Published on: 6 June 2022
Table of Contents
Executive Summary
Intisari & Tactical Asset Allocation Topic of the Month
Wider Interest Rate Differential Between Developed Market &
Emerging Market
Global Economic Outlook Indonesia Economic Outlook Currency Outlook
Commodity Snapshot
On Asset Class: Money Market On Asset Class: Fixed Income (USD) On Asset Class: Fixed Income (IDR) On Asset Class: Equity (USD) On Asset Class: Equity (IDR) Economic Calendar
Glossary
3
4
5 7 9 11 12 13 14 16 17 19 20
2
Tactical Asset Allocation
Negara developed market sudah terlebih dahulu menaikkan suku bunga karena pertumbuhan ekonomi yang sudah mencapai puncaknya dan inflasi sudah lebih tinggi dari target bank sentral. Di sisi lain, mayoritasemerging marketdi Asia bisa dikatakan sudahbehind the curve, termasuk Indonesia mengingat pertumbuhan ekonomi belum mencapai puncaknya dan inflasi di Asia masih cenderung rendah. Perbedaan kebijakan moneterdeveloped marketdanemerging marketberpotensi mendorong pelemahan mata uangemerging marketterhadap mata uangdeveloped market.
Kasus COVID-19 secara global terus menunjukkan penurunan. Kenaikan kasus dikontribusikan dari Amerika Utara dan Tiongkok. Adanyalockdownyang berkepanjangan di Tiongkok berpotensi memperparah inflasi dan memberikanspillover effectke negara-negaratrading partnerTiongkok. Selain itu, pengetatan kebijakan moneter The Fed yang agresif juga berdampak pada turunnya likuiditas dalam jumlah yang signifikan sehingga membuat USD menguat. Terlihat pertumbuhan ekonomi AS juga mulai mengalami penurunan akibat kenaikan impor pada Kuartal-I 2022.
Di Indonesia, PDB Indonesia pada Kuartal-I 2022 menunjukkan penguatan. Momentum pemulihan ekonomi Indonesia berpotensi terus berlanjut disebabkan oleh mobilitas masyarakat yang semakin meningkat. Inflasi pada April 2022 menunjukkan kenaikan dan berpotensi naik ke depannya seiring dengan ekspektasi penguatan ekonomi dan konsumsi yang terus berlanjut, adanya transfer inflasi dari produsen ke konsumen, dan harga pangan yang tinggi. Surplus neraca dagang Indonesia mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah membuat pelemahan Rupiah cenderung terbatas di tengah USD yang menguat.
3 Perbedaan suku bunga The Fed dan Bank Indonesia yang semakin lebar berpotensi membuat IDR melemah terbatas di tengah penguatan USD. Alhasil, BI berpotensi menaikkan suku bunga, ditambah lagi pertumbuhan kredit terus menunjukkan penguatan.
Kurva imbal hasil FR mengalami bear flattening di manayieldtenor pendek naik lebih banyak daripada yieldtenor panjang. Alhasil, secararelative valuation, tenor panjang tidak semenarik tenor pendek.
Money Market – NEUTRAL
Fixed Income USD – SLIGHTLY UNDERWEIGHT
⚫ View bulan sebelumnya Underweight Slightly
Underweight
Slightly
Overweight Overweight Neutral
Executive Summary
Intisari & Tactical Asset Allocation
Equity USD – SLIGHTLY OVERWEIGHT
Sebagai dampak dari risk-off sentiment investor global, valuasi saham-saham teknologi dideveloped marketterlihat murah. Secara fundamental, saham- saham teknologi dideveloped marketjauh lebih kuat dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
Fixed Income IDR – SLIGHTLY UNDERWEIGHT
Kekhawatiran resesi membuatyield US Treasury 10 tahun turun dari kisaran 3,20% ke kisaran 2,70%.
Seiring dengan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed yang agresif,yield US Treasuryberpotensi naik sehingga membuatyieldINDON naik ke depannya.
Equity IDR – SLIGHTLY OVERWEIGHT
Di tengah volatilitas global, IHSG mampu bertahan dan membukukan kinerja yang positif secara YTD dibandingkan mayoritas indeks global lainnya disebabkan oleh fundamental yang kuat dan adanya foreign inflowdi IHSG secara YTD.
Topic of the Month
Wider Interest Differential Between Developed Market &
Emerging Market
Negaradeveloped marketsudah lebih dahulu menaikkan suku bunga karena pertumbuhan ekonomi yang sudah mencapai puncak berakibat pada tingkat inflasi yang jauh melebihi target bank sentral(Exhibit 1).Secara umum, inflasi dideveloped marketjauh lebih tinggi dibandingkan denganemerging market,bahkan bisa mencapai dua kali lipat. Hal ini membuat bank sentral dideveloped marketmempercepat proses pengetatan moneter. The Fed sebagai bank sentral AS sekaligus bank sentral dunia berencana untuk menaikkan suku bunga dari 1,00% di bulan Mei ke angka 1,50% dan 2,00% di bulan Juni dan Juli 2022. Pada saat yang bersamaan The Fed akan mengurangi aset padabalance sheetyang naik dari USD 4,50 Triliun ke kisaran USD 9,00 Triliun di masa pandemi COVID-19.
Langkah ini diikuti oleh bank sentral lainnya seperti Bank of England, Bank of Canada, dan Reserve Bank of Australia. Untuk pertama kalinya sejak November 2010, Reserve Bank of Australia menaikkan suku bunga dari 0,10% ke 0,35%. Di sisi lain, mayoritasemerging marketdi Asia bisa dikatakanbehind the curve, termasuk Indonesia. Pertumbuhan ekonomi diemerging marketmasih belum mencapai titik puncak dan inflasi juga masih cukup terkendali. Alhasil, suku bunga tidak bisa terlalu cepat dinaikkan karena berisiko untuk menghambat pemulihan ekonomi yang belum maksimal. Tiongkok bahkan menurunkan suku bunganya demi mencegah perlambatan ekonomi yang signifikan. Bank Indonesia juga belum menaikkan suku bunga karena mata uang Rupiah masih cukup stabil, cadangan devisa mendekati level tertinggi, dan surplus neraca dagang mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah walaupun inflasi sudah mulai naik secara perlahan.
