Namun demikian, Polri juga berhak melaksanakan tindakan kepolisian yang dilakukan secara bertanggung jawab menurut undang-undang yang berlaku untuk mencegah, menghambat, atau menghentikan tindakan anarki atau tindak pidana lain yang mengancam keamanan atau membahayakan harta benda, nyawa, atau kesusilaan. Memantau dan menasihati pelanggar untuk mematuhi hukum yang berlaku dan menjaga ketertiban; Salah satu hukum kolonial yang berlaku dan menjadi pilar penegakan hukum di Indonesia adalah KUHP.
Mencari tahu bagaimana penegakan hukum terhadap petugas polisi yang melakukan kekerasan saat demonstrasi. Temuan penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan dan dapat membantu pemerintah dalam upaya penegakan hukum dalam kasus kekerasan polisi terhadap massa yang berunjuk rasa. Polisi merupakan penegak hukum dan mempunyai tugas yang sangat penting yaitu menegakkan hukum dan menciptakan keamanan dalam negeri.
Sanksi pidana merupakan unsur penting dalam penegakan hukum pidana, sebagai sarana pencegahan dan pengendalian kejahatan. Jika penegakan hukum dilakukan dengan cara seperti ini, tidak hanya akan mencoreng citra penegak hukum, namun juga solidaritas masyarakat. Dalam era globalisasi dimana penegakan hukum dituntut harus berdasarkan pada kerangka hukum yang baik atau baku (good legal system), jika suatu negara melakukan penegakan hukum yang melanggar hak asasi manusia, tentu akan dikritik oleh negara lain bahkan dikucilkan sebagai anggota negara. komunitas global tidak memiliki komitmen terhadap hak asasi manusia.
Diskresi Dalam Penegakan Hukum Pidana
Berdasarkan ketentuan normatif yang mengatur hal tersebut, dapat dikatakan bahwa kewenangan Kepolisian Negara terlalu luas untuk mensyaratkan persyaratan-persyaratan yang harus dimiliki oleh kepolisian, terutama dalam menilai perkara yang sedang dihadapi. Misalnya saja sebelum melakukan penyidikan, pihak kepolisian terlebih dahulu melakukan penyidikan, sebenarnya tindakan penyidikan ini merupakan filter apakah peristiwa yang terjadi dapat diselidiki atau tidak. Terkait hal tersebut, Kadir Husin21 menyatakan bahwa polisi berdasarkan kewenangan yang dimilikinya dapat menilai dan menentukan apakah suatu peristiwa merupakan suatu tindak pidana atau bukan.
Kewenangan yang dimiliki oleh kepolisian tidak dapat diartikan bahwa polisi dapat menggunakan hack tersebut atau kewenangannya berdasarkan kriteria “suka atau tidak”, kewenangan kepolisian atau “diskresi polisi” lebih terasa. Kewenangan memberikan diskresi di lingkungan Polri bukanlah perkara mudah karena bisa saja terjadi konflik kepentingan antara hukum dan masyarakat. Hal ini sejalan dengan pendapat Alvina Treut Burrow 22, kebijaksanaan adalah “kemampuan untuk memilih secara bijak atau menilai diri sendiri”.
Sedangkan menurut Thomas Aaron 23, diskresi adalah “kekuasaan yang diberikan secara superior oleh hukum untuk bertindak berdasarkan pertimbangan atau hati nurani yang mendasar, dan penggunaannya lebih merupakan gagasan moralitas daripada hukum”, dari definisi Harun, penekanannya adalah pada agen. karena tekanan disini faktor kewenangannya adalah undang-undang yang dilaksanakan secara bertanggung jawab oleh seseorang yang mengutamakan pertimbangan moral dibandingkan peraturan/undang-undang. Permasalahan penggunaan diskresi sebagaimana diuraikan di atas juga dialami oleh kepolisian dalam menjalankan tugasnya di Amerika Serikat. Polisi menjalankan tugasnya dalam kerangka negara yang demokratis, di satu sisi harus menjamin “ketertiban”, dan di sisi lain harus melaksanakannya dalam kerangka “rule of law”.
Diterimanya kedua gagasan tersebut, yaitu hukum dan ketertiban, menimbulkan komplikasi dalam pelaksanaan penegakan hukum oleh kepolisian. Hukum dan ketertiban mempunyai kedudukan yang kontradiktif karena hukum memuat pembatasan proses kerja untuk mencapai ketertiban. Jika ia melakukan penangkapan dan memutuskan untuk memproses tersangka, maka petugas polisi merasa tersangka telah melakukan tindak pidana seperti yang dituduhkan.
Dia percaya bahwa sebagai spesialis kejahatan dia memiliki kemampuan untuk membedakan antara yang bersalah dan yang tidak bersalah." 25.
