• Tidak ada hasil yang ditemukan

(1)BAB II TINJAUAN TEORITIS TENTANG SERIKAT PEKERJA A

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "(1)BAB II TINJAUAN TEORITIS TENTANG SERIKAT PEKERJA A"

Copied!
39
0
0

Teks penuh

1/MEN/1975 tentang Pembentukan Serikat Pekerja/Serikat Buruh pada Perusahaan Swasta dan Pendaftaran Organisasi Buruh, kebebasan berserikat belum sepenuhnya dilaksanakan oleh pemerintah pada saat itu. Upaya pemerintah dalam menjamin kebebasan berorganisasi dan berkumpul bagi pekerja dijabarkan lebih lanjut dalam UU No. 21 Tahun 2000 tentang Serikat Pekerja/Serikat Buruh. Pengertian pekerja/serikat buruh menurut pasal 1 ayat 1 UU No. 21 Tahun 2000 adalah organisasi yang dibentuk oleh, oleh, dan untuk pekerja/buruh, sebagaimana dimaksud pada

Bebas, yaitu serikat pekerja/serikat buruh, federasi, dan serikat pekerja/serikat buruh sebagai organisasi dalam melaksanakan hak dan kewajibannya tidak berada dalam pengaruh atau tekanan pihak lain. Terbuka yaitu serikat pekerja/serikat buruh, federasi dan konfederasi serikat pekerja/serikat buruh dalam menerima anggota dan/atau memperjuangkan kepentingan pekerja/buruh tidak membedakan aliran politik, agama, suku dan gender. Akuntabel, yaitu serikat pekerja/serikat buruh, federasi, dan konfederasi serikat pekerja/serikat buruh bertanggung jawab kepada anggotanya, masyarakat, dan negara dalam mencapai tujuan serta melaksanakan hak dan kewajibannya.

Berdasarkan Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2000, serikat pekerja/serikat buruh bertujuan untuk memberikan perlindungan, membela hak dan kepentingan serta meningkatkan kesejahteraan yang layak bagi pekerja/buruh dan. Fungsi ini merupakan upaya serikat pekerja/serikat buruh untuk menyatukan dua kutub kepentingan pengusaha-pegawai yang berbeda. Dalam menerima anggota serikat pekerja/serikat buruh, pekerja/serikat buruh, federasi dan konfederasi pekerja/serikat buruh harus terbuka menerima anggota tanpa membedakan keyakinan politik, agama, suku dan gender (Pasal 12 UU No. 21 Tahun 2000).

Seorang pekerja/buruh tidak boleh menjadi anggota lebih dari satu serikat pekerja/serikat buruh dalam satu perusahaan.

Pemutusan Hubungan Kerja (PHK)

Pekerja/buruh dilarang melakukan pekerjaannya karena memenuhi kewajibannya kepada negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku; Pekerja/buruh mempunyai hubungan darah dan/atau perkawinan dengan pekerja/buruh lain dalam satu perusahaan, kecuali hal ini diatur dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama; Pekerja/buruh mendirikan, menjadi anggota dan/atau pengurus serikat pekerja/serikat buruh, pekerja/buruh melakukan kegiatan serikat pekerja/serikat buruh.

pekerja/buruh yang melaporkan pengusaha kepada pihak yang berwajib mengenai perbuatan pengusaha tersebut melakukan tindak pidana; Pekerja/buruh yang cacat tetap, sakit akibat kecelakaan kerja, atau sakit akibat hubungan kerja, menurut surat keterangan dokter, masa pemulihannya tidak dapat ditetapkan. Pemutusan hubungan kerja yang dilakukan sebagaimana tersebut di atas, batal demi hukum dan pengusaha wajib mempekerjakan kembali pekerja/buruh yang bersangkutan.

