• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHSAN

N/A
N/A
Anam Syafi'i

Academic year: 2024

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHSAN "

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHSAN

A. SEJARAH DAN PERKEMBANGAN TAREKAT DI INDONESIA 1. Tasawuf dan Tarekat

a. Asal-Usul Tasawuf

Sufisme atau tasawuf adalah pemahaman keislaman yang moderat serta bentuk dakwah yang mengedepankan perkataan yang mulia, perkataan yang baik, perkataan yang pantas, perkataan yang lemah lembut, perkataan yang berbekas pada jiwa, serta perkataan yang berbobot yang diperintahkan oleh Al-Qur’an.1 Said Aqil Siroj mengatakan bahwa pentingnya pemahaman ulang tentang tasawuf yang selama ini hanya dipahamami sebatas pada dimensi partikularnya, yang hanya terbatas pada ritual dan asketisisme yang bersifat personal. Said Aqil Siroj juga menjelaskan bahwa tasawuf merupakan sebuah misi kemanusiaan yang menggenapi misi islam secara keseluruhan. Mulai dari dimensi iman, islam hingga ihsan. Dalam prakteknya dimensi ihsan ini bisa diwujudkan dalam bentuk dan pola beragama yang tawassuth (moderat), tawazan (keseimbangan), i’tidal (jalan tengah), dan tasamuh (toleran).2

Ajaran Sufisme atau tasawuf mendapatkan banyak kritik dan beragam anggapan bahwa aliran tasawuf lahir dari rahim islam atas pengaruh dari luar, karena tasawuf muncul dalam islam setelah umat islam mempunyai kontak

1 Said Aqil Siroj tentang “Dimensi Kemanusiaan Sufisme dan Tarekat” dalam buku “Sabilus salikin: Ensklopedi Tarekat/Tasawuf” (Pasuruan Pondok Pesantren Ngalah, 2012) ,v.

2 Said Aqil Siroj, Tasawuf sebagai kritik sosial: Mengedepankan Islam Sebagai Inspirasi Bukan Aspirasi (Bandung:

Penerbit Mizan, 2006), 16.

(2)

dengan agama Kristen, filsafat Yunani, Hindudan Budha.3 Beberapa anggapan yang mengatakan bahwa tasawuf tidak murni dari ajaran islam, karena beberapa yang yang disebut dalam ajaran tasawuf terjadi juga dalam mistisme agama lain.

Adapun beberapa pendapat tentang asal-usul tasawuf seperti di bawah ini:

Pertama, Menurut Dozy tasawuf berasal dari Majusi, tasawuf juga dikenal orang-orang islam melalui orang persi yang mendapatkanya dari india sebelum datangnya islam.

Kedua, pendapat yang mengatakan tasawuf berasal dari ajaran kristen.

Ignaz Goldziher orientalisme dari australia memandang tasawuf islam bersumber dari asketisme Kristen.

Ketiga, pendapat yang mengatakan tasawuf berasal dari India. Max Horten orientalis dari Jerman berpendapat bahwa tasawuf dari india.4

Keempat, Tasawuf murni dari Islam berdasarkan pada pengalaman dan penafsiran Al-Qur’an dan hadis. Inilah yang dijadikan pedoman dan pendapat yang paling kuat diikuti ulama islam.

Perkembangan Tarekat di Indonesia bermula dengan adanya ajaran tasawuf, yang dipadukan dengan ajaran sufistik India dan sufistik pribumi kemudian dianut oleh kalangan masyarakat Islam di Indonesia. Dengan adanya proses tersebut, secara berangsur-angsur tarekat mulai berkembang di Indonesia.5 b. Memahami Tarekat

3 Tim Penyusun, Sabilus Salikhin: Ensiklopedia Tarikat/Tasawuf (Pasuruan: Pondok Pesantren Ngalah, 2012), 4 Muhammad Roy, Tasawuf Madzhab Cinta (Yogyakarta:Lingkaran, 2009),30-31.

