BAB14.
DIVERSIFIKASI
Konsep diversifikasi seringkali diilustrasikan
dengan perkataan “jangan menaruh telur pada satu keranjang”(don’t put your eggs in one
basket).
Pembicaraan dimulai dengan membicarakan
karakteristik diversifikasi, bagaimana diversifikasi bisa mengurangi risiko.
Pembicaraan dilanjutkan dengan membicarakan
aspek lain, yaitu sinergi, yang perlu diperhatikan
jika perusahaan melakukan diversifikasi produk.
Apa itu Diversifikasi?
Ide sederhananya adalah membatasi risiko saat kondisi jatuh atau risiko kehilangan
sejumlah uang, dengan cara memiliki
portofolio investasi di kelas aset berbeda seperti reksadana, obligasi, saham,
properti, dll. Bahasa sederhananya,
investasikan uang Anda bukan hanya di
satu aset saja.
Bagaimana Cara Kerja Diversifikasi?
Fungsi dari diversifikasi itu sendiri adalah melindung aset investasi Anda terhadap kondisi buruk, sambil tetap
mendapatkan keuntungan. Hal ini terjadi karena ketika salah satu aset naik, yang lainnya turun dan juga ada yang tetap.
Perlu diingat dengan menggunakan strategi ini Anda tidak akan mendapatkan keuntungan maksimal. Akan tetapi yang
terpenting, Anda juga tidak akan mengalami kerugian besar, yang bisa terjadi pada siapa pun, termasuk investor
profesional.
Strategi ini dapat membantu perjalanan investasi Anda yang bergelombang menjadi jauh lebih mudah dan lancar untuk mencapai tujuan investasi yang diinginkan. Secara umum apabila harga saham naik maka obligasi akan turun nilainya.
Kedua kelas aset tersebut memiliki pergerakan berlawanan arah sehingga dapat membantu menstabilkan portofolio investasi saat Anda memiliki keduanya.
Bagaimana Caranya Mengukur Risiko?
Anda bisa menginvestasikan di peternakan saham dan
kehilangan semuanya. Atau, Anda dapat berinvestasi sebagian dana dalam saham yang memiliki kinerja kurang baik, tetapi keseluruhan portofolio tidak mengalami gangguan. Ini karena Anda terdiversifikasi dengan benar di kelas aset lainnya.
Memang, risiko tinggi berpotensi mendapatkan imbal hasil
tinggi, tetapi jangan lupakan juga akan adanya kerugian yang besar pula. Risiko moderat mengkombinasikan investasi risiko yang lebih tinggi dengan investasi berisiko rendah untuk lebih menyeimbangkan kinerja investasi dalam jangka panjang.
Bagaimana Caranya Mengukur Risiko?
Salah satu cara untuk menangani berbagai tingkat risiko adalah dengan mengukurnya. Dalam dunia investasi, risiko investasi diukur dari seberapa jauh ia menyimpang dari
hasil yang diharapkan. Anda tidak perlu mengukur standar deviasi. Sebaliknya, pikirkan portofolio Anda dalam kategori berbasis luas seperti risiko rendah, sedang, dan tinggi.
Contoh : Jika semua investasi Anda hanya dalam beberapa saham tunggal, Anda memiliki tingkat risiko yang tinggi.
Jika investasi Anda 60% dalam bentuk saham dan 40%
dalam obligasi dan secara global terdiversifikasi di seluruh kelas aset, Anda memiliki lebih banyak tingkat risiko
sedang. Jika sebagian besar aset Anda dalam obligasi dan
kas jangka pendek, berkualitas tinggi, Anda memiliki tingkat
risiko yang rendah.
Cara diversifikasi portofolio
Atur banyaknya saham dalam portofolio kamu.
Dalam melakukan diversifikasi portofolio, kamu harus memiliki lebih dari 1 saham dalam portofolio kamu, kamu bisa mulai dari 3 sampai 5 saham. Perlu diingat jika semakin banyak saham yang kamu pegang maka kemungkinan hasil yang kamu dapatkan akan kurang
optimal dan kamu membutuhkan effort yang lebih tinggi untuk tetap mengawasi investasi kamu.
Ambil saham dari sektor yang berbeda
Diversifikasi saham pada sektor yang sama tidak bagus untuk portofolio saham kamu, karena secara umum saham yang masih berada dalam satu sektor yang sama akan cenderung memiliki pergerakan harga yang searah. sehingga jika membeli saham yang masih dalam satu sektor yang sama, ketika sektor bisnisnya dalam kondisi yang kurang bagus, maka kamu justru mengalami kerugian lebih besar. tips yang sesuai adalah dengan mengambil saham dari sektor yang berbeda, sehingga akan meminimalisir kerugian jika salah satu sektor dalam kondisi turun.
