1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki Kawasan pesisir yang sangat luas dengan garis tepi laut menggapai sepanjang 81. 000 km. Indonesia pula mempunyai kawasan pesisir yang terdiri dari berbagai ekosistem pendukung salah satunya hutan mangrove yang mempunyai nilai tinggi.Pemanasan global saat ini menjadi isu lingkungan yang utama karena mempunyai dampak yang sangat besar bagi dunia dan kehidupan mahluk hidup yang menghuninya, yakni perubahan iklim dunia dan kenaikan permukaan laut. Peningkatan konsentrasi karbon dioksida diatmosfer merupakan salah satu penyebab terbesar terjadinya pemanasan global (Sunu,2001).
Ekosistem mangrove mempunyai keterkaitan erat terhadap perubahan iklim sebagai dampak dari pemanasan global. Mangrove turut serta dalam mengendalikan perubahan iklim dengan berperan sebagai paru-paru dunia melalui penyerapan dan penyimpanan karbon biru (blue carbon) (Sidik, 2019). Menurut Bengen (2002) Hutan mangrove ialah jenis hutan yang hidup di tepi laut ataupun muara sungai yang dipengaruhi oleh pasang- surut air laut seringkali juga disebut sebagai hutan payau, ataupun hutan mangrove. Hutan mangrove ialah sesuatu komunitas vegetasi tepi laut tropis yang didominasi oleh bermacam tipe tumbuhan mangrove yang dapat berkembang serta tumbuh di wilayah pasang surut tepi laut yang berlumpur. Hutan mangrove merupakan jenis hutan tropika yang khas
berkembang di tepi laut maupun muara sungai yang terbawa oleh pasang surut air laut.
Mangrove memiliki potensi yang relatif besar bagi masyarakat, khususnya masyarakat yang tinggal di daerah pesisir antara lain sebagai penyedia keperluan rumah tangga seperti bahan bangunan, kayu bakar dan arang. Selain itu mangrove juga berperan dalam keperluan industi seperti bahan baku kertas, bahan baku penyamak kulit dan juga sebagai bahan baku kayu lapis (Satari, Cholik dan Naamin 1996; Noor et al,2006).
Pemanfaatan mangrove tersebut sampai saat ini masih dipergunakan sebagai penunjang perekonomian masyarakat, hal ini dapat dilihat di beberapa provinsi yang memiliki jumlah ekosistem mangrove. Di wilayah Provinsi Maluku Utara dan di Provinsi Sulawesi Selatan, bahwa bagian jenis mangrove yaitu buah, batang, akar dan daun digunakan sebagai bahan pembuatan obat-obatan yang dapat menyembuhkan suatu penyakit (Abubakar, 2011).
Di daerah Papua masyarakat memanfaatkan kayu pohon mangrove sebagai tempat ekowisata dan untuk penyangga bangunan, seperti membangun rumah atau gereja. Kayu mangrove juga dapat memiliki nilai tambah ketika diproduksi dan diolah lagi dalam skala industri. Seperti dijadikan sebagai bahan bakar untuk musim dingin untuk penghangat yang nantinya akan diekspor ke luar negeri.
Sementara di wilayah lainnya seperti di daerah Mangunharjo, Semarang para petani memanfaatkan mangrove sebagai produk olahan UMKM seperti pembuatan makanan, sirup, hingga pewarna batik (Purwnati, 2016).
Adapun pemanfaatan hutan mangrove di derah Kalimantan khususnya di Kecamatan Jorong, masyarakat memanfaatkan mangrove untuk dijadikan ekosistem esensial, sebagian menjadi wisata alam, sebagian dapat menjadi high conservation value, dan sebagian dapat dijadikan sebagai kawasan konservasi biota laut dan bekantan, tidak hanya sekedar aspirasi masyarakat untuk ekowisata dengan
tandensi ekonomi pribadi atau kelompok tertentu. Strategi yang diterapkan berbeda pada DAS Sabuhur yang tidak ada kawasan sawit maka pengelolaan lebih terfokus untuk pemberdayaan masyarakat dengan cara mendukung kegiatan perikanan tetapi tetap mempertahankan pelestarian hutan mangrovenya (Fithria, 2021).
Tabel 1.1 Jumlah Luas Ekosistem Mangrove di Indonesia
No Nama Nilai / Hektare (Ha)
1 Papua 1.629.975
2 Sumatera 892.835
3 Kalimantan 630.913
4 Maluku 208.239
5 Jawa 119.327
6 Sulawesi 115.560
7 Nusa Tenggara 30.260
8 Bali 1.894
Sumber: Databoks 2021
Meningkatnya pemanfaatan hutan mangrove yang dilakukan masyarakat dengan sengaja tersebut menimbulkan dampak terhadap kerusakan ekosistem mangrove seperti menyebabkan peningkatan laju intrusi air laut ke arah daratan.
