Apa yang dimaksud dengan hukum?
Pengertian Hukum adalah suatu sistem peraturan yang di dalamnya terdapat norma- norma dan sanksi-sanksi yang bertujuan untuk mengendalikan perilaku manusia, menjaga ketertiban dan keadilan, serta mencegah terjadinya kekacauan.
Ada juga yang mengatakan bahwa definisi hukum adalah suatu peraturan atau ketentuan yang dibuat, baik secara tertulis maupun tidak tertulis, dimana isinya mengatur kehidupan bermasyarakat dan terdapat sanksi/ hukuman bagi pihak yang melanggarnya.
Keberadaan hukum bertujuan untuk melindungi setiap individu dari penyalahgunaan kekuasaan serta untuk menegakkan keadilan. Dengan adanya hukum di suatu negara, maka setiap orang di negara tersebut berhak mendapatkan keadilan dan pembelaan di depan hukum yang berlaku.
Macam-macam Hukum di Indonesia
Selanjutnya, membahas mengenai jenis-jenis hukum atau penggolongan hukum, C.S.T.
Kansil menjelaskan terdapat beberapa pembagian jenis hukum menurut beberapa hal berikut ini :
1. Penggolongan hukum menurut sumbernya:
a. Hukum undang-undang, yang tercantum dalam peraturan perundang-undangan;
b. Hukum kebiasaan (adat), yang terletak di dalam peraturan kebiasaan adat;
c. Hukum traktat, yaitu yang ditetapkan oleh negara di dalam suatu perjanjian antar negara;
d. Hukum yurisprudensi, yaitu hukum yang diambil dari putusan hakim terdahulu.
2. Penggolongan hukum menurut bentuknya:
a. Hukum tertulis, terdiri dari yang dikodifikasi dan yang tidak dikodifikasi;
b. Hukum tidak tertulis (hukum kebiasaan).
3. Penggolongan hukum menurut tempat berlakunya:
a. Hukum nasional, berlaku di dalam suatu negara;
b. Hukum internasional, mengatur hubungan hukum dalam dunia internasional;
c. Hukum asing, yang berlaku dalam negara lain;
d. Hukum gereja, kumpulan norma yang ditetapkan gereja untuk para anggotanya.
4. Penggolongan hukum menurut waktu berlakunya:
a. Ius constitutum (hukum positif), yaitu hukum yang berlaku saat ini bagi suatu masyarakat tertentu dalam suatu daerah tertentu;
b. Ius constituendum, yaitu hukum yang diharapkan berlaku pada waktu yang akan datang;
c. Hukum alam, yaitu hukum yang berlaku dimana-mana dalam segala waktu dan untuk segala bangsa di dunia.
5. Penggolongan hukum menurut cara mempertahankan:
a. Hukum material, yaitu hukum yang memuat peraturan yang mengatur kepentingan dan hubungan yang berwujud perintah dan larangan. Contoh: hukum pidana, hukum perdata;
b. Hukum formal, yaitu hukum yang memuat peraturan yang mengatur bagaimana cara melaksanakan dan mempertahankan hukum material, cara mengajukan suatu perkara di pengadilan, dan cara hakim memberi putusan. Contoh: hukum acara pidana, hukum acara perdata.
6. Penggolongan hukum menurut sifatnya:
a. Hukum yang memaksa, yaitu hukum yang dalam keadaan bagaimanapun juga harus dan mempunyai paksaan mutlak;
b. Hukum yang mengatur, yaitu hukum yang dapat dikesampingkan apabila pihak yang bersangkutan telah membuat peraturan sendiri dalam suatu perjanjian.
7. Penggolongan hukum menurut wujudnya:
a. Hukum objektif, yaitu hukum yang berlaku secara umum di suatu negara, mengatur hubungan hukum antara dua orang atau lebih tanpa memandang golongan tertentu;
b. Hukum subjektif, yaitu hukum yang timbul dari hukum objektif dan berlaku terhadap seorang tertentu atau lebih. Hukum subjektif disebut juga hak.
8. Penggolongan hukum menurut isinya:
a. Hukum privat (hukum sipil), yaitu hukum yang mengatur hubungan antara orang yang satu dengan yang lain, menitikberatkan pada kepentingan perseorangan;
b. Hukum publik (hukum negara), yaitu hukum yang mengatur hubungan negara dengan alat perlengkapan atau hubungan negara dengan perseorangan
Kesadaran Hukum
Kesadaran hukum menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah kesadaran seseorang akan pengetahuann bahwa suatu perilaku tertentu diatur oleh hukum. Kesadaran hukum pada titik tertentu diharapkan mampu untuk mendorong seseorang mematuhi dan melaksanakan atau tidak melaksanakan apa yang dilarang atau apa yang diperintahkan oleh hukum. Oleh karena itu peningkatan kesadaran hukum merupakan salah satu bagian penting dalam upaya untuk mewujudkan penegakkan hukum.
