TEORI SOSIOLOGI PEMBANGUNAN
Dr. LODEWIJK L. WANGGAI,SE,M.MT
PROGRAM DOKTOR ILMU SOSIAL
UNCEN
Hand outSoejono Soekanto, mengatakan bahwa Ilmu atau Pengetahuan Sosiologi sangat bermanfaat untuk kehidupan sehari- hari.
Misalnya; Untuk memberikan data-data sosial yang diperlukan pada tahap;
Perencanaan, hasil Penelitian Sosiologi
dapat digunakan sebagai bahan pada
tahap evaluasi.
Soerjono Soekanto (2004: 412-413), mengatakan bahwa manfaat Sosiologi bagi pembangunan dapat diidentifikasikan beberapa tahap :
1)Tahap Perencanaan
Sebelum pembangunan dilaksanakan, pemerintah menyerap aspirasi masyarakat yang menghendaki peningkatan taraf hidup menjadi lebih baik. Selain menyerap aspirasi tersebut, pemerintah juga harus memiliki visi jauh ke depan untuk memajukan masyarakat.
Rencana yang baik harus didasari dengan data dan fakta sosial, yaitu meliputi : Pola Interaksi sosial, Kelompok sosial, Kebudayaan, Lembaga-lembaga sosial dan Stratifikasi sosial.
2)Tahap Pelaksanaan
Soejono Soekanto (2004:408-409), mengatakan bahwa pelaksanaan pembangunan dapat dilakukan dengan 3 (tiga) cara, antara lain :
a. Secara struktural, yaitu membangun lembaga-lembaga dalam masyarakat. Lembaga-lembaga inilah yang berfungsi melayani kebutuhan masyarakat.
b. Secara spiritual, yaitu membangun watak dan kepribadian melalui pendidikan. Watak yang dibangun didasari oleh kemampuan berpikir logis dalam menghadapi kenyataan sosial.
c. Gabungan 2 (dua) cara sebelumnya (struktur dan spiritual).
Lanjutan
Lanjutan
3) Tahap Evaluasi
Untuk mengetahui apakah suatu proses pembangunan telah berhasil atau belum, dilakukan evaluasi. Sosiolog harus menganalsis perubahan sosial yang terjadi sebagai hasil pembangunan, dengan mengidentifikasi aspek-aspek yang kurang, macet, mundur, dan merosot dan keberhasilan- keberhasilan pembangunan.
Ada 3 (tiga) indikator keberhasilan usaha pembangunan masyarakat, yaitu : Produktivitas, efisiensi dan partisipasi masyarakat.
Misalnya; produktivitas masyarakat meningkat, harus disertai dengan efisiensi dapat dicapai dengan meningkatkan pengusaan teknologi dan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia.
Webster menyebutkan ada 5 (lima) dimensi dalam Sosiologi Pembangunan, antara lain :
1. Posisi negara miskin dalam hubungan sosial dan ekonominya dengan negara-negara lain;
2. Ciri khas atau karakter dari suatu masyarakat yang memengaruhi pembangunan;
3. Hubungan antara proses budaya dan ekonomi yang memengaruhi pembangunan;
4. Aspek sejarah dalam proses pembangunan atau perubahan sosial yang terjadi;
5. Penerapan berbagai teori perubahan sosial yang
memengaruhi kebijakan pembangunan nasional pada
negara-negara berkembang.
Pengertian Sosiologi Pembangunan
Serangkaian teknik dasar yang dilakukan pemerintah kepada masyarakat untuk memberikan dampak dalam pengentaskan masalah sosialnya, adapun upaya ini dilakukan karena program-program yang keluarkan oleh pemerintah tidak bisa serta merta sesuai keinginannya akan tetapi harus melibatkan kebutuhan dalam masyarakat.
1. Soerjono Soekanto, berpendapat bahwa Konsep suksesi dalam mensehjaterakan masyarakat dan berguna bagi masyarakat pedesaan maupun masyarakat perkotaan.
2. Max Weber, berpendapat bahwa suatu kajian sosial yang memberikan dampak yang positif mengenai lahirnya metode baru dalam membangun masyarakat dan lingkungannya.
3. Rogers, berpendapat bahwa suatu kajian yang membahas mengenai perubahan sosial dengan partisipasi yang luas dari masyarakat yang bertujuan untuk mencapai kemajuan material maupun sosial.
4. Siagian, berpendapat bahwa suatu gagasan mengenai usaha pertumbuhan dan perubahan yang telah direncanakan oleh suatu negara menuju modernitas dalam rangka pembangunan negara.
7
Makna Pembangunan
Moelijarto, Tjokrowinoto, 2004:23) mengatakan bahwa pembangunan, adalah Upaya memajukan atau memperbaiki serta meningkatkan nilai sesuatu yang sudah ada.
