BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masyarakat dalam perubahan peradaban dari waktu ke waktu menghendaki adanya peningkatan taraf hidup. Ketika memasuki masa era globalisasi menunjukkan banyak kemajuan teknologi informasi yang telah mengubah perilaku masyarakat dan peradaban manusia secara global menjadi masyarakat modern yang berbasis internet. Di samping itu, perkembangan teknologi informasi telah menyebabkan dunia menjadi tanpa batas dan menyebabkan perubahan struktur sosial masyarakat yang secara signifikan berlangsung dengan cepat. Teknologi Informasi memberikan kontribusi yang sangat besar bagi peningkatan kesejahteraan, kemajuan dan peradaban manusia1.
Dengan perkembangan masyarakat yang begitu pesat serta perkembangan kemajuan teknologi dengan penggunaan internet selain berdampak positif juga dapat berdampak dengan meningkatnya kejahatan yang muncul dengan berbagai macam modus operandi berbasis alat berteknologi yang apabila tidak dibarengi dengan perkembangan pengetahuan di masyarakat tentang hukum maka akan menyebabkan seorang menjadi pelaku tindak pidana atau menjadi korban perbuatan pidana tidak jarang anak dijadikan sebagai sasaran korbannya. Salah satu bentuk tindak pidana yang terjadi di masyarakat adalah tindak pidana pelecehan seksual pada anak melalui internet sehingga perkembangan aturan hukum pun dituntut untuk dapat mengatasi perkembangan persoalan ini.
1Ahmad M Ramli, Cyberlaw Dan HAKI Dalam Sistem Hukum Indonesia, PT.Refika Aditama, Bandung, 2006, hal 83.
Kekerasan seksual merupakan permasalah yang serius yang dihadapi peradaban modern saat ini, karena adanya tindakan kekerasan seksual menunjukkan tidak berfungsinya suatu norma pada diri seseorang (pelaku) yang mengakibatkan dilanggarnya suatu hak asasi dan kepentingan orang lain yang menjadi korbannya.
Bentuk kekerasan seksual diatas disebutkan adanya pelecehan seksual di dalam masyarakat secara umum biasanya menyamakan kekerasan seksual dengan pelecehan seksual dengan suatu tindakan yang sama. Pelecehan seksual dengan kekerasan seksual bisa dikatakan hampir sama, akan tetapi sesungguhnya pelecehan seksual sebenarnya merupakan bagian dari bentuk kekerasan seksual seperti yang disebutkan oleh Komnas Perlindungan Anak dan Komnas Perempuan, namun didalam hukum pidana tidak diperkenallan istilah pelecehan seksual melainkan kekerasan seksual saja yang dibagi menjadi persetubuhan, percabulan, sebab pelecehan seksual merupakan Bahasa yang akrab di masyarakat.2
Persoalan pelecehan seksual terhadap anak hingga dimasukkan dalam kategori kejahatan kemanusiaan yang harus dicegah dan dihapuskan. Eksploitasi seksual terhadap anak ini selain merupakan perbuatan melanggar hukum, melanggar Konvensi Hak Anak (KHA), juga bertentangan dengan norma agama dan budaya masyarakat beradab.
Pelecehan seksual dapat berupa pelecehan verbal, non-verbal atau fisik dan dapat mencakup tindakan-tindakan berikut ini: 3
a. Komentar, gurauan, rayuan atau penghinaan bernada seksual
b. Pertanyaan intrusif tentang kehidupan pribadi atau komentar bernada seksual tentang penampilan, pakaian atau bagian tubuh
2Nurman Syarif, Kekerasan Fisik Dan Seksual (Analisis Terhadap Pasal 5 A Dan C No. 23UU PKDRT Tahun 2004 Ditinjau Dari Perspektif Hukum Islam),Al ADALAH Vol X 4 Juli 2012.
