• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERAN FASILITATOR DAN EKSEKUTOR PEMERINTAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT (NTB) SEBAGAI AKTOR PARADIPLOMASI

N/A
N/A
muhamad sarjan

Academic year: 2023

Membagikan "PERAN FASILITATOR DAN EKSEKUTOR PEMERINTAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT (NTB) SEBAGAI AKTOR PARADIPLOMASI"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

100 BAB IV

PERAN FASILITATOR DAN EKSEKUTOR PEMERINTAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT (NTB) SEBAGAI AKTOR

PARADIPLOMASI

4.1. Peran Sebagai Fasilitator

Melihat dari kerjasama yang sedang berjalan, pemerintah NTB sebagai salah satu pihak dalam kerjasama SII juga memiliki wewenang untuk mengelola daerah otonominya sendiri, yang dimana Pemerintah Provinsi NTB juga memiliki peran dalam menyediakan segala kebutuhan dari pihak kedua dalam kerjasama ini.

Sebagai Fasilitator, Pemerintah Provinsi NTB akan menyediakan segala fasilitas yang dibutuhkan untuk nantinya akan digunakan sebagai sarana pengembangan pengelolaan sampah dan energi yang ada di NTB. Bahkan, sebelum kerjasama ini diresmikan pemerintah NTB turut ikut andil dalam proses studi yang dilakukan oleh pemerintah Denmark yang dimana DEA dan DEPA selaku pihak dari pemerintah Denmark telah melakukan studi untuk melihat kondisi serta kemungkinan apa saja yang akan dilakukan selama kerjasama ini berjalan. Selama berada di Pulau Lombok, Pemerintah Provinsi NTB menyediakan segala fasilitas yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan DEA dan DEPA selama berada di NTB. Berangkat dari studi yang telah dilakukan oleh DEA dan DEPA di kawasan Lombok, mereka akhirnya memutuskan untuk berfoku untuk bekerjasama dengan dinas Energi dan

(2)

101

Sumber Daya Mineral dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi NTB dengan berfokus kepada beberapa kegiatan. Kegiatan yang akan dilakukan bersama dengan kedua lembaga tersebut nantinya akan saling mendukung satu sama lain. Urutan dalam kegiatan SII ini akan menjadi fondasi yang penting sehingga perlu dipertimbangkan dan harus dilakukan secara terperinci selama kerjasama SII ini berlangsung. Jika melihat dari studi yang telah dilakukan, DEPA akan mendominasi kegiatan SII di tahun pertama yang diikuti oleh DEA di tahun kedua. Diperkirakan bahwa DEPA dan DEA akan saling terhubung dengan erat selama misi mereka di dalam negeri dan ketika Pemerintah Provinsi NTB melakukan kunjungan ke Denmark. Sinergi ini akan berkaitan dengan dialog, seminar, lokakarya, studi teknis, program beasiswa, proyek penelitian dan kegiatan- kegiatan lainnya.76

4.1.1. Kerjasama Bioenergi DEPA dan DEA dengan Mitra Regional

Dalam kerjasama Bioenergi ini, DEA dan DEPA memberikan beberapa rekomendasi untuk meningkatkan suku lingkungan yang memiliki beberapa keunggulan sehingga dapat dimanfaatkan sebagai energi biomassa berkelanjutan dan sekaligus menjadi solusi waste to energy dan pemetaan potensi terhadap jalur ekonomi dari sistem pengolahan limbah yang lebih baik serta mencakup beberapa aspek lainnya seperti aspek sosial, ekonomi dan politik. Rekomendasi ini akan ditujukan pada solusi kerjasama B2B dalam waste to energy. Lalu, akan dilakukan pertemuan bersama dengan pemangku kepentingan dari pemerintah Denmark yang

76 DEA, DEPA, KLHK, ESDM, (2019), Inisiatif Pulau Berkelanjutan Tentang Energi Dan Lingkungan Indonesia, Pp 8-9. (19/11/2022. 12.00 WIB)

(3)

