Karbon jenis ini umumnya digunakan dalam aplikasi fase cair dan gas seperti halnya karbon aktif bubuk. Karbon aktif ini dapat digunakan untuk pemurnian emas, limbah dan air tanah, pengolahan air dan penghilangan bau. Karbon aktif ini dapat digunakan untuk pemurnian udara, pengendalian emisi, aki mobil, dan penghilang bau.
Sejarah karbon aktif dimulai pada tahun 1600 SM, orang Mesir menggunakan arang dalam pengobatan. Penggunaan karbon aktif terus meningkat untuk pengolahan air limbah, proses daur ulang pelarut, dll. Gugus fungsi ini membuat permukaan karbon aktif menjadi reaktif secara kimia dan mempengaruhi sifat serapannya.
Teknik pembuatan karbon aktif telah dikenal sejak tahun 1900 dengan ditemukannya paten terkait proses pembuatan karbon aktif. Berdasarkan paten tersebut, karbon aktif diproduksi secara komersial di Eropa dengan menggunakan kayu dan gambut sebagai bahan bakunya. Prinsip utama proses produksi karbon aktif meliputi dua tahapan yaitu proses karbonisasi dan proses aktivasi.
Karbon aktif dapat diaktivasi dengan dua cara yaitu aktivasi kimia dan aktivasi fisika (Kinoshita, 1988).
Proses Aktivasi Fisika
- Kegunaan Karbon Aktif
- Bilangan Iodin
- Proses Pembuatan Bilangan Iodin (AWWA B604-96)
- Bahan Baku Karbon Aktif .1 Tempurung Kelapa
- Arang Tempurung Kelapa
- Pirolisis
- Bahan Bakar .1 Batubara
- Sejarah Pertambangan Batubara di Indonesia
- Keterbentukan Batubara
- Kualitas Batubara
- Sifat Batubara
Tempurung kelapa merupakan lapisan keras pada buah kelapa yang terdiri dari lignin, selulosa, metoksil dan berbagai mineral. Setiap batubara yang terbentuk mempunyai kualitasnya masing-masing, oleh karena itu harga batubara bisa sangat bervariasi berdasarkan kualitas yang dimilikinya, semakin tinggi kualitas batubara tersebut maka semakin banyak pula uang yang harus dikeluarkan konsumen untuk mendapatkannya. Penambangan batu bara pertama di Indonesia dimulai pada tahun 1849 di Pengaron, Kalimantan Timur oleh NV Oost Borneo Maatschappij.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 1968, tiga tambang batubara yang masih aktif berproduksi yaitu Tambang Batubara Ombilin di Sumatera Barat, Tambang Batubara Bukit Asam di Sumatera Selatan, dan Tambang Batubara Mahakam di Kalimantan Timur digabungkan menjadi PN Tambang Batubara dan masing-masing tambang tersebut merupakan unit produksi. Hal ini berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1980 dan sejak tahun 1981 terpisah dari Pengadilan Negeri Batubara Tambang. Sejak saat itu, PN Tambang Batubara hanya memiliki satu unit produksi, yakni tambang batubara Ombilin di Sumatera Barat.
Dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 49 Tahun 1981, Pengadilan Negeri Batubara Tambang mengadakan kerjasama dengan sejumlah perusahaan swasta asing yang bertujuan untuk mengembangkan potensi batubara Indonesia. Kerjasama bisnis ini diawali dengan budidaya cadangan batu bara di wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 1990, tanggal 30 Oktober 1990, PN Tambang Batubara dibubarkan dan digabungkan menjadi Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) agar lebih efisien dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang mengelola pertambangan batubara. dan kontraktornya.
Dengan demikian, PTBA memiliki lebih dari 30 kontraktor penambangan batu bara yang tersebar di Kalimantan dan Sumatera. Porsi produksi batu bara yang dibayarkan kepada pemerintah digantikan dengan uang tunai sehingga hak dan kewajiban PTBA dalam mengelola kontraktor beralih kepada pemerintah. Periode Karbon, sekitar 340 juta tahun yang lalu, merupakan periode paling produktif dalam pembentukan batubara ketika hampir seluruh deposit batubara hitam yang ekonomis di Belahan Bumi Utara terbentuk.