Pembangunan juga berarti seperangkat
usaha manusia untuk mengarahkan perubahan
sosial dan kebudayaan sesuai dengan tujuan
dari kehidupan berbangsa dan bernegara, yaitu
mencapai pertumbuhan peradaban kehidupan
sosial dan kebudayaan atas dasar target-target
yang telah ditetapkan.
Gerakan Sosial (social movement) pada Masyarakat Kontemporer Gerakan yang muncul dari sebuah masyarakat/komunitas yang semakin maju, heterogen dan modern maupun terbuka ruang yang lebih bebas,
Misalnya, Gerakan yang dilakukan oleh sekelompok buruh dengan tujuan untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan dikalangan kaum pekerja dengan cara mengubah kebijakan pemerintah yang tentu, saja kebijakan lebih memperhatikan nasib kaum buruh serta pekerja lainnya.
a. Memahami Gerakan Sosial
Pertama
Menurut; Locer,2000
Terorganisir. Dalam hal ini, Perilaku yang ditampilkan para pendukung gerakan sosial berpedoman pada cara tertentu yang diorganisir oleh seorang pemimpin,melalui adanya tugas yang dilimpahkan pada anggotanya.
Kedua
Membutuhkan Jangka Waktu Yang Lama.
Sebuah gerakan sosial yang dapat bertahan dalam rentang waktu relatif lama sesuai dengan tujuan gerakan sosial itu.
Ketiga
Sengaja dibentuk.
Keberadan suatu gerakan sosial memang sengaja dibentuk oleh anggotanya dan setiap anggota gerakan itu akan memainkan peran sesuai dengan tugas masing-masing.
Menurut, Smelser
Pertam a
Kondisi Struktural. Dalam arti struktur masyarakat yang memberi ruang lebih terbuka dan longgar bagi munculnya perilaku kolektif
Kedua
Adanya Tekanan Struktur. Dalam arti adanya fenomena Nasional ini muncul manakala individu dalam masyarakat dihadapkan pada satu masalah yang sangat penting dan kemudian mereka secara bersama mencari solusi untuk mengatasi masalah tersebut.
Ketiga
Keyakinan Umum (generalized Beliefs). Artinya muncul ketika timbul keyakinan bersama dikalangan warga masyarakat, akan sesuatu yang menjadi sumber masalah lalu dicarikan solusi.
Lanjutan
Keempat
Faktor Pemicu (pendorong).
Suatu gerakan akan muncul kepermukaan manakala sebelumnya didahului oleh beragam faktor pemicu. Misalnya, Adanya muncul rumor (Isu) yang berisi informasi yang dinilai amat berlebihan sehingga dapat membangkitkan emosi.
Kelima
Aksi Mobilisasi.
Biasanya perilaku kolektif muncul karena tampilnya seorang tokoh (pemimpin) yang dianggap mampu merumuskan kepentingan dan keinginan masyarakat untuk melakukan suatu kegiatan berupa perilaku kolektif maupun gerakan sosial.
Keenam
Operation of social control.
Suatu kegiatan yang dikelompokan dalam tipe perilaku kolektif yang menciptakan situasi kondusif, tertib dan terkendali, maka dibutukan ; aparat penegak hukum, pejabat pemerintah, tokoh masyarakat dan media lainnya.
b. Tipe Gerakan Sosial
1.
Gerakan Ekspresif. Dalam masyarakat yang sudah maju dan modern, individu acapkali ingin mengungkapkan (mengeksperesikan) berbagai keinginannya untuk mendapat perhatian dan simpati publik. Misalnya
Menciptakan model/gaya berpakaian maupun penampilan dianggap unik oleh orang lain;
Break Dance, dikalangan kaum remaja di era 1980-an.
1.
Menurut, Cohen (1983)
2.
Gerakan regresif. Adapun tipe gerakan sosial ini sengaja dilakukan oleh sekelompok orang dengan tujuan untuk mengembalikan apa yang ada sekarang ke keadaan sebelumnya atau gerakan sosial yang merasa kecewa serta frustasi melihat keadaan sosial sekarang ini. Contohnya;
Gerakan yang dilakukan dikalangan kelompok “Ku Klux Klan” yang menginginkan agar supaya hak sipil dan kebebasan kaum orang kulit hitam (Black American) ditempatkan pada status sosial yang lebih rendah.
Lanjutan
3.
Gerakan Progresif. Pada dasanya gerakan ini bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup serta kesejahteraan kelompok tertentu dalam masyarakat. Misalnya;
Gerakan Sosial ini, dilakukan dikalangan Serikat Pekerja dalam bentuk unjuk rasa dan protes menuntut kenaikan Upah bagi kaum buruh/pekerja.
4.
Gerakan Reformis. Tipe gerakan ini lebih berorientasi pada terciptanya perubahan dan pembaharuan aspek tertentu dalam masyarakat. Contohnya;
Bulan Mei 1998 , para mahasiswa melakukan Gerakan Sosial dari berbagai Universitas di Indonesia, Menuntut perubahan dan pembaruan , khussunya, praktek KKN.
