BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Isu krisis air bersih di Lamongan menimpa 37 dusun di 26 desa yang tersebar di 10 kecamatan. Di luar 10 kecamatan ini, ungkap Joko, masih ada 3 kecamatan masuk dalam kategori siaga darurat bencana kekeringan sesuai dengan SK dari Bupati Lamongan (detik, 2023). Menurut data Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia (PERPAMSI), pada 2023 hanya sebanyak 19,47% rumah tangga yang memiliki akses terhadap air pipa. Hal ini disebabkan oleh adanya kesenjangan yang besar pada pendanaan akses air bersih di seluruh Indonesia. Salah satu dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2024 menargetkan akses untuk air yang layak pakai sebesar 100%, air yang aman untuk dipakai sebesar 15%, dan rumah tangga yang memiliki akses terhadap air pipa sebesar 30%. Sementara itu, salah satu target Sustainable Development Goals (SDG) tahun 2030 adalah akses untuk air yang aman untuk dipakai sebesar 100%.
Guna memenuhi jumlah kebutuhan air baku di Lamongan, pembangunan bendungan pun dipilih untuk menjadi salah satu cara agar ketersediaan air baku tetap melimpah (Yahya, I. M., Juwono, P. T., & Asmaranto, R., 2022).
Bendungan Gondang di Kabupaten Lamongan dibangun untuk mengatasi permasalahan di Sungai Gondang (Wirawan, L. I., & Koswara, A. Y., 2021).
Bendungan ini terutama dimanfaatkan untuk mengairi lahan pertanian seluas 4.680 hektar di Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Sragen. Selain itu, bendungan ini juga dimanfaatkan untuk mereduksi debit banjir sebesar 20% dari 579,341 meter kubik per detik menjadi 463,473 meter kubik per detik dan menyediakan air baku sebesar 0,20 meter kubik per detik bagi Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Sragen. Air yang terbendung oleh bendungan ini juga berpotensi untuk membangkitkan listrik melalui PLTMH berkapasitas 0,33 MW. Fungsi lainnya adalah untuk menaikkan muka air sungai sehingga dapat menyuplai air irigasi dan memenuhi air baku.
Bendungan Gondang merupakan komponen penting dari infrastruktur modern, yang menampung air untuk pasokan kota, irigasi, pembangkit listrik tenaga air, pelepasan aliran navigasi, dan pengendalian banjir (Makbul, et al., 2023).
Bendungan Gondang berukuran sedang di Lamongan, yang telah mengubah pola aliran dan konektivitas longitudinal di Sungai Gondang. Dengan mengubah pola aliran sungai, menghalangi migrasi ikan dan organisme lain, memerangkap sedimen, unsur hara, dan material lain dalam aliran sungai, bendungan mempunyai banyak dampak terhadap sistem sungai di bagian hulu dan hilir. Selain itu, sedimen yang terperangkap memenuhi waduk, menggantikan ruang penyimpanan air.
Bendungan Gondang merupakan hal yang penting bagi masyarakat, namun mempunyai dampak lingkungan yang sangat besar, sehingga perhatian terhadap upaya mitigasinya semakin meningkat. Pada saat yang sama, sedimentasi mengancam keberlangsungan tampungan waduk dan fungsi waduk. Penelitian ini bertujuan untuk mendesain ulang bendungan Gondang karena berdasarkan observasi awal penelitian, terdapat potensi bendungan untuk ditingkatkan kapasitas dan fungsinya dengan terlebih dahulu mendesain ulang perencanaan awal. Untuk mendesain ulang bendungan Gondang, diterapkan analisis rekayasa nilai. Hasil value engineering dibandingkan dengan desain awal untuk mendapatkan desain bendungan yang lebih baik, efektif dan efisien. Cara membandingkannya dengan menggunakan metode matriks evaluasi.
Penelitian ini menggunakan istilah perancangan ulang bendungan untuk mencakup berbagai tindakan, termasuk rehabilitasi bendungan, istilah yang umum digunakan untuk retrofit struktural, biasanya pada struktur bendungan atau saluran pelimpah, retrofit jalur ikan untuk lalu lintas ikan yang bermigrasi, pengoperasian kembali reservoir, yang mencakup modifikasi pengoperasian bendungan untuk memperbaiki sistem aliran untuk tujuan ekologi, dan pengelolaan sedimen berkelanjutan, yang mencakup tindakan untuk mengalirkan sedimen melalui atau di sekitar bendungan, serta tindakan mekanis lainnya untuk memulihkan konektivitas sedimen (Kondolf & Jaeeung, 2022). Perancangan ulang bendungan adalah hal penting untuk dikaji lebih lanjut. Hal ini dikarenakan karena waduk menjadi sumber air bagi masyarakat daerah setempat (Fitrianto et al., 2020). Perancangan yang asal-
asalan akan membuat bendungan tidak bekerja secara maksimal. Tidak hanya itu, bendungan yang dibuat dengan baik dapat dijadikan sebagai tempat wisata.
