• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB-II buku6 panduan pengadaan tanah

N/A
N/A
Wahy Farid

Academic year: 2025

Membagikan "BAB-II buku6 panduan pengadaan tanah"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II.

TATA CARA PENGADAAN TANAH DENGAN LUAS LEBIH 1 Ha

A. PERMOHONAN PENGADAAN TANAH

1. Setelah diterimanya persetujuan penetapan lokasi pembangunan, Instansi Pemerintah yang memerlukan tanah segera mengajukan permohonan Pengadaan tanah kepada panitia dengan melampirkan persetujuan penetapan tersebut.

2. Setelah menerima permohonan dimaksud, panitia mengundang Instansi Pemerintah yang memerlukan tanah untuk persiapan pelaksanaan pengadaan tanah.

B. PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH 1. Penyuluhan.

a. Panitia bersama–sama Instansi Pemerintah yang memerlukan tanah memberikan penyuluhan di tempat yang telah ditentukan panitia mengenai manfaat, maksud dan tujuan pembangunan, kepada masyarakat yang terkena lokasi pembangunan agar memahami dan menerima pembangunan yang bersangkutan.

b. Penyuluhan dapat dilaksanakan lebih dari 1 (satu) kali sesuai keperluan sampai tujuan penyuluhan tercapai (dapat diterima oleh masyarakat).

c. Dalam penyuluhan juga disampaikan hal-hal yang terkait pada huruf B butir 7, 8, 9, 10 di bawah ini.

2. Identifikasi dan Inventarisasi.

a. Dalam hal rencana pembangunan diterima masyarakat, maka panitia melakukan identifikasi dan inventarisasi atas penguasaan, penggunaan dan pemilikan tanah dan/atau bangunan dan/atau tanaman dan/atau benda-benda lain yang terkait dengan tanah yang bersangkutan.

b. Panitia dapat membentuk Satuan Tugas guna membantu panitia yang penetapannya didasarkan atas kesesuaian antara keahlian anggota satuan tugas dengan tugas yang akan dilaksanakan.

c. Hasil Pelaksanaan identifikasi dan inventarisasi yang dilakukan satuan- satuan tugas meliputi kegiatan : penunjukan batas, pengukuran bidang, penetapan batas-batas, pendataan penggunaan dan pemanfaatannya, pendataan status, pendataan penguasaan dan pemilikan, pendataan

(2)

bukti-bukti penguasaan dan pemilikan tanah dan/atau bangunan dan/atau tanaman dan lainnya yang dianggap perlu.

d. Hasil identifikasi dan inventarisasi sebagaimana dimaksud di atas yang selanjutnya merupakan tanggung jawab Panitia Pengadaan Tanah Kabupaten/Kota dan kemudian dituangkan dalam bentuk Peta Bidang Tanah dan Daftar yang memuat :

1). Nama Pemegang Hak Atas Tanah.

2). Status tanah dan dokumennya.

3). Luas tanah.

4). Pemilik dan/atau penguasaan tanah dan/atau bangunan dan/atau tanaman dan/atau benda – benda lain.

5). Penggunaan dan pemanfaatan tanah.

6). Pembebanan Hak Atas Tanah, dan 7). Keterangan lain.

3. Pengumuman.

a. Peta Bidang Tanah dan Daftar sebagaimana dimaksud, oleh Panitia Pengadaan Tanah Kabupaten/Kota diumumkan di Kantor Desa/

Kelurahan, Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota, melalui website selama 7 (tujuh) hari, dan/atau melalui mass media paling sedikit 2 (dua) kali penerbitan guna memberikan kesempatan bagi pihak yang berkepentingan untuk mengajukan keberatan.

b. Setelah jangka waktu pengumuman berakhir, peta dan daftar sebagaimana dimaksud disahkan oleh seluruh anggota panitia pengadaan tanah Kabupaten/Kota dengan diketahui oleh Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota, Kepala Desa/Lurah dan Camat dan/atau pejabat yang terkait dengan bangunan dan/atau tanaman.

