BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Remaja adalah mereka yang mengalami masa transisi (peralihan) dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa(1).Batas usia remaja adalah antara 10-19 tahun dan belum kawin. Remaja di bagi menjadi 3 yaitu , remaja awal, remaja tengah dan remaja akhir(1).Remaja Awal (early adolescence) tingkatan usia remaja yang pertama adalah remaja awal. Pada tahap ini, remaja berada pada rentang usia 12 hingga 15 tahun(2).
Secara global, jumlah remaja (10-24 tahun) sebesar 25 persen atau 1,8 miliar dari penduduk dunia (2). Hasil sensus penduduk menunjukan bahwa secara nasional jumlah remaja mencapai 64 juta atau 27,6 persen dari total penduduk Indonesia. Permasalahan lain juga menunjukan bahwa remaja Indonesia semakin terlibat dalam penyalahgunaan NAPZA (Narkotika,Psikotropika Dan Zat Adiktif Lainnya). Data Badan Narkotika Nasional (BNN) menunjukan bahwa pada 2017 jumlah pengguna NAPZA di kalangan remaja mencapai 3,6 juta orang, kemudian meningkat 3,8 juta orang pada 2018. Apabila tidak dilakukan upaya pncegahan,jumlahnya akan mencapai 5 juta orang pada tahun 2016(3).
Menurut WHO (World Health Organization) pengguna NAPZA didunia mencapai 190 juta orang. Sementara penggunaan NAPZA di indonesia cenderung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Prevalensi penyalahgunaan NAPZA menurut BNN dan Puslitkest UI (Universitas Indonesia) tahun 2015-2016 terjadi peningkatan yaitu 1,99% dari jumlah penduduk 2,21% dari jumlah penduduk, dan 2,25% dari jumlah penduduk. Tahun 2017 di proyeksikan naik
menjadi 2,8% ( 5-6 juta jiwa ). Begitu juga menurut Efendy ( 2015 ) bahwa kasus penyalahgunaan NAPZA di indonesia meningkat rata-rata 28,8% per tahun. Di Indonesia di prediksi terdapat sekitar 1.365.000 kasus penyalahgunaan NAPZA aktif dan data perkiraan estimasi terakhir menyebutkan bahwa di Indonesia mencapai 5.000.000 jiwa. Prevalensi penyalahgunaan NAPZA di Jawa Barat tahun 2017 mencapai 1,94% dari jumlah penduduk yaitu 3.296.900 jiwa dan Jawa Barat termasuk peringkat ke-11 di Indonesia(3).
Berdasarkan data Satuan Reserse Narkoba polrestabes Bandung, kasus penyalahgunaan NAPZA dikota bandung selama tiga tahun terakhir, dari tahun 2016 sampai tanggal 2018 mencapai 1783 kasus. Kasus penyalahgunaan NAPZA di lingkungan sekolah dasar (SD) mencapai 20 kasus, di kota Bandung. Studi pendahuluan ke SD yang di peroleh informasi ada sejumlah siswa yang menggunakan NAPZA (merokok, alkohol dan ngelem) di sekolah tersebut.
Berdasarkan studi literatur yang dilakukan upaya yang dilakukan oleh sekolah atau SD yaitu dengan memberikan pelajaran tentang apa itu NAPZA dan apa dampak NAPZA bagi kesehatan khususnya bagi remaja serta ada penyuluhan dari institusi lain serta ada pemeriksaan Kesehatan dari BNN kepada siswa SD(3).
Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang di lakukan oleh peneliti di SD YB Bandung melalui wawancara dan observasi awal dengan guru bimbingan dan konseling pada tanggal 25 Maret 2019. Hasil wawancara dengan guru bimbingan dan konseling yang berinisial HN menyatakan bahwa adanya siswa yang terlibat dalam kasus penyalahgunaan NAPZA dan peneliti juga melakukan wawancara kepada 2 orang siswa yang di ciri-cirinya mencurigakan.