102

relevan dalam sektor publik dan swasta sehingga nantinya mampu memobilisasi kepentingan bisnis Denmark dan Indonesia dan mampu menjajaki kemungkinan peluang pembiayaan yang akan diberikan oleh Denmark dan Indonesia. Pemberian bantuan ini akan dilakukan untuk mendukung penyaringan, pemetaan, serta persiapan proyek dan/atau pengembangan yang diperlukan untuk memobilisasi peluang adanya dana tambahan dalam mendukung proses kerjasama SII.77

4.1.2. Kerjasama Limbah DEPA dan Mitra Regional

Dalam kerjasama ini, kedua pihak akan terlibat dalam dialog mengenai sektor strategis dalam tingkat regional dan lokal untuk memperkenalkan dan memperkuat sirkular ekonomi serta rencana dan proyek pengelolaan sampah terpadu dengan memberikan dukungan terhadap pengembangan kapasitas dan pelatihan secara peer-to-peer untuk beberapa orang staf terpilih. Staf yang terpilih ini merupakan beberapa orang yang berasal dari beberapa otoritas provinsi atau masyarakat yang memiliki kaitan dengan ekonomi sirkular dan memiliki pemahaman mengenai pengelolaan, perencanaan serta pelaksanaan kegiatan yang berhubungan dengan limbah padat terpadu. Pelatihan akan difokuskan pada praktik dan pengalaman yang dimiliki oleh Pemerintah Denmark dan Internasional mengenai pengelolaan limbah dan akan dikaitkan dengan apa saja yang nantinya akan dibutuhkan oleh mitra regional dan provinsi. Setelahnya akan dilakukan penilaian terhadap kebutuhan kelembagaan dan pengembangan kapasitas manusia yang juga dilakukan secara peer-to-peer. Pelatihan ini otomatis akan terhubung

77 Ibid.

(4)

103

secara langsung dengan ekonomi sirkular yang sudah berjalan atau yang sudah direncanakan atau rencana, inisiatif, atau tugas yang berkaitan dengan pengelolaan limbah pada yang telah dilakukan oleh otoritas lokal dan lokal. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa pelaksanaan kegiatan dan tugas secara langsung dapat terlihat secara langsung dan nyata oleh para mitra. Kegiatan akan diakhiri dengan melakukan studi kelayakan yang mencakup beberapa faktor seperti kebijakan, kelembagaan, hukum, teknis, keuangan dan sosial serta tantangan apa saja yang akan dihadapi selama proses pengelolaan sampah terpadu dan proyek WtE ini berjalan di Lombok. Tantangan-tantangan tersebut nantinya akan diidentifikasi, dinilai dan akan dijadikan rekomendasi solusi dalam pengelolaan limbah pada terpadu yang akan diperlukan sebagai investasi WtE. Beberapa Kajian akan melihat opsi tata kelola dan infrastruktur pengempulan sampah dan mengidentifikasi dan menghitung jumlah aliran biomassa (MSW, Industri Makanan dan Pasar, air limbah, dan tempat pembuangan akhir) yang nantinya akan disesuaikan untuk melihat kemungkinan produksi energi yaitu insinerator dan pabrik biogas.

Dengan menggunakan Teknologi WtE yang berbeda maka akan menghasilkan hasil yang berbeda pula dan kelayakan teknologi serta kualitas dari hasil teknologi tersebut akan sangat bergantung pada sifat uap limbah. Oleh karena itu, karakteristik aliran limbah perlu dianalisis secara terperinci agar dapat mengidentifikasi keuntungan dan kerugian dari masing-masing teknologi yang mungkin akan digunakan di Lombok. Studi ini akan mencakup aliran limbah seperti sampah organik, sampah yang dapat didaur ulang, sampah yang dapat diperbaiki kembali, sampah insert dan limbah yang berbahaya. Dalam hal ini, sampah plastik

(5)

104

akan menjadi fokus utama. Dengan banyaknya jenis limbah akan memperkuat kebutuhan untuk dapat mengkarakterisasi aliran limbah secara memadai sebelum kelayakan teknologi WtE dapat diputuskan. Studi ini harus mengusulkan beberapa solusi dengan tujuan agar dapat memastikan jumlah sampah yang didapatkan dengan melakukan identifikasi dan mengusulkan beberapa solusi dalam mengoptimalkan sistem pengelolaan sampah yang ada di Lombok. Identifikasi solusi juga akan memberikan kepastian bahwa limbah yang dikumpulkan secara sistematis dan andal untuk dapat memastikan limbah tersebut masuk dengan tepat waktu ke pembangkit energi. Hal ini menjadi penting karena nantinya sampah tersebut akan dikumpulkan dan dibawa ke bank sampah, pusat daur ulang dan fasilitas WtE karena keamanan pasukan bahan baku pembangkit energi harus dipastikan agar selalu terjaga dengan baik.

