A. Latar Belakang.
Bahaya Ergonomik terjadi ketika jenis pekerjaan, posisi tubuh, dan kondisi kerja meletakkan beban pada tubuh. Penyebabnya paling sulit untuk di definisikan secara langsung karna kita tidak selalu segera melihat ketegangan pada tubuh atau bahaya bahaya ini saat melakukan. Paparan jangka pendek dapat menyebabkan ’’nyeri otot’’ hari berikutnya atau pada hari hari setelah terekspos, tetapi paparan jangka panjang dapat mengakibatkan cedera jangka panjang yang serius di antara contoh yang sering di dapatkan adalah cara mengangkat atau lifting, postur tubuh yang kurang memadai gerakan canggung terutama jika harus berulang ulang, dan posisi kerja yang kurang tepat(Kuswana, 2016).
Provinsi Kalimantan Selatan memegang peranan penting dalam pengembangan budidaya kelapa sawit di Indonesia, karena memiliki luas lahan seluas 2,6 juta hektar yang digunakan untuk perkebunan kelapa sawit. Sebagai hasilnya, Kalimantan Selatan menjadi salah satu daerah produsen kelapa sawit terbesar di Indonesia. Perkebunan kelapa sawit merupakan sub-sektor pertanian yang dianggap memiliki potensi yang cukup besar di kabupaten Tanah Laut.
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2019 tentang Penyakit Akibat Kerja mengidentifikasi beberapa penyakit akibat kerja yang disebabkan oleh gangguan otot dan kerangka kerja. Beberapa kondisi yang
1
disebutkan dalam peraturan ini melibatkan berbagai risiko ergonomi dan kondisi kerja yang dapat memengaruhi kesehatan pekerja.
Berdasarkan hasil penelitian oleh Dwi Romi Fatriansyah melakukan analisis risiko ergonomi di bagian produksi PT. SS Pabrik Palembang pada tahun 2015. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa terdapat faktor risiko ergonomi yang menimbulkan bahaya pada 7 stasiun kerja. Faktor-faktor tersebut meliputi beban kerja, postur kerja, frekuensi, durasi, dan mengangkat (lifting).
Penelitian oleh Elvis Dio Prayoga melakukan penelitian tentang analisis faktor risiko ergonomi pada pekerja bagian panen kelapa sawit di Divisi Sidomulyo PT TBL Kabupaten Banyuasin pada tahun 2016. Hasil penelitiannya juga menemukan bahwa terdapat faktor risiko ergonomi yang menimbulkan bahaya di Divisi Sidomulyo, termasuk beban kerja, postur kerja, frekuensi, dan durasi kerja.
Penelitian oleh Fahmi Sepwill Yoni melakukan penelitian tentang analisis faktor risiko di PT Gading Cempaka Graha Kabupaten OKI pada tahun 2019.
Penelitiannya menunjukkan bahwa ada hubungan antara postur kerja, frekuensi, durasi kerja, dan beban kerja dengan risiko ergonomi pada pekerja di bagian panen kelapa sawit.
Dari hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor risiko ergonomi seperti beban kerja, postur kerja, frekuensi, dan durasi kerja memainkan peran penting dalam menimbulkan risiko cedera atau masalah kesehatan pada pekerja di berbagai sektor, termasuk di industri perkebunan
kelapa sawit. Upaya pengelolaan risiko ergonomi menjadi penting untuk meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas pekerja di tempat kerja tersebut.
Salah satu pekerja yang rentan terhadap risiko ergonomi adalah pekerja di bagian panen dan grading kelapa sawit PT Perkebunan Nusantara XIII.
Penelitian ini dilakukan di bagian panen kelapa sawit Mengenai keluhan yang dirasakan pada pekerja di PT. Perkebunan Nusantara XIII yaitu keluhan dibeberapa tubuh yang di lakukan pada pekerja. Berdasarkan hasil wawancara kepada pekerja, pekerja merasakan adanya keluhan dibeberapa anggota tubuh mereka, keluhan terbesar dirasakan pada bagian punggung, lengan, leher, dan kaki.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk meneliti risiko ergonomi di PT. Perkebunan Nusantara XIII karena belum pernah dilakukan penelitian tentang faktor risiko ergonomi, khususnya di bagian panen kelapa sawit. Apabila perbaikan ergonomi tidak betul-betul diperhatikan tentu akan mengurangi produktivitas pekerja dan efektivitas kerja. Untuk itu perlu adanya penelitian mengenai faktor risiko ergonomi pada pekerja di bagian panen kelapa sawit di PT. Perkebunan Nusantara XIII.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian yang ada pada latar belakang di atas, maka perumusan masalah pada penelitian ini adalan “Bagaimana faktor risiko ergonomi di PT.
Perkebunan Nusantara XIII?”.
C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum
Mengetahui faktor risiko ergonomi di Perusahaan Kelapa Sawit PT.
Perkebunan Nusantara XIII.
2. Tujuan Khusus
a. Diketahui faktor risiko ergonomi berdasarkan karakteristik pekerja yang terdiri dari usia pekerja, lama bekerja, dan kebiasaan merokok.
b. Diketahui faktor risiko ergonomi berdasarkan faktor pekerjaan yang terdiri dari postur kerja dan beban kerja.
