• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN pendidikan

N/A
N/A
Santi Suleman

Academic year: 2024

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN pendidikan"

Copied!
83
0
0

Teks penuh

(1)

A. Latar Belakang Masalah

Dalam era globalisasi, ilmu pengetahuan dan teknologi yang merupakan sumber bahan untuk dipelajari berkembang demikian cepat. Dalam kondisi demikian, tuntutan terhadap kualitas manusia terdidik, baik kemampuan intelektual, kemampuan vokasional dan rasa tanggung jawab kemasyarakatakan, kemanusiaan dan kebangsaan juga meningkat sesuai dengan perkembangan masyarakat. Heterogenitas peserta didik dalam berbagai dimensi (intelektual, kultural, dan ekonomi); terus berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai objek belajar; terus berubahnya masyarakat dengan tuntutannya, merupakan faktor yang menjadikan guru harus memiliki dan profesional.

Dewasa ini telah banyak dicapai berbagai perkembangan dalam dunia pendidikan yang bertujuan meningkatkan mutu hasil belajar peserta didik. Informasi mengenai hal itu banyak diperoleh dari berbagai literatur, buku-buku teks, majalah, jurnal, pemberitaan berbagai media massa, dan dari hasil teknologi informasi dan komunikasi, seperti komputer dengan internetnya. Setiap perkembangan atau kemajuan yang dicapai merupakan alternatif bagi guru untuk berupaya meningkatkan mutu pembelajaran yang dilaksanakan. Dari berbagai alternatif itu dapat dipilih alternatif mana yang akan digunakan. Bagi guru yang mengikuti berbagai perkembangan dan kemajuan yang dicapai dalam dunia pendidikan, mengikuti berbagai perkembangan tersebut, merupakan kebutuhan untuk meningkatkan prestasi kerja. Di samping itu, guru yang bersangkutan pun menganggap bahwa hal semacam itu merupakan tambahan pengetahuan yang dapat memperkaya wawasan. Dengan dibarengi motivasi yang tinggi serta sikap inovatif, berbagai informasi yang didapat bukan hanya memperkaya alternatif pilihan untuk melaksanakan tugas, tetapi juga dapat menjadi dasar membuat kreasi dari perpaduan berbagai alternatif, yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi lingkungan kerjanya. Ini berarti, dia pun telah memberi sumbangan yang berarti bagi dunia pendidikan dan upaya meningkatkan mutu pendidikan.

Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan Standarisasi Kompetensi Tenaga Kependidikan dengan menerapkan Standar Kompetensi bagi Tenaga Kependidikan, baik pendidik maupun tenaga kependidikan lainya. Untuk mencapai tujuan tersebut pemerintah mengeluarkan

1

(2)

Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Pendidikan Nasional.

Lingkup standar nasional pendidikan meliputi: standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan dan standar penilaian pendidikan.

Standar-standar tersebut merupakan acuan dan kriteria dalam menetapkan keberhasilan penyelenggaraan pendidikan.

Standar pendidik dan tenaga kependidikan merupakan salah satu standar yang memegang peranan penting dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah. Guru yang profesional adalah yang telah menguasai empat kompetensi utama antara lain: (1) kompetensi pedagogik (akademik); (2) kompetensi kepribadian (personal); (3) kompetensi sosial; dan (4) kompetensi profesional.

Kompetensi pedagogik adalah kemampuan guru dalam pengelolaan pembelajaran peserta didik. Kemampuan yang harus dimiliki guru adalah pemahaman tentang kependidikan, pemahaman terhadap peserta didik, mampu mengembangkan kurikulum atau silabus, mampu merancang pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, mengadakan evaluasi hasil belajar, bisa memanfaatkan teknologi, dan memahami perkembangan peserta didik. Menurut Badan Standar Nasional Pendidikan (2006:88), yang dimaksud dengan kompetensi pedagogik adalah kemampuan dalam pengelolaan peserta didik yang meliputi (a) pemahaman wawasan atau landasan kependidikan; (b) pemahaman tentang peserta didik: (c) pengembangan kurikulum/silabus; (d) perancangan pembelajaran; (e) pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis;

(f) evaluasi hasil belajar; dan (g) pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

Kompetensi kepribadian adalah guru harus memiliki kepribadian yang beriman dan bertakwa, berakhlak mulia, arif dan bijaksana, demokratis, mantap, berwibawa, stabil, dewasa, jujur, sportif, menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat, secara obyektif mengevaluasi kinerja sendiri, dan mengembangkan diri secara mandiri dan berkelanjutan.

Kompetensi sosial adalah kemampuan guru dalam berkomunikasi lisan, tulis, dan/atau isyarat secara santun, menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional, bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, pimpinan satuan pendidikan, orang tua atau wali peserta didik, bergaul

(3)

secara santun dengan masyarakat sekitar dengan mengindahkan norma serta sistem nilai yang berlaku, dan menerapkan prinsip persaudaraan sejati dan semangat kebersamaan.

Kompetensi profesional adalah kemampuan guru dalam menguasai pengetahuan bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni dan budaya yang diampunya, misalnya memahami materi pelajaran, konsep dan metode disiplin keilmuan, serta teknologi.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 41 tahun 2007 tentang Standar Proses menyatakan bahwa standar proses untuk satuan pendidikan dasar dan menengah mencakup perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran dan pengawasan proses pembelajaran.

Pembinaan kemampuan guru sebagai suatu sistem didalamnya terdapat beberapa komponen yang satu sama lainnya punya peran dan jalinan yang erat. Komponen- komponen yang terkait dalam pembinaan kemampuan guru adalah: (a) pengawas selaku pembina guru yang melakukan tugas fungsinya disertai dedikasi dan komitmen terhadap tugasnya. (b) perangkat gugus sekolah yaitu SD Inti, SD Imbas, dan KKG, (c) perencanaan program pembinaan melalui kegiatan pelatihan, diskusi, seminar, tutorial.

Pengawas sekolah merupakan salah satu tenaga kependidikan yang memegang peran yang signifikan dan strategis dalam meningkatkan profesionalisme guru dan mutu pendidikan di sekolah. Peran pengawas meliputi pemantauan, supervisi, evaluasi, pelaporan, dan tindak lanjut pengawasan yang harus dilakukan secara teratur dan berkesinambungan (PP19 Tahun 2005, pasal 55). Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang guru yang diangkat dalam jabatan pengawas satuan pendidikan melakukan tugas pembimbingan dan pelatihan profesional guru dan tugas pengawasan.

Peningkatkan mutu tenaga pendidik yang berkualitas perlu dilakukan secara terprogram, terstruktur dan berkelanjutan melalui pembinaan profesional oleh pengawas sekolah. Upaya peningkatan kemampuan guru perlu adanya wadah yang mampu menampung berbagai masalah yang dihadapi oleh guru dalam proses pembelajaran untuk dapat menemukan cara-cara pemecahan permasalahan tersebut. Surat Keputusan Dirjen Dikdasmen Nomor : 079/C/Kep. I / 93, tanggal 7 April 1993 memutuskan tentang Pedoman Pelaksanaan Sistem Pembinaan Profesional Guru melalui Pembentukan Gugus Sekolah di Sekolah Dasar, hal tersebut sebagai wujud nyata dalam upaya pemberdayaan dan meningkatkan kompetensi guru sesuai dengan harapan dan kebutuhan masyarakat.

(4)

Guru adalah pendidik profesional yang mempunyai tugas, fungsi, dan peran penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Guru yang profesional diharapkan mampu berpartisipasi dalam pembangunan nasional untuk mewujudkan insan Indonesia yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki jiwa estetis, etis, berbudi pekerti luhur, dan berkepribadian.

Tidaklah berlebihan kalau dikatakan bahwa masa depan masyarakat, bangsa, dan negara, sebagian besar ditentukan oleh guru. Oleh sebab itu, profesi guru perlu ditingkatkan dan dikembangkan secara terus menerus dan proporsional menurut jabatan fungsional guru. Selain itu, agar fungsi dan tugas yang melekat pada jabatan fungsional guru dilaksanakan sesuai dengan aturan yang berlaku.

Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 pasal 20, menyatakan bahwa guru dalam kegiatan pembelajaran diharapkan mampu mengembangkan materi pembelajaran, hal tersebut dipertegas melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas ) Nomor 41 tahun 2007 tentang Standar Proses, yang mengatur tentang perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran. Dalam perencanaan proses pembelajaran yang dimaksud adalah bahwa seorang pendidik pada satuan pendidikan dituntut mampu mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Salah satu elemen dalam RPP adalah sumber belajar. Guru diharapkan untuk mengembangkan kompetensinya dalam pembuatan bahan ajar yang merupakan salah satu sumber pembelajaran. Sumber pembelajaran berupa bahan ajar merupakan komponen yang sangat penting dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah untuk dapat mempermudah pelaksanaan proses pembelajaran.

Guru memiliki posisi yang menentukan keberhasilan dalam pembelajaran karena fungsi guru memiliki fungsi utama mulai dari merancang, mengelola dan mengevaluasi pembelajaran dalam suatu sekolah. Keberhasilan suatu proses pembelajaran diawali dengan perencanaan yang sangat matang. Perencanaan pembelajaran yang dilakukan dengan baik, ini merupakan setengah dari suatu keberhasilan sudah dapat tercapai, tinggal setengahnya lagi yang terletak pada pelaksanaan pembelajaran. Secara umum pada saat ini ada gejala atau fenomena dalam proses pembelajaran seringkali tanpa didukung dengan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang baik, pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan tanpa persiapan dari guru menjadikan proses pembelajaran yang tidak dapat diterima dan tidak menarik bahkan tidak menyenangkan

(5)

bagi siswa, kedatangan guru tidak tepat waktu, meninggalkan kelas sebelum waktunya, kegiatan penilaian yang tidak terorganisir dengan baik sehingga hasil evaluasi tidak mengatasi fenomena tersebut maka guru dituntut mampu menyusun perangkat pembelajaran yang meliputi analisis standar kompetensi, kompetensi dasar, silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Guru diharapkan menyusun sendiri perangkat pembelajaran tersebut disesuaikan dengan karakteristik siswa dan daya dukung sekolah.