Berdasarkan limbah yang nanti dikumpulkan dari para pemasok, teknologi yang akan digunakan harus diidentifikasi dan dibuat sebuah perkiraan tentang potensi untuk menghasilkan energi terbarukan melalui penambangan TPA dan Produksi gas TPA. Estimasi juga harus dibuat pada setiap volume sampah yang diharapkan dapat diolah untuk tujuan energi dan bagaimana perlakuan tersebut akan berpengaruh terhadap berkurangnya volume sampah yang terakumulasi di TPA.

Penilaian terhadap manfaat biaya juga akan digunakan untuk menggantikan ekspansi CNG dan LNG yang diharapkan dengan adanya energi terbarukan dari insinerasi dan biogas akan dijadikan sebagai salah satu studi serta bagaimana memastikan daur ulang nutrisi dari kotoran yang nanti dihilangkan dari gasnya. Jadi ini juga akan mencakup beberapa analisa dan penilaian tentang kesediaan dan

(6)

105

kemampuan dalam membiayai berbagai modal dan jenis fasilitas WtE. Studi kelayakan juga dapat mencakup proposal untuk contoh dari proyek WtE.

4.1.3. Kerjasama Energi DEA dan Mitra Regional

Dalam kerjasama ini, akan dilakukan pertemuan untuk membahas serta melakukan konsultasi agar dapat mengidentifikasi tantangan dan kebutuhan utama dari sektor energi dengan melakukan peninjauan potensi pembangkitan energi berdasarkan limbah yang telah dikumpulkan dari berbagai jenis limbah yang ada di pulau Lombok yang ngetiknya akan menjadi sebuah teknologi lintas sektoral dan katalog data yang akan dikembangkan oleh SWM dan produksi energi agar dapat memperoleh data untuk melakukan analisa lebih lanjut tentang peluang dan kelayakan SWM dan produksi energi dari limbah dan biomassa. Dengan melakukan pemetaan terhadap aliran biomassa limbah dalam jangkauan yang besar serta berkelanjutan selain dari pemetaan yang telah diidentifikasi seperti residu Kehutanan dan pertanian terhadap kedua Pulau untuk menilai ketersediaan bahan baku untuk memproduksi energi tersebut. Identifikasi ini akan mencakup analisa bahan baku dari sekam padi, sisa jagung, pupuk kandang dan Kehutanan serta beberapa analisis logistik serta infrastruktur untuk aliran limbah, aspek keuangan, tata kelola dan regulasi. Kalau tidak akan melakukan sudipra kelayakan untuk mengidentifikasi beberapa solusi yang nantinya layak digunakan dalam proyek WtE. Budi ini akan dilakukan berdasarkan pada kegiatan yang sebelumnya telah dilakukan di mana dapat disimpulkan bahwa terminal regasifikasi merupakan pilihan yang mahal untuk masa depan energi Lombok. Alternatif untuk menggantikan rencana masa depan tersebut dapat dianalisa dengan melakukan

(7)

106

kerjasama dengan otoritas lokal bersama dengan penilaian LCOE dan pemodelan energi dari berbagai skenario alternatif untuk masa depan Lombok kedepannya.

Salah satunya dengan mendukung implementasi RUED di Lombok dengan fokus terhadap produksi WtE, biomassa dan biogas. Kegiatan ini akan melihat bagaimana hambatan untuk mendapatkan solusi B2B dalam WtE, biomassa dan biogas serta memberikan langkah-langkah untuk mengatasi hambatan yang telah teridentifikasi sebelumnya.

