BAB IV
ETIKOLEGAL DALAM PELAYANAN KEBIDANAN
PC IBI KABUPATEN KLATEN
Materi Pokok dan Sub Materi Pokok
Materi pokok dalam pelatihan ini terdiri dari:
a. Konsep dan Prinsip Etik, Kode Etik Bidan dan Azas Umum Etika b. Peraturan Perundangan terkait Praktik Bidan
c. Pencegahan Konflik dan Dilema Moral dalam Praktik Kebidanan d. Penanganan Masalah Konflik dan Dilema Moral dalam Praktik
Kebidanan
e. Penutup dan Diskusi Tanya Jawab
Midwifery Update
Konsep dan Prinsip Etik,
Kode Etik Profesi Bidan dan Azas Umum Etika
• Pemahaman tentang etika dan moral menjadi bagian yang fundamental dan sangat penting dalam praktik kebidanan, agar senantiasa menghormati hak dan martabat klien atau pasien.
• Etika bidan
profesi dalam
dalam memberikan pelayanan kepada individu, keluarga
pelayanan kebidanan merupakan landasan bagi dan masyarakat, berdasarkan pertimbangan yang sistematis tentang perilaku baik dan benar sehingga Bidan dapat menunjukkan perilaku etis terhadap klien, teman sejawat, masyarakat dan diri sendiri serta profesi sesuai dengan norma dan aturan perundang-undangan yang berlaku.
•Bidan diharapkan dapat mengembangkan profesionalitas dalam menyikapi masalah/isu etik. Sehubungan telah disyahkannya Undang- Undang Kebidanan no 4 tahun 2019, maka pentingnya disosialisasikan undang-undang tersebut kepada seluruh bidan agar dalam praktiknya dapat sesuai dengan aturan hukum
PRINSIP ETIK dan KODE ETIK terdiri dari:
a. Menghargai otonomi
b. Melakukan tindakan yang benar
c. Mencegah tindakan yang merugikan
d. Memperlakukan manusia secara adil
e. Menjelaskan dengan benar
f. Menepati janji yang telah disepakati
g. Menjaga kerahasiaan
PRINSIP diatas sesuai dengan ASAS UMUM ETIKA YAITU :
a. Beneficence: kewajiban berbuat baik dlm memberi pelayanan
b. Non maleficence: tidak menambah penderitaan c. Respect for person:
Autonomy: menghormati hak pasien mengambil keputusan
Privacy: hak pasien untuk dilayani sebagai pribadi
Telling the truth: berkata jujur dan benar
Confidentiality: menjaga kerahasiaan kondisi penyakit pasien
d. Justice: Keadilan
PRINSIPKODE ETIK dan ASAS UMUMETIKA
Midwifery Update
Menurut Surat Keputusan Kongres XVI Ikatan Bidan Indonesia No. 010/SKEP/KONGRESXVI/IBI/X/2018 tentang Kode Etik Bidan Indonesia.
Bidan memiliki beberapa kewajiban meliputi:
Kewajiban BidanTerhadap Klien
Kewajiban BidanTerhadap Tugas
Kewajiban BidanTerhadap Sejawat Bidan dan Tenaga Kesehatan Lainnya
Kewajiban BidanTerhadap Profesi
Kewajiban BidanTerhadap Diri Sendiri
Kewajiban BidanTerhadap Negara
KODE ETIK BIDAN
PERATURAN PERUNDANG – UNDANGAN
TERKAIT PRAKTIK BIDAN
a. Bidan wajib menyimpan kerahasiaan informasi klien untuk melindungi hak privasi dan memberikan informasi kecuali jika diamanatkan oleh hukum.
b. Bidan bertanggung jawab atas keputusan dan tindakannya dan bertang gung jawab atas hasil terkait tindakan bidan terhadap perempuan yang dilayaninya.
c. Bidan dapat memutuskan utk tidak berpartisipasi dalam pelayanan jika
bertentangan dgn prinsip moralnya; namun, suara hati personal hendak nya tidak menghalangi perempuan untuk mendapatkan pelayanan keseha tan esensial
TANGGUNG JAWAB PROFESIONAL BIDAN
(ICM, Prague, 2014)
d. Bidan yang berkeberatan terhadap permintaan layanan yang diberikan wajib merujuk perempuan ke penyedia lain di mana layanan tersebut tersedia.
e. Bidan memahami konsekuensi etis dan pelanggaran hak asasi manusia terhadap kesehatan perempuan dan bayi dan akan berusaha untuk menghapuskan pelanggaran.
f. Bidan berpartisipasi dalam pengembangan dan implementasi kebijakan kesehatan untuk mempromosikan kesehatan semua perempuan dan keluarganya.