5 Mahbub Haikal Muhammad. “Peradaban Islam : Sejarah Tarekat (1836-1919 M).”Skripsi. (Jakarta UIN Syarif Hidyatullah, 2018). Hlm 19

(3)

Tarekat berasal dari bahasa Arab. Secara etimologi berarti : (1) jalan, cara (al- kaifiyyah); (2) metode, sistem (al-uslub); (3) mazhab, aliran, haluan (al-mazhab).

Menurut istilah tarekat berarti perjalanan seorang (pengikut tarekat) menuju Tuhan dengan cara mensucikan diri atau perjalanan yang harus ditempuh oleh seseorang untuk dapat mendekatkan diri sedekat mungkin kepada Tuhan. Dengan pengertian ini bisa digambarkan, adanya kemungkinan banyak jalan, sehingga sebagian sufi menyatakan, “At thuruk bi adadi anfasil makhluk”, yang artinya Jalan menuju Allah itu sebanyak nafasnya makhluk, beranekaragam dan banyak macamnya. Orang yang hendak menempuh jalan itu haruslah berhati hati karena, ada yang sah dan ada yang tidak sah, ada yang diterima dan ada yang tidak diterima. (Mu‘tabarah. Wa ghairu Mu‘tabarah).6

c. Masuknya Tarekat di indonesia

Di wilayah Aceh, pada sekitar permulaan abad sebelas hijriah, datang seorang keturunan Rasulullah, yang namanya sekarang diabadikan dalam sebuah Institut Agama Islam Negeri (IAIN), yaitu Syaikh Nuruddin ar-Raniri. Sebelum datang ke Nusantara, beliau telah belajar di Tarim Hadramaut Yaman, di bawah bimbingan para ulama terkemuka di sana. Salah satunya adalah al-Imam Abu Hafsh 'Umar ibn 'Abdullah Ba Syaiban al-Hadlrami. Di tangan ulama besar ini, al-Raniri diperkenalkan pada wilayah tasawuf melalui tarekat al-Rifa‘iyyah, sehingga kemudian menjadi khalifah dalam tarekat ini. Terhadap akidah hulûl dan wahdah al-wujûd, tarekat ini sama sekali tidak memberikan ruang sedikitpun.

Hampir seluruh orang yang tergabung dalam tarekat al-Rifa‘iyyah memerangi dua akidah ini.

6 Mulyati, Sri (et.al). 2006. Tarekat-Tarekat Muktabarah di Indonesia. 2006. Jakarta : Kencana

(4)

Ketika kesultanan Aceh diperintah oleh Iskandar Tsani, al-Raniri diangkat menjadi "Syaikh al-Islâm" bagi kesultanan tersebut. Ajaran Ahlussunnah yang sebelumnya telah memiliki tempat di hati orang-orang Aceh menjadi semakin kuat dan dominan dalam perkembangan Islam di wilayah tersebut, juga di wilayah Sumatera pada umumnya. Pemahaman-pemahaman akidah Syi‘ah, terutama akidah hulûl dan ittihâd, yang sebelumnya sempat menyebar di wilayah tersebut, menjadi semakin diasingkan. Beberapa karya yang mengandung pemahaman kedua akidah tersebut, serta para pengikutnya pada saat itu, sudah tidak lagi diterima. Bahkan beberapa kitab aliran hulûl dan ittihâd sempat dibakar di depan Masjid Baiturrahman.

Dengan demikian, dapat diketahui bahwa di bagian ujung sebelah barat Indonesia, pemahaman akidah Ahlussunnah dengan salah satu tarekat yang diakui sudah memiliki dominasi yang cukup besar dalam penyebaran Islam di wilayah Nusantara. Di Palembang Sumatera, juga muncul seorang tokoh besar, dari tangannya lahir sebuah karya besar dalam bidang tasawuf berjudul "Siyar al- Sâlikîn Ilâ Ibâdah Rabb al-Âlamîn". Kitab dalam bahasa Melayu ini memberikan kontribusi yang besar dalam perkembangan tasawuf di wilayah Nusantara. Dalam pembukaan kitab yang terdiri dari empat jilid tersebut, penulisnya menyatakan bahwa tujuan penulisan kitab dalam bahasa Melayu adalah agar orang-orang yang tidak memahami bahasa Arab di wilayah Nusantara dan sekitarnya dapat memahami tasawuf dan menerapkan ajarannya secara keseluruhan. Tokoh ini adalah Syaikh Abd ash-Shamad al-Jawi al-Palimbani yang hidup sekitar akhir abad kedua belas hijriah. Beliau adalah murid dari Syaikh Muhammad Samman