Cara diversifikasi yang baik
Alokasikan lebih banyak untuk perusahaan yang lebih bagus serta lebih murah
Kamu harus mempelajari bisnis perusahaan dan kondisi keuangan perusahaan, memahami kondisi keuangan perusahaan serta
mengetahui apakah suatu saham sedang djual dengan harga murah atau sudah terlalu mahal akan membantu kamu untuk menentukan alokasi dana yang sesuai dengan kondisi fundamental perusahaan.
Jika perusahaan memang dalam kondisi bagus namun harga
sahamnya sangat murah, maka kamu bisa menaruh dana yang lebih besar di saham itu, dengan begitu kemungkinan memperoleh
potensi keuntungan lebih besar di sisi lain juga menurunkan risiko.
Bentuk Diversifikasi Perusahaan
Bentuk Diversifikasi Vertikal adalah diversifikasi dari atas ke bawah.
Anda bisa melihat dari gambar diatas bahwa setiap perusahaan secara bebas memasarkan produknya (tidak harus ke bawahnya).
Misalkan perusahaan peternakan tidak harus hanya menjual hasil ternaknya ke perusahaan kulit milik anda, bisa juga ke perusahaan olahan kulit yang lainnya bahkan pesaing. Kemudian usaha toko juga tidak terpaku hanya menjual produk sepatu perusahaan anda, bisa saja menjual produk sepatu pesaing.
Bentuk Diversifikasi Horizontal
Berbeda dengan vertikal, horizontal adalah membagi usaha anda baik konsentris dan konglomerasi (masing-masing dijelaskan
dibawah) ke samping. Artinya bahwa setiap unit produksi / usaha memiliki tingkatan dan derajat yang sama, yang membedakannya adalah target pasar dan kebutuhan calon pembeli. Pada gambar di samping menunjukan perusahaan anda memproduksi 3 jenis barang yang berbeda, tentu saja dengan kebutuhan calon pembeli yang
berbeda.
Strategi Diversifikasi Perusahaan
Strategi diversifikasi adalah bagaimana perusahaan melakukan membagi produknya, apakah dengan produk / usaha yang
berhubungan atau sama sekali berbeda.
1. Strategi diversifikasi konsentris
Strategi diversifikasi konsentris
Merupakan strategi penambahan produk baru yang masih ada kaitannya dalam hal kesamaan teknologi, fasilitas bersama, atau jaringan pemasaran yang sama dengan produk yang ada saat ini.
Kemudian Strategi diversifikasi ini bisa berbentuk vertikal maupun horizontal. Strategi konsentris akan berhasil jika :
Bersaing dalam industri yang rendah pertumbuhannya.
Menaikkan penjualan produk yang sudah ada dengan
memproduksi produk baru yang berkaitan dengan produk yang sudah ada itu.
Menawarkan harga produk baru yang kompetitif.
Daur hidup produk saat ini yang mengalami penurunan memiliki team manajemen yang kuat.
Strategi diversifikasi konglomerasi
Penambahan produk baru yang dipasarkan di pasar baru yang tidak
berkaitan dengan yang ada saat ini. Agar berjalan efektif, ada beberapa pedoman strategi diversifikasi konglomerasi untuk diikuti, yakni:
Terjadi penurunan penjualan dan keuntungan.
Kemampuan manajerial dan modal untuk berkompetisi dalam industri baru.
Tercipta sinergi yang financial antara dua perusahaan (yang
mengakuisisi dan yang diakuisisi) bagi produk saat ini yang sudah jenuh.
Adanya peluang untuk memperoleh bisnis baru yang tidak berkaitan namun memiliki memiliki peluang investasi yang menarik.
Adanya tindakan antitrust atas bisnis yang terkonsentrasi pada bisnis tunggal.
Terdapat dua manfaat yang berpengaruh besar terhadap operasional dan daya tahan perusahan itu sendiri.
Meningkatkan Profitabilitas dan Daya Saing
Dengan memiliki perusahaan (investasi) di berbagai jenis produk akan mencegah pesaing anda memonopoli pasar. Kemudian, bisa juga
mempersepit ruang gerak para pesaing baru. Market share yang berhasil diraih dari berbagai produk akan menambah pemasukan untuk usaha anda.
