Dari konteks, perkataan makar bermaksud tipu daya, yang dikaitkan dengan tipu daya Allah dalam kesemua 22 ayat.14 Sebahagian daripadanya ialah Q.S. Dari konteks, perkataan makrun bermaksud mencabar tipu daya yang dikaitkan dengan tipu daya Allah sebanyak 7 ayat.
يِفِرْسُمْلا
Al-Kidb
34 Telah hilang semua berhala kami dari kami dan mereka mengaku dalam hati bahwa mereka adalah orang-orang kafir.” (K.S.A’ra>f; (7:37) Kedua kelompok ini adalah kaum penindas, tidak ada satu pun dari mereka yang lebih zalim dari mereka, begitu pula kelompok terdahulu maupun yang terakhir, meskipun tirani yang pertama melebihi tirani yang kedua.
مُكَءاَج
Artinya: “…yang berlayar di bawah pengawasan kami sebagai pahala bagi orang-orang yang ingkar (Nuh).” (Q.S. Al-Qamar ; (45): 14). Dilihat dari konteksnya, kata ka>firi>na berasal dari kata kafara yang artinya kekafiran dikaitkan dengan siksa, dan terhitung 66 ayat 44 yang diantaranya pada Q.S.
وَقْلا
نيِرِفاَكْلاََـ
Dilihat dari konteksnya, kata kufri berarti kekafiran yang dikaitkan dengan perilaku menunda bulan haram, sehingga kekafiran (halaling tahun haram) berjumlah empat ayat, yaitu pada Q.S. Menurut Quraish Shihab, penundaan atau penundaan bulan haram ini dinilai dari ayat ini sebagai ziya>datu fi> al-kufri yang artinya menambah kekafiran, karena penundaan tersebut secara tidak langsung merupakan pelanggaran terhadap ketetapan Allah dan ketetapan-Nya dalam hal ini. ayat tidak dikenali. segi waktu, pemuliaan bulan-bulan. Apabila mereka melakukan kemusyrikan, maka mereka mempersekutukan Allah, dan dengan menundanya mereka menjadikan dirinya sekutu dalam menentukan hukum.
Dilihat dari konteks, perkataan kufran berasal daripada kafara yang bermaksud kufur dikaitkan dengan nifa>q yang bermaksud kemunafikan dalam keseluruhan 9 ayat iaitu Q.S. Maksudnya: "Orang-orang Arab Badwi ini, kekufuran dan kemunafikan mereka lebih melampau, dan lebih wajar jika tidak mengetahui hukum-hukum yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya. Perkataan kufur dalam ayat ini disandingkan dengan gambaran orang-orang Arab, yang hidup. di padang pasir, kekufuran dan kemunafikan mereka lebih parah daripada orang Arab yang tinggal di kota itu.
Dan mereka tidak mengetahui hukum-hukum yang diturunkan Allah kepada rasul-Nya berbanding dengan penduduk kota itu. Kerana mereka tidak dapat menyaksikan bagaimana Rasulullah melaksanakan syariat yang dikemukakan oleh al-Quran dalam perbuatannya seharian.
ػيَِِقوُس
Al-F isq
Maksud perkataan fisq menurut bahasa ialah kemaksiatan, meninggalkan perintah Allah dan meninggalkan jalan kebenaran, penyelewengan dan lain-lain.50 Manakala menurut Ibnu Zakaria pula, perkataan fasaka yang terdiri daripada tiga huruf iaitu huruf fa’. . dosa, dan qaf bermaksud meninggalkan ketaatan. Istilah fasik boleh digunakan untuk orang yang melakukan sedikit dosa atau melakukan banyak dosa. Secara umumnya, orang fasik dilabelkan sebagai orang yang sudah mempunyai tanggungjawab hukum Syarak dan dia melanggar semua atau sebahagian daripada hukum yang secara logiknya wajib dan dikehendaki oleh fitrah manusia.51 Perkataan fisq dan derivatifnya dalam al-Quran. diulang sebanyak 54 kali dalam 23 huruf yang terbahagi kepada beberapa kata nama dan kata kerja adalah seperti berikut: 52.
Dilihat dari konteksnya, kata fasaqa artinya rusak dan dikaitkan dengan perintah Allah SWT yang berjumlah 4 ayat yaitu pada surat Yu>nus;.
