• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN SISTEM IMUNITAS

N/A
N/A
Abi Aisyah

Academic year: 2023

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN SISTEM IMUNITAS"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Salah satu sistem terpenting yang terus menerus melakukan tugas dan kegiatan dan tidak pernah melalaikan tugas-nya adalah sistem kekebalan tubuh atau biasa kita sebut dengan sistem imun. Sistem ini melindungi tubuh sepanjang waktu dari semua jenis penyerang yang berpotensi menimbulkan penyakit pada tubuh kita. Ia bekerja bagi tubuh bagaikan pasukan tempur yang mempunyai persenjataan lengkap. Setiap sistem, organ, atau kelompok sel di dalam tubuh mewakili keseluruhan di dalam suatu pembagian kerja yang sempurna. Setiap kegagalan dalam sistem akan menghancurkan tatanan ini. Sistem imun sangat diperlukan bagi tubuh kita.

System imun diperlukan sebagai pertahanan tubuh terhadap infeksi. Berbagai komponen system imun bekerja sama dalam sebuah respon imun. Apabila seseorang secara imunologis terpapar pertama kali dengan antigen kemudian terpapar lagi dengan antigen yang sama, maka akan timbul respon imun sekunder yang lebih efektif. Reaksi tersebut dapat berlebihan dan menjurus ke kerusakan individu mempunyai respon imun yang menyimpang. Kelainan yang disebabkan oleh respon imun tersebut disebut hipersensitivitas.

Oleh karena itu, untuk dapat lebih memahami tentang sistem imun ini dan berbagai komponen penyusun yang ada di dalamnya, maka kami membuat makalah ini, makalah yang akan menambah pengetahuan kita tentang peranan sistem imun dalam tubuh manusia yang mempunyai peranan penting dalam sistem mempertahankan kesehatan dan daya tahan tubuh seseorang.

B. RUMUSAN MASALAH

1. Bagaimanakah sejarah imunologi itu?

2. Apa yang dimaksud dengan sistem imun?

3. Apa sajakah fungsi dari sistem imun?

4. Bagaimanakah mekanisme imunitas?

5. Bagaimanakah kelainan dan penyakit pada sistem kekebalan tubuh?

(2)

C. TUJUAN

1. Untuk mengetahui sejarah imunologi.

2. Agar dapat mengetahui apa itu sistem imun.

3. Agar dapat mengetahui fungsi dari sistem imun.

4. Supaya dapat mengetahui mekanisme imunitas.

5. Untuk mengetahui kelainan dan penyakit pada sistem kekebalan tubuh.

(3)

BAB II PEMBAHASAN

A. SEJARAH IMUNOLOGI

Imunologi adalah ilmu yang mempelajari struktur dan fungsi imunitas.

Imunologi berasal dari ilmu kedokteran dan penelitian awal akibat dari imunitas sampai penyakit. Sebutan imunitas yang pertama kali diketahui adalah selama wabah Athena tahun 430 SM. Thucydides mencatat bahwa orang yang sembuh dari penyakit sebelumnya dapat mengobati penyakit tanpa terkena penyakit sekali lagi.

Observasi imunitas nantinya diteliti oleh Louis Pasteur pada perkembangan vaksinasi dan teori penyakit kuman. Teori Pasteur merupakan perlawanan dari teori penyakit saat itu, seperti teori penyakit miasma. Robert Koch membuktikan teori ini pada tahun 1891, untuk itu ia diberikan hadiah nobel pada tahun 1905. Ia membuktikan bahwa mikroorganisme merupakan penyebab dari penyakit infeksi.

Virus dikonfirmasi sebagai patogen manusia pada tahun 1901 dengan penemuan virus demam kuning oleh Walter Reed.

Imunologi membuat perkembangan hebat pada akhir abad ke-19 melalui perkembangan cepat pada penelitian imunitas humoral dan imunitas selular. Paul Ehrlich mengusulkan teori rantai-sisi yang menjelaskan spesifisitas reaksi antigen- antibodi. Kontribusinya pada pengertian imunitas humoral diakui dengan penghargaan hadiah nobel pada tahun 1908, yang bersamaan dengan penghargaan untuk pendiri imunologi selular, Elie Metchnikoff.