Meminimalisir Resiko
Resiko selalu ada di segala aktifitas hidup, termasuk selalu menjadi ancaman perusahaan. Dengan dilakukannya diversifikasi secara tidak
langsung akan mengurangi dampak resiko di masa yang akan datang. Jika satu unit usaha anda mengalami kerugian, bahkan hingga gulung tikar, masih ada unit usaha lainnya sehingga anda masih bisa “survive”.
Manfaat diversifikasi perusahaan
EFEK DIVERSIFIKASI PORTOFOLIO
Menggunakan analisis statistik
Melihat diversifikasi dalam konteks portofolio dengan aset yang
independen
Melihat diversifikasi dalam konteks
portofolio dengan aset yang dependen
(berkorelasi satu sama lain)
Misalkan kita mempunyai portofolio dengan N aset yang independent satu sama lain. Risiko aset
diukur dengan standar deviasi, sehingga tingkat keuntungan aset yang diharapkan dan risiko
aset tersebut adalah:
Tingkat keuntungan yang diharapkan = E(Ri) = E(R1), …, E(RN)
Risiko aset = i = 1, …, N
ASET INDEPENDEN
SATU SAMA LAIN
Tingkat keuntungan yang diharapkan untuk portofolio tersebut dan risikonya adalah:
E(RP) = (1/N) R1 + ….. + (1/N) RN
= (R1 + ….. + RN ) / N
P2 = (1/N)2 12 + .. + (1/N)2 N2 + 2 (1/N) (1/N) 12 + .. + 2 (1/N) (1/N) ij dimana i≠j
E(RP) = tingkat keuntungan yang diharapkan untuk portofolio
R1..N = tingkat keuntungan aset 1 sampai N
P2 = varians portofolio atau standar deviasi dikuadratkan
ij = kovarians antara saham i dengan j
N = jumlah aset
Karena aset tersebut independent satu sama lain, maka kovarians antar aset sama dengan nol.
Dengan demikian formula di atas bisa disederhanakan lagi menjadi:
P2 = (1/N)2 12 + .. + (1/N)2 N2
P2 = (1/N)2 ( 12 + .. + N2 )
Misalkan aset tersebut sama satu sama lainnya (identically distributed), maka risiko tersebut sama, dan bisa dituliskan sebagai berikut ini.
12 = 22 = N2 = 2
Sehingga risiko portofolio bisa dituliskan sebagai berikut ini.
P2 = (1/N)2 ( N12 )
P2 = (2 / N)
Apa artinya?
Risiko portofolio (diukur melalui variansnya) adalah varians aset individual dibagi dengan jumlah aset (N) dalam portofolio.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa jika N menjadi semakin besar, maka risiko portofolio akan
semakin turun. Jika N mendekati tidak terhingga (N ∞), maka risiko portofolio akan menjadi nol. → Dengan kata lain, kita mempunyai portofolio
dengan tingkat keuntungan yang pasti (tidak ada
kemungkinan penyimpangan).
Misal kita mempunyai portofolio dimana setiap aset mempunyai standar deviasi=178,5.
Berapa risiko portofolio jika terdiri dari 1 aset, 10, sampai
tidak terhingga?
ASET BERKORELASI
(DEPENDEN) SATU SAMA LAIN
Kita mempunyai portofolio yang terdiri dari N
aset, tetapi aset tersebut berkaitan (berkorelasi, atau tidak independent) satu sama lain.
Tingkat keuntungan portofolio yang diharapkan E(RP) = (1/N) R1 + ….. + (1/N) RN
= (R1 + ….. + RN ) / N Risiko portofolio:
P2 = (1/N)2 12 + .. + (1/N)2 N2 + 2
(1/N) (1/N) 12 + .. + 2 (1/N) (1/N) ij dimana
i≠j
Perhatikan bahwa karena aset-aset
tersebut tidak independent satu sama lain, maka ada kovarians atau korelasi antar
aset.
Karena itu, term kedua (yang memuat kovarians antar aset) tidak bisa
dihilangkan.
Risiko portofolio dalam situasi adalah
penjumlahan dari varians setiap aset
dengan kovarians antar aset.
Bagan 2. Komponen Risiko Portofolio (Aset Tidak Independen)
12
12
13
13
14
22
23
24
25
32
34
35
42
45
52Misalkan kita mempunyai portofolio yang terdiri dari lima aset. Total risiko aset tersebut bisa dituliskan sebagai berikut ini (dimana N=5).
