• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V - Perpustakaan Poltekkes Malang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "BAB V - Perpustakaan Poltekkes Malang"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

55 BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Dari hasil studi kasus tentang sikap anak sd dalam mencegah diare sebelum dan sesudah dilakukan penyuluhan di SDN Krebet 01 dapat disimpulkan sebagai berikut:

a. Subjek I

Sebelum dilakukan penyuluhan An.F menujukkan sikap tidak setuju dalam pencegahan diare, belum mengerti secara detail mengenai diare, hanya sekedar informasi biasa yang di terima setelah ia mengalami diare. Meskipun sebenarnya An.F sudah memahami bagaimana penanganan diare. Dalam kegiatan sehari-hari An.F sekali dua kali masih mengonsumsi jajanan sembarangan, seperti kentang goreng ataupun cilok yang dijual diarea sekolah. Hal tersebut dikarenakan An.F tidak dibekali makanan oleh orangtuanya, hanya diberikan bekal air putih. Dan menurut An.F itu boleh saja untuk dikonsumsi. Untuk kebiasaan cuci tangan An.F sudah baik, namun An.F tidak memahami dengan benar bagaimana langkah-langkah cuci tangan yang benar. Pada saat diberikan penyuluhan diare An.F menerima informasi dengan baik dan merespon dengan tepat. Dan setelah penyuluhan diare dilakukan An.F mengetahui bagaimana diare secara lebih detail, dan sudah bisa menjelaskan bagaimana pencegahan maupun pengobatan diare. Dalam pembentukan sikap

(2)

56

anak An.F cenderung pada pengetahuan akan pendidikan kesehatan diare. Hal tersebut dikarenakan kebiasaan setiap hari tidak menunjang An.F untuk mencegah diare. Untuk keempat tingakatan sikap, An.F mengalami seluruhnya dengan baik.

b. Subjek II

Sebelum dilakukan penyuluhan An.B menunjukkan sikap tidak setuju akan pencegahan diare, belum memahami detail bagaimana diare.

Dalam kegiatan sehari-hari An.B selalu dibekali makanan dan minuman oleh orangtuanya. Sudah menjadi kebiasaan An.B bahwa ia tidak pernah jajan sembarangan dikarenakan tidak suka dan tidak diperbolehkan oleh orangtuanya. Dalam konsep cuci tangan An.B sudah baik, namun masih terdapat satu kesalahan yaitu kurangnya 1 langkah pada cuci tangan.

Pada saat diberikan penyuluhan An.B memerhatikan dengan seksama.

Dan berani menanyakan apakah susu baik untuk dikonsumsi saat diare.

Di minggu-minggu setelah penyuluhan An.B menjelaskan bahwa diare adalah penyakit yang berbahaya, selain itu An.B sudah mengetahui bagaimana konsep diare dengan benar. Dalam proses sikap pola adopsi atau kebiasaan sehari-hari sangat berpengaruh pada An.B ketimbang pola diferesiensi. Hal ini dikarenakan An.B mendapatkan didikan dari orangtuanya untuk tidak terbiasa makan makanan sembarangan dan lebih mengutamakan untuk membawa bekal sendiri dairi rumah.

Perubahan sikap yang dialami oleh kedua subjek tersebut dikarenakan adanya stimulus atau ide-ide mengenai diare, yang akhirnya

(3)

57

diterima dan direspon oleh fikiran mereka masing-masing. Sehingga menjadikan adanya proses berfikir dari tidak tau menjadi tau akan diare.

Hal tersebut tidak secara langsung dapat diterima oleh kedua subjek namun diperlukan waktu yang berbeda sesuai dengan pola pikir dari individu masing-masing yang berasal dari internal dan eksternal individu.

Dan hasil akhir penelitian kedua subjek menunjukkan adanya sikap menyetujui pencegahan diare dengan cuci tangan dan makan makanan sehat.

5.2 Saran

1. Bagi Sekolah

Pada sekolah, diharapkan adanya peranan guru maupun civitas akademika lainnya untuk memberikan wawasan mengenai konsep diare.

Dengan memberikan pendidikan kesehatan setiap beberapa bulan sekali kepada para murid. Selain itu peran guru dalam pencegahan diare juga sangat dibutuhkan, dengan mengontrol area lingkungan agar tetap bersih dan memberikan peraturan seperti cuci tangan sebelum masuk kelas. Hal tersebut bertujuan untuk kesehatan bersama baik untuk anak-anak ataupun yang lainnya.

2. Bagi Orang Tua

Kepada orangtua diharapkan adanya peranan penting atau pencegahan pertama terhadap kesehatan anak. Dengan memperdalam mengenai informasi kesehatan, baik secara langsung atau tidak langsung.

(4)

58

Terlebih untuk kasus diare, kepada orangtua lebih ditekankan untuk mengajak anak berperilaku hidup sehat seperti cuci tangan dengan baik dan benar dan membatasi makan makanan sembarangan seperti membawakan bekal sendiri dari rumah.

3. Bagi Peneliti Selanjutnya

Sebaiknya peneliti selanjutnya diharapkan untuk mengembangkan penelitian yang terkait dengan peran sekolah terhadap masalah kesehatan yang sering dialami oleh anak-anak seperti diare.

4. Bagi Institusi Pelayanan Kesehatan (Puskesmas)

Diharapkan pihak pelayanan kesehatan terutama sebagai perawat yang bekerja di Puskesmas untuk melakukan kegiatan kunjungan- kunjungan ke sekolah atau adanya pemberdayaan dokter kecil di setiap sekolah. Hal tersebut bertujuan untuk meningkatkan pengetahun siswa terhadap kesehatan.

Referensi

Dokumen terkait

65 BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil studi kasus dan pembahasan kedua subjek dapat disimpulkan bahwa kedua subjek mengalami kecanduan karena memenuhi 7 komponen

Pada tahap perencanaan kemampuan subjek 1 dan sabjek 2 setelah diberikan pengetahuan tentang toilet training pengetahuan subjek 1 dan 2 berubah dari pengetauan dari kurang menjadi baik,

2.5 Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Perilaku Pencegahan Diare Pada Siswa Sekolah Dasar Pendidikan kesehatan merupakan segala upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang

5.1.5 Evaluasi Keperawatan Dari hasil evaluasi kedua subjek terjadi peningkatan pola tidur, pada subjek I dan II setelah dilakukan relaksasi otot progresif pada hari pertama dengan

Sebelum dan Setelah dilakukannya pendidikan kesehatan terjadi perubahan pengetahuan pada Subjek 1 dan Subjek 2 dimana sebelum dilakukannya pendidikan kesehatan pengetahuan Subjek 1 dan

55 5.2 SARAN 5.2.1 Bagi subjek Diharapkan subjek dapat meningkatan perilaku kebiasaan mencuci tangan dan perawatan kuku, khususnya mencuci tangan pada saat sebelum makan, setelah

Dan dari 3 jurnal yang menyatakan sikap ibu kurang baik, dua jurnal menunjukan hasil adanya hubungan yang signifikan antara sikap dengan tidakan dan perilaku yang dilakukan ibu dan satu

5.2.2 Bagi Subjek Studi Kasus Subjek studi kasus dalam menjalankan peran sebagai role model sudah optimal, tetapi akan lebih baik lagi jika peran sebagai pendidik dengan mengajarkan