TANGGUNG JAWAB PROFESIONAL BIDAN (ICM, Prague, 2014)
Midwifery Update
Profesional
Ahli, mampu bertanggung jawab, bekerja secara efisien dan efektif, mengantisipasi masalah/dampak dari pekerjaannya.
Profesionalitas Bidan:
Kemampuan bidan untuk bertindak secara profesional
Bidan Profesional
Memiliki komponen tiga (3) H:
Head, Hand’s, Heart.
PERATURAN PER UUTERKAIT PRAKTIKBIDAN
UU No. 36/2009 Tentang Kesehatan
UU No. 36/2014 Tentang Tenaga Kesehatan UU No. 4/2019 Tentang Kebidanan dst...
UU LAIN YANG PERLU DIPERHATIKAN UU No. 39/1999 Tentang Hak Asasi Manusia UU No. 35/2014 Tentang Petlindungan Anak
UU No. 19 / 2016 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dst...
PMK No.28/2017 Tentang Izin dan Penyelenggaraan Praktik Bidan
PMK No.97/2014 Tentang Yankes Masa Sebelum Hamil, Hamil, Persalinan, Sesudah Melahirkan, Penyelenggaraan Pelayanan Kontrasepsi, Serta Yankes Seksual KMK No. 320/2020 Tentang Standar Profesi Bidan
dst...
Midwifery UpdateUU NO 4 TAHUN 2019
Tentang Praktik Kebidanan
TERDIRI ATAS : XII BAB
80 Pasal
SISTIMATIKA UU NO 4 TAHUN 2019 TENTANG PRAKTIK KEBIDANAN
Midwifery Updae 12
BAB I : KETENTUAN UMUM PSL 1-3
BAB II : PENDIDIKAN KEBIDANAN PSL 4-20
BAB III : REGISTRASI IZIN PRAKTIK PSL 21-30
BAB IV : BIDAN LULUSAN LUAR NEGERI PSL 31-33
BAB V : BIDAN WARGA NEGARA ASING PSL 34-40
BAB VI : PRAKTIK KEBIDANAN PSL 41-59
BAB VII : HAK &KEWAJIBAN BIDAN PSL 60-64
BABVIII : ORGANISASI PROFESI PSL 65-67
BAB IX : PENDAYAGUNAAN BIDAN PSL 68
BAB X : PEMBINAAN &
PENGAWASAN PSL 69
BAB XI : KETENTUAN PERALIHAN PSL 70-77
BAB XII : KETENTUAN PENUTUP
PSL 78-80
PIDATO PRESIDEN RI
VISI INDONESIA
Menjamin kesehatan ibu hamil, kesehatan bayi,
kesehatan balita, kesehatan anak sekolah karena
merupakan umur emas untuk mencetak manusia Indonesia yang unggul. Jangan sampai ada stunting, kematian bayi,
kematian ibu yang meningkat.”
PESAN KESEHATAN
Titik dimulainya Pembangunan SDM dimulai dengan
:
PELAYANAN KEBIDANAN
UU no 4 tahun 2019 tentang Kebidanan Bab 1 psl 1
Bagian integral dari sistem pelayanan kesehatan yang diberikan oleh bidan
Dilakukan secara mandiri, kolaborasi, konsultasi dan atau rujukan
Ditujukan untuk kesehatan reproduksi perempuan
sepanjang siklus kehidupannya,
termasuk bayi dan anak Balita.