Pekerja/pekerja mempunyai hak untuk memutuskan hubungan kerja dengan majikan, kerana pekerja/pekerja pada dasarnya tidak boleh dipaksa untuk terus bekerja bersama jika mereka tidak mahu berbuat demikian. Pemecatan oleh pekerja/pekerja ini yang aktif meminta pemberhentian kerja oleh itu adalah pekerja/pekerja. Pekerja/pekerja boleh mengemukakan permohonan pemecatan kepada Jawatankuasa Pertikaian Perhubungan Perusahaan sekiranya majikan melakukan tindakan: 28.

Meyakinkan dan/atau memerintahkan pekerja untuk melakukan tindakan yang bertentangan dengan persyaratan hukum. Pekerja dapat memutuskan hubungan kerja dengan mengundurkan diri atas kemauannya sendiri, tanpa harus meminta penetapan pada Skema Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial, dan pekerja/buruh yang bersangkutan akan mendapat imbalan sesuai dengan ketentuan Pasal 156 ayat 4. Selain uang santunan, pekerja/pekerja Karyawan mendapat pesangon yang besar dan pelaksanaannya diatur dalam kontrak kerja, PP atau PKB.

Pemutusan hubungan kerja karena hukum adalah pemutusan hubungan kerja yang terjadi dengan sendirinya sehubungan dengan berakhirnya jangka waktu perjanjian yang dibuat oleh pengusaha dan pekerja/buruh. Pembinaan dapat diberikan kepada pekerja/buruh yang melanggar ketentuan yang diatur dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan atau perjanjian kerja bersama dengan memberikan surat. Apabila Lembaga Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial menolak permohonan PHK, maka pekerja yang bersangkutan harus tetap bekerja.

Lembaga Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial setelah menerima permohonan PHK akan memanggil para pihak untuk dimintai keterangan sebelum sidang. Berdasarkan bukti-bukti yang dikemukakan dalam persidangan, Lembaga Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial telah mengambil keputusan menolak dan mengabulkan usulan cuti tersebut. Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial Berdasarkan Undang-Undang Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan.

2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial (PPHI) menegaskan bahwa perselisihan hubungan industrial dapat diselesaikan melalui mekanisme. 31 Abdul Hakim, Aspek Hukum Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial (Antara Regulasi dan Pelaksana), Citra Aditya Bakti, Bandung, 2010, hal. 98-99. Perundingan bipartit adalah perundingan antara pekerja/buruh atau serikat pekerja/serikat buruh dengan pengusaha untuk menyelesaikan perselisihan hubungan industrial.32.

Dan didaftarkan oleh para pihak yang mengadakan Perjanjian pada Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri di wilayah para pihak yang mengadakan Perjanjian Bersama.34. Apabila telah tercapai kesepakatan untuk menyelesaikan sengketa melalui Mediator, maka dibuatlah kesepakatan bersama yang ditandatangani oleh para pihak dan mediator. kemudian perjanjian tersebut didaftarkan pada Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri setempat. Apabila anjuran tertulis pelipur lara ditolak oleh salah satu pihak atau lebih, maka perselisihan tersebut diselesaikan oleh Pengadilan Hubungan Industrial.

Pemeriksaan dalam arbitrase dilaksanakan dengan menggunakan hukum acara yang serupa dengan hukum acara Pengadilan Perburuhan. Pengadilan Ketenagakerjaan berdasarkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 berkedudukan dan dibentuk di Pengadilan Negeri setiap kabupaten/kota. Dengan demikian, pengadilan perburuhan mempunyai ciri tersendiri, yaitu adanya sejumlah kasus khusus.

Keistimewaan Pengadilan Hubungan Industrial adalah selain hakim profesional, terdapat pula hakim ad hoc yang diusulkan oleh serikat pekerja/serikat buruh dan organisasi pengusaha. Apabila para pihak tidak mengajukan permohonan kasasi dalam jangka waktu tersebut, maka putusan Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri mengenai perselisihan hak dan perselisihan pemutusan hubungan kerja mempunyai kekuatan hukum tetap. Tidak ada upaya banding atas putusan Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri ke Pengadilan Tinggi.