Kenyataan di lapangan saat ini ditemukan berbagai masalah dalam penyelenggaraan pendidikan yang berakibat buru pada peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. Permasalah yang paling krusial adalah rendahnya kualitas proses pembelajaran yang dilakukan para guru, umumnya guru jarang membuat perencanaan pembelajaran yang dapat membangkitkan potensi siswa. Guru hanya sekedar menggugurkan kewajibannya.

Sementara itu sistem pembinaan profesional yang seharusnya dapat diberdayakan keberadaannya kini semakin jarang dimanfaatkan seperti forum Kelompok Kerja Guru (KKG). KKG sebagai salah satu wadah bagi guru yang bergabung dalam organisasi gugus sekolah bertujuan menjadikan guru lebih profesional dalam upaya peningkatan mutu pendidikan. Melalui pendekatan sistem pembinaan profesional diharapkan guru mampu merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi kegiatan pembelajaran, termasuk dalam mengembangkan kurikulum. KKG adalah wadah pembinaan profesionalisme bagi guru dalam upaya peningkatan kemampuan profesional guru khususnya dalam melaksanakan dan mengelola pembelajaran di Sekolah Dasar, yang berorientasi kepada peningkatan kualitas pengetahuan, penguasaan materi, teknik mengajar, interaksi guru dan siswa, metode mengajar, dan lain-lain yang berfokus pada penciptaan kegiatan belajar mengajar yang aktif.

Fokus pemberdayaan KKG dalam kajian ini dimaksudkan sebagai suatu kegiatan untuk membantu, melayani, mengarahkan, atau mengatur semua kegiatan di dalam mencapai tujuan. Baedhowie, (dalam PMPTK,2009: 9) menyatakan bahwa tujuan KKG adalah untuk lebih mengaktifkan komunikasi antar guru, baik yang sebidang (dalam kelompok mata pelajaran) atau dalam suatu klaster tertentu, sehingga dalam proses selanjutnya akan menjadi grup-grup dinamis (dynamic groups) yang aktif untuk berkembang dengan berbagai kegiatan inovatif.

Tujuan kegiatan KKG adalah sebagai berikut. 1) memperluas wawasan dan pengetahuan guru dalam berbagai hal, seperti penyusunan dan pengembangan silabus,

(6)

Rencana Program Pembelajaran (RPP), menyusun bahan ajar berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), membahas materi esensial yang sulit dipahami, strategi/metode/ pendekatan/media pembelajaran, sumber belajar, kriteria ketuntasan minimal, pembelajaran remedial, soal tes untuk berbagai kebutuhan, menganalisis hasil belajar, menyusun program dan pengayaan, dan membahas berbagai permasalahan serta mencari alternatif solusinya; 2) memberi kesempatan kepada guru untuk berbagi pengalaman serta saling memberikan bantuan dan umpan balik; 3) meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap serta mengadopsi pendekatan pembelajaran yang lebih inovatif bagi guru; 4) memberdayakan dan membantu guru dalam melaksanakan tugas-tugas guru di sekolah dalam rangka meningkatkan pembelajaran sesuai standar mengubah budaya kerja dan mengembangkan profesionalisme guru dalam upaya menjamin mutu pendidikan; 5) meningkatkan mutu proses pendidikan dan pembelajaran yang tercermin dari peningkatan hasil belajar peserta didik dalam rangka mewujudkan pelayanan pendidikan yang berkualitas; 6) mengembangkan kegiatan mentoring dari guru senior kepada guru junior; dan 7) meningkatkan kesadaran guru terhadap permasalahan pembelajaran di kelas yang selama ini tidak disadari dan tidak terdokumentasi dengan baik. (Depdiknas, 2009: 12).

Fungsi KKG adalah: 1) Sebagai prasana pembinaan profesinal tenaga kependidikan melalui wadah KKG dibimbing oleh pengawas sekolah, Tutor dan guru pemandu; 2) Menumbuhkan dan meningkatkan semangat kerjasama, kompetitif di kalangan anggota gugus dalam rangka peningkatan mutu pendidikan; 3) Tempat penyebaran informasi, inovasi dan pembinaan tenaga kependidikan dalam rangka peningkatan mutu pendidikan; 4) Wadah koordinasi peningkatan partisipasi orang tua siswa dan masyarakat dalam upaya ikut membantu penyelenggaraan pendidikan; 5) Tempat penyemaian jiwa persatuan dan kesatuan serta menumbuhkan rasa percaya diri guru dalam melaksanakan tugasnya. Tujuan dari KKG adalah merupakan suatu usaha membantu meningkatkan kemampuan guru secara profesional dalam melaksanakan tugasnya yaitu peningkatan mutu pembelajaran. Dengan kata lain, pengembangan berperan untuk menjembatani siklus kegiatan dalam mata rantai peningkatan mutu program pendidikan pada sekolah dasar secara berkelanjutan.

Gejala atau fenomena dalam proses pembelajaran yang tanpa didukung dengan perencanaan pembelajaran yang baik terjadi di Gugus V SD Kecamatan Cimanggis.

Mereka hanya menggunakan RPP yang diberikan dari kecamatan, melaksanakan proses

(7)

pembelajaran tidak sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang tersedia.

Melihat fenomena yang terjadi, maka dipandang perlu mengadakan penelitian tindakan sekolah tentang peningkatkan kemampuan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran yang mengacu pada Permendiknas 41 tahun 2007 melalui supervisi akademik berbasis teknologi informasi dan komunikasi di SD se-Gugus V Kecamatan Cimanggis, karena sekolah ini merupakan salah satu sekolah binaan peneliti, dan dari sebanyak 40 orang guru, peneliti melaksanakan penelitian terhadap guru. Setelah penulis melaksanakan supervisi terhadap perangkat pembelajaran, khususnya supervisi terhadap perencanaan pembelajaran, dan pelaksanaan pembelajaran, RPP belum disusun secara optimal. Kekurangan-kekurangan dalam penyusunan RPP, meliputi: 1) Penyusunan RPP belum berpedoman kepada Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007, tentang Standar Proses. 2) Sistematika penyusunan RPP, tidak lengkap (misalnya prosedur penilaian dan alat penilaian). 3) Kurang tepatnya: a. Indikator; b. Penentuan metode/media pembelajaran; c. Proses pembelajaran: kegiatan pendahuluan, kegiatan inti,dan kegiatan akhir kurang tepat. d. Keselarasan tujuan atau indikator dengan materi, metode, media, langkah kegiatan dan evaluasi kurang sesuai.

Pembinaan yang telah dilakukan selama ini belum menunjukkan hasil yang maksimal. Dari 199 orang guru SD di Gugus Melati yang telah menunjukkan kemampuan melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan Permendiknas No 47 Tahun 2007 tentang standar proses hanya 149 orang atau sekitar 80%, sisanya 20%

atau sebanyak 40 orang belum menunjukkan kinerja yang memuaskan. Karena itu, peneliti memandang perlu melakukan suatu tindakan perbaikan. Tindakan yang dilakukan adalah dengan melakukan supervisi akademik secara efektif dan efisien kepada guru-guru, khususnya untuk kemampuan melaksanakan Pembelajaran. Melalui supervisi akademik berbasis teknologi informasi dan komunikasi diharapkan guru dalam kegiatan belajar mengajar akan lebih profesional. Usaha ini merupakan suatu pembinaan guru yang dilakukan secara berkesinambungan.

Berdasarkan kelemahan-kelemahan itulah peneliti ingin meningkatkan kemampuan guru dalam melaksankan proses pembelajar, yang sesuai dengan Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007, tentang Standar Proses. Sebenarnya pembinaan oleh kepala sekolah dan pengawas telah dilakukan. Upaya pembinaan tersebut telah dilakukan di sekolah masing-masing maupun pada saat guru tersebut melakukan KKG di Gugus Sekolah Binaan Peneliti adalah Gugus V ( Melati) yang terdiri dari 11 Sekolah

(8)

yaitu SDN Palsigunung, SDN Tugu 3, SDN Tugu 4, SDN Tugu 5, SDN Tugu 8, SDN Tugu 9, SDN Tugu 10, SDN Tugu 11, SDS Karakter, SDIT Pondok Duta dan SDIT Raflesia.

