• Tidak ada hasil yang ditemukan

bab i pemerintahan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "bab i pemerintahan"

Copied!
56
0
0

Teks penuh

Despotisme adalah pemerintahan yang dipimpin hanya oleh satu pemimpin dan seluruh rakyat dianggap sebagai pelayan. Kediktatoran adalah pemerintahan yang dipimpin oleh seseorang yang mempunyai kekuasaan penuh atas rakyat dan negara. Oligarki adalah pemerintahan yang dipimpin oleh sekelompok kecil orang yang mempunyai kepentingan yang sama atau mempunyai hubungan kekerabatan satu sama lain.

Filsuf Thomas Hobbes menunjukkan bahwa manusia sebagai hewan rasional menunjukkan ketaatannya terhadap pemerintahan yang dipimpin oleh seorang penguasa. Perhatian terhadap “ilmu pemerintahan” yang juga merupakan pengembangan dari “Ilmu Administrasi Negara” menunjukkan bahwa peran penting “fungsi pemerintahan” sangat diperlukan, seiring dengan semakin kompleksnya dinamika tuntutan dan harapan masyarakat dalam kaitannya dengan tercapainya tingkat kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini kita akan membahas beberapa konsep dan teori mengenai “fungsi pemerintahan”, dimaksudkan sebagai upaya untuk memberikan bahan kajian dan juga wacana yang diambil dari para ahli, yang diharapkan mendapat apresiasi dari para pemerhati dan praktisi untuk membangun dan mempercepat pembangunan. efektivitas dan efisiensi pelaksanaannya. pemerintah untuk menjamin dan memberikan “pelayanan publik” yang memuaskan seluruh elemen masyarakat (Istianto.

Rendahnya komitmen dan konsistensi para pemimpin pemerintahan serta tidak adanya perencanaan yang baik dalam penyelenggaraan pemerintahan menunjukkan “rendahnya” profesionalisme dan kompetensi para pemimpin pemerintahan. Supersemar" kepada Jenderal Soeharto untuk "memulihkan keadaan" hingga akhirnya Sukarno mengambil alih tampuk kekuasaan kepada Soeharto ketika Soeharto diangkat menjadi Penjabat Presiden pada tahun 1967, menandai dimulainya fase pemerintahan baru yang disebut Era Orde Baru. Pada dasarnya, dengan stabilitas yang cukup dan penyelenggaraan negara yang baik, maka harus diimbangi dengan hasil pembangunan, terutama agar pelayanan publik dapat berfungsi secara optimal.

Penggunaan sistem pemerintahan yang bisa dikatakan merupakan campuran dari 'sistem pemerintahan presidensial dan parlementer' pada akhirnya terjebak pada pilihan yang dilematis antara konsisten menggunakan sistem presidensial saja atau parlementer saja.

Asas Pemerintahan

Asas Pemerintahan Umum

Tentunya dari tahun ke tahun perubahan dilakukan ke arah yang lebih baik dan benar, walaupun kita tetap berpedoman pada apa yang terjadi sebelumnya, karena belajar dari masa lalu maka prinsip tersebut disebut dengan prinsip sejarah. Asas desentralisasi adalah penyerahan sebagian urusan dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah untuk mengurus dan mengatur daerahnya sendiri. Yang dimaksud dengan beberapa hal adalah tidak semua urusan dapat diserahkan oleh Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah, misalnya saja penyerahan urusan pertahanan dan keamanan, karena akan menimbulkan keberanian daerah untuk melawan Pemerintah Pusat secara tersendiri, melalui penyerahan moneter. kasus akan menimbulkan perbedaan dan kesenjangan mata uang, penyerahan perkara peradilan akan menjadikan pemberontak yang dijatuhi hukuman oleh Pemerintah Pusat menjadi pahlawan peradilan di daerahnya.