D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Perusahaan
Penelitian ini dapat memberikan dasar bagi perusahaan dan pemerintah setempat untuk mengembangkan kebijakan dan perbaikan prosedur yang mungkin diperlukan untuk mengurangi risiko ergonomi dan meningkatkan keamanan dan kesejahteraan pekerja di sektor panen kelapa sawit.
Dalam hal ini, penelitian memiliki peran yang penting dalam membantu mengidentifikasi, mengukur, dan mengatasi masalah terkait risiko ergonomi di lapangan kerja. Dengan demikian, penelitian ini dapat berpotensi memberikan manfaat bagi semua pihak yang terlibat.
2. Bagi Pekerja
Mengurangi risiko ergonomi dan memastikan kondisi kerja yang lebih baik juga dapat berkontribusi pada peningkatan produktivitas pekerja, yang pada gilirannya akan menguntungkan perusahaan.
E.
3. Bagi Peneliti
Penerapan pengetahuan dan pengetahuan tentang keselamatan dan kesehatan kerja di lingkungan kerja, termasuk risiko ergonomis, merupakan langkah penting dalam mendukung kesejahteraan pekerja dan meningkatkan efisiensi perusahaan. Hal ini juga dapat membantu menciptakan tempat kerja yang aman dan sehat bagi seluruh karyawan.
4.
E. Keaslian Penelitian
1. Analisis Faktor Risiko Ergonomi Pada Pekerja Di Bagian Panen Kelapa Sawit Di PT Gading Cempaka Graha Kabupaten OKI Tahun 2019 oleh Fahmi Sepwill Yoni. Hasil penelitian diketahui bahwa ada hubungan antara postur kerja, frekuensi, durasi kerja, dan beban kerja dengan resiko ergonomi pada pekerja pada bagian panen kelapa sawit.
2. Analisis Faktor Risiko Ergonomi pada Pekerja Bagian Panen Kelapa Sawit Divisi Sidomulyo PT TBL Kabupaten Banyuasin 2016, dilihat dari hasil penelitian terdapat faktor risiko ergonomi yang menimbulkan bahaya dari Divisi Sidomulyo, diantaranya beban kerja,postur kerja, frekuensi dan durasi.
3. Risiko Ergonomi Dan Keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs) Pada Pekerja Panen Kelapa Sawit Tahun Tahun 2009 oleh Hendra danSuwandi Rahardjo. Hasil penelitian menunjukkan keluhan MSDs terbanyak pada bagian leher dan punggung bawah yang dirasakan oleh 98 pekerja, keluhan selanjutnya pada bagian bahu kanan, pergelangan tangan kanan dan kiri yang dirasakan oleh 95 pekerja, dan paling sedikit pada bagian pantat (67 pekerja).
Keaslian penelitian ini berdasarkan pada beberapa penelitian lain yang mempunyai karekteristik yang relatif sama dalam hal tema kajian, meskipun berbeda dalam hal kriteria subjek, jumlah dan posisi variabel penelitian atau metode analisis yang digunakan. Penenlitian ini menyimpulkan mengenai faktor risiko ergonomi di perusahaan kelapa sawit.
Kesamaan penelitian yang dilakukan adalah sama-sama menjelaksan faktor risiko ergonomi di perusahaan kelapa sawit, sedangkan perbedaannya yaitu terdapat pada tempat Perusahaan dan subjek yang akan diteliti.
Meskipun tema kajian sama, penting untuk mengingat bahwa setiap perusahaan dan lokasi memiliki karakteristik unik.
Penelitian kali ini hanya meneliti variabel usia, masa kerja, dan kebiasaan meroko pada pekerja yang berada di stasiun Grading dan Panen di industri kelapa sawit PT Perkebunan Nusantara XIII. Perbedaan selanjutnya adalah mengenai jenis penelitian, penelitian kali ini bersifat deskriptif.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA A. Ergonomi
4. Pengertian Ergonomi
Istilah Ergonomi berasal dari bahasa Latin yaitu Ergos (kerja) dan Nomos (hukum alam). Ergonomi dapat didefinisikan sebagai penyesuaian pekerjaan terhadap pekerja (fitting the job to workers) (Simanjuntak, 2022). Ergonomi adalah ilmu, seni dan penerapan teknologi untuk menyerasikan atau menyeimbangkan antara segala fasilitas yang digunakan baik dalam beraktivitas maupun istirahat dengan kemampuan & keterbatasan manusia baik fisik maupun mental sehingga kualitas hidup secara keseluruhan menjadi lebih baik (Tarwaka, 2015). Ergonomi diaplikasikan pada dunia kerja supaya pekerja dapat nyaman di dalam melakukan pekerjaannya. Dengan
adanya rasa nyaman itu maka manfaatnya terhadap produktivitas kerja yang diinginkan dan dapat semakin meningkat.