Berdasarkan latar belakang di atas dan sejalan dengan visi Kota Depok

“Terwujudnya Depok Cyber City Berbasis Komunitas” Cyber City adalah istilah untuk sebuah kota yang sudah memanfaatkan teknologi informasi untuk menjalankan pemerintahannya, sekaligus menyediakan akses ke jaringan dan infrastruktur berbasis internet untuk seluruh masyarakatnya. Cyber City merupakan sebuah konsep kota masa depan yang berbasis dengan teknologi informasi tingkat lanjut. Sebuah kota dengan konsep Cyber City akan menjadi sebuah kota yang terkoneksi di seluruh bidang. Berbagai kebutuhan masyarakat kota dalam berbagai bidang, baik ekonomi, sosial, politik, pendidikan dan lain-lain tersaji dalam satu konsep yang saling berhubungan. Maka Peneliti selaku Pengawas Kota Depok memiliki peran yang sangat signifikan dalam meningkatkan profesionalisme guru dan kepala sekolah dalam melaksanakan tugas pokoknya, khususnya dalam mengawal implementasi kurikulum di sekolah. Oleh karena itu peneliti selaku pengawas sekolah yang membawahi Gugus Binaan V (Melati) Menyusun Penelitian Tindakan Sekolah yang berjudul “Meningkatkan Kemampuan Guru Dalam Melaksanakan Pembelajaran Melalui Supervisi Akademik Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di Kelompok Kerja Guru Gugus V Kecamatan Cimanggis Kota Depok”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan kondisi yang dipaparkan penulis, maka penulis selaku Pengawas Sekolah di Gugus Binaan V merumuskan masalah, yaitu “Bagaimana meningkatkan kemampuan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran melalui supervisi akademik berbasis teknologi informasi dan komunikasi di Kelompok Kerja Guru Gugus V Kecamatan Cimanggis Kota Depok”.

C. Tujuan Penelitian

Penelitian Tindakan Sekolah ini dilaksanakan dengan tujuan untuk :

1. Meningkatkan kemampuan dan keterampilan guru dalam menyusun perencanaan pembelajaran dan mengelola kegiatan proses pembelajaran.

(9)

2. Meningkatnya kemampuan Guru dalam memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam menunjang proses belajar mengajarnya di kelas.

3. Menumbuhkan persesi positif guru terhadap pelaksanaan supervisi akademik yang dilakukan oleh kepala sekolah dan pengawas sebagai layanan bantuan proses pembelajaran dalam meningkatkan mutu pendidikan.

4. Meningkatkan intensitas kegiatan Kelompok Kerja Guru sebagai wahana peningkatan kemampuan profesionalisme Guru.

D. Manfaat Penelitian

Pelaksanaan Penelitian Tindakan Sekolah ini diharapkan bermanfaat bagi : 1. Bagi Guru, meningkatkannya kemampuan guru dalam menyusun perencanaan

pembelajaran dan mengelola kegiatan proses pembelajaran

2. Bagi kepala sekolah, mampu mengembangkan kebijakan sekolah agar dapat meningkatkan kualitas dan profesionalisme guru maupun kepala sekolah sendiri.

3. Bagi Dinas Pendidikan, hendaknya menjadi salah satu referensi dalam upaya meningkatkan sistem pembinaan profesional tenaga pendidik dan kependidikan serta mampu mengambil kebijakan pendidikan yang tepat, agar proses pembelajaran yang ada di sekolah dapat berjalan dengan tepat dan lancar.

4. Bagi peneliti lain, hendaknya dapat melakukan penelitian lebih lanjut tentang efektivitas model ini, terhadap kemampuan dan keterampilan guru, melalui penerapan rancangan penelitian dan penggunaan instrumen yang lebih reliabel dan valid.

(10)

A. Deskripsi Kelompok Kerja Guru Gugus V Kecamatan Cimanggis

Gugus Melati Kecamatan Cimanggis Kota Depok terletak di Jalan Taman Duta 2. Pondok Duta terdiri dari sekolah-sekolah yang berada di kelurahan Tugu Kecamatan Cimanggis. Adapun daftar sekolah Gugus Melati sebagai berikut :

Tabel 2.1. Daftar Anggota Gugus Melati Kecamatan Cimanggis Kota Depok

No Nama Sekolah Kepala Sekolah Alamat

1 SDN Palsigunung Hj. Eutik Suwartika S.Pd. Jln Menpor, Tugu 2 SDN Tugu 3 Hj.Ade Rohimah,S.Pd Jln .H.Icang,Tugu 3 SDN Tugu 4 Hj Rustinah,S.Pd Jln .Menpor,Tugu 4 SDN Tugu 6 Roro Sumiati,S.Pd Jln. Inpres,Tugu 5 SDN Tugu 8 Endang Widiastuti.P,S.Pd Jln. Inpres,Tugu

6 SDN Tugu 9 Suyanto,S.Pd Jln. H.Icang,Tugu

7 SDN Tugu 10 Sujiah, MM Jln.Taman Duta 2 Pondok Duta

8 SDN Tugu 11 Nani Rukmini,S.Pd Jln. Inpres,Tugu

9 SDS Karakter Dian Anggraeni ,T.A,S.Pi Jln Jakarta-Bogor Km 31 No 6 10 SDIT Pondok Duta Hj Yetty Nurchaya, S.Pd. Jln.Duta Plaza No.1

11 SDIT Raflesia Ma’mun S.Ag Jln.Duta Plaza No.1

Untuk mewujudkan peran KKG dalam pengembangan profesionalisme guru, maka peningkatan kinerja kelompok kerja guru (KKG) merupakan masalah yang mendesak untuk dapat direalisasikan. Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan kinerja KKG, antara lain melalui berbagai pelatihan instruktur dan guru inti, peningkatan sarana dan prasarana, dan peningkatan mutu manajemen KKG/MGMP. Namun demikian, berbagai indikator mutu pendidikan belum menunjukkan peningkatan kinerja KKG yang berarti. Di beberapa daerah menunjukkan peningkatan kinerja KKG/MGMP yang cukup menggembirakan, namun sebagian besar lainnya masih memprihatinkan. Dalam rangka melaksanakan tugas pokok dan fungsi KKG di Gugu V telah ditetapkan visi, misi dan tujuan sebagai berikut :

1. Visi

Menjadi Pusat Pengembangan Pendidikan dan Pelatihan Guru SD Profesional yang berkualitas Global.

2. Misi

10

(11)

a. Meningkatkan peran, tugas dan fungsi PKG sebagai wahana pengembangan program pendidikan dan pelatihan.

b. Meningkatkan kompetensi guru sebagai pengembangan pendidikan yang profesional.

c. Mengembangkan kompetensi kepala sekolah dalam pengelolaan penyelenggaraan pendidikan di SD.

d. Meningkatkan kualitas pelayanan pendidikan sesuai kebutuhan SD imbas sebagai pelanggan utama

e. Meningkatkan mutu SD anggota Gugus Sekolah V yang menjadi pesaing bagi gugus sekolah lainnya.

3. Tujuan

a. Memfasilitasi peningkatan kompetensi guru, kepala sekolah dan pengawas melalui pembinaan profesional tenaga pendidik pada forum KKG, KKKS, dan KKPS

b. Sebagai wahana meningkatkan semangat kerjasama antarpersonel di gugus.

c. Wahana penyebar informasi, inovasi, dan pembinaan tenaga pendidik.

d. Meningkatnya partiisipasi masyarakat

e. Wadah penyemaian jiwa persatuan dan kesatuan serta menumbuhkan kepercayaan diri.

f. Pemberdayaan perilaku positif dan berkarakter sebagai teladan bagi peserta didik dan masyarakat.

4. Tugas Pokok dan Fungsi

a. Menumbuhkembangkan rasa kebersamaan dan kekeluargaan diantara sesama anggota gugus dalam mencapai tujuan dan mengusahakan berbagai upaya peningkatan mutu pendidikan di SD yang menjadi tanggung jawabnya.

b. Membudayakan kegiatan positif yang dapat meningkatkan mutu profesionalisme guru yang meliputi pengetahuan, keterampilan, dan wawasan yang akan memberi dampak pada peningkatan mutu proses dan hasil belajar siswa.

c. Melaksanakan kegiatan KKG, KKKS, KKPS dengan memanfaatkan sebesar- besarnya fungsi Pusat Kegiatan Guru yang berpusat di SD Inti secara berkelanjutan dan terprogram

(12)

d. Membantu memecahkan masalah, saling asah, asih dan asuh antarsekolah anggota Gugus.

e. Mencari informasi dan bahan-bahan dari berbagai sumber yang dapat dikembangkan bersama sebagai kreativitas dalam menciptakan inovasi di dlam gugus sekolah.

f. Memelihara komunikasi secara teratur antara sesama anggota gugus guna saling menyerap kiat-kiat keberhasilan pada setiap SD anggota gugus atau gugus lain.

g. Mengembangkan pola mekanisme pembinaan profesional guru yang berkelanjutan secara efektif dan efisien.

h. Memacu guru dan kepala sekolah SD untuk terus belajar meningkatkan mutu dan tanggap terhadap tugas profesi sebagai guru.

i. Mendorong pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam perencanaan dan pelaksanaan proses pembelajaran di sekolah.

B. Kajian Teori

1. Kemampuan Guru dalam Melaksanakan Pembelajaran

Guru adalah pendidik, yang menjadi tokoh, panutan, dan identifikasi bagi para peserta didik, dan lingkungannya. Oleh karena itu guru harus memiliki standar kualitas pribadi tertentu, yang mencakup tanggungjawab, wibawa, mandiri, dan disiplin. Berkaitan dengan tanggungjawab; guru harus mengetahui serta memahami nilai, norma moral, dan sosial, serta berusaha berperilaku dan berbuat sesuai dengan nilai dan norma tersebut. Guru juga harus bertanggungjawab terhadap segala tindakannya dalam pembelajarannya di sekolah, dan dalan kehiduapan masyarakat.