Alih fungsi areal hutan mangrove menjadi daerah pertambakan dapat menyebabkan meningkatnya masa genangan air sehingga menjadi tempat yang baik untuk berkembangbiaknya populasi nyamuk sehingga menimbulkan penyakit malaria yang timbul akibat tumbuh dan berkembangnya nyamuk akan berakibat kepada masyarakat sekitar.
Hal ini sejalan dengan penelitian (Fuad Anugra, 2014). Yang mengatakan bahwa di Desa Malakosa Masyararakat memanfaatkan hutan mangrove sebagai pembuatan tambak yang melampaui batas daya dukung tanpa melakukan rehabilitasi sehingga menyebabkan terjadinya degradasi ekosistem hutan mangrove. Padahal Masyarakat sudah mengetahui dan memahami manfaat hutan mangrove, meskipun masih ada sebagian masyarakat yang tetap menebang pohon mangrove untuk kayu bakar karena keadaan ekonomi (ketidakmampuan membeli minyak tanah), dan kemampuan mendapatkan kayu bakar dari hutan mangrove dengan memanfaatkannya. sangat mudah karena dekat dengan pemukiman.
Berdasarkan UU RI Nomor 73 Tahun 2012 Pasal 1 (ayat 1 dan ayat 3) tentang peraturan Presiden Strategi Nasional Pengelolaan Ekosistem Mangrove bahwa: Strategi Nasional Pengelolaan Ekosistem Mangrove yang selanjutnya disingkat SNPEM adalah upaya dalam bentuk kebijakan dan program untuk mewujudkan pengelolaan ekosistem mangrove lestari dan masyarakat sejahtera berkelanjutan berdasarkan sumber daya yang tersedia sebagai bagian integral dari
sistem perencanaan pembangunan nasional. Pengelolaan ekosistem mangrove berkelanjutan adalah semua upaya perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan lestari melalui proses terintegrasi untuk mencapai keberlanjutan fungsi-fungsi ekosistem mangrove bagi kesejahteraan masyarakat.
Di Provinsi Kepulauan Riau juga memiliki potensi ekowisata mangrove, seperti di Tanjungpinang, Bintan hingga Batam. Hutan mangrove juga terancam penebangan pembuatan arang maupun penimbunan untuk kepentingan pembangunan. Menurut statistik Dinas Kelautan dan Perikanan Pemerintah Provinsi Kepri total luas hutan mangrove di kawasan perbatasan saat ini melebihi 67.471 hektare.
Kerusakan hutan mangrove per tahun di Kepulauan Riau termasuk Batam, Bintan dan Tanjungpinang mencapai 40 persen. Pada umumnya dilakukan oleh pemerintah, pengusaha dan masyarakat untuk kepentingan kegiatan ekonomi. Aktivis pemerhati lingkungan ini juga menyoroti terjadinya pembabatan, penimbunan hutan mangrove, dan reklamasi pantai di Kota Batam telah masuk pada zona mengkhawatirkan dan mengkritisi pihak yang berwenang dibidang lingkungan yang kurang peduli terhadap kelangsungan hutan mengrove termasuk adanya indikasi pembiaran pada pembabatan hutan mangrove.
Selain itu, kawasan pesisir Kabupaten Lingga juga kaya akan komunitas mangrove dengan rata-rata kerapatan pohon mangrove keseluruhan, yaitu 2541.89
± 1393.04 pohon/ha. Sehingga para oknum-oknum pengusaha dapur arang memanfaatkan kelestarian hutan mangrove tersebut untuk produksi dapur arang,
selain itu dengan adanya ketersediaan peluang mata pencaharian bagi masyarakat juga menjadi pendukung agar dapur arang tersebut dapat beroperasi.
Berdasarkan, (Kompas.com,2021) Sejarah dapur arang sendiri pertama kali berdiri di daerah Kepulauan Riau, tepatnya di dapur 12 Kota Batam Pada tahun 1930, ada seorang Tionghoa yang memulai usaha arang dan bekerja sama dengan orang-orang melayu yang sedang mencari kayu mangrove untuk pembuatan arang. Kayu Arang tersebut menjadi salah satu komoditas yang dijual di Singapura, diolah bernilai ekonomis tinggi dan sangat laku di Singapura.