5. Tujuan Ergonomi
Secara umum tujuan dan penerapan ergonomi adalah:
a. Meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental melalui upaya pencegahan cedera dan penyakit akibat kerja, menurunkan beban kerja fisik dan mental, mengupayakan promosi dan kepuasan kerja.
b. Meningkatkan kesejahteraan sosial melalui peningkatan kualitas kontak sosial, mengelola dan mengkoordinir kerja secara tepat guna dan meningkatkan jaminan sosial baik selama kurun waktu usia produktif maupun setelah tidak produktif.
c. Menciptakan keseimbangan rasional antara berbagai aspek yaitu aspek teknis, ekonomis, antropologis dan budaya dari setiap kerja yang dilakukan sehingga tercipta kualitas kerja dan kualitas hidup yang tinggi.
Pernyataan tersebut menggarisbawahi Pentingnya penerapan Ergonomi di tempat kerja yang bertujuan agar pekerja selalu dalam keadaan nyaman dalam melakukan aktivitas pekerjaanya, hal ini dapat memberikan dampak sehat, nyaman, aman, produktif, dan sejahtera bagi pekerja, namun sebaliknya jika penerapan ergonomi ditempat kerja dilakukan dengan tidak benar, dapat berakibat timbulnya keluhan karena posisi pekerja yang tidak baik dan dapat menyebabkan penyakit
akibat kerja. Tingkat risiko ergonomi yang tinggi dalam melakukan aktivitas pekerjaan dapat menyebabkan gangguan kesehatan pada pekerja (Djuarsah Bna, Herlina, 2018).
6. Faktor Yang Mempengaruhi Risiko Ergonomi
Penting untuk memahami faktor-faktor ini dan mengambil langkah-langkah untuk mengurangi risiko ergonomi di lingkungan kerja. Ini dapat mencakup perancangan pekerjaan yang lebih ergonomis, memberikan pelatihan tentang praktik kerja yang aman, dan mempromosikan kesadaran pekerja tentang pentingnya ergonomi dan kesehatan mereka sendiri.
a. Faktor karakteristik pekerja 1) Usia
Tinggi tubuh manusia terus bertambah mulai dari lahir hingga usia sekitar 20-25 tahun. Usia saat berhentinya pertumbuhan pada perempuan lebih dini daripada laki-laki.
Seiring bertambahnya usia, seseorang mungkin menjadi lebih rentan terhadap cedera ergonomi karena penurunan fleksibilitas dan kekuatan otot.
Golongan umur tua mempunyai kecenderungan yang lebih tinggi untuk mengalami kecelakaan dibandingkan dengan golongan umur muda, karena umur muda mempunyai reaksi dan kegesitan yang lebih tinggi.
Namun, umur muda pun sering mengalami kasus kecelakaan akibat kerja. Hal ini bisa disebabkan karena
kecerobohan dan sikap tergesa-gesa (Triwibowo dan Erlisya, 2019).
2) Masa Kerja
Pengalaman kerja dalam bidang ergonomi penting untuk mengembangkan pemahaman dan keterampilan yang diperlukan untuk merancang lingkungan kerja yang aman dan nyaman bagi pekerja.
Durasi pengalaman kerja seseorang dapat memengaruhi kemampuannya dalam mengatasi risiko ergonomi. Orang yang baru bekerja mungkin lebih rentan daripada yang berpengalaman. Penelitian dengan studi restropektif di Hongkong dengan 383 kasus membuktikan bahwa kecelakaan akibat kerja karena mesin terutama terjadi pada pekerja yang mempunyai pengalaman kerja dibawah 1 tahun (Triwibowo dan Erlisya, 2019).
3) Kebiasaan Merokok
Kebiasaan merokok dapat memengaruhi kesehatan sirkulasi dan sistem pernapasan, yang dapat meningkatkan risiko ergonomi. Menurut Tarwaka (2011), kebiasaan merokok sangan erat kaitannya dengan lama dan tingkat kebiasaan rokok. Semakin lama dan semakin tinggi frekuensi merokok, semakin tinggi pula tingkat keluhan otot yang dirasakan.
b. Faktor pekerjaan
1) Postur Kerja
Posisi tubuh yang tidak alami atau tidak ergonomis, seperti membungkuk, berjongkok, atau tangan dalam posisi yang terlalu tinggi atau rendah, dapat meningkatkan risiko cedera ergonomi. Memahami dan mempraktikkan postur kerja yang baik adalah langkah penting dalam menjaga kesehatan pekerja dan mengurangi risiko cedera ergonomi. Itu juga dapat membantu meningkatkan kenyamanan dan produktivitas di tempat kerja. Jika diperlukan, konsultasikan dengan seorang ahli ergonomi untuk membantu menyesuaikan lingkungan kerja agar sesuai dengan postur kerja yang baik. Adapun postur tubuh dapat terbagi menjadi:
a. Statis
Menurut Bernard, dkk (2017) postur statis mengacu pada seorang pekerja yang mengambil posisi atau postur yang sama selama pengerahan tenaga. Mempertahankan postur statis selama melakukan tugas dapat menyebabkan ketegangan otot atau kelelahan dan merupakan faktor risiko muskuloskeletal. Lama postur, kecanggungan postur, dan tingkat tenaga yang digunakan semuanya akan mempengaruhi tingkat risiko cedera.