Kesadaran hukum diartikan secara terpisah dalam bahasa yang kata dasarnya “sadar”
tahu dan mengerti, dan secara keseluruhan merupakan mengetahui dan mengerti tentang hukum, menurut Ewick dan Silbey “Kesadaran hukum” mengacu pada cara-cara dimana orang- orang memahami hukum dan institusi-institusi hukum, yaitu pemahamanpemahaman yang membeerikan makna kepada pengalaman dan Tindakan orang-orang. Bagi Ewick dan Silbey,
“kesadaran hukum” terbentuk dalam tindakan dan karenanya merupakan persoalan praktik untuk dikaji secara empiris, dengan kata lain, kesadaran hukum adalah persoalan “hukum sebagai perilaku”, dan bukan “hukum sebagai norma atau asas”
Membangun kesadaran hukum tidaklah mudah, tidak semua orang memiliki kesadaran tersebut. Hukum sebagai fenomena sosial merupakan institusi dan pengendalian masyarakat.
Didalam masyarakat dijumpai berbagai institusi yang masing-masing diperlukan didalam Masyarakat untuk mmenuhi kebutuhan-kbutuhannya dan memperlancar jalannya pemenuhan kebutuhan-kebutuhan tersebut, oleh karena fungsinya demikian masyarakat perlu akan kehadiran institusi sebagai pemahaman kesadaran hukum. Pentingnya kesadaran membangun masyarakat yang sadar akan hukum inilah yang diharapkan akan menunjang dan menjadikan Masyarakat menjunjung tinggi aturan sebagai pemenhan kebutuhan untuk mendambakan
ketaatan serta ketertiban hukum. Peran dan fungsi membangun kesadaran hukum dalam masyarakat pada umumnya melekat pada institusi sebagai pelengkap masyarakat dapat diihat dengan stabilitas, membrikan kerangka sosial terhadap kebutuhan-kebutuhan dalam masyarakat, memberikan kerangka sosial instituri berwujud norma-norma.
Beberapa faktor yang mempengaruhi masyarakat tidak sadar akan pentingnya hukum adalah :
a. Adanya ketidakpastian hukum.
b. Peraturan-peraturan bersifat statis
c. Tidak efisiennya cara-cara masyarakat untuk mempertahankan peraturan yang berlaku.
Berangkat dari uraian diatas amaka pemenuhan kebutuhan dan hubungan antara institusi hukum maupun institusi masyarakat berperan sebagai pranata didalam masyarakat.
Faktor yang dapat mempengaruhi kesadaran hukum yang pertama adalah pengetahuan tentang kesadaran hukum. Peraturan dalam hukum harus disebarluaskan. Maka dengan sendirinya peraturan tersebut akan tersebar dan cepat diketahui oleh masyarakat. Masyarakat yang melanggar belum tentu mereka melanggar hukum. Hal tersebut karena bisa jadi karena kurangnya pemahaman dan pengetahuan masyarakat tentang kesadaran hukum dan peraturan yang berlaku dalam hukum itu sendiri. Faktor yang selanjutnya ialah tentang ketaatan masyarakat terhadap hukum. Dengan demikian seluruh kepentingan masyarakat akan bergantung pada ketentuan dalam hukum itu sendiri. Namun juga ada anggapan bahwa kepatuhan hukum justru disebabkan dari adanya rasa takut terhadap hukuman atau sanksi yang akan didapatkan ketika melanggar hukum.
