• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Stunting

N/A
N/A
ainul fikry

Academic year: 2024

Membagikan "BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Stunting"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Stunting

2.1.1 Pengertian Stunting

Stunting adalah kondisi di mana anak di bawah usia lima tahun gagal tumbuh karena kekurangan gizi kronis, terutama selama 1000 hari pertama kehidupan (HPK), sehingga mereka terlalu pendek untuk usia mereka (Astuti et al., 2020). 1000 hari pertama, dari bayi hingga dua tahun, adalah periode kritis dalam pertumbuhan fisik dan perkembangan anak, membutuhkan kebutuhan nutrisi yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang dewasa (Dwi Ananta et al., 2023) Akibat dari stunting yaitu jangka pendek dan jangka panjang, seperti kekurangan asupan gizi, peningkatan morbiditas dan mortalitas, perkembangan yang buruk, peningkatan risiko penyakit dan infeksi tidak menular di masa dewasa, dan penurunan produktivitas dan kemampuan ekonomi (Sari, 2024).Anak balita dikatakan stunting jika nilai z-score di bawah 2 s/d standar deviasi (stunted) dan kurang dari 3 s/d (sangat stunted) dapat dilihat pada tabel 2.1 (Siringoringo et al., 2020).

13

(2)

2.1.2 Faktor Penyebab Stunting

Beberapa faktor penyebab stunting yaitu (Adriani et al., 2022)

1. Asupan Makanan

Makanan adalah kebutuhan utama manusia untuk bertahan hidup. Energi pangan sangat penting untuk menunjang segala aktivitas manusia. Jika seseorang tidak mendapatkan cukup energi dari makanan mereka, mereka mungkin harus meminjam atau menggunakan cadangan energi dalam tubuh mereka untuk menutupinya. Kebiasaan meminjam ini, bagaimanapun, dapat menyebabkan masalah serius, seperti kekurangan gizi, terutama energi.

2. Penyakit Infeksi

Infeksi merupakan gejala klinis penyakit pada anak yang menyebabkan penurunan nafsu makan, yang mengakibatkan penurunan asupan makan anak. Anak tersebut mengalami kekurangan zat gizi dan cairan jika asupan makanannya berkurang selama waktu yang lama dan disertai dengan muntah dan diare.

Serapan yang terhambat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan baduta dan dapat menyebabkan pertumbuhan terhambat.

3. Pola Asuh

Metode pemberian makan dapat membantu mencegah stunting. Sejak usia dini, nutrisi yang sehat dapat memengaruhi

(3)

pertumbuhan, perkembangan, dan kecerdasan anak. model nutrisi bagi orang tua untuk menyediakan makanan sehari-hari yang memenuhi kebutuhan gizi anak seperti sumber energi dari beras, umbi-umbian, dll.

4. Pelayanan Kesehatan dan Sanitasi Lingkungan

Pertumbuhan dan perkembangan anak dipengaruhi oleh kebersihan yang baik. Keamanan pangan dan kebersihan pangan dapat meningkatkan kemungkinan penyakit menular. Tempat yang tidak bersih dapat memungkinkan berbagai bakteri masuk ke dalam tubuh dan menyebabkan penyakit seperti diare, parasit usus, demam, malaria, dan banyak lagi. Infeksi dapat menghambat penyerapan nutrisi, menyebabkan malnutrisi dan penurunan pertumbuhan.

5. Faktor Ekonomi

Krisis ekonomi merupakan salah satu penyebab utama keterlambatan pertumbuhan anak dan berbagai masalah gizi, berdasarkan karakteristik pendapatan keluarga. Sebagian besar anak stunting berasal dari latar belakang ekonomi yang kurang mampu, dan status ekonomi yang rendah meningkatkan kemungkinan insufisiensi dan kualitas pangan karena rendahnya daya beli masyarakat.

6. Faktor Sosial Budaya

Faktor sosial budaya dapat menyebabkan stunting pada anak. Beberapa budaya atau perilaku masyarakat yang terkait

(4)

dengan masalah kesehatan, terutama gizi buruk pada anak, mengatur cara makan, penyajian, penyiapan, dan jenis makanan apa yang boleh dikonsumsi. Hal ini dapat membuat hal-hal yang dianggap tabu tentang makan makanan tertentu menjadi lebih menarik. Untuk mencegah malturasi, orang harus dididik tentang efek kebiasaan makan yang tidak sehat dan perubahan perilaku.

7. Faktor Pendidikan

Pendidikan adalah salah satu faktor penting yang mempengaruhi perkembangan gizi buruk karena berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk menerima dan memahami makanan.

Tingkat pendidikan dapat mempengaruhi kebiasaan makan balita sebagai bagian dari sistem pangan.

8. Faktor Lingkungan

Berkaitan dengan lingkungan, kebiasaan makan mempengaruhi perilaku makan, seperti lingkungan keluarga yang dipengaruhi oleh promosi di media elektronik dan cetak serta lingkungan rumah dan sekolah. Iklan makanan juga menarik orang, yang mempengaruhi pola makan mereka, sehingga dapat mempengaruhi pola makan mereka.