Menurut PP No. 74 tahun 2008, jabatan guru yang “murni guru” terdiri dari tiga jenis, yaitu guru kelas, guru bidang studi, dan guru mata pelajaran. Adapaun tugas masing-masingnya disajikan sebagai beikut; 1) Menyusun kurikulum pembelajaran pada satuan pendidikan; 2) Menyusun silabus pembelajaran; 3) Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran; 4) Melaksanakan kegiatan pembelajaran; 5) Menyusun alat ukur/soal sesuai mata pelajaran; 6) Menilai dan mengevaluasi proses dan hasil belajar pada pelajaran di kelasnya; 7) Menganalisis hasil penilaian pembelajaran; 8) Melakasanakan pembelajaran/perbaikan dan pengayaan dengan memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi; 9) Melaksanakan

(13)

bimbingan dan konseling di kelas yang menjadi tanggung jawabnya; 10) Menjadi pengawas penilaian dan evaluasi terhadap proses dan hasil belajar tingkat sekolah dan nasional; 11) Membimbing guru pemula dalam program induksi; 12) Membimbing siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler proses pembelajaran; 13) Melaksanakan pengembangan diri; 14) Melaksanakan publikasi ilmiah; 15) Membuat karya inovatif.

Kemampuan guru disebut juga kompetensi guru. Kompetensi guru merupakan seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalannya. Kompetensi guru sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan anak usia dini yang meliputi:

kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial. Dalam hal keterampilan, seorang guru harus menguasai keterampilan mengajar, yaitu:

membuka dan menutup pelajaran, bertanya, memberi penguatan, dan mengadakan variasi mengajar. Dalam proses belajar-mengajar, guru memegang peran sebagai sutradara sekaligus aktor dan merupakan faktor yang sangat dominan dalam menentukan keberhasilan proses belajar-mengajar di kelas.

Dalam hal profesional, seorang guru harus menguasai keterampilan mengajar dalam hal: membuka dan menutup pelajaran, bertanya, memberi penguatan, dan mengadakan variasi mengajar. Wijaya (1992: 25-30) menyatakan bahwa kemampuan profesional yang harus dimiliki guru dalam proses belajar mengajar adalah: (1) menguasai bahan, (2) mengelola program belajar mengajar, (3) mengelola kelas, (4) menggunakan media sumber, (5) menguasai landasan-landasan kependidikan, (6) mengelola interaksi belajar mengajar, (7) menilai prestasi peserta didik untuk kepentingan pengajaran, (8) mengenal fungsi dan program pelayanan bimbingan dan penyuluhan, (9) mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah, dan (10) memahami prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil-hasil penelitian pendidikan guna keperluan pengajaran.

Kemampuan mengajar merupakan hal esensial yang harus dimiliki oleh guru sebagai tugas profesinya. Depdiknas (2007) membagi kompetensi guru atas empat dimensi, yaitu: (1) kompetensi pedagogik, (2) kompetensi kepribadian, (3) kompetensi profesional, dan (4) kompetensi sosial. Raka Joni (1984) mengemukakan 10 macam kompetensi guru yang harus dikuasai yaitu; (1)

(14)

menguasai bahan, (2) menguasai landasan pendidikan, (3) menyusun program pembelajaran, (4) melaksanakan pembelajaran, (5) menilai proses dan hasil belajar, (6) melaksanakan program bimbingan dan penyuluhan, (7) menyelenggarakan administrasi sekolah, (8) mengembangkan kepribadian, (9) berinteraksi dengan sejawat dan masyarakat, dan (10) menyelenggarakan penelitian sederhana untuk kepentingan mengajar. Kesepuluh kompetensi ini, Sudiarto mengguguskan ke dalam tiga aspek, yaitu; (1) kemampuan merencanakan pembelajaran, (2) kemampuan melaksanakan pembelajaran, dan (3) kemampuan mengevaluasi pembelajaran.

Depdiknas mengidentifikasi kemampuan mengajar guru dalam tiga gugus yang lebih dikenal dengan alat penilaian kemampuan guru (APKG) yaitu; (1) kemampuan merencanakan pembelajaran, (2) kemampuan melaksanakan Pembelajaran, dan (3) kemampuan mengadakan hubungan antar pribadi (sosial).

Sedangkan BSNP (dalam Priatna, 2013) dikemukakan 14 kompetensi guru yaitu kemampuan: (1) menguasai karakteristik peserta didik, (2) menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik, (3) pengembangan kurikulum, (4) kegiatan pembelajaran yang mendidik, (5) pengembangan potensi peserta didik, (6) komunikasi dengan peserta didik, (7) penilaian dan evaluasi, (8) bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional. (9) menunjukkan pribadi yang dewasa dan tauladan, (10) etos kerja, tanggung jawab yang tinggi dan rasa bangga menjadi guru, (11) bersikap inklusif, bertindak obyektif, serta tidak diskriminatif, (12) komunikasi dengan sesama guru, tenaga kependidikan, orang tua peserta didik dan masyarakat, (13) penguasaan materi, struktur, konsep dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu, dan (14) mengembangkan keprofesionalan melalui tindakan yang reflektif.

Mengacu pada beberapa pendapat yang telah dikemukakan dapat disimpulkan bahwa kemampuan guru dikelompokkan ke dalam empat aspek pokok yaitu, kemampuan mendisain pelajaran, kemampuan melaksanakan proses pembelajaran, kemampuan melaksanakan evaluasi dan kemampuan melaksanakan hubungan antara pribadi guru, sesama guru, siswa, orang tua dan masyarakat.

2. Supervisi Akademik

a. Konsep Supervisi Akademik

Supervisi akademik adalah serangkaian kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses pembelajaran untuk

(15)

mencapai tujuan pembelajaran (Daresh, 1989, Glickman, et al; 2007). Supervisi akademik tidak terlepas dari penilaian kinerja guru dalam mengelola pembelajaran. Sergiovanni (1987) menegaskan bahwa refleksi praktis penilaian kinerja guru dalam supervisi akademik adalah melihat kondisi nyata kinerja guru untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan, misalnya apa yang sebenarnya terjadi di dalam kelas?, apa yang sebenarnya dilakukan oleh guru dan siswa di dalam kelas?, aktivitas-aktivitas mana dari keseluruhan aktivitas di dalam kelas itu yang bermakna bagi guru dan murid?, apa yang telah dilakukan oleh guru dalam mencapai tujuan akademik?, apa kelebihan dan kekurangan guru dan bagaimana cara mengembangkannya?. Berdasarkan jawaban terhadap pertanyaan- pertanyaan ini akan diperoleh informasi mengenai kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran. Namun satu hal yang perlu ditegaskan di sini, bahwa setelah melakukan penilaian kinerja berarti selesailah pelaksanaan supervisi akademik, melainkan harus dilanjutkan dengan tindak lanjutnya berupa pembuatan program supervisi akademik dan melaksanakannya dengan sebaik- baiknya.

Supervisi akademik adalah merupakan kegiatan terencana yang ditujukan pada aspek kualitatif sekolah dengan membantu guru melalui dukungan evaluasi pada proses belajar mengajar yang dapat meningkatkan hasil belajar (Dirjen PMPTK, 2009:5). Sehubungan dengan penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), supervisi akademik dilakukan dengan tujuan meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang sesuai dengan Permendiknas Nomor 41 tahun 2007. Penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) melalui supervisi akademik dilakukan dengan pendekatan kolaboratif, dan dilakukan melalui saling berbagi pengalaman dengan guru lain, dengan pembina gugus, dan dengan pengawas sekolah, sehingga masalah kurangnya kemampuan guru dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran dapat teratasi secara maksimal.

Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2007 tentang standar pengawas sekolah/madrasah Supervisi akademik merupakan salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh pengawas sekolah/madrasah. Untuk melaksanakan supervisi akademik secara efektif diperlukan keterampilan konseptual, interpersonal dan teknikal (Glickman 1981,

(16)

TIGA TUJUAN SUPERVISI Pengembangan Profesionalisme

Pengawasan kualitas Penumbuhan Motivasi

dalam PMPTK, 2008:12). Oleh sebab itu, setiap kepala sekolah/madrasah harus memiliki dan menguasai konsep supervisi akademik yang meliputi: pengertian, tujuan dan fungsi, prinsip-prinsip, dan dimensi-dimensi substansi supervisi akademik.

b. Tujuan dan fungsi supervisi akademik

Supervisi akademik dilakukan dengan tujuan meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun RPP yang sesuai dengan Permen Diknas No. 41 tahun 2007. Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran melalui Supervisi Akademik dilakukan dengan pendekatan kolaboratif, dan dilakukan melalui saling berbagi pengalaman dengan guru lain, dengan pembina dari pengawas sekolah. Sehingga masalah kurangnya kemampuan guru dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dapat teratasi.

Tujuan supervisi akademik adalah: 1) membantu guru mengembangkan kompetensinya, 2) mengembangkan kurikulum, 3) mengembangkan kelompok kerja guru, dan membimbing penelitian tindakan kelas (PTK) (Glickman, et al;

2007, Sergiovanni, 1987).

Gambar tiga tujuan supervisi akademik sebagaimana dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 2.1. Tiga tujuan supervisi akademik

Supervisi akademik merupakan salah satu (fungsi mendasar (essential function) dalam keseluruhan program sekolah (Weingartner, 1973; Alfonso dkk., 1981; dan Glickman, et al; 2007). Hasil supervisi akademik berfungsi sebagai sumber informasi bagi pengembangan profesionalisme guru.

c. Prinsip-prinsip supervisi akademik

1) Praktis, artinya mudah dikerjakan sesuai kondisi sekolah.

(17)

2) Sistematis, artinya dikembangan sesuai perencanaan program supervisi yang matang dan tujuan pembelajaran.

3) Objektif, artinya masukan sesuai aspek-aspek instrumen.

4) Realistis, artinya berdasarkan kenyataan sebenarnya.

5) Antisipatif, artinya mampu menghadapi masalah-masalah yang mungkin akan terjadi.

6) Konstruktif, artinya mengembangkan kreativitas dan inovasi guru dalam mengembangkan proses pembelajaran.

7) Kooperatif, artinya ada kerja sama yang baik antara supervisor dan guru dalam mengembangkan pembelajaran.

