Ibu hamil sebaiknya menghindari aktivitas/aktivitas berlebihan, membawa benda berat, dan menggunakan mekanisme tubuh yang benar. Penelitian proteinuria dengan asam asetat merupakan salah satu jenis pemeriksaan laboratorium pada ibu hamil untuk mendiagnosis adanya kondisi patologis pada ibu hamil.
Identifikasi Diagnosa Masalah
Identifikasi Diagnosa dan Masalah Potensial
Identifikasi Kebutuhan Segera
Intervensi
R : Pijat dapat meningkatkan relaksasi sehingga nyeri berkurang. f) Mendorong ibu untuk rutin melakukan senam hamil. R: Makan berlebihan menyebabkan perut meregang sehingga meningkatkan tekanan pada diafragma. e) Anjurkan ibu untuk memakai pakaian yang longgar.
Implementasi
Evaluasi
Catatan Perkembangan Pada Ibu Hamil .1 Pengkajian
Data Subjektif a. Keluhan Utama
Penggunaan kontrasepsi oral sebelum persalinan dan dilanjutkan pada kehamilan yang tidak diketahui dapat berdampak buruk terhadap perkembangan organ genital janin (Sutanto, dkk. 2017). F. Meningkatnya pertumbuhan rahim akan menyebabkan ligamen atau otot meregang, sehingga pergerakan ibu hamil menjadi terbatas dan terkadang menimbulkan nyeri.
Data Objektif
Ada atau tidaknya pembesaran kelenjar tiroid, apakah berpotensi terjadinya kelahiran prematur, lahir mati, kretinisme, dan keguguran. Ada atau tidaknya pembesaran kelenjar getah bening, bila ada kemungkinan tertular berbagai penyakit, misalnya tuberkulosis, radang akut kepala (Romauli, 2011).
Analisa
Penatalaksanaan
Konsep Manajemen Kebidanan Pada Ibu Bersalin
- Pengkajian
Pekerjaan : Untuk mengetahui aktivitas sehari-hari ibu atau suami, mengukur tingkat sosial ekonomi agar nasehat yang diberikan tepat (Sulistyawati, 2014). Diminta untuk mengetahui kemungkinan pengaruh pekerjaan terhadap masalah kesehatan pasien/klien dengan mengetahui pekerjaan pasien/klien.
HPHT
Jika ibu merasa tidak enak badan, kemungkinan besar dia akan dikeluarkan saat proses persalinan. yang dapat mengganggu bila bertepatan dengan keluarnya kepala bayi. Istirahat memang sangat dibutuhkan ibu untuk mempersiapkan tenaga menghadapi proses persalinan, hal ini akan lebih penting lagi bila proses persalinan berkepanjangan pada kala pertama. Informasi yang ditanyakan mengenai istirahat klien menurut Sulistyawati, 2013 adalah.
Data objektif
Identifikasi Diagnosa Masalah
Sang ibu mengaku tidak tahu apa yang harus dilakukan selama proses persalinan. Target : Ibu terlihat bingung dan pasrah dengan apa yang terjadi. Sang ibu mengatakan dia tidak dapat menahan rasa sakit yang dia rasakan. Tujuan : Ibu tampak kesakitan dan kontraksi tampak semakin kuat. Kemungkinan diagnosis pada kala pertama adalah perdarahan intrapartum, eklampsia, persalinan lama, infeksi berkepanjangan, asfiksia intrauterin.
Potensi diagnosis pada stadium II adalah syok, dehidrasi, infeksi, preeklampsia-eklampsia, inersia uterus, gawat janin, distosia bahu, tali pusat menonjol/terbelit (JNPK-KR, 2014). Pada kala III, kemungkinan diagnosisnya adalah retensio plasenta, ruptur uteri, dan kontraksi yang tidak adekuat. Pada stadium empat, kemungkinan diagnosis yang mungkin terjadi adalah atonia uteri, perdarahan postpartum, laserasi serviks sehingga menyebabkan perdarahan hebat, syok hipovolemik, dan kemungkinan stadium II, III, robekan perineum.
