Badiuzzaman Said Nursi
Said Nursi, itulah nama yang merupakan panggilan akrab dari seorang pejuang dan pemikir islam turki. Said nursi lahir di desa “Nurs”, pegunungan di timur turki (Anatolia) yang berada di Provinsi Bitlis. Ia di lahirkan pada tahun 1873.1 Kata Said adalah nama yang diberikan ayahnya, Kata Nursi dari nama desa kelahirannya, dan kata Badiuzzaman (keajaiban dunia/kekaguman Zaman) merupakan gelar masyarakat yang diberikan kepada Said Nursi.
Ketika Ia berusia 16 tahun, ia sudah di kenal di sekitar wilayahnya.
Bagaimana tidak, ia mengalahkan beberapa ulama terkemuka pada saat itu. Ketika itu Badiuzzaman Said Nursi mengalahkan ulama terkemuka yang telah menjemputnya ke satu majlis perbahasan (ketika itu perbahasannya ialah satu amalan biasa di kalangan ulama). Kemudian, ia terus mengalahkan berbagai kumpulan ulama lain sebanyak beberapa kali dalam majlis perbahasan. Selepas peristiwa ini, ia pun digelar Badiuzzaman (Kekaguman Zaman).
Pengalaman pendidikan yang telah ia tempuh telah membukakan fikirannya untuk memikirkan cara bagaimana menghasilkan sistem pendidikan yang bersepadu. Ketika itu, dunia sedang memasuki satu zaman baru yang membawa angin perubahan. Satu zaman di mana sains dan logic memainkan peranan penting. Ia berpendapat akan pentingnya ilmu agama yang perlu diajar di sekolah-sekolah modern dan sekuler, sebaliknya ilmu sains modern pula perlu diajar di sekolah-sekolah agama. Katanya, “Dengan cara ini, para pelajar di sekolah modern dilindungi dari kekufuran dan para pelajar di sekolah agama akan dilindungi dari sikap taksub”.
Pada tahun 1891, ia bersama seorang temanya menuju sebuah madrasah di Bayezids, merupakan salah satu daerah diturki timur di bawah bimbingan Syeik Muhammad Jalali, disinilah ia mempelajari ilmu-ilmu agama dasar dan disini juga
1 . Sebagian buku lain mengatakan ia lahir pada tahun 1876 (Abdul Latib Talib, Penulis Novel Sejarah No.1 Di Malaysia., BADIUZZAMAN SAID NURSI Pejuang dan Pemikir Islam Turki).
AL – FAUZHAN
Studies
Badiuzzaman mempelajari 80 kitab, diantaranya: Jam’u aljawami’, Syarh al- mawakif, dan Tuhfah.
Seusainya belajar di Turki utsmani, Badiuzzaman berkeinginan membangun sebuah madrasah. Ia pergi ke Istanbul untuk memberikan usulannya ke pemerintah disana agar membangun madrasah Az-Zahrah, pada tahun 1907.
Dalam usaha untuk mewujudkan cita-citanya, ia pergi ke Istanbul. Kali pertama adalah pada tahun 1896 dan kali keduaya adalah pada tahun 1907.
Pada tahun 1896 ia datang ke istanbul mencoba untuk meyakinkan Sultan Abdul Hamid agar membina sebuah university di Anatolia yang mengajar ilmu agama dan ilmu sains secara bersepadu.
Ketika ia hendak berbincang-bincang dengan Sultan Abdul Hamid, Badiuzzaman menggunakan bahasa yang agak kasar sehingga menyebabkan ia dibicarakan di mahkamah tentera. Di mahkamah tenterapun, ia masih menggunakan bahasa yang sama. Lantaran terkejut dengan hal ini, para hakim mahkamah tentera telah menghantarnya ke sebuah hospital sakit jiwa untuk diperiksa. Walau bagaimanapun, doktor yang memeriksanya melaporkan “Jika Badiuzzaman gila, maka tidak akan ada seorang manusia siuman pun di dalam dunia ini”. Dengan demikian, ia pun dibebaskan.
Pada tahun 1907 keinginannya untuk membangun sebuah madrasah tidak sesuai harapan, hal itu tidak tercapai akibat perang dunia 1 dan kondisi di turki utsmani yang pada saat itu tidak stabil.