(5)

al-Madani, yang dikenal sebagai penjaga pintu makam Rasulullah. Kitab Siyar al- Sâlikin sebenarnya merupakan terjemahan dari kitab Ihya’ Ulûm al-Dîn, dengan beberapa penyesuaian penjelasan. Hal ini menunjukan bahwa tasawuf yang diemban oleh Syaikh Abd ash-Shamad adalah tasawuf yang telah dirumuskan oleh Imam al-Ghazali. Dan ini berarti bahwa orientasi tasawuf Syaikh Abd al- Shamad yang diajarkannya tersebut benar-benar berlandaskan akidah Ahlussunnah. Karena, seperti yang sudah kita kenal, Imam al-Ghazali adalah sosok yang sangat erat memegang teguh ajaran Asy‘ariyyah Syafi‘iyyah. Pada periode setelah Wali Songo, ajaran Ahlussunnah (Asy‘ariyyah Syafi‘iyyah) di Indonesia menjadi sangat kuat. Demikian pula dengan penyebaran tasawuf yang secara praktis berhubungan dengan Imam al-Ghazali dan Imam al-Junaid al- Baghdadi, saat itu sangat populer dan mengakar di masyarakat Indonesia.

Penyebaran tasawuf pada periode ini ditandai dengan banyaknya tarekat yang diminati oleh berbagai lapisan masyarakat. Dominasi murid-murid Syaikh Nawawi yang tersebar dari sebelah barat hingga sebelah timur pulau Jawa memberikan pengaruh besar dalam penyebaran ajaran Ahlussunnah Wal Jama‘ah.

Ajaran-ajaran di luar Ahlussunnah, seperti faham "non madzhab" (al-Lâ Madzhabiyyah) dan akidah hulûl atau ittihâd serta keyakinan sekte-sekte Islam lainnya, memiliki ruang gerak yang sangat terbatas.

Setelah kelahiran Syaikh Yusuf menambah semarak keilmuan, terutama ajaran tasawuf praktis yang menjadi primadona masyarakat Sulawesi saat itu.

Syaikh Yusuf sendiri selain sebagai seorang sufi terkemuka, juga seorang alim besar multi-disipliner yang menguasai berbagai macam ilmu agama. Latar

(6)

belakang pendidikan Syaikh Yusuf menjadikannya sebagai sosok yang sangat kompeten dalam berbagai bidang. Beliau tidak hanya belajar di daerahnya sendiri, tapi juga melakukan perjalanan (rihlah ilmiyyah) ke berbagai kepulauan Nusantara, dan bahkan beberapa tahun tinggal di negara Timur Tengah hanya untuk memperdalam ilmu agama. Latar belakang keilmuan Syaikh Yusuf ini menjadikan penyebaran tasawuf di wilayah Sulawesi benar-benar berakar pada akidah Ahlussunnah. Hal ini diperkuat dengan karya-karya yang ditulis oleh Syaikh Yusuf sendiri, yang orientasinya adalah Syafi‘iyyah Asy‘ariyyah. Kondisi ini sama sekali tidak memberikan ruang bagi akidah hulûl atau ittihâd untuk masuk ke wilayah yang dipengaruhi oleh Syaikh Yusuf al-Makasari.7

Secara berangsur-angsur tarekat mulai berkembang di Indonesia, pada abad ke-18 M berbagai macam tarekat telah mendapat banyak pengikut, termasuk Tarekat Naqsabandiyah. Tarekat Naqsabandiyah cukup berkembang khususnya di Daerah Sumatera, Madura dan Jawa. Menurut Najmuddin Amin, nama Tarekat Naqsabandiyah diambil dari nama pendirinya Syekh Naqsyabandy, Beliau sosok yang senantiasa terus menerus berzikir mengingat Allah sehingga lafadz Allah telah melekat di dalam hatinya.8 Abu Bakar Tuanku Saidina Ibrahim, yang lebih akrab dipanggil Uwan Bakar, adalah Tuanku (Mursyid) Pemimpin Tarekat Naqsabandiyah. Masa kepemimpinan Uwan Bakar sebagai Tuanku Tarekat Naqsabandiyah merupakan tonggak pembaharuan dalam pengajaran ilmu-ilmu tarekat melalui pendekatan yang modern yang telah berlangsung sejak awal perkembangan Tarekat Naqsabandiyah.