(http://www.irwanashari.com/377/sistem-imun-dan-gangguan-imun.html)

B. PENGERTIAN SISTEM IMUN / KEKEBALAN TUBUH

Beberapa devinisi dari sistem imun/kekebalan tubuh, yaitu antara lain:

1. Imunitas atau kekebalan adalah sistem mekanisme pada organisme yang melindungi tubuh terhadap pengaruh biologis luar dengan mengidentifikasi dan membunuh patogen serta sel tumor. Sistem ini mendeteksi berbagai macam pengaruh biologis luar yang luas, organisme akan melindungi tubuh dari infeksi, bakteri, virus sampai cacing parasit, serta menghancurkan zat-zat asing lain dan memusnahkan mereka dari sel organisme yang sehat dan jaringan agar tetap

(4)

dapat berfungsi seperti biasa. Deteksi sistem ini sulit karena adaptasi patogen dan memiliki cara baru agar dapat menginfeksi organisme.

(http://www.bugisbagus.com/2009/02/sistem-pertahanan-tubuh-imun.html) 2. Sistem kekebalan atau sistem imun adalah sistem perlindungan pengaruh luar

biologis yang dilakukan oleh sel dan organ khusus pada suatu organisme. Jika sistem kekebalan bekerja dengan benar, sistem ini akan melindungi tubuh terhadap infeksi bakteri dan virus, serta menghancurkan sel kanker dan zat asing lain dalam tubuh. Jika sistem kekebalan melemah, kemampuannya melindungi tubuh juga berkurang, sehingga menyebabkan patogen, termasuk virus yang menyebabkan demam dan flu, dapat berkembang dalam tubuh. Sistem kekebalan juga memberikan pengawasan terhadap sel tumor, dan terhambatnya sistem ini juga telah dilaporkan meningkatkan resiko terkena beberapa jenis kanker.

(http://www.stimuno.com/index.php?mod=article&id=113)

C. FUNGSI SISTEM IMUN

Sistem Imun mempunyai beberapa fungsi, diantaranya:

1. Melindungi tubuh dari invasi penyebab penyakit.

2. Menghancurkan dan menghilangkan mikroorganisme atau substansi asing (bakteri, parasit, jamur, dan virus, serta tumor) yang masuk ke dalam tubuh.

3. Menghilangkan jaringan atau sel yg mati atau rusak (debris sel) untuk perbaikan jaringan.

4. Mengenali dan menghilangkan sel yang abnormal.

(http://www.scribd.com/doc/53733129/Makalah-Anatomi-Dan-Fisiologi- Manusia)

D. RESPON IMUN

Respons imun adalah respons tubuh berupa suatu urutan kejadian yang kompleks terhadap antigen, untuk mengeliminasi antigen tersebut. Respons imun ini dapat melibatkan berbagai macam sel dan protein, terutama sel makrofag, sel limfosit, komplemen, dan sitokin yang saling berinteraksi secara kompleks.

(http://id.wikipedia.org/wiki/Imunitas).

(5)

Dilihat dari beberapa kali pajanan antigen maka dapat dikenal dua macam respon imun yaitu:

a. Respons Imun Primer

Respons imun primer adalah respon imun yang terjadi pada pajanan yang pertama kalinya dengan antibodi. Antibodi yang terbentuk pada respons imun ini kebanyakan adalah IgM dengan titer yang lebih rendah dibanding dengan respons imun sekunder, demikian pula daya afinitasnya. Waktu antara antigen masuk sampai timbul antibodi (lag phase) lebih lama bila disbanding dengan respons imun sekunder.

b. Respons Imun Sekunder

Pada respons imun ini, antibodi yang dibentuk terutama adalah IgG, dengan titer dan afinitas lebih tinggi, serta fase lag lebih pendek dibanding respons imun primer. Hal ini disebabkan oleh karena sel memori yang yang terbentuk pada respons imun primer akancepat mengalami transformasi blast, proliferasi, dan diferensiasi menjadi sel plasma yang menghasilkan antibodi. Demikian pula dengan imunitas seluler, sel limfosit T akan lebih cepat mengalami transformasi blast dan berdeferensiasi menjadi sel T aktif sehingga lebih banyak terbentuk sel efektor dan sel memori (Ranuh, 2001).