Pada musim sejuk tahun 1911, Badiuzzaman pergi ke Damsyik untuk menyampaikan khutbah di Masjid Umayyad. Para pendengarnya termasuklah 100 ulama yang terkenal. Dalam ceramahnya, ia berkata bahwa tamaddun yang berada pada Islam akan berdiri tegak di dunia modern ini. Setelah itu, ia pergi ke Istanbul sekali lagi untuk meneruskan usahanya agar sebuah university didirikan di Anatolia Timur. Badiuzzaman merupakan wakil bagi timur Turki yang mengiringi Sultan Muhammad Resyad melawati Rumelia. Ketika di Kosovo Metohija, di mana Sultan berencana untuk membina sebuah university, ia pun berkata,
"Kawasan Timur lebih memerlukan sebuah university kerana ia merupakan pusat Dunia Islam." Ia berhasil meyakinkan Sultan Muhammad Resyad. Kemudian Badiuzzaman pergi ke Van dan meletakkan batu asas university tersebut. Tetapi malangnya, pembinaan university tersebut tidak dapat disiapkan kerana Perang Dunia Pertama meletus.
Badiuzzaman terlibat dalam peperangan tersebut beserta murid- muridnya. Badiuzzaman menjadi pemimpin pasukan sukarelawan di medan perang Kaukasia dan Anatolia Timur. Sampai-sampai pasukannya telah digelar
“Pasukan Topi Bulu”. Pasukan ini telah menggerunkan tentera Rusia dan pengganas Armenia. Di medan perang inilah, ia mampu menghasilkan tafsirnya yang sangat berharga, yakni; “ Isyarat al-i’jazfi mazhan al-i’jaz ” yang di tulisnya di dalam bahasa arab yang ia diktekan kepada seorang muridnya yang bernama Habib. Karyanya ini ditulis ketika ia menunggang kuda di barisan depan dan di dalam kubu-kubu pertahanan
Akan tetapi ia kalah dalam peperangan itu, dan dipenjara selama 2 tahun oleh rusia bersama murid-muridnya. Pada suatu hari, Jendral Nicholas Nicolavich melawati kemah tahanan tersebut dan berjalan di hadapan Badiuzzaman, tetapi ulama itu tidak bangun menghormatinya. Bila ditanya mengapa ia berbuat demikian, Badiuzzaman lantas berkata, “Saya seorang ulama Islam dan di dalam hati saya ada iman. Sesiapa saja yang ada iman di dalam hatinya adalah lebih mulia daripada mereka yang tiada. Saya tidak boleh bertindak bertentangan dengan iman saya.” Akibat dari peristiwa itu ia kemudian dibicarakan di mahkamah tentera dan dijatuhkan hukuman mati. Sebelum hukuman dijalankan, ia telah sempat bersholat di hadapan pasukan penembak. Jendral Nicholas Nicolavich melihat kelakuannya itu dan datang kepadanya untuk meminta maaf.
Jendral itu berkata, ia kini telah sadar bahwa Badiuzzaman bertindak demikian kerena ingin berpegang teguh kepada imannya. Ia pun meminta maaf atas gangguan tersebut.
Pada saat terjadinya revolusi Bolsyevik, ia dan murid-muridnya berhasil melarikan diri pada saat penjagaan di penjara itu menurun, akibat revolusi
Bolsyevik. Setelah itu ia Kembali ke istanbul, di istanbul tanpa disangka-sangka Badiuzzaman di angkat menjadi anggota Darul Hikmah Al-Islamiyah, yang tanpa sepengetahuanya. Dan juga sebagai penghargaan kepadanya (13 agustus 1918 M).
Sampai pada tahun 16 maret 1920 (ketika inggris berhasil menduduki Istanbul), ia berhasil mnyelesaikan bukunya yang berjudul al-khutuwat as-sitta (enam langkah) yang mengkritik serangan inggris.
Tahun 1925, terjadi pemberontakan di Turki Timur yang di pimpin seorang pemimpin Thariqah Naqsabandiyah ke pemerintahan Turki. Perlawanan ini terkait dengan kebijakan-kebijakan pemerintah republik turki yang baru.