Kebijakan moneter yang lebih ketat di developed market yang tidak diikuti oleh langkah serupa dari bank sentral di emerging market dapat berakibat pada melemahnya mata uang emerging market terhadap mata uang developed market terutama USD.
4 Sumber: Bloomberg (23 Mei 2022)
Exhibit 1: World Central Banks Policy Change (%)
0.75 0.75 0.75
0.50
0.40
0.25
0.00 0.00 0.00
-0.10
US UK Canada South Korea India Australia EU Japan Indonesia China
Global Economic Outlook
Inflasi di developed market yang tinggi membuat bank sentral harus lebih agresif dalam menaikkan suku bunga. Sementara di emerging market, inflasi relatif terjaga sehingga bank sentral tidak perlu terburu-buru menaikkan suku bunga.
Kasus COVID-19 global menunjukkan tren penurunan.
Namun, kenaikan kasus masih terjadi di AS dan Tiongkok.
BerdasarkanOur World In Dataper 23 Mei 2022, kasus COVID-19 global secara keseluruhan menunjukkan tren penurunan kecuali di Amerika Utara dan Asia (Exhibit 2).Kenaikan kasus COVID-19 di Amerika Utara dikontribusikan oleh AS sedangkan di Asia dikontribusikan oleh Tiongkok. Walaupun ada kenaikan kasus di AS, tidak ada restriksi sosial ketat yang diterapkan di sana. Sedangkan di Tiongkok, kebijakan zero COVID policy yang diterapkan oleh pemerintah membuat restriksi sosial yang ketat masih diberlakukan. Walaupun penurunan kasus sudah terlihat di Shanghai, wilayah lain seperti Beijing masih terus mencatatkan kenaikan kasus harian. Hal ini sedikit banyak berdampak pada aktivitas bisnis di Tiongkok dan seluruh dunia. Sebagai informasi, Tiongkok berkontribusi terhadap 15% total ekspor global dan 12% total impor global dengantrading partnerlebih dari 120 negara. Adanya restriksi sosial yang ketat dan berkepanjangan dikhawatirkan akan mengganggu pertumbuhan ekonomi Tiongkok dan memberikan spillover effect ke pertumbuhan ekonomi global, memperpanjang gangguan rantai pasokan, dan memperparah kenaikan inflasi.
Pada April 2022, inflasi dari sisi konsumen (CPI) terutama dideveloped market terus bertahan di level yang tinggi dengan CPI Inggris naik +9,00% YoY, AS naik +8,30% YoY, dan Eropa naik +8,10% YoY. Kenaikan inflasi dari sisi produsen (PPI) yang dikontribusikan oleh kenaikan harga komoditas di tengah isu Rusia- Ukraina serta gangguan rantai pasokan cepat atau lambat harus diteruskan ke konsumen. Hal ini membuat CPI mengalami kenaikan. Laju inflasi yang terlalu tinggi membuat bank sentral dideveloped marketlebih agresif dalam pengetatan kebijakan moneternya. Suku bunga Inggris dan AS telah naik ke 1,00%. Pasar melihat bank sentral Eropa juga akan segera menaikkan suku bunga di bulan Juli 2022. Cukup berbeda dengan developed market, kenaikan CPI di emerging marketrelatif lebih terbatas(Exhibit 3). Hal ini membuat bank sentralemerging market tidak perlu terburu-buru untuk menaikkan suku bunga. Bahkan, bank sentral Tiongkok (PBoC) kembali menurunkan loan prime rate 5 tahun untuk mendukung pertumbuhan ekonominya. Namun, dengan ekspektasi inflasi yang bertahan dan mulai lebih terlihat di emerging market, suku bunga berpotensi dinaikkan sehingga kebijakan moneter global menjadi lebih selaras.
Perkembangan Kasus COVID-19 dan Kondisi Ekonomi Global
5 Exhibit 2: 7-Day Average New COVID-19 Cases per Continent
Sumber: Bloomberg (Mei 2022)
Exhibit 3: Inflasi dan Suku Bunga di Berbagai Negara
Sumber: Our World in Data (23 Mei 2022) 0
400,000 800,000 1,200,000 1,600,000
Jan-21 Feb-21 Mar-21 Apr-21 May-21 Jun-21 Jul-21 Aug-21 Sep-21 Oct-21 Nov-21 Dec-21 Jan-22 Feb-22 Mar-22 Apr-22 May-22
Asia North America Europe Africa South America
9.0% 8.2% 8.1%
4.9% 4.7%
3.5%
2.1%
1.0% 1.0%
0.0%
2.3%
0.5%
3.5% 3.7%
Inggris AS Uni Eropa Filipina Thailand Indonesia Tiongkok
Inflasi Suku Bunga
Pengetatan kebijakan moneter The Fed yang agresif di tahun 2022 mendorong penguatan USD.
Di pertemuan para pejabat The Fed (FOMC) Mei 2022, suku bunga acuan AS dinaikkan 50 bps menjadi 1,00%. Selain itu, The Fed juga memberikan arahan mengenai pengurangan nilai aset pada balance sheet dengan besaran USD 47,50 Miliar per bulan dimulai dari Juni 2022 dan akan ditingkatkan menjadi USD 95 Miliar per bulan di September 2022. Rencana pengetatan kebijakan moneter baik dari segi kenaikan suku bunga dan pengurangan balance sheetdi tahun 2022 jauh lebih agresif jika dibandingkan dengan aksi serupa di tahun 2015- 2018. PaskaGlobal Financial Crisis(GFC) 2008, butuh waktu 3 tahun untuk The Fed menaikkan suku bunga ke 2,50% dan pengurangan balance sheethanya dilakukan dengan besaran USD 10 Miliar per bulan. Sementara, saat ini, pelaku pasar melihat kemungkinan suku bunga dinaikkan ke 3,00% di tahun 2022 (1 tahun) dan besaran pengurangan balance sheetjauh lebih tinggi. Pengetatan kebijakan moneter yang lebih agresif berdampak pada turunnya likuiditas dalam jumlah yang signifikan sehingga membuat USD menguat. Berdasarkan data historis, ada korelasi yang sangat kuat antara pengetatan kebijakan moneter dengan penguatan USD sehingga masih ada potensi USD bertahan di level yang tinggi atau bahkan kembali naik ke depannya(Exhibit 4).