b. Dinamis
Pekerjaan yang dilakukan secara dinamis akan menimbulkan bahaya jika pekerjaan tersebut melakukan
gerakan ektrim sehingga mengakibatkan energi dikeluarkan otot akan menjadi lebih besar hal tersebut yang dapat menimbulkan cedera. Untuk berpindah dari postur statis ke postur lain, harus ada pergeseran posisi agar otot bisa ikut bergerak untuk menggerakkan tubuh. Dalam postur tubuh yang dinamis, sudah terdapat tingkat kesiapan untuk bergerak cepat dengan ringan tanpa harus berpindah posisi.
Kemampuan tubuh manusia secara mekanis pada saat melakukan aktivitas dan metode kerja, serta sarana dan peralatan, dirancang sesuai dengan kemampuan tubuh manusia saat melakukan pekerjaan. Quality work Live (QWL) dan postur kerja dengan adanya nyeri muskuloskeletal harus dikurangi (Asghari. Et al, 2019).
Beberapa pekerjaan manual dilakukan dengan cara yang berbahaya dapat menyebabkan keluhan rasa sakit. (Munawir.
Et al. 2020). Mengingat kerja manusia bersifat fisik dan mental, maka masing-masing punya tingkat pembebanan yang berbeda-beda. Banyak ditemukan metode yang dapat membantu manusia kerja. Pekerjaan menjadi lebih mudah, lebih cepat, lebih nyaman dan dapat mengurangi risiko penyakit dan cedera karena pekerjaan (Widodo.Et al. 2020).
Salah satunya metode biomekanika yang bertujuan untuk mengurangi secara signifikan kompresi sendi dan aktivitas otot (Tröster. Et al. 2020).
a) Postur kerja saat panen
Dalam proses panen kelapa sawit menggunakan tenaga manusia dan peralatan manual. Posisi kerja buruh panen pada saat melakukan aktivitas tidak ergonomis, dibuktikan dengan saat melakukan aktivitas posisi berdiri dengan salah satu tangan di atas bahu membentuk sudut 135o . Postur kerja tersebut dipengaruhi oleh jarak buruh panen terhadap kelapa sawit sehingga kondisi tersebut menyebabkan ketidaknyamanan operator dalam melakukan aktivitas, operator juga mengeluhkan nyeri pada bahu dan leher.
Aktivitas operator dapat dilihat pada Gambar 1
Gambar 2.1 Proses panen (Sumber agribusiness and food 2017) (Suranto, Harvester, 23 years old, West Kalimantan) b) Postur Kerja Pada Stasiun Grading
Kegiatan grading TBS sangat penting dalam industri kelapa sawit untuk memastikan kualitas bahan baku yang masuk ke pabrik pengolahan. Dengan melakukan grading yang baik, perusahaan dapat memaksimalkan hasil produksi minyak
kelapa sawit yang berkualitas tinggi dan meningkatkan efisiensi operasional.
Penerapan prinsip-prinsip ergonomi dalam kegiatan grading TBS akan membantu mengurangi risiko cedera, kelelahan, dan ketidaknyamanan yang dapat terjadi selama proses kerja. Hal ini tidak hanya meningkatkan kesejahteraan pekerja, tetapi juga dapat meningkatkan efisiensi operasional dan kualitas grading TBS. Aktivitas operator dapat dilihat pada Gambar 2
Gambar 2.2 Proses pemilihan TBS
(Sumber Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Timur 2014) 2) Beban Kerja
Beban Kerja Beban kerja dapat didefinisikan sebagai suatu perbedaan antara kapasitas atau kemampuan pekerja dengan tuntutan pekerjaan yang harus dihadapi, Meshkati (1988) dalam Tarwaka (2014:104) mengingat kerja manusia bersifat fisik dan mental, maka masing-masing punya tingkat pembebanan yang berbeda-beda.
a) Beban kerja saat panen
Beban kerja akibat pemanenan buah sawit sangat besar, sehingga kegiatan tidak ergonomis. Bevan mengatakan
Gangguan muskuloskeletal beban kerja (WMSD) adalah satu- satunya kategori cedera terkait pekerjaan terbesar dan bertanggung jawab atas 30 persen dari semua biaya kompensasi pekerja (Merikh-Nejadas.Et al. 2021). Kondisi kerja ergonomis yang tidak tepat adalah salah satu faktor yang paling penting dalam timbulnya masalah muskuloskeletal (Fouladi-Dehagh. Et al. 2021). Gangguan muskuloskeletal (MSD) pada tahun 2015. Diantaranya, nyeri pada punggung (46%) dan otot bahu, leher,dan tungkai atas (43%) adalah yang paling sering dilaporkan untuk mengurangi risiko gangguan muskuloskeletal terkait pekerjaan (WMSDs) (Tröster. Et al.