Pada Tahun 1980-an, ada Gerakan Sosial masyarakat yang dilakukan pembaruhaan dan perubahan berdampak runtuhnya Uni Soviet dan terpecah kedalam beberapa Negara Merdeka,Otonomi dan berdaulat.
Lanjutan
5.
Gerakan Revolusioner. Gerakan reformasi, yang hanya menuntut dilakukannya perubahan terhadap aspek tertentu dalam masyarakat, yang dilakukan perubahan bersifat total dan radikal terhadap seluruh aspek kehidupan manusia dan tatanan sosial.
6.
Gerakan Utopian. Dalam gerakan sosial ini, dilakukan oleh sekelompok orang dengan tujuan untuk membentuk suatu lingkungan yang dianggap ideal dan naik bagi mereka. Contohnya; gerakan yang dilakukan dikalangan kaum separatis yang ingin membentuk suatu Negara baru dengan cara memisahkan diri dari suatu Negara.
Lanjutan
7.
Gerakan Migrasi. Gerakan ini merasa tidak begitu puas dengan kondisi kehidupan ekonomi mereka yang sekarang, lalu mereka pindah ke suatu wilayah lain, dengan harapan dapat memperoleh kehidupan sosial- ekonomi jauh lebih baik.
Faktor Pendorong Pindah;
Sempitnya Lapangan Kerja;
Rendahnya gaji ;
Kurangnya Fasilitas pendidikan & kesehatan;
Minimnya sarana hiburan serta faktor lainnya.
Faktor Penarik ;
Tersedianya Lapangan Kerja dengan Upah relatif tinggi;
Terdapat sarana pendidikan & kesehatan;
Tersedianya sarana hiburan serta faktor lainnya.
Gerakan Sosial di lihat dari Prosesnya
Incipient Stage. Ketika muncul kegelisahan diantara individu maka, lambat laun mereka mengalami keresahan ini, saling berbagai informasi dengan melalui komunikasi yang sifat efektif.
1.
2.
Organizational Stage.
Tahap ini, peran seorang
pemimpin semakin diperkuat kemudian seluruh
agenda rencana kegiatan yang mencakup rencana
aksi yang dilakukan
I. Konflik Sosial dan Resolusi
Definisi Konflik;
1. Suatu kondisi yang menunjukkan adanya pertentangan antara dua pihak atau lebih yang saling berbeda pandangan/kepentingan;
2. Suatu bentuk perjuangan untuk memperoleh hal-hal yang langka.
Seperti; nilai, status, kekuasaan dan otoritas dll.
Sumber Konflik :
Adanya perubahan sosial;
Perbedaan kewenangan (otoritas);
Perbedaan kepentingan; dan
Perbedaan Kultural
Manfaat Analisis Konflik;
a. Memahami latar belakang dan atau sejarah suatu kondisi maupun peristiwa- peristiwa pada saat ini;
b. Mengidentifikasi kelompok-kelompok yang terlibat secara menyeluruh;
c. Memahami pandangan seluruh kelompok, serta lebih mengetahui tingkat hubungannya satu terhadap yang lain;
d. Mengidentifikasi faktor-faktor dan kecenderungan-kecenderungan yang mendasari terjadinya konflik;
e. Memmpelajari dari berbagai kegagalan maupun kesuksesan dalam menghadapi konflik.
II. Hakekat Konflik
Secara sosiologis, konflik diartikan, sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok), dimana salah satu berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannnya atau membuatnya agar tidak berdaya.
Menurut, Chris Mitchell,
Konflik adalah hubungan antara dua pihak atau lebih (individu atan kelompok) yang memiliki atau merasa memiliki sasaran-sasaran yang tidak sejalan.
Meliputi : tindakan, perkataan, sikap.
Berbagai struktur atau sistem yang menyebabkan kerusakan secara fisik, mental, sosial atau lingkungan dan atau menghalangi seseorang untuk meraih potensinya secara penuh,
III. Penyebab Konflik dari berbagai Teori
a. Teori Hubungan Masyarakat.
Bahwa suatu konflik disebabkan oleh polarisasi yang terus terjadi, ketidakpercayaan dan permusuhan di antara kelompok yang berbeda dalam suatu masyarakat atau organisasi.
1. Meningkatkan komunikasi dan saling pergertian antara kelompok- kelompok yang mengalami konflik, 2. Mengusahakan toleransi dan agar
masyarakat lebih bisa saling menerima keragaman yang ada di dalamnya.
b. Teori Negosiasi
Bahwa suatu konflik disebabkan oleh berbagai posisi yang tidak selaras dan perbedaan pandangan tentang konflik oleh para pihak yang terlibat konflik.