Pengertian Unjuk Rasa
Pertanyaan tentang asal usul hak asasi manusia telah menjadi perdebatan penting sejak lama dalam sejarah konsep hak asasi manusia. Oleh karena itu, jika manusia ingin mencapai kehidupan yang bermartabat, maka ia harus memposisikan hak asasi manusia dengan memandangnya dari sudut pandang hakikat manusia yang hakiki. Lahirnya Magna Carta (1215) diawali dengan adanya keterpaksaan Raja John Lockland untuk mengakui hak asasi manusia, antara lain: kebebasan seseorang tidak bebas untuk disandera atau dirampas.
Majelis merekomendasikan agar semua negara anggota dan seluruh masyarakat melakukan mobilisasi untuk menjamin pengakuan dan penghormatan yang efektif terhadap hak asasi manusia dan kebebasan yang dijelaskan dalam Deklarasi ini. Dalam Pasal 30 yang terkandung di dalamnya, terdapat pengakuan terhadap hak hidup, kebebasan dan keamanan pribadi serta hak untuk bebas dari perbudakan, perkawinan, agama, hak atas perlindungan perempuan (gender), lingkungan hidup dan sebagainya. . 28Muladi, “Hak Asasi Manusia; Esensi, Konsep dan Implikasinya Dalam Perspektif Hukum dan Masyarakat”, PT, Refika Aditama, Bandung, 2009, hal. 228.
Hak-hak khusus yang diberikan oleh undang-undang antara lain: hak seseorang untuk menjadi pegawai negeri sipil atau ABRI, hak untuk memilih dan dipilih dalam pemilu, hak untuk memeluk agama, hak untuk beribadah, serta untuk menjalankan agama dan pilihan. dan keyakinan. Hak atas pensiun dan jaminan hari tua, hak atas santunan asuransi kecelakaan, hak atas pendidikan yang layak, hak atas upah dalam hubungan kerja, dan lain-lain.29. Dalam kehidupan bernegara, keberadaan struktur hak pribadi dan hak konstitusional bergantung pada kuat lemahnya hak sosial yang melingkupinya.
Di Indonesia, ketentuan terkait hak asasi manusia tercantum dalam pembukaan dan sejumlah pasal dalam naskah asli UUD 1945 (yang saat ini telah mengalami empat kali amandemen): Pembukaan UUD, Pasal 27 ayat (1), Pasal 27 , ayat (2). ), Pasal 28, Pasal 29 Ayat (1), Pasal 29 Ayat (2), Pasal 30, Pasal 31, Pasal 32, Pasal 33, Pasal 34, dibandingkan dengan undang-undang dasar lain yang telah berlaku, UUD ini relatif lebih sedikit dan peraturan umum mengenai hak asasi manusia. Amandemen Konstitusi tahap kedua memasukkan banyak kata-kata yang berkaitan dengan hak asasi manusia sebagaimana tercantum dalam pasal-pasal amandemen, termasuk 18B(2), Pasal 27 dan Pasal 28A hingga 28I. Rekomendasi dalam pasal-pasal baru dalam amandemen tersebut dengan jelas menyatakan bahwa hal-hal tersebut adalah hak asasi manusia. tidak hanya hak asasi manusia, tetapi juga kewajiban mendasar.
Selain pembentukan kementerian khusus yang menangani urusan perempuan di kabinet, yaitu Menteri Negara Peran Perempuan sejak beberapa tahun terakhir sebagai upaya implementasi konsep hak asasi manusia, pemerintah juga telah meloloskan beberapa hal. peraturan perundang-undangan seperti: Undang-undang Nomor 5 Tahun 1998 tentang gratifikasi konvensi anti penyiksaan Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.
Demonstrasi-demonstrasi yang terjadi akhir-akhir ini seringkali diiringi dengan perilaku yang tidak bertanggung jawab, yaitu perusakan gedung-gedung publik, yang tentunya bertentangan dengan tujuan unjuk rasa atau unjuk rasa itu sendiri. Demonstrasi seringkali berubah menjadi tindakan anarkis dan melanggar tatanan sosial yang ada di masyarakat. Sehubungan dengan kejadian tersebut, pemerintah mengeluarkan UU No. 9 Tahun 1998 tentang kebebasan berpendapat di muka umum.