4.2. Analisa Peran Pemerintah NTB Sebagai Fasilitator

Sebagai fasilitator, pemerintah NTB diberikan tanggung jawab untuk menyiapkan beberapa kebutuhan bagi pihak kedua saat berada di Lombok, fasilitator harus menjamin kenyamanan dan keamanan bagi pihak kedua saat mereka melakukan studi di pulau Lombok. Pemerintah NTB selaku aktor Paradiplomasi memainkan perannya dengan baik dengan langsung memfokuskan diri untuk menyiapkan beberapa fasilitas agar nantinya Denmark tidak perlu lagi mengatur alat karena pada dasarnya Denmark akan langsung melakukan studi dan memberikan tata cara pengelolaan sampah kepada pemerintah NTB. Salah satu bentuk peran pemerintah NTB adalah ketika DEA dan DEPA mulai menjelaskan mengenai apa saja yang akan mereka lakukan selama berada di Lombok. Dengan adanya beberapa kemungkinan kebijakan dan kerjasama yang akan dilakukan di Lombok.

Dengan beberapa langkah yang telah diberikan oleh DEA dan DEPA, selanjutnya pemerintah Provinsi NTB akan menyediakan segala fasilitas yang

(8)

107

dibutuhkan untuk memastikan bahwa produksi energi dapat berjalan dengan baik.

Pertama, dengan menyediakan alat untuk memproses limbah menjadi energi yang nantinya limbah tersebut akan didapatkan dari berbagai pihak seperti pertani, pemulung, dan sampah yang berasal dari masyarakat. Kedua, pemerintah provinsi NTB akan menyediakan fasilitas selama pihak pemerintah Denmark berada di Lombok mulai dari penginapan serta beberapa kebutuhan lainnya untuk menunjang kegiatan selama berada di Lombok. Ketiga, memastikan transportasi yang nantinya akan digunakan oleh para peneliti serta dari kedua belah pihak agar memudahkan dalam mencapai setiap lokasi yang akan dijadikan sebagai tempat pembangunan lokasi pengelolaan limbah.78

Akan tetapi, beberapa fasilitas yang telah disediakan hanya beberapa saja yang dapat digunakan. Salah satunya adalah studi yang dilakukan oleh pemerintah Denmark dimana dilakukan pada tahun 2018 yang dimana pemerintah Denmark melakukan studi mereka di pulau Lombok. Pemerintah NTB saat itu, menyediakan segala fasilitas yang dibutuhkan Denmark berupa tempat tidur, transportasi, dan kebutuhan wajib lainnya. Di tahun 2019, Pemerintah Denmark melakukan kunjungan di pemerintah daerah NTB yang juga membahas tentang rancangan kerjasama SII yang dimana pemerintah NTB juga menyiapkan diri dengan baik agar memberikan kenyamanan terhadap pihak kedua. Namun, di tahun 2020 tetap setelah disahkannya kerjasama ini, Covid-19 melanda Indonesia yang mengakibatkan mobilitas masyarakat terganggu dan mengganggu setiap lini kehidupan masyarakat Indonesia. Covid-19 juga akhirnya ikut berpengaruh

78 Ibid. Pp 10.

(9)

108

terhadap kerjasama SII dimana yang seharusnya pemerintah NTB sudah mulai melakukan implementasi kebijakan. Akan tetapi, karena semua kegiatan harus dilakukan secara online maka proses kerjasamanya nantinya akan berfokus pada seminar dan lokakarya. Akibat dari kondisi Covid-19 yang tidak memberikan ruang gerak yang luas akhirnya juga berpengaruh terhadap peran Pemerintah daerah NTB sebagai fasilitator. Akibat banyak pertemuan yang akhirnya harus dilakukan secara online akhirnya membuat pemerintah daerah NTB tidak bisa memainkan perannya sebagai fasilitator dengan maksimal yang dimana fasilitator harus menjamin kenyamanan pihak ketika melakukan kunjungan ke Pulau Lombok. Akan tetapi, pemerintah NTB tetap menyiapkan diri dengan segala kemungkinan yang ada agar nantinya bisa memberikan fasilitas yang terbaik bagi Pihak Denmark.