Manajemen adalah penyerahan pekerjaan pemerintahan kepada eksekutif agar Pemerintah Daerah selanjutnya dapat membangun pelayanan sesuai dengan pekerjaan yang diserahkan tersebut. Sedangkan pengaturan daerahnya dilakukan oleh Pemerintah Daerah sendiri dengan membentuk lembaga legislatif daerah atau Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Prinsip Dekonsentrasi adalah pendelegasian wewenang oleh pejabat pemerintah pusat atau pejabat diatasnya (misalnya di daerah provinsi) sehingga suatu saat suatu departemen di tingkat pusat mendelegasikan wewenangnya kepada kepala kantor wilayah provinsi atau kepala provinsi . Jika kantor wilayah melimpahkan kewenangannya kepada kepala kantor departemen di tingkat kabupaten/kota, maka terkadang muncul egoisme sektoral karena Pemerintah Daerah tidak mengetahui pelaksanaannya dan sulit ikut serta dalam pengawasannya.

Di satu sisi pemerintah pusat khawatir jika menyerahkan segala urusan kepada daerah akan menyebabkan daerah menjadi separatis, namun di sisi lain pemerintah daerah curiga karena pemerintah pusat akan menggerogoti kekayaan daerah, tarik menariknya. -perang akan tetap ada. -Perang antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah tidak akan pernah ada habisnya. Desentralisasi pemerintahan pada masa kolonial seperti diketahui sangat terbatas, sehingga aparat dekonsentrasi sangat kewalahan, misalnya pada perekonomian yang sangat kecil yaitu hanya sekedar membiayai tugas-tugas yang tidak penting, oleh karena itu Pemerintah Daerah hanya sekedar membiayai tugas-tugas yang tidak penting. termasuk dalam urusan kenegaraan tertentu. . Asas ini menimbulkan terjadinya nepotisme di berbagai daerah, resikonya penentuan berat ringannya hukuman ditentukan oleh keeratan hubungan kekerabatan, sehingga lagi-lagi hukum tidak dilaksanakan secara tegas, sedangkan penetapan pengangkatan menjadi kedudukannya juga berdasarkan kekerabatan, sehingga tidak menutup kemungkinan dipilih oleh pejabat yang tidak ahli (nepotisme).

Ketertiban hukum memang dapat melahirkan keteraturan, karena segala sesuatunya ditentukan berdasarkan aturan yang telah ditetapkan. Asas ini mengacu pada kemurnian tujuan pemerintah yang dalam Islam dikenal dengan sabda Nabi Muhammad SAW. Asas ini mengacu pada keadilan pemerintahan, yang dalam hal ini keadilan sulit diungkapkan, misalnya dalam

Asas ini bertumpu pada hukum yang berlaku, artinya untuk memutuskan sesuatu harus ada peraturan baik tertulis maupun tidak tertulis (kebiasaan/adat istiadat). Prinsip ini adalah prinsip keseimbangan antara yang baik dan yang benar, bukan keseimbangan antara yang buruk dengan yang baik, tidak pula keseimbangan antara yang salah dengan yang benar, dan juga bukan keseimbangan antara yang jelek dengan yang indah, karena membawa pada kehancuran. Hal ini diimbangi dengan kebenaran yang memerlukan ilmu pengetahuan, pemerintahan yang siap menyelenggarakan pemerintahan yang bersih, yang menjunjung tinggi makna nasionalisme dan hukum untuk mencapai hasil yang cepat (efektifitas).

Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah

Wilayah Indonesia terlebih dahulu akan dibagi menjadi provinsi-provinsi dan selanjutnya provinsi-provinsi tersebut akan dibagi menjadi wilayah-wilayah yang lebih kecil. Negara kesatuan yang terdesentralisasi, selain Pemerintah Pusat terdapat pemerintah daerah yaitu Pemerintah Daerah yang keduanya mempunyai tugas pokok menyelenggarakan pelayanan publik. Untuk melaksanakan tugas pelayanan publik, harus ada pembagian kewenangan yang tegas dalam pemberian pelayanan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia menganut pendekatan sentralisasi dan desentralisasi yang lebih bersifat kontinum dibandingkan dikotomi (Hoessein, 2001: 9). Alasan lain penguatan kualitas pelayanan publik akan lebih efektif jika dilakukan oleh Pemerintah Daerah adalah karena dapat mengakomodir kebutuhan pelayanan sesuai dengan nilai-nilai yang ada di masyarakat. Oleh karena itu, permasalahan pemerintahan daerah akan mengemuka sebagai salah satu permasalahan yang menyita perhatian untuk dibicarakan masyarakat luas, meskipun saat ini merupakan penyelenggaraan pemerintahan.