1. Membantu pihak-pihak yang mengalami konflik untuk memisahkan perasaan pribadi dengan berbagai masalah dan isu, dan memampukan mereka untuk melakukan negosiasi berdasarkan kepentingan- kepentingan mereka daripada posisi yang sudah tetap.
2. Melancarkan proses pencapaian kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak.
Lanjutan
c. Teori Kebutuhan Manusia
Menurut A. Maslow: Suatu konflik yang terjadi dalam masyarakat atau organisasi disebabkan oleh adanya kebutuhan manusia yang tidak terpenuhi kebituhan dasar, seperti : rasa aman,, sosial, penghargaan, maupun aktualisasi diri sebagai individu, memahami teori ini diharapkan:
1. Membantu para pihak yang terlibat konflik untuk mengidentifikasi masalah dan mengupayakan bersama kebutuhan mereka yang tidak terpenuhi, dan menghasilkan pilihan-pilihan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan.
2. Membantu para pihak yang terlibat konflik menyadari dan mencapai kesepakatan untuk memenuhi kebutuhan dasar secara bersama-sama
d. Teori Identitas
Suatu konflik disebabkan adanya ancaman terhadap identitas masyarakat atau organisasi, yang sering berakar pada hilangnya sesuatu prinsip/idealisme atau penderitaan di masa lalu yang tidak diselesaikan.
1. Melalui fisilitas dialog antara para pihak yang terlibat konflik diharapkan dapat mengindentifikasi ancaman- ancaman dan ketakutan yang mereka rasakan masing- masing dan untuk membangun empati serta rekonsiliasi di antara mereka.
2. Meraih kesepakatan bersama dan mengakui kebutuhan identitas pokok semua pihak.
e. Teori Kesalahpahaman Antar Budaya
Suatu konflik disebabkan oleh adanya ketidak-cocokan dalam cara-cara berkomunikasi diantara berbagai budaya yang beragam, memahami teori ini;
1. Menanbah pengetahuan mengenai keragaman budaya yang ada;
2. Mengurangi stereotip negatif yang mereka miliki tentang budaya-budaya lain.
3. Meningkatkan efektifitas komunikasi antar budaya.
f. Teori Transformasi Konflik
Suatu konflik disebabkan oleh berbagai masalah ketidak-setaraan dan ketidakadilan yang muncul sebagai persoalan-persoalan ekonomi, sosial dan budaya dalam masyarakat ataupun organisasi, memahami teori ini;
1. Mengubah berbagai struktur dan kerangka kerja yang menyebabkan ketidaksetaraan dan ketidakadilan, termasuk kesenjangan ekonomi;
2. Meningkatkan jalinan hubungan dan sikap jangka panjang di antar pihak-pihak yang mengalami konflik;
3. Mengembangkan berbagai proses dan sistem untuk mempromosikan
pemberdayaan, keadilan,
perdamaian,pengampunan, rekonsilasi dan pengakuan.
Ruang Lingkup Sosiologi Pembangunan
1. Meneliti Faktor-faktor yang menyebabkan dan mempercepat proses pembangunan serta dampak yang akan ditimbulkannya.
Sejumlahnya faktor yang mempengaruhi proses pembangunan itu adalah ilmu pengetahuan, ideologi, media massa, dan akulturasi. Sedangkan dampak negatif pembangunan adalah alienasi, meningkatnya kriminalitas, prostitusi, dan angka perceraian yang meningkat;
2. Mengidentifikasi unsur-unsur sosial budaya masyarakat (termasuk kelompok-kelompok tertentu dalam masyarakat) yang dapat mempengaruhi (memdorong dan memperlambat) proses pembangunan.
3. Mengidentifikasi agen of change masyarakat dalam proses pembangunan termasuk ke dalam agen of change ini misalnya, orang terdidik, eksekutif, militer, para guru, dan kelompok pemuda;
27
Lanjutan
4) Meneliti proses pembangunan (mulai dari perencanaan sampai pelaksanaanya), tingkat partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan, sebaran manfaat pembangunan bagi masyarakat dan distorsi-distorsi (penyimpangan-penyimpangan yang terjadi);
5) Meneliti keseiringan tujuan pembangunan dan realitas kualitas kehidupan masyarakat, termasuk misalnya terjadinya polarisasi, marjinalisasi, alienasi, dan distorsi dalam proses pembangunan;
6) Meneliti tentang bagaimana komunikasi pembangunan dilakukan. Pembangunan sebagai suatu Inovasi (baru) bagi masyarakat dan bagaimana inovasi pembangunan menyebar dan tersebar (difusi) ke masyarakat;
28
Lanjutan
7) Meneliti tentang tingkat penerimaan dan penolakan masyarakat terhadap pembangunan dan beberapa faktor sosiologis yang mendasari penerimaan dan penolakan.
8) Meneliti faktor lokal (internal masyarakat) dan faktor eksternal yang dapat mempengaruhi proses pembangunan.