Kemudian hasil observasi di lapangan peneliti mendapat kan menyimpulkan bahwa siswa yang berinisial AD menunjukkan sikap dan perilaku kurang disiplin, suka membolos, begadang, mudah tersinggung dan sulit berkonsentrasi. Sementara siswa AN menunjukkan sikap dan
perilaku kecenderungan berbohong, prestasi di sekolah menurun, malas belajar, tidak mengerjakan tugas sekolah, mengantuk dikelas, kadang tidak pulang tanpa ijin, suka bengong atau linglung. Penentuan dua siswa sebagai kasus dalam penelitian ini berdasarkan pertimbangan: pertama, subyek tergolong masih terlibat dalam penyalahgunaan NAPZA; kedua, subyek bersedia dan mempunyai waktu memadai untuk dimintai informasi; ketiga, subyek bersedia memberikan informasi yang dibutuhkan selama penelitian; keempat, subyek memiliki prestasi yang sangat rendah. Peran guru pembimbing sangat menentukan dalam upaya pencegahan penyalahgunaan NAPZA di sekolah atau meminimalkan faktor penyebab terjangkitnya NAPZA tersebut.Keterlibatan remaja dalam penggunaan NAPZA menjadi momok penting di kalangan masyarakat, bangsa dan Negara karena pada dasarnya remaja merupakan ujung tombak bagi perkembangan dan kemajuan bangsa dan Negara(4).
Penyalahgunaan NAPZA adalah pemakaian obat secara terus-menerus atau sekali-sekali secara berlebihan,serta tidak menurut petunjuk dokter. Letak Indonesia yang strategis serta geografis dengan ribuan kepulauan menyebabkan Indonesia sebagai jalur perdagangan NAPZA.
Walaupun demikian, penyalahgunaan NAPZA bukan hanya masalah di Indonesia saja, tetapi merupakan masalah global yang perlu dihadapi bersama(3).
Faktor penyebab remaja menggunakan NAPZA adalah kurang menghayati nilai-nilai agama, kurang percaya diri, pribadi yang mudah kecewa, sedih, dan cemas, keinginan untuk di terima dalam kelompok pergaulan, individu mempunyai keinginan untuk mencoba-coba, individu yang merasa bosan, individu yang mempunyai identitas diri yang kabur, individu yang kurang siap mental, individu yang mempunyai keinginan untuk bersenang-senang, kurang perhatian dan pengawasan orang tua, keluarga disharmonis, pola pendidikan keluarga yang
otoriter, komunikasi yang kurang terbuka dengan anak, orang tua yang tidak bisa menjadi contoh atau teladan bagi anak, pengaruh teman sebaya(7).
Menurut Wong (8) mengungkapkan NAPZA yaitu faktor keluarga, faktor teman sebaya, faktor lingkungan masyarakat, dan 53,1% yang menyebabkan penyalahgunaan NAPZA adalah faktor keluarga.Hal ini juga di sampaikan Yosep(6) bahwa ada 3 faktor penyebab penyalahgunaan NAPZA yaitu, faktor biologis, faktor psikologis, faktor cultural. Menurut BNN dan Puslipkes UI tahun (2015-2016 ) mengungkapkan bahwa ada 5 faktor yang menjadi penyebab remaja menggunakan NAPZA yaitu, coba-coba, teman sebaya, lingkungan, pola asuh otoriter, pengaruh film atau Tv dan 70% yang menyebabkan remaja menggunakan NAPZA yaitu pola asuh otoriter.
Berdasarkan penelitian-penelitian di atas fakor yang menyebabkan remaja menggunakan NAPZA ialah faktor biologis, faktor psiko sosial, dan faktor cultural.Faktor internal sangat mempengaruhi penyalahgunaan NAPZA pada remaja seperti krisis identitas pada remaja, serta kontrol diri yang lemah maka saya mendorong melakukan penelitian terhadap masalah tersebut.