Ada beberapa prinsip dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah, salah satunya menurut Rondinelli (dalam Sadu membagi desentralisasi menjadi 4 (empat) prinsip. 4) Pengalihan fungsi dari lembaga publik ke lembaga non pemerintah. Berkaitan dengan pemikiran Rondinelli di atas maka variabel-variabel yang menentukan Sistem Pembentukan Pemerintahan Daerah antara lain; Faktor wilayah dan kewenangan menjadi salah satu unsur utamanya. Selain faktor penyeimbang kelembagaan tersebut, faktor utama yang menentukan efektivitas dan besar kecilnya Pemerintahan Daerah (Pemda) antara lain; wilayah dan jumlah penduduk.

Batasan pemerintahan daerah berdasarkan warisan sejarah dan tradisi dengan cepat menjadi mutlak, sedangkan ketergantungan antar daerah sangat dominan, misalnya dalam hal air, listrik, perumahan, sampah dan transportasi. Terkait dengan pemikiran di atas, memikul beban yang berat bagi kabupaten/kota tersebut merupakan sebuah keniscayaan yang untuk mengelola kekuasaan dalam jumlah besar mutlak didukung oleh sumber daya manusia yang profesional dan kepemimpinan pemerintah daerah yang kuat. Pemerintah Pusat akan lebih fokus pada tugas-tugas pengambilan kebijakan nasional dan strategis yang tidak dapat diserahkan kepada Pemerintah Daerah.

Deregulasi kehidupan perekonomian dan desentralisasi pemerintahan agar pemerintah daerah dapat memberikan pelayanan yang lebih kepada masyarakat. Dengan demikian, pemerintah harus kuat (strong Government) untuk mampu menjalankan fungsi penegakan hukum, melakukan pengendalian atau pengawasan dalam penyelenggaraan pemerintahan pusat dan daerah, serta mampu menjaga stabilitas sosial politik, perekonomian, dan keamanan. Fungsi pemerintahan ini diperlukan apabila kita ingin melaksanakan kebijakan reformasi birokrasi untuk mengelola pemerintahan sesuai konsep “good governance” dan “transformasi pemerintahan”.

Hubungan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah

  • Hubungan Kewenangan
  • Hubungan Keuangan antara Pusat dan Daerah
  • Hubungan Pengawasan
  • Hubungan dalam Susunan Organisasi Pemerintahan Daerah

Menurut Clark dan Stewart, model hubungan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah secara teoritis dapat dibedakan menjadi 3 (tiga), yaitu: Pertama, model otonomi relatif. Merupakan suatu bentuk model dimana keberadaan dan peran pemerintah daerah ditentukan oleh interaksi antara pemerintah pusat dan daerah (Batley dan Stoker. Upaya mencari format hubungan yang ideal antara pusat dan daerah dalam kerangka bernegara tunggal bukanlah perkara mudah karena merupakan sebuah proses yang berjalan beriringan dengan sejarah bangsa Indonesia.

Persoalan hubungan pusat dan daerah dalam suatu negara kesatuan yang mempunyai kesatuan otonom, selain berkaitan dengan tata cara penetapan urusan rumah tangga daerah, juga timbul dari hubungan kewenangan, hubungan keuangan, hubungan pengawasan, dan hubungan yang timbul dari struktur organisasi. Ketiga, sistem hubungan keuangan antara pusat dan daerah yang menimbulkan hal-hal seperti terbatasnya kemampuan keuangan daerah yang akan membatasi ruang gerak otonomi daerah. Pelimpahan tugas kepada pemerintah daerah dalam otonomi harus disertai dengan pelimpahan keuangan (uang mengikuti fungsi).