3Suparman Marzuki (et.al), pelecehan seksual, fakultas Hukum universitas islam Indonesia , Yogyakarta,1997, hal 15
c. Undangan untuk melakukan hubungan seks yang tidak diinginkan atau permintaan berkencan secara terus-menerus
d. Menunjukkan gambar-gambar seksual secara eksplisit (misalnya poster, screen saver atau situs internet)
e. Mengirim, meneruskan atau membujuk melalui pesan-pesan bernada seksual (misalnya surat, catatan, email, Twitter atau SMS)
f. Gerakan seksual yang tidak diinginkan, seperti menyentuh, menepuk, mencubit, sengaja menyentuh tubuh orang lain, memeluk, mencium, menatap atau melirik g. Tindakan yang merupakan pelanggaran hukum pidana, seperti penyerangan secara
fisik, menguntit atau menyampaikan cerita cabul
Bentuk-bentuk pelecehan seksual antara lain:
1. Pelecehan seksual verbal adalah bentuk pelecehan Pelecehan seksual yang terjadi secara verbal dapat berupa ucapan ataupun komentar yang mengarah pada topik seksualitas. Perilaku seperti menggoda, menyindir, melempar candaan, bahkan menanyakan hal bersifat seksual terhitung sebagai bentuk pelecehan seksual verbal apabila hal tersebut mampu membuat si korban merasa tidak nyaman.
2. Pelecehan seksual nonverbal yang ditampakkan dari tindakan atau pun gestur seksual yang menimbulkan ketidaknyamanan pada korban. Contoh nyata dari bentuk pelecehan seksual non-verbal ini bisa berupa menggesekkan alat kelamin pada tubuh korban, menunjukkan alat kelamin dan segala bentuk tindakan seksual yang dilakukan pada diri sendiri di hadapan orang lain yang tidak menginginkannya,
mengarahkan pandangan pada bagian tubuh seseorang secara seksual, dan segala bentuk gerak-gerik seksual .
3. Pelecehan seksual secara fisik mungkin merupakan bentuk pelecehan seksual yang paling ekstrem, nih! Pelaku pelecehan seksual fisik akan melakukan kontak fisik secara seksual sekalipun korban tidak menginginkannya.Hal-hal seperti pemerkosaan, meraba-raba tubuh korban tanpa izin, memberikan barang pada
seseorang dengan harapan memperoleh balasan secara seksual, bahkan melakukan tes keperawanan pada seseorang termasuk ke bentuk pelecehan seksual.Tindakan memeluk, mencium, menepuk, dan membelai ternyata juga dikategorikan sebagai bentuk pelecehan seksual fisik, apabila kamu yang mengalami tidak memberikan izin dan merasa tidak nyaman.4
Pelecehan seksual dapat berupa tindakan permintaan, komentar serta gestur seksual yang tidak diinginkan dan dapat terjadi dalam lingkungan apapun. Pelecehan seksual tidak hanya terjadi dalam interaksi tatap muka, tetapi juga dapat ditemukan dalam dunia online ataupun melalui pesan singkat.5
Pelecehan seksual dapat terjadi kepada siapa saja salah satu yang sering menjadi korban pelecehan seksual adalah perempuan dan anak. Yang dimaksud anak dalam pengertian ini adalah anak berdasarkan Pasal 1 ayat (1) UU Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak adalah : “Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) Tahun, termasuk anak yang masih di dalam kandungan.
4Gadis.co.id Tipe pelecehan seksual https://www.gadis.co.id/Ngobrol/3-tipe-pelecehan-seksual-yang- perlu-kamu-ketahui-?p=4 Pada tanggal 2 Februari 2020
5Tirto.id Modus pelecehan seksual disekolah https://tirto.id/modus-modus-pelecehan-seksual-di-sekolah- clpX Pada tanggal 30 januari 2020
Dampak negatif dari perkembangan kemajuan teknologi informatika (TI) yaitu terjadinya kejahatan pornografi anak melalui media cetak dan media internet yang nyatanya telah membawa anak pada masa depan yang suram, yang dapat mengakibatkan rusaknya generasi penerus bangsa, sedangkan perangkat hukum perlindungan yang ada terhadap kasus eksploitasi seksual terhadap anak melalui fasilitas teknologi khususnya masih kurang relevan untuk digunakan sebagai dasar hukum yang tepat dibandingkan dengan akibat yang terjadi baik terhadap kerusakan mental dan psikis yang dialami korban dan keluarganya, maupun pengrusakan dan penghancuran generasi bangsa.