Meski tidak sepenuhnya mempengaruhi prosedur dan pelaksanaan protes itu sendiri, undang-undang ini memberikan sedikit harapan bahwa protes di masa depan tidak selalu bernuansa anarki. Dalam undang-undang ini, sesuai dengan ketentuan Pasal 1, yang dimaksud dengan kebebasan berekspresi adalah hak setiap warga negara untuk menyatakan pemikirannya secara lisan, tertulis, dan lain-lain secara bebas dan bertanggung jawab sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Demonstrasi atau demonstrasi adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh seseorang atau lebih untuk mengungkapkan pikirannya secara lisan, tertulis, dan lain-lain secara demonstratif di muka umum.37. Tujuan pengaturan mengenai kebebasan berpendapat di muka umum sebagaimana diatur dalam Pasal 4 Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998 adalah sebagai berikut.
Mewujudkan kebebasan yang bertanggung jawab sebagai salah satu implementasi hak asasi manusia sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945. Tugas dan kewajiban pejabat pemerintah dalam hal ini Kepolisian Negara Republik Indonesia adalah melindungi hak asasi manusia; menghormati asas legalitas; menghormati asas praduga tak bersalah; dan memberikan rasa aman dalam menyampaikan pendapat di muka umum.40. Dengan demikian Polri mempunyai wilayah hukum diseluruh pelosok tanah air, dimulai dari Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia yang mempunyai wilayah hukum meliputi seluruh wilayah Negara Indonesia, Kepolisian Daerah yang dalam hal ini adalah Kepolisian Negara Republik Indonesia. biasa disebut POLDA yang wilayah hukumnya merupakan provinsi di Indonesia, Kepolisian Kota yang biasa disebut POLRESTA yang wilayah hukumnya di wilayah perkotaan provinsi, kemudian ada Kepolisian Resor yang biasa disebut POLRES yang wilayah hukumnya di suatu kabupaten, dan terakhir Polisi Sektor yang biasa disebut POLSEK yang mempunyai wilayah hukum kecamatan.
Tugas pokok polisi sesuai dengan Pasal 13 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002. Jika dikaitkan dengan Undang-undang Nomor 9 Tahun 1998 dijelaskan bahwa polisi wajib melakukan aksi dengan tindakan pengawalan dan sebelum pengunjuk rasa melakukan aksinya. Tindakan Untuk menyampaikan aspirasinya, mereka wajib memberitahukan terlebih dahulu kepada pihak yang berwenang. Dalam hal ini kepolisian setempat memperhatikan jangkauan kegiatan demonstrasi, titik awal berkumpul, jumlah pendemo, koordinator pendemo, sarana dan prasarana pendukung aksi, tujuan yang dituju, termasuk bila perlu pelaporan siapa yang akan memberikan materi pada saat aksi. demonstrasi tersebut. Seiring dengan pertumbuhan penduduk yang semakin pesat, diikuti dengan pesatnya kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka Polri harus mampu bergerak ke arah yang lebih maju, dalam hal ini menjadi kepolisian yang lebih modern yang mengutamakan kompetensi dan keterampilan. keahlian, bukan sekadar kekuatan otot. Apalagi dalam melayani proses demonstrasi, Polri harus dituntut bersikap manusiawi, bukan arogan. Oleh karena itu, aturan main yang ditetapkan dalam Tata Tertib harus selalu dipahami dan ditaati oleh anggota Polri. Polri di lokasi selama bertugas.
Dalam setiap demonstrasi yang terjadi secara anarki, yang harus menjadi perhatian utama polisi adalah menjaga ketertiban umum, menjaga keselamatan pejabat dan warga negara, serta tidak merusak fasilitas vital yang menjadi sasaran amukan para pengunjuk rasa. . Hal-hal inilah yang harus diperhatikan dan menjadi tujuan utama terselenggaranya pelayanan dan keamanan pada saat unjuk rasa. Kreativitas aparat penegak hukum dalam menafsirkan hukum tidak akan berhenti pada “mengekspresikan hukum”, namun secara sadar memanfaatkannya untuk mencapai tujuan kemanusiaan. Secara sadar menggunakan hukum sebagai alat untuk mencapai tujuan kemanusiaan berarti hukum harus sensitif dan akuntabel terhadap masyarakat. persyaratan 48.
UU Kepolisian lebih mendukung model kerja kepolisian yang presentasi dibandingkan dengan model kerja yang represif, dengan menyertakan penghormatan terhadap hak asasi manusia, yang tentunya harus disosialisasikan secara sistematis oleh Polri.
Metode Penelitian 1. Metode Pendekatan
Bahan Hukum Sekunder, yaitu bahan-bahan yang berkaitan erat dengan bahan hukum primer, yang dapat membantu menganalisis bahan hukum primer, baik berupa buku teks, dokumen, karya ilmiah dari kalangan hukum maupun hasil penyelidikan lembaga-lembaga terkait yang berkaitan dengan pokok bahasan yang diteliti. dalam penelitian. Bahan hukum tersier adalah bahan yang memberikan informasi mengenai bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder seperti majalah, surat kabar, internet dan lain-lain.