PRAKTIK KEBIDANAN ADALAH:
Kegiatan pemberian pelayanan yang dilakukan oleh bidan dalam bentuk asuhan kebidanan
ASUHAN KEBIDANAN ADALAH :
Rangkaian pelayanan kebidanan yang didasarkan pada proses pengambilan keputusan dan tindakan yang
dilakukan oleh bidan, sesuai dengan wewenang &ruang lingkup praktik nya berdasarkan ilmu dan kiat kebidanan
UU KEBIDANAN
UU No 4 Tahun 2019 Bab 1 Pasal1
a. Perikemanusiaan b. Nilai ilmiah
c. Etika dan profesionalitas d. Manfaat
e. Keadilan
f. Perlindungan dan g. Keselamatan klien
(UU no 4 tahun 2019 tentang Kebidanan bab 1 psl 2)
Penyelenggaraan Praktik Kebidanan Berasaskan:
Midwifery Update
UU No. 4 /2019
Tentang Kebidanan Bab 1 pasal 3
a. Meningkatkan Mutu Pendidikan Bidan b. Meningkatkan Mutu Pelayanan Kebidanan
c. Memberikan perlindungan dan kepastian Hukum kepada Bidan dan Klien, dan
d. Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, terutama kesehatan ibu, BBL, Bayi, Balita, dan Anak Prasekolah
PENGATURAN PENYELENGGARAAN
KEBIDANAN BERTUJUAN:
Undang – Undang Kebidanan
BAB III
REGISTRASI DAN IZIN PRAKTIK TERDIRI DARI:
Pasal 22 - 24 => Setiap Bidan yang akan menjalankan Praktik Kebidanan wajib memiliki STR. -> Pasal 21- 24 diatur dalam peraturan konsil
Pasal 21-> Setiap Bidan yang akan
menjalankan Praktik Kebidanan wajib memiliki STR. -> Ijazah,
Serkom/Serprof, sehat fisik & mental, pernyataan sumpah/janji profesi dan mematuhi etika profesi
Midwifery Update
Undang – Undang Kebidanan
BAB III
REGISTRASI DAN IZIN PRAKTIK TERDIRI DARI:
Pasal 26 => Bidan paling banyak mendapatkan 2 (dua) SIPB.
1.Fasilitas Pelayanan Kesehatan 2.Praktik Mandiri Bidan (PMB)
Atau 2 (dua) Praktik Kebidanan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
PASAL 25 => Bidan yang akan
menjalankan Praktik Kebidanan wajib
memiliki izin praktik (Surat Ijin Praktik
Bidan
)Undang – Undang Kebidanan
BAB III
REGISTRASI DAN IZIN PRAKTIK TERDIRI DARI:
Pasal 27 => Kondisi-kondisi SIPB tidak berlaku.
PASAL 28 - 29 => Bidan harus
menjalankan Praktik Kebidanan di tempat praktik yang sesuai dengan
SIPB dan Sanksi sesuai peraturan per UU an
Midwifery Update
Undang – Undang Kebidanan
BAB III
REGISTRASI DAN IZIN PRAKTIK TERDIRI DARI:
Pasal 30 => Penyelenggara Fasilitas Pelayanan Kesehatan harus
mendayagunakan Bidan yang memiliki STR dan SIPB Sanksi :
a.teguran tertulis;
b.penghentian sementara kegiatan; atau
c.Pencabutan izin.
Pelayanan
kesehatan ibu
Pelayanan
kesehatan anak
Pelayanan Kesehatan Reproduksi Perempuan dan KB
Pelaksanaan tugas berdasar kan pelimpahan wewenang
Pelaksanaan tugas dalam keadaan
keterbatasan tertentu
Tugas Bidan ter sebut dapat
dilaksanakan secara bersama atau sendiri.
Pelaksanaan tugas sebagai
mana dimaksud
diatas dilaksana kan secara bertanggung jawab dan
akuntabel.
