BAB V PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penjualan kredit dan piutang tak tertagih terhadap penerimaan kas pada PT Habbatussauda International periode 2013-2016. Berdasarkan hasil analisis deskriptif dan analisis regresi linier berganda, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Penjualan kredit pada PT Habbatussauda International selama periode 2013-2016 mengalami fluktuasi. Nilai penjualan kredit yang tertinggi berada di bulan Mei tahun 2014 sebesar Rp 1.759.810.757, hal tersebut dikarenakan adanya kebijakan baru dari perusahaan yang menaikkan target penjualan kepada distributor dan juga agen. Apabila ada distributor atau agen yang tidak mencapai target dalam tiga bulan berturut-turut, maka besarnya diskon yang selama ini diberikan akan dikurangi. Jumlah penjualan kredit yang paling rendah berada di bulan Agustus tahun 2013 sebesar Rp 382.669.749. Turunnya jumlah penjualan kredit di bulan Agustus 2013 karena bertepatan dengan bulan ramadhan dan libur hari raya. Hal tersebut dikarenakan di bulan ramadhan dan libur hari raya kebanyakan orang-orang lebih memilih melakukan transaksi pembelian ke produk makanan dan juga pakaian daripada obat-obatan, disamping itu juga ketersediaan bahan baku yang terbatas karena suplier lebih banyak meningkatkan stok kurma daripada stok bahan baku minyak habatussauda.
Tentu saja turunnya jumlah penjualan berpengaruh terhadap penerimaan kas dari hasil penjualan.
2. Piutang tak tertagih pada PT Habbatussauda International selama periode 2013-2016 mengalami fluktuasi. Nilai piutang tak tertagih tertinggi berada di tahun 2013 pada bulan September sebesar Rp 1.127.088.226. Hal tersebut dikarenakan beberapa faktor, yaitu adanya kebijakan baru dari perusahaan terhadap kenaikan target penjualan distributor maupun agen dengan di iringi perubahan harga dan diskon yang berlaku. Karena kebijakan baru tersebut perusahaan tidak memperhatikan tingkat kemampuan customer dalam melaksanakan kewajibannya untuk membayar hutang mereka. Misalkan customer yang menurut sejarah pembelanjaanya dalam sebulan hanya mampu berbelanja sebesar Rp 150.000.000 malah diberikan kredit dengan jumlah Rp 300.000.000 sehingga banyak customer yang melunasi hutang mereka melebihi batas tempo kredit yang telah diberlakukan perusahaan. Hal tersebut tentu saja berpengaruh terhadap penerimaan kas karena uang masuk dari hasil penjualan kredit menjadi terlambat diterima. Piutang tak tertagih dengan jumlah yang paling rendah berada di bulan Maret 2014 sebesar Rp 58.565.200, hal tersebut dikarenakan adanya penurunan omset dan juga perusahaan berusaha untuk menekan jumlah piutang yang ada agar perputaran kas menjadi lancar.
3. Penerimaan kas pada PT Habbatussauda International selama periode 2013-2016 mengalami fluktuasi. Nilai penerimaan kas tertinggi berada di tahun 2016 pada bulan Agustus sebesar Rp 2.903.653.165 yang berasal
dari penjualan tunai, penerimaan atas pembayaran piutang dan juga dari penerimaan lain-lain seperti dari penjualan aset perusahaan ataupun dari wakalah, yaitu perjanjian tertulis berisi pinjaman modal dari seseorang kepada perusahaan. Perjanjian tertulis tersebut berisi mengenai jumlah uang yang dipinjamkan, maksud peminjaman, batas pengembalian dan juga besaran bagi hasil dari total pinjaman tersebut. Jumlah penerimaan kas yang paling rendah berada di bulan April 2013 sebesar Rp 522.802.027, hal tersebut dikarenakan menurunnya omset penjualan sehingga perputaran arus kas menjadi terhambat.
4. Hasil koefisien regresi linier berganda yang diperoleh ditulis dalam bentuk persamaan yang menggambarkan hubungan data X dan Y yang digunakan adalah sebagai berikut:
Y = 764939174,212 + 0,837 X1 + (-0,473) X2
Konstanta sebesar 764939174,212 menunjukkan nilai penerimaan kas pada PT Habbatussauda International selama periode 2013-2016 ketika tidak ada perubahan pada penjualan kredit dan piutang tak tertagih.
Penjualan kredit memiliki koefisien 0,837 artinya setiap kenaikan penjualan kredit sebesar 1 kali diprediksi akan meningkatkan penerimaan kas sebesar 0,837.
