BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang
Bila kita mulai berbicara tentang “Allah”, maka ada mengancam salah- paham yang besar. Yaitu seolah-olah pengakuan iman dimulai dengan suatu kata yang umumnya terkenal. Tidakkah kata “Allah” itu dipergunakan didalam berbagai-bagai agama dan didalam pelbagai pandangan-tentang hidup? Atheisme yang konsekwen (menyangkal adannya Tuhan).1 Ada kemungkinan berbicara tentang mendengar Allah dengan istilah keadaan misterius, keadaan samar, dan nuansa scriptural yang istimewa di mana karakter Allah dipertanyakan. Kita harus menjawab kecenderungan ini dengan mengawal secara empati bahwa Allah bukanlah tukang komat-kamit penipu. Kita bisa merasa yakin bahwa “tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah” (2 Ptr. 1:21).2
1 Gerrit Cornelis van Niftrik, Dogmatika Masa Kini, BPK Gunung Mulia, 1978. Hal 74 2 Dallas Willard, Hearing God (Mendengar Allah: Mengembangkan Hubungan yang Akrab dengan Allah, Literatur Perkantas Jatim, 2020. Hal 260.
BAB II PEMBAHASAN
Mengapa pohon menghasilkan buah? Bukan karena hukum alam yang mengatakan bahwa hal itu harus terjadi. Pohon menghasilkan buah semata-mata karena kehidupan didalamnya, yang berasal dari tanah dan air yang member makan akarnya dan mengalir sebagai cairan melalui setiap cabang dan ranting.
Sebuah pohon tidak menghasilkan buah dengan cara menjaga hukum alam (jika kita dapat menggunakan imajinasi kita dan `berpikir seperti pohon`). Sebuah pohon menghasilkan buah semata-mata karena pohon itu hidup; ia menjadi pohon dan melakukan apa yang dilakukan oleh sebuah pohon yang hidup.
“tetapi buah Roh ialah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.
(Gal. 5:22-23).
Jadi apa yang sedang Rasul Paulus sampaikan dengan daftar karakter yang indah yang ditulisnya adalah: ini adalah karakter yang akan dihasilkan Allah sendiri dalam kehidupan manusia yang umum setiap hari karena kehidupan Allah sendiri sedang mengalir dalam diri mereka. Kehidupan Allah (oleh Roh-Nya) akan menghasilkan buah dalam ‘pohon’ kehidupan seseorang, semata-mata karena seperti itulah karakter Allah dan itulah yang dihasilkan oleh Allah.3
3 Christopher J. H. Wright, Becoming Like Jesus (Menjadi Serupa Yesus): Menumbuhkan Buah-Buah Roh, Literatur Perkantas Jatim, 2020. Hal 20.
KARAKTER-KARAKTER ALLAH
Pengertian karakter menurut pusat Bahasa Depdiknas adalah “bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak”. Adapun berkarakter, adalah berkepribadian, berperilaku, bersifat, dan berwatak. Istilah karakter diambil dari bahasa Yunani “charassian”
yang berarti “to mark” atau menandai dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku, sehingga orang yang tidak jujur, kejam, rakus dan perilaku jelek lainnya dikatakan orang berkarakter jelek. Sebaliknya, orang yang perilakunya sesuai dengan kaidah moral disebut dengan karakter mulia.4
Ketetapan merupakan sebuah ‘peraturan’ yang memiliki kekuatan mengikat, yang bersifat ‘harus dijaga secara mutlak’. Dari antara ketetapan- ketetapan yang ada, ‘ketetapan Allah’ secara khusus memiliki kekuatan mengikat yang kekal. ‘ketetapan Allah’ memiliki hubungan yang dalam dengan Yesus Kristus.5
Allah yang Cemburu
Perjanjian Lama memberi beberapa alasan mengapa pemujaan berhala dilarang. Pemujaan menghina dan menipu orang (misalnya Yes. 44:9-20; Mzm.
115:8) dan melahirkan ketidak-adilan sosial (misalnya keterangan tentang merosotnya kerajaan Utara, menurut 1 dan 2 raj.). namun alasan yang paling kuat dan pribadi mengapa orang Israel diperintahkan “jangan ada ilah-ilah lain” ialah bahwa pemujaan berhala membangkitkan kecemburuan Allah. Kecemburuan itu mendasari penolakan Perjanjian Lama terhadap agama-agama dan ilah-ilah lain dan jelas ada kaitannya dengan pluralisme agama. Pernah dikatakan, Allah Perjanjian Lama bersifat eksklusif (Allah satu bangsa saja) dan ingin menjaga
4 Ani Nur Aeni, Pendidikan Karakter untuk Mahasiswa PGSD, UPI Press, 2014. Hal 22- 23.
5 Abraham Park. D. Min., D. D., Sepuluh Perintah: Perjanjian Kekal Bagi Seluruh Generasi “Volume 7 dari Seri Sejarah Penebusan”, Yayasan Damai Sejahtera Utama, 2020.