Di Kuartal-I 2022, pertumbuhan PDB AS tercatat sebesar +3,60% YoY / -1,40%
QoQ, lebih rendah dibandingkan dengan beberapa kuartal sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut telah mendekati rata-rata 10 tahun di level 2,97%(Exhibit 5). Penurunan PDB disebabkan oleh impor yang naik tinggi. Impor merupakan komponen pengurang dalam perhitungan PDB. Kenaikan impor didorong oleh prosesrestockingpersediaan yang dilakukan oleh produsen di AS serta kenaikan USD. Ketika USD menguat, harga barang dan jasa di luar AS menjadi lebih murah sehingga jumlah yang bisa dibeli menjadi lebih banyak (impor naik).
Sebaliknya, ketika USD menguat, harga barang dan jasa yang diproduksi oleh AS menjadi lebih mahal sehingga jumlah yang bisa dijual ke negara lain menjadi lebih sedikit (ekspor turun). Ke depannya, besar kemungkinan pertumbuhan PDB dapat kembali melemah. Hal ini disebabkan oleh turunnya konsumsi paska penarikan likuiditas dalam jumlah yang signifikan melalui pengetatan kebijakan moneter serta adanya gap antara ekspor yang turun dan impor yang naik di tengah kuatnya USD.
Perkembangan Kondisi Ekonomi AS
Pertumbuhan ekonomi AS di Kuartal-I 2022 mengalami
penurunan. Hal ini disebabkan oleh kenaikan impor. Ke depannya, pertumbuhan PDB masih dapat melemah karena konsumsi yang menurun serta adanya gap antara ekspor dan impor.
Exhibit 4: Fed’s Balance Sheet and USD Movement
Sumber: Bloomberg (Mei 2022)
6 Exhibit 5: Pertumbuhan Ekonomi AS (% YoY)
Sumber: Bloomberg (Mei 2022)
70.00 80.00 90.00 100.00 110.00
0.00 2.00 4.00 6.00 8.00 10.00
Jan-08 Sep-08 May-09 Jan-10 Sep-10 May-11 Jan-12 Sep-12 May-13 Jan-14 Sep-14 May-15 Jan-16 Sep-16 May-17 Jan-18 Sep-18 May-19 Jan-20 Sep-20 May-21 Jan-22
Fed Balance Sheet (L) DXY (R)
3.60
-5.00 -2.00 1.00 4.00 7.00 10.00 13.00
10YR Average USD Tn
PDB Indonesia di Kuartal-I 2022 tumbuh +5,01% YoY. Pertumbuhan dikontribusikan oleh tingginya ekspor dan kenaikan konsumsi.
Di Kuartal-I 2022, pertumbuhan PDB Indonesia tercatat sebesar +5,01% YoY, lebih baik dibandingkan konsensus pasar di +4,95% YoY. Berdasarkan komponennya, konsumsi rumah tangga naik +2,35% YoY, investasi naik +1,33%
YoY, belanja pemerintah turun -0,47% YoY, ekspor naik +3,55% YoY, dan impor turun -2,72% YoY (Exhibit 6). Kenaikan PDB dikontribusikan oleh tingginya ekspor dan kenaikan konsumsi. Dari segi ekspor, melonjaknya permintaan batu bara dan CPO paska pelonggaran restriksi sosial secara global di tengah terbatasnya supply karena isu Rusia-Ukraina yang tengah berlangsung sejak akhir Februari 2022 mengerek harga naik. Selama Kuartal 1-2022, harga batu bara naik 53,25% sementara harga CPO naik 23,88%. Batu bara dan CPO merupakan komponen ekspor utama Indonesia sehingga kenaikan tersebut mendorong pertumbuhan PDB mengingat ekspor merupakan komponen penambah dalam perhitungan PDB. Dari segi konsumsi, terlihat adanya kenaikan dari beberapa kuartal sebelumnya walaupun Indonesia sempat menghadapi gelombang ketiga COVID-19 di awal Februari 2022. Kenaikan konsumsi mengindikasikan daya beli, sentimen bisnis, dan aktivitas ekonomi yang terus menguat. Konsumsi juga merupakan komponen penambah dalam perhitungan PDB sehingga kenaikannya berkontribusi terhadap kenaikan PDB.
Momentum pemulihan ekonomi Indonesia diperkirakan akan terus berlanjut. Hal ini disebabkan oleh mobilitas masyarakat yang semakin meningkat seiring dengan pemerintah Indonesia yang mendukung transisi COVID-19 dari pandemi menjadi endemi, ditandai dengan pernyataan bahwa masyarakat dapat beraktivitas di luar ruangan tanpa menggunakan masker. Proses transisi dari pandemi ke endemi meningkatkan optimisme restriksi sosial dan pembatasan sosial yang terlalu ketat sudah tidak akan diberlakukan lagi ke depannya sehingga dapat terus mendorong konsumsi dan momentum pemulihan dalam negeri. DariBig DataBCA, indeks transaksi belanja (Intrabel) terus mengalami kenaikan dan berada di level 47,87% pada bulan Mei 2022 sementara indeks transaksi bisnis (Intrabiz) turun ke ke 9,52% di bulan Mei 2022 setelah di bulan sebelumnya terus mengalami kenaikan. Penurunan pada Intrabiz lebih disebabkan oleh banyaknya hari libur dan cuti bersama perayaan Idul Fitri 2022 di akhir April hingga awal Mei 2022. Terhentinya aktivitas bisnis di tengah libur membuat volume bisnis turun sehingga menyebabkan penurunan pada indeks tersebut. Akan tetapi, baik Intrabel dan Intrabiz sudah naik melampaui level pre- pandemi(Exhibit 7).
Indonesia Economic Outlook
Perkembangan Kondisi Ekonomi Indonesia
7 Pemulihan ekonomi Indonesia
diperkirakan akan terus berlanjut seiring dengan pemerintah yang mendukung transisi dari pandemi ke endemi.