2.1.3 Ciri – Ciri Stunting

Ciri- ciri anak menderita stunting sebagai berikut : (Akbar & Huriah, 2022)

1. Pertumbuhan fisik tubuh melambat 2. Pertumbuhan gigi terlambat

(5)

3. Wajah tampak lebih muda dari usianya 4. Tanda pubertas terlambat

5. Performa buruk pada kemampuan fokus dan memori belajarnya 6. Pada usia 8-10 tahun, anak menjadi lebih pendiam dan tidak banyak

melakukan kontak mata terhadap orang disekitarnya

2.1.4 Pengukuran Stunting

Panjang Badan (PB) digunakan pada anak-anak usia 0 hingga 24 bulan yang diukur terlentang; jika diukur berdiri, hasil pengukurannya dikoreksi dengan menambahkan 0,7 cm. Sementara itu, indeks Tinggi Badan (TB) digunakan pada anak-anak usia di atas 24 bulan yang diukur berdiri; jika diukur terlentang, hasil pengukurannya dikoreksi dengan mengurangi 0,7 cm dan untuk pengukuran Indeks BB/U menunjukkan berat badan anak sehubungan dengan umurnya. Ini digunakan untuk menilai anak dengan berat badan kurang, yang disebut underweight, atau sangat kurang (PERMENKES RI, 2020)

Tabel 2.1 Kategori dan ambang batas Status Gizi Anak

Indeks Kategori Status Gizi

Ambang Batas (Z Score) Berat Badan menurut

Umur (BB/U) anak usia 0-60 Bulan

Berat badan sangat kurang ( severely underweight )

<-3 SD

Berat badan kurang (underweight)

- 3 SD sd < -2 SD Berat badan normal -2 SD sd + 1 SD Risiko berat badan

lebih

> +1 SD Panjang Badan atau

Tinggi Badan

menurut Umur (PB/U

Sangat pendek

(severely stunted)

<-3 SD

(6)

atau TB/U) anak usia

0-60 bulan Pendek (Stunted) - 3 SD sd < -2 SD

Normal -2 SD sd + 3 SD

Tinggi > +3 SD

2.1.5 Dampak Stunting

Pada 1.000 hari pertama kehidupan seorang anak, kekurangan nutrisi biasanya menyebabkan stunting, Dampak dari stunting sendiri yaitu : (Akbar & Huriah, 2022)

1. Jangka Pendek

a. Hambatan perkembangan b. Penurunan fungsi kekebalan

c. Penurunan fungsi kognitif Gangguan sistem pembakaran 2. Jangka Panjang

a. Mudah sakit b. Obesitas

c. Penurunan toleransi glukosa

d. Penyakit jantung koroner, hipertensi, dan osteoporosis 2.1.6 Pencegahan Stunting

Stunting istilah yang digunakan untuk menggambarkan adanya masalah gizi jangka panjang yang dipengaruhi oleh kondisi ibu atau calon ibu, masa janin, dan masa bayi atau balita, termasuk penyakit yang diderita selama masa bayi atau balita. Selain masalah kesehatan

(7)

ibu dan bayi, stunting juga dipengaruhi oleh berbagai kondisi lain yang secara tidak langsung memengaruhi kesehatan. Oleh karena itu, upaya perbaikan harus mencakup upaya untuk mencegah dan mengurangi gangguan secara langsung (intervensi gizi spesifik) dan secara tidak langsung (intervensi gizi sensitif). Intervensi gizi spesifik biasanya dilakukan di bidang kesehatan, tetapi hanya menyumbang 30% dari kontribusi, sedangkan intervensi gizi sensitif mencakup berbagai bidang, seperti ketahanan pangan, ketersediaan air bersih dan sanitasi, penanggulan, dan ketahanan pangan (Kiik S.M & Nuwa M.S, 2020).

2.2 Pola Asuh

2.2.1 Pengertian Pola Asuh

Pola asuh anak berarti suatu proses yang ditunjukkan untuk meningkatkan serta mendukung perkembangan fisik, emosional, sosial, finansial, dan intelektual seorang anak sedari lahir hingga dewasa (Anis Millati et al., 2021). Pola asuh makan yang diterapkan oleh ibu akan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan balita (Lolan &

Fauzia, 2023). Pola asuh yang baik ditemukan dalam metode pemberian makanan, Metode pemberian makan dapat membantu mencegah stunting. Sejak usia dini, nutrisi yang sehat dapat memengaruhi pertumbuhan, perkembangan, dan kecerdasan anak (Adriani et al., 2022)

(8)

2.2.2 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pola Asuh

Beberapa faktor yang mempengaruhi terbentuknya pola asuh orang tua dalam keluarga, diantaranya: (Supenawinata, 2019)

1. Budaya setempat

Dalam hal ini mencakup segala aturan, norma, adat dan budaya yang berkembang di dalamnya

2. Ideologi yang berkembang dalam diri orangtua

Orangtua yang mempunyai keyakinan dan ideologi tertentu cenderung untuk menurunkan kepada anak-anaknya dengan harapan bahwa nantinya nilai dan ideologi tersebut dapat tertanam dan dikembangkan oleh anak dikemudian hari

3. Letak geografis dan norma etis

Penduduk pada dataran tinggi tentu memiliki perbedaan karakteristik dengan penduduk dataran rendah sesuai tuntutan dan tradisi yang dikembangkan pada tiap-tiap daerah

4. Orientasi religious

Orangtua yang menganut agama dan keyakinan religius tertentu senantiasa berusaha agar anak pada akhirnya nanti juga dapat mengikutinya.