Identifikasi Kebutuhan Segera
Intervensi
R: Stres, ketakutan dan kecemasan berdampak besar pada proses persalinan, seringkali memperpanjang persalinan, karena ketidakseimbangan repinefrin dapat meningkatkan pola disfungsi persalinan (Doenges et al, 2018). R: Pendidikan antepartum dapat memperlancar proses persalinan dan kelahiran, membantu meningkatkan sikap positif dan/atau rasa kontrol, serta dapat menurunkan angka kehamilan. R: Belajar mengejan dan bernapas pada proses persalinan dapat mengurangi stres karena ibu sudah mempersiapkan diri dan ibu lebih kooperatif dengan petugas (Doenges et al, 2018).
Pantau DJJ sesering mungkin dan catat perubahan DJJ dan perubahan periodik sebagai respons terhadap kontraksi uterus. Tujuan : Ibu mampu beradaptasi dengan adanya nyeri pada saat proses persalinan Kriteria Hasil : Mengungkapkan pemahaman. kondisi ibu... a) Memberikan informasi tentang fisiologi nyeri persalinan. R : Belajar mengejan dan bernapas untuk proses persalinan serta mengurangi stres dan kecemasan (Doenges dkk. Bingung apa yang harus dilakukan selama proses persalinan a) Memberikan konseling, informasi dan edukasi (CIE) kepada ibu.
Implementasi
R: Meningkatkan aliran balik vena dengan mengalihkan tekanan dari rahim ke vena cava inferior dan aorta desendens (Doenges et al, 2018). b) Membantu ibu memilih posisi yang tepat dan diinginkan.
Evaluasi
Anjurkan ibu untuk bernapas perlahan atau bernapas cepat dan dangkal ketika 1/3 kepala bayi sudah keluar dari vagina. Menurut Sulistyawati & Nugraheny (2013), potensi diagnosis yang mungkin muncul pada fase ketiga adalah: .. 1) Gangguan kontraksi pada fase ketiga. Dorong isi tali pusat ke arah distal (ibu) dan klem kembali tali pusat 2 cm dari klem pertama. 4) Pemotongan dan pengikatan tali pusat.
Dengan menggunakan satu tangan, pegang tali pusar yang terjepit (melindungi perut bayi) dan potong tali pusat di antara kedua klem tersebut. B. Ikat tali pusar dengan DTT atau benang steril di salah satu ujungnya lalu kembalikan benangnya dan ikat dengan simpul pengunci di ujung lainnya. Jika plasenta belum keluar setelah 30-40 detik, hentikan pengencangan tali pusat dan tunggu hingga kontraksi berikutnya terjadi dan ulangi prosedur di atas.
Manajemen Kebidanan Kala IV
Jika selaput ketuban robek, kenakan DTT atau sarung tangan steril untuk menjelajahi sisa selaput, lalu gunakan jari tangan atau DTT atau tang steril untuk mengeluarkan sisa selaput. Menurut Sulistyawati & Nugraheny (2013), potensi diagnosis yang mungkin terjadi pada kala IV adalah: .. 1) Hipotonia sampai dengan atonia uteri. Menurut Sulistyawati & Nugraheny (2013), kebutuhan segera yang dipenuhi adalah eksplorasi sisa plasenta, kompresi bimanual eksternal hingga internal, serta pemberian infus dan uterotonika.
Menurut JNPK-KR (2014), penatalaksanaan persalinan normal kala IV adalah sebagai berikut : . 1) Kaji kemungkinan adanya sayatan pada vagina dan perineum. Letakkan kembali bayi pada payudara ibu jika bayi gagal menyusu pada satu jam pertama dan biarkan hingga bayi berhasil menyusu. Jika rahim tidak berkontraksi dengan baik, berikan perawatan yang tepat untuk penanganan atonia uteri.
Manajemen Asuhan Kebidanan Masa Nifas .1 Pengkajian
Data Subjektif a. Biodata
Identifikasi Diagnosa Masalah
Pada langkah ini dilakukan interpretasi yang benar terhadap data mengenai diagnosis atau masalah dan kebutuhan klien berdasarkan interpretasi yang benar terhadap data yang dikumpulkan.