Penjualan yang sudah berlangsung sejak zaman penjajahan Belanda. Arang digunakan oleh orang Singapura sebagai bahan bakar untuk memasak. Karena pada tahun 1930 Kota Batam masih mampu memenuhi permintaan Singapura dalam memenuhi kebutuhan akan bahan bakar memasak, sehingga seiring berjalannya waktu mangrove yang di Kota Batam menjadi berkurang akibat dari permintaan singapura tersebut dan akhirnya pada tahun 1970 Kota Batam meminta bantuan kepada Kabupaten Lingga untuk membantu mengeskpor bahan bakar berupa arang. Karena Batam mengetahui bahwa Kabupaten Lingga memiliki potensi mangrove yang bisa dimanfaatkan.
Tabel 1.2 Tipe-tipe hutan yang dapat ditemukan di pulau Singkep 2020
No Landuse Luas (Ha)
1 Hutan primer 5.380
2 Hutan dataran tinggi 545
3 Hutan dataran rendah 62.800
4 Hutan mangrove 1.901
5 Tegelan 1.530
6 Semak belukar 3.711
7 Pemukiman 600
8 Lahan terbuka 1.000
Luas pulau Singkep 77.696 Sumber: Dinas Pertanian dan Kehutanan Kab. Lingga (telah di olah kembali).
Hal ini yang menimbulkan terjadinya eksploitasi secara besar-besaran karena banyaknya permintaan dari luar dan masyarakat di Kabupaten Lingga, karena masyarakat sangat bergantung kepada aktivitas produksi dapur arang sebagai pemenuhan kebutuhan hidup dan kebutuhan akan bahan bakar memasak. Adapun dampak yang ditimbulkan dari kerusakan hutan mangrove yang di kabupaten Lingga yaitu mengakibatkan sering terjadinya banjir dan rusaknya biota laut yang mengakibatkan berkurangnya jumlah tangkapan nelayan.
Presentase kerusakan kawasan hutan mangrove di Kabupaten Lingga dari tahun 2018 sampai 2022.
Tabel 1.3 Presentase Kerusakan Hutan Mangrove di Kabupaten Lingga
No Indikator Tempat Satuan Persen
Presentase Kerusakan
Hutan Mangrove
Marok Kecil
2018 2019 2020 2021 2022
4,57 4,10 4,56 4,09 4,56
Marok Tua
2018 2019 2020 2021 2022
4,21 3,74 4,20 3,73 4,20
Mamut
2018 2019 2020 2021 2022
4,11 3,64 4,10 3,63 4,10 Sumber: Dinas Pertanian dan Kehutanan Kab.Lingga.
Dari pembahasan di atas mengenai beberapa wilayah yang terdapat dapur arang, peneliti memfokuskan penelitian di Desa Kreewing Marok Kecil, karena
dapur arang yang ada di Desa Kreewing Marok Kecil sudah ada sejak tahun 1970an. Dimana masyarakat masih memanfaatkan arang dari mangrove sebagai bahan bakar memasak dan sebagai mata pencaharian masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidup. Adapun jenis mangrove yang digunakan masyarakat untuk dijadikan arang yaitu Rhizophora apiculato (Bakau minyak), Rhizophora mucronato (Bakau kurap), Rhizophora stylosa (Bakau kecil). Sehingga berdirinya dapur arang di desa marok kecil membuat masyarakat ketergantungan akan keberadaan dapur arang.
Gambar 1.1 Dapur yang digunakan masyarakat untuk memasak
Sumber: Observasi lapangan 2023
Dapur arang di Desa Kreewing Marok Kecil sudah berdiri sejak tahun 1970an, menurut informasi yang didapat oleh peneliti dari RT setempat bahwa dapur arang di Desa Kreewing Marok Kecil berjumlah 7 dapur, yang memanfaatkan mangrove murni untuk di jadikan arang sebagai bahan bakar yang nantinya akan di ekspor. Selain menebang mangrove secara terus menerus, pihak dapur arang juga memberikan bibit mangrove pada tahun 2017 untuk di tanam
kembali agar mangrove yang tetap terjaga kelestariannya dan memberikan upah kepada para penanam bibit tersebut. Sebagian masyarakat juga diperbolehkan bekerja di dapur arang tanpa membatasi umur, karna ketentuan tersebut membuat masyarakat memiliki ikatan dengan dapur arang.
Sebelum adanya dapur arang masyarakat di Desa Kreewing Marok Kecil banyak bermata pencaharian sebagai nelayan, karena pada saat itu penghasilan yang didapat cukup memenuhi kebutuhan masyarakat. Namun sejak adanya dapur arang penghasilan yang didapat oleh nelayan menjadi berkurang, hal ini sebabkan oleh adanya penebangan mangrove secara besar-besaran yang membuat ekositem laut berubah seperti berkurangnya biota laut seperti ikan, udang dan kepiting.