5. Status ekonomi

Dengan perekonomian yang cukup, kesempatan dan fasilitas yang diberikan serta lingkungan material yang mendukung cenderung mengarahkan pola asuh orangtua menuju perlakuan tertentu yang dianggap orangtua sesuai.

(9)

6. Bakat dan kemampuan orangtua

Orangtua yang memiliki kemampuan komunikasi dan berhubungan dengan cara yang tepat dengan anaknya cenderung akan mengembangkan pola asuh yang sesuai dengan diri anak.

7. Gaya hidup

Gaya hidup masyarakat di desa dan di kota besar cenderung memiliki ragam dan cara yang berbeda dalam mengatur interaksi orangtua dan anak.

2.2.3 Jenis Pola Asuh

Orang tua dalam mendidik anaknya berbeda-beda, tetapi hampir tidak ada yang sama. Berikut jenis pola asuh diantaranya adalah:

(Supenawinata, 2019)

1. Pola Asuh Otoriter

Pola asuh otoriter ditandai dengan cara mengasuh anak dengan aturan- aturan yang ketat, seringkali memaksa anak untuk berperilaku seperti dirinya (orang tua), kebebasan untuk bertindak atas nama diri sendiri dibatasi.

2. Pola Asuh Demokratis

Pola asuh demokratis ditandai dengan adanya pengakuan orang tua terhadap kemampuan anak, anak diberi kesempatan untuk tidak selalu tergantung pada orang tua.

(10)

3. Pola Asuh Permisif

Pola asuh ini ditandai dengan cara orang tua mendidik anak yang cenderung bebas, anak dianggap sebagai orang dewasa atau muda, ia diberi kelonggaran seluas-luasnya untuk melakukan apa saja yang dikehendaki.

2.3 Pengelolaan Sampah

2.3.1 Pengertian Sampah

Sampah adalah limbah padat yang terdiri dari zat organik dan anorganik yang tidak berguna lagi dan perlu dikelola untuk menghindari membahayakan lingkungan (Gobai et al., 2021).

2.3.2 Faktor yang Mempengaruhi Jumlah sampah

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi jumlah sampah yaitu:

(Seraficha Gischa, 2023) 1. Sosial Ekonomi

Jumlah sampah yang dihasilkan meningkat di masyarakat yang memiliki tingkat sosial ekonomi yang tinggi karena mereka cenderung menjalani gaya hidup konsumtif. Selain itu, semakin banyak jenis sampahnya yang sulit atau bahkan tidak membusuk.

2. Kemajuan Teknologi

Kemajuan teknologi juga memengaruhi jumlah dan jenis sampah. Masyarakat di kota-kota yang menggunakan teknologi canggih cenderung membuang sampah lebih banyak daripada masyarakat di desa yang menggunakan teknologi sederhana.

(11)

Penduduk kota membuang sampah dalam jumlah yang lebih sedikit dan sebagian besar adalah sampah organik yang mudah terurai, tetapi penduduk desa juga membuang sampah anorganik yang sukar terurai, seperti bekas perabot elektronik dan plastik bungkus makanan.

3. Tingkat Pendidikan

Tingkat pendidikan bertanggung jawab atas kualitas lingkungan. Pendidikan mengajarkan masyarakat untuk berpikir kritis dan rasional tentang keadaan lingkungannya. Pendidikan juga dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya sampah bagi lingkungan dan cara mengelola sampah dengan baik. Semakin banyak orang yang didik, semakin banyak kesadaran dan kemampuan masyarakat untuk mengelola sampah.

4. Letak Geografi

Tumbuhan dan kebiasaan masyarakat dipengaruhi oleh etak geografi. Di dataran tinggi, banyak sayur-sayuran, buah-buahan, dan tanaman lain, yang pada akhirnya akan memengaruhi jenis dan jumlah sampah.

5. Faktor Waktu

Bergantung pada apakah itu mingguan, bulanan, tahunan, atau harian. Jumlah sampah setiap hari berbeda-beda tergantung pada waktu. Contohnya, ada peningkatan jumlah sampah pada siang hari dibandingkan dengan pagi hari .

2.3.3 Jenis – Jenis Sampah

(12)

Sampah diklasifikasikan menjadi dua (dua) kategori berdasarkan sifatnya:(Yudiyanto et al., 2019)

1. Sampah organik

Sampah yang terdiri dari daun, daunan, kayu, kertas, karton, tulang, makanan ternak, sayur-sayuran, dan buah-buahan. Sampah organik terdiri dari senyawa organik yang terdiri dari karbon, hidrogen, dan oksigen dan mudah dirusak oleh mikroba

2. Sampah anorganik

Sampah yang terdiri dari barang-barang seperti kaleng, plastik, besi, dan Mikroba tidak dapat mendegradasi sampah ini.