Exhibit 6: Indonesia GDP Growth (% YoY)
Sumber: Tim Ekonom BCA (Mei 2022)
Exhibit 7: BCA Big Data (%)
Sumber: Tim Ekonom BCA (20 Mei 2022) 5.01
-5.00 0.00 5.00 10.00 15.00
Household Consumption Fixed-Asset Investment Government Spending Exports
Imports (negative cont.) GDP
12.33 44.11
-40.00 -20.00 0.00 20.00 40.00 60.00
Intrabiz Intrabel
5.2 4.9 4.8
4.2 3.5
2.2 2.1 1.9 1.8 1.7
-0.2
Mar-22 Apr-22
8 Inflasi naik ke +3,47% YoY di bulan
April 2022 dan berpotensi menyentuh level 4,00%-5,00% di akhir tahun 2022.
Di bulan April 2022, inflasi Indonesia tercatat naik ke level +3,47% YoY (vs.
+2,64% YoY Maret 2022). Jika dilihat per komponen, kenaikan inflasi yang paling besar dikontribusikan oleh makanan dan minuman yang naik +5,20% YoY (vs.
+3,59% YoY Maret 2022). Kenaikan pada komponen makanan dan minuman cukup wajar mengingat adanya persiapan perayaan Idul Fitri di awal bulan Mei 2022 dan kenaikan harga-harga pangan global yang akhirnya mulai terasa di Indonesia (Exhibit 8). Semula, pemerintah memiliki wacana untuk melakukan penyesuaian terhadap harga energi seperti BBM Pertalite, Solar, Elpiji 3 KG, dan listrik setelah lebaran, menyusul kenaikan BBM Pertamax dan Dex yang sudah dinaikkan lebih dulu pada bulan April 2022. Akan tetapi, Kementerian Keuangan mengumumkan adanya tambahan anggaran subsidi energi sebesar IDR 74,90 Triliun dan kompensasi BBM dan LPG sebesar IDR 324,50 Triliun. Tambahan anggaran tersebut memperkecil kemungkinan penyesuaian harga dan kenaikan inflasi dari sisi energi dalam jangka waktu dekat. Akan tetapi, tetap ada tekanan inflasi yang cukup kuat dari segi kenaikan konsumsi di tengah ekonomi Indonesia yang terus membaik,pass on inflasi dari produsen ke konsumen karena biaya produksi yang meningkat, serta bahan-bahan pangan yang terus berada di level tinggi selama isu Rusia-Ukraina belum mereda. Tim Ekonom BCA melihat inflasi dapat naik ke level 4,00%-5,00% di tahun 2022.
Pada April 2022, Indonesia membukukan surplus neraca dagang tertinggi sepanjang sejarah di level USD 7,56 Miliar. Surplus tersebut menjadi penanda surplus ke-24 kali berturut-turut. Tingginya surplus disebabkan oleh kenaikan ekspor dan turunnya impor. Ekspor naik sebesar +3,11% MoM / +47,76% YoY sementara impor turun sebesar -10,01% MoM / +21,97% YoY (Exhibit 9).
Kenaikan ekspor didorong oleh kenaikan permintaan energi dari Tiongkok terutama untuk batu bara yang meningkat +43% di bulan April 2022. Kenaikan tersebut disebabkan oleh panic buying melihat isu Rusia-Ukraina yang belum menunjukkan tanda-tanda akan selesai dalam waktu dekat. Selain itu, harga komoditas terutama batu bara dan CPO yang tinggi turut berkontribusi terhadap kenaikan ekspor. Di sisi lain, penurunan impor disebabkan oleh pelaku pasar yang sudah melakukan stockpiling sebagai bentuk antisipasi kenaikan permintaan yang terjadi pada saat Idul Fitri. Tingginya surplus neraca dagang membuat pelemahan IDR cenderung terbatas di tengah USD yang menguat karena pengetatan kebijakan moneter The Fed. Jika dibandingkan dengan negara Asia lainnya, IDR menjadi salah satu mata uang dengan pelemahan paling kecil. Per 23 Mei 2022, IDR melemah sebesar -2,87% YTD sementara beberapa mata uang Asia seperti TWD melemah -6,54% YTD, KRW melemah - 5,97% YTD, MYR melemah -5,10% YTD, dan INR melemah -4,11% YTD.
Perkembangan Kondisi Ekonomi Indonesia
Indonesia membukukan surplus neraca dagang tertinggi sepanjang sejarah di level USD 7,56 Miliar pada April 2022.
Exhibit 8: Indonesia’s Inflation Breakdown by Components (%)
Sumber: Badan Pusat Statistik (Mei 2022)
Exhibit 9: Indonesia Trade Balance
Sumber: Bloomberg (Mei 2022)
7.56
-50.00 0.00 50.00 100.00
-2.00 0.00 2.00 4.00 6.00 8.00
Trade Balance (L) Export (R) Import (R)
USD Bn %
DXY diekspektasi bergerak pada rentang 100,00 – 105,00 hingga akhir Agustus 2022.
Pergerakan DXY mendapatkan pengaruh dari: 1) Rilis data ekonomi AS menunjukkan perekonomian AS yang relatif kuat dengan tingkat pengangguran AS sebesar 3,60% (exp3,50%;prev3,60%); 2) Kenaikan inflasi AS pada April 2022 mulai melambat, secara MoM naik +0,30% dan secara YoY naik +8,30%.
Namun,coreCPI dirilis naik dan lebih tinggi dari ekspektasi denganUS CoreCPI naik +0,60% MoM (exp+0,40%;prev +0,30%), mengindikasikan tekanan inflasi masih tinggi dan menimbulkan ketidakpastian dari kebijakan moneter The Fed selanjutnya. Pengetatan kebijakan moneter yang lebih agresif berpotensi memperlambat ekonomi; 3) Perang Rusia-Ukraina dan kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global menopang USD di mana pelaku pasar beralih ke safe haven asset; 4) Pada pertemuan FOMC bulan Mei 2022, The Fed menaikkan suku bunga 50 bps sesuai ekspektasi dan membuka rencananya untuk memulai pengurangan neraca sebesar USD 47,50 Miliar pada bulan Juni 2022, kemudian meningkat dalam 3 bulan menjadi USD 95 Miliar. Jerome Powell mengatakan bahwa kemungkinan The Fed juga akan menaikkan suku bunga 50bps pada pertemuan Juni dan Juli, namun dia mengklarifikasi bahwa The Fed tidak mempertimbangkan kenaikan 75 bps.