Tugas dan Wewenang
(UUNo.4 Tahun 2019 tentang Kebidanan Pasal 46 Bab VI)
Midwifery Update
Tugas dan Wewenang/Peran Bidan
(UUNo.4 Tahun 2019 tentang Kebidanan Bab VI Pasal 47)
•
Pendidik, Pembimbing Penggerak peran serta masy
Peneliti
Pemberi Pelayanan Kebidanan
Pengelola Pelayanan
Kebidanan Penyuluhan
dan Konselor
Bidan dalam
penyelenggaraan Praktik Kebidanan sebagaimana dimaksud harus
dilakukan sesuai KOMPETENSI dan KEWENANGAN
(UU no 4 tahun 2019 tentang
Kebidanan Bab VI psl 48)
PELAYANAN KESEHATAN IBU
(UUno 4 tahun 2019 tentang Kebidanan psl 49 Bab VI)
a. Memberikan asuhan kebidanan pada masa sebelum hamil
b. Memberikan asuhan kebidanan pada masa kehamilan normal
c. Memberikan asuhan kebidanan pada masa persalinan normal dan menolong
persalinan
d. Memberikan asuhan
kebidanan pada masa nifas
e. Melakukan pertolongan
pertama kegawatdaruratan ibu hamil,bersalin, nifas dan rujukan
Melakukan deteksi dini kasus risiko dan komplikasi pada masa
kehamilan,persalinan,pasca
persalinan,nifas serta asuhan pasca keguguran dan dilakukan rujukan
Midwifery Update
PELAYANAN KESEHATAN ANAK
(UUno 4 tahun 2019 tentang Kebidanan psl 50 Bab VI)
a. Memberikan asuhan kebidanan pada BBL bayi,balita dan anak prasekolah
b. Memberikan imunisasi sesuai program pemerintah
c. Melakukan pemantauan
tumbuh kembang pada bayi, balita dan anak prasekolah
serta deteksi dini kasus
penyulit, gangguan tumbuh kembang dan rujukan
d. Memberikan pertolongan pertama
kegawatdaruratan pada BBL dilanjut dengan rujukan
Pasal 53
Pelimpahan wewenang sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 46 ayat (1) huruf d terdiri atas:
a. Pelimpahan secara mandat; dan b. Pelimpahan secara delegatif.
Pasal 54
(1)Pelimpahan wewenang secara mandat
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 huruf a diberikan oleh dokter kepada Bidan sesuai
kompetensinya.
(2)Pelimpahan wewenang secara mandat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dilakukan secara tertulis.
PELIMPAHAN WEWENANG DALAM KEADAAN TERTENTU
UU KEBIDANAN NO 4 TAHUN 2019 BAB VI
Midwifery Update
Pasal 55
(1) Pelimpahan wewenang secara delegatif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 huruf b diberikan oleh Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah kepada Bidan.
(2) Pelimpahan wewenang secara delegatif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang diberikan oleh
Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah dalam rangka:
a. Pelaksanaan tugas dalam keadaan keterbatasan tertentu; atau
b. Program pemerintah.
(3) Pelimpahan wewenang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan dengan disertai pelimpahan
PELIMPAHAN WEWENANG DALAM KEADAAN TERTENTU
UU KEBIDANAN NO 4 TAHUN 2019 BAB VI
Pasal 56
1) Pelaksanaan tugas dalam keadaan keterbatasan tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 ayat (1) huruf e merupakan penugasan pemerintah yang dilaksanakan pada keadaan tidak adanya tenaga medis dan/atau tenaga kesehatan lain di suatu wilayah tempat Bidan bertugas.
2) Keadaan tidak adanya tenaga medis dan/atau tenaga kesehatan lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Pemerintah Daerah.
3) Pelaksanaan tugas dalam keadaan keterbatasan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
mengikuti Kompetensi dilaksanakan oleh Bidan yang telah
pelatihan dengan memperhatikan Bidan.
PELIMPAHAN WEWENANG DALAM KEADAAN TERTENTU
UU KEBIDANAN NO 4 TAHUN 2019 BAB VI
Midwifery Update
Pasal 56
(4)Pelatihan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan oleh Pemerintah Pusat dan/atau Pemerintah Daerah.
(5)Dalam menyelenggarakan pelatihan
sebagaimana dimaksud pada ayat (4) Pemerintah Pusat dan/atau Pemerintah Daerah dapat melibatkan
Organisasi Profesi Bidan dan/atau organisasi profesi terkait yang diselenggarakan oleh lembaga yang telah terakreditasi.