8) Kekeluargaan, artinya mempertimbangkan saling asah, asih, dan asuh dalam mengembangkan pembelajaran.

9) Demokratis, artinya supervisor tidak boleh mendominasi pelaksanaan supervisi akademik.

10) Aktif, artinya guru dan supervisor harus aktif berpartisipasi.

11) Humanis, artinya mampu menciptakan hubungan kemanusiaan yang harmonis, terbuka, jujur, ajeg, sabar, antusias, dan penuh humor

12) Berkesinambungan (supervisi akademik dilakukan secara teratur dan berkelanjutan oleh Kepala sekolah).

13) Terpadu, artinya menyatu dengan dengan program pendidikan.

14) Komprehensif, artinya memenuhi ketiga tujuan supervisi akademik di atas (Dodd, 1972).

d. Dimensi Supervisi Akademik 1) Kompetensi kepribadian.

2) Kompetensi pedagogik.

3) Kompotensi profesional.

4) Kompetensi sosial.

Supervisi akademik sama sekali bukan penilaian unjuk kerja guru.

Apalagi bila tujuan utama penilaiannya semata-mata hanya dalam arti sempit, yaitu mengkalkulasi kualitas keberadaan guru dalam memenuhi kepentingan akreditasi guru belaka. Hal ini sangat berbeda dengan konsep supervisi akademik. Secara konseptual, supervisi akademik adalah serangkaian kegiatan

(18)

membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses pembelajaran demi pencapaian tujuan pembelajaran. Supervisi akademik merupakan upaya membantu guru-guru mengembangkan kemampuannya mencapai tujuan pembelajaran. Dengan demikian, esensi supervisi akademik itu sama sekali bukan menilai kinerja guru dalam mengelola proses pembelajaran,melainkan membantu guru mengembangkan kemampuan profesionalismenya.

Meskipun demikian, supervisi akademik tidak bisa terlepas dari penilaian unjuk kerja guru dalam mengelola pembelajaran. Apabila di atas dikatakan, bahwa supervisi akademik merupakan serangkaian kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses pembelajaran, maka menilai unjuk kerja guru dalam mengelola proses pembelajaran merupakan salah satu kegiatan yang tidak bisa dihindarkan prosesnya. Penilaian kinerja guru dalam mengelola proses pembelajaran sebagai suatu proses pemberian estimasi mutu kerja guru dalam mengelola proses pembelajaran, merupakan bagian integral dari serangkaian kegiatan supervisi akademik. Agar supervisi akademik dapat membantu guru mengembangkan kemampuannya, maka untuk pelaksanaannya terlebih dahulu perlu diadakan penilaian kemampuan guru, sehingga bisa ditetapkan aspek yang perlu dikembangkan dan cara mengembangkannya.

Secara umum kegiatan supervisi dapat dibedakan dalam dua macam, yaitu: supervisi umum dan supervisi akademik. Supervisi umum dilakukan untuk seluruh kegiatan teknis administrasi sekolah, sedangkan supervisi akademik lebih diarahkan pada peningkatan kualitas pembelajaran. Berikut ini akan dibahas lebih mendalam mengenai supervisi akademik.

a. Model Supervisi Tradisional 1) Observasi Langsung

Supervisi model ini dapat dilakukan dengan observasi langsung kepada guru yang sedang mengajar melalui prosedur: pra-observasi dan post- observasi.

a) Pra-Observasi

Sebelum observasi kelas, supervisor seharusnya melakukan wawancara serta diskusi dengan guru yang akan diamati. Isi diskusi

(19)

dan wawancara tersebut mencakup kurikulum, pendekatan, metode dan strategi, media pengajaran, evaluasi dan analisis.

b) Observasi

Setelah wawancara dan diskusi mengenai apa yang akan dilaksanakan guru dalam kegiatan belajar mengajar, kemudian supervisor mengadakan observasi kelas. Observasi kelas meliputi pendahuluan (apersepsi), pengembangan, penerapan dan penutup.

c) Post-Observasi

Setelah observasi kelas selesai, sebaiknya supervisor mengadakan wawancara dan diskusi tentang: kesan guru terhadap penampilannya, identifikasi keberhasilan dan kelemahan guru, identifikasi ketrampilan-ketrampilan mengajar yang perlu ditingkatkan, gagasan- gagasan baru yang akan dilakukan.

2) Supervisi akademik dengan cara tidak langsung a) Tes dadakan

Sebaiknya soal yang digunakan pada saat diadakan sudah diketahui validitas, reliabilitas, daya beda dan tingkat kesukarannya. Soal yang diberikan sesuai dengan yang sudah dipelajari peserta didik waktu itu.

b) Diskusi kasus

Diskusi kasus berawal dari kasus-kasus yang ditemukan pada observasi Proses Pembelajaran (PBM), laporan-laporan atau hasil studi dokumentasi. Supervisor dengan guru mendiskusikan kasus demi kasus, mencari akar permasalahan dan mencari berbagai alternatif jalan keluarnya.

c) Metode angket

Angket ini berisi pokok-pokok pemikiran yang berkaitan erat dan mencerminkan penampilan, kinerja guru, kualifikasi hubungan guru dengan siswanya dan sebagainya.

b. Model Kontemporer (masa kini)

Supervisi akademik model kontemporer dilaksanakan dengan pendekatan klinis, sehingga sering disebut juga sebagai model supervisi klinis. Supervisi akademik dengan pendekatan klinis, merupakan supervisi akademik yang

(20)

bersifat kolaboratif. Prosedur supervisi klinis sama dengan supervisi akademik langsung, yaitu: dengan observasi kelas, namun pendekatannya berbeda.

3. Teknologi Informasi dan Komunikasi

Perkembangan teknologi terutama teknologi komunikasi dan teknologi informasi (ICT), yang telah memperngaruhi sluruh aspek kehidupan tak terkeculai pendidikan, sesungguhnya bias dimanfaatkan untuk memberikan dukungan terhadap adanya tuntutan reformasi dalam system pendidikan. Pengembangan dan pemanfaatan media pembelajaran berbasik TI baik yang bersifat off-line maupun on-line, bisa dimanfaatkan sebagai bahan masukan bagi pihak-pihak yang berminat.

Teknologi informasi dan Komunikasi (TIK), dalam jangka waktu yang relatif singkat, berkembang dengan sangat pesat. Pengguna Internet di Indonesia dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Berdasarkan data perkiraan APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) sampai dengan akhir tahun 2005 pengguna internet indonesia mencapai 16 juta pengguna, naik hampir 50 % dibandingkan dengan data pengguna internet tahun 2004 yang mencapai 11 juta pengguna (www.wahanakom.com).

Dalam kebijakan nasional, TIK menjadi kunci dalam 2 hal yaitu (1) effisiensi proses, dan (2) memenangkan kompetisi. Demikian juga dengan lembaga pendidikan (sekolah). Tanggung jawab sekolah dalam memasuki era globalisasi yaitu harus menyiapkan siswa untuk menghadapi semua tantangan yang berubah sangat cepat dalam masyarakat kita. Hal ini menyebabkan sekolah dituntut untuk mampu menghasilkan SDM-SDM unggul yang mampu bersaing dalam kompetisi global ini. Peningkatan kualitas dan kemampuan siswa dapat dilakukan dengan mudah, yakni dengan memanfaatkan internet sebagai lahan untuk mengakses ilmu pengetahuan seluas-luasnya. Upaya ini dapat dilakukan dengan memasukkan TIK sebagai pendekatan dalam proses pembelajaran pada Lembaga Pendidikan (Sekolah).

a. Pengertian Teknologi Informasi dan Komunikasi

Teknologi Informasi dan Komunikasi, adalah payung besar terminologi yang mencakup seluruh peralatan teknis untuk memproses dan menyampaikan informasi.

(21)

TIK mencakup dua aspek yaitu teknologi informasi dan teknologi komunikasi.

Teknologi informasi meliputi segala hal yang berkaitan dengan proses, penggunaan sebagai alat bantu, manipulasi, dan pengelolaan informasi. Sedangkan teknologi komunikasi adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan penggunaan alat bantu untuk memproses dan mentransfer data dari perangkat yang satu ke lainnya. Oleh karena itu, teknologi informasi dan teknologi komunikasi adalah dua buah konsep yang tidak terpisahkan.

Istilah “Teknologi Informasi dan Komunikasi‟ tidak dapat dipisahkan dari konsep yang membangunnya, yakni konsep “Teknologi Informasi‟ dan “Teknologi Komunikasi‟.

Istilah teknologi informasi juga disebutkan di dalam WordNet Glossary Universitas Princeton sebagai suatu cabang ilmu teknik yang khusus berhubungan dengan teknik-teknik pemanfaatan komputer dan perangkat telekomunikasi guna menerima, menyimpan dan meneruskan suatu informasi.

Istilah “teknologi komunikasi‟, lebih merujuk kepada proses pentransmisian/penyebaran informasi yang telah diolah. Munir (2008: 14) mengemukakan bahwa teknologi komunikasi adalah perangkat-perangkat teknologi yang terdiri dari hardware, software, proses dan sistem, yang digunakan untuk membantu proses komunikasi, yang bertujuan agar komunikasi berhasil (komunikatif).

Teknologi informasi bisa didefinisikan sebagai pemanfaatan teknologi guna keperluan pengolahan informasi. Hal ini senada dengan definisi yang dicantumkan Dictionary of Information Technology yang menyebutkan bahwa teknologi informasi merupakan, “the acquisition, processing, storage and dissemination of vocal, pictorial, textual and numerical information by a microelectronics-based combination of computing and telecommunications ...” (Longley & Shain 2012:

164).