Sedangkan sampah berdasarkan lokasinya dibagi menjadi 2 (dua) kategori berdasarkan lokasinya:

1. Sampah kota (urban), yang merupakan sampah yang terkumpul di kota-kota besar;

2. Sampah daerah, yang merupakan sampah yang terkumpul di daerah- daerah di seluruh negara.

2.3.4 Sistem Pengelolaan Sampah

Pengelolaan sampah adalah semua kegiatan yang dilakukan dalam menangani sampah sejak ditimbulkan sampai dengan pembuangan akhir. Pengelolaan sampah sendiri terbagi menjadi 4 macam, yaitu:

(Taji, 2023)

1. Sistem pengelolaan sampah tradisional

Dalam sistem pengelolaan sampah yang seperti ini masih dengan menyangkut sampah ketempat pembuangan sampah

(13)

sementara atau langsung kepada tempat sampah akhir, dan masih membutuhkan dana untuk retribusi dalam suatu wilayahcakupan yang masih relatif kecil.

2. Sistem pengelolaan sampah kumpul angkut

Dengan sistem ini selain mengangkut sampah, masyarakat juga melakukan pengangkutan serta pengolahan sampah yang masih sangat sederhana dan cakupan wilayah nya lebih luas di banding dengan sistem pengolahan sampah tradisional.

3. Sistem pengolahan sampah mandiri

Dengan sistem ini masyarakat mulai memilah sampah yang mereka hasilkan sehari-hari. Selain itu mereka juga melakukan pengumpulan selain melakukan pengangkutan yang tentu saja sistemnya lebih baik daripada kedua sistem pengelolaan sampah yang telah disebutkan. Masyarakat dapat mengontrol jumlah produksi sampah yang dihasilkan

2.4 MCK

2.4.1 Pengertian MCK

MCK, atau jamban sehat, adalah ketika kotoran atau tinja dibuang ke tanki septik daripada ke sungai atau laut. Akses dan pemenuhan jamban sehat merupakan faktor risiko lingkungan yang menyebabkan stunting, dan salah satu kriteria rumah yang sehat adalah memiliki jamban sehat (Azizah, 2023). MCK digunakan untuk sarana mandi, mencuci, dan buang air (Kementerian PUPR, 2022).

2.4.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Praktik MCK

(14)

1. Faktor-faktor individu

Sikap positif terhadap Layanan MCK Umum mungkin memiliki keyakinan dan penghargaan terhadap pentingnya sanitasi dan praktik hidup bersih sehat, serta kesadaran bahwa penggunaan MCK Umum dapat membantu menjaga kebersihan lingkungan dan mencegah penyakit. Di sisi lain, mereka yang memiliki sikap negatif mungkin memiliki keyakinan terhadap kebersihan fasilitas MCK Umum, kekhawatiran tentang ketersediaan air bersih, atau tidak mau menggunakan fasilitas umum.

2. Faktor-faktor lingkungan

Aksesibilitas terhadap fasilitas MCK, sanitasi lingkungan, dan kebiasaan masyarakat. Keputusan keluarga untuk menggunakan Layanan MCK Umum dipengaruhi secara signifikan oleh ketersediaannya. Keluarga yang memiliki MCK Umum yang cukup dan mudah diakses secara geografis akan lebih tertarik untuk menggunakannya. Keluarga lebih cenderung memilih fasilitas sanitasi ini jika tersedia di dekat tempat tinggal mereka.

Keputusan keluarga juga dipengaruhi oleh kualitas dan kebersihan MCK umum. Tempat yang terjaga dengan baik dan higienis akan lebih menarik bagi keluarga daripada tempat yang kurang terawat 3. Faktor-faktor sosial

Faktor sosial yang mempengaruhi praktik MCK yaitu budaya, norma sosial, dan dukungan sosial terhadap praktik MCK.

Budaya lokal dan kebiasaan masyarakat memengaruhi keputusan

(15)

keluarga. Jika penggunaan MCK Umum dilihat baik di budaya lokal atau dianggap sebagai norma yang baik, keluarga lebih mungkin menggunakannya. Kampanye yang mempromosikan penggunaan MCK umum dan pentingnya sanitasi yang baik dapat mempengaruhi persepsi keluarga. Ini mungkin membuat keluarga lebih sering menggunakan fasilitas tersebut (Apriliani et al., 2021).

2.5 Hubungan Pengaruh Pola Asuh, Pengelolaan Sampah dan MCK Terhadap Kejadian Stunting

Stunting merupakan permasalahan global yang dipengaruhi oleh Faktor sosial, lingkungan dan biologi (Adriani et al., 2022). Pola asuh yang negatif, pengelolaan sampah yang tidak baik, dan ketidakpastian MCK dapat meningkatkan risiko stunting (UNICEF Indonesia, 2022). Stunting tidak hanya memiliki efek jangka pendek pada balita, tetapi juga memiliki efek jangka panjang, seperti postur tubuh yang buruk saat dewasa, penurunan kesehatan reproduksi, penurunan kemampuan belajar, dan prestasi yang buruk di sekolah (Anis Millati et al., 2021).