Beberapa faktor yang mendorong pergerakan EUR/USD: 1) Rilis data terakhir menunjukkan ekonomi zona Eropa yang kurang baik di mana EZ Retail Sales secara MoM sebesar +0,40% (exp -0,30%;prev +0,40%) pada Maret 2022; 2) Perang Rusia-Ukraina dan ketergantungan pasokan energi negara-negara Eropa dari Rusia diperkirakan masih membebani perekonomian di zona Eropa walaupun harga energi sudah mulai stabil; 3) Presiden ECB Christine Lagarde memberikan sinyal kenaikan suku bunga pada bulan Juli karena permintaan dan inflasi bisa lebih tinggi lagi tahun depan. Ketakutan akan lonjakan inflasi mengalahkan kekhawatiran terhadap risiko perlambatan ekonomi zona Eropa.
Seberapa agresif ECB akan memperketat kebijakannya masih menjadi pertanyaan besar dan menimbulkan ketidakpastian di pasar.
Katalis yang mempengaruhi pergerakan GBP/USD antara lain: 1) Rilis data perekonomian Inggris terlihat kurang baik denganretail sales inc auto fuelpada Maret 2022 sebesar -1,40% MoM (exp -0,30%; prev -0,50%); 2) Ketegangan perdagangan pasca-Brexit di Irlandia Utara dan gangguan pasokan energi akibat perang Rusia-Ukraina membebani ekonomi Inggris; 3) Pada pertemuan kebijakan bulan Mei 2022, BoE menaikkan suku bunga 25 bps ke 1,00% namun Gubernur Andrew Bailey memperingatkan bahwa ekonomi Inggris berpotensi melambat sangat tajam. Hal tersebut akan memaksa BoE untuk memperlambat siklus kenaikan suku bunganya. BoE mempertahankan perkiraan pertumbuhan ekonomi tahun ini sebesar +3,75%, tetapi memangkas perkiraan untuk 2023 dari +1,25% menjadi -0,25%, dan 2024 turun dari +1,00% menjadi +0,25%.
Pergerakan AUD/USD hingga akhir Agustus 2022 dipengaruhi oleh: 1) Rilis data ekonomi Australia yang cukup baik denganretail salespada Maret 2022 secara MoM naik +1,60% (exp+0,50%,prev+1,80%); 2) AUD tertekan oleh perlambatan ekonomi Tiongkok akibat pemberlakuan lockdown ketat untuk mengatasi penyebaran COVID-19; 3) Dalam pertemuan kebijakan terakhirnya di bulan Mei 2022, RBA menaikkan suku bunga 25 bps dari 0,10% menjadi 0,35%, lebih tinggi dari ekspektasi sebesar 15 bps. RBA memberikan sinyal akan menaikkan suku bunga lagi di pertemuan-pertemuan berikutnya untuk memastikan inflasi Australia kembali ke dalam target.
Currency Outlook
EUR/USD diekspektasi bergerak pada rentang 1,0450 – 1,0950 hingga akhir Agustus 2022.
GBP/USD diekspektasi bergerak pada rentang 1,2200 – 1,2700 hingga akhir Agustus 2022.
AUD/USD diekspektasi bergerak pada rentang 0,6900 – 0,7400 hingga akhir Agustus 2022.
9
JPY bergerak didorong oleh beberapa faktor di antaranya: 1) Rilis data ekonomi Jepang yang cukup baik denganjobless rate pada Maret 2022 sebesar 2,60%
(exp2,70%;prev 2,70%); 2) Perang Rusia-Ukraina dan kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global memberikan dukungan kepada JPY seiring dengan pelaku pasar beralih ke safe haven asset;Kebijakan BoJ yang masih longgar dengan menjagayieldJGB 10YR di level maksimal 0,25% membuat perbedaan kebijakan moneter BoJ dan The Fed semakin lebar.
Beberapa faktor yang mendorong pergerakan CNH antara lain: 1) Rilis data perekonomian Tiongkok yang belum stabil dengan neraca dagang pada April 2022 sebesar USD 51,12 Miliar (expUSD 53,45 Miliar;prevUSD 47,38 Miliar); 2) Kebijakan zero COVID Policy yang menyebabkan lockdown di Shanghai dan Beijing menghambat ekonomi Tiongkok; 3) Pemerintah dan PBoC masih berkomitmen menerapkan kebijakan longgar untuk mendukung pemulihan ekonomi China. PBoC berencana menurunkan suku bunga pinjaman dan akan memberikan dukungan ke sektor-sektor yang lemah. Pemerintah China sedang mempertimbangkan kebijakan tambahan baru untuk menopang pertumbuhan.
Katalis yang menyebabkan pergerakan IDR terdiri dari: 1) Rilis data ekonomi Indonesia yang cukup baik dengan PDB pada Kuartal-I 2022 naik sebesar +5,01% YoY (exp +4,95% YoY; prev +5,02% YoY); 2) Larangan ekspor CPO mengurangi keuntungan Indonesia di tengah harga komoditas yang masih relatif tinggi; 3) Inflasi inti Indonesia pada April 2022 hanya naik sebesar +2,60% YoY (masih dalam rentang target Bank Indonesia di 2%-4%) memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk menunda kenaikan suku bunga pada pertemuan kebijakannya di bulan Mei ini. Walaupun tekanan terhadap IDR meningkat seiring kenaikan suku bunga The Fed yang agresif.
USD/CNH diekspektasi bergerak pada rentang 6,6000 – 6,9500 hingga akhir Agustus 2022
10 USD/IDR diekspektasi bergerak
pada rentang 14.400 – 14.870 hingga akhir Agustus 2022.
USD/JPY diekspektasi bergerak pada rentang 126,00 – 131,00 hingga akhir Agustus 2022.
Minyak WTI.Di perdagangan 23 Mei 2022, harga minyak WTI ditutup pada level USD 110,29/barel (+46,64% YTD). Harga minyak jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan rata-rata 5 tahunnya pada level USD 59,73/barel(Exhibit 10).Kenaikan harga minyak disebabkan oleh mekanisme demanddan supply.
Dari segidemand,permintaan minyak kembali meningkat terutama dari Tiongkok.