Berdasarkan penjabaran dari istilah „teknologi informasi‟ dan „teknologi komunikasi‟ di atas maka dapat dilihat sebuah diferensiasi dari kedua istilah tersebut. Teknologi informasi lebih menekankan pada aspek pengolahan informasi agar menjadi efektif dan komunikatif Sedangkan istilah teknologi komunikasi lebih menitikberatkan pada segi pentransmisian/penyebaran dari informasi yang telah diolah tersebut.

(22)

Jadi Teknologi Informasi dan Komunikasi mengandung pengertian luas yaitu segala kegiatan yang terkait dengan pemrosesan, manipulasi, pengelolaan, pemindahan informasi antar media.Istilah TIK muncul setelah adanya perpaduan antara teknologi komputer (baik perangkat keras maupun perangkat lunak) dengan teknologi komunikasi pada pertengahan abad ke-20. Perpaduan kedua teknologi tersebut berkembang pesat melampaui bidang teknologi lainnya. Hingga awal abad ke-21, TIK masih terus mengalami berbagai perubahan dan belum terlihat titik jenuhnya.

Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa Teknologi Informasi dan Komunikasi adalah suatu kegiatan pengolahan dan penyebaran informasi dengan menggunakan teknologi komputasi elektronik agar menjadi suatu informasi yang efektif dan komunikatif guna disampaikan/ditransmisikan kepada pihak-pihak yang membutuhkannya.

b. Penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Pembelajaran Perkembangan teknologi yang berlangsung dengan sangat pesat dimulai dari pertengahan abad ke-20 hingga saat ini (awal abad ke-21) telah menyebabkan hampir seluruh aspek dalam kehidupan manusia telah mendapatkan sentuhan teknologi. Teknologi pada dasarnya memang diciptakan untuk mempermudah hidup manusia, sehingga manusia bisa menyelesaikan pekerjaan-pekerjaannya dengan lebih cepat, efektif, efisien dan juga optimal.

Dunia pendidikan tidak terlepas dari mendapatkan pengaruh yang besar dari terjadinya perkembangan teknologi yang sangat pesat itu. Dimulai dari awal abad ke-20, telah banyak dikembangkan aplikasi-aplikasi teknologi informasi dan komunikasi yang bertujuan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi kegiatan pembelajaran guna mendapatkan hasil pendidikan yang optimal yang akan berimbas kepada peningkatan taraf hidup dan kemajuan umat manusia di seluruh dunia.

Di masa-masa awal pemanfaatan TIK untuk kegiatan pembelajaran, teknologi media yang sedang berkembang pada saat itu sering dimanfaatkan sebagai media penyampaian informasi pembelajaran. Media televisi dan radio memegang peranan penting dalam hal pemanfaatan teknologi untuk penyebarluasan materi pembelajaran selama abad ke-20. Radio telah dimanfaatkan untuk mengantarkan informasi pembelajaran ke tempat-tempat terpencil seperti pelosok desa atau kota

(23)

yang jauh dari pusat pemerintahan, sedangkan televisi digunakan untuk menyampaikan informasi pembelajaran ke seluruh penjuru dunia.

Menjelang akhir abad ke-20 di mana teknologi komputer dan jaringan komputer mulai berkembang, peranan televisi dan radio sebagai aplikasi teknologi penyampaian materi pembelajaran mulai tergeser dengan hadirnya teknologi internet dan aplikasi-aplikasi pembelajaran elektronik. Akan tetapi sesuai dengan hakikat perkembangan teknologi di mana kehadiran teknologi baru tidak bertujuan untuk menggantikan fungsi teknologi yang telah ada sebelumnya, pemanfaatan teknologi komputer dan internet pun bertujuan untuk menambah media-media yang bisa digunakan untuk menyampaikan materi pembelajaran. Tren yang berkembang saat ini, seluruh teknologi informasi dan komunikasi yang ada digunakan secara beriringan sesuai dengan fungsi dan keunggulannya untuk menyampaikan materi- materi pembelajaran yang sesuai.

TIK sebagai sebuah alat bantu dalam kegiatan pembelajaran bila didesain dan diintegrasikan dengan baik bisa membantu meningkatkan penyerapan pengetahuan, keterampilan dan sikap hidup peserta didik. Dengan pengintegrasian TIK, sebuah kegiatan pembelajaran tidak lagi hanya akan berpusat kepada pengajar sebagai pusat pengetahuan, akan tetapi akan lebih berpusat kepada peserta didik (student- centered) sebagai pihak yang benar-benar memiliki kendali atas kegiatan pembelajaran yang dilakukannya. Cynthia (2009: 6) mengemukakan bahwa setidaknya ada lima kondisi efektif pembelajaran yang bisa dicapai melalui pemanfaatan TIK sebagai berikut:

1) Pembelajaran Aktif; Dengan pemanfaatan TIK, suasana pembelajaran tidak akan lagi menjadi abstrak, melainkan lebih nyata dan relevan dengan kebutuhan belajar peserta didik. Keterlibatan peserta didik akan meningkat, dan peserta didik akan dengan lebih mudah memilih materi pelajaran yang dibutuhkannya.

2) Pembelajaran Kolaboratif; TIK memungkinkan peserta didik untuk belajar secara kolaboratif, baik dengan sesama peserta didik, dengan pengajar, maupun narasumber yang berhubungan dengan topik yang sedang mereka pelajari. TIK telah memudahkan peserta didik untuk saling berkomunikasi dan berbagi informasi dengan beragam format kapanpun dan di manapun mereka sedang berada.

(24)

3) Pembelajaran Kreatif; TIK telah memungkinkan peserta didik untuk menghasilkan produk yang unik dan menarik, karena TIK memiliki kemampuan untuk menggabungkan berbagai format sajian ke dalam satu kesatuan, seperti materi multimedia, flm, website dll.

4) Pembelajaran Integratif; Penggunaan TIK telah memungkinkan peserta didik untuk lebih mudah menggabungkan berbagai informasi dari ragam disiplin ilmu ke dalam satu kesatuan informasi. Dengan informasi yang lebih mudah didapat, peserta didik akan memiliki pemahaman yang lebih komprehensif mengenai topik yang sedang mereka bahas.

5) Pembelajaran Evaluatif; TIK memungkinkan peserta didik untuk mengevaluasi sendiri kegiatan pembelajaran mereka. Dengan menggunakan aplikasi tertentu, peserta didik mampu mengukur sejauh mana pemahaman mereka terhadap sebuah materi pembelajaran dan mengidentifikasi kelemahan-kelemahan mereka agar bisa lebih menyempurnakan pemahamannya.

Selain berguna untuk membuat suatu kegiatan pembelajaran menjadi lebih berpusat kepada siswa (student centered), lebih lanjut Haddad & Jurich (2002: 29) mengemukakan hasil risetnya mengenai pemanfaatan TIK dalam pendidikan di beberapa negara berkembang. Dalam hasil risetnya tersebut mereka mengatakan bahwa bila dimanfaatkan dengan baik dan tepat guna, maka TIK memiliki potensi untuk memperluas akses pendidikan (expanding access), meningkatkan efisiensi (promoting efficiency), memperbaiki kualitas belajar dan meningkatkan kualitas pengajaran (improving the quality of learning and enhancing the quality of teaching), serta memperbaiki sistem pengelolaan dan administrasi pendidikan (improving management system).

c. Pemanfaatan Teknologi Informasi di Gugus Sekolah

Berdasarkan pemaparan-pemaparan di atas, terlihat jelas bahwa kebutuhan pemanfaatan TIK di dalam dunia pendidikan adalah mutlak untuk diadakan guna kepentingan peningkatan kualitas pembelajaran. Abdulhak (2010: 4) mengemukakan bahwa secara garis besar TIK memiliki empat peranan sebagai berikut:

1) Memperluas akses pendidikan

TIK dapat membuka akses yang lebih luas terhadap pendidikan. Dengan TIK, kegiatan pembelajaran tidak terbatas lagi pada dinding-dinding ruang kelas, akan tetapi dapat berlangsung di mana saja dan kapan saja asal peserta didik yang

(25)

bersangkutan terhubung ke internet. Contohnya, aplikasi TIK seperti distance education (pendidikan jarak jauh) telah memberi kesempatan kepada mereka yang misalnya waktunya terbatas karena pekerjaan menjadi tetap bisa mengikuti pendidikan dengan bantuan teknologi.

2) Meningkatkan efisiensi pendidikan

Efisiensi dalam bidang pendidikan berarti sebuah pendidikan bisa tersampaikan dengan kualitas terbaik dan menuju hasil yang optimal tanpa biaya yang mahal. Pemanfaatan TIK memungkinkan hal itu terjadi. Melalui pemanfaatan TIK, peserta didik dapat melakukan kegiatan akademik sesuai dengan tuntutan kurikulum walaupun mereka tidak menghabiskan waktunya di kelas. Selain itu bagi siswa yang memiliki disiplin diri dan motivasi belajar yang tinggi, pemanfaatan TIK dapat mempercepat proses untuk mencapai tingkat penguasaan, dan memperluas pilihan belajar sesuai dengan kemampuan dan kondisi diri peserta didik melalui kegiatan belajar mandiri (self learning) (Abdulhak 2010: 4).

