1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Menurut pasal 1 ayat (2), UU No. 13 tahun 1998 yang mengatur tentang kesejahteraan lansia disebutkan bahwa usia lanjut adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun keatas. Sedangkan Menurut organisasi kesehatan dunia (WHO) lansia adalah pria dan wanita yang telah mencapai usia 60 – 74 tahun. Batasan umur lansia menurut WHO dibagi dalam beberapa kategori yaitu : usia pertengahan (middle age) dengan rentang usia 45 – 59 tahun, lanjut usia (elderly) dengan rentang usia 60 – 74 tahun, lanjut usia tua (old) dengan rentang usia 75 – 90 tahun, dan usia sangat tua (very old) dengan usia diatas 90 tahun (Notoatmojo, 2018). Keberadaan usia lanjut ditandai dengan umur harapan hidup yang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Hal tersebut membutuhkan upaya pemeliharaan serta peningkatan kesehatan dalam rangka mencapai masa tua yang sehat, bahagia, berdaya guna dan produktif (Pasal 19 UU No.23 tahun 1992 tentang Kesehatan).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2018, jumlah lansia di Indonesia adalah 24,4 juta atau sekitar 9,27 % dari jumlah keseluruhan penduduk. Pada tahun 2019 jumlah lansia tersebut diproyeksikan akan meningkat menjadi 27,5 juta jiwa atau 10,3 %, dan 57,0 juta jiwa atau 17,9
% pada tahun 2045 (BPS, Bappenas,2018). Di provinsi Jawa Barat jumlah penduduk lansia pada tahun 2017 sebesar 4,16 juta atau 8,67 % dan pada tahun 2018 meningkat menjadi 11 % dari total jumlah penduduk Jawa Barat. Di kota Bandung jumlah penduduk lansia pada tahun 2019 berjumlah 249.883 jiwa yang tersebar merata di beberapa kecamatan.
(BPS Jawa Barat, 2019).
Lanjut usia merupakan proses yang harus dijalani. Kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri dan mempertahankan fungsi normalnya akan menurun secara perlahan. Sebagai tahap akhir siklus hidup manusia, lansia mengalami penuaan sebagai proses berkurangnya daya tahan tubuh menghadapi rangsangan dari dalam maupun dari luar tubuh. Hal ini terjadi karena lansia mengalami kehilangan jaringan pada otot, susunan syaraf, dan jaringan lain sehingga tubuh lansia mengalami penurunan fungsi.
Lansia secara lambat dan progresif akan kehilangan daya tahan terhadap infeksi dan akan menempuh semakin banyak distorsi meteoritik dan struktural yang disebut sebagai penyakit degeneratif, seperti hipertensi, arteriosklerosis, diabetes melitus, anoreksia dan kanker yang akan menyebabkan berakhirnya hidup dengan episode terminal yang dramatis.
Misalnya sroke, infark miokard, koma asidotik, kanker metastasis dan sebagainya (Nugroho, 2018). Selanjutnya lansia juga akan mengalami kemunduran biologis yang terlihat sebagai gejala-gejala kemunduran fisik, antara lain kulit mulai mengendur, timbul keriput, rambut beruban, gigi mulai ompong, pendengaran dan penglihatan berkurang, mudah lelah,
gerakan menjadi lamban dan kurang lincah, serta terjadi penimbunan lemak terutama di perut dan pinggul. Kemunduran lain yang terjadi adalah kemampuan-kemampuan kognitif seperti suka lupa, kemunduran orientasi terhadap waktu, ruang, tempat, serta tidak mudah menerima hal atau ide baru (Maryam Dkk, 2012). Akibatnya lanjut usia sering menciptakan ketergantungan parsial atau ketergantungan sepenuhnya pada bantuan atau perawatan eksternal.
Adanya penurunan dari intelektualitas yang meliputi persepsi dan kemampuan kognitif, menyebabkan mereka sulit untuk dipahami dan berinteraksi. Penurunan fungsi kognitif pada lansia terdiri dari beberapa aspek, salah satunya yaitu aspek mengingat kembali. Dampak akibat gangguan fungsi kognitif adalah proses berpikir melambat, kurang menggunakan strategi memori yang tepat, kesulitan memusatkan perhatian, mudah beralih pada hal yang kurang perlu, memerlukan waktu yang lebih lama untuk belajar sesuatu yang baru dan memerlukan banyak petunjuk/isyarat (cue) untuk mengingat kembali (Legowo, 2015). Hal ini disebabkan karena berkurangnya jumlah sel secara anatomis, kurangnya aktivitas, dan kurangnya asupan nutrisi (Maryam, 2008). Pada lansia, seringkali memori jangka pendek, pikiran, kemampuan berbicara, dan kemampuan motorik terpengaruh. Lansia akan kehilangan kemampuan dan pengetahuan yang telah didapatkan sebelumnya. Lansia cenderung mengalami demensia. (Ratnawati, 2017).