Piutang tak tertagih memiliki koefisien -0,473 artinya setiap penurunan piutang tak tertagih sebesar 1 kali diprediksi akan meningkatkan penerimaan kas sebesar 0,473 dengan asumsi penjualan kredit tidak berubah
5. Koefisien korelasi parsial antara penjualan kredit dan penerimaan kas adalah sebesar 0,350 artinya penjualan kredit memiliki hubungan yang rendah terhadap penerimaan kas dengan arah yang positif. Koefisien korelasi parsial antara piutang tak tertagih dan penerimaan kas adalah sebesar 0,088 artinya piutang tak tertagih memiliki hubungan yang sangat rendah terhadap penerimaan kas dengan arah yang positif. Nilai koefisien korelasi berganda adalah 0,383 (R), artinya penjualan kredit dan piutang tak tertagih memiliki hubungan simultan yang rendah terhadap penerimaan kas.
6. Koefisien determinasi penjualan kredit dan piutang tak tertagih terhadap penerimaan kas adalah sebesar 14,7%. Memberikan arti bahwa besarnya pengaruh penjualan kredit dan piutang tak tertagih terhadap naik atau turunnya penerimaan kas sebesar 14,7% sedangkan sisanya adalah sebesar 85,3% dipengaruhi oleh variabel atau faktor lain di luar penelitian.
7. Penjualan kredit secara parsial berpengaruh signifikan terhadap Penerimaan Kas pada PT Habbatussauda International. Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa hipotesis pertama yang menyatakan penjualan kredit berpengaruh terhadap penerimaan kas diterima.
8. Piutang tak tertagih secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap Penerimaan Kas pada PT Habbatussauda International. Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa hipotesis kedua yang menyatakan piutang tak tertagih berpengaruh terhadap penerimaan kas ditolak.
9. Penjualan Kredit dan Piutang Tak Tertagih secara simultan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Penerimaan Kas pada PT
Habbatussauda International. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa hipotesis ketiga yang menyatakan penjualan kredit dan piutang tak tertagih secara simultan berpengaruh terhadap penerimaan kas diterima.
5.2. Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan yang sudah dipaparkan, maka saran yang dapat disampaikan oleh penulis adalah sebagai berikut:
1. Bagi Perusahaan
a. Penjualan secara kredit meskipun dapat meningkatkan omset perusahaan, namun memiliki risiko terhambatnya penerimaan kas apabila tidak tertagih. Untuk itu pihak perusahaan disarankan perlu melakukan uji dan evaluasi terlebih dahulu kelayakan kreditnya terhadap setiap pengajuan kredit yang dilakukan oleh calon pembeli.
b. Perlunya pengendalian dan kontrol piutang yang baik dari pihak intern maupun dari pihak ekstern untuk menghindari piutang tak tertagih yang besar yang dapat merugikan perusahaan.
c. Memisahkan fungsi kasir, piutang dagang, dan pencatatan dari bagian kasir dan administrasi. Bagian kasir dan administrasi sebaiknya hanya menjalankan fungsi kasir karena fungsi piutang dagang dan pencatatan adalah tugas dan tanggung jawab Departemen Akuntansi dan Keuangan. Bukti Kas Masuk sebaiknya bernomor urut tercetak, hal tersebut digunakan untuk menghindari terjadinya kesalahan dan
tindakan yang dapat mengakibatkan perusahaan merugi, seperti tindak korupsi dan penyelewengan.
d. Sistem Informasi Akuntansi sangat diperlukan dalam kemajuan dan pengembangan sistem pengolahan data, agar data yang diolah dapat menjadi informasi yang berkualitas dan dapat digunakan sebagai alat bantu yang mendukung pengambilan keputusan juga koordinasi.
Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dari pengembangan Sistem Informasi Akuntansi, diperlukan pula End-User yang berkualitas dan berkompeten sehingga pengembangan Sistem Informasi Akuntansi dapat berjalan dengan baik seiring dengan kemajuan Teknologi Informasi sampai saat ini.
2. Bagi Peneliti Selanjutnya
Berdasarkan hasil uji koefisien determinasi, besarnya pengaruh penjualan kredit dan piutang tak tertagih terhadap naik atau turunnya penerimaan kas adalah sebesar 14,7% sedangkan sisanya adalah sebesar 85,3%
dipengaruhi oleh variabel atau faktor lain di luar penelitian. Untuk itu disarankan bagi peneliti selanjutnya agar menambah jumlah variabel yang digunakan seperti penjualan aset perusahaan, pinjaman modal dan lain sebagainya.