umat-Nya supaya hidup secara tersendiri, sedangkan Allah Perjanjian Baru lebih bersifat Universal (Allah segala bangsa) dan umatnya menjadi lebih inklusif dan terbuka. Selain itu, dalam Perjanjian Lama kecemburuan Allah sering disebutkan, sedangkan dalam Perjanjian Baru kecemburuannya hanya sekali disebutkan, yaitu dalam 1 Korintus 10:22.6
Allah yang Kasih
kita mengenali Allah yang adalah kasih, oleh karena ia menyatakan diri didalam Yesus Kristus. Itulah yang diberitakan kepada kita dalam Yoh 3:16, tetapi jika kita sudah menginsafi arti ayat itu, maka kitapun manginsafi bahwa juga Kej 1:1 mau memberitakan kepada kita tentang kasih itu. Oleh sebab itu kita tidak memandang rendah dunia ini, tetapi dengan rasa syujur kita menerima hidup yang hendak diberikan oleh Allah kepada kita didunia ini. Sebab Allah sendiri mengasihi mengasihi dunia ini. Dunia ini adalah dunia kepunyaan Tuhan.7
Allah yang Mahakuasa8
Semua perbuatan Allah menunjukkan kekuasaan-Nya, tetapi tidak pernah merupakan kuasa yang sewenang-wenang. Pemazmur bersaksi: “Allah kita di sorga, Ia melakukan apa yang dikehendaki-Nya (Maz 115:3). Kenangan akan kepergian Israel dari Mesir, yang membuat Israel bernanyi: “Tuhan itu kekuatanku dan Mazmurku....Tangan kanan-Mu, Tuhan, mulia karena kakuasaan- Mu” (Kel 15:2). Kesadaran akan kekuasaan Tuhan yang dinyatakan demi kepentingan umat-Nya, diperkaya dengan kepercayaan akan kuasa-Nya sebagai sang pencipta. Berkaitan dengan kekuasaan-Nya, terdapat pemikiran bahwa Allah itu dahsyat. Dan ini dapat dialami sebagai hukuman maupun berkat, dan dinyatakan dalam konteks moral.
6 Andrew D. Clarke & Bruce W. Winter, Satu Allah, Satu Tuhan (tinjauan Alkitabiah tentang pluralisme Agama), BPK Gunung Mulia. 2006. Hal 101.
7 Gerrit Cornelis Van Niftrik, Dogmatika Masa Kini, BPK Gunung Mulia, 1978. Hal 120.
8 http://kuliahteologi.blogspot.com/2015/06/sifat-sifat-dasar-allah.html#:~:text=Allah
%20adalah%20Pribadi%20dan%20Esa,penuh%20kemurahan%20dan%20kasih%20sayang.
Allah yang Kudus9
Ini adalah pusat watak Allah. Kata Ibraninya berarti “memecilkan” atau
“mengkhususkan”. Kata ini dipakai untuk menunjukkan sesuatu yang dipisahkan dari pemakaian sehari-hari untuk ibadah suci. Misalnya “hari ketujuh” (Kej 2:3)
“dikhususkan” atau “dikuduskan” oleh Allah dan bagi Allah. Gagasan tentang kekudusan, dikaitkan dengan kemurnian moral. Pengertian dalam PL tentang kekudusan, pertama-tama dikaitkan dengan Allah, baru kemudian lewat perintah- Nya, benda-benda dan tempat-tempat. Jika diperluas, kekudusan Tuhan berkaitan dengan umat yang dipilih-Nya. Meskipun hanya Allah yang kudus, namun kekudusan yang memancar dari-Nya, meliputi seluruh bumi (Kel 15:11).
Kekudusan di PL membawa pesan samar-samar akan kesempurnaan kekuatan dan kehidupan dalam konteks pribadi dan moral.
Allah itu murah hati dan penyayang
seharusnya manusia itu dibinasakan oleh Tuhan, tetapi sebaliknya Dia menawarkan pengampunan sebagai karunia Cuma-Cuma untuk diterima melalui iman kepada Yesus Kristus . Mazmur 108:3, Kel 34:6, Ul.4:31.10
Allah itu sabar
Tuhan sabar dengan memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk sadar dan bertobat. 2 Petrus 3:9, Kel,34:6 Bil.14:18.11
Allah itu setia
Dia akan melaksanakan apa yang telah dinyatakan, dijanjikan dan peringatan dalam Firman-Nya. Ulangan 7:9, Mazmur 103:8.12
9 http://kuliahteologi.blogspot.com/2015/06/sifat-sifat-dasar-allah.html#:~:text=Allah
%20adalah%20Pribadi%20dan%20Esa,penuh%20kemurahan%20dan%20kasih%20sayang.
10 http://nataliyanagigih.blogspot.com/2010/11/hakikat-dan-sifat-sifat-atribut-allah.html 11 Ibid
12 Ibid
BAB III PENUTUP
Kesimpulan:
Hubungan-hubungan yang ada dalam penjelasan ini, memberikan pemahaman betapa sangat luarbiasanya Allah yang kita kenal. Ia memiliki segala sesuatu yang baik untuk mengasihi kita umat manusia. Tetapi bagaimana kita mengambil makna yang baik dalam memahami tentang Allah. Sifat-sifat Allah yang ada memberikan kita pandangan supaya kitapun harus memiliki karakter sifat yang seperti itu. Mengenal Allah memang tidak mudah yang dipikirkan oleh manusia, intinya kita sudah megerti bahwa hal yang baik itu berasal dari Allah.