E. PEMBAGIAN PERTAHANAN TUBUH

Pertahanan tubuh melindungi tubuh terhadap agen lingkungan yang asing bagi tubuh. Agen lingkungan ini antara lain adalah:

 Patogen (virus, bakteri, jamur, dan lain-lain)

 Produk tumbuhan

 Produk hewan

 Zat kimia

Pertahanan tubuh ada 2 yaitu pertahanan tubuh spesifik dan pertahanan tubuh non spesifik.

1. Pertahanan Tubuh Spesifik

Dikatakan spesifik karena hanya terbatas pada satu mikro organisme dan tidak memberikan proteksi terhadap mikro organisme yang tidak berkaitan.

(6)

Pertahanan ini di dapat melalui pejanan terhadap agen infeksius spesifik sehingga jaringan tubuh membentuk sistem imun.

Imunitas

Kemampuan tubuh untuk pertahanan diri melawan infeksi dan berupaya untuk membawanya kedalam sel dari orang atau hewan lain.

Karakteristik sistem imun

Spesifitas, dapat membedakan berbagai zat asing.

Memikro organismeri dan amplifikasi, mengingat kembali kontak sebelumnya.

Pengenalan bagian diri, membedakan agen asing dan sel tubuh sendiri.

Komponen respon imun

Antigen, yaitu zat yang menyebabkan respon imun spesifik.

Antibody, yaitu suatu protein yang dihasilkan oleh sistem imun sebagai respon terhadap keadaan antigen.

2. Pertahanan Tubuh non Spesifik

Dikatakan tidak spesifik karena berlaku untuk semua organisme dan memberikan perlindungan umum terhadap berbagai jenis agens. Secara umum pertahanan tubuh non spesifik ini terbagi menjadi pertahanan fisik, mekanik dan kimiawi.

Pertahanan fisik

(7)

Pertahanan tubuh non spesifik dengan pertahanan fisik dalam tubuh manusia antara lain adalah:

a. Kulit, kulit yang utuh menjadi salah satu garis pertahanan pertama karena sifatnya yang permeabel terhadap infeksi berbagai organisme.

b. Asam laktat, dalam keringat dan sekresi sebasea dalam mempertahankan pH kulit tetap rendah, sehingga sebagian besar mikro organisme tidak mampu bertahan hidup dalam kondisi ini.

c. Cilia, mikro organisme yang masuk saluran nafas diangkut keluar oleh gerakan silia yang melekat pada sel epitel.

d. Mukus, membran mukosa mensekresi mukus untuk menjebak mikroba dan partikel asing lainnya serta menutup masuk jalurnya bakteri/virus.

e. Granulosit, mengenali mikroba organisme sebagai musuh dan menelan serta menghancurkan mereka.

f. Proses inflamasi, invasi jaringan oleh mikro organisme merangsang respon inflamasi pada tubuh dengan tanda inflamasi yaitu kemerahan, panas, pembengkakan, nyeri, hilangnya fungsi dan granulosit dan mikro organismenosit keluar.

Pertahanan mekanik

Pertahanan tubuh non spesifik dengan cara pertahanan mekanik antara lain adalah:

1. Bersin, reaksi tubuh karena ada benda asing (bakteri, virus, benda dan lain-lain yang masuk hidung) reaksi tubuh untuk mengeluarkan dengan bersin.

(8)

2. Bilasan air mata, saat ada benda asing produksi air mata berlebih untuk mengeluarkan benda tersebut.

3. Bilasan saliva, kalau ada zat berbahaya produksi saliva berlebih untuk menetralkan

4. Urin dan feses, jika berlebih maka respon tubuh untuk segera mengeluarkannya.

Pertahanan kimiawi

Pertahanan tubuh non spesifik dengan cara kimiawi antara lain adalah:

a. Enzim dan asam dalam cairan pencernaan berfungsi sebagai pelindung bagi tubuh.

b. HCL lambung, membunuh bakteri yang tidak tahan asam.

c. Asiditas vagina, membunuh bakteri yang tidak tahan asam.

d. Cairan empedu, membunuh bakteri yang tidak tahan asam (Setiadi, 2007: 204-245).