2022). Beberapa metode telah dikembangkan, diterima oleh literatur internasional dan digunakan dalam tempat kerja (Ranavolo. Et al. 2018).
b) Beban kerja grading
Pekerjaan dengan beban yang berat dan frekuensi tinggi serta dilakukan secara berulang (repetitif) menimbulkan keluhan rasa sakit pada operator. Keluhan disebabkan otot menerima tekanan akibat gaya dari pengangkutan beban kerja fisik terus menerus secara berulang (repetitif) tanpa memperoleh kesempatan untuk relaksasi. Postur kerja tidak alamiah, peregangan otot berlebihan, getaran dengan frekuensi tinggi, dan tekanan langsung pada jaringan otot lunak dapat menyebabkan keluhan rasa sakit (Iridiastasi, 2014).
Karmila (2014) melakukan penelitian pada kegiatan sortasi TBS di perusahaan perkebunan kelapa sawit untuk mengetahui keluhan rasa sakit operator. Penilaian menggunakan Standard Nordic Questionairre (SNQ) diketahui bahwa operator mengeluhkan rasa sakit pada pinggang (13,79%), lengan atas (10,34%), punggung (6,89%), bahu kanan (6,21%) dan betis kanan (5,51%).
F. Metode penilaian postur kerja
Pada penelitian ini, penilaian pada postur posisi kerja saat bekerja dapat dilakukan dengan berbagai metode Rapid Entire Body Assessment (REBA).
Rapid Entire Body Assessment (REBA) merupakan suatu metode penilaian postur kerja untuk menilai faktor resiko gangguan tubuh secara keseluruhan. Untuk masingmasing tugas dinilai faktor postur tubuh dengan penilaian pada masing-masing grup yang terdiri atas 2 grup, yaitu:
1. Grup A yang terdiri dari postur tubuh kiri dan kanan dari batang tubuh (trunk), leher (neck), dan kaki (legs).
2. Grup B yang terdiri atas postur tubuh kanan dan kiri dari lengan atas (upper arm), lengan bawah (lower arm), dan pergelangan tangan (wrist).
Gambar 2.3 Tabel skoring Rapid Entire Body Assessment (REBA) (uploaded by Mohd Afendi ResearchGate)
G. Metode penilaian beban kerja
Biomekanika merupakan metode untuk mengevaluasi efek dari mengangkat beban dan postur beban yang dibawa oleh pekerja dan meminimalkannya sehingga dapat mengurangi kecelakaan dan kesehatan kerja (Antwi-Afari. Et al. 2017). Pendekatan yang efektif dan ilmiah dapat membantu mengurangi kecelakaan kerja, sehingga manusia dapat bekerja dengan aman. Biomekanika mengukur kekuatan fisik tenaga kerja seperti kekuatan fisik (Genitrini. et al. 2020). Biomekanika dioperasikan pada tubuh manusia baik ketika tubuh
dalam keadaan statis maupun dalam
keadaan dinamis.
Biomekanika dibagi menjadi dua metode, yaitu metode Batas Maksimum yang Diizinkan (MPL) dan Batas Berat yang Direkomendasikan (RWL). Recommended Weight Limit (RWL) adalah batas beban yang direkomendasikan yang dapat diangkat oleh manusia tanpa menimbulkan cedera meskipun pekerjaan dilakukan secara berulang-ulang dan dalam jangka waktu yang lama (Muslimah, 2008). Batas Maksimum Permissible Limit (MPL) adalah batas gaya tekan pada segmen L5/S1 kegiatan pengangkatan dalam satuan Newton yang distandarisasi oleh NIOSH (National Institute of Occupational Safety and Health) (Purwaningsih, 2007).
RWL = LC x HM x VM x DM x AM x FM x CM Keterangan :
RWL : Batas beban yang direkomendasikan LC : Konstanta pembebanan (load costant) = 23 kg HM : Faktor pengali horizontal (horizontal multiplier) VM : Faktor pengali vertikal (vertikal multiplier) DM : Faktor pengali perpindahan (distance multiplier) AM : Faktor pengali asimetrik (asymmetric multiplier) FM : Faktor pengali frekuensi (frequency multiplier) CM : Faktor pengali pegangan (coupling multiplier)
H. Kegiatan pekerja panen kelapa sawit
Menurut Lubis dan Widanarko (2011), yang dikutip Qamariah dkk (2019), mengatakan bahwa salah satu aspek teknik budidaya yang sangat
penting dalam pembudidayaan kelapa sawit adalah kegiatan pemanenan, keberhasilan pemanenan akan menunjang pencapaian produktivitas tanaman, sebaliknya kegagalan pemanenan akan menghambat pencapaian produktivitas tanaman kelapa sawit. Selain itu, pelaksanaan panen harus dilakukan dengan tepat karena akan mempengaruhi kuantitas dan kualitas TBS yang dihasilkan.
Sedangkan menurut PPKS (2007), yang juga dikutip oleh Qamariah (2019) menjelaskan bahwa salah satu tahap kegiatan pemanenan kelapa sawit yang dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas TBS adalah taksasi panen.