29
1) Pembangunan bidang ekonomi adalah
Proses upaya yang dilakukan secara sadar untuk kenaikan pendapatan total dan pendapatan per kapita dengan memperhitungkan pertambahan penduduk dan disertai dengan perubahan fundamental dalam struktur ekonomi suatu bangsa atau negara.
Perbedaan antara keduanya adalah sebagai berikut ;
Pertumbuhan ekonomi keberhasilan lebih bersifat kuantitatif, yaitu adanya kenaikan dalam standar pendapatan dan tingkat output yang dihasilkan.
Adapun pembangunan ekonomi lebih bersifat kualitatif, bukan hanya pertambahan nilai produksi, melainkan juga terdapat perubahan dalam struktur produksi yang digunakan.
Ruang Lingkup Pembangunan
Beberapa faktor yang memengaruhi pertumbuhan dan pembangunan ekonomi, antara lain :
a) Sumber Daya Alam ; bersumber dari alam, kekayaan alam, kesuburan tanah, kondisi iklim, atau cuaca, potensi hutan, potensi hutan, potensi tambang, potensi laut dan sebagainya.
Terutama ketersedian bahan baku produksi sehingga proses pengolahannya senantiasa berkelanjutan dalam rangka menciptakan kesejahteraan masyarakat.
b) Sumber Daya Manusia; salah satu faktor utama dalam menentukan keberhasilan pertumbuhan dan ekonomi suatu negara adalah melalui jumlah dan kualitas penduduk atau manusia.
c) Sumber Daya Modal; Merupakan faktor penunjang dalam rangka pertumbuhan dan pembangunan ekonomi. Sumber Daya Modal sangat dibutuhkan suatu bangsa, negara, pemerintahan, untuk mengolah bahan mentah menjadi bahan jadi yang dapat dimanfaatkan langsung oleh masyarakat.
d)Lapangan Kerja; Ketersedian lapangan kerja
bagi pencari kerja akan berpengaruh positif
terhadap pertumbuhan dan pembangunan
ekonomi bagi negara
.e) Keahlian atau kewirausahaan, masalah pertumbuhan dan pembangunan ekonomi dapat tercapai apabila masyarakat memiliki keahlian pada bidang tertentu dan memiliki jiwa kewirausahaan.
f) Kestabilan politik, hal ini disebabkan kestabilan politik
merupakan modal dasar untuk melakukan berbagai
aktivitas untuk mengembangkan kehidupan ekonomi
masyarakat dalam sebuah negara atau bangsa.
Kebijakan Pemerintah, hal ini disebabkan
kebijakan pemerintah yang tidak mendukung
aktivitas di bidang ekonomi sudah pasti
mengalami kemerosotan pertumbuhan dan
pembangunan di bidang ekonomi. Sebaliknya,
apabila kebijakan pemerintah itu mendukung
aktivitas ekonomi, pertumbuhan dan
pembangunan akan dapat berlangsung dengan
baik.
2) Pembangunan di Bidang Politik
Pertama, kekuasan yang dilakukan oleh kaum politisi bahwa untuk menetapkan suatu kebijakan dalam pelaksanakan dari berbagai jenis pembangunan lebih banyak diwarnai oleh kemauan atau kekuasaan politik.
Kedua, kekuatan yang tercipta atas ketentuan dalam pelaksanaan pembangunan yang dilakukan oleh kaum birokrasi yang mengatasnamakan publik untuk memenuhi kesejahteraan masyarakat, tetapi sesungguhnya lebih berorientasi pada memenuhi desakan atau tuntutan kebutuhan ataupun keinginannya sendiri.
3) Pembangunan di Bidang Sosial
Pembangunan Sosial; merupakan salah satu bentuk pendekatan pembangunan secara nasional yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan kesejahteraan kehidupan manusia yang dilandasi adanya rasa keadilan, kedamaian, dan terwujudnya kesejahteraan, yang memenuhi kebutuhan fisik, kebutuhan rohani, dan kebutuhan sosial.
4) Pembangunan di bidang Pendidikan
Menciptakan kemampuan dan kecerdasan manusia. Oleh karena itu, siapa pun yang berperan sebagai penyelenggara pelaksanaan pembangunan di bidang pendidikan harus mempunyai semangat kerja keras dan berdedikasi tinggi dalam semangat pengabdian kepada bangsa dan negara.
5) Pembangunan di bidang Keagamaan
Proses yang dilakukan terus-menerus dan dilandasi pemikiran rasional dan keyakinan secara transendental, untuk menghindari peningkatan terhadap kebenaran keagamaan, terutama bagi pemula terhadap pendalam ajaran agamanya masing-masing.
6) Pembangunan di bidang Lingkungan
Pelaksanaan pembangunan lingkungan dapat dilakukan dengan cara menyerasikan aktivitas manusia dengan kemampuan sumber daya alam yang tersedia dengan tidak menciptakan adanya perusakan kondisi alam lingkungan, baik secara geografis maupun demografis.