F. MEKANISME IMUNITAS

Langkah pertama dalam memusnahkan patogen atau sel asing adalah mengenal antigen sebagai bahan asing. Baik sel T maupun sel B mampu melakukan hal ini, namun mekanisme immunya diaktivasi dengan sangat baik, bila pengenalan ini dilakukan oleh makrofag dan kelompok khusus limfosit T yang disebut sel T helper.

Antigen asing difagosit oleh suatu makrofag, dan bagian-bagian dipresentasi pada membran sel makrofag. Pada membran makrofag juga terdapat antigen “ self ” yang merupakan representasi semua antigen yang terdapat di semua sel individu. Oleh karena itu, sel T helper yang bertemu makrofag ini tersaji tidak hanya bersama antigen “ self ” sebagai pembandingnya. Sel T helper sekarang menjadi

(9)

tersensitisasi dan spesifik bagi antigen asing. Satu hal yang tidak dimiliki tubuh.

Pengenalan antigen sebagai benda asing mengawali satu atau kedua mekanisme imunitas. Mekanisme tersebut adalah imunitas selular, yang dalamnya sel T dan makrofag berpartisipasi dan imunitas humoral (dengan perantara antibodi) yang melibatkan dalam sel T, sel B dan makrofag.

1. Imunitas Selular

Mekanisme imunitas ini tidak menghasilkan antibodi, tetapi tetap efektif melawan patogen intrasel (misalnya virus), fungi , sel-sel ganas, dan tandur jaringan asing. Setelah pengenalan antigen asing oleh makrofag dan sel T helper yang menjadi teraktivasi dan spesifik kemudian membelah berkali-kali membentuk sel T memori dan sel T sitotoksik (killer). Sel T memori akan mengingat antigen asing yang spesifik dan menjadi aktif bila antigen tersebut masuk lagi ke dalam tubuh. Sel T sitotoksik secara kimiawi mampu merusak antigen asing dengan mengoyak membran sel. Dengan cara ini, sel T sitotoksik merusak sel-sel yang terinfeksi oleh virus, dan mencegah virus bereproduksi.

Sel T ini juga memproduksi sitokinin, yang secara kimiawi menarik makrofag menuju area tersebut dan mengaktifkan makrofag untuk memfagosit antigen asing. Sel T teraktivitasi lainnya menjadi sel T supresor, yang akan menghentikan respons imun ketika antigen asing telah dirusak. Namun, sel T memori secara cepat akan melakukan respons imun selular begitu terjadi pajanan selanjutnya terhadap antigen.

2. Imunitas Humoral

Mekanisme imunitas ini tidak melibatkan produksi antibodi. Tahap pertama yaitu pengenalan antigen asing, yang kali ini dilakukan oleh sel B serta makrofag dan sel T helper. Sel T helper yang tersensitisasi menyajikan antigen asing pada sel B, yang memberikan stimulus kuat bagi aktivasi sel B yang spesifik untuk antigen ini. Sel B teraktivasi mulai membelah berkali-kali dan membentuk dua jenis sel. Beberapa sel B baru yang dihasilkan adalah sel-sel B memori, yang akan mengingat antigen spesifik. Sel-sel B lain menjadi sel-sel plasma yang menghasilkan antibodi spesifik bagi antigen asing yang satu ini.

Antibodi kemudian berikatan dengan antigen, membentuk kompleks antigen- antibodi. Ikatan kompleks ini menyebabkan opsonisasi yang berarti bahwa

(10)

antigen sekarang “ dilabel “ untuk di fagosit oleh makrofag atau neutrofil.

Kompleks antigen antibodi juga menstimulasi proses fiksasi komplemen.

Komplemen adalah suatu kelompok yang terdiri atas 20 protein plasma yang bersirkulasi dalam darah sampai teraktivasi atau terfiksasi oleh suatu kompleks antigen-antibodi. Fiksasi komplemen bisa komplet atau parsial. Jika antigen asingnya seluler, protein komplemen mengikat kompleks antigen-antibodi, lalu slaing berikatan satu dengan lainnya, dan menyusun cincin enzimatik yang membentuk satu lubang dalam sel, yang dapat menyebabkan kematian sel. Ini adlaha fiksasi komplemen komplet ( menyeluruh) dan merupakan keadaan yang terjadi pada sel-sel bakteri (yang bisa terjadi pada reaksi transfusi, juga dapat meyebabkan hemolisis).