Implikasi kesadaran hukum masyarakat dapat dilihat dalam kehidupan bermasyarakat, bernegara, ekonomi, dan public. Pelaksanaan demokrasi di masyarakat tercermin dalam kegiatan gotong royong. Demokrasi dalam kehidupan bernegara salah satunya tercermin melalui pelaksanaan pemilihan umum. Pemilu merupakan perwujudan kedaulatan yang dipgang oleh rakyat. Pemilu yang diadakan di Indonesia bertujuan untuk sarana demokrasi, menjaga tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Pemilih Cerdas Pilkada Berkualitas
Pilkada serentak tidak hanya menjadi tantangan bagi para kontestan politik yang akan berkontestasi, melainkan juga menjadi tantangan tersendiri bagi seluruh masyarakat sebagai pemilih atau konstituen politik. Betapa tidak, suara masyarakatlah yang menjadi penentu kualitas pemerintahan selama lima tahun kedepan. Akurasi dalam menyalurkan hak suara tersebut akan mempengaruhi baik buruknya tatanan kehidupan sosial masyarakat, konsekuensinya pasti berhadapan dengan dua kemungkinan yakni pemerintahan yang amanah dan adil atau zalim. Karena sejatinya dalam demokrasi masyarakat menentukan nasibnya sendiri sekaligus hakim yang menentukan nasib atau keberlangsungan penguasa. Bahkan, satu pepatah populer di dunia politik berasal dari bahasa latin mengatakan “vox populi vox dei”
yang mengibaratkan suara rakyat adalah suara tuhan baik saat pemilihan umum (penentu kemenangan), maupun penekanan pentingnya mendengarkan suara rakyat dalam pengambilan keputusan dan menentukan kebijakan politik di negara yang menerapkan sistem pemerintahan demokrasi.
Pilkada yang pelaksanaannya memakan biaya tidak sedikit dari keuangan negara harus memberi dampak yang sebanding dengan menghasilkan kepemimpinan daerah yang memiliki kualitas dan integritas, serta pemerintahan yang akuntabel untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Sangat disayangkan, jika gawai rakyat lima tahunan ini justru malah menjadi sumber bencana bagi kehidupan masyarakat.
Selain itu, pilkada yang juga merupakan ajang pertarungan ide dan gagasan dari putra putri terbaik suatu daerah dalam pembangunan harus menjadi angin segar bagi asa masyarakat dengan cara yang bermartabat. Oleh karena itu pemaknaan masyarakat mengenai pilkada mesti bijak, bukan hanya sekedar menunaikan kewajiban hak suara belaka, melainkan menjadi tanggung jawab moral secara bersama untuk menjalankan dan mengawal proses pilkada hingga menghasilkan produk sesuai harapan.
Pilkada berkualitas indikasi utamanya yaitu melahirkan pemimpin hebat yang berpihak pada masyarakat, pemimpin hebat yang memiliki kualitas tergantung dari seberapa bijak dan cerdasnya masyarakat sebagai pemilih (konstituen) dalam menentukan pilihan. Dalam konteks ini, rasionalitas berpikir dan objektivitas harus menjadi landasan utama untuk menentukan pilihan, seperti menganalisis data kondisi pembangunan daerah periode atau masa sebelumnya.
Lalu dihubungkan dengan visi misi yang diusung para calon, apakah tepat sasaran atau terdapat relevansi antara masalah yang menjadi isu/topik pembangunan dengan narasi hingga gagasan yang ditawarkan. Apakah program yang dijanjikan sesuai dengan kondisi/kekuatan anggaran daerah dan apakah program tersebut pro rakyat. Analisis seperti ini penting menjadi referensi pemilih untuk mengukur visi misi maupun program calon apakah benar-benar bisa diwujudkan atau hanya angan-angan untuk memikat hati pemilih. Terkait data, statistik dan sebagainya dapat diakses melalui internet, media massa, lembaga publik dan lain-lain. Selanjutnya, rekam jejak calon, baik itu rekam jejak politik maupun pribadi, mengingat keduanya saling menopang dan tak dapat dipisahkan, apakah calon tersebut memiliki reputasi politik dan pribadi yang baik atau sebaliknya. Jangan sampai kita terjebak memilih figur yang mempunyai catatan cacat moral, cacat politik dan cacat hukum. Jika calon merupakan petahana, yang menjadi barometer apakah periode sebelumnya janji politik maupun gagasan politik telah ditunaikan, dan apakah masalah pembangunan telah atau dapat diuraikan selama periode kepemimpinannya.
Kemudian kualitas pilkada dapat dilihat dari partisipasi politik masyarakat, karena partisipasi politik merupakan keikutsertaan warga negara secara aktif dalam kehidupan politik.