Kunci utama keberhasilan pembangunan lingkungan hidup adalah Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), yang dasar hukumnya telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 tahun 1992 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Agus Suryono (2004:81-83), mengatakan bahwa ada 4 (empat) paradigma pembangunan antara lain :
Pertama, paradigma pertumbuhan (growth paradigm). Konsep ini merupakan asas pemikiran yang memperjuangkan terjadinya peningkatan pendapatan negara untuk mengejar ketertinggalan.
Sasaran utama dari paradigma ini adalah menciptakan kondisi masyarakat dan negara yang lebih baik.
Kedua, paradigma pembangunan pertumbuhan dan pemerataan (growth and equity strategy development). Strategi ini lebih diorientasikan pada pengelolaan dan investasi sumber daya manusia dan pembangunan sosial dalam proses pembangunan. Akan tetapi, strategi pertumbuhan dan pemerataan ini masih menciptakan ketergantungan suatu negara.
Ketiga, Paradigma pembangunan berkelanjutan menawarkan konsep pembangunan yang bersifat ramah lingkungan, yaitu pada dasarnya pembangunan hendaknya memerhatikan masalah sumber daya yang bersifat renewable/nonrenewable. Dengan demikian, pemamfaatan segenap pontensi dan studi pembangunan akan disertai kebijakan pemeliharaan dan pemulihannya.
Keempat, paradigma human development, yaitu pendekatan pembangunan yang memerhatikan lingkungan dan pembangunan berwajah manusia. Pembangunan berpihak kepada rakyat, bukan elite penguasa. Penempatan manusia sebagai subjek pembangunan menekankan pada pentingnya pemberdayaan manusia, yaitu kemampuan manusia untuk mengaktualisasikan segala potensinya secara maksimal.
Teori Pembangunan dalam Ilmu Sosial dibagi dalam 2 (dua) Paradigma :
Modernisasi
Ketergantungan/dependen
1) Paradigma Modernisasi mencakup; Teori-teori Makro tentang Pertumbuhan ekonomi dan perubahan sosial, dan teori-teori Mikro tentang Nilai-nilai individu yang menunjang proses perubahan.
2) Paradigma Ketergantungan mencakup; Teori-teori
keterbelakangan (under development),
ketergantungan (dependent development), dan
sistem dunia (world system theory).
TEORI MODERNISASI
Deddy T. Tikson, mengatakan bahwa Teori pembangunan dalam ilmu sosial dibagi ke dalam 2 (dua) paradigma besar;
Modernisasi
Ketergantungan
Paradigma modernisasi mencakup teori-teori makro tentang pertumbuhan ekonomi dan perubahan sosial, dan teori-teori mikro tentang nilai-nilai individu yang menunjang proses perubahan.
Paradigma ketergantungan mencakup teori-teori keterbelakangan (under development), dan sistem dunia (world system theory).
Makna Teori Modernisasi
Dalam kajian pembangunan, teori modernisasi merupakan teori yang paling dominan menentukan wajah pembangunan. Ada dua teori besar yang memengaruhi teori modernisasi , yaitu teori evolusi dan teori fungsional.
Asumsi teori modernisasi merupakan hasil dari konsep metafora teori evolusi, yang perubahan sosial bersifat linear, terus maju dan perlahan, yang membawa masyarakat berubah dari tahapan primitif menuju tahapan yang lebih maju.
Daniel Lenner (1958), mengatakan bahwa aspek dasar modernisasi adalah urbanisasi, indusrialisasi, sekularisasi, demokratisasi, pendidikan, dan peran serta media massa yang semuanya berlangsung dalam keterkaitan utuh, tidak terpisah, dan tidak serampangan , sehingga weber menyebut bahwa modernisasi sebagai proyek negara besar (Amerika) pada dunia ketiga.
Ada 3 (tiga) asumsi pokok teori modernisasi;
1. Kondisi kemajuan, rasionalitas, dan efisiensi produksi, seperti yang masyarakat industri maju.
2. Percaya bahwa faktor penyebab keterbelakangan adalah faktor nonmaterial, terutama dunia ide dan alam pikiran.
3. Bersifat universal sehingga perubahan sosial yang linier akan tercapai jika masyarakat tradisional membangun dengan cara yang sama dengan masyarakat modern.
Teori Harrod-Domar: Tabungan dan Investasi
Harrod – Domar, mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi ditentukan oleh tingginya tabungan dan investasi. Jika tabungan dan investasi rendah, pertumbuhan ekonomi masyarakat atau negara tersebut juga rendah.
Asumsi yang melandasi teori ini bahwa masalah pembangunn pada dasarnya adalah masa investasi modal. Jika investasi modal berkembang baik, pembangunan ekonomi negara tersebut juga akan berkembang baik. Salah satu implikasi dalam pembangunan di Indonesia, pemerintah mndorong penanaman investasi dan membuat investasi tumbuh subur di indonesia.