Apabila antigen asing bukan sel, misalnya virus, maka akan berlangsung fiksasi, komplemen parsial, yakni beberpa protein komplemen berikatan dengan kompleks antigen-antibodi. Hal ini merupakan faktor kemotaktik. Kemotaksit berarti “ Pergerakan kimiawi “ dan sebenarnya merupakan penanda yang menarik makrofag untuk memangsa dan merusak antigen asing. Bila antigen asing telah dirusak, sel T supresor tersensitisasi untuk menghentikan respon imun. Hal ini penting dalam membatasi produksi antibodi sampai jumlah yang diperlukan untuk mengeliminasi patogen tanpa memicu respons tanpa memicu respons autoimun (Scanlon, 2006: 305-306).

G. HUBUNGAN IMUNITAS DENGAN IMUNISASI

Ditinjau dari cara memperolehnya, imunitas dibagi menjadi:

1. Imunitas aktif, yaitu bila seseorang secara aktif membentuk sendiri imunitasnya terhadap suatu penyakit.

2. Imunitas pasif, yaitu bila imunitas itu berasal dari luar yang kemudian masuk atau dimasukkan ke dalam tubuh.

1. Imunitas aktif

Imunitas aktif dibedakan menjadi “didapat secara alamiah” dan dimasukkan secara buatan”.

a) Imuniats aktif di dapat secara alamiah

(11)

Imunitas ini di dapatkan bila seseorang terserang suatu bibit penyakit terutama mikroorganisme, kemudian menjadi sakit ringan ataupun berat.

Sementara itu di dalam tubuhnya dikembangkan imunitas humoral dan imunitas seluler terhadap bibit penyakit tersebut. Bila imunitasnya dapat mengatasi bibit penyakit, maka orang ini akan sembuh dan menjadi kebal khusus terhadap penyakit tersebut. Contohnya yaitu “ Di negara- negara berkembang lebih dari 90% anak-anak pada usia 7 tahun sudah memiliki antibody terhadap virus poliomielitis. Mungkin sebagian besar anak-anak di atas usia 10 tahun sudah memiliki imunitas terhadap dipteri. Hal ini terjadi karena anak-anak itu sudah terserang penyakit, sebagian besar dalam bentuk ringan, kemudian sembuh dan menjadi kebal (imun). Hanya sebagian kecil dari anak-anak tersebut yang oleh suatu sebab menderita sakit berat dan membahayakan “.

b) Imunitas aktif dimasukkan secara buatan

Pada akhir abad ke-18, saat penyakit cacar sedang melanda dunia.

Edward Jenner menemukan bahwa seseorang yang telah ditulari dan telah menderita penyakit cacar lembu yang jinak dan tidak berbahaya dapat menjadi kebal terhadap penyakit cacar yang ganas. Dengan dasar ini, maka para ahli berlomba membuat berbagai antigen yang aman untuk dimasukkan ke dalam tubuh dengan tujuan agar tubuh dan membentuk antibody (imunitas) tetapi tidak mengalami sakit yang berat.

Antigen-antigen tersebut dapat berupa:

 Vaksin adalah suatu suspensi mikroorganisme atau bagian mikroorganisme (virus, riketsia, bakteri) yang telah mati atau dilemahkan.

 Toksoid adalah toksin yang telah dilemahkan.

Reaksi dari sistem imunitas tubuh terhadap vaksin dan toksin biasanya lemah dan lambat karena antigen yang dimasukkan sedikit- sedikit dan telah dilemahkan. Agar kekebalan yang cukup dapat diperoleh maka diperlukan ulangan-ulangan dengan maksud mendapatkan respon sekunder (amamnestik) yang kuat.

(12)

2. Imunitas pasif

Imunitas pasif dibedakan juga menjadi “didapat secara alamiah” dan

“dimasukkan secara buatan” (Irianto, 2004: 310-311).

1) Kekebalan Pasif Alamiah

Kekebalan pasif alami dapat ditemukan pada bayi setelah menerima antibodi dari ibunya melalui plasenta saat masih berada di dalam kandungan. Kekebalan ini juga dapat diperoleh dengan pemberian ASI pertama (kolostrum) yang mengandung banyak antibodi.

2) Kekebalan Pasif Buatan

Kekebalan pasif buatan diperoleh dengan cara menyuntikkan antibodi yang diekstrak dari suatu individu ke tubuh orang lain sebagai serum.