Jenis batubara yang terbentuk memiliki persebaran yang luas dan merata dengan kualitas yang baik, karena abu yang dihasilkan relatif sedikit. Umumnya untuk menentukan kualitas batubara dilakukan analisis kimia terhadap batubara, meliputi analisis proksimat dan analisis ultimat. Sub-bituminus (C75OH5O20), merupakan golongan batubara yang mengandung sedikit karbon dan banyak air serta kandungan kalori yang lebih rendah yaitu antara 4611 kkal/kg - 5833 kkal/kg sehingga merupakan sumber panas yang kurang efisien jika dibandingkan. dengan bitumen.
Lignit atau lignit (C70OH5O25), merupakan batubara yang sangat lunak dengan nilai kalor lebih rendah dibandingkan sub-bituminus sekitar 3500 kkal/kg - 4611 kkal/kg dan mengandung air menurut beratnya. Gambut (C60H6O34), merupakan golongan batubara dengan nilai kalor terendah dibawah 3500 kkal/kg dengan kadar air diatas 75% beratnya.
Sifat Umum
Batubara mempunyai sifat atau ciri umum tertentu yang memungkinkan untuk membedakan jenis batubara itu sendiri. Sifat fisik batubara bergantung pada unsur kimia penyusun batubara tersebut. Berikut sifat fisik batubara, yaitu: Berat jenis batubara sebanding dengan peningkatan kualitas batubara. Semakin tua umur suatu batubara, maka semakin tua pula umur batubara tersebut, maka semakin besar pula berat jenisnya.
Lignit mempunyai guratan hitam keabu-abuan, bitumen mempunyai guratan hitam, batubara umumnya mempunyai guratan coklat sampai hitam metalik. Warna batubara dibedakan menjadi dua jenis, yaitu batubara muda (vitrain) dan batubara gelap (fusain), batubara muda atau lignit hingga batubara sub-bituminus berwarna coklat, sedangkan batubara tua berwarna hitam pekat sesuai peringkatnya.
Sifat Kimia
Pemanfaatan Batubara
Untuk membangun pembangkit listrik dengan bahan bakar batubara, hal terpenting yang perlu diperhatikan dalam merancang pembangkit adalah karakteristik dan deskripsi batubara yang digunakan. Pemilihan teknologi pembakaran yang tepat berdasarkan sifat batubara yang digunakan merupakan hal penting untuk mencapai teknologi pembakaran yang efisien dan ramah lingkungan. Boiler yang dirancang untuk batubara bernilai rendah seperti batubara lignit dan sub-bituminus tidak memerlukan teknologi khusus dan dapat ditangani dengan menggabungkan teknologi yang ada.
Sehubungan dengan hal tersebut, banyak negara yang saat ini menggunakan batu bara sebagai sumber bahan bakar alternatif. Dalam industri semen, batubara tidak hanya digunakan sebagai bahan bakar saja, namun juga sebagai bahan baku dalam proses pembuatan semen. Oleh karena itu, penyediaan batubara dengan kualitas yang tepat dan pemanfaatan batubara yang tepat sangat diperlukan dalam industri semen.
Gasifikasi batubara merupakan suatu proses untuk mengubah seluruh bahan organik batubara menjadi bentuk gas, abu-abu dan suhu hanya mempengaruhi laju gasifikasi dan jika diinginkan dapat diperoleh gas yang semuanya mengandung CO, CO2, H2, H2O dan CH4 selain pengotor hidrogen sulfida (berbagai % volume, tergantung pada berbagai faktor seperti abu-abu, kandungan mineral batubara, ukuran partikel selama pemrosesan dan kondisi reaksi). Gasifikasi batubara bawah tanah (lokal) adalah metode yang menggabungkan penambangan dan konversi batubara dalam satu langkah, sehingga menghilangkan peralatan penambangan dan pemrosesan serta reaktor gasifikasi. Pada saat yang sama, gasifikasi bawah tanah menghilangkan masalah kesehatan, keselamatan dan lingkungan yang terkait dengan penambangan batubara konvensional.