Identifikasi Diagnosa dan Masalah Potensial
Identifikasi Kebutuhan Segera
Intervensi
Beritahukan kepada ibu tentang hasil pemeriksaannya, bahwa ia dalam keadaan normal, namun harus menjalani pemeriksaan secara berkala. Jelaskan kepada ibu dan keluarga tentang tanda-tanda bahaya pada masa nifas seperti pendarahan, sakit kepala hebat, pembengkakan pada wajah, kaki dan tangan, demam lebih dari 2 hari, payudara bengkak. R : Memberikan informasi mengenai tanda-tanda bahaya kehamilan kepada ibu dan keluarga agar dapat melibatkan ibu dan keluarga dalam pemantauan dan deteksi dini komplikasi kehamilan, sehingga apabila terjadi tanda bahaya tersebut ibu dan keluarga dapat mengambil keputusan dan bertindak cepat .
R : Dengan teknik menyusui yang benar, ibu menjadi rileks, payudara tidak nyeri dan produksi ASI dapat lebih optimal. R : Produksi ASI akan terus terjadi karena adanya refleks prolaktin, produksi ASI terjadi pada payudara kanan dan kiri. Pemberian ASI pada salah satu payudara saja akan menimbulkan nyeri dan bengkak akibat benjolan ASI... a) Berikan informasi nutrisi yang tepat mengenai pentingnya serat, peningkatan cairan dan upaya membentuk pola buang air kecil yang normal. R : Adanya luka laserasi atau luka epsiotomi dapat menimbulkan nyeri sehingga menurunkan keinginan ibu untuk buang air besar.
Implementasi
Evaluasi
Catatan Perkembangan Masa Nifas .1 Pengkajian
Mencari tahu pasien dan keluarga yang menjalankan adat istiadat yang bermanfaat atau merugikan pasien terutama pada masa nifas, misalnya kebiasaan pantang makan (Wulandari & Handayani, 2011). Untuk mengetahui reaksi ibu dan keluarga terhadap kenyataan bahwa banyak wanita yang mengalami banyak perubahan emosional atau psikologis selama masa melahirkan, membiasakan diri menjadi seorang ibu, tak jarang ibu menunjukkan depresi ringan beberapa hari setelah melahirkan, dan depresi ini sering disebut dengan postpartum blues. Kebersihan diri: Diperiksa untuk mengetahui apakah ibu selalu menjaga kebersihan tubuh terutama pada area genital, karena pada masa nifas masih mengeluarkan lochea.
Perhatikan kenaikan suhu hingga 38 derajat Celcius pada hari kedua hingga kesepuluh yang mengindikasikan morbiditas persalinan. Jika ibu mengalami kejang, segera ambil tindakan untuk mengatasi kejang dan bantu merujuk ibu untuk penanganan lebih lanjut. Jika ibu tiba-tiba mengalami pendarahan, segera lakukan tindakan sesuai kondisi pasien, misalnya jika kontraksi rahim kurang baik segera berikan uterotonika.
Konsep Manajemen Kebidanan Neonatus dan Bayi Baru Lahir Tanggal
Identifikasi Diagnosa Masalah
Beberapa hasil interpretasi data dasar dapat digunakan untuk mengidentifikasi kemungkinan diagnosis atau kemungkinan permasalahan guna menemukan beberapa kemungkinan diagnosis atau permasalahan pada bayi baru lahir serta memprediksi permasalahan yang muncul (Hidayat, 2008). Masalah : Kemungkinan masalah yang timbul pada bayi baru lahir seperti Mongolian spot, ruam mulut, ngiler, ruam popok, seborrhea, jaundice, diare, konstipasi/sembelit, infeksi (Rukiyah, Lia Yulianti, 2013).
Identifikasi Diagnosa dan Masalah Potensial
Identifikasi Kebutuhan Segera
Intervensi
R/ Untuk mengetahui apakah bayi baru lahir sehat atau sakit, Anda dapat memeriksa tanda dan gejala utama pada anak. R/ Karena sistem pembekuan darah pada bayi baru lahir belum sempurna, maka semua bayi berisiko mengalami pendarahan.Untuk mencegahnya, diberikan vitamin K1 dosis tunggal 1 mg secara intramuskular pada paha kiri anterolateral, dilakukan penyuntikan vitamin K1. diberikan setelah prosedur IMD dan diberikan imunisasi hepatitis B (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2010). R/ Dengan posisi yang benar maka bayi akan merasa nyaman dan tidak tercekik, posisi ibu yang nyaman dan rileks akan meningkatkan hormon oksitosin ibu, posisi yang benar dan perlekatan bayi yang benar akan memberikan anak sumber yang tepat. hisapan. dan mencegah sariawan pada puting susu.