Menurut Departmen of Health (Departeman Kesehatan) di Inggris, mendefinisikan demensia sebagai sebuah sindrom yang disebabkan oleh banyak penyakit dimana ada proses kemunduran di beberapa area, termasuk menurunnya daya ingat, daya nalar, kemampuan berkomunikasi, dan kemampuan melakukan kegiatan sehari-hari (Barker, 2019).
Kemunduran kognitif pada demensia biasanya diawali dengan kemunduran memori atau daya ingat atau pelupa (Nugroho, 2018).
Sedangkan menurut WHO juga menjelaskan bahwa sifat dasar yang kronis dan progresif dari demensia mengganggu fungsi otak besar dan aktivitas di kehidupan sehari-hari (Barker, 2019).
Beberapa negara mengalami peningkatan penyakit demensia. Pada tahun 2010, Alzheimer Society (sebuah organisasi yang berkedudukan di Inggris), mengadakan penelitian tentang penyakit demensia di dunia.
Hasilnya menunjukan ada 35,6 juta orang menderita demensia di seluruh dunia. Penelitian ini memprediksi bahwa penderita demensia akan melonjak hingga 115 juta pada tahun 2050. Peningkatan ini diperkirakan akan terjadi di negara berkembang, seperti Cina, India, dan negara-negara di Asia selatan termasuk Indonesia, karena pertumbuhan populasi lansia yang sangat cepat (Barker 2019).
Di Indonesia, menurut data kemenkes tahun 2015 jumlah lansia dengan demensia ditaksir akan mengalami peningkatan yang serupa seiring dengan pertambahan penduduk. Pada tahun 2013 terdapat 960.000 jiwa, kemudian diperkirakan akan meningkat menjadi 1.890.000 jiwa di
tahun 2030. Saat ini ada 40,6 juta orang di seluruh dunia menderita demensia, sebuah grafik menaksir bahwa angka tersebut akan meningkat hingga 65,7 juta pada tahun 2030 dan 115,4 juta pada tahun 2050 (Barker, 2019).
Beragam pengobatan dapat diterapkan pada pasien demensia, mulai dari terapi farmakologi dengan menggunakan obat-obatan sampai terapi non farmakologi yang salah satunya adalah senam otak (brain gym) untuk melatih kemampuan otak bekerja (Andani, 2017). Terapi non farmakologi perlu diterapkan karena dapat menunda penurunan fungsi kognitif dengan menerapkan perilaku sehat dan melakukan stimulasi otak sedini mungkin. Terapi yang diberikan dapat berupa rekreasi, membaca, mendengarkan musik, mengingat waktu dan tempat, berdansa, dan senam otak untuk melatih kemampuan otak dalam bekerja (Yanuarita, 2012).
Senam otak (brain gym) adalah serangkaian gerakan sederhana yang dapat menyeimbangkan setiap bagian-bagian otak atau latihan berbasis gerakan tubuh sederhana yang dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja (Kushariyadi, 2011). Selanjutnaya menurut seorang pakar senam otak dari Amerika Paul E. Dennison, Senam Otak (brain Gym) adalah gerak sederhana yang menyenangkan dan digunakan untuk meningkatkan kemampuan belajar (Dennison, 2011).
Prinsip kerja senam otak (brain gym) adalah dapat memperlancar aliran darah dan oksigen ke otak, juga merangsang kedua belahan otak untuk bekerja. Gerakan-gerakan ringan dengan permainan melalui olah
tangan dan kaki dapat memberikan rangsangan atau stimulus pada otak.
Stimulus tersebut dapat meningkatkan kemampuan kognitif (Kushariyadi, 2011).
Senam otak (brain gym) dapat membantu mempertahankan kemampuan kognitif yang masih ada. Latihan tersebut membantu daya ingat dan mencegah kerusakan lebih lanjut. Selain itu pemberian latihan juga dapat membantu mempertahankan kualitas hidup lansia dengan memanfaatkan kemampuan yang masih ada seoptimal mungkin. Salah satu cara untuk mengatasi hal ini adalah dengan terus menstimulus otak (Dennison, 2009). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa senam otak (brain gym) memiliki keunggulan dari terapi yang lain, karena terapi senam otak memberikan sentuhan secara langsung dalam merangsang kerja otak atau stimulus agar otak tetap berfungsi dengan baik. Selain itu senam otak mudah dilakukan oleh orang lanjut usia karena bisa dilakukan dimana saja, kapan saja, dan tidak membutuhkan energi yang banyak.
Sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Inosensia Amtonis (2014) mengatakan bahwa tingkat kognitif responden sebelum dilakukan senam otak dengan nilai kognitif sedang sebanyak 21 orang (63,6%) dan nilai kognitif ringan sebanyak 12 orang (36,4%). Tingkat kognitif responden setelah dilakukan senam otak dengan nilai kognitif sedang sebanyak 14 orang (42,4%) dan nilai kognitif ringan sebanyak 19 orang (57,6%) dengan nilai p value = 0,000 dengan nilai a = 0,05 (p<0,05), yang
berarti bahwa ada pengaruh yang signifikan antara tingkat kognitif lansia yang mengalami demensia sebelum dan setelah dilakukan senam otak.