Sebagian gas akan keluar ke atas permukaan melalui media rekahan pada batuan, namun ada pula gas yang terperangkap pada batubara. Metana batubara terbentuk dengan air, nitrogen, dan karbon dioksida ketika bahan organik terkubur dan kemudian berubah menjadi batubara. Proses karbonisasi batubara pada dasarnya adalah suatu proses pemanasan batubara yang bertujuan untuk menurunkan atau menghilangkan kadar zat-zat yang mudah menguap sehingga kandungan karbonnya semakin meningkat.
Proses karbonisasi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan pemanasan langsung dan pemanasan tidak langsung. Pemanasan langsung biasanya dilakukan di tungku kubah, dimana batubara dipanaskan dalam kondisi udara terbatas sehingga hanya zat volatil saja yang terbakar. Pemanasan tidak langsung terjadi dengan menempatkan batubara dalam retort dan memanaskannya dari luar, dan dalam metode ini, selain kokas (semi-kokas), juga dihasilkan produk samping berupa tar, amonia, hidrogen, dan gas lainnya.
Peralatan Pembuatan Karbon Aktif .1 Rotary Kiln
- Prinsip Kerja Rotary Kiln
- Fungsi Boiler
- Prinsip Kerja Boiler
Burner adalah suatu peralatan yang menyediakan atau mengatur bahan bakar dan udara pembakaran untuk pembakaran yang baik dan peningkatan efisiensi pembakaran. Steam Flow, merupakan komponen yang berfungsi mengeluarkan uap air untuk pembakaran di ruang bakar. Fungsi utama proses pembakaran pada rotary kiln adalah membakar dan membentuk material menjadi produk klinker.
Pada kondisi lapangan, sering dijumpai keadaan pada proses pembakaran dimana konsumsi bahan bakar lebih besar dibandingkan pemasukan bahan baku, akibatnya banyak panas yang diperoleh dari pembakaran bahan bakar terbuang pada gas buang, dinding tungku, dan kehilangan panas. tidak diamati. Oleh karena itu, perlu adanya analisis optimasi konsumsi bahan bakar yang dikaitkan dengan asupan bahan baku untuk mendapatkan kondisi proses dengan efisiensi yang tinggi. Rotary kiln adalah wadah berbentuk silinder yang ditempatkan pada posisi horizontal dan agak miring, yang diputar perlahan pada porosnya.
Uap air mengalir sepanjang tungku, terkadang searah dengan bahan yang diproses (arus searah), tetapi biasanya berlawanan arah (arus berlawanan). Bahan bakar untuk pembakaran ini bisa berasal dari gas, minyak atau batu bara bubuk; yang paling umum digunakan adalah batubara bubuk. Bahan bakar boiler berkisar dari bahan bakar populer seperti batu bara, bahan bakar minyak, gas dan lain-lain.
Air dalam boiler dipanaskan oleh panas hasil pembakaran bahan bakar (sumber panas lain), sehingga panas berpindah dari sumber panas ke air, yang menyebabkan air menjadi panas atau berubah bentuk menjadi uap. Air yang lebih hangat mempunyai berat jenis yang lebih rendah dibandingkan dengan air yang lebih dingin, sehingga terjadi perubahan berat jenis air di dalam boiler. Air yang mempunyai berat jenis lebih rendah akan naik, dan sebaliknya air yang mempunyai berat jenis lebih tinggi akan tenggelam ke dasar.
Boiler berfungsi sebagai alat konversi energi yang mengubah energi kimia (potensial) bahan bakar menjadi energi panas. Prinsip operasi umum boiler adalah konversi dan transfer energi yang terkandung dalam bahan bakar menjadi energi yang terkandung dalam uap air. Proses pelepasan energi bahan bakar dilakukan dengan mereaksikan bahan bakar dengan oksigen yang diambil dari udara.