Bentuk kejahatan (cybercrime) karena perkembangan teknologi komunikasi memiliki dampak negatif yang sangat memprihatinkan bagi anak baik bagi mentalnya hingga ke kehidupan sosialnya. salah satunya penyalahgunaan kegunaan internet melalui jejaring sosial atau media sosial online oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab yang melibatkan anak di bawah umur sebagai korban kekerasan, pelecehan dan pengeksploitasian seksual akibat dari kejahatan seksual. Kejahatan seksual ini disebut dengan Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA). Deklarasi dan Agenda Aksi untuk Menentang Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA) merupakan instrumen yang pertama-tama mendefinisikan eksploitasi seksual komersial anak sebagai :
Sebuah pelanggaran mendasar terhadap hak-hak anak. Pelanggaran tersebut terdiri dari kekerasan seksual oleh orang dewasa dan pemberian imbalan dalam bentuk uang tunai atau barang terhadap anak, atau orang ketiga, atau orang-orang lainnya. Anak tersebut diperlakukan sebagai sebuah objek seksual dan sebagai objek komersial.
Eksploitasi seksual komersial anak merupakan sebuah bentuk pemaksaan dan
kekerasan terhadap anak, dan mengarah pada bentuk-bentuk kerja paksa serta perbudakan modern seksual yang nyata.
Terkait Tindak kejahatan eksploitasi seksual terhadap anak semakin marak terjadi melalui media internet dengan modus yang bermacam-macam. Terkait dengan aturan hukum terhadap tindak pidana eksploitasi seksual anak melalui media internet di Indonesia terkandung dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik Pasal 27 ayat (1) yang berbunyi :
setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan.
Terkait dengan tindak pidana eksploitasi seksual komersial pada anak melalui media sosial online ada beberapa peraturan perundang-undangan di Indonesia yang mengatur tentang pertanggungjawaban pidana tindak pidana eksploitasi seksual komersial pada anak di antaranya Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, selanjutnya disebut Undang-undang perlindungan anak. Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 Tentang Pemberatasan Tindak Pidana Perdagangan Orang dan Undang-undang Nomor 44 Tahun 2008 Tentang Pornografi.
Tidak dapat dihindari fakta pesatnya perkembangan teknologi turut serta meningkatkan angka eksploitasi seksual pada anak (ESA). Data yang dirilis per-Januari hingga Juni 2016,
Indonesia menduduki posisi pertama ESA di Asia, denganmengantongi 161 ribu kasus. Bahkan di Tahun 2017 dan 2018 lalu terungkap beberapa kasus besar ESA berjaringan internasional dengan daerah operasional di berbagai daerah di tanah air.6
Sejalan dengan perkembangan teknologi, modus kekerasan seksual terhadap anak pun semakin berkembang, dan sementara mengalami perkembangan yang cukup signifikan adalah child grooming. Child grooming merupakan kekerasan seksual dimana pelaku melancarkan aksinya melalui aplikasi game online. Child grooming adalah istilah yang mengarah kepada kasus pelecehan seksual yang melibatkan anak. Targetnya adalah anak-anak usia 9 hingga 15 tahun. Ada pun alasan kedok kejahatan ini disebut sebagai grooming, lantaran pelakunya sendiri yang dengan bangga menobatkan dirinya sebagai seorang groomer.7
Merujuk pada definisi lembaga internasional Masyarakat untuk Pencegahan Kekejaman terhadap Anak-anak atau National Society for the Prevention of Cruelty to Children (NSPCC), grooming merupakan upaya yang dilakukan seseorang untuk membangun hubungan, kepercayaan, dan hubungan emosional dengan seorang anak atau remaja sehingga mereka dapat memanipulasi, mengeksploitasi, dan melecehkan mereka. Salah satu game online yang digunakan oleh groomer untuk melancarkan aksi pelecehananya adalah game online Hago, biasanya yang menjadi sasaran adalah anak-anak karena untuk menggunakan aplikasi ini identitas termasuk usia dicantumkan atau didaftarkan, dan memungkinkan terjadinya pertukaran nomor telepon atapun Whatsapp, yang kemudian groomer akan membangun komunikasi lewat video call yang pada saat video call ini pelaku dapat mengajak korban untuk melakukan hal-hal yang mengarah kepada asusila, bahkan korban bisa diancam dengan
6Guntoro dan Paramita Utamadi Utamadi, Pelecehan Seksual, Yogyakarta, 2001, hal 45
7Sindo news, Waspada fenomena kejahatan child grooming htps://jatim.sindonews.com./read/13208/1/ waspada- fenomena-kejahatan-chilgrooming-1564830496- Pada 30 Januari 2020
penyebaran video yang telah direkam oleh pelaku saat melakukan pelecehan seksual lewat video call dengan korban dan dapat menyebabkan korban terus melakukannya bersama korban secara online karena takut dipermalukan lewat penyebaran video dan sebagainya oleh pelaku.