Menurut Herbert McClosky, partisipasi politik adalah kegiatan sukarela dari masyarakat dalam mengambil bagian dari proses pemilihan penguasa. Secara langsung atau tidak, terlibat dalam pembentukan kebijakan umum. Tingkat antusiasme masyarakat dalam bentuk partisipasi politik ini menjadi salah satu tolak ukur keberhasilan pelaksanaan pilkada, begitu pula sebaliknya. Hal mendasar untuk mewujudkan kesadaran politik masyarakat sehingga turut berpartisipasi adalah menumbuhkan benih kepercayaan di benak masyarakat, bagaimana pilkada/pemilu benar-benar berjalan sesuai asas jujur dan adil tanpa melanggar etika, norma dan aturan pada pilkada itu sendiri, terutama kredibilitas dan netralitas perangkat negara mulai dari penyelenggara pemilu dan pemerintah yang bertanggung jawab pada proses pelaksanaan pilkada tersebut.
Setelah itu, menanamkan dan merawat harapan masyarakat bahwa produk yang dihasilkan pasca pilkada terutama kepemimpinan daerah benar-benar menjadi ‘problem solving’ bagi masalah-masalah sosial kemasyarakatan, serta memberi dampak positif pada kesejahteraan hidup masyarakat. Hal tersebut tentunya menjadi pekerjaan rumah bagi penyelenggara pemilu maupun stakeholder terkait untuk merefleksikan partisipasi politik masyarakat melalui edukasi masif baik itu formal, informal dan dedikasi nyata secara totalitas.
Meskipun tak dapat dipungkiri faktor sosiologis seperti tingkat pendidikan dan kondisi ekonomi yang sulit juga sangat mempengaruhi paradigma berpikir masyarakat tentang kesadaran politik, menyebabkan apatisme atau terkadang dapat mengubah substansi dari hak politik yang dimiliki menjadi komoditas yang bernilai materi sehingga praktik jahat berdiaspora dalam proses politik pilkada. Fenomena ini tentunya harus menjadi fokus semua pihak untuk dikurangi secara perlahan apabila ingin menciptakan pilkada yang bermarwah dan berkualitas.
Tipe Pemilih Menurut Ahli
Menurut penelitian peneliti senior di Asian Scenarios, Malik (2018), pemilih Indonesia terbagi menjadi tiga jenis, yaitu pemilih emosional, pemilih rasional-emosional, dan pemilih rasional. Pemilih emosional adalah pemilih yang memiliki hubungan emosional sangat kuat dengan identitas yang membentuk dirinya dari sejak lahir. Identitas itu bisa berbentuk dalam paham ideologis, agama, dan budaya. Cengiz Erisen (2018) membagi pemilih emosional menjadi dua, pemilih aktif dan pasif. Pemilih aktif emosional sangat gampang diidentifikasi, mereka akan sangat mudah terprovokasi dan sangat cepat merespons isu tersebut. Sedangkan Pemilih pasif-emosional cenderung menggunakan pola komunikasi diam (silent communication) karena mereka tidak menunjukkan pilihan mereka dan tidak ingin dinilai secara sosial dari pilihan mereka.
Pemilih rasional-emosional yaitu pemilih yang cenderung akan diam ketika melihat isu yang bersifat agama, identitas, dan simbolik digaungkan karena mereka membutuhkan waktu untuk memproses informasi dan isu tersebut. Akan tetapi dalam proses penerjemahan informasi tersebut faktor emosional alam bawah sadar masih dominan sehingga proses penerjemahan informasi terdistorsi oleh faktor-faktor yang secara tidak sadar membentuk pola pikir mereka.
Terakhir, pemilih rasional adalah pemilih yang mengesampingkan faktor emosional dalam memaknai suatu informasi. Proses analisa dalam pemilih rasional mengedepankan data yang afirmatif dan majemuk. Pemilih rasional mengedepankan komunikasi aktif dan terbuka, dalam artian mereka bisa menjawab secara terinci kenapa mereka membuat suatu pilihan politis.
Mereka tidak segan menjabarkan alasan dan faktor-faktor yang menyebabkan mereka membuat keputusan tersebut.
Netralitas ASN
Netralitas ASN berarti “bebasnya Pegawai Negeri Sipil dari pengaruh kepentingan partai politik tertentu atau tidak memihak untuk kepentingan partai politik tertentu”.
DASAR HUKUM
1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 Tentang Aparatur Sipil Negara.
2. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 Tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil.
3. Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 Tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil.
Regulasi Netralitas ASN PP NO.42 TAHUN 2004
Pembinaan Jiwa Korps Dan Kode Etik PNS Pasal 11 Huruf C
Dalam hale tika terhadap diri sendiri PNS wajib menghindari konflik kepentingan pribadi, kelompok ataupun golongan. Maka PNS dilarang melakukan perbuatan yang mengarah kepada keberpihakan salah satu calon atau perbuatan yang mengindikasikan terlibat dalam partai politik praktis/berafiliasi dengan partai politik.