Setelah menerapkan lockdown yang ketat di beberapa wilayah pada kuartal-I 2022, pemerintah Tiongkok menyatakan akan mulai memperlonggar restriksi sosial terutama di Shanghai yang telah berhasil membukukan 0 kasus harian dalam beberapa hari terakhir. Reopening tersebut akan mulai dilakukan pada bulan Juni 2022 sehingga mobilitas masyarakat serta aktivitas ekonomi diekspektasi kembali meningkat. Sebagai informasi, Tiongkok merupakan salah satu importir minyak terbesar di dunia dengan jumlah impor mencapai ~25% dari total impor minyak dunia.
Kenaikan permintaan minyak terjadi bersamaan dengan supply yang masih cenderung terbatas. OPEC+ masih mempertahankan produksinya di 432.000 barel per hari dan belum berencana menambah kapasitas produksi ke depannya.
Di sisi lain, negara-negara barat masih terus memberikan sanksi embargo (larangan impor) terhadap minyak Rusia. Setelah AS dan Inggris mengeluarkan ultimatum tersebut, Uni Eropa diperkirakan juga akan melakukan hal serupa.
Larangan impor menurunkan ketersediaan minyak global.
Commodity Snapshot
Harga minyak WTI kembali naik disebabkan oleh permintaan dari Tiongkok yang meningkat seiring dengan pelonggaran restriksi sosial di tengah supply yang terbatas.
11 Sumber: Bloomberg (23 Mei 2022)
Exhibit 10: Pergerakan Harga Minyak WTI (USD/barel) Exhibit 11: Pergerakan Harga CPO (MYR/ton)
CPO. Di perdagangan 23 Mei 2022, harga CPO ditutup pada level MYR 6.834/ton (+32,47% YTD). Harga CPO lebih tinggi jika dibandingkan dengan rata- rata 5 tahunnya pada level MYR 3.160/ton (Exhibit 11).Tingginya harga CPO disebabkan oleh mekanismedemanddansupply. Dari segidemand,isu Rusia- Ukraina meningkatkan permintaan akan CPO sebagai substitusi atasvegetable oil. Ukraina merupakan salah satu produsen vegetable oil terbesar di dunia sehingga terhambatnya distribusi akibat perang membuat adanya peralihan permintaan ke CPO. Sementara dari sisi supply,Indonesia sebagai salah satu produsen CPO terbesar di dunia sempat menerapkan larangan ekspor CPO di tanggal 28 April 2022. Hal ini menimbulkanpanic buyingdi pasar karena potensi supply yang menurun. Banyak pelaku pasar yang melakukan stockpiling atas CPO sehingga menaikkan harga. Akan tetapi, bersamaan dengan pengangkatan larangan ekspor CPO yang efektif di tanggal 23 Mei 2022, harga CPO kembali turun secara terbatas.
Harga CPO tetap berada di level yang tinggi disebabkan oleh kebutuhan substitusi untuk vegetable oil.
Sumber: Bloomberg (23 Mei 2022) 110.29
40.00 50.00 60.00 70.00 80.00 90.00 100.00 110.00 120.00 130.00
6,834
3,000 4,000 5,000 6,000 7,000 8,000 9,000
Perbedaan suku bunga The Fed dan Bank Indonesia yang semakin lebar berpotensi membuat IDR melemah terbatas di tengah penguatan USD.
Data historis menunjukkan bahwa mata uang IDR cenderung melemah terhadap USD ketika perbedaan suku bunga BI dan The Fed semakin sempit(Exhibit 12).
Pada Rapat Dewan Gubernur di bulan Mei 2022, Bank Indonesia masih mempertahankan kebijakanpro-growthdengan mempertahankan suku bunga di 3,50%. Tetapi, GWM (Giro Wajib Minimum) mata uang IDR untuk Bank Umum Konvensional yang pada saat ini sebesar 5,00% akan naik menjadi 6,00% mulai 1 Juni 2022, 7,50% mulai 1 Juli 2022 dan 9,00% mulai 1 September 2022. Hal ini akan berakibat pada likuiditas di sistem perbankan yang lebih rendah. Ke depannya BI diperkirakan akan menaikkan suku bunga untuk menjaga perbedaan suku bunga dengan The Fed walaupun surplus neraca dagang mencapai rekor tertinggi, cadangan devisa berada di level yang tinggi, inflasi masih relatif rendah, dan IDR cenderung stabil.
Likuiditas yang masih sangat berlimpah di sistem perbankan Indonesia terutama pada bank buku empat turut mendorong pertumbuhan kredit di Indonesia (Exhibit 13). Dalam jangka waktu dekat perbankan di Indonesia diperkirakan belum akan menaikkan bunga deposito ketika Bank Indonesia sudah mulai menaikkan suku bunga karena likuiditas yang masih berlimpah. Ke depannya, pengetatan moneter oleh Bank Indonesia yang diiringi dengan pertumbuhan kredit yang lebih kuat akan membuat perbankan di Indonesia mulai menaikkan suku bunga ke depannya.
Faktor risiko:1) Pelemahan ekonomi global dan Indonesia secara signifikan dan tidak terduga sehingga suku bunga harus ditahan di level yang rendah; 2) Imbal hasil deposito lebih lama naik.
Money Market
NEUTRAL (change from SLIGHTLY UNDERWEIGHT)
12 Exhibit 12: BI7DRR – Fed Fund Rate vs USD/IDR (inverted)
Sumber: Bloomberg (23 Mei 2022)
Exhibit 13: Pertumbuhan Kredit Perbankan Indonesia
Sumber: Bloomberg (April 2022)
Pertumbuhan kredit terus
melanjutkan momentum penguatan seiring dengan aktivitas ekonomi yang semakin kuat.
14,646
0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00
6.00 12,500
13,500
14,500
15,500
16,500 BI 7DRRR - The Fed Rate (L) USD/IDR (R)
%
-4.00 -2.00 0.00 2.00 4.00 6.00 8.00
5.00 5.25 5.50 5.75
Jan-20 Feb-20 Mar-20 Apr-20 May-20 Jun-20 Jul-20 Aug-20 Sep-20 Oct-20 Nov-20 Dec-20 Jan-21 Feb-21 Mar-21 Apr-21 May-21 Jun-21 Jul-21 Aug-21 Sep-21 Oct-21 Nov-21 Dec-21 Jan-22 Feb-22 Mar-22
Kredit Perbankan (L) Pertumbuhan Kredit (R)
% IDR
Ribu Triliun
Kekhawatiran akan potensi terjadinya resesi di AS membuat yield US Treasury 10 tahun turun ke level 2,70% dari titik tertinggi di 3,20% pada awal bulan Mei 2022.