Selain itu, tidak diperlukan lagi proses administratif di pengadilan tata usaha negara dalam menyelesaikan konflik hubungan pasar tenaga kerja. Penyelesaian perselisihan hubungan kerja berdasarkan konsep hukum Islam Posisi Islam merupakan kewajiban kedua setelah shalat.

Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial Berdasarkan Konsep Hukum Islam Islam memposisikan bekerja sebagai kewajiban kedua setelah shalat. Oleh karena

Namun upaya hukumnya segera diajukan ke Mahkamah Agung, dan khusus terbatas pada putusan perselisihan hak dan perselisihan hubungan kerja.41. Perjanjian kerja ini sering juga disebut dengan perjanjian untuk melakukan pekerjaan, dan biasa juga digunakan dengan istilah perjanjian kerja. Secara umum yang dimaksud dengan “perjanjian kerja” adalah suatu perjanjian yang dibuat oleh dua orang (para pihak) atau lebih, dimana salah satu pihak berjanji untuk memberikan pekerjaan dan pihak yang lain berjanji untuk melakukan pekerjaan tersebut. kedua belah pihak yang kemudian hari dibuatlah perjanjian kerja, dimana perjanjian kerja ini nantinya dijadikan pedoman atau patokan dan harus dipenuhi oleh masing-masing pihak atas apa yang telah disepakati bersama sesuai dengan isi perjanjian. mengatakan. Dan orang-orang yang tidak bisa menikah, wajib menjaga kesucian (dirinya), agar Allah memampukan mereka dengan rahmat-Nya.

Perjanjian dibuat mengenai hak-hak yang harus diterima oleh para pihak yaitu pengusaha dan pekerja. Melalui perjanjian, suatu pekerjaan dapat diselesaikan dan diselesaikan dengan baik karena para pihak telah mengetahui apa yang perlu dilakukan. Oleh karena itu, setiap pengusaha dan pekerja harus menyadari dan memenuhi isi perjanjian yang dibuat.

Salah seorang di antara dua wanita itu berkata, “Wahai ayahku, ambillah dia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya dia adalah orang yang paling baik untuk dipekerjakan (untuk kita), seorang yang kuat lagi dapat dipercaya.” (QS. .Al -Kashash: 26). Pekerjaan yang dijanjikan itu termasuk jenis pekerjaan yang mubah atau halal menurut ketentuan syariat,” Rasulullah SAW bersabda, “sebarang syarat yang tidak ada dalam kitab Allah maka gugup walaupun ada seratus syarat. ". Faedah kerja ini dijelaskan dengan menetapkan had masa atau jenis kerja yang perlu dilakukan.

Setiap perjanjian yang dilanggar oleh seseorang, maka dia bertanggungjawab ke atasnya dan akan dihisab, firman Allah SWT. Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim melainkan dengan cara yang lebih baik (bermanfaat) sehingga dia dewasa dan menepati janji; Sesungguhnya janji itu mesti dipertanggungjawabkan.” (QS. Al-Isra': 34). Tiada siapa boleh memaksa pihak lain melakukan kerja yang tidak sesuai dengan kehendak mereka atau berada dalam tekanan dan bekerja secara berterusan tanpa had masa.

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Jika ayat ini dikaitkan dengan kontrak pekerjaan, maka boleh dikatakan Allah SWT memerintahkan majikan untuk berlaku jujur, berbuat baik dan berbaik sangka terhadap pekerjanya. Pemilik perniagaan mesti bertindak adil apabila menetapkan gaji dan menetapkan dasar seperti kontrak pekerjaan dan peraturan syarikat.

Referensi

Dokumen terkait

pekerja/serikat buruh yang tercatat pada instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan dengan pengusaha, atau beberapa pengusaha atau perkumpulan pengusaha yang memuat