PELIMPAHAN WEWENANG DALAM KEADAAN TERTENTU
UU KEBIDANAN NO 4 TAHUN 2019 BAB VI
1. Dalam keadaan gawat darurat untuk pemberian pertolongan pertama, Bidan dapat melakukan pelayanan kesehatan diluar kewenangan sesuai dengan
kompetensinya.
2. Pertolongan pertama sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk menyelamatkan nyawa Klien.
3. Keadaan gawat darurat sebagaimana di maksud pada ayat (1) merupakan keadaan yang mengancam nyawa Klien.
4. Keadaan gawat darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Bidan sesuai dengan hasil evaluasi
berdasarkan keilmuannya.
5. Penanganan keadaan gawat darurat
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat l4l dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Midwifery Update
KEADAAN GAWATDARURAT
(UU no 4 tahun 2019 tentang Kebidanan Pasal 59 Bab VI)
PENCEGAHANKONFLIK DANDILEMA MORAL
DALAM PRAKTIK BIAN
PENCEGAHAN KONFLIK DANDILEMAMORAL
Midwifery Update
Contoh masalah konflik atau dilema moral dan cara pemecahan
Lingkup Masalah Contoh Kasus Pemecahan
Perkembangan Ilmu dan Teknologi
Bayi Tabung, Donor Sperma, penelitian menggunakan klien, Transplantasi organ tubuh, Teknik reproduksi manusia
Mencari Landasan Hukumnya
Sosial Budaya,
Agama, Kepercayaan
Transfusi darah, penggunaan alat kontrasepsi, adopsi anak, sunat perempuan, larangan untuk bumil, makanan ibu nifas, ibu menyusui, perkawinan
Perlu Advokasi dan Konseling yang tepat Tindakan
Medis/Intervensi SC, episiotomi, Penggunaan USG, Vakum/Ekstraksi Forcep, pemeriksaan, pemberian oksitosin, pemberian infus, lama hari rawat, pengawasan bayi secara intensive, Skrining penyakit terhadap bayi
Memerlukan Informed Choice dan Informed Concent
PENCEGAHAN KONFLIK & DILEMA MORAL DALAM PRAKTIK KEBIDANAN
1 Informed Concent
2 Negosiasi 3 Persuasi
4 Komite Etik
PENJELASAN YANGHARUSDILAKUKANSEBELUM MEMINTA PERSETUJUAN TINDAKAN/INFORMED CONCENT
01
Menyampaikan maksud dan
tujuan tindakan
02
Menyampaikan pilihan alternatif
tindakan
03
Menyampaikan risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi
04
Prognosis/ perkiraan harapan dan kekhawatiran setelah
dilakukan tindakan
MidwiferyUpdate
(1) Setiap tindakan pelayanan kesehatan perseorangan yang dilakukan oleh Tenaga Kesehatan harus mendapat persetujuan.
(2) Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah mendapat penjelasan secara cukup dan patut (3) Penjelasan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sekurang-kurangnya mencakup:
a. Tata cara tindakan pelayanan;
b. Tujuan tindakan pelayanan yangdilakukan;
c. Alternatif tindakan lain;
d. Risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi; dan e. Prognosis terhadap tindakan yang dilakukan.
(4) Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diberikan, baik secara tertulis maupun lisan.
(5) Setiap tindakan Tenaga Kesehatan yang mengandung risiko tinggi harus diberikan dengan persetujuan tertulis yang ditandatangani oleh yang berhak memberikan persetujuan
Persetujuan Tindakan Tenaga Kesehatan
UU Tenaga Kesehatan No.36 tahun 2014 Pasal68
Negosiasi adalah sebuahbentuk interaksi sosial saat pihak-pihak yang terlibat berusaha untuk saling menyelesaikan tujuan yang
berbeda dan bertentangan.
Menurut kamus Oxford, negosiasi adalah suatu cara untuk mencapai suatu kesepakatanmelalui diskusi formal.
NEGOSIASI
PERSUASI
Persuasi adalah komunikasi yang digunakan untuk
mempengaruhi dan
meyakinkan orang lain.