4. Penunjukan Lembaga/Tim Penilai Harga Tanah.

a. Panitia Pengadaan Tanah Kabupaten/kota menunjuk Lembaga Penilai Harga Tanah yang telah ditetapkan oleh Bupati/Walikota yaitu lembaga yang sudah mendapatkan lisensi dari Badan Pertanahan Nasional R.I.

Dalam hal belum terdapat Lembaga Penilai Harga Tanah maka Bupati/Walikota dapat membentuk Tim Penilai Harga Tanah dengan unsur-unsur : Instansi membidangi bangunan dan/atau tanaman, instansi pemerintah pusat membidangi pertanahan nasional, unsur instansi pelayanan PBB, Ahli atau orang berpengalaman dibidang penilai harga tanah, Akademisi dan dapat ditambah Unsur Lembaga Swadaya Masyarakat (bila perlu).

b. Tim Penilai Harga Tanah melakukan penilaian harga tanah berdasarkan NJOP atau nilai nyata/sebenarnya dengan memperhatikan NJOP tahun berjalan dan dapat berpedoman pada variabel-variabel antara lain : Lokasi dan letak tanah, status tanah, peruntukan tanah, kesesuaian penggunaan

(3)

tanah terhadap RTRW Kabupaten/Kota, sarana dan prasarana yang tersedia dan faktor-faktor lainnya yang mempengaruhi harga tanah.

5. Penilai Harga Bangunan dan lain - lain.

Penilaian harga bangunan dan/atau tanaman dan/ atau benda – benda lain yang berkaitan dengan tanah dilakukan oleh Kepala Dinas/Kantor/Badan Kabupaten/Kota yang membidangi hal yang terkait.

6. Musyawarah.

a. Setelah penyuluhan dan penetapan batas lokasi tanah dilaksanakan, panitia mengundang Instansi Pemerintah yang memerlukan tanah, pemegang hak atas tanah dan pemilik bangunan, tanaman dan atau benda - benda lain yang terkait dengan tanah yang bersangkutan untuk mengadakan musyawarah ditempat yang ditentukan oleh panitia dalam rangka menetapkan bentuk dan besarnya ganti kerugian.

b. Musyawarah pada asasnya dilaksanakan secara langsung dan bersama – sama antara instansi pemerintah yang memerlukan tanah dengan para pemilik tanah, dan dipimpin oleh Ketua Panitia, dengan ketentuan apabila Ketua berhalangan dipimpin oleh Wakil Ketua.

c. Dalam hal jumlah tidak memungkinkan terselenggaranya musyawarah secara langsung, bersama – sama dan efektif, musyawarah dapat dilaksanakan secara bertahap.

d. Musyawarah untuk menetapkan bentuk dan/atau besarnya ganti rugi dilaksanakan dalam jangka waktu paling lama 120 (seratus dua puluh) hari kalender terhitung sejak tanggal undangan musyawarah pertama.

7. Penetapan Bentuk dan Besarnya Ganti Rugi.

a. Musyawarah bentuk dan/atau besarnya ganti rugi berpedoman pada : 1). Kesepakatan para pihak

2). Hasil penilaian Lembaga/Tim Penilai Harga Tanah 3). Tenggat waktu penyelesaian proyek pembangunan.

b. Pemegang hak atas tanah dan pemilik bangunan, tanaman dan atau benda–benda lain yang terkait dengan tanah yang bersangkutan, atau wakil yang ditunjuk menyampaikan keinginannya mengenai bentuk dan besarnya nilai ganti kerugian.

c. Instansi Pemerintah yang memerlukan tanah menyampaikan tanggapan terhadap keinginan pemegang hak atas tanah dengan mengacu kepada unsur–unsur sebagaimana ditetapkan oleh panitia.

d. Musyawarah dianggap telah tercapai kesepakatan, apabila paling sedikit 75 % dari :

1). Luas tanah yang diperlukan telah diperoleh, atau

2). Jumlah pemilik telah menyetujui bentuk dan atau besarnya ganti rugi.

