BAB III LANDASAN TEORI
3.1 Perancangan
Perancangan merupakan sesuatu proses pemilihan serta pemikiran yang menghubungkan fakta- fakta menurut asumsi- asumsi yang berkaitan dengan masa tiba dengan menggambarkan serta merumuskan kegiatan- kegiatan tertentu yang diyakini dibutuhkan untuk mencapai tujuan- tujuan tertentu serta menguraikan bagaimana pencapaiannya (Cahyaningtyas & Iriyani, 2015). Perancangan adalah sesuatu aktivitas yang mempunyai tujuan buat mendesign sistem baru yang bisa menuntaskan masalah- masalah yang dialami industri yang diperoleh dari pemilihan alternatif sistem yang terbaik.
Sari (2018) mengemukakan bahwa Perancangan adalah proses merencanakan segala sesuatu terlebih dahulu. Perancangan merupakan wujud visual yang dihasilkan dari bentuk-bentuk kreatif yang telah direncanakan. Langkah awal dalam perancangan desain bermula dari hal-hal yang tidak teratur berupa gagasan atau ide- ide kemudian melalui proses penggarapan dan pengelolaan akan menghasilkan hal- hal yang teratur, sehingga hal-hal yang sudah teratur bisa memenuhi fungsi dan kegunaan secara baik. Perancangan merupakan penggambaran, perencanaan, pembuatan sketsa dari beberapa elemen yang terpisah kedalam satu kesatuan yang utuh dan berfungsi.
1. Tujuan Perancangan Ulang a. Meningkatkan Stabilitas
Tujuan utama dari perancangan ulang bendungan adalah untuk meningkatkan stabilitas struktur bendungan tersebut. Perancangan ulang dilakukan untuk memastikan bahwa bendungan dapat bertahan dan beroperasi dengan aman dalam jangka waktu yang panjang.
b. Optimalisasi Kinerja Hidrolik
Perancangan ulang bertujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan kinerja hidrolik bendungan. Hal ini termasuk dalam hal penanganan aliran air, pengendalian banjir, dan distribusi air untuk irigasi atau keperluan lainnya.
c. Peningkatan Kapasitas dan Efisiensi
Tujuan lain dari perancangan ulang bendungan adalah untuk meningkatkan kapasitas dan efisiensi bendungan. Dengan perancangan ulang, dapat ditingkatkan kapasitas tampungan air bendungan serta efisiensi dalam pengelolaan sumber daya air.
2. Fungsi Perancangan Ulang
a. Mengatasi Kekurangan Desain Awal
Perancangan ulang bendungan dilakukan untuk mengatasi kekurangan atau masalah yang terdapat dalam desain awal bendungan. Hal ini meliputi aspek- aspek seperti kestabilan struktur, kinerja hidrolik, dan kapasitas bendungan.
b. Menyesuaikan dengan Perubahan Lingkungan:
Fungsi perancangan ulang bendungan juga termasuk dalam menyesuaikan bendungan dengan perubahan lingkungan sekitar. Dengan perancangan ulang, bendungan dapat disesuaikan dengan kondisi lingkungan yang berubah seiring waktu.
3. Memastikan Keberlanjutan Operasional
Perancangan ulang bertujuan untuk memastikan keberlanjutan operasional bendungan dalam jangka panjang. Dengan perancangan yang tepat, bendungan dapat terus beroperasi dengan efisien dan aman.
Dengan tujuan dan fungsi perancangan ulang bendungan yang jelas, diharapkan bendungan dapat berfungsi secara optimal, aman, dan efisien sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan lingkungan sekitarnya.
3.2 Bendungan
3.2.1 Pengertian Bendungan
Bendung adalah suatu bangunan yang dibuat dari pasangan batu kali, bronjong atau beton, yang terletak melintang pada sebuah sungai yang tentu saja bangunan ini dapat digunakan pula untuk kepentingan lain selain irigasi, seperti
untuk keperluan air minum, pembangkit listrik atau untuk pengendalian banjir.
Bendung adalah suatu bangunan air dengan kelengkapan yang dibangun melintang sungai atau sudetan yang sengaja dibuat untuk meninggikan taraf muka air atau untuk mendapatkan tinggi terjun, sehingga air dapat disadap dan dialirkan secara gravitasi ke tempat yang membutuhkannya. (Mawardi dan Memed, 2002).