Pelayanan kesehatan, nutrisi, dan kebersihan anak sangat bergantung pada cara pengasuhan (Anis Millati et al., 2021). Pola asuh yang negatif dapat mengurangi pembiaran nutrisi dan interaksi bayi dan anak. Ini dapat berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan mereka (Maryani et al., 2023). Hasil dari pengelolaan sampah yang buruk dapat menyebabkan lingkungan menjadi kotor dan tercemar, Hal ini dapat meningkatkan risiko

(16)

infeksi dan penyakit pada anak-anak (Mariana et al., 2021). Kondisi sanitasi yang buruk juga dapat menyebabkan paparan terhadap bakteri dan parasit, yang dapat mengganggu kesehatan dan pertumbuhan anak-anak. Selain itu, praktik BABS yang meluas merupakan bahaya bagi masyarakat, terutama bagi anak-anak (UNICEF Indonesia, 2022). Pentingnya pemerintah dan masyarakat dalam memperbaiki infrastruktur sanitasi dan mendidik masyarakat tentang pentingnya praktik sanitasi dan kebiasaan tidak sehat untuk mengatasi permasalahan stunting (Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia, 2020)

(17)

2.6 Kerangka Teori

Dampak:

1. Jangka Pendek

a. Hambatan Perkembangan b. Penurunan Fungsi kekebalan c. Penurunan Fungsi Kognitif 2. Jangka Panjang

a. Mudah sakit b. Obesitas

c. Penurunan Toleransi Glukosa d. PJK,Hipertensi, dan

Osteoporosis

(Akbar & Huriah., 2022) Faktor penyebab stunting:

1. Asupan Makanan 2. Penyakit Infeksi 3. Pola Asuh

4. Sanitasi dan Pelayanan 5. Faktor Ekonomi 6. Faktor Sosial dan

Budaya

7. Faktor Pendidikan 8. Faktor Lingkungan

(Adriani et al., 2022)

Pencegahan:

1. Intervensi Gizi Spesifik 2. Intervensi Gizi sensitif

(Kiik S.M & Nuwa M.S,2020)

Kejadian Stunting

Status Gizi

Sistem Pengelolaan Sampah 1. Sistem pengelolaan

sampah tradisional 2. Sistem pengelolaaan

sampah kumpul angkut 3. Sistem Pengelolaan

sampah Mandiri (Taji, 2023)

Jenis Pola Asuh 1. Pola Asuh Otoriter 2. Pola Asuh

Demokratis

3. Pola asuh Permisif (Supenawinata, 2019)

Faktor yang mempengaruhi praktik MCK 1. Individu

2. Lingkungan 3. Sosial

(Apriliani et,al 2021)

Perilaku dan Praktik Pola Asuh,Pengelolaan sampah Dan MCK

(18)

Keterangan:

: tidak diteliti : diteliti

2.7 Kerangka Konsep

2.8 Hipotesis

1. Hipotesis Utama

a. Terdapat pengaruh signifikan anatara Pola Asuh, Pengelolaan Sampah dan MCK terhadap Kejadian Stunting

2. Hipotesis Penelitian

Gambar 2. 2 Kerangka Teori

Variabel Independen Pola Asuh

Variabel dependen Stunting Variabel Independen

Pengelolaan Sampah

Variabel Independen MCK

(Mandi,Cuci,Kakus)

Gambar 2. 3 Kerangka Konsep

(19)

a. Terdapat hubungan positif antara Pola Asuh yang baik dengan penurunan kejadian stunting

b. Terdapat hubungan positif antara Pengelolaan Sampah yang baik dengan kejadian Stunting

c. Terdapat hubungan positif antara praktik MCK yang baik dengan kejadian Stunting

BAB 3

METODE PENELITIAN 3.1Desain Penelitian

Desain penelitian berfungsi sebagai pedoman untuk proses penelitian.

Tujuan desain penelitian adalah untuk memberi peneliti panduan yang jelas dan terorganisir melakukan studinya (Sina, 2022). Jenis penelitian ini menggunakan analitik korelasi dengan pendekatan kuantitatif, yaitu menjelaskan pengaruh Pola asuh, Pengelolaan Sampah dan MCK terhadap Kejadian Stunting yang menggunakan rancangan cross sectional untuk hubungan variabel X dan Y. Penelitian cross sectional adalah penelitian dimana lebih mengutamakan waktu pengukuran dan observasi data setiap variabel dalam waktu yang sama atau hanya dilakukan satu kali (Yunitasari et al., 2020).

(20)

3.2Populasi dan Sampel Populasi

3.2.1 Populasi

Populasi adalah keseluruhan sumber data atau subjek penelitian atau sumber- sumber yang menjadi tempat akan diperoleh data (H.

Rifa’i, 2021). Populasi penelitian ini adalah anak-anak balita (usia 0-59 bulan) di wilayah yang memiliki prevalensi stunting yang signifikan.