Sehingga masyarakat banyak beralih bekerja di dapur arang karena penghasilan yang didapat lebih tinggi di bandingkan bekerja sebagai nelayan.
Masyarakat Desa juga menjadikan sisa ekspor yang di produksi oleh dapur arang sebagai pemenuhan kebutuhan akan bahan bakar memasak. Dikarenakan pada Desa Kreewing Marok Kecil sendiri lebih dominan memilih memanfaatkan sumber bahan bakar berupa arang dibandingkan dengan penggunaan gas LPG karenakan adanya keterbatasan pasokan gas LPG yang sulit untuk dipenuhi, Hal inilah yang membuat aktivitas pada dapur arang terus berjalan.
Ketergantungan masyarakat akan mangrove tersebut dikarenakan mangrove memiliki kualitas yang bagus sehingga dengan bergantungnya kepada hutan mangrove maka secara langsung bisa membantu ekonomi masyarakat sekitar hutan mangrove karena mereka bisa menjual kayu mangrove kepada pihak dapur arang . Selain itu, masyarakat hanya bisa memanfaatkan mangrove karena
ketersediaan sumber daya alam yang ada di Desa Kreewing Marok Kecil berdominan hutan mangrove sehingga memunculkan potensi pemanfaatan dan pengeksploitasian terhadap kayu mangrove. Padahal kelestarian ekosistem hutan mangrove mutlak harus tetap dipelihara sebagai satu-satunya cara untuk mempertahankan peran, fungsi, serta keseimbangan ekosistem kehidupan disekitaran kawasan pesisir.
Produksi arang pada dapur arang di Desa Kreewing Marok Kecil berjumlah lebih kurang 1 ton, yang dimana ini bisa dipengaruhi oleh jumlah persediaan kayu mangrove. Kisaran harga pada penjualan arang yang dipatok oleh dapur arang Desa Kreewing Marok Kecil Singkep Selatan, Kabupaten Lingga senilai Rp:150.000.00/karung, harga penjual tersebut ditetapkan untuk penjualan keluar daerah atau ekspor. Sedangkan nilai patokan harga jual Rp: 70.000.00/karung diperuntukkan khusus untuk masyarakat Desa Kreewing Marok Kecil.
Pemanfaaatan dalam ketergantungan masyarakat terhadap hutan mangrove tidak hanya berdampak pada keberadaan hutan mangrove, tetapi berdampak pula pada kelestarian keseluruhan ekosistem yang terdapat di kawasan pesisir tersebut.
Upaya masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidup seperti menjadikan mangrove sebagai bahan baku pembuatan arang sebagai pemenuhan kebutuhan akan bahan bakar memasak, sehingga hal tersebut dapat menjadi tekanan bagi kelangsungan ekosistem mangrove di Desa Kreewing Marok Kecil kecamatan Singkep Selatan Kabupaten Lingga.
Berdasarkan latar belakang diatas pemikiran dan gejala tersebut, maka akan ditarik suatu fokus penelitian yang berjudul. Antroposentrisme Dan
Ketergantungan Masyarakat Terhadap Mangrove Di Desa Kreewing Marok Kecil Kecamatan Singkep Selatan Kabupaten Lingga.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan tersebut, maka yang menjadi permasalahan dalam peneliti ini adalah Bagaimana Antroposentrisme Dan Ketergantungan Masyarakat Terhadap mangrove Di Desa Kreewing Marok Kecil Kecamatan Singkep Selatan Kabupaten Lingga?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, Adapun tujuan penelitian yang akan dilakukan untuk mengetahui Bagaimana Antroposentrisme Dan Ketergantungan Masyarakat Terhadap mangrove Di Desa Kreewing Marok Kecil Kecamatan Singkep Selatan Kabupaten Lingga.
1.4 Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian diatas, penelitian ini akan memberikan manfaat bagi pembaca. Manfaat dalam penelitian terbagi dua yaitu:
1.4.1 Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan pengetahuan dan bahan pemikiran tentang pentingnya menjaga kelestarian mangrove bagi ekosistem dan dapat menjadi pengembangan ilmu bagi peneliti selanjutnya dan menambah wawasan kepada para pembaca.
1.4.2 Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna menjadi bahan kajian untuk peneliti selanjutnya dan hasil penelitian dapat memberikan sumbangan bagi masyarakat dan pemerintah untuk mengetahui permasalahan yang terjadi di kehidupan masyarakat Desa Marok Kecil agar dapat memberikan upaya dalam menjaga kelestarian mangrove.