4.3. Peran Sebagai Eksekutor

Sebagai eksekutor, Pemerintah Provinsi NTB bersama dengan pemerintah Denmark membangun hubungan kerjasama dengan menjadikan lingkungan dan energi sebagai fokus utama dengan judul Sustainable Island Initiative (SII).

Kegiatan pertama yang dilakukan pada saat peresmian implementasi kerjasama adalah dengan melakukan kunjungan di tempat tempat pembuangan akhir Kebun Kongok yang berada di Kabupaten Lombok Barat untuk melihat bagaimana sistem pengelolaan sampah yang selama ini sudah dilakukan oleh Pemerintah Provinsi NTB.79

79 Wawancara Penulis Dengan Kepala Bidang Litbangpol Inovasi Dan Teknologi, Badan Riset Dan Inovasi Daerah Nusa Tenggara Barat, Lalu Suryadi, SP. MM, Lombok Barat, 04 Agustus 2022.

(10)

109

4.3.1. Penyusunan KAK Pra-Studi dan Skup Pekerjaan

Dalam bidang lingkugan, pemerintah NTB melakukan uji kelayakan Pengelolaan Sampah Pulau Lombok yang bertujuan untuk melakukan kajian terhadap pengelolaan sampah saat ini dan scenario pengembangan di masa depan dengan mempertimbangkan invetasi di bidang pemanfaatan sampah menjadi energi di Pulau Lombok. Hal ini dilakukan untuk mengetahui tentang potensi sampah yang ada di Pulau Lombok sekaligus melihat apa saja yang nantinya dibutuhkan untuk dapat mengelola sampah menjadi energi.

Selain itu, pemerintah juga membuat skup pekerjaan dimana pada proyek ini antara lain melakukan anlisa timbulan, komposisi dan karakteristik sampah;

Analisa pola pengelolaan sampah eksisting; analisis institusi, Rekomendasi system pengelolaan sampah dan teknologi pemanfaatan sampah menjadi energi.

Penyusunan PraFS ini direncanakan dapat dimulai pada Oktober 2020 dan selesai dalam 8 bulan.

4.3.2. Rencana Pembangunan Pembangkit Listrik Bertenaga Biomassa (PLTBm)

Surat Gubernur NTB kepada Direktur Utama PT. PLN (Persero) Nomor : 500/198/Ekon-III/2020 tanggal 29 Mei 2020 agar memasukkan Rencana Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm) ke dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) Provinsi NTB, dimana Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), PT. Gerbang NTB Emas (PT. GNE) akan ditunjuk sebagai Independent Power Producer (IPP) yang akan mengoperasikannya.

(11)

110

Surat Direktur Utama PT. PLN (Persero) Nomor :12353/EPI.00.01/B01000000/2020 tanggal 30 Juni 2020 yang menyampaikan agar rencana Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm) tersebut didetailkan dalam Feasibility Study (FS) untuk mendapatkan gambaran yang jelas terkait project sehingga dapat dipertimbangkan sebagai list project dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) Provinsi NTB.

Surat Gubernur NTB kepada Menteri Keuangan Nomor : 500/253/EKON- III/2020 tanggal 29 Juli 2020 untuk menindaklanjuti pertemuan Gubernur NTB dengan Menteri Keuangan pada tanggal 6 Maret 2020 dan kepastian pemberian Surat Jaminan Kementerian Keuangan, sehingga Feasibility Study (FS) dapat segera dilakukan sebagai syarat agar bisa dimasukkan dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT. PLN (Persero) dan sekaligus untuk memulai kegiatan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm) tersebut.

Surat Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Resiko Kementerian Keuangan Nomor : s-612/PR/2020n tanggal 16 September 2020 yang menyampaikan bahwa skema penjaminan untuk Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) saat ini sedang dalam pembahasan. Khususnya sedang dilakukan penyiapan regulasi dalam bentuk Peraturan Presiden (Perpres) sebagai landasan hokum untuk perluasan penyediaan penjaminan Pemerintah termasuk kepada Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Perluasan penyediaan penjaminan Pemerintah merupakan bagian dari upaya Pemerintah untuk mendorong perekonomian nasional dan daerah. Dengan Perpres tersebut maka Pemerintah dimungkinkan untuk menyediakan penjaminan kepada Badan Usaha Milik Daerah

(12)

111

(BUMD) melalui PT. Penjaminan Infrastruktur Indonesia (Persero) (PT. PII).