Selain game hago, Game online Fortnite juga sangat populer di kalangan anak-anak dan remaja. Game ini memadukan unsur strategi dan hiburan sehingga menyenangkan untuk dimainkan. Di dalam game, pemainnya bisa berinteraksi dengan pemain lain sebagai lawan atau sekutu. Bahkan, untuk menyelesaikan setiap level, pemain harus berstrategi bersama pemain lain. Di dunia, ada sekitar 200 juta orang memainkan game Fortnite sejak dirilis tahun lalu.
Melihat antusiasnya pemain di bawah usia dewasa, predator memanfaatkannya untuk kejahatan.
Mereka membuat akun-akun palsu dan ikut bermain bersama gamer asli. Ketika interaksi dimulai, para penjahat membuat profil calon korban kemudian mulai melakukan kejahatan.
Anak-anak dan remaja memang sasaran utama kejahatan mereka. Di dalam game, untuk menyelesaikan tugas atau level, seseorang kadang membutuhkan nyawa atau senjata.
Kebutuhan ini bisa ditransaksikan secara online. Caranya, pemain meminta bantuan kepada
“teman”. Para predator membuat profil pemain kemudian mencari pemain-pemain muda yang sedang kesulitan menyelesaikan levelnya. Predator menawarkan kebutuhan si Pemain dengan cara barter dengan foto seksi si Pemain. Foto telanjang atau setengah telanjang yang diminta predator harus diposting di media sosial Instagram.8
Selain kasus di atas terdapat juga kasus Child grooming di Surabaya yang telah mendapatkan putusan hukum yaitu kasus yang menimpa TR, yang merupakan seorang narapidana di Surabaya, menggunakan akun palsu untuk mendapatkan foto atau video korbannya. Dalam aksinya, TR mengambil foto salah seorang guru di akun Instagram. Foto
8Popmama predator sex mengintai anak-anak https://www.popmama.com/big-kid/10-12-years- old/sandraratnasari/seram-predator-seks-mengintai-anak-lewat-ga.pada23 Januari 2020
tersebut lalu digunakan untuk membuat akun baru yang mengatasnamakan guru tersebut.
Tersangka melakukan profiling, ibu guru X ini follower-nya di IG ada berapa banyak, yang anak-anak ada berapa banyak. Kemudian, setelah tersangka mendapatkan akun anak, di- follow, sehingga anak ini jadi followers akun palsu, Lewat akun palsu itu, TR meminta akun WhatsApp milik korban. Foto dan video cabul yang diminta tersangka lalu dikirim lewat WhatsApp. Selain itu TR mengancam korban bila tak mengirimkan gambar maka akan memberi nilai jelek di ujian. Ancaman ini membuat korban menuruti permintaan pelaku. Dalam perbuatanya TR dijerat Pasal 82 UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, Pasal 29 UU Nomor 4 Tahun 2008 tentang Pornografi, dan Pasal 45 UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang ITE, dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara serta denda Rp 5 miliar
Markas Besar Polri mencatat ada 236 kasus pelecehan seksual terhadap anak yang terjadi pada Januari hingga Mei 2019.9 50 (Lima Puluh) persen dari keseluruhan kasus yang bisa ditangani tuntas oleh institusi Polri belum secara keseluruhan dapat dituntaskan dikarenakan beberapa penyebab yaitu adata ketimuran yang menganggap tabu untuk melaporkan kejahatan seksual, dan menjadi korban masih dianggap sebagai aib dalam kaitan dengan masa depan anak.
Data kejahatan seksual yang dimiliki Polri pun angkanya sangat mengkawatirkan. Sejak 2015-2018 angkanya terbilang fluktuatif. Di mana pada 2015 ada 300 lebih kasus ini.
Sedangkan tahun ini tercatat 236 kasus. 10 Tingkat ketuntasan kasus kejahatan seksual anak sendiri 50 persen.Polri masih menemui kendala dalam pengungkapan kasus ini secara tuntas.