Kekebalan ini berlangsung singkat, tetapi mampu menyembuhkan dengan cepat. Contohnya adalah pemberian serum antibisa ular kepada orang yang dipatuk ular berbisa.

H. GANGGUAN PADA SISTEM KEKEBALAN TUBUH 1. ALERGI

Alergi atau hipersensivitas adalah respons imun yang berlebihan terhadap senyawa yang masuk ke dalam tubuh. Senyawa tersebut dinamakan alergen. Alergen dapat berupa debu, serbuk sari, gigitan serangga, rambut kucing, dan jenis makanan tertentu, misalnya udang.

Proses terjadinya alergi diawali dengan masuknya alergen ke dalam tubuh yang kemudian merangsang sel B plasma untuk menyekresikan antibod IgE. Alergen yang pertama kali masuk ke dalam tubuh tidak akan menimbulkan alergi, namun IgE yang terbentuk akan berikatan dengan mastosit. Akibatnya, ketika alergen masuk ke dalam tubuh untuk kedua kalinya, alergen akan terikat pada IgE yang telah berikatan dengan mastosit. Mastosit kemudian melepaskan histamin yang berperan dalam proses inflamasi. Respons inflamasi ini mengakibatkan timbulnya gejala alergi seperti bersin, kulit terasa gatal, mata berair, hidung berlendir, dan kesulitan bernapas. Gejala alergi dapat dihentikan dengan pemberian antihistamin.

2. AUTOIMUNITAS

Autoimunitas merupakan gangguan pada sistem kekebalan tubuh saat antibodi yang diproduksi justru menyerang sel-sel tubuh sendiri karena tidak mampu

(13)

membedakan sel tubuh sendiri dengan sel asing. Autoimunitas dapat disebabkan oleh gagalnya proses pematangan sel T di kelenjar timus. Autoimunitas menyebabkan beberapa kelainan, yaitu :

a) Diabetes mellitus

Diabetes mellitus disebabkan oleh antibodi yang menyerang sel-sel beta di pankreas yang berfungsi menghasilkan hormon insulin. Hal ini mengakibatkan tubuh kekurangan hormon insulin sehingga kadar gula darah meningkat.

b) Myasthenia gravis

Myasthenia gravis disebabkan oleh antibodi yang menyerang otot lurik sehingga otot lurik mengalami kerusakan.

c) Addison’s disease

Addison’s disease disebabkan oleh antibodi yang menyerang kelenjar adrenal. Hal ini mengakibatkan berat badan menurun, kadargula darah menurun, mudah lelah, dan pigmentasi kulit meningkat.

d) Lupus

Lupus disebabkan oleh antibodi yang menyerang tubuh sendiri. Pada penderita lupus, antibodi menyerang tubuh dengan dua cara, yaitu :

Antibodi menyerang jaringan tubuh secara langsung. Misalnya, antibodi yang menyerang sel darah merah sehingga menyebabkan anemia.

Antibodi bergabung dengan antigen sehingga membentuk ikatan yang dianamakan kompleks imun. Dalam kondisi normal, sel asing yang antigennya telah diikat oleh antibodi selanjutnya akan ditangkap dan dihancurkan oleh sel- sel fagosit. Namun, pada penderita lupus, sel-sel asing ini tidak dapat dihancurkan oleh sel-sel fagosit dengan baik. Jumlah sel fagosit justru akan semakin bertambah sambil mengeluarkan senyawa yang menimbulkan inflamasi. Proses inflamasi ini akan menimbulkan berbagai gejala penyakit lupus. Jika terjadi dalam jangka panjang, fungsi organ tubuh akan terganggu.

e) Radang sendi (artritis reumatoid)

Radang sendi merupakan penyakit autoimunitas yang menyebabkan peradangan dalam waktu lama pada sendi. Penyakit ini biasanya mengenai banyak sendi dan ditandai dengan radang pada membransinovial dan struktur sendi, atrofi otot, serta penipisan tulang.

3. AIDS

AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome) merupakan kumpulan berbagai penyakit yang disebabkan oleh melemahnya sistem kekebalan tubuh. Penyakit ini

(14)

disebabkan oleh infeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus) yang menyerang sel T pembantu yang berfungsi menstimulasi pembentukan sel B plasma dan jenis sel T lainnya. Hal ini mengakibatkan berkurangnya kemampuan tubuh dalam melawan berbagai kuman penyakit.