7 Azra Azyumardi. 1989. Islam di Asia Tenggara : Perpektif Islam di Asia Tenggara. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.

8 2 A.Fuad. Said. Hakikat Tarikat Naqsyabandi. Jakarta : Pustaka Al-husna Baru. 2007. Hlm 7.

(7)

Pada masa awal kaum sufi, tarekat sebenarnya menunjukkan pelatihan rohani secara gradual yang selalu diawasi oleh sang Guru (mursyid). Pelatihan rohani ini mencakup amalan dzikir, muraqabah9, serta proses takhalli10, tahalli11, dan tajalli12 yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta.

Beberapa kegiatan keagamaan Tarekat Naqsabandiyah seperti belajar Suluk, Ritual Bai’at, Wirid, dan proses mendekatkan diri kepada Allah untuk memperdalam Ilmu Tarekat, dilakukan secara langsung oleh Abu Bakar Tuanku Saidina Ibrahim selaku Musryid. Beliau membimbing murid-muridnya menjadi orang yang terampil dan kompeten dalam ilmu Tarekatt, yang nantinya ilmu tersebut bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

1. Pembagian Tarekat dan Tokoh-Tokohnya

Jumlah Tarekat sebenarnya sangatlah banyak, akan tetapi yang memiliki anggota yang cukup banyak tersebar di Indonesia sampai saat ini adalah:

2. Sejarah Zikir Ghofilin di Pondok Pesantren Nurussalam Tenggarong Sebrang

9 Yaitu pengetahuan seseorang hamba untuk selalu memandang dengan hati pada Allah Swt yang selalu mengawasi dirinya dalam segala sikap dan gerak gerik perilakunya, sebagaimana firman Allah Swt dalam QS. al- Ahzab: 53 (al-Qusyairi>: 2011: 233).

10 Usaha seseorang untuk membersihkan diri dari semua maksiat atau prilaku/akhlak yang tercela baik secara lahir maupun batin.

11 Seorang yang selalu menghiasi dirinya dengan sifat-sifat terpuji.

12 Tersingkapnya nur gaib

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian Titis (2012) dalam penelitian yang berjudul “Pengaruh Keterlibatan Orang Tua Dengan Hasil Belajar Anak Usia Sekolah Di SDIT Permata Hati,

Pada pertanyaan pertama jawaban yang paling dominan adalah Tidak Setuju sebanyak 25.. orang atau

Dalam pembelajaran mata pelajaran seni rupa di kelas VII SMP Islam Al Ittihad Godong semester II (genap) tahun ajaran 2014/2015 Kompetensi Dasar membuat karya seni

“DARUL 'AMAL” yang berarti “Desa atau Negeri tempat orang-orang beramal”. Dengan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 tentang Yayasan jo. Undang-Undang

Kegiatan bimbingan rohani Islam ini untuk meningkatkan perkembangan Spiritualitas dan religiusitas pasien di rumah sakit, baik berupa praktik dan upaya

Lepasnya Exresiden Aceh dari Propinsi Sumatera Utara, maka Ex wilayah Residen yang tergabung dalam Propinsi Sumatera Utara adalah tinggal dua wilayah Residen yaitu Tapanuli dan

Di dalam ajaran islam tidak boleh melakukan dua akad sekaligus dalam waktu yang bersamaan tetapi di LKS ASRI tidak demikian, di LKS ASRI melakukan dengan

Data tentang Pengaruh Bimbingan Keagamaan Oleh Orang Tua Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas VI Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam. Dari data bimbingan