Roy Harrod dan Evsey Domar berpendapat bahwa :
Dalam gejala modernisasi pola perekonomian dalam perkembangan global harus ditingkat dengan cara invetasi.
Adapun bentuk-bentuk investasi akhirnya mampu meningkatkan pendapat sekaligus memberikan pekerjaan bagi masyarakat.
Contoh : Adanya pembangunan tol masa sekarang, setidaknya menjadi bukti modernisasi transportasi. Menjadi lebih cepat dan menghindari kemacetan dari keramaian kota, disisi lain perlu dipahami bahwa dalam pembangunan tol tersebut investasi dari para pemodal yang memiliki jumlah kekayaan demikian dampak modernisasi.
45
Max Weber: Etika Protestan
Max Weber, mengatakan bahwa dalam penelitian ada 2 (dua) fokus utama;
Agama yang memengaruhi pandangan hidup manusia.
Perubahan sosial ekonomi yang memengaruhi agama.
Dari sudut pandang tertentu jauh lebih mementingkan pengaruh agama dan perannya terhadap etika ekonomi.
Salah satu alasan, utama perbedaan antara budaya barat dan timur.
Ia mengaitkan efek pemikiran agama dalam kegiatan ekonomi, hubungan antara stratifikasi sosial dan pemikiran agama serta pembedaan karakteristik budaya barat dan timur berkembang dengan jalur yang berbeda.
Max Weber, berpendapat bahwa :
Ciri khas modernisasi dalam teorinya menjadi bagian dari pada etika protestan yang memberi penekanan dalam nilai budaya dan peran agama dalam pembentukan kapitalisme yang dilakukan oleh masyarakat, khususnya masyarakat beragama protestan.
Contoh teori modernisasi :
Berkaitan dengan agama maupun kekayaan yang berbeda antara pemeluk agama prostetan dengan memiliki semangat tinggi dalam mencari jumlah harta benda.
Alasannya karena berdasarkan penelitian sosial yang dilakukan menyebutkan bahwa keberhasilan kerja di dunia akan menentukan sseseorang masuk surga/neraka. Sehingga kepercayaan tersebut kemudian pemeluk agama protestan bekerja keras guna menghilangkan kecemasan.
47
Talcott Parsons, berpendapat bahwa :
Teori modernisasi memberikan indikasi keterkaitan antara pentingnya penerapan arti westernisasi dalam upaya mendongkrak karakteteristik negara berkembang untuk mengikuti pola pembangunan yang dilakukan oleh negara di Eropa Barat.
Contoh : adanya pemakaian traktor dalam bidang pertanian yang dilakukan negara maju sejatinya memudahkan para petani dalam menyelesaikan proses pembajakan sawah. Karena di zaman dahulu sawah dibajak dengan menggunakan bantuan tenaga sapi.
48
David McClelland, berpendapat bahwa :
Modernisasi akan mendorong setiap individu untuk mempercepat proses pembangunan dengan memberikan pedoman untuk masyarakat agar menjadi wiraswasta.
Contoh : Keinginan seseorang dari negara berkembang dalam bekerja di lembaga sosial tertentu dalam negara maju. Kebiasaan sekaligus konsep kerjanya dianggap mengandalkan kreatifitas.
49
Huttington, berpendapat bahwa :
Teori modernisasi lebih bersifat revolusioner, sebagai bentuk pendorong perubahan sosial yang cepat. Kehidupan modern tidak bisa dihindari setiap manusia dan mempengaruhi pada kehidupan masyarakat global. Oleh karena itulah pada kajian tentang teori ini lebih mengutamakan tentang pembangunan, ekonomi, dan globalisasi.
Contoh : analisis dalam teori ini, misalnya adanya pola gaya hidup masyarakat sekarang jauh mementingkan tren, sehingga tidak memiliki prioritas utama untuk memenuhi arti kebutuhannya terlebih dahulu. Sehingga hal ini kerapkali memiliki pengaruh besar dalam kehidupan.
50
Teori dependensi/ teori ketergantungan Pengertian teori ketergantungan :
keterbelakangan pertumbuhan ekonomi yang dialami oleh negara- negara dunia ketiga, dengan negara-negara industri, karena faktor
“ketergantungan atau keikutsertaannya sistem integrasi ekonomi kapitalisme global.
Theotonio Dos Santos, berpendapat bahwa : ketidakseimbangan hubungan antara negara maju dan negara berkembang dalam pembangunan perekonomian, yang kemudian memunculkan suatu ketergantungan di antara negara-negara tersebut.
51
Theotonio Dos Santos, berpendapat bahwa 3 macam teori yaitu : 1)Teori ketergantungan kolonial.
2)Teori ketergantungan finansial-industrial.
3)Teori ketergantungan teknologi-industrial.