P2 = [ (1/N)2 12 + (1/N)2 22 + (1/N)2 32 + (1/N)2 42 + (1/N)2 52 ] +
[2 (1/N) (1/N) 12 + 2 (1/N) (1/N) 13 + 2 (1/N) (1/N)
14 +2 (1/N) (1/N) 15 +2 (1/N) (1/N) 23 + 2 (1/N) (1/N) 24 +2 (1/N) (1/N) 25 +2 (1/N) (1/N) 34 +2 (1/N) (1/N) 35 + 2 (1/N) (1/N) 45 ]
Perhatikan jumlah komponen dalam risiko portofolio
tersebut adalah 5 varians dan 20 kovarians. Misalkan varians dan kovarians tersebut adalah sama besarnya, maka formula di atas bisa disederhanakan menjadi
berikut ini.
P2 = [ (1/5)2 (52) ] + [ 2 (1/5)2 (10 ij ) ]
Formula di atas bisa digeneralisir untuk
portofolio dengan N aset. Risiko portofolio dengan N aset bisa dituliskan sebagai
berikut ini.
P2 = [ (1/N)2 (N i2) ] +
[ 2 (1/N)2 (N(N – 1)/2) ij ) ]
Formula di atas bisa disederhanakan lebih lanjut menjadi berikut ini.
P2 = [ (1/N) i2 ] + [ (N – 1)/N) ij ) ]
Jika N ∞ (semakin besar), maka →
komponen pertama akan mendekati nol, karena nilai 1/N akan mendekati nol.
Tetapi nilai [(N – 1)/N] akan mendekati 1 jika N semakin besar (N ∞ ). →
Dengan kata lain, jika N semakin besar, untuk portofolio dengan aset yang
berkorelasi satu sama lain, risiko portofolio tersebut tidak menjadi nol, tetapi akan
mendekati konstanta tertentu, yaitu rata-
rata kovarians antar saham.
Misalkan portofolio yang terdiri dari aset yang sama
risikonya, korelasi antar aset juga sama, seperti berikut ini:
i = 50, ij = 0,1. Berapa risiko portofolio?
Risiko Total, Risiko Sistematis, dan Risiko Tidak Sistematis
Teori portofolio yang dikembangkan oleh Markowitz (1952, 1959), Sharpe (1963, 1964), Lintner (1965), dan lainnya,
memberikan pandangan baru mengenai karakteristik risiko dan portofolio.
Markowitz mengembangkan model dua
parameter, yaitu rata-rata keuntungan
(mean) dan deviasi standar dari mean
keuntungan tersebut .
Sharpe (1963) mengembangkan model indeks tunggal. Dengan menggunakan model tersebut, Sharpe bisa
mendekomposisi risiko total (yaitu deviasi standar) ke dalam risiko unik perusahaan (risiko yang bisa dihilangkan melalui
diversifikasi, atau disebut juga sebagai risiko tidak sistematis), dan risiko pasar (risiko yang tidak bisa dihilangkan melalui diversifikasi, atau disebut juga risiko
sistematis)
Ilustrasi Risiko Yang Bisa dan Yang Tidak Bisa Didiversifikasikan
Misal kita memegang saham perusahaan Astra.
Kemudian terjadi kebakaran pabrik perusahaan tersebut, yang mengakibatkan penurunan
keuntungan perusahaan tersebut. Risiko sistematis atau tidak sistematis?
Misal kita memegang saham Astra dan Indomobil, kemudian terjadi resesi di Indonesia. Kedua
perusahaan tersebut mengalami kerugian, sehingga
portofolio kita merugi. Risiko sistematis atau tidak
sistematis?
Dekomposisi Risiko Total
σi2= i2 σM2 + σe2 dimana
σi2= Varians atau deviasi standar dikuadratkan dari return aset i
i = Risiko sistematis aset i
σM2 = Varians atau deviasi standar
dikuadratkan dari return pasar (market)
σe2 = Varians error atau risiko tidak
sistematis dari aset i
PERTIMBANGAN LAIN
Konsep diversifikasi murni sesuai dengan
portofolio instrumen keuangan, asuransi, dan sejenisnya
Dalam konteks bisnis, logika diversifikasi
semacam itu tidak bisa sepenuhnya dilakukan, karena ada banyak pertimbangan lain yang
harus diperhitungkan.
Pertimbangan lain diperlukan dalam hal ini.
Pertimbangan penting dalam situasi tersebut
adalah potensi sinergi dari perluasan lini produk.
Skala Ekonomi
Skala ekonomi berangkat dari filosofi “lebih besar, lebih baik”.
