• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tujuan sistem kesehatan Indonesia adalah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, kualitas hidup, usia harapan hidup, tingkat kesejahteraan keluarga dan masyarakat, kepedulian akan pola hidup sehat. Peningkatan derajat kesehatan masyarakat masih ditemukan berbagai masalah yang menghambat pembangunan kesehatan. Salah satu masalah dalam mencapai derajat kesehatan tersebut adalah tingginya angka kesakitan dan kematian di Indonesia setiap tahunnya. (1)

Penyakit tidak menular pada beberapa waktu terakhir menjadi penyebab morbiditas dan mortalitas di beberapa negara termasuk Indonesia. Dispepsia merupakan salah satu jenis penyakit tidak menular yang terjadi tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di dunia. Kasus dispepsia di dunia mencapai 13-40% dari total populasi setiap tahun. Dispepsia kini menjadi kasus penyakit yang diprediksi akan meningkat dari tahun ke tahun.(2)

Penyakit dispepsi adalah suatu kondisi medis yang ditandai dengan nyeri atau rasa tidak nyaman pada perut bagian atas atau ulu hati . Dispepsia merupakan salah satu masalah kesehatan yang sangat sering ditemui dalam kehidupan sehari‐hari dengan ditandai adanya keluhan yang berhubungan

(2)

dengan makan atau dengan gangguan saluran pencernaan. Dispepsia termasuk penyakit tidak menular namun dapat menyebabkan mortalitas yang tinggi. (3) Dalam kehidupan sehari-hari, dispepsia sering disamakan dengan penyakit maag, dikarenakan terdapat kesamaan gejala antara keduanya.

Sebenarnya kurang tepat, karena kata maag berasal dari bahasa Belanda, yang berarti lambung, sedangkan kata dyspepsia berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri dari dua kata yaitu “dys” yang berarti buruk dan “peptei “ yang berarti pencernaan. Jadi dispepsia berarti pencernaan yang buruk.(3)

Menurut WHO pada tahun 2015 angka kejadian dispepsia di dunia mencapai 13- 40% dari total populasi dalam setiap negara. Sedangkan untuk negara SEARO (South East Asian Regional Office) pada Tahun 2020 diprediksi angka kematian dan kesakitan karena penyakit tidak menular akan meningkat menjadi 42%-50%.(2) Kasus dispepsia di kota-kota besar di Indonesia cukup tinggi. Menurut Departemen Kesehatan RI tahun 2015, angka kejadian dispepsia di Surabaya 31,2 %, Denpasar 46 %, Jakarta 50 %, Bandung 32,5 %, Palembang 35,5 %, Pontianak 31,2 %, Medan 9,6 % dan termasuk Aceh mencapai 31,7 %. (4)

Berdasarkan laporan tahunan UPT Puskesmas Ibrahim Adjie tahun 2019 dari 3 kelurahan wilayah kerja Puskesmas yaitu kelurahan Cibangkong, Kebongedang dan Kebonwaru, penyakit PTM yang paling tinggi adalah dyspepsia yaitu dari 20.757 kunjungan rawat jalan sebanyak 2684 kasus adalah pasien dispepsi atau sekitar 12,93%. (5)

(3)

Pengelompokan dyspepsia berdasarkan faktor penyebabnya dibagi menjadi dua yaitu dyspepsia fungsional dan dispepsi organic. Penyebab dispepsia cukup beragam dan bergantung pada klasifikasinya, Pada pasien dengan dispepsia organik atau struktural, ada tiga penyebab utama dispepsia:

penyakit refluks gastroesofageal (dengan atau tanpa esofagitis), penyakit ulkus peptikum kronis, dan keganasan. Sedangkan dispepsia yang bersifat fungsional dapat dipicu karena faktor psikologis, faktor intoleran terhadap obat-obatan dan jenis makanan tertentu dan perilaku merokok.(10)

Ada beberapa gejala penyakit dispepsia yaitu seperti nyeri epigastrik, rasa penuh pada bagian epigastrik, dan perut terasa penuh saat makan (cepat kenyang), terasa mual dan muntah. Ada beberapa faktor penyebab dispepsi diantaranya, pola makan jeda antara jadwal makan yang lama dan ketidak teraturan makan ternyata sangat erat kaitannya dengan timbulnya gejala dispepsia atau dengan kata lain pola makan yang tidak teratur dapat menyebabkan dispepsia. Makan yang tidak teratur memicu timbulnya berbagai penyakit karena terjadi ketidak seimbangan dalam tubuh. Ketidak teraturan ini berhubungan dengan waktu makan. Biasanya, ia berada dalam kondisi terlalu lapar namun kadang-kadang terlalu kenyang. Sehingga kondisi lambung dan pencernaannya menjadi terganggu.(6)

Selain pola makan yang tidak teratur, jenis – jenis makanan yang dikonsumsi pun yang merangsang peningkatan asam lambung seperti makanan pedas, asam serta minuman beralkohol, kopi dimana kafein yang terdapat pada

(4)

kopi pada sistem gastrointestinal akan meningkatkan sekresi gastrin sehingga akan merangsang produksi asam lambung. Tingginya asam menyebabkan peradangan serta erosi pada mukosa lambung sehingga dapat memunculkan gangguan dispepsia. (3)

Faktor lain yang dapat menyebabkan dispepsi, yaitu penggunaan jangka panjang 1 - 6 bulan dari OAINS(Obat Anti Inflamasi Non Steroid) menyebabkan efek samping yang bervariasi mulai dari gejala seperti mual dan dispepsia sampai komplikasi ulserasi. Hal ini juga dipengaruhi oleh faktor - faktor lain seperti usia, riwayat ulserasi terdahulu, penggunaan kortikosteroid, penggunaan dosis tinggi AINs, penggunaan beberapa AINs, penggunaan antikoagulan, dan penyakit sistemik yang serius. (3)

Berdasarkan pemaparan di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Sindrom Dispepsi Di UPT Puskesmas Ibrahim Adjie Kota Bandung ” B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan masalah penelitian yaitu “Apa Saja Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Sindrom Dispepsi Di UPT Puskesmas Ibrahim Adjie Kota Bandung ?’’

(5)

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian Sindrom Dispepsi Di UPT Puskesmas Ibrahim Adjie Kota Bandung

2. Tujuan Khusus

a. Untuk menganalisis faktor resiko kejadian dispepsi berdasarkan keluhan yang dirasakan pada pasien dispepsi

b. Untuk menganalisis faktor risiko kejadian dispepsi berdasarkan pola hidup pasien dispepsi

D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Institusi

Diharapkan penelitian ini memberikan manfaat bagi lembaga pendidikan untuk pengembangan materi perkuliahan pada program pendidikan dan studi kepustakaan yang berhubungan penyakit tidak menular (PTM)

2. Bagi Tempat Penelitian

Penelitian ini dapat dijadikan bahan masukan agar melakukan perencanaan peningkatan pelayanan kesehatan terutama untuk PTM.

(6)

3. Bagi Peneliti

Penelitian ini dapat menambah wawasan mengenai penyakit tidak menular serta pembelajaran untuk meningkatkan dan mengaplikasikan berbagai ilmu pengetahuan yang telah diperoleh dari institusi pendidikan.

E. Ruang Lingkup Penelitian

Waktu pengkajian dan penelitian ini dilakukan pada bulan April 2020- Selesai di UPT Puskesmas Ibrahim Adjie.

Referensi

Dokumen terkait

Quantity Unit Item and Description Unit Price Total Amount CCTV Equipment Lodging Facility & Motorpool Inclusions: Eight 8 cameras for lodging facility Five 5 cameras for motorpool