Sampel adalah sebagian dari populasi penelitian atau contoh dari keseluruhan populasi penelitian (H. Rifa’i, 2021).Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan metode sampling purposive yaitu penentuan sampel dari sejumlah populasi berdasarkan ciri- ciri atau sifat tertentu dari populasi. Penentuan sampel ini berdasarkan pada tujuan penelitian

3.3Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian akan dilakukan di Desa Wonoasri Kecamatan Tempurejo Kabupaten Jember, penelitian akan dilaksanakan pada bulan Mei – Juni 2024.

3.4Variabel Penelitian

Variabel merupakan objek pengamatan penelitian atau disebut faktor yang berperan dalam penelitian atau gejala yang akan diteliti (H. Rifa’i, 2021).

Peneliti menggunakan 2 variabel yaitu:

1. Variabel independen (bebas)

Variabel independen sering disebut variabel stimulus, prediktor, antecedent, variabel bebas. Variabel bebas merupakan variabel yang

(21)

menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat) (H. Rifa’i, 2021). Variabel independen dalam penelitian ini adalah Pola asuh, Pengelolaan Sampah dan MCK.

2. Variabel dependen (terikat)

Variabel dependen adalah variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat karena adanya variabel bebas (H. Rifa’i, 2021). Variabel dependen dalam penelitian ini yaitu Stunting.

3.5Definisi Operasional

Definisi operasional adalah arti dari variable dengan menetapkan kegiatan-kegiatan untuk mengukur variabel tersebut (Amalia, 2019).

Table 1.1 Definisi Operasional No Variabel Definisi

operasional

Cara &

Alat ukur

Hasil skala

1. Variabel independen:

Pola Asuh

Perlakuan orang tua dalam pemenuhan nutri anak

Kuesioner (PSDQ)

Ya,Tidak Ordinal

Lanjutan tabel n 2.1 2. Variabel

dependen:

Kuesioner Ordinal

3.6Instrumen Penelitian

Instrumen adalah Teknik Pengumpulan data dan cara yang digunakan peneliti untuk mengumpulkan data yang diperlukan untuk memecahkan masalah penelitian (H. Rifa’i, 2021). Instrumen pada penelitian ini adalah kuesioner dan lembar observasi untuk mengukur penanganan sampah dan

(22)

fasilitas MCK. Peneliti menggunakan 2 kuesioner yaitu Kusioner EHRA dan yang telah lolos uji validasi dan reabilitas. Kuesioner yang digunakan untuk kontrol diri dan gaya hidup hedonis menggunakan skala likert dengan bentuk cheklist dalam jawaban sangat tidak setuju (STS), tidak setuju (TS), setuju (S), dan sangat setuju (SS) yang terdiri dari 24 pertanyaan.

3.7Uji Validitas dan Uji Reabilitas

3.7.1 Uji Validitas

Validitas adalah instrumen dalam penelitian yang merupakan alat untuk menguji item pertanyaan jika item dinyatakan valid artinya instrumen tersebut mampu mengukur variabel (H. Rifa’i, 2021).

3.7.2 Uji Reabilitas

Uji reabilitas digunakan untuk mengukur sejuah mana hasil pengukuran dengan suatu alat dapat dipercaya (H. Rifa’i, 2021).

3.8Cara Pengumpulan Data

Cara peneliti mengumpulkan data dengan prosedur sebagai berikut:

1. Peneliti mengatur kuesioner yang akan diisi oleh responden sebagai alat pengumpulan data.

2. Kuesioner yang sudah di uji validitas dan reabilitas diberikan kepada responden yang sesuai dengan sampel yang ditentukan oleh peneliti.

3. Pertanyaan yang tidak valid direvisi untuk mendapatkan pertanyaan yang sesuai dengan variabel dependen dan independen.

4. Peneliti meminta surat izin kepada pihak kampus untuk mengadapakan penelitian.

(23)

5. Peneliti memberitahu tujuan penelitian dan meminta responden menandatangani lembar persetujuan.

6. Sesudah responden mengerti cara mengisi kuisioner, peneliti mendampingi responden dalam mengisi dan menjawab pertanyaan jika responden bertanya atau kurang mengerti.

7. Setiap kuisioner yang sudah di isi akan diambil datanya oleh peneliti.

8. Responden yang bersedia menjawab kueisioner diberikan hadiah sebagai ucapan terimakasih.

3.9Analisa Data

Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari wawancara, catatan lapangan dan bahan-bahan lainnya, sehingga dapat dipahami dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain (H. Rifa’i, 2021).

3.9.1 Analisa Univariat

Analisa univariant adalah analisa yang digunakan untuk menjelaskan karakteristik setiap variabel (Priantoro, 2018). Analisa univariat yang digunakan pada penelitian ini meliputi karakteristik responden seperti Frekuensi dan distribusi skor pola asuh dari kusioner, Analisis deskriptif untuk melihat pola pengelolaan sampah, kebiasaan MCK dan variabel independen (Pola Asuh, Pengelolaan Sampah dan MCK) dan variabel dependen (Stunting).