PP NO.42 TAHUN 2004 Disiplin PNS
Pasal 4 Angka 12-15
PNS dilarang memberi dukungan atau melakukan kegiatan yang mengarah pada politik praktis pada kontestasi Pilkada/Pileg/Pilpres.
Bentuk-bentuk Pelanggaran Netralitas ASN
a. Mempengaruhi warga dengan politik uang untuk memilih paslon tertentu.
b. Melarang/menghalangi pemasangan alat peraga kampanye paslon tertentu.
c. Mempengaruhi/Mengintimidasi perangkat desa untuk berpihak kepada/memilih paslon tertentu.
d. Terlibat sebagai Tim Kampanye/Tim Sukses Paslon
e. Menggerakkan struktur birokrasi/Mempengaruhi/Mengintimidasi para pegawai bawahan unit kerjanya.
f. Membuat kebijakan dalam bentuk SK: Pegawai Honor, Mutasi, Rotasi yang bersifat politik praktis.
INDIKATOR NETRALITAS ASN DALAM KAMPANYE PEMILU a. Tidak terlibat sebagai pelaksana/tim kampanye.
b. ASN tidak melakukan mobilisasi ASN lain/warga untuk menghadiri kampanye.
c. Penggunaan Media sosial tidak mendukung aktivitas kampanye (like status paslon dll) d. ASN tidak memakai atribut PNS dalam tugas kampanye.
e. Tidak membagi-bagi uang dan/atau materi lainnya kepada pemilih.
HUKUMAN DISIPLIN
PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 53 TAHUN 2010 TENTANG DISIPLIN PEGAWAI NEGERI SIPIL
Pasal 7 Ayat (3)
Hukuman Disiplin “Tingkat sedang” berupa penurunan pangkat setingkat lebih rendah selama 1 tahun bagi :
a. PNS yang terlibat dalam kegiatan kampanye.
b. PNS yang duduk dalam panitia pengurus pemilihan tanpa izin PPK atau atasan langsung.
Pasal 7 Ayat (4)
Hukuman Disiplin “tingkat berat” berupa pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri (PDH-TAPS) bagi :
a. PNS yang terlibat dalam kegiatan kampanye untuk mendukung Kepala atau Wakil Kepala daerah.
b. PNS yang menggunakan fasilitas terkait dengan jabatannya dalam kegiatan kampanye.
c. PNS yang menjadi anggota PPK, PPS dan KPPS tanpa izin dari pejabat Pembina Kepegawaian atau atasan langsung.
Hukuman Disiplin “Tingkat berat” berupa pemberhentian tidak dengan hormat (PTDH) dari PNS yang :
a. Menggunakan anggaran Pemerintah dan atau Pemerintah Daerah dalam proses pemilihan Kepala Daerah atau Wakil Kepala Daerah.
b. Menggunakan fasilitas yang terkait jabatannya dalam pemilihan Kepala Daerah atau Wakil Kepala Daerah.
c. Membuat Keputusan dan atau Tindakan yang menguntungkan atau merugikan salah satu pasangan calon selama masa kampanye.
PERAN PEMERINTAH/PEMDA DALAM MENSUKSESKAN PEMILU UNDANG-UNDANG NO.7 TAHUN 2017 PASAL 434 :
a. Penugasa personel pada secretariat PPK, Panwaslu Kecamatan, dan PPS;
b. Penyediaan sarana ruangan secretariat PPK, Panwaslu Kecamatan, dan PPS;
c. Pelaksanaan sosialisasi terhdap peraturan perundang-undangan Pemilu;
d. Pelaksanaan Pendidikan politik vagi pemilih untuk meningkatkan partisipasi Masyarakat dalam pemilu;
e. Kelancaran transportasi pengiriman logistic;
f. Pemantauan kelancaran Penyelenggaraan pemilu; dan
g. Kegiatan lain yang sesuai dengan kebutuhan pelaksanaan pemilu.
PERMASALAHAN / KONDISI DAERAH JELANG PEMILU DAN PEMILIHAN SERENTAK 2024
a. Keterlibatan PNS/ASN dalam politik praktis pada tahapan pemilu dan pemilihan.
b. Meningkatnya suhu politik di daerah.
c. Rawan terjadi mobilisasi massa : Unjuk rasa, Protes, Boikot, Rusuh, Ribut dll.
d. Politik Uang (Money Politic), Kampanye Hitam (Black Campaign), dan Politik Identitas.