Demikian pula sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Raden Surahmat (2016) tentang pengaruh senam otak terhadap fungsi kognitif lansia didapatkan bahwa fungsi kognitif lansia mengalami perubahan yang signifikan setelah dilakukan senam otak (brain gym). Dari hasil penelitian ini membuktikan bahwa aktivitas senam otak dapat meningkatkan fungsi kognitif pada lansia. Gerakan-gerakan pada senam otak dapat memberikan rangsangan atau stimulus pada otak. Gerakan yang menimbulkan stimulus inilah yang dapat meningkatkan kemampuan kognitif (kewaspadaan, konsentrasi, kecepatan, persepsi, belajar, memori, pemecahan masalah dan kreativitas).
Untuk membedahkan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya, peneliti berencana akan menambah durasi waktu senam otak menjadi 20 menit selama 2 kali dalam seminggu dengan 12 gerakan senam otak, lebih banyak dari rata-rata penelitian sebelumya yang hanya 8 gerakan, dengan terlebih dahulu melihat kondisi fisik lansia. Peneliti juga telah berkoordinasi dengan petugas Panti Wreda Nazaret untuk sementara mengganti terapi senam lansia menjadi senam otak selama masa penelitian.
Hasil studi pendahuluan di Panti Sosial Tresna Werdha Nazareth Kota Bandung yang dilakukan peneliti pada tanggal 1 Februari sampai dengan 10 Februari 2020, melalui wawancara didapatkan data jumlah
keseluruhan penghuni panti sebanyak 21 lansia perempuan dengan usia 70 tahun hingga 92 tahun. Dari data kesehatan yang diberikan oleh Panti Sosial Tresna Werdha Nazareth menyebutkan bahwa ada 3 lansia mengalami demensia ringan, 7 lansia mengalami demensia sedang, 4 lansia mengalami demensia berat dan 3 lansia tidak mengalami demensia.
Sedangkan 4 lansia lainnya tira baring.
Dari hasil studi pendahuluan ini peneliti tertarik untuk meneliti tentang pengaruh senam otak (brain gym) terhadap fungsi kognitif pada lansia demensia, karena senam otak (gerakan senam yang sederhana, tidak membutuhkan alat, dan durasi waktu senam yang singkat) lebih memungkinkan untuk diberikan kepada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Nazareth mengingat kondisi lansia yang sudah berusia diatas 70 tahun dan sebagian besar mengalami demensia. Selain itu belum ada yang melakukan penelitian tentang terapi senam otak (brain gym) di Panti Sosial Tresna Werdha Nazareth Kota Bandung.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka dapat diambil rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu: Apakah ada pengaruh senam otak (Brain Gym) terhadap fungsi kognitif pada lansia demensia di Panti Sosial Tresna Werdha Nazareth Kota Bandung?
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Mengetahui pengaruh senam otak (brain gym) terhadap fungsi kognitif pada lansia demensia di Panti Sosial Tresna Werdha Nazareth Kota Bandung.
2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi fungsi kognitif sebelum dan sesudah diberikan senam otak (brain gym) pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Nazareth Kota Bandung.
b. Mengetahui pengaruh fungsi kognitif sebelum dan sesudah diberikan senam otak (brain gym), dan menganalisis pengaruh senam otak (brain gym) terhadap fungsi kognitif pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Nazareth Kota Bandung.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Akademis
Sebagai bahan dokumentasi ilmiah dalam pengembangan ilmu keperawatan gerontik tentang terapi Senam Otak yang diberikan dengan tujuan untuk meningkatkan fungsi kognitif pada lansia khususnya dengan demensia.
2. Manfaat Praktis
a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan masukan secara objektif bagi Panti Sosial Tresna Werdha Nazareth
mengenai penanganan pada lansia untuk mengoptimalkan fungsi kognitif dengan melakukan terapi senam otak (brain gym).
b. Bagi tenaga keperawatan, hasil penelitian ini dapat digunakan untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan khususnya tentang terapi non farmakologi untuk mengurangi demensia pada lansia.
c. Manfaat bagi peneliti
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan pengalaman dalam melakukan penelitian tentang mengoptimalkan fungsi kognitif pada lansia dengan melakukan senam otak (brain gym).
E. Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup dari penelitian ini adalah pengaruh senam otak (brain gym) terhadap fungsi kognitif pada lansia demensia. Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan April – Mei 2020, bertempat di Panti Sosial Tresna Werdha Nazareth Kota Bandung. Yang menjadi sasaran dalam penelitian ini adalah lansia dengan demensia. Jenis penelitian menggunakan Metode Eksperimen.