(24)

3.9.2 Analisa Bivariat

Analisa bivariat digunakan untuk menganalisis variabel yang terdiri dari 2 variabel yaitu variabel independen dan dependen (Heryana, 2020). Analisa bivariat pada penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan antara Pola Asuh, Pengelolaan Sampah dan MCK dengan Stunting yang dianalisis dengan uji statistik Chi Square.

Jika nilai signifikansinya < 0,05 hipotesis diterima, jika > 0,05 maka hipotesis ditolak (Mukti et al., 2022).

3.10 Etika Penelitian

3.10.1 Informed Concent (lembar persetujuan)

Lembar persetujuan diberikan untuk mendapatkan persetujuan antara peneliti dengan responden sebelum pengambilan data. Peneliti memberikan kebebasan kepada responden untuk bersedia atau tidak berpartisipasi dalam penelitian ini.

3.10.2 Anonimity (tanpa nama)

Tujuan menjaga privasi responden, peneliti hanya mencantumkan inisial responden di lembar persetujuan

3.10.3 Confidentiality (kerahasiaan)

Peneliti mampu menjaga kerahasiaan informasi yang diperoleh, data informasi hanya digunakan untuk kepentingan peneliti dan tidak dapat dilihat oleh siapapun tanpa seizin peneliti.

(25)

DAFTAR PUSTAKA

Adriani, P., Aisyah, I. S., Wirawan, S., Hasanah, L. N., Idris, Nursiah, A., Yulistianingsih, A., & Siswati, T. (2022). Stunting Pada Anak. In S. T. K.

Oktavianis, S.ST., M.Biomed Rantika Maida Sahara (Ed.), PT Global

Eksekutif Teknologi (Vol. 124, Issue November). PT GLOBAL EKSEKUTIF TEKNOLOGI Anggota.

https://www.researchgate.net/publication/364952626

Akbar, I., & Huriah, T. (2022). Modul Pencegahan Stunting. In SETIAWAN (Ed.), Modul Pencegahan Stunting.

Anis Millati, N., Awanda Ramadhani, D., Oktaviana, H., Aulia Rahman M, R., &

Subadri, I. (2021). Stunt ng (Akim Dharmawan (ed.); 1st ed.). PT Gramedia.

Apriliani, I. M., Purba, N. P., Dewanti, L. P., Herawati, H., & Faizal, I. (2021).

Open access Open access. Citizen-Based Marine Debris Collection Training:

(26)

Study Case in Pangandaran, 2(1), 56–61.

Astuti, D. D., Adriani, R. B., & Handayani, T. W. (2020). Pemberdayaan Masyarakat Dalam Rangka. 4(2), 2–6.

Dwi Ananta, S., Krisnana, I., & Tri Lestari, W. (2023). The Relationship Between Maternal Knowledge Level And Feeding Practices With Dietary Patterns In Stunted Children. Jurnal EduHealth, 14(3), 1393–1399.

https://doi.org/10.54209/jurnaleduhealth.v14i3.2762

Gobai, K. R., Surya, B., & Syafri, S. (2021). Pengelolaan sampah perkotaan. In Pengantar Ilmu Teknik Lingkungan.

H. Rifa’i, A. (2021). Pengantar Metodologi Penelitian. In Antasari Press (Pertama).

Heryana, A. (2020). Analisis Data Penelitian Kuantitatif. Universitas Esa Unggul, June, 1–188. https://doi.org/10.13140/RG.2.2.31268.91529

I Komang Minggi Sagara Taji. (2023). Kejadian Stunting Di Desa.

Kementerian PUPR. (2022). Buku Saku Petumjuk Konstruksi Sanitasi 2022. In Jurnal Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia. (2020). Peta Jalan Percepatan Pencegahan Stunting Indonesia 2018-2024. In TP2AK

Sekretariat Wakil Presiden Republik Indonesia. https://stunting.go.id/peta- jalan-percepatan-pencegahan-stunting-indonesia-2018-2024/

Kiik S.M & Nuwa M.S. (2020). Stunting dengan pendekatan Framework WHO - Google Books (R. Fahik (ed.); Issue August). CV. Gerbang Media Aksara.

Lolan, Y., & Adni Fauzia, D. (2023). Pengaruh Pangan Lokal Dan Pola Asuh Makan Terhadap Kejadian Stunting Pada Balita 6- 24 Bulan Di Kota Bandung. Jurnal Kesehatan Mahardika, 10(2), 72–79.

https://doi.org/10.54867/jkm.v10i2.170

Mariana, R., Nuryani, D. D., & ... (2021). Hubungan sanitasi dasar dengan kejadian stunting di wilayah kerja puskesmas Yosomulyo kecamatan Metro pusat kota Metro tahun 2021. JOURNAL OF Community …, 1–18. http://e- jurnal.iphorr.com/index.php/chi/article/view/99

Maryani, N., Novita, A., & Hanifa, F. (2023). Hubungan Pola Pemberian

Makan , Pola Asuh dan Sanitasi Lingkungan dengan Kejadian Stunting pada Balita Usia 12-59 Bulan di Desa Babakan Kecamatan Ciseeng Tahun 2022.