9https://www.google.com/search?q=kasus+child+grooming&oq=kasus+child+grooming&sourceid=c hrome&ie=UTF-8 Diakses Pada Tanggal 21 April 2020
10 Jawa pos, Hukum kriminal https://www.jawapos.com/nasional/hukum-kriminal/03/08/2019/236-kasus-child- grooming-terjadi-sepanjang-2019/ - Pada 20Januari 2020
Karena para pelaku memanfaat perkembangkan direct massages (DM) atau percakapan privat dengan korbannya.
Dan ini memungkinkan atau memberi peluang berkembangnya kekerasan seksual/pelecehan seksual anak tersebut dapat semakin berkembang dengan berbagai bentuk variasi. Terutama berkembang sejalan dengan berkembangnya teknologi dengan berbagai modus.
Sehingga berdasarkan uraian diatas, maka penulis memilih judul sebagai berikut : Pelecehan seksual terhadap anak dengan bermodus child grooming melalui aplikasi game online:
B. Rumusan Masalah
Yang menjadi permasalahan dalam penulisan ini adalah: Apakah pelecehan seksual dengan bermodus child grooming dapat dipertanggungjawabkan secara hukum pidana.
C. Tujuan Penelitian
Penulisan ini bertujuan untuk:
1. Menganalisis dan membahas pelecehan seksual dengan bermodus child grooming dapat dipertanggungjawabkan secara hukum pidana.
2. Sebagai salah satu persyaratan dalam menyelesaikan studi pada Fakultas Hukum.
D. Kegunaan Penelitian Penelitian ini berguna untuk:
1. Menjelaskan tentang pelecehan seksual bermodus child grooming dapat diertanggungjawabkan secara hukum pidana.
2. Memberikan sumbangan dan pikiran bagi perkembangan hukum kedepan.
E. Kerangka Teori
Pertanggungjawaban pidana mengandung asas kesalahan (asas culpabilitas), yang didasarkan pada keseimbangan monodualistik bahwa asas kesalahan yang didasarkan pada nilai keadilan harus disejajarkan berpasangan dengan asas legalitas yang didasarkan pada nilai kepastian. Walaupun konsep berprinsip bahwa pertanggungjawaban pidana berdasarkan kesalahan, namun dalam beberapa hal tidak menutup kemungkinan adanya pertanggungjawaban pengganti (vicarious liability) dan pertanggungjawaban yang ketat (strict liability). Masalah kesesatan (error) baik kesesatan mengenai keadaannya (error facti) maupun kesesatan mengenai hukumnya sesuai dengan konsep merupakan salah satu alasan pemaaf sehingga pelaku tidak dipidana kecuali kesesatannya itu patut dipersalahkan kepadanya.11
Pertanggungjawaban pidana (criminal responsibility) adalah suatu mekanisme untuk menentukan apakah seseorang terdakwa atau tersangka dipertanggungjawabkan atas suatu tindakan pidana yang terjadi atau tidak. Untuk dapat dipidananya si pelaku, disyaratkan bahwa tindak pidana yang dilakukannya itu memenuhi unsur-unsur yang telah ditentukan dalam Undang-undang Pertanggungjawaban pidana mengandung makna bahwa setiap orang yang melakukan tindak pidana atau melawan hukum, sebagaimana dirumuskan dalam undang- undang, maka orang tersebut patut mempertanggungjawabkan perbuatan sesuai dengan
11 Barda Nawawi Arief, Masalah Penegakan Hukum dan Kebijakan Penanggulangan Kejahatan, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung 2001, hal. 23
kesalahannya. Dengan kata lain orang yang melakukan perbuatan pidana akan mempertanggungjawabkan perbuatan tersebut dengan pidana apabila ia mempunyai kesalahan, seseorang mempunyai kesalahan apabila pada waktu melakukan perbuatan dilihat dari segi masyarakat menunjukan pandangan normatif mengenai kesalahan yang telah dilakukan orang tersebut.12 Perbuatan agar dapat dipertanggungjawabkan secara pidana,harus mengandung kesalahan. Kesalahan tersebut terdiri dari dua jenis yaitu kesengajaan (opzet) dan kelalaian (culpa).