Bendung berfungsi antara lain untuk meninggikan taraf muka air, agar air sungai dapat disadap sesuai dengan kebutuhan dan untuk mengendalikan aliran, angkutan sedimen dan geometri sungai sehingga air dapat dimanfaatkan secara aman, efektif, efisien dan optimal. (Mawardi dan Memed, 2002).
3.2.2 Klasifikasi Bendungan
Menurut Mangore, et al (2013), bendung dibagi menjadi dua macam, yaitu bendung tetap dan bendung sementara, bendung tetap adalah bangunan yang sebagian besar konstruksi terdiri dari pintu yang dapat digerakkan untuk mengatur ketinggian muka air sungai sedangkan bendung tidak tetap adalah bangunan yang dipergunakan untuk menaikkan muka air di sungai, sampai pada ketinggian yang diperlukan agar air dapat dialirkan ke saluran irigasi dan petak tersier.
Menurut Erwan Mawardi (Tahun 2006) sebagai berikut:
a. Bendung berdasarkan fungsinya:
1) Bendung penyadap, digunakan sebagai penyadap aliran sungai untuk berbagai keperluan seperti untuk irigasi, air baku dan sebagainya.
2) Bendung pembagi banjir, dibangun di percabangan sungai untuk mengatur muka air sungai, sehingga terjadi pemisahan antara debit banjir dan debit rendah sesuai dengan kapasitasnya.
3) Bendung penahan pasang, dibangun dibagian sungai yang dipengaruhi pasang surut air laut antara lain untuk mencegah masuknya air asin.
b. Bendung berdasarkan tipe strukturnya:
1) Bendung tetap,bendung tetap adalah jenis bendung yang tinggi dan tidak dapat diubah, sehingga muka air di hulu bendung tidak dapat diatur sesuai yang dikehendaki. Pada bendung tetap elevasi muka air dihulu bendung berubah sesuai dengan debit sungai yang sedang melimpas (muka air tidak bisa diatur naik ataupun turun). Bendung tetap biasanya dibangun pada
daerah hulu sungai. Pada daerah hulu sungai kebanyakan tebing-tebing sungai relative lebih curam dari pada di daerah hilir.
2) Bendung gerak, bendung gerak adalah jenis bendung yang tinggi pemBendung ya dapat diubah susuai yang dikehendaki. Pada bendung gerak elevasi muka air di hulu bendung dapat dikendalikan naik atau turun sesuai yang dikehendaki dengan membuka atau menutup pintu air. Bendung gerak biasanya dibangun pada hilir sungai atau muara.
c. Berdasarkan dari segi sifatnya:
1) Bendung permanen, seperti bendung pasangan batu, beton, dan kombinasi beton dan pasangan batu.
2) Bendung semi permanen, seperti bendung broncong.
3) Bendung darurat, yang dibuat oleh masyarakat pedesaan seperti bendung tumpukan batu dan sebagainya.
3.2.3 Penyebab Keruntuhan Bendungan
Pembangunan bendung mempunyai risiko tinggi berupa kemungkinan terjadinya kegagalan bendung yaitu keruntuhan sebagian atau seluruh bendung atau bangunan pelengkapnya. Selain itu, pembangunan bendung juga mempunyai potensi bahaya yang besar yang dapat mengancam keselamatan masyarakat pada kawasan hilir bendung. Keruntuhan bendung dapat disebabkan oleh:
a. kegagalan struktur antara lain terjadi longsoran.
b. kegagalan hidraulik yang mengakibatkan terjadinya peluapan air.
c. kegagalan operasi, dan terjadinya rembesan yang dapat mengganggu kestabilan bendung.
Dalam rangka mewujudkan ketertiban pembangunan bendung dan pengelolaan bendung beserta waduknya, serta penyelenggaraan keamanan bendung, diperlukan instrumen pengendalian yang berupa izin dan persetujuan dalam tahapan pembangunan bendung dan pengelolaan bendung beserta waduknya.
