan kapasitas performanya yang terkini dari seorang atlet
terhadap olahraga yang ditekuninya Penilaian itu dilakukan dengan membandingkan ciri-ciri morfologis, perilaku fungsional dan kondisi patologis dari atlet yang bersangkutan, sebelum, selama dan sesudah penampilan (fase statis, fase dinamis, dan fase pascadinamis) terhadap tuntutan dari masing-masing cabang olahraganya. Evaluasi ini dapat dilakukan sebagai pemeriksaan dasar yang sederhana, yang merupakan satu screening test untuk para pemula, yang mudah dilakukan oleh para dokter olahraga
dengan peralatan yang sederhana, atau pemerikasaan khusus untuk atlet-atlet tingkat tinggi yang memerlukan pusat-pusat pemeriksaan dengan perlengkapan yang lengkap, serta adanya staf ahli dari berbagai keahlian kesehatan olahraga. Hasil pemeriksaan diatas hendaknya mengandung penilaian mengenai:
a. Kemampuan secara umum untuk beradaptasi terhadap latihan dan pengembangannya b. Sikapnya yang khusus terhadap cabang olahraga yang dihadapi
c.Kondisi kemampuan olahraganya, yaitu derajat adaptasinya terhadap latihan d. Kemungkinan untuk meningkatkan penampilan.
8. Biomekanika. Membahas masalah mekanika gerak biologik (kinesiologi) atlet untuk mencapai prestasi maksimal dalam cabang olahraganya. Pemahaman masalah ini sangat diperlukan untuk memperkecil emungkinan terjadinya cedera-cedera olahraga selama masa pelatihan.
9. Cedera Olahraga/Traumatologi Olahraga Sasarannya adalah mengidentifikasi cedera khusus olahraga (arhlopathia). Ceders olahraga serta cedera-cedera lain yang termasuk ke dalam domain traumatologi umum. Akan tetapi athlopathia adalah cedera olahraga yang benar-benar bersifat technopathia, yaitu yang benar-benar bersebab dari (kesalahan) gerakan khusus dari cabang olahraga yang dilakukannya.
Oleh karena itu, pemahaman biomekanika dari teknik gerakan itu sangat penting dipahami agar dapat memahami mekanisme terjadinya cedera tersebut, sehingga dapat dilakukan pencegahan cedera dengan melakukan perubahan dari teknik melakukan gerakan itu. Secara umum traumatologi olahraga membahas masalah-masalah yang berkaitan dengan:
a.Mekanisme terjadinya cedera
b. Pencegahan cedera olahraga. Untuk dapat memahami pencegahan cedera olahraga perlu dipahami biomekanika gerak setiap cabang olahraga.
c. Diagnosa/identifikasi terhadap cedera olahraga yang tipikal. pertolongan pertama pada cedera olahraga; bagaimana penanganan selanjutnya apakah dapat dilakukan di tempat kejadian atau harus dirujuk ke Rumah Sakit. Hal ini sangat perlu difahami oleh karena kesalahan diagnosa dan khususnya kesalahan pada pertolongan pertama dapat memperberat cederanya itu sendiri.
d. Pemulihan (rehabilitasi) dari cedera agar dapat secepat mungkin kembali ke aktivitas olahraganya semula. Untuk hal ini diperlukan pengetahuan mengenai fisioterapi dan rehabilitasi medik.
10. Massage sebagai upaya mempercepat pemulihan, bagaimana metodologi dan teknologi massage yang efektif dan efisien. Terdapat berbagai macam metodologi massage, antara lain misalnya massage tradisional, auto-massage, hidro-massage air hangat dan air dingin.
11. Nutrisi dan Gizi. Adakah perbedaan antara olahragawan dan bukan olahragawan dalam nutrisi dan tata gizinya, bagaiman menata gizi selama masa pelatihan, menjelang kompetisi, selama kompetisi dan selama masa istirahat pasca musim kompetist
Apa peran makronutrien dan mikronutrien dalam kaitannya dengan olahraga dan pemeliharaan kesehatan.