ةَذوُقْو
اوُمِسْق
Artinya: “Maka orang-orang yang zalim itu menggantikan perintah itu dengan (melakukan) apa yang tidak diperintahkan kepada mereka. Itulah sebabnya Kami timpakan azab dari langit kepada orang-orang yang zalim itu, disebabkan mereka berbuat fasik." (Maksud A.S.: “Katakanlah: “Aku tidak mendapati dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku sesuatu yang diharamkan bagi orang yang ingin memakannya, kecuali jika makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir, atau daging babi, kerana sesungguhnya semuanya itu adalah najis atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah.
Al-An'a>m Memahami konteks ayat ini adalah seperti sanggahan kepada orang-orang musyrik yang ingin mengada-ngada. Adapun orang-orang yang beriman, mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi orang-orang yang kafir berkata: "Apakah maksud Allah menjadikan perumpamaan ini?" Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan oleh Allah, dan dengan perumpamaan itu banyak orang yang mendapat petunjuk oleh-Nya. Dengan perumpamaan itu Dia telah memberi petunjuk kepada banyak orang yang beriman, hingga petunjuk bagi banyak orang yang beriman, sehingga petunjuk demi petunjuk itu terus tumbuh bagi mereka dalam apa yang mereka ketahui dengan benar dan pasti harus sesuai dengan apa yang Allah telah bandingkan dan hisab mereka tentangnya. .
Dari konteks, perkataan I'tada> bermaksud melampaui batas berkaitan pelanggaran sumpah atas nama Allah dengan jumlah 7 ayat. Artinya: “Jika diketahui kedua-duanya (saksi) melakukan dosa, maka dua orang lain dari ahli waris yang sah yang paling dekat dengan orang yang meninggal (memohon) untuk menggantikannya, maka keduanya bersumpah dengan nama Allah. "Sesungguhnya kesaksian kami lebih baik diterima daripada keterangan dua orang saksi itu, dan kami tidak melampaui batas, sesungguhnya kami termasuk orang-orang yang menganiaya diri mereka sendiri." (K.S.
فوُقُسْفَػي
فوُل
Dalam bentuk masdar terdapat 2 bentuk yang diulang sebanyak 2 kali dalam 2 ayat. Dilihat dari konteksnya, kata 'adwan artinya pelanggaran yang berkaitan dengan melintasi batas tanpa sepengetahuannya, total ada 2 ayat. Dilihat dari konteksnya, kata mu'tadi berarti orang yang melampaui batas, yang dikaitkan dengan keengganan Allah untuk melampaui batas, dengan jumlah 27 ayat dan 63 ayat yaitu pada Q.S. Artinya: “Dan berperanglah di jalan Allah melawan orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Q.S.
Kemudahan sebegini, selain daripada yang tidak digunakan sebagai alat perang, tidak boleh dimusnahkan, seperti kemudahan awam, alam sekitar, pokok dan sebagainya. Perkataan had}ama ialah bentuk maskulin dari kata dasar h}ad}ama-yuh}d}imu-had}man, yang mempunyai makna perlakuan tidak adil.65 Perkataan ini diulang dua kali dalam al-Quran dalam dua bentuk berulang. tidak kurang daripada 2 kali ganda.66. Artinya: “Dan barangsiapa yang mengerjakan amal saleh sedang ia dalam keadaan beriman, maka ia tidak mengkhawatirkan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya) dan tidak (pula) akan berkurangnya haknya”. (Q.S.
Menurut Hamka, Allah memberikan teguran kepada orang-orang yang selama hidup di dunia mengerjakan amal shaleh, yaitu amal shaleh dan usaha yang disenangi Allah dan sesama manusia, sedangkan amalan tersebut timbul karena keimanannya kepada Allah, bukan semata-mata karena keimanannya kepada Allah. melakukan perbuatan baik. Hanya kelihatannya baik di luar saja, namun di dalam hatinya tidak diniatkan karena keimanan kepada Allah, hanya karena mengharap pujian manusia, sehingga orang yang beramal shaleh berdasarkan keimanan kepada Allah tidak akan merasa takut dan khawatir. khawatir mereka akan dianiaya. Kata janafa merupakan bentuk mas}dar dari akar kata janafa, yajnifu, janafan yang artinya melampaui batas.69 Kata ini.