Penyalahgunaan NAPZA pada remaja awal ( 12-15 tahun ) jika tidak di tanggulangi maka akan menimbulkan berbagai dampak seperti merusak hubungan kekeluargaan, menurunkan kemampuan belajar, ketidakmampuan membedakan yang buruk dan yang baik, merosotnya produktifitas kerja, gangguan kesehatan mulai dari keluhan ringan sampai fatal, mempertinggi kecelakaan lalulintas, meningkatkan angka kriminalitas dan tindak kekerasan(4). Persentase dampak akibat penyalahgunaan NAPZA dapat di lihat dari hasil survey BNN dan Puslitkes UI tahun (2015-2016 ) menyatakan bahwa 76% responden mempunyai masalah kesehatan seperti rasa mual, selera makan kurang, rasa sesak pada dada, rasa sakit pada ulu hati dan rasa lelah berkepanjangan, 38% responden melakukan tindakan kriminal seperti ngebobol brankas milik
orang tua, mencuri motor, menjual motor secara diam-diam, dan 35% responden pernah mengalami kecelakaan lalulintas(4).
Upaya penanggulangan NAPZA akan dapat di jalani dengan adanya dorongan dari orang tua. Center On Adiction and Subtance Abuse ( CASA ) mengemukakan bahwa orang tua adalah kunci untuk mencegah anak mereka dari kecanduan NAPZA, karena orang tua adalah tempat menerima segala persoalan, memberikan bimbingan, pelajaran dan pelatihan etika, dan moral secara berjenjag sesuai dengan perkembangan dirinya. Partisipasi dari orang tua seperti memperhatikan, mengawasi, menyalurkan bakat dan minat anak ke arah yang positif, menumbuh kembangkan diri anak melalui pendidikan agama sejak dini, memberikan kepercayaan kepada anak dalam batas toleransi, serta membangun komunikasi positif, dalam bentuk anak adalah sahabat, dapat mencegah terjadinya penyalahgunaan NAPZA di kalangan remaja(5).
Pola asuh orang tua merupakan interaksi antara anak dan orang tua selama mengadakan kegiatan pengasuhan. Pola asuh orang tua yang kurang baik akan menimbulkan prilaku menyimpang seperti penyalahgunaan NAPZA, merokok, dan minum minuman keras, dan lain lain. Sebaliknya, anak yang di asuh dengan pola asuh orang tua dalam rangka menciptakan komunikasi dan lingkungan yang lebig baik di rumah. Kelompok dukungan dari orang tua merupakan modal intervensi yang sering di gunakan(6).
Tipe pola asuh orang tua terbagi menjadi 3, yaitu pola asuh permisif, otoriter dan demokratis.Pola asuh permisif ialah orang tua yang memberikan kebebasan penuh kepada anak, pola asuh otoriter ialah orang tua yang memaksa, memerintah dan menghukum(12). Pola asuh demokratis ialah orang tua yang menjunjung keterbukaan, pengakuan terhadap pendapat anak, keterbukaan kepada anak. Di antara ketiga pola asuh tersebut, pola asuh demokratis baik untuk di
terapkan pada orang tua terhadap remaja, karena pola asuh ini orang tua mengkombinasikan praktik mengasuh anak dari dua gaya yang ekstrim, mereka mengarahkan perilaku dan sikap anak dengan menekankan alasan peraturan dan secara negatif menguatkan penyimpangan atau mencegah penyimpangan seperti penggunaan NAPZA(7).
Menurut Hendry (8) mengatakan ada hubungan yang signifikan antara pola asuh demokratis dengan penyalahgunaan NAPZA, semakin tinggi pola asuh demokratis, maka penyalahgunaan NAPZA semakin rendah, dan pola asuh demokratis memiliki peran penting dalam pencegahan penyalahgunaan NAPZA pada remaja. Catherine, dkk(9)mengatakan 56,2%
remaja meminum minuman beralkohol berasal dari orang tua yang mempunyai pola asuh demokratis 25% pola asuh permisif dan 6,25% pola asuh otoriter. Penelitian ini bertentangan dengan Baumrind (1990 dalam Cathrine 2016) bahwa pola asuh demokratis merupakan orang tua yang bersikap hangat dan mendukung anak-anak mereka dalam membantu untuk mengembangakan harga diri yang tinggi, yang merupakan faktor penting dalam mengendalikan penyalahgunaan NAPZA atau pencegahan penyalahgunaan NAPZA(10).