Sel T pembantu menjadi target utama HIV karena pada permukaan sel tersebut terdapat molekul CD4 sebagai reseptor. Infeksi dimulai ketika molekul glikoprotein pada permukaan HIV menempel ke reseptor CD4 pada permukaan sel T pembantu.

Selanjutnya, HIV masuk ke dalam sel T pembantu secara endositosis dan mulai memperbanyak diri. Kemudian, virus-virus baru keluar dari sel T yang terinfeksi secara eksositosis atau melisiskan sel.

Jumlah sel T pada orang normal sekitar 1.000 sel/mm3 darah, sedangkan pada penderita AIDS, jumlah sel T-nya hanya sekitar 200 sel/mm3. Kondisi ini menyebabkan penderita AIDS mudah terserang berbagai penyakit seperti TBC, meningitis, kanker darah, dan melemahnya ingatan.

Penderita HIV positif umumnya masih dapat hidup dengan normal dan tampak sehat,tetapi dapat menularkan virus HIV.Penderita AIDS adalah penderitaHIV positif yang telah menunjukkan gejala penyakit AIDS. Waktu yang dibutuhkan seorang penderita HIV positif untuk menjadi penderita AIDS relatif lama,yaitu antara 5-10 tahun.Bahkan ada penderita HIV positif yang seumur hidupnya tidak menjadi penderita AIDS.Hal tersebut dikarenakan virus HIV didalam tubuh membutuhkan waktu untuk menghancurkan sistem kekebalan tubuh penderita. Ketika sistem kekebalan tubuh sudah hancur, penderita HIV positif akan menunjukkan gejala penyakit AIDS.

Penderita yang telah mengalami gejala AIDS atau penderita AIDS umumnya hanya mampu bertahan hidup selama dua tahun.

a. Gejala-gejala penyakit AIDS yaitu :

Gangguan pada sistem saraf

Penurunan libido

Sakit kepala

Demam

Berkeringat pada malam hari selama berbulan-bulan

Diare

Terdapat bintik-bintik berwarna hitam atau keunguan pada sekujur tubuh

Terdapat banyak bekas luka yang belum sembuh total

Terjadi penurunan berat badan secara drastis b. Cara penularan virus HIV/AIDS :

Hubungan seks dengan penderita HIV/AIDS

(15)

Pemakaian jarum suntik bersama-sama dengan penderita

Transfusi darah yang terinfeksi HIV/AIDS

Bayi yang minum ASI penderita HIV/AIDS atau dilahirkan dari seorang ibu penderita HIV/AIDS

c. Cara mencegah penularan HIV/AIDS :

Menghindari hubungan seks di luar nikah

Memakai jarum suntik yang steril

Menghindari kontak langsung dengan penderita HIV/AIDS yang terluka

Menerima transfusi darah yang tidak terinfeksi HIV/AIDS

(16)

BAB III PENUTUP

A.

KESIMPULAN

Berdasarkan uraian pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa:

1. Imunologi adalah ilmu yang mempelajari struktur dan fungsi imunitas. Imunologi berasal dari ilmu kedokteran dan penelitian awal akibat dari imunitas sampai penyakit. Sebutan imunitas yang pertama kali diketahui adalah selama wabah Athena tahun 430 SM. Thucydides mencatat bahwa orang yang sembuh dari penyakit sebelumnya dapat mengobati penyakit tanpa terkena penyakit sekali lagi.

2. Sistem kekebalan atau sistem imun adalah sistem perlindungan pengaruh luar biologis yang dilakukan oleh sel dan organ khusus pada suatu organisme.

3. Sistem imun berfungsi sebagai pelindung tubuh dari invasi penyebab penyakit, menghancurkan dan menghilangkan mikroorganisme atau substansi asing (bakteri, parasit, jamur, dan virus, serta tumor) yang masuk ke dalam tubuh.

4. Respons imun adalah respons tubuh berupa suatu urutan kejadian yang kompleks terhadap antigen, untuk mengeliminasi antigen tersebut. Dilihat dari beberapa kali pajanan antigen maka dapat dikenal dua macam respon imun yaitu respons imun primer dan respons imun sekunder.