Melalui persuasi setiap
individu mencoba berusaha
mempengaruhi kepercayaan
dan harapan orang
KOMITE ETIK :
Dibentuk untuk mewujudkan tata kelola pelayanan kesehatan dan keselamatan pasien. Selain itu melihat kompleksitas pelayanan kesehatan yang cenderung menimbulkan permasalahan baik antara klien/pasien dan/atau tenaga kesehatan selaku pemberi pelayanan kesehatan
TANGGUNG JAWAB KOMITE ETIK
Sebagai penengah bila terjadi konflik dan menemukan solusi yang dapat di integrasikan kedalam kebijakan pelayanan
KOMITE ETIK
Beberapa teori yang mendasari pertimbangan bidan sebelum bertindak/mengambil keputusan, diantaranya:
1.Utilitarianisme dibedakan menjadi 2 (dua) hal, yaitu:
• Tindakan utilitarianisme adalah tindakan dinilai baik, benar dan tepat berdasarkan keuntungan/manfaat/efisiensi dari tindakan tersebut.
• Sedangkan aturan utilitarianisme, adalah tindakan dinilai baik, benar jika dalam aturan yang benar. Baik dan benar tersebut meliputi kebermanfaatan, benar secara keilmuan, hukum, agama dan sosbud.
2.Deontologi:
Tindakan dinilai baik dan benar jika memprioritaskan “tugas” atau “kewajiban” tanpa
mengindahkan konsekuensinya, dimanapun tempatnya maupun kemampuan yang dimilikinya, berfokus pada penyelamatan jiwa, meminimalisir risiko yang mungkin timbul akibat asuhan yang diberikan.
PENGAMBILAN KEPUTUSAN ETIS DALAM
PELAYANAN KEBIDANAN
PENANGAN MASALAH KONFLIK DAN DILEMA
MORAL DALAM PRAKTIK BIDAN
LANGKAH –LANGKAH PENANGANAN MASALAH KONFLIK DAN DILEMAMORAL
membahayakan ibu atau janin atau a. Identifikasi masalah
Rumuskan masalah
Kaji masalah tersebut: apakah dapat merugikan biopsikososial
b. Kaji pihak-pihak terkait
c. Rencana prioritas tindakan
Tindakan segera
Tindakan berencana
d. Kaji alasan prioritas tindakan
Apakah tindakan untuk keselamatan, keamanan ibu maupun janin
Apakah terkait dengan sosial, budaya, agama dan kepercayaan
Apakah terkait hasil temuan IPTEK
f.
Penuhi syarat-syarat melakukan tindakan: Kaji alasan mendasar, ilmiah, rasional, logis.
Kaji Keunggulan, kelemahan/risiko, indikasi, kontraindikasi, alternatif tindakan, syarat tindakan, upaya meminimalisir risiko
Kaji kebenaran secara keilmuan, norma budaya, agama, legalitas
Pertimbangkan kompetensi dan kewenangan penolong, ketersediaan fasilitas
Pastikan untuk melakukan tindakan mandiri, kolaborasi, kerjasama, koordinasi, rujukan g. Klien diberikan informasi secara lengkap dan jelas, pastikan klien mengerti dengan baik
dan benar
h. Sebelum melakukan tindakan, meminta persetujuan klien i. Lakukan dengan hati- hati, tepat, cermat, cepat, dan cekatan
L Lakukan monitoring dan evaluasi terus menerus serta ditindaklanjuti segera Seluruh langkah-langkah tindakan tersebut harus tertulis dalam dokumen/catatan
asuhan/perkembangan klien
LANGKAH –LANGKAH PENANGANAN MASALAH KONFLIK DAN DILEMAMORAL
Midwifery Update
CONTOH KASUS, DISKUSI KASUS, PENUTUP
DAN LAMPIRAN
•
Terapkan prinsip - prinsip etika, kode etik dan asas umum etika
•
Tingkatkan profesionalitas bidan dengan menerapkan tiga (3) H
•
Fahami dan terapkan pencegahan konflik dan dilema moral beserta langkah –langkahnya
•
Patuhi peraturan per UU-an yang berlaku agar terhindar dari jerat hukum dan tetap menjaga marwah profesi
PENUTUP
Midwifery Update
Terima Kasih