Namun, ekspektasi pasar akan suku bunga The Fed yang diukur denganFed Funds Futures tidak banyak berubah. Pasar berekspektasi The Fed akan menaikkan suku bunga ke 1,50%, 2,00%, dan 3,00% di bulan Juni, Juli, dan Desember 2022 dengan masing-masing probabilitas sebesar 90%, 90%, dan 47% (Exhibit 14). The Fed mengatakan bahwa mengendalikan inflasi adalah fokus utama saat ini. The Fed bisa saja menaikkan suku bunga lebih tinggi dari target sampai inflasi turun ke level yang lebih normal. Hal ini berarti yield US Treasuryyang adalahbenchmarkdari obligasi di seluruh dunia masih berpotensi naik ke depannya. Rata-rata 10 tahun terakhiryield US Treasury10 tahun 1,30%
lebih tinggi daripadaThe Fed Rate.
Secara valuasi, INDON sudah lebih atraktif dibandingkan beberapa bulan lalu di manayield spreadantara INDON 10 tahun danUS Treasury10 tahun berada di kisaran 0,80%, sedangkan rata-rata 5 tahun berada di angka 1,29%(Exhibit 15).
Namun, pergerakanyielddari INDON masih akan tergantung dengan kenaikan yield US Treasury ke depannya. Per 23 Mei 2022, yield INDON 10 tahun mencapai angka 4,15%. Angka ini terakhir dicapai di bulan Maret 2020 ketika pandemi COVID-19 mulai membuat pasar keuangan guncang di seluruh dunia.
Secara YTD, yieldINDON 10 tahun sudah naik dari 2,15% ke 4,15%.
Faktor risiko:Inflasi terus naik dan memberikan tekanan pada The Fed untuk semakin agresif dalam melakukan pengetatan kebijakan moneter.
Fixed Income (USD)
Foreign Currency (INDON) – SLIGHTLY UNDERWEIGHT (change from UNDERWEIGHT)
13 Yield spread antara INDON 10
tahun dan US Treasury 10 tahun sudah mencapai rata-rata 5 tahun.
Exhibit 14: Market Expectation on Fed Fund Rate Hike
Sumber: CME Group (23 Mei 2022)
Exhibit 15: Pergerakan dan Selisih Yield INDON 10YR & UST 10YR (%)
Sumber: Bloomberg (23 Mei 2022) 1.00%
1.50%
2.00%
3.00%
May June July December
Note: kenaikan terhitung dari bulan Mei 2022
1.29 1.28
0.00 0.50 1.00 1.50 2.00 2.50 3.00 3.50
May-17 Aug-17 Nov-17 Feb-18 May-18 Aug-18 Nov-18 Feb-19 May-19 Aug-19 Nov-19 Feb-20 May-20 Aug-20 Nov-20 Feb-21 May-21 Aug-21 Nov-21 Feb-22 May-22
145 153 144 115
80 113
24 61 44
7.17 7.24
6.36
6.80
0 100 200 300 400 500 600 700
1.50 2.50 3.50 4.50 5.50 6.50 7.50
2Y 3Y 4Y 5Y 10Y 15Y 20Y 25Y 30Y
Yield change (bps) 23-May-22 31-Dec-21
Dalam beberapa tahun terakhir pemerintah dan Bank Indonesia berhasil menurunkan persepsi risiko kredit pemerintah Indonesia. Hal ini diukur dari CDS 5 tahun (credit default swap) naik tidak signifikan, padahal MOVE Index yang mengukur volatilitas US Treasury Bondsnaik signifikan sepanjang tahun 2022.
Data historis menunjukkan biasanya CDS 5 tahun (credit default swap) Indonesia naik signifikan ketika MOVE Index melonjak tinggi(Exhibit 16).
Per bulan April 2022, APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) mencetak surplus sebesar IDR 103,10 Triliun atau setara dengan 0,58% dari PDB. Di sisi lain, lembaga pemeringkatratingkredit internasional S&P menaikkan kembali outlook utang pemerintah Indonesia dari negative sejak April 2020 menjadistablepada bulan April 2022. Kedua hal ini berhasil mengurangi tekanan terhadap CDS di tengah aksi jual di pasar obligasi di seluruh dunia.
Secara YTD, kenaikanyieldlebih banyak dialami obligasi tenor pendek sebagai respon atas ekspektasi inflasi yang lebih tinggi dan kenaikan suku bunga dalam jangka pendek.Yielddi tenor panjang masih sangat terjaga akibat likuiditas yang rendah dan juga permintaan yang stabil dari dana pensiun dan asuransi yang tetap berinvestasi pada obligasi jangka panjang demi menjaga risiko suku bunga yang berdampak pada posisi aset dan liabilitasnya. Yield FR 10 tahun sudah lebih tinggi dibandingkan 30 tahun (Exhibit 17). Secararelative valuation, FR tenor panjang terlihat tidak semenarik tenor pendek dan menengah.
Fixed Income (IDR)
Local Currency (FR/Indonesia Government IDR Bonds) – SLIGHTLY UNDERWEIGHT (change from UNDERWEIGHT)
14 Persepsi risiko kredit pemerintah
Indonesia turun di mata investor asing
Exhibit 16: CDS Indonesia Tetap Stabil di Tengah Tingginya Volatilitas
Sumber: Bloomberg (23 Mei 2022)
Kurva imbal hasil FR mengalami bear flattening di mana yield tenor pendek naik lebih banyak daripada yield tenor panjang.
Exhibit 17: FR Yield Curve (% YTD)
Sumber: Bloomberg (23 Mei 2022)
102 110
0 50 100 150 200 250 300
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 Indonesia 5yr CDS (bps) MOVE Index
bps
15 sepanjang tahun 2022,yieldFR juga naik lebih sedikit dibandingkan denganyield US Treasury dan INDON. Hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya terutama di saat pasar obligasi global kompak melemah di seluruh dunia.