Ada banyak alasan mengapa bendungan Lamongan memerlukan renovasi, hal ini dapat mencakup kerusakan pada bendungan itu sendiri (misalnya, masalah yang umum terjadi pada beton yang membengkak dan melemah akibat reaksi agregat alkali dan proses serupa), risiko kegagalan akibat gempa bumi atau tanah longsor pada waduk, risiko meluapnya air akibat perubahan hidrologi, akumulasi sedimen yang mengancam keberlanjutan jangka panjang bendungan dan layanannya, serta perubahan ekspektasi terhadap bendungan, seperti peningkatan standar lingkungan dan ekspektasi masyarakat terhadap kualitas lingkungan dan peluang rekreasi di sepanjang sungai.
Namun berdasarkan literasi awal penelitian, dibandingkan dengan rancang ulang bendungan, banyak sekali literatur yang diterbitkan mengenai topik renovasi bendungan (Mathias Kondolf, 2022; Sri Wahyuni, 2024; Wahsyati, 2021).
Meskipun dalam beberapa kasus renovasi bendungan merupakan cara praktis untuk memperbaiki kondisi sungai dan menyelesaikan masalah keamanan bendungan yang sudah tua, kenyataannya sebagian besar bendungan yang ada saat ini akan tetap ada di masa mendatang, asalkan bendungan tersebut tidak diisi dengan sedimen, atau struktur air limbah memburuk sampai pada titik kegagalan. Oleh karena itu, penting untuk memahami pilihan-pilihan yang tersedia untuk merancang ulang bendungan yang kinerja lingkungannya buruk atau yang kelestariannya terancam seperti pada Bendungan Gondang di Kabupaten Lamongan, sehingga hal ini menjadi celah peneliti dalam mengisi gap penelitian.
Penelitian serupa telah diteliti oleh, Widyastuti, A. A. S. A., & Fanani, M. B.
Y. (2022) meneliti pengembangan kawasan wisata Waduk Gondang berbasis faktor minat masyarakat, Purwanto, H. A., Suprijanto, H., & Prayogo, T. B. (2022) mengkaji studi perencanaan ulang bendung di daerah irigasi Rawaan Kabupaten Lumajang Jawa Timur dan Faqih N & Khoir A. (2021) mengkaji perencanaan ulang bendung Tandu untuk peningkatan infrastruktur pertanian di kabupaten Wonosobo.
Tujuan penelitian ini adalah untuk merancang ulang bendungan Gondang di Kabupaten Lamongan. Objek penelitian ini adalah bendungan Gondang di
Kabupaten Lamongan sebagai kebaruan dalam penelitian. Oleh karena itu penelitian ini diberi judul, "Perancangan Ulang Bendungan Gondang di Kabupaten Lamongan.”
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas rumusan masalah dalam tugas akhir ini adalah sebagai berikut: Bagaimana perancangan ulang bendungan Gondang di kabupaten Lamongan?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas tujuan tugas akhir ini adalah sebagai berikut: Menganalisis perancangan ulang bendungan Gondang di kabupaten Lamongan.
1.4 Batasan Masalah
Adapun batasan masalah dalam tugas akhir ini adalah sebagai berikut : 1. Kebutuhan material tercukupi di daerah tersebut
2. Tidak memperhitungkan anggaran biaya
1.5 Manfaat penelitian
Manfaat dari penelitian ini dibagi menjadi manfaat teoritik dan manfaat manajerial, sebagai berikut:
1. Manfaat teoritik
Untuk memperoleh bukti data empiris tentang analisis perancangan ulang bendungan Gondang di kabupaten Lamongan yang dapat dimanfaatkan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan akademik mahasiswa di dalam bidang teknik sipil.
2. Manfaat praktis
Dapat dimanfaatkan sebagai sumber informasi dan referensi tambahan yang berkaitan dengan variabel penelitian yaitu perancangan ulang bendungan Gondang di kabupaten Lamongan.