12. Farmakologi. Perlu difpahami pengertian doping, etika, bahaya dan bagaimana menggunakan obat- obatan agar terbebas dari penyalahgunaan pemakaian obat secara tidak disadari, yang dapat merugikan Atlet.
13. Terapi Olahraga Penyembuhan penyakit melalui aktivitas fisik/olahraga telah sejak lama dilakukan orang, tetapi berkembangnya olahraga secara cepat terjadi dalam abad ke-20. Hal ini sangat
mempengaruhi dan mentransformasi secara luas macam-macam olahraga yang dipergunakan.
Perbedaan mendasar antara senam kesehatan dengan terapi olahraga (sport terapi) terletak pada adanya spirit kompetisi yang diperkenalkan terhadap para pesertanya yang akan menjadi rangsangan yang lebih memacu dan meningkatkan efektivitas lebih tinggi dari terapi olahraga dalam perannya sebagai motor terapi. Metode lama melalui penyajian gerakan-gerakan yang sudah lebih dahulu dipersiapkan dan dilakukan berdasarkan aba aba, oleh peserta akan dilakukan secara pasif, tanpa adanya gairah yang memberi rangsangan kepada pusat-pusat psikis yang lebih tinggi, sehingga tidak merangsang adanya imaginasi, dengan akibat adanya monotoni dan sikap tak acuh. Karena adanya spirit kompetisi dalam sport terapi, peserta seolah diberi "kesempatan untuk menang dalam kompetisi terhadap peserta lainnya dalam kondisinya yang sama, sehingga sport terapi dapat menjadi alat pemacu diri untuk melawan rasa rendah dirinya. Bidang terapan sport terapi adalah sangat luas, dari rehabilitasi pascacedera sampai kepada penyakit kardio-vaskular, dari teknopati kerja (occupational technopathia) sampai kepada penyakit psikosomatik, dari anomali postural pada pubertas ke paralysisi otot oleh sebab gangguan medulla spinalis atau cerebropathia Olympic Games untuk paraplegia adalah contoh yang sangat baik untuk penerapan terapi olahraga dalam lingkup kesehatan olahraga. Namun satu hal yang sangat tidak boleh dilupakan, khususnya oleh para instruktur olahraga kesehatan adalah agar instruktur selalu berpesan kepada para peserta bahwa olahraga kesehatan harus dilakukan dengan sungguh- sungguh, tetapi harus ada kesadaran yang penuh dengan rasa tahu dini akan batas kemampuan masing- masing
2. Aspek Rohaniah dan Sosial
Bahasan mengenai aspek rohaniah dan sosial dalam lingkup olahraga telah berkembang menjadi ilmu tersendiri, yang meliputi Psikologi Olahraga, Pedagogi Olahraga dan Sosiologi Olahraga. Oleh karena itu tidak dibahas dalam buku ini.
3. Aspek Lingkungan
Bahasan mengenal aspek lingkungan meliputi:
a Lingkungan alam yang meliputi masalah suhu lingkungan, kelembaban dan ketinggian yang termasuk ke dalam pokok bahasan adaptasi aklimatisasi terhadap kondisi lingkungan. khususnya yang berkaitan dengan masalah perpindahan atlet untuk bertanding di kawasan dengan iklim yang berbeda.
b. Faktor peralatan olahraga/kerja. Hal ini telah tumbuh menjadi ilmu tersendiri yaitu Ergonomi yang membahas masalah penyesuaian manusia terhadap macam olahraga/kerja yang harus dilakukan, dan/atau penyesuaian manusia terhadap alat olahraga kerja yang harus dipergunakan, juga membahas masalah penyesuaian mekanisme kerja/olahraga terhadap pelaku.
Banyak dari topik-topik di atas telah berkembang menjadi ilmu tersendiri seperti Ilmu Faal Olahraga.
Oleh karena itu, topik-topik yang telah berkembang menjadi ilmu tersendiri tersebut tidak dicantumkan sebagai topik bahasan dalam buku ini.