Kesengajaan (opzet) Sesuai teori hukum pidana Indonesia, kesengajaan terdiri dari tiga macam, yaitu sebagai berikut:
a. Kesengajaan yang bersifat tujuan Bahwa dengan kesengajaan yang bersifat tujuan, si pelaku dapat dipertanggungjawabkan dan mudah dapat dimengerti oleh khalayak ramai. Apabila kesengajaan seperti ini ada pada suatu tindak pidana, si pelaku pantas dikenakan hukuman pidana. Karena dengan adanya kesengajaan yang bersifat tujuan ini, berarti si pelaku benar-benar menghendaki mencapai suatu akibat yang menjadi pokok alasan diadakannya ancaman hukuman ini.
b. Kesengajaan secara keinsyafan kepastian Kesengajaan ini ada apabila si pelaku, dengan perbuatannya tidak bertujuan untuk mencapai akibat yang menjadi dasar dari delik, tetapi ia tahu benar bahwa akibat itu pasti akan mengikuti perbuatan itu.
c. Kesengajaan secara keinsyafan kemungkinan kesengajaan ini yang terang-terang tidak disertai bayangan suatu kepastian akan terjadi akibat yang bersangkutan, melainkan hanya dibayangkan suatu kemungkinan belaka akan akibat itu.
Selanjutnya mengenai kealpaan karena merupakan bentuk dari kesalahan yang
12 Moeljatno, Perbuatan Pidana dan Pertanggungjawaban dalam Pidana, Jajasan Badan Pnerbit UGM, Yogjakarta, 1956, hal 41
menghasilkan dapat dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan seseorang yang dilakukannya.13
Kelalaian (culpa) terletak antara sengaja dan kebetulan, bagaimanapun juga culpa dipandang lebih ringan dibanding dengan sengaja, oleh karena itu delik culpa,culpa itu merupakan delik semu (quasideliet) sehingga diadakan pengurangan pidana. Delik culpa mengandung dua macam, yaitu delik kelalaian yang menimbulkan akibat dan yang tidak menimbulkan akibat, tapi yang diancam dengan pidana ialah perbuatan ketidak hati-hatian itu sendiri, perbedaan antara keduanya sangat mudah dipahami yaitu kelalaian yang menimbulkan akibat dengan terjadinya akibat itu maka diciptalah delik kelalaian, bagi yang tidak perlu menimbulkan akibat dengan kelalaian itu sendiri sudah diancam dengan pidana.
Syarat-syarat elemen yang harus ada dalam delik kealpaan yaitu:
1. Tidak mengadakan praduga-praduga sebagaimana diharuskan oleh hukum, adapun hal ini menunjuk kepada terdakwa berpikir bahwa akibat tidak akan terjadi karena perbuatannya, padahal pandangan itu kemudian tidak benar. Kekeliruan terletak pada salah piker/pandang yang seharusnya disingkirkan. Terdakwa sama sekali tidak punya pikiran bahwa akibat yang dilarang mungkin timbul karena perbuatannya.
Kekeliruan terletak pada tidak mempunyai pikiran sama sekali bahwa akibat mungkin akan timbul hal mana sikap berbahaya.
2. Tidak mengadakan penghati-hatian sebagaimana diharuskan oleh hukum, mengenai hal ini menunjuk pada tidak mengadakan penelitian kebijaksanaan, kemahiran/usaha
13 Ibid hal 46
pencegah yang ternyata dalam keadaan yang tertentu/dalam caranya melakukan perbuatan.14
Seseorang akan dipertanggungjawabkan atas tindakan-tindakan tersebut, apabila tindakan tersebut melawan hukum serta tidak ada alasan pembenar atau peniadaan sifat melawan hukum untuk pidana yang dilakukannya. Dilihat dari sudut kemampuan bertanggung jawab maka hanya seseorang yang mampu bertanggung jawab yang dapat dipertanggungjawabkan atas perbuatannya. Tindak pidana jika tidak ada kesalahan adalah merupakan asas pertanggungjawaban pidana, oleh sebab itu dalam hal dipidananya seseorang yang melakukan perbuatan sebagaimana yang telah diancamkan, ini tergantung dari soal apakah dalam melakukan perbuatan ini dia mempunyai kesalahan.
Kemampuan bertanggung jawab merupakan unsur kesalahan, maka untuk membuktikan adanya kesalahan unsur tadi harus dibuktikan lagi. Mengingat hal ini sukar untuk dibuktikan dan memerlukan waktu yang cukup lama, maka unsur kemampuan bertanggung jawab dianggap diam-diam selalu ada karena pada umumnya setiap orang normal bathinnya dan mampu bertanggung jawab, kecuali kalau ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa terdakwa mungkin jiwanya tidak normal.