Taksasi panen merupakan kegiatan untuk memperkirakan produksi dari hasil panen yang akan dilaksanakan pada kegiatan panen berikutnya. Sedangkan Pahan (2008), mengatakan bahwa kegiatan taksasi panen sangat penting dilaksanakan untuk perencanaan penentuan jumlah tenaga kerja panen dan alat-alat panen, penentuan jumlah transportasi pengangkut hasil panen, dan jumlah produksi TBS yang akan dihasilkan baik produksi harian, bulanan hingga semester.
I. Kegiatan pekerja grading Tandan Buah Segar (TBS)
Sortasi atau grading adalah suatu kegiatan yang dilaksanakan untuk mengetahui mutu dan memilah Tandan Buah Segar (TBS) yang masuk ke pabrik pengolahan untuk diproses menjadi CPO. Pada tahap ini buah yang datang dari kebun, baik itu kebun inti, plasma maupun kebun masyarakat dilakukan pemeriksaan. Tujuan pemeriksaan adalah untuk mengetahui mutu TBS yang diterima pihak pabrik, sebagai laporan kepada pihak kebun (escape) atau mutu TBS yang diterima, sebagai acuan atau dasar dalam
perhitungan pembayaran yang harus ditanggung pabrik kepada pihak ketiga (penyuplai buah) dan sebagai parameter dalam menganalisis mutu hasil produksi oleh pabrik (Nugroho, 2019).
Sortasi dapat dilakukan dengan dua metode yatu pemeriksanaan secara acak atau pemeriksaan secara total. Pemeriksaan acak dilakukan dengan pemeriksaan terhadap minimal 5% dari jumlah truk yang datang dari suatu kebun (afdeling). Sementara pemeriksaan total dilakukan seluruh truk yang masuk. Pemeriksaan dilakukan dengan membongkar TBS dari truk di lantai loading ramp. Pada bagian pemeriksaan inilah yang sering terjadi human error karena pekerja harus membedakan beberapa mutu TBS yang dapat diterima.
J. Kerangka Teori
Kerangka teori berfungsi sebagai panduan bagi peneliti dalam merancang penelitian, mengumpulkan data, menganalisis hasil, dan menyusun kesimpulan. Hal ini membantu memastikan bahwa penelitian dilakukan dengan dasar konseptual yang kuat dan bahwa hasilnya dapat diinterpretasikan dengan benar. Kerangka teori dapat bervariasi tergantung pada jenis penelitian dan disiplin ilmu yang relevan.
Kegiatan Pekerja Grading dan
Panen
Faktor Individual Pekerja 1. Usia
2. Masa Kerja Faktor Risiko
Ergonomi Industri
Kelapa Sawit
Faktor Pekerjaan Postur Kerja
a. Postur Kerja Saat Panen b. Postur Kerja Pada Stasiun
Grading
K. Kerangka Konsep
Kerangka konsep penelitian menunjukkan hubungan terhadap konsep-konsep yang akan diukur dan diamati melalui penelitian yang akan dilakukan. Pemaparan kerangka konsep berbentuk diagram menunjukkan hubungan antar variabel yang akan diteliti. Penyusunan kerangka konsep yang baik akan memberikan informasi jelas pada peneliti serta dapat memberikan gambaran pemilihan desain penelitian yang akan digunakan (Masturoh and Anggita, 2018).
Ergonomi
Gambar 2.3 Kerangka Teori Penelitian
Faktor Individual Pekerja 1. Usia
2. Masa Kerja
3. Kebiasaan Merokok
Faktor Risiko Ergonomi Faktor Pekerjaan
1. Postur Kerja a. Postur Kerja Saat
Panen
b. Postur Kerja Pada Stasiun Grading 2. Beban Kerja
a. Beban Kerja Saat Panen
b. Beban Kerja Pada
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Desain Penelitian
Jenis penelitian ini bersifat deskriptif, Penelitian deskriptif adalah penelitian yang berusaha mendeskripsikan suatu gejala, peristiwa, kejadian yang terjadi pada saat sekarang. Penelitian deskriptif memusatkan perhatian kepada pemecahan masalah-masalah aktual sebagaimana adanya pada saat penelitian dilaksanakan.
Gambar 2.4 Kerangka Konsep Penelitian
Desain penelitian ini adalah observasional, yaitu suatu prosedur yang berencana, antara lain dengan melihat, mendengar, dan mencatatjumlah dan taraf aktivitas tertentu atau situasi tertentu yang ada hubungannya dengan masalah yang diteliti (Notoatmodjo, 2018).
B. Subjek penelitian 1. Populasi penelitian
Populasi adalah semua komponen yang dianggap memiliki satu atau lebih ciri yang sama, sehingga merupakan suatu kelompok.
Karakteristik kelompok ini ditentukan oleh peneliti, tergantung focus penelitiannya. Dapat terdiri dari orang, artefak, insiden, atau bahan. Dalam penelitian ilmu Kesehatan, populasi biasanya mengacu pada orang-orang.
(Coughian, & Smith, 2014). Populasi dalam penelitian adalah 20 PT.
Perkebunan Nusantara XIII Tahun 2024.