Pemberontak itu, meminta dukungan dari Badiuzzaman, karna ia sangat berpengaruh dikalangan rakyat. Akan tetapi badiuzzaman menolak pemberontakan itu, dan iapun berkata:
“Pedang boleh digunakan untuk musuh dari luar, ia bukanlah untuk digunakan di dalam negeri, hentikan usahamu karena ia akan gagal. Ia akan menyebabkan pertumpahan darah sesama muslim dan beribu-ribu orang akan terbunuh lantaran tindakan beberapa orang yang zalim”.
Walaupun Nursi tidak terlibat dalam pemberontakan tersebut, ia diasingkan ke Burdur, Turki barat. Sejak itu, kehidupan Nursi dilewatinya di penjara atau pengasingan selama 24 tahun. Selama periode ini, ia mengarang kitabnya, yaitu Risale-i Nur (Maknawi Al-Qur’an).
Pada tahun 1935, Badiuzzaman bersama 125 orang pelajarnya telah ditahan dan dibicarakan di Mahkamah Jenayah Eskisehir. 2 Mereka menghabiskan selama 11 bulan di dalam penjara Eskisehir yang penuh dengan penderitaan.
Walaupun begitu, mereka masih membawa harapan dari kelegaan dan menyelamatkan orang-orang Islam daripada perasaan cemas dan kecewa.
Badiuzzaman kemudian dipindahkan ke Kastamonu selama 7 tahun. Di sana, ia masih terus menulis dan menyebarkan Risale-i Nur. Oleh sebab
2 . Wan Jaffree bin Wan Sulaiman (SRI ABIM Kedah) Khairul Anuar Mohd. Nayan (Universiti Kebangsaan Malaysia)., RIWAYAT HIDUP RINGKAS BADIUZZAMAN SAID NURSI.
Badiuzzaman dan para pengikutnya tidak diberi kebebasan, mereka telah menubuhkan rangkaian pengirim Risale-i Nur yang dinamakan “Posman Nur”
(Nurju). Hasilnya, Posman Nur telah berjaya menyebarkan sebanyak 600.000 naskah Risale-i Nur ke seluruh Anatolia.
Dalam pandangannya terhadap Risale-i Nur, Badiuzzaman telah memahami sebab yang paling penting dalam keruntuhan dunia Islam sebagai kelemahan dalam asas keimanan. Kelemahan ini bersama serangan-serangan pada asas keimanan pada abad ke 19 dan 20 ini yang dijalankan oleh faham kebendaan, ateis dan lainnya atas nama sains dan kemajuan, menjadikannya insaf bahwa keperluan yang mustahak dan genting adalah untuk menguatkan dan menyelamatkan keimanan. Apa yang diperlukan adalah untuk mengerahkan semua tenaga untuk membangunkan ajaran Islam melalui asas keimanan dan untuk menjawab persoalan-persoalan keimanan ini pada tahap yang diperlukan dengan “Jihad yang Maknawi” atau “Jihad dengan Ayat”.
Pada tahun 1943, ia bersama 126 orang pelajarnya telah ditahan dan dibicarakan di Mahkamah Jenayah di Denizli. Kali ini ia dituduh mencetak secara rahasia satu risalah di Istanbul mengenai kewujudan Tuhan.
Perjuangannya tidak pernah reda selama ada dalam pengasingan maupun di penjara. Badiuzzaman juga telah berjaya menghasilkan karya-karya baru walaupun kertas dan pena tidak dibolehkan masuk ke dalam penjara. Jadi, karyanya ditulis atas cebisan-cebisan kertas yang dikoyak dari kampit-kampit kertas. Karyanya kemudian diseludupkan keluar di dalam kotak-kotak mancis.
Karyanya yang berjudul “Buah-buah Iman” telah ditulis dengan cara ini.
Ia meninggal pada umur 85 tahun, 23 maret 1960/25 Ramadhan 1379 di urfa (perjuangan beliau yang tak kenal menyerah). Setelah 3 bulan kemudian, makam Badiuzzaman Said Nursi dibongkar oleh junta militer yang baru mengkudeta pemerintahan Adnan Menderes (yang banyak memberi kebebasan pada Badiuzzaman namun tidak berdaya menghadapi serangan kelompok sekuler) dan dimakamkan kembali di tempat yang tidak diketahui hingga saat kini.
Semarang, 2013