ميِحَر
ةَتْػيَمْلا َ
ـّدلاَو َ
ةَذوُقْوَمْلاَو
عُبّسلا َ
بُصّلا َ
ـاْزأَِ َ
فْوَشْخاَو
ـْوَػيْلا َ
تيِضَرَو َ
رُطْضا َ
رْػيَغ َ
فِناَجَتُم َ
روُفَغ َ ميِحَر َ
Bentuk-bentuk dan Konteksualisasi Ayat Tentang Z{ulm
Setelah menjelaskan beberapa asal muasal tentang z}ulm, penulis akan menganalisis kata z}ulm berdasarkan bentuknya dan konteks ayat terkait kata z}ulm dalam Al-Qur'an. Pada bentuk fi'il ma>d}i kata z}ulm secara keseluruhan terdapat beberapa bentuk yang dibedakan menjadi 2 bentuk yaitu bentuk pertama dan bentuk ketiga yang berkaitan dengan z}ulm. Dilihat dari konteksnya, kata z}alamna> mempunyai arti telah berbuat salah, yang disertai dengan sikap menganiaya diri sendiri.
Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan mengasihani kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.” (S. Ayat di atas menjawab pertanyaan apa itu siksa dari Allah setelah diterimanya Nabi Adam (as). dari Allah.. beberapa kalimat bagi mereka yang berada dalam rangka taubat. Pertama, huruf lam digunakan untuk kutukan dan yang penulis isyaratkan dalam penjelasan harafiahnya, yang kedua adalah penambahan huruf nun dalam lanaku>nanna yang diterjemahkan dengan kata pastilah dan yang ketiga adalah minal kha>siri>n yang diterjemahkan mencakup sekelompok orang yang telah kalah. Bentuk kata ini diulang sebanyak dua kali yaitu pada Q.S. Dilihat dari konteksnya, kata z}alamu>na> artinya telah berbuat salah, berkaitan dengan menzalimi diri sendiri.
Kata-kata dalam bentuk ini disebutkan sebanyak 14 kali yang kemudian dapat dibagi menjadi tiga bentuk, yaitu bentuk pertama, kedua, dan ketiga. Dilihat dari konteksnya, kata az}lamu berarti lebih menganiaya dan dikaitkan dengan orang yang mengharamkan ibadah dalam 6 ayat yaitu pada Q.S.
ميِظَعٌَباَذَع
Dalam bentuk mas}dar kata z}ulm mempunyai satu bentuk yaitu pada bentuk ketiga yaitu maz}lu>man dalam bentuk ketiga (mufrad) tanpa kata ganti (damir). Dalam Isim fa>'il kata z}ulm yang ditemukan berbentuk orang ketiga, yaitu kata z}a>limi>na dalam bentuk ketiga tanpa kata ganti (d}amir) (jama'). Bentuk isim majh}u>l kata z}ulm mempunyai 1 bentuk yaitu isim majhu>l bentuk ketiga.
Dilihat dari konteks, perkataan z}ulima bermaksud orang yang zalim ditentang oleh orang yang beriman dan beramal soleh. Ash-Shu>'ara> Dalam ayat ini orang-orang yang berdosa memulakan kesalahan mereka dengan melepasi garisan untuk membalas dendam. Kata nama yang menunjukkan lebihan sesuatu (kata nama tafd}i>l) Kata z}ulm dalam bentuk kata nama tafd}i>l mempunyai 1 bentuk, iaitu dalam bentuk ketiga.
Kata z}ulm dalam Isim h}a>l mengandung 4 kata yang disebutkan dalam bentuk ketiga, yaitu kata z}alu>man dalam bentuk ketiga (jama') tanpa kata ganti (damir). Dari beberapa bentuk tersebut, penulis membaginya menjadi bentuk pertama, kedua dan ketiga. Istilah z}ulm dalam isim fa>'il pada hakikatnya mengandung tiga peristiwa sekaligus, yaitu adanya suatu peristiwa, terjadinya suatu peristiwa, terjadinya suatu peristiwa yang diungkapkan isim fa>'il mengandung ungkapan yang lebih lengkap dibandingkan jika dinyatakan dalam bentuk lain.
Terdapat kaidah penafsiran yang menyatakan bahwa kata benda yang berbentuk isim gagal menunjuk pada sesuatu yang tetap dan tetap, meskipun kaidah ini belum dapat diterapkan pada semua peristiwa yang ditandai dengan penggunaan isim fa>'il. 102 Istilah z}ulm dalam Al-Qur'an dan isim fa>'il secara umum mengacu pada beberapa jenis subjek, yaitu orang ketiga berarti perbuatan maksiat seperti mengingkari ayat-ayat Allah, melakukan kejahatan dan dosa (Q.S.