5. Pertahanan tubuh ada 2 yaitu pertahanan tubuh spesifik dan pertahanan tubuh non spesifik.

6. Mekanisme imunitas meliputi imunitas selular, yang dalamnya sel T dan makrofag berpartisipasi dan imunitas humoral (dengan perantara antibodi) yang melibatkan dalam sel T, sel B dan makrofag.

7. Ditinjau dari cara memperolehnya, imunitas dibagi menjadi dua yaitu imunitas aktif, yaitu bila seseorang secara aktif membentuk sendiri imunitasnya terhadap suatu penyakit dan imunitas pasif, yaitu bila imunitas itu berasal dari luar yang kemudian masuk atau dimasukkan ke dalam tubuh.

8. Kelainan dan penyakit pada system kekebalan tubuh yaitu alergi, Autoimun dan AIDS.

(17)

B. SARAN

Saran yang dapat saya sampaikan dalam makalah ini yaitu untuk pembaca diharapkan dalam membaca makalah ini dapat lebih tahu dan memahami tentang pentingnya Sistem Imun sehingga pemahaman itu dapat diinformasikan kepada orang awam dan dapat diaplikasikan untuk diri sendiri dan dilingkungan. Selain itu penulis mengharapkan saran yang membangun yang dapat menjadi motivasi dalam pembuatan makalah-makalah berikutnya sehingga dalam pembuatan makalah berikutnya penulis lebih teliti dan lebih baik lagi dalam menyampaikan informasi dalam bentuk tertulis seperti makalah ini.

(18)

DAFTAR PUSTAKA

1. Gould, Dinah, dkk., 2003. Mikrobiologi Terapan Untuk Perawat. EGC. Jakarta.

2. Irianto, Kus, 2004. Struktur dan Fungsi Tubuh Manusia untuk Paramedis. Yrama Widya. Bandung.

3. Kresno, Siti Boedina. 2003. Imunologi : Diagnosis dan Prosedur Laboratorium.

Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.

4. Ranuh, I., dkk., 2001. Buku Imunisasi di Indonesia Edisi Pertama. SI-IDAI. Jakarta.

5. Scanlon, Valerie C., 2006. Buku Ajar Anatomi dan Fisiologi Edisi 3. Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

6. Setiadi, 2007. Anatomi Fisiologi Manusia. Graha Ilmu. Yogyakarta.

Sloane, Ethel, 2003. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Buku Kedokteran EGC.

Jakarta.

Referensi

Dokumen terkait

transaksi secara online. Cara kerja sistem ini dibagi menjadi dua, yang pertama.. untuk kayu kategori kubikasi , konsumen cukup dengan memilih jenis potongan. kayu jati, memasukan

Mereka dibagi secara acak menjadi dua kelompok, kelompok kontrol yang diajarkan pada keperawatan medikal bedah yang dibagi dalam metode pembelajaran tradisional

alam membentuk karakter siswa sekolah dasar menjadi pribadi yang baik dapat dilakukan dengan cara menentukan, melaksanakan, dan membiasakan siswa sekolah

Buta warna (color blindness) merupakan suatu penyakit yang kasusnya banyak ditemukan di dunia. Penyakit buta warna terbagi menjadi dua macam, yaitu buta warna

Lingkup ekosistem ini dibagi menjadi dua, yaitu 1 ke arah darat meliputi bagian tanah baik yang kering maupun yang terendam air laut, dan masih dipengaruhi oleh sifat-sifat fisik laut

1.3 Tujuan Proyek Tujuan proyek ini dibagi menjadi 2 dua, yaitu tujan proyek secara umum dan tujuan proyek secara khusus, adapun tujuan proyek tersebut adalah; 1.3.1 Tujuan umum

1.3 Tujuan Proyek Tujuan proyek akhir ini dibagi menjadi 2 dua, yaitu tujuan proyek secara umum dan tujuan proyek secara khusus, adapun tujuan proyek tersebut sebagai berikut: 1.3.1

1.3 Tujuan Proyek Tujuan proyek ini dibagi menjadi 2 dua, yaitu tujuan proyek secara umum dan tujuan proyek secara khusus, adapun tujuan proyek tersebut sebagai berikut : 1.3.1