Dari uraian diatas maka Penulis akan melakukan penelitian di SD YB kel.Kebon Gedang, Kec. Batununggal Bandung. SD tersebut terletak di bawah jembatan Kiaracondong persisnya disebelah jalan rel kereta api, di sekolah tersebut tidak hanya ada SD tetapi juga ada TK . SD YB ini mempunyai murid dari kelas 1-6 di perkirakan sebanyak 200 siswa yang sekolah di YB.Siswa yang bersekolah disana merupakan anak campuran dari orang yang tidak memiliki orang tua dan memiliki orang tua, bahkan ada diantara anak-anak yang sekolah tinggalnya di jalanan dan berkerja sebagai pengamen bahkan pemulung untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari dan pernah ada kasus penyalahgunaan NAPZA.
Terdapat faktor internal dan eksternal yang berhubungan dengan penyalahgunaan NAPZA.Penelitian ini akan di lakukan di SD YBBandung terhadap ”Faktor-faktor yang berhubungandengan Perilaku Beresikopenyalahgunaan narkotika psikotropika dan zat adiktif lainnya (NAPZA) di kalangan siswa SD YB Bandung tahun 2019”.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka peneliti merumuskan masalah penelitian yaitu : “Bagaimana pengaruh faktor-faktor dengan perilaku beresiko yang berhubungan dengan penyalahgunaan narkotika psikotropika dan zat adiktif lainnya (NAPZA) di kalangan siswa SD YB Bandung tahun 2019”.
C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku beresiko penyalahgunaan narkotika psikotropika dan zat adiktif lainnya (NAPZA) di kalangan siswa SD YB Bandung tahun 2019.
2. Tujuan Khusus
Adapun yang menjadi tujuan khusus dari penelitian ini adalah :
a. Untuk mengetahui gambaran faktor internal (identitas diri,kontrol diri) faktor eksternal (keluarga,teman sebaya,lingkungan) dan penyalahgunaan Napza.
b. Untuk mengetahui faktor-faktor internal yang terdiri dari identitasdiri, dan kontrol diri, yang berhubungan dengan perilaku beresiko penyalahgunaan narkotika psikotropika dan zat adiktif lainnya (NAPZA) dikalangan siswa SD YB Bandung.
c. Untuk mengetahui faktor-faktor eksternal yang terdiri dari faktor keluarga, teman sebaya ,lingkunganyang berhubungan dengan perilaku beresiko penyalahgunaan narkotika psikotropika dan zat adiktif lainnya (NAPZA) dikalangan siswa SD YB Bandung.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini adalah : 1. Bagi remaja atau siswa
Dapat digunakan sebagai informasi dalam mengambil keputusan yang tepat terhadap apa yang akan dilakukan, agar remaja terhindar dari penyalahgunaan NAPZA.
2. Bagi insitusi pendidikan
Sebagai masukan bagi institusi untuk pengembangan pendidikan dimasa yang akan datang, memfasilitasi pengajaran, literatur dan buku-buku terbaru tentang faktor internal yang berhubungan dengan penyalahgunaan NAPZA dikalangan remaja.
3. Bagi sekolah
Dapat digunakan sebagai informasi dalam meningkatkan pengetahuan dan kemampuan dalam mengantisipasi perilaku NAPZA tersebut agar terjadi penurunan dalam angka kejadian NAPZA.
E. Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian mixed method dengan strategi eksplanatoris sekuensial yaitu penelitian dengan pengumpulan dan analisis data kuantitatif pada tahap
pertama yang diikuti pengumpulan dan analisis data kualitatif pada tahap kedua yang dibangun berdasarkan hasil awal kuantitatif (10). Sedangkan dalam proses pengumpulan data kualitatif menggunakan data primer yaitu data yang langsung diperoleh dari responden dengan metode wawancara secara langsung.
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas 5 di SD YB Bandung.
Tempat penelitian di lakukan di SD YB Bandung di bawah jembatan Kiara Condong, dengan waktu pelaksanaan penelitian yaitu pada bulan April-Mei.