02, 396–403. https://doi.org/10.53801/sjki.v2i3.130

PERMENKES RI. (2020). STANDAR ANTROPOMETRI ANAK. In

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA (Vol. 34, Issue 8). http://dx.doi.org/10.1016/j.jaad.2013.01.032

(27)

Rizquita Azizah, Rahmatillah Razak, Anggun Budiastuti, D. S. (2023). Open Access. Hubungan Faktor Lingkungan Fisik Terhadap Kejadian Stunting Pada Balita Di Kabupaten Ogan Ilir Tahun 2023, 6(12), 2579–2587.

Sari, Saputra, Ajani, A. T. (2024). Hubungan Sanitasi Lingkungan , Pola Asuh dan Pola Makan dengan Kejadian Stunting pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Sijunjung. Hubungan Sanitasi Lingkungan, Pola Asuh Dan Pola Makan Dengan Kejadian Stunting Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Sijunjung, 1(1), 42–48.

Seraficha Gischa. (2023). Faktor yang Mempengaruhi Jenis dan Jumlah Sampah.

Kompas.Com.

https://www.kompas.com/skola/read/2023/03/14/200000269/faktor-yang- memengaruhi-jenis-dan-jumlah-sampah?page=2

Sina, I. (2022). Metodologi Penelitian. In A. T. Putranto (Ed.), Widina Bhakti Persada Bandung (Pertama). WIDINA BHAKTI PERSADA BANDUNG.

Siringoringo, E. T., Syauqy, A., Panunggal, B., Purwanti, R., & Widyastuti, N.

(2020). Karakteristik Keluarga Dan Tingkat Kecukupan Asupan Zat Gizi Sebagai Faktor Risiko Kejadian Stunting Pada Baduta. Journal of Nutrition College, 9(1), 54–62. https://doi.org/10.14710/jnc.v9i1.26693

Supenawinata, A. (2019). Be Smart Parent Dengan Pola Asuh Positif. In M. S.

Awit M.Sakinah (Ed.), Angewandte Chemie International Edition, 6(11), 951–952. (Vol. 2, Issue August, pp. 36–38). LP2M UIN Sunan Gunung Djati Bandung. https://doi.org/10.13140/RG.2.2.19684.91521

UNICEF Indonesia. (2022). Laporan Tahunan Indonesia 2022. In UNICEF Laporan Tahunan Indonesia 2022.

https://www.unicef.org/indonesia/id/Laporan_Tahunan_UNICEF_Indonesia_

2022.pdf

Yudiyanto, Yudhistira, E., & Tania, A. L. (2019). Pengelolaan Sampah

Pengabdian Pendampingan Kota Metro. In Rahmatl Umimah (Ed.), Lembaga Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat (Vol. 6, Issue 11, pp. 1–80).

Perpusatkaan Nasional RI.

Yunitasari, E., Triningsih, A., & Pradanie, R. (2020). Analysis of Mother Behavior Factor in Following Program of Breastfeeding Support Group in the Region of Asemrowo Health Center, Surabaya. NurseLine Journal, 4(2), 94. https://doi.org/10.19184/nlj.v4i2.11515

Gambar

Tabel 2.1 Kategori dan ambang batas Status Gizi Anak
Gambar 2. 2 Kerangka Teori
Gambar 2. 3 Kerangka Konsep

Referensi

Dokumen terkait

Kebutuhan nutrisi merupakan kebutuhan yang sangat penting dalam membantu proses pertumbuhan dan perkembangan pada bayi dan anak, karena manfaat nutrisi dalam

Ada beberapa keadaan yang dapat menyebabkan peningkatan kebutuhan energi, misalnya kedinginan atau stress fisik karena ketidaknyamanan yang dirasakan oleh bayi. Bayi

Salah satu dampak negatif bagi anak yang kebutuhan nutrisi tidak terpenuhi akan mengalami kegagalan pertumbuhan fisik, penurunan IQ (intelligence quotient),

Ibu nifas membutuhkan nutrisi yang cukup, gizi seimbang, terutama kebutuhan protein dan karbohidrat. Gizi pada ibu menyusui sangat erat kaitannya dengan produksi

Pertumbuhan tulang memerlukan berbagai macam nutrisi protein, vitamin dan mineral. Namun mineral utama bagi pertumbuhan tulang adalah ”kalsium”. Tanpa kalsium dalam jumlah

Faktor utama yang memengaruhi pertumbuhan otak anak adalah nutrisi yang diterima saat pertumbuhan otak, dimana nutrisi yang paling sempurna utnuk bayi pada

Absorpsi kalsium paling banyak terjadi saat asupan kalsium rendah dan kebutuhan akan kalsium tinggi, seperti yang terjadi pada masa pertumbuhan cepat, bayi, anak-anak, masa

ASI Eksklusif merupakan sumber gizi yang sangat ideal dengan komposisi yang seimbang dan disesuaikan dengan kebutuhan pertumbuhan bayi. ASI adalah makanan bayi yang paling