Termasuk dal;am hal ini pebnerbiyan penjaminan BMD PT. Gerbang NTB Emas (PT. GNE) yang akan bertindak sdebagai Independent Power Producer (IPP) dalam proyek Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm) Lombok.

4.3.3. Kunjungan Studi Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral NTB di Denmark

Danida Fellowship Center (DFC) menyelenggarakan sebuah kursus singkat mengenai perencanaan energi. Kegiatan ini dilakukan mulai dari tanggal 20 Mei sampai 18 Juni 2022. Sebagai salah satu lembaga yang berfokus pada kepentingan pendidikan dan penelitian berkelanjutan dalam ranah internasional, DFC selalu selektif dalam memilih peserta mereka untuk dijadikan bagian dari setiap program yang dijalankan. Sebelum kegiatan dilakukan, DFC menyeleksi calon peserta dari berbagai negara seperti Turki, Mesir, India dan Indonesia. Dalam seleksi ini, DFC melihat peserta sesuai dengan persyaratan yang mereka tentukan, salah satunya adalah memiliki kesamaan dalam perencanaan energi serta kemampuan berbahasa Inggris yang baik.

Indonesia diwakili oleh kementerian ESDM NTB, yakni Niken Arumdari, ST, M.Sc. hal ini juga sejalan dengan adanya kesepakatan yang sebelumnya telah dibuat oleh kedua belah pihak ketika rapat koordinasi SII mengenai kesediaan DFC dalam memberikan fasilitas pendidikan dan beasiswa kepada pemerintah NTB.80

80 DESDM NTB, Kursus Singkat (shortcourse) Perencanaan Energi oleh Danida Fellowship Centre (DFC), diakses dalam https://desdm.ntbprov.go.id/article/kursus-singkat-shortcourse-perencanaan- energi-oleh-danida-fellowship-centre-dfc.html. (19/11/2022. 12.00 WIB)

(13)

112

Para peserta nantinya akan menjalani pendidikan di Denmark Technical University (DTU). Selama perkuliahan berjalan para peserta turut diajak untuk melakukan kegiatan lapangan ke beberapa lokasi pengembangan energi yang ada di Denmark, diantaranya adalah pembangkit listrik melalui produksi turbin dan perusahaan pengembang District Heating yang merupakan salah satu perusahaan pengembang panas untuk kebutuhan masyarakat selama musim dingin. Sama halnya dalam perkuliahan, para peserta juga turut diberikan beberapa tugas, baik tugas berat maupun harian sebagai ajang menguji pemahaman para peserta selama kursus berjalan yang nantinya akan dipresentasikan agar nantinya DFC akan memberikan sertifikat kelulusan sebagai hadiahnya.

Selain melakukan perkuliahan disana, perwakilan Indonesia juga berkunjung ke Kedutaan Besar Indonesia untuk Denmark dan Lithuania guna membahas mengenai peluang adanya kerjasama lain baik dari segi ekonomi dan pendidikan dengan Ibu Duta Besar Savitri Wahab. Selain itu, pertemuan ini juga sekaligus menjelaskan mengenai kelanjutan dari kerjasama SII yang sudah berjalan 3 tahun semenjak diresmikan di tahun 2019. Terakhirnya, Perwakilan Indonesia sekaligus anggota dari ESDM NTB melakukan kunjungannya di Danish Energy Agency (DEA). kunjungan ini guna membahas tentang ambisi pemerintah NTB dalam mengurangi emisi pada tahun 2050 melalui rencana penyusunan peta jalan Net Zero Emission.

4.3.4. Kunjungan Wakil Gubernur NTB ke Provinsi Bornholm

(14)

113

Denmark Mengundang NTB yang merupakan salah satu provinsi yang berada dalam payung kerjasama SII untuk melakukan kunjungan belajar mengenai energi hijau di Denmark mulai tanggal 30 Oktober hingga 5 November 2022.