Keseluruhan izin dan persetujuan yang diperlukan meliputi izin penggunaan sumber daya air, persetujuan prinsip pembangunan, persetujuan desain, izin pelaksanaan konstruksi, izin pengisian awal waduk, izin operasi bendung,
persetujuan desain perubahan atau persetujuan desain rehabilitasi, izin perubahan bendung atau izin rehabilitasi bendung, dan izin penghapusan fungsi bendung.
Peraturan pemerintah ini memuat pengaturan untuk terwujudnya tertib penyelenggaraan pembangunan bendung dan pengelolaan bendung beserta waduknya yang selaras dengan daya dukung lingkungan hidup, memenuhi kaidah- kaidah kelayakan teknis dan ekonomis serta keamanan bendung, dalam rangka mengurangi dampak negatif aspek lingkungan hidup, dan terjaganya keselamatan umum terkait kemungkinan terjadinya kegagalan bendung, dan dalam rangka menjaga kelestarian sumber daya air serta meningkatkan kemanfaatan fungsi sumber daya air, pengawetan air, pengendalian daya rusak air, dan menjaga keamanan serta keselamatan lingkungan hidup. Keruntuhan sebuah bendung biasanya di awali dengan terjadinya rekahan (breach) yang terbentuk pada tubuh bendung.rekahan adalah bukaan yang terbentuk pada proses runtuhnya bendung.
3.3 Tahapan Perancangan Bendungan
Tahapan Perancangan Bendungan terbagi menjadi empat, sebagai berikut:
1. Studi kelayakan pendahuluan
Pencarian informasi data peran perancangan diperlukan kegiatan penelitian pada data data yang dijadikan bahan analisis selanjutnya. pada dasarnya kegiatan studi kelayakan pendahuluan terdiri dari pengumpulan data dan pengujian data yang sudah terkumpul. Selanjutnya diadakan perancangan permintaan topografi yang lebih lengkap dan penelitian geologi di beberapa tempat.
Kemudian diadakan perhitungan perhitungan teknis dan ekonomi yang masih bersifat sederhana, penentuan lokasi proyek dan desain yang sederhana pula.
2. Studi kelayakan
Studi kelayakan di dalam tahap studi kelayakan ini diteliti untuk kembali memperhitungan dan desain yang telah dibuat terdahulu, lalu melakukan pemetaan topografi dengan skala yang lebih kecil, memasang alat-alat pengukur parameter hidrologi dan klimatologi serta penyelidikan geologi. Dari data tersebut diperoleh dan dibuat perhitungan teknis beberapa bangunan terutama yang diperlukan dalam perhitungan ekonomi proyek.
3. Perencanaan teknis
Yang pertama analisis hidrologi yakni perencanaan bangunan yang sama halnya dengan bendungan sebagai informasi yang sangat penting untuk pekerjaan perhitungan per dimensian dan karakteristik bangunannya. Tanpa diketahui secara jelas sifat dan besaran hidroginya maka tidak akan menentukan sifat dan besaran hidroliknya.
Analisis hidrologi dimaksudkan sebagai kegiatan untuk mendapatkan dimensi bangunan secara hidrolis dengan mendapatkan parameter perantar bangunan baik ukuran maupun parameter hidrologi lainnya. Kemudian perhitungan stabilitas untuk mendapatkan tingkat stabil.
4. Pelaksanaan pembangunan
Rencana pelaksanaan konstruksi dibuat sedemikian rupa sehingga urutan urutan pelaksanaannya yang efektif dan efisien hingga tidak tumpang tindih. jadwal kerja yang telah dibuat dapat dijadikan pegangan dalam pelaksanaan konstruksi lapangan. Walaupun demikian, kondisi alam terkadang akan merubah jadwal dan sistem kerja sehingga diperlukan pengawasan dan tata kerja yang disiplin.
Secara umum, urutan pekerjaan dilakukan mulai dari pembuatan jalan akses, pembuatan basecamp dan stabilisasi, pembuatan saluran pengelak, pembuatan coverdam, penggalian pondasi, penimbunan, penutupan alur sungai dan penutupan saluran pengelak. kemudian program dan schedule pelaksanaan serta jenis dan kapasitas pekerjaan supaya disusun secara teliti didasarkan pada karakteristik masing masing pekerjaan dari setiap komponen bendungan juga perlu dipertimbangkan terhadap kondisi medan pelaksanaannya.