2. Sampel penelitian
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh Populasi tersebut, untuk itu sampel yang diambil dari populasi harus betul-betul representatif (Sugiyono, 2015). Menggunakan metode convenience yaitu Teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan saja, anggota populasi yang ditemui peneliti dan bersedia menjadi responden dijadikan sampel. Sampel yang diambil berjumlah 20 dari total populasi pekerja di bagian pemanenan.
C. Fokus penelitian
Fokus dalam penelitian ini yaitu untuk mengetahui gambaran tentang apa saja faktor risiko ergonomi di industri kelapa sawit di PT. Perkebunan
Nusantara XIII Tahun 2024.
D. Variabel dan Definisi Operasional Penelitian 1. Variabel penelitian
Variabel berasal dari bahasa inggris variable dengan arti: “ubahan”,
“faktor tak tetap”, atau “gejala yang dapat diubah”. Istilah variabel dapat diartikan bermacam-macam. Menurut Sugiyono, variabel penelitian pada dasarnya adalah suatu hal yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
a. Faktor karakteristik pekerja yang meliputi : usia, masa kerja, kebiasaan merokok
b. Faktor pekerjaan meliputi postur kerja dan beban kerja 2. Definisi Operasional penelitian
Definisi operasional adalah definisi berdasarkan karakteristik yang diamati dari sesuatu yang di deinisikan tersebut. Karakteristik yang dapat di amati (diukur) itulah yang merupakan kunci definisi operasional. Dapat di amati artinya memungkinkan peneliti utuk melakukan observasi atau pengukuran secara cermat terhadap suatu objek atau fenomena yang kemudian dapat diulangi lagi orang lain (Nursalam, 2015).
Definisi operasional penelitian ini seperti Tabel berikut:
Tabel 3.1 Definisi Operasional
No. Variabel penelitian
Desfinisi operasional
Cara Pengukuran
Skala
Pengukuran Hasil Ukur
1. Faktor individual pekerja
a. Usia Usia pekerja
bagian dihitung
mulai saat
kelahiran sampai
ulang tahun
terakhir saat melaksanakan penelitian.
Koesioner Ordinal 1. Muda: ≤ 35 Tahun.
2. Tua: > 35 Tahun.
b. Masa kerja Banyak tahun yang dihabiskan tenaga kerja untuk melakukan pekerjaan di industri kelapa sawit.
Koesioner Kategori lama
bekerja:
1. Baru ≤ 5 Tahun.
2. Lama > 5 Tahun.
c. Kebiasaan
merokok Variabel Frekuensi merokok merupakan banyaknya rokok yang dikonsumsi selama satu hari dengan satuan batang/hari di industri kelapa sawit.
Kuisioner Kategori
frekuensi merokok:
1.Ringan : 1-10 batang/hari 2.Sedang 11-24
batang/hari 3.Berat ≥ 24 batang/hari
No. Variabel Penelitian
Definisi Operasional
Cara Pengukuran 2. Faktor
Pekerjaan a. Postur
kerja
Posisi tubuh Para pekerja saat melakukan pekerjaan di industri kelapa sawit.
Pengamatan/
lembar observasi metode REBA.
Ordinal
Berdasarkan kategori:
1. Skor 1: tidak berisiko 2. Skor 2-3:
risiko rendah 3. Skor 4-7:
risiko sedang 4. Skor 8-10:
risiko tinggi Skor 11-15:
risiko sangat
tinggi.
b. Beban kerja
jumlah oksigen yang
dipergunakan oleh tubuh untuk bekerja
merupakan salah satu indikator pembebanan selama bekerja
Pengamatan/
lembar observasi metode RWL.
Ordinal RWL = HM x VM x DM x
AM
E. Metode dan instrumen pengumpulan data 1. Pengumpulan data
Metode Pengumpulan data adalah teknik atau cara-cara yang dapat digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data (Dodiet, 2013). Metode pengumpulan data sebagai suatu metode yang independen terhadap metode analisis data atau bahkan menjadi alat utama metode dan teknik analisis data (Burhan, 2017).
Data yang dikumpulkan dalam penelitian akan digunakan untuk menguji hipotesis atau menjawab pertanyaan pada rumusan masalah dan kemudian akan digunakan sebagai dasar dalam pengambilan kesimpulan atau keputusan (Dodiet, 2013).
2. Observasi
Observasi merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang sangat lazim dalam metode penelitian kuantitatif. Observasi hakikatnya merupakan kegiatan dengan menggunakan pancaindera, bisa penglihatan, penciuman, pendengaran, untuk memperoleh informasi yang diperlukan
untuk menjawab masalah penelitian. Hasil observasi berupa aktivitas, kejadian, peristiwa, objek, kondisi atau suasana tertentu, dan perasaan emosi seseorang. Observasi dilakukan untuk memperoleh gambaran riil suatu peristiwa atau kejadian untuk menjawab pertanyaan penelitian.
Pengamatan dilakukan dengan metode total sampling. Alat pengumpulan data menggunakan alat ukur ergonomic criteria.