Kunjungan ini sekaligus salah satu progres terbesar NTB karena pemerintah NTB juga dinobatkan oleh Dewan Energi Nasional (DEN) sebagai Provinsi penyelenggara EBT terbaik 2022. Julmansyah selaku Kepala Dinas LHK NTB memberikan catatan bahwa ini adalah saat yang tepat untuk pihaknya ikut dalam mempelajari energi hijau yang ada di Denmark. Dalam kunjungannya, Rombongan yang terdiri dari jajaran tinggi pemerintah NTB dan Riau disambut oleh Walikota Bornholm Regional Municipality Sebagai otoritas lokal yang memiliki pengaruh yang besar di seluruh pulau Bornholm.81

Selama perjalanan rombongan dibawa untuk melakukan perjalanan melewati beberapa lokasi penting yang ada di Bornholm seperti otoritas Swedia dan Batas Swedia dan Denmark. Rombongan melihat hal yang menarik mengenai Bornholm dimana pulan ini merupakan pulau yang strategis karena dikelilingi oleh banyak negara sehingga memiliki potensi yang sangat besar bagi Denmark. Dengan didukung oleh banyaknya sumber pembangkit listrik yang dengan berbagai macam jenis, menjadikan Bornholm juga sebagai salah satu pulau energi terbesar di Denmark. Salah satunya adalah adanya dua pembangkit listrik tenaga biomassa

81 Suara NTB, Pemprov NTB Diundang Belajar Energi Hijau Ke Denmark, Diakses dalam https://www.suarantb.com/2022/11/07/pemprov-ntb-diundang-belajar-energi-hijau-ke-denmark/.

(19/11/2022. 12.00 WIB)

(15)

114

yang menggunakan sisa kayu yang berasal dari Bornholm dan beberapa negara Eropa lainnya.

Di hari kedua, Rombongan mengunjungi salah satu insinerator sampah yang dikelola langsung oleh walikota Bornholm. Kunjungan ini sekaligus menjadi kegiatan presentasi dan diskusi mengenai proses pengalihan penggunaan energi fosil ke EBT yang akhirnya membebaskan Bornholm dari ketergantungan energi fosil sebesar 35% dan selama proses berjalan hingga tahun 2020, Bornholm sukses mengurangi ketergantungan mereka hingga menembus angka 86% sehingga Bornholm secara langsung menurunkan emisi CO2 yang memiliki pengaruh buruk bagi lingkungan, seperti gas rumah kaca dan perubahan iklim. Hal ini dapat tercapai karena progresifitas yang dilakukan oleh pemerintah Bornholm untuk menerapkan beberapa energi baru terbarukan mulai dari energi matahari, biomassa, angin dan biogas dan beberapa penerapan energi lainnya.

Selain menekan angka emisi, penerapan energi terbarukan ini juga berdampak terhadap perekonomian Denmark karena Denmark juga memanfaatkan energi mereka untuk kepentingan bisnis dengan memasarkan energi mereka ke negara-negara yang berada di sekitar laut Balik. Kedepannya, Denmark menyiapkan peta khusus mengenai energi untuk menjadikan Pulau Bornholm sebagai pusat energi hijau yang ada di Laut Baltik. Upaya telah dilakukan sejak 30 tahun yang lalu dan telah menghasilkan beberapa bentuk energi baru.

Melihat keseriusan pemerintah Denmark dalam menjalankan energi terbarukan, pemerintah NTB melihat bahwa Adanya kesamaan antara Denmark dan

(16)

115

NTB dalam mendorong emisi. NTB dengan program Net Zero Emisi 2050 merupakan salah satu bentuk kesamaan dari kedua belah pihak dengan fokus pengurangan emisi berlebih. Melihat Denmark yang sudah melakukan zero waste sejak 1989 dengan membangun sebuah incenerator dengan biomass dan angin sebagai bentuk pengoptimalan potensi alam yang ada. Sama halnya dengan NTB melalui Visi ASRI LESTARI yang merupakan payung dari program unggulan NTB zero waste. Di NTB sendiri, alat Incenerator sudah ada untuk mengelola B3 (Bahan Racun Berbahaya), yang tidak jauh dari Denmark, sama halnya juga dengan biomassa. Pemerintah NTB menjalankan program payung NTB Hijau agar nantinya mampu mendapatkan sumber biomassa untuk menjadi bahan baku energi. Program ini didorong oleh Pemprov NTB yang bekerjasama dengan PLN. Nantinya bahan baku akan dibawa ke PLTU Jeranjang dan Tambora Kertasari KSB. Walaupun harus mendapatkan tantangan dengan adanya regulasi dari PLN pusat, kegiatan itu harus terus dilanjutkan sampai menemui titik terang. Begitu pula dengan beberapa program lain, salah satunya adalah pembangunan pembangkit listrik tenaga angin yang masih dala proses dengan PLN yang nantinya akan dilanjutkan dengan membangun sebuah Wind Turbin di wilayah Sekaroh, Lombok Timur.