Dalam hal ini, hakim memerintahkan pemeriksaan yang khusus terhadap keadaan jiwa terdakwa sekalipun tidak diminta oleh pihak terdakwa. Jika hasilnya masih meragukan hakim, itu berarti bahwa kemampuan bertanggung jawab tidak berhenti, sehingga kesalahan tidak ada dan pidana tidak dapat dijatuhkan berdasarkan asas tidak dipidana jika tidak ada kesalahan.
14 Ibid hal 49
Dengan demikian setiap perbuatan dapat dipertanggungjawabkan pidana jika memenuhi unsur-unsur yang telah ditentukan dalam undang-undang. Dan hal ini berlaku juga untuk tindak kejahatan seksual/pelecehan seksual terhadap anak secara khusus dengan modus Child Grooming melalui game online yang jika memenuhi unsur-unsur dalam undang-undang yang telah ditentukan terkaitan pelecehan seksual anak, perlindungan anak maupun undan-undang ITE sesuai dengan bukti-bukti yang diperoleh.
F. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian
Jenis Penulisan yang digunakan adalah Yuridis Normatif. yuridis normatif yaitu penelitian hukum yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka atau data sekunder sebagai bahan dasar untuk diteliti dengan cara mengadakan penelusuran terhadap peraturan- peraturan dan literatur-literatur yang berkaitan dengan permasalahan yang diteliti.15
2. Tipe Penelitian
Penelitian ini tergolong tipe penelitian “Deskriptif – Analistis” selanjutnya akan dapat dideskripsikan yang dilanjutkan dengan menganalisi dan menjelaskan temuan-temuan baik dari data pustaka maupun data temuan dilapangan dalam suatu sistematika, sehingga dengan hasil deskripsi tersebut dapat ditarik beberapa kesimpulan16.
3. Sumber bahan hukum
a. Bahan primer yang diperoleh dari perundang-undangan - Kitab Undang-Undang Hukum Pidana .
15 Soerjono Soekanto & Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif (Suatu Tinjauan Singkat), Rajawali Pers, Jakarta, 2001, hlm. 13- 14
16 Ronny Hanitijo Soemitro, Metodologi Penelitian Hukum, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1985 hal. 15
- Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.
- Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 Tentang Pornografi
- Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak
b. Bahan sekunder yaitu yang diperoleh dari bahan kepustakaan yaitu meliputi sumber- sumber lainnya berupa makalah, artikel-artikel yang dipublikasikan melalui media cetak maupun media elektronik yang erat kaitannya dengan penulisan ini.
4. Teknik Pengumpulan dan Analisa Bahan Hukum
Data yang dikumpul baik dari studi kepustakaan maupun dari penelitian lapangan akan dianalisis secara kualitatif. Analisis deskriptif kualitatif yaitu metode analisis data yang mengelompokkan dan menyeleksi data yang diperoleh dari penelitian lapangan menurut kualitas dan kebenarannya, kemudian dihubungkan dengan teori-teori, asas-asas, dan kaidah-kaidah hukum yang diperoleh dari studi kepustakaan sehingga diperoleh jawaban atas permasalahan yang dirumuskan17.
5. Sistimatika Penulisan
Penulisan ini disususn secara sistematis dan secara beruntun sehingga dapat diperoleh gambaran yang jelas dan terarah. Untuk memudahkan penulis dalam mengkaji dan
17 Soerjono Soekanto & Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif (Suatu Tinjauan Singkat), Rajawali Pers, Jakarta, 2001 hal. 20
menelaah penulisan skripsi ini. Maka perlu untuk mengurai terlebih dahulu sistematika penulisan skripsi ini yang terdiri dari: Bab I: pendahuluan yang menguraikan tentang latar belakang, permasalahan, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, kerangka teoritis, metode penelitian, dan sistematika penulisan. Bab II: merupakan tinjuan pustaka yang terdiri dari:
Pengertian anak dalam Peraturan Perundang-Undangan, Bentuk-bentuk pelecehan seksual, Child grooming dalam proses parenting Bab III: merupakan hasil dan pembahasan yang terdiri dari: Pelecehan seksual terhadap anak, Child grooming sebagai sarana kejahatan terhadap anak, Pertanggungjawaban pidana dalam perbuatan pelecehan seksual terhadap anak dengan modus Child Grooming, Bab IV: merupakan penutup yang terdiri dari kesimpuln dan saran