Seiring berjalannya waktu, persoalan hubungan keuangan dan pembagian kewenangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah terus berkembang. Hubungan keuangan pusat dan daerah pada akhirnya sangat bergantung pada tingkat atau derajat desentralisasi yang tercermin dari pembagian kewenangan antara pemerintah pusat dan daerah (Simanjuntak dalam Wignosubroto. Adanya keterkaitan yang erat antara kegiatan pemerintah dengan sumber pendanaan pada dasarnya memberikan indikasi bahwa pengaturan hubungan keuangan pusat dan daerah tidak lepas dari permasalahan pembagian tugas antara pemerintah pusat dan daerah.

Sistem hubungan keuangan pusat dan daerah harus memberikan kejelasan mengenai seberapa besar kekuasaan yang dimiliki pemerintah daerah. Oleh karena itu, untuk memperlihatkan sistem hubungan keuangan pusat dan daerah, perlu melihat tujuan umum hubungan keuangan pusat dan daerah. Permasalahan hubungan keuangan antara pusat dan daerah hanya dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya apabila permasalahan pembagian tugas dan tanggung jawab antara pusat dan daerah juga terselesaikan dengan jelas.

Dengan demikian, pembagian ketiga fungsi tersebut sangat penting sebagai landasan penetapan dasar perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah secara jelas dan tegas. Perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah merupakan suatu sistem pembiayaan pemerintah dalam kerangka negara kesatuan, yang meliputi pembagian keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah serta pemerataan antar daerah secara proporsional, demokratis, adil, dan merata. secara transparan, dengan mempertimbangkan potensi, kondisi dan. Aspek lain yang mungkin mempengaruhi pola hubungan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah adalah struktur organisasi pemerintahan daerah, khususnya dalam negara kesatuan yang terdesentralisasi.

Struktur organisasi pemerintahan daerah merupakan salah satu aspek yang dapat mempengaruhi hubungan antara pemerintah dan pemerintah daerah. Pertanyaan yang bisa diajukan adalah apakah hal ini benar-benar dapat mempengaruhi hubungan antara unit pemerintah pusat dan daerah. Berdasarkan hal tersebut, komposisi organisasi pemerintahan di daerah akan mempengaruhi hubungan antara pusat dan daerah.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1975 tentang Penyerahan Sebagian Urusan Pemerintah Pusat di Bidang Perkebunan Besar kepada Daerah Tingkat I, maka

(1) Penyerahan sebagian urusan pemerintahan di bidang Pekerjaan Umum kepada Pemerintah Daerah Tingkat I dan Pemerintah Daerah Tingkat II sebagaimana dimaksud dalam

daerahnya, kecuali urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah Pusat, yaitu kewenangan yang berkaitan dengan politik luar negeri, pertahanan, keamanan, yustisi,

Maksud Peraturan Pemerintah ini ialah untuk melaksanakan penyerahan sebagian dari pada urusan Pemerintah Pusat mengenai kesehatan kepada kabupaten-kabupaten, kota-kota besar

Urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah Daerah yang diserahkan pengaturannya kepada Desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf b adalah urusan pemerintahan yang

Daerah diberikan hak untuk mendapatkan sumber keuangan yang antara lain berupa kepastian tersedianya pendanaan dari pemerintah pusat sesuai dengan urusan pemerintah pusat

Kendala ini terlihat pada komposisi sumber penerimaan pendapatan asli daerah (PAD) yang diserahkan oleh pemerintah pusat kepada pemerintah daerah dimana sebagian

Dalam melaksanakan tujuan tersebut, Pemerintah Daerah diberikan beberapa urusan pemerintahan di luar lima urusan Pemerintah, yakni urusan politik luar negeri, pertahanan,