(4)

e. Selanjutnya Panitia Pengadaan Tanah Mengupayakan musyawarah kembali terhadap pemilik tanah yang belum bersepakat, sampai tercapai kesepakatan bentuk dan atau besarnya ganti rugi.

f. Apabila pemilik tetap menolak penyerahan ganti rugi atau tidak menerima penawaran penyerahan ganti rugi, maka setelah melewati 120 hari Panitia Pengadaan Tanah membuat Berita Acara Penyerahan Ganti Rugi.

g. Apabila pemilik diatas tetap menolak, maka berdasarkan Berita Acara diatas memerintahkan instansi pemerintah yang memerlukan tanah menitipkan uang ganti rugi ke pengadilan negeri yang wilayah hukumnya meliputi lokasi tanah.

8. Apabila pemilik berkeberatan terhadap keputusan penetapan bentuk dan/atau besarnya ganti rugi, dapat mengajukan keberatan kepada Bupati/Walikota atau Gubernur atau Menteri Dalam Negeri sesuai kewenangannya disertai dengan penjelasan mengenai sebab-sebab dan alasannya dalam waktu paling lambat 14 (empat belas) hari.

9. Bupati/Walikota atau Gubernur atau Menteri Dalam Negeri sesuai kewenangannya memberikan keputusan penyelesaian atas keberatan pemilik dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari dan selanjutnya mengukuhkan atau mengubah bentuk dan/atau besarnya ganti rugi yang disampaikan kepada pemilik yang mengajukan keberatan, instansi pemerintah yang memerlukan tanah dan Panitia Pengadaan Tanah Kabupaten/Kota.

10. Apabila upaya penyelesaian yang ditempuh Bupati/Walikota atau Gubernur atau Menteri Dalam Negeri tetap tidak diterima oleh pemilik dan lokasi pembangunan yang bersangkutan tidak dapat dipindahkan, maka Bupati/Walikota atau Gubernur atau Menteri Dalam Negeri sesuai kewenangannya mengajukan usul penyelesaian dengan cara pencabutan hak atas tanah berdasarkan Undang-Undang No. 20 tahun 1961 tentang pencabutan Hak-hak Atas Tanah dan Benda-benda yang ada diatasnya.

C. PELAKSANAAN PEMBERIAN GANTI KERUGIAN

1. Panitia Pengadaan Tanah menerbitkan keputusan mengenai bentuk dan/atau besarnya ganti rugi dan Daftar Nominatif pembayaran ganti rugi.

Contoh format daftar nominatif sebagaimana lampiran 1.

2. Instansi yang memerlukan tanah harus sudah melakukan pembayaran ganti rugi kepada yang berhak paling lama 60 hari setelah terbitnya keputusan diatas, serta dilengkapi dengan format persetujuan pembayaran dari panitia pengadaan tanah.

Contoh format persetujuan pembayaran sebagaimana lampiran 2.

(5)

3. Pemberian ganti kerugian dalam bentuk uang dibayarkan secara langsung kepada yang berhak dilokasi yang ditentukan oleh panitia, dengan disaksikan oleh Panitia Pengadaan Tanah, dan didokumentasikan dalam bentuk foto.

4. Pemberian ganti kerugian selain berupa uang, dituangkan dalam Berita Acara pemberian ganti kerugian yang ditanda tangani oleh penerima ganti kerugian yang bersangkutan dan Ketua atau Wakil Ketua Panitia serta sekurang–

kurangnya 2 (dua) orang anggota Panitia.

Contoh format Berita Acara Pemberian Ganti Kerugian sebagaimana lampiran 3.