3) Memperbaiki proses belajar mengajar

TIK dengan segala potensi dan kemampuannya dalam menyajikan materi yang variatif dalam berbagai format mampu mengantarkan proses belajar mengajar yang lebih baik guna memberikan hasil belajar yang lebih optimal pada diri peserta didik. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa bila dibandingkan dengan mengikuti pembelajaran konvensional tatap muka dan ceramah yang monoton di dalam kelas, peserta didik akan lebih memiliki ketertarikan untuk belajar melalui penggunaan media yang bisa mengantarkan beragam format seperti gambar, suara, video, animasi, atau program interaktif. Selain itu Haddad & Jurich dalam Abdulhak (2010: 5) juga mengemukakan bahwa,

“... TIK memiliki potensi untuk meningkatkan kualitas pendidikan melalui peningkatan motivasi, memfasilitasi penguasaan keterampilan dasar, membantu meningkatkan inkuiri dan eksplorasi, serta menyiapkan individu untuk dunia yang dikendalikan oleh teknologi.”

Dalam pemanfaatannya, TIK diharapkan bisa menghasilkan suatu kegiatan pembelajaran efektif yang dapat mendorong keingintahuan intelektual siswa dan yang menyenangkan sehingga mendorong siswa untuk berperan aktif dalam proses pembentukan pengetahuannya.

4) Memperbaiki Sistem Pengelolaan

(26)

Dalam hal manajemen dan administrasi pendidikan, TIK dapat dipergunakan untuk membantu mengelola dan mengolah data-data pendidikan dan pembelajaran, seperti keadaan peserta didik dan pengajar, hasil penilaian peserta didik, keuangan, keadaan sarana dan prasarana suatu lembaga pendidikan dll. Hal ini dilakukan demi menghasilkan suatu lembaga pendidikan dan kegiatan pembelajaran yang berkualitas yang mampu menyediakan data pendidikan yang akurat, mudah dipergunakan, serta dapat diperoleh dengan tepat waktu.

Selain empat peranan TIK dalam pendidikan seperti yang telah disebutkan di atas, TIK juga memiliki peranan-peranan lain yang lebih spesifik dalam dunia pendidikan. Peranan tersebut lebih terkait kepada kegiatan pembelajaran sebagai kegiatan sentral dalam sebuah sistem pendidikan. Berikut adalah enam peranan TIK tersebut seperti yang dikemukakan oleh Munir (2010: 185) :

a) TIK sebagai keterampilan (skill) dan kompetensi

Setiap pihak yang terlibat dalam suatu kegiatan pendidikan, baik itu peserta didik, pengajar, administrator maupun para pengambil kebijakan pendidikan, harus memiliki kompetensi dan keahlian di bidang teknologi informasi dan komunikasi, khususnya aplikasi TIK yang spesifik diperuntukkan bagi pendidikan. Hal ini dikarenakan TIK saat ini sudah menjadi suatu bidang ilmu yang sudah menyentuh hampir semua aspek kehidupan dan wajib dikuasai oleh siapapun. Penguasaan TIK oleh setiap pihak pemangku kepentingan di bidang pendidikan akan melahirkan satu visi dan pandangan yang sama mengenai apa dan bagaiman TIK dimanfaatkan guna menghasilkan suatu kegiatan pembelajaran yang efektif.

b) TIK sebagai infrastruktur pembelajaran

Penggunaan TIK sebagai salah satu komponen pembelajaran akan meningkatkan kualitas pembelajaran itu sendiri. Pembelajaran jadi bisa dilaksanakan di mana saja dan kapan saja, serta tidak terkendala lagi oleh keadaan di mana peserta didik, pengajar dan bahan ajar terpisah secara geografis.

c) TIK sebagai sumber bahan belajar

Pemanfaatan TIK sebagai suatu sumber bahan belajar akan menjamin tersedianya materi-materi pembelajaran yang selalu terperbaharui dan selalu tersedia untuk diakses setiap saat. Selain itu materi-materi pembelajaran pun akan lebih mudah untuk diperbaharui menyesuaikan dengan cepatnya perkembangan ilmu pengetahuan yang terjadi.

(27)

d) TIK sebagai alat bantu dan fasilitas pembelajaran

Melalui pemanfaatan TIK sebagai alat bantu dan fasilitas pembelajaran, suatu materi pembelajaran akan tersampaikan dengan lebih baik dengan mempertimbangkan konteks dunia nyatanya. Ilustrasi berbagai fenomena ilmu pengetahuan akan tersampaikan dengan lebih riil sehingga penyerapan bahan ajar pun terjadi dengan lebih cepat. Melalui pemanfaatan TIK juga interaksi antar peserta didik akan lebih tinggi sehingga akuisisi ilmu pengetahuan di antara mereka akan berlangsung dengan lebih baik, baik secara kualitas maupun kuantitas. Selain itu, peserta didik akan menjadi mampu melakukan eksplorasi terhadap pengetahuannya secara lebih bebas dan mandiri.

e) TIK sebagai pendukung manajemen pembelajaran

Pemanfaatan TIK dalam mendukung manajemen pembelajaran dapat dipergunakan untuk membantu mengelola dan mengolah data-data pendidikan dan pembelajaran sehingga menghasilkan suatu lembaga pendidikan yang berkualitas yang mampu menyediakan data pendidikan yang akurat, mudah dipergunakan, serta dapat diperoleh dengan tepat waktu. Hal ini sesuai dengan salah satu visi UNESCO mengenai pemanfaatan TIK dalam pendidikan yang menyebutkan bahwa TIK dapat menciptakan suatu administrasi, pengaturan kebijakan, dan manajemen pendidikan yang lebih efisien (more efficient education management, governance and administration).

f) TIK sebagai sistem pendukung keputusan.

Ketersediaan data-data pendidikan yang akurat dapat digunakan oleh para pembuat keputusan dan pemegang kewenangan untuk membuat keputusan yang tepat bagi sistem pendidikan yang berlangsung. Sistem kerja TIK yang membuat suatu data bisa selalu diperbaharui dan tersedia setiap saat akan memberikan jaminan terhadap ketersediaan data-data yang valid dan reliabel guna terciptanya keputusan dan kebijakan yang menguntungkan suatu pihak.

Satu hal yang jelas dari kegiatan pemanfaatan TIK dalam pendidikan, bahwa TIK kini memegang peranan yang penting dalam penyelenggaraan suatu sistem pendidikan guna menjamin terciptanya pendidikan yang berkualitas, perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan umat manusia.

(28)

A. Subjek, Lokasi, dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian adalah di Gugus Binaan V (Gugus Melati) Kecamatan Cimanggis Kota Depok yang beralamat di jalan Taman Duta II Kelurahan Tugu Kecamatan Cimanggis Kota Depok. Adapun waktu penelitian dilaksanakan selama enam bulan) pada Semester I Tahun Pelajaran 2013/2014.

B. Jenis dan Prosedur Penelitian 1. Jenis Penelitian

Adapun penelitian yang akan diterapkan adalah Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) adalah jenis penelitian yang dilakukan oleh kepala sekolah dan pengawas sekolah. Seperti yang dikemukakan Mulyasa bahawa Penelitian Tindakan Sekolah merupakan upaya peningkatan kinerja sistem pendidikan dan meningkatkan menejemen sekolah agar menjadi produktif, efektif dan efisien. jenis penelitian ini perlu diperkenalkan kepada kepala sekolah dan pengawas sekolah nelalui pendidikan dan pelatihan (diklat) PTS. Dalam pelaksanaan diklat PTS, diharapkan kepala sekolah dan pengawas sekolah dapat (1) memahami PTS sebagai bagian dari penelitian ilmiah, (2) memahami makna PTS, (3) memahami penyusunan usulan PTS, (4) melaksanakan dan melaporkan hasil PTS yang dilakukannya.

Menurut Direktorat Tendik (2008) Langkah – Langkah PTS terdiri atas empat tahap, yaitu planning (Rencana), action (tindakan), observasi (pengamatan) dan reflection (refleksi). Siklus spiral dari tahap-tahap PTS dapat dilihat pada gambar berikut:

1. Rangangan/rencana awal, sebelum mengadakan penelitian peneliti menyusun rumusan masalah, tujuan dan membuat rencana tindakan, termasuk di dalamnya instrument penelitian dan perangkat pembelajaran.

2. Tindakan dilakukan setelah rancangan disusun. Tindakan merupakan bagian yang akan dilakukan dalam Penelitian Tindakan Sekolah dalam penelitian.

3. Pengamatan dilakukan waktu guru dibombing menggunakan komputer. Data yang dikumpulkan dapat berupa data pengelolaan sekolah/madrasah. Instrumen yang umum dipakai adalah lembar observasi,dan cacatan lapangan yang dipakai untuk memperoleh data secara objektif yang tidak dapat terekam melalui lembar observasi,

28

(29)

Perencanaan

Pelaksanaan Pengamatan

Refleksi

Perencanaan

Pelaksanaan Pengamatan

Refleksi

misalnya aktivitas siswa selama pemberian tindakan berlangsung, reaksi mereka, atau pentunjuk-petunjuk lain yang dapat dipakai sebagai bahan dalam analisis dan untuk keperluan refleksi.

4. Refleksi, peneliti mengkaji melihat dan mempertimbangkan hasil atau dampak dari tindakan yang dilakukan berdasarkan lembar pengamatan yang diisi oleh pengamat

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Moleong (2006: 8- 13) menyatakan bahwa ciri-ciri penelitian kualitatif adalah sebagai berikut: (1) peneliti bertindak sebagai instrumen utama, karena disamping sebagai pengumpul data dan menganalisis data peneliti juga terlibat langsung dalam proses penelitian, (2) mempunyai latar alami (natural setting), data yang diteliti dan dihasilkan akan dipaparkan sesuai dengan yang terjadi dilapangan, (3) hasil penelitian bersifat diskriptif, karena data yang dikumpulkan bukan berupa angka- angka melainkan berupa kata-kata atau kalimat, (4) lebih mementingkan proses dari pada hasil, (5) adanya batas permasalahan yang ditentukan dalam fokus penelitian, dan (6) analisis data cenderung bersifat induktif.