Sebagai contoh, jika kita memesan barang dalam jumlah besar, kita akan memperoleh potongan kuantitas, atau harga yang lebih rendah. Jika kita ingin menyewa tenaga profesional, maka volume penjualan perusahaan harus cukup besar untuk bisa memanfaatkan tenaga profesional tersebut.
Jika ukuran perusahaan terlalu kecil, penggunaan tenaga profesional tidak cukup efisien karena
tidak bisa dimanfaatkan dengan penuh.
Tabel 5. Return to Scale untuk Beberapa Sektor Usaha
Sektor Usaha Return to
scale Sektor usaha Return to scale
Furnitur Kimia Printing Makanan, minuman
Plastik, karet Instrumen Kayu
Pakaian Kulit
1,11 1,09 1,08 1,07 1,06 1,04 1,04 1,04 1,04
Stone, clay Logam
Mesin elektrik
Peralatan transport Mesin non elektrik Tekstil
Kertas dan pulp Logam utama Minyak
(petroleum)
1,03 1,03 1,03 1,02 1,02 1,00 0,98 0,96 0,95
Sumber: Moroney, J, Cobb-Douglas Production Functions and Return to Scale in US Manufacturing Industry, Western Economic Journal, December 1967.
Skope Ekonomi
(economies of scope)
Skope ekonomi mengacu pada sinergi yang bisa diperoleh jika perusahaan memproduksi dua produk atau lebih
dengan menggunakan input yang sama.
Secara umum, skope ekonomi akan
diperoleh jika biaya gabungan lebih kecil dibandingkan dengan penjumlahan biaya individual, seperti berikut ini.
AC(1 + 2) < AC(1) + AC(2)
Banyak contoh bagaimana skope ekonomi bisa diperoleh.
Sebagai contoh, banyak perusahaan elektronik
menggunakan merek tunggal untuk banyak produk mereka.
Sony, Panasonic, memproduksi banyak produk elektronik, mulai dari televisi, radio, telepon, CD player.
Dengan satu merek, mereka hanya perlu mengiklankan sekali dengan menonjolkan merek mereka; tidak perlu mengiklankan setiap produknuya. Konsumen diharapkan sudah langsung mengenali merek tersebut, sehingga ketika mereka melihat produk tertentu di toko, mereka sudah
langsung mengenali produk tersebut.
Bandingkan jika mereka mempunyai merek yang berbeda
untuk setiap produknya (TV mempunyai merek sendiri,
telepon mempunyai merek sendiri, dst). Mereka terpaksa
akan mengiklankan produk-produk mereka secara terpisah,
yang akan meningkatkan biaya iklan secara signifikan.
Jika produk yang digabungkan terlalu banyak, ada kemungkinan terjadinya dis-economies of scope. Dalam situasi tersebut gabungan dari beberapa produk akan meningkatkan biaya produksi, lebih tinggi dibandingkan jika
memproduksi produk tersebut secara terpisah, seperti terlihat berikut ini.
AC(1 + 2 + 3) > AC(1) + AC(2) + AC(3)
Dalam situasi tersebut, produk yang dikerjakan
bersama sudah saatnya dikurangi.
Bagaimana skala ekonomi dan skope ekonomi di perbankan? Studi di Amerika Serikat menunjukkan bahwa kurva biaya rata-rata perbanka di AS menunjukkan kurva berbentuk U yang agak mendatar (flat). Bank dengan ukuran medium sekitar $100 juta sampai $5 milyar mempunyai biaya rata-rata paling rendah. Bank yang lebih besar nampaknya lebih tidak efisien. Tetapi ketidak-efisienan tersebut biasanya tidak lebih dari 5% biaya, yang mengindikasikan skala ekonomi biaya tidak begitu
penting. Skope ekonomi di bank nampaknya tidak terlalu signifikan.
Faktor penting dari efisiensi biaya nampaknya X-inefficiency (X artinya faktor yang tidak kelihatan, biasanya faktor manajemen). Secara rata- rata biaya bank sekitar 20% di atas efficient frontier, yang
mengindikasikan bahwa bank mempunyai biaya 20% lebih tinggi
dibandingkan perusahaan lain yang paling baik. Ketidakefisienan tersebut lebih banyak datangnya dari ketidakefisienan operasional, seperti kantor cabang yang menggunakan tenaga kerja yang lebih banyak.
Ketidakefisienan keuangan (membayar tingkat bunga yang berlebih) nampaknya tidak begitu penting.