4.4. Analisa Peran Pemerintah NTB sebagai Eksekutor

Sebagai Eksekutor, pemerintah NTB melakukan beberapa kegiatan untuk memastikan bahwa kerjasama ini tetap berjalan semestinya walaupun harus dilanda oleh wabah Covid-19. Pemerintah NTB pada akhirnya banyak melakukan

(17)

116

pembahasan secara online yang berfokus pada seminar dan lokakarya terhadap beberapa kebijakan yang nantinya akan dilakukan ketika wabah Covid-19 ini berakhir. Salah satunya adalah memastikan adanya teknologi yang cocok digunakan untuk nantinya diterapkan di NTB untuk dapat mengelola setiap limbah yang ada menjadi energi terbarukan. Selain itu juga pemerintah NTB juga memberikan beberapa pemikiran sebagai bentuk eksekusi dari apa yang dibutuhkan oleh setiap masing-masing instansi yang juga akan dirundingkan dengan Denmark.

Setelah Covid-19 mulai mengalami penurunan yang signifikan, pemerintah NTB mulai melakukan koordinasi dengan beberapa pihak Denmark, salah satunya dengan melakukan kunjungan di Denmark untuk melihat bagaimana implementasi dari kebijakan energi yang dibuat oleh Pemerintah Denmark yang juga sebagai bentuk studi banding mengenai perbedaan pengelolaan limbah energi antara NTB dan Denmark.

Pemerintah NTB telah melakukan 2 (dua) kali kunjungan di Denmark, yakni pada 20 Mei hingga 18 Juni 2022 dan juga 30 Oktober hingga 5 November 2022.

Dalam kedua kunjungan ini, pemerintah NTB juga memainkan perannya untuk melihat secara langsung bagaimana pemerintah Denmark melakukan pengelolaan energi mereka yang dimana tidaknya adanya batasan bagi pemerintah Denmark dalam menyusun sebuah rencana pengelolaan lingkungan. Pemerintah NTB juga melihat beberapa kemungkinan kebijakan yang nantinya akan dijelaskan kepada Pemerintah Denmark setelah kunjungan ini berakhir.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan peneliti di Rumah Sakit Umum Provinsi NTB ditemukan pengelolaan limbah yang tidak sesuai dengan persyaratan yang telah

Dalam Group Faktor Kelemahan, faktor prioritas yang menjadi kelemahan utama Dinas Kehutanan Provinsi NTB dalam pengembangan hutan tanaman unggulan lokal di Provinsi NTB

Untuk pelaksanaan investasi pemerintah daerah dalam bentuk penyediaan infrastruktur dan non infrastruktur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17, Gubernur dapat membentuk

Dalam rangka memberikan pedoman yang jelas dalam pengelolaan tempat-tempat penginapan/pesanggerahan/villa dan asrama yang dimiliki oleh Pemerintah Daerah, baik dalam

Berdasarkan Keputusan Gubernur Nusa Tenggara Barat Nomor 813/127/BKD/2022, tanggal 11 April 2022, telah ditetapkan pengangkatan menjadi Pegawai Pemerintah dengan

Penyidik Pegawai Negeri Sipil selanjutnya disebut PPNS adalah Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat yang

(Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara.. Nomor 4437) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan

Pandangan MUI NTB yang tidak menyalahkan intervensi Pemerintah provinsi NTB melalui SE Gubernur yang mengatur tentang batas usia minimal menjadi 21 tahun syarat usia menikah