R/ Perawatan tali pusat yang benar dan pelepasan tali pusat pada minggu pertama secara signifikan mengurangi kejadian infeksi pada neonatus.Yang penting dalam perawatan tali pusat adalah menjaga tali pusat tetap kering dan bersih (Prawirohardjo, 2014). R/ Pemberian imunisasi BCG dapat meminimalkan paparan terhadap penyakit TBC, sedangkan imunisasi polio dapat mencegah polio pada anak. Ada beberapa tanda bahaya yang sebaiknya segera dirujuk ke dokter jika ditemukan pada bayi baru lahir.
Implementasi
Evaluasi
Pada wanita, lubang vagina, uretra berlubang, pada anak cukup bulan, labia mayora sudah menutupi labia. Pada anak laki-laki: pada bayi cukup bulan, testis telah turun ke dalam skrotum, lubang di ujung penis: pada bayi normal, terdapat di ujung glans penis, yang disebut lubang uretra. Pada bayi yang tidak normal (kelainan) = apispadia (lubang pada bagian punggung) dan hipospadia (lubang pada bagian perut).
Refleks akar: Apabila pipi bayi disentuh oleh jari pemeriksa, dia berpaling dan mencari sentuhan. Refleks glabella: Apabila bayi menyentuh kawasan glabella dengan jari pemeriksa, dia mengerutkan kening dan berkelip. Refleks kelenjar: Apabila bayi menyentuh pelipat paha kanan dan kiri, dia cuba mengangkat kedua-dua peha.
Konsep Manajemen Kebidanan Akseptor KB Tanggal Pengkajian
- Pengkajian
- Identifikasi Diagnosa Masalah
- Identifikasi Diagnosis dan Masalah Potensial
- Identifikasi Kebutuhan Segera
- Intervensi
- Implementasi
- Evaluasi
Riwayat haid yang diteliti adalah siklus, lama haid, jumlah, warna, nyeri haid, keluhan saat haid dan amenore. Dalam hal ini, ibu yang mengalami anemia karena menstruasi berlebihan dapat menggunakan metode kontrasepsi PIL, sedangkan ibu yang mengalami nyeri haid dan menstruasi teratur dapat menggunakan kontrasepsi suntik 1 bulan. Pada riwayat obstetri dimana ibu adalah nulipara dan telah memiliki anak, bahkan banyak anak, namun tidak ingin dilakukan tubektomi, atau setelah melakukan aborsi, dapat menggunakan kontrasepsi progestin, dan IUD dapat digunakan pada kondisi nulipara (Fraser & Cooper, 2009). Mata : Tidak ada edema pada kelopak mata, sklera berwarna putih/kuning, konjungtiva berwarna merah muda/pucat karena jika sklera berwarna kuning kemungkinan indikasi penyakit/penyakit liver lebih diutamakan Kontrasepsi non hormonal, sedangkan bagi ibu yang mengalami anemia karena untuk haid yang berlebihan, diperbolehkan menggunakan metode pil KB.
Payudara: Dimana nyeri dada memerlukan evaluasi lebih lanjut untuk menentukan penggunaan alat kontrasepsi implan, payudara dimana penderita tumor jinak atau kanker payudara dapat menggunakan metode IUD. Payudara: Jika teraba benjolan yang menandakan penerima menderita tumor jinak atau kanker payudara, metode IUD dapat digunakan dan jika teraba tumor/benjolan. Genetalia: Jika terdapat varises pada vulva ibu dapat menggunakan metode IUD untuk pemeriksaan anggota badan jika hasilnya menunjukkan terdapat varises, nyeri dan kaki bengkak menandakan tingginya resiko terjadinya penggumpalan darah pada kaki bila menggunakan alat kontrasepsi. suntik kombinasi, apabila teraba varises pada tungkai dapat menggunakan metode IUD dan apabila ibu mengalami edema dan nyeri pada tungkai, dada dan paha maka diperlukan evaluasi lebih lanjut untuk menentukan penggunaan KB implan (Affandi, 2014).