Dependensi (ketergantungan) adalah keadaan yang menunjukkan kehidupan dalam bidang ekonomi di negara- negara tertentu, yang dipengaruhi oleh perkembangan dan perluasan di sektor perekonomian negara-negara lain, dimana negara-negara tertentu ini hanya berperan sebagai yang merasa dampak.
Secara mendasar, teori ketergantungan merupakan teori yang berorientasi pada pendekatan struktural. Sehingga teori ketergantungan ini dapat diklasifikasikan ke dalam jenis teori struktural. Perspektif dari teori struktural adalah adanya pandangan terhadap kemiskinan yang terjadi pada negara- negara dalam lingkup Negara Dunia Ketiga.
52
53
Frank, mengatakan bahwa ada 5 (lima) pendekatan teori depandensi ;
1) Kesenjangan pembangunan antara negara sentral dan pinggiran.
2) Kemampuan negara dalam pembangunan ekonomi, terutama pembangunan industri kapitalis meningkat pada saat ikatan terhadap negara sentral melemah.
3) Negara yang terbelakang dan terlihat feodal saat ini merupakan negara yang memiliki kedekatan ikatan dengan pada masa lalu.
4) Perkebunan yang dirintis oleh negara sentral merupakan cikal bakal munculnya industri kapitalis yang sangat besar yang berdampak pada eksplotasi lahan, sumber daya alam, dan tenaga kerja negara satelit.
5) Eksploitasi yang menjadi ciri khas kapitalisme menyababkan menurunnya kemampuan berproduksi pertanian di negara terbelakang menjadi hilang dan diganti menjadi pertanian yang kapitalis.
Andre Gunder Frank, berpendapat bahwa :
Proses terbentuk keterbelakangan bukanlah merupakan kondisi alamiah dari kehidupan masyarakat, maupun kondisi masyarakat yang kekurangan modal dalam perekonomian. Keterbelakangan secara mendasar terkonstruksi oleh proses ekonomi, politik, dan sosial yang terjadi secara terus-menerus akibat aspek globalisasi dari sistem kapitalisme.
Teori Frank, mengembangkan konsep prebisch yang berisikan perspektif tentang negara satelit dan metropolis, yang tidak hanya berfokus pada aspek persoalan ekonomi, misalnya adanya ketimpangan nilai tukar, melainkan dengan berfokus tentang aspek politik dari hubungan ketergantungan, yakni hubungan politik dan ekonomi yang saling berkaitan, antara modal asing dengan elite
politik yang berkuasa 54
Teori pembangunan kontemporer
Teori Sistem Dunia
Teori ini merupakan kritik teori dependensi yang bisa menjelaskan gejala pembangunan di negara dunia ketiga.
Dalam teori dependensi yang dijelaskan hanya gejala terjadinya keterbelakangan .
55
Teori dependensi dan sistem dunia
Berupaya menjelaskan mengapa banyak negara gagal dalam pembangunan
Scholars, Andre Gunder Frank, Immanuel wallerstein
Klaim : negara yang “underdeveloped”/pinggiran tidak seperti Eropa, tetapi ada pada tahap awal pembangunan
Sejarah berbeda : Penjajahan
Harus berkompetisi dengan negara yang sangat maju
Saat negara-negara Eropa dari terbelakang menjadi maju, negara lain terus terbelakang dan terperangkap dalam keadaan
“underdevelopment”.
56
Immanuel Wallerstein, berpendapat bahwa tata ekonomi kapitalis dunia, ada beberapa fakta :
1) Negara-negara Asia Timur seperti Jepang,Taiwan, Korea Selatan, Hongkong, Malaysia dan Singapura telah mampu mencapai pertumbuhan ekonomi tinggi tanpa melalukan teori modernisasi sebagai mana yang dipropagandakan oleh Amerika Serikat.
2) Adanya krisis di berbagai negara sosialis yang diawali dengan perpecehan di Republik Rakyat Cina dan runtuhnya Uni Soviet/Rusia.
3) Fenomena krisis di Amerika Serikat keterlibatannya dalam perang-perang di beberapa negara Dunia Ketiga.
57
58
Contoh : Makalah
Tugas Individu Judul : SOSIOLOGI PEMBANGUNAN
Daftar Isi
Kata Pengantar Bab I Pendahuluan
1.1. Latar Belakang 1.2. Rumusan Masalah 1.3. Tujuan
Bab II Pembahasan
2.1. Kajian Sosiologi Pembangunan 2.2. Definisi Sosiologi Pembangunan 2.3. Kajian Teori Sosiologi
2.3. Faktor-Faktor Gerakan Sosial dan Konflik 2.4. Faktor-Faktor Perubahan Sosial
2.5. Masalah Sosiologi Pembangunan di ……… ? Bab III Penutup
3.1. Kesimpulan 3.2. Saran
Daftar Pustaka