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan model siklus yang dikembangkan oleh Kemmis dan Mc Taggart (dalam Ritawati, 2008:69). Proses penelitian merupak proses daur ulang atau siklus yang dimulai aspek , mengembangkan perencanaan, melakukan observasi terhadap tindakan dan melakukan refleksi terhadap perencanaan kegiatan tindakan dan kesuksesan hasil yang diperoleh. Pada setiap akhir tindakan dinilai dengan instrument bimbingan setelah belajar. Alur Penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar 3.1. Langkah PTS (Direktorat Tendik (2008)

(30)

2. Prosedur Penelitian Tindakan a. Perencanaan

Tahap perencanaan ini berupa rencana kegiatan menentukan langkah-langkah yang akan dilakukan peneliti untuk memecahkan masalah. Langkah ini merupakan upaya memperbaiki kekurangan guru dalam menggunakan komputer kegiatan yang akan dilakukan adalah (1) menyusun jadwal bimbingan belajar, (2) membuat dan meyiapkan instrumen penelitian berupa lembar observasi memperoleh data nontes, (3) menyiapkan refleksi dan perbaikan guru dalam mengajar.

b. Tindakan

Tindakan adalah aktivitas yang dirancang dengan sistematis untuk menghasilkan adanya peningkatan atau perbaikan dalam proses pembelajaran, sehingga proses pembelajaran di lakukan guru lebih maksimal dan baik sehingga pembelajaran

Dengan adanya bimbingan belajar TIK guru bisa meningkatkan kemampuannya dalam mengajar dan menguasai knmpetensi – kompetensi guru secara keseluruhan. Dengan hal ini guru akan mudah dalam mengerjakan admistrasi yang menyakut dengan tugas pokoknya

c. Observasi

Observasi adalah mengamati hasil atau dampak dari tindakan-tindakan yang dilakukan guru dalam bimbingan belajar TIK. Observasi dilaksanakan peneliti selama kegiatan berlangsung. Observasi meliputi observasi guru menngunakan komputer.

d. Refleksi

Refleksi adalah mengkaji, melihat, dan mempertimbangkan hasil atau dampak dari tindakan. Berdasarkan hasil refleksi ini, peneliti dapat melakukan revisi terhadap rencana selanjutnya atau terhadap rencana awal siklus II.

Pada tahap ini, peneliti menganalisis hasil kemampuan guru dalam mengajar siklus I. Jika kemampuan tersebut belum memenuhi nilai target yang telah ditentukan, akan dilakukan tindakan siklus II dan masalah-masalah yang timbul pada siklus I akan dicarikan alternatif pemecahannnya pada siklus II.

(31)

3. Pelaksanaan Tindakan

Penelitian ini dilakukan dengan metode penelitian tindakan yang berlangsung selama 3 siklus. Masing-masing siklus terdiri dari tahapan perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Metode penelitian yang dilakukan peneliti adalah dengan melaksanakan supervise akademik yang meliputi supervise tradisional dan supervise model kontemporer dilaksanakan dengan pendekatan klinis yang secara rinci dapat diuraikan sebagai berikut:

a. Perencanaan Awal

Langkah awal yang direncanakan pada penilitian tindakan sekolah ini terdiri dari beberapa kegiatan, yakni:

1) Identifikasi Masalah Kemampuan Awal 2) Pengajuan Proposal

3) Melakukan Sosialisasi rencana penelitian tindakan sekolah di Kelompok Kerja Guru Gugus Binaan V Kecamatan Cimanggis.

4) Mempersiapkan instrument b. Siklus I

1) Perencanaan

Pada tahap ini, peneliti menggunakan model supervisi tradisional dengan merencanakan langkah-langkah sebagai berikut:

a) Pada tahap perencanaan, tindakan pertama yang dilaksanakan adalah menyiapkan percakapan awal (preconference) tentang kendala yang dihadapi guru dalam menyusun RPP dan dalam melaksanakan proses pembelajaran. Hal ini dilakukan dengan cara menanyakan bagian penyusunan RPP yang belum mereka pahami, mengacu kepada Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses.

b) Mengidentifikasi jumlah guru yang sudah membuat silabus dan RPP pada pertemuan KKG.

c) Meminta guru untuk mengumpulkan perangkat pembelajaran d) Peneliti memeriksa administrasi guru secara kuantitas dan kualitatif e) Peneliti mengidentifikasi permasalahan yang ditemukan.

f) Menyusun rencana tindakan (berupa penjadwalan supervisi individual atau kelompok disesuaikan dengan temuan pada identifikasi masalah).

(32)

2) Pelaksanaan

Pada tahap ini peneliti melaksanakan rencana tindakan supervisi individual/kelompok untuk menilai pelaksanaan proses pembelajaran yang dilaksanakan guru. Pelaksanaan supervisi ini termasuk dalam kegiatan Pra Observasi yang dilakukan dengan pertemuan individual office-conference. Hal ini dilakukan terutama kepada guru yang tidak mengumpulkan perangkat pembelajaran, untuk mengetahui penyebab/masalahnya.

Pada tahap Pelaksanaan ini dilaksanakan pra observasi, melakukan analisis dan menetapkan strategi tentang cara mengatasi kendala yang dihadapi guru utamanya dalam penyusunan RPP. Supervisor dan guru-guru melakukan analisis dokumen RPP mereka dengan menggunakan Alat Penilaian Keterampilan Guru (APKG 1). Peneliti menilai RPP dengan menggunakan Alat Penilaian Keterampilan Guru (APKG 1). Guru mencatat bagian-bagian / komponen RPP yang tidak sesuai dengan Alat Penilaian Keterampilan Guru (APKG 1). Guru mencermati butir-butir APKG 1, selanjutnya melaksanakan diskusi menyusun RPP yang mengacu kepada APKG 1 dan Standar Proses untuk menentukan cara untuk mengatasi permasalahan tersebut. Peran supervisor membimbing keproses pemecahan masalah. Tahap ini peneliti rencanakan berlangsung selama 2 minggu.

Tahap berikutnya peneliti membuat kesepakatan dengan guru agar bersedia diobservasi dalam melaksanakan proses pelaksanaan pembelajaran di kelas sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang telah dirancangnya.

3) Observasi

Pada tahap ini peneliti melakukan kegiatan observasi kelas kepada para guru dalam kegiatan pembelajaran yang dilakukan di kelas masing-masing. Observasi dilakukan terhadap seluruh kejadian yang terjadi selama tahap pelaksanaan dan mengobservasi hasil awal yang dicapai pada pelaksanaan tindakan siklus 1. Selain itu peneliti juga mengidentifikasi masalah-masalah lanjutan yang timbul dari pelaksanaan tindakan di siklus 1. Adapun Instrumen yang digunakan adalah Instrumen Supervisi Akademik

4) Refleksi

Pada tahap refleksi, peneliti melakukan evaluasi terhadap tindakan dan data- data yang diperoleh. Kegiatan ini juga merupakan pelaksanaan supervisi akademik fase Post Observasi. Pada tahap ini supervisor mengadakan wawancara dan diskusi

(33)

tentang kesan guru terhadap penampilannya, identifikasi keberhasilan dan kelemahan guru, serta mengidentifikasi keterampilan-keterampilan mengajar yang perlu ditingkatkan, gagasan-gagasan baru yang akan dilakukan. Kemudian dilanjutkan dengan pertemuan bersama melalui kegiatan kelompok kerja guru untuk membahas hasil evaluasi dan penyusunan langkah-langkah untuk siklus kedua.

c. Siklus II

1) Perencanaan

Pada tahap ini, peneliti menggunakan model supervisi kontermporer.

Tindakan pertama yang dilaksanakan pertemuan KKG adalah menyiapkan percakapa

Gambar

Tabel 2.1. Daftar Anggota Gugus Melati Kecamatan Cimanggis Kota Depok
Gambar tiga tujuan supervisi akademik sebagaimana dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Gambar 3.1. Langkah PTS (Direktorat Tendik (2008)
Tabel 3.1. Pedoman Konversi Skala Lima No Persentase (%) Kriteria Kriteria
+7

Referensi

Dokumen terkait

Kegiatan yang dilakukan selama PPL antara lain: Menyusun Rencana Pembelajaran (RPP), Menyusun materi ajar, Membuat media pembelajaran, menyusun dan mengembangkan alat

2.2 Berkomunikasi secara lisan dan tulisan 2.2.2 Memanfaatkan berbagai peralatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) 3.1.1 Menyusun rencana pengembangan laboratorium

Pembinaan SMA dengan menempatkan TIK sebagai salah satu ikon utama pembinaan SMA yang salah satunya diwujudkan dalam program pengelolaan bahan ajar berbasis TIK melalui Pusat

Rencana pelaksanaan pembelajaraan (RPP) yang disusun oleh guru adalah rencana untuk melaksanakan pembelajaran yang akan mengukur hasil belajar siswa dengan

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang digunakan pada penelitian ini adalah rencana untuk melaksanakan pembelajaran yang akan mengukur meningkatnya keaktifan

Perencanaan pembelajaran pada siklus I mata pelajaran matematika materi volume tabung melalui pendekatan open-ended adalah: menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP),

Kegiatan perencanaan tersebut yaitu mendiskusikan pokok permasalahan dalam penelitian bersama guru mata pelajaran TIK, menyusun rencana pembelajaran (RPP),

Ada dua pendekatan langkah penusunan rencana pelaksanaan pembelajaran yang berbasis TIK (RPP baTIK), yaitu pendekatan idealis dan pendekatan pragmatis. Dalam