D. PELEPASAN, PENYERAHAN, DAN PERMOHONAN HAK ATAS TANAH

1. Bersamaan dengan pemberian ganti kerugian dibuat Surat Pernyataan pelepasan hak dan atau penyerahan tanah yang ditanda tangani oleh pemegang hak atas tanah dan Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten / Kota serta disaksikan oleh sekurang–kurangnya 2 (dua) orang anggota Panitia, serta surat-surat pernyataan lain yang dibutuhkan (antara lain surat pernyataan tidak keberatan/setuju dibebaskan, surat pernyataan bahwa tanah tidak dalam status sengketa, surat pernyataan pemilik bangunan).

Contoh format Surat Pernyataan Pelepasan Hak sebagaimana lampiran 4, dan format surat-surat pernyataan lainnya sebagaimana lampiran 5.

2. Panitia Pengadaan Tanah membuat Berita Acara Pembayaran Ganti Rugi dan Pelepasan Hak Atas Tanah atau Penyerahan Tanah.

3. Pada saat pembuatan Surat Pernyataan pelepasan hak atau penyerahan tanah, pemegang hak atas tanah wajib menyerahkan sertifikat dan atau asli surat–surat tanah yang berkaitan dengan tanah yang bersangkutan kepada Panitia.

4. Asli surat–surat tanah berserta dokumen–dokumen yang berhubungan dengan pengadaan tanah oleh Panitia diserahkan kepada Instansi Pemerintah yang memerlukan tanah.

5. Setelah menerima berkas dokumen pengadaan tanah, Instansi Pemerintah yang memerlukan tanah wajib segera mengajukan permohonan sesuatu hak atas tanah sampai memperoleh sertifikat nama instansi induknya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

E. PELAKSANAAN PEMBANGUNAN FISIK

1. Pelaksanaan pembangunan fisik atas lokasi yang telah diperoleh instansi pemerintah yang memerlukan tanah, dimulai setelah pelepasan/penyerahan

(6)

hak atas tanah dan/atau penyerahan bangunan dan/atau penyerahan tanaman atau telah dititipkannya pembayaran ganti rugi ke pengadilan negeri.

2. Dalam hal ganti rugi kepada yang berhak atas ganti rugi dititipkan ke pengadilan negeri, maka Bupati/Walikota menerbitkan keputusan untuk melaksanakan pembangunan fisik.

Bagan Alur Pengadaan Tanah sebagaimana pada Diagram 1.

(7)

Diagram 1.

Bagan Alur Pengadaan Tanah (file : diagram1 alur tanah.xls )

Referensi

Dokumen terkait

Telah dilakukan beberapa kali pertemuan dan juga sosialisasi antara panitia pengadaan tanah dengan pemilik tanah di daerah relokasi dengan beberapa kali penetapan penyesuaian

(4) Gubernur Kepala Daerah dapat membentuk Panitia Pembebasan Tanah Tingkat Propinsi dengan susunan keanggotaan dari instansi-instansi seperti dimaksud dalam ayat

(5) Tuntutan pihak lain atas Objek Pengadaan Tanah yang telah diserahkan kepada instansi yang memerlukan tanah sebagaimana dimaksud pada ayat 2 menjadi tanggung

Berdasarkan hasil dari penelitian, tahap-tahap pelaksanaan pendaftaran tanah sistematis lengkap dari penetapan lokasi,pembentukan panitia ajudikasi,

Apabila dalam musyawarah telah dicapai kesepakatan antara pemegang hak atas tanah dan instansi pemerintah yang memerlukan tanah, Panitia Pengadaan Tanah mengeluarkan

Berdasarkan hasil dari penelitian, tahap-tahap pelaksanaan pendaftaran tanah sistematis lengkap dari penetapan lokasi,pembentukan panitia ajudikasi,

Pengukuran bidang tanah yang berpotensi menjadi penyebab timbulnya ketidakpastian letak dan batas-batas tanah adalah sulitnya menghadirkan para pemilik tanah yang

Apabila Pimpinan Departemen/ Lembaga Pemerintah Non Departemen/ Instansi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 tidak menyetujui permintaan pemegang hak atas tanah dan pemilik