3. Kuesioner
Didalam penelitian ini teknik yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden adalah berbentuk kuesioner atau angket. Skala likert ini dapat digunakan dalam menilai persepsi, sikap, ataupun pendapat seseorang tentang fenomena sosial ataupun objek tertentu. Skala ini dilakukan dengan cara mengajukan beberapa pernyataan maupun pertanyaan kepada responden untuk diberi pilihan jawaban (Alwan dkk, 2017). Kuesioner penelitian ini untuk memperoleh data karakteristik pekerja yang meliputi usia, masa kerja, dan kebiasaan merokok.
Jenis data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder sebagai berikut:
a. Data Primer
Data primer diperoleh dengan cara mengisi lembar kuesioner dan observasi secara langsung terhadap pekerja bagian grading dan panen di industri kelapa sawit PT Perkebunan Nusantara XIII dengan meliputi data umum, Faktor Individual pekerja meliputi (usia, masa kerja, dan kebiasaan merokok).
b. Data Sekunder
Data sekunder meliputi luas perkebunan kelapa sawit PT Perkebunan Nusantara XIII yang diperoleh melalui situs resmi milik perusahaan.
c. Instrumen penelitian
Menurut Suharsimi Arikunto (2013) instrumen penelitian merupakan alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh peneliti dalam melakukan kegiatan untuk mengumpulkan data agar kegiatan tersebut menjadi sistematis dan dipermudah olehnya. Observasi dalam penelitian ini untuk mengetahui data tentang postur kerja pekerja dalam poroses grading di lokasi penelitian. Pengamatan dilakukan dengan metode membandingkan gambar/video postur kerja pekerja. Alat pengumpulan data menggunakan lembar Rapid Entire Body Assessment (REBA) dan lembar observasi metode RWL.
F.
Tempat dan Waktu Penelitian1.
Tempat penelitianLokasi penelitian ini berada di Desa Ambungan, Kecamatan Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan yaitu Insdustri kelapa sawit PT Perkebunan Nusantara XIII.
2. Waktu penelitian
Waktu penelitian dapat dilihat pada table di bawah ini.
Tabel 3.2 Rencana Kegiatan Penelitian
No Kegiatan Bulan 2023 Bulan 2024
Nov Des Jan Feb Mar Apr 1. Tahapan Persiapan Penelitian
a. Survei Pendahuluan b. Penyusunan Proposal c. Seminar Proposal d. Perizinan
2. Tahapan Pelaksanaan Penelitian a. Pengumpulan Data
b. Analisis Data
3. Tahapan Penyusunan Hasil Akhir Penelitian
G. Analisis dan Penyajian Data Penelitian 1. Analisis data
Hasil yang diperoleh dari data yang telah dikumpulkan mengenai karakteristik pekerja meliputi usia, masa kerja, kebiasaan merokok dan postur kerja akan ditampilkan dalam bentuk laporan lengkap dan disajikan dalam bentuk tabel dan narasi serta dianalisa secara deskriptif. Sedangkan postur kerja dianalisa menggunakan metode ergonomic criteria. Indikator skoringnya adalah tidak berisiko mendapatkan nilai 0, risiko rendah mendapatkan nilai 1, risiko sedang mendapatkan nilai 2, risiko tinggi mendapatkan nilai 3, risiko sangat tinggi mendapatkan nilai 4.
Berdasarkan skor tersebut, hasil dari penentuan sudut dijumlahkan, sehingga diperoleh data:
a) Tidak berisiko skor 1
b) Risiko rendah apabila skor 2-3 c) Risiko sedang apabila skor 4-7 d) Risiko tinggi apabila skor 8-10
e) Risiko sangat tinggi apabila skor 11-15 2. Penyajian data
Hasil data yang didapat dikelola menggunakan komputer guna mengetahui risiko faktor ergonomi di industri kelapa sawit PT Perkebunan Nusantara XIII sesuai dengan variabel yang diteliti, setelah itu bisa ditampilkan dalam bentuk laporan lengkap dengan narasi, disajikan dalam bentuk tabel, serta dianalisa secara deskriptif.
H. Etika Penelitian
Etika penelitian menurut Hidayat (2014), etika penelitian diperlukan untuk menghindari terjadinya tindakan yang tidak etis dalam melakukan penelitian. Pada penelitian ini menerapakan prinsip sebagai berikut:
1. Tanpa Nama
Dengan memberikan kode pada lembar kuesioner, peneliti dapat memastikan bahwa data yang diperoleh tidak dapat ditelusuri kembali ke individu tertentu. Ini penting untuk memastikan bahwa responden merasa nyaman memberikan informasi tanpa khawatir tentang pengungkapan identitas pribadi mereka. Praktik semacam ini memastikan integritas penelitian dan kepatuhan terhadap etika penelitian.
2. Kerahasiaan
Kerahasiaan informasi/hasil yang didapat oleh responden dijamin oleh peneliti hanya kelompok data tertentu saja yang akan dilaporkann sebagai hasil penelitian.
3. Suka rela
Peneliti melakukan penelitian bersifat sukarela dan tidak ada unsur paksaan dan tekanan secara langsung maupun tidak langsung dari peneliti
kepada calon responden atau sampel yang akan diteliti.