Hal ini yang menjadi penyebab utama investor asing masih konsisten membukukan net outflow di pasar saham obligasi Indonesia. Tekanan inflasi global yang belum sepenuhnya terefleksikan pada angka inflasi Indonesia adalah alasan lain mengapa investor asing masih enggan masuk ke pasar obligasi Indonesia. Aliran dana asing yang keluar di pasar obligasi Indonesia sudah lebih besar dibandingkan dengan tahun 2020 dan 2021(Exhibit 19). Bahkan, aliran dana asing yang keluar per tanggal 18 Mei 2022 di angka IDR 71 Triliun sudah lebih tinggi dari total dana asing yang keluar di tahun 2021. Aksiforeign net sell sudah memasuki tahun ke 3, padahal selama 10 tahun terakhir investor asing tidak pernah absen untuk masuk ke pasar obligasi Indonesia.
Faktor risiko:1) Inflasi terus naik dan memberikan tekanan pada The Fed untuk semakin agresif dalam melakukan pengetatan kebijakan moneter; 2) Kenaikan inflasi Indonesia yang tidak terkendali; 3) Berkurangnya dukungan investor domestik terutama perbankan di pasar obligasi Indonesia; 4) Investor asing menundainflowlebih lama.
bawah rata-rata 5 tahun.
Exhibit 18: Yield Spread FR 10YR & UST 10YR (%)
Sumber: Bloomberg (23 Mei 2022)
Exhibit 19: Foreign Flow in Indonesia Bond Market (IDR Tn)
Sumber: Bloomberg (23 Mei 2022)
5.07
4.30 3.00
4.00 5.00 6.00 7.00 8.00
47 56
132
106 104
164
50 163
-66 -70 -71
2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 YTD 2022
Valuasi saham-saham sektor IT di negara-negara maju hampir menyentuh valuasi saham-saham sektor consumer staples di negara- negara maju, menunjukkan murahnya saham-saham sektor IT di negara-negara maju.
Sepanjang tahun 2021, Indeks MSCI World IT mengalami kenaikan yang cukup signifikan yaitu sebesar +29,08%. Akan tetapi, pergerakan MSCI World IT berbalik ke teritori negatif dengan terkoreksi -25,47% secara YTD per 23 Mei 2022 sebagai dampak dari rencana pengetatan kebijakan moneter The Fed yang agresif dan aksi risk off sentiment investor global. Di sisi lain, kenaikan inflasi secara global juga menekan pergerakan saham sektor consumer staples di negara-negara maju, di mana inflasi mulai menekan laba perusahaan. Alhasil, valuasi saham-saham sektor IT (growth stocks) turun dan hampir menyentuh valuasi saham-saham sektor consumer staples (defensive stocks) di negara- negara maju (Exhibit 20). Padahal, sejak pertengahan tahun 2019, valuasi saham IT jauh mengungguli valuasi saham consumer staples. Ditambah lagi, likuiditas yang melimpah dan penggunaan teknologi yang lebih ekstensif akibat COVID-19 turut mendorong pergerakan saham IT dan membuat valuasi saham IT semakin mahal sepanjang tahun 2020-2021 (memberikan COVID premium pada saham sektor IT). Secara teori, valuasi growth stocks seharusnya lebih mahal dibandingkan valuasidefensive stocks. Laba perusahaan sektor IT yang kuat juga secara teori seharusnya membuat sektor IT lebih mahal dibandingkan sektorconsumer staples.Dengan valuasi sektor IT yang sudah turun mendekati valuasi sektor consumer staples, hal ini menunjukkan COVID premium yang tercipta pada sektor IT sudah mulai memudar dan valuasi sektor IT sudah mulai murah, padahal pertumbuhan laba sektor IT masih tetap kuat.
Pada tahun 2000-2002, koreksi terjadi disebabkan oleh dot com bubble yang pecah pada tahun 2000(Exhibit 21).Sementara pada tahun 2008, koreksi terjadi disebabkan oleh adanyaGlobal Financial Crisis2008. Pada saat itu, fundamental dari sektor IT tidak sekuat saat ini. Koreksi pada tahun 2022 cukup berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya di mana saat ini fundamental perusahaan IT jauh lebih kuat. Mengambil contoh dari perusahaan Amazon yang berhasil melewati dot com bubble dan Global Financial Crisis 2008, terlihat Amazon berhasil mencatatkan laba setelah mencatat rugi yang cukup besar. Perusahaan Amazon pada tahun 2000 mencatatkan rugi bersih sebesar -USD 1,41 Miliar, kemudian pada tahun 2008 berhasil mencatatkan laba bersih sebesar USD 645 juta, dan tahun 2021 mencatat laba bersih sebesar USD 33,36 Miliar. Dalam 14 tahun (2008-2021), laba bersih perusahaan Amazon berhasil tumbuh +5.073%.
Di sisi lain,P/E RatioMSCI World IT Index pada tahun 2000 berada di 29,79x, tahun 2001 berada di 69,15x, tahun 2002 berada di 33,61x, tahun 2008 berada di 12,61x, dan tahun 2022 (YTD per 23 Mei 2022) berada di 22,02x. Mengingat koreksi yang terjadi sudah cukup signifikan, sedangkan fundamental perusahaan yang jauh lebih kuat dibanding tahun-tahun sebelumnya, potensi koreksi ke depannya akan lebih terbatas.
Faktor risiko: 1) Risk off sentiment global semakin buruk sehingga pada akhirnya berdampak ke sektor teknologi; 2) Inflasi di negara-negara maju semakin naik sehingga berpotensi menekan daya beli masyarakat dan menekan laba perusahaan.
Equity (USD)
SLIGHTLY OVERWEIGHT (no change)
Exhibit 21: MSCI World IT Index Performance (%)
Sumber: Bloomberg (23 Mei 2022)
Exhibit 20: Forward P/E Ratio MSCI World IT &
Consumer Staples Index (x)
Sumber: Bloomberg (23 Mei 2022)
16 Dalam 23 tahun terakhir, Indeks
MSCI World IT mengalami koreksi sebanyak 7 kali. Koreksi pada tahun 2022 ini cukup berbeda
dibandingkan tahun-tahun sebelumnya di mana fundamental sektor IT tidak sekuat saat ini.
22.02
19.91 13.00
16.00 19.00 22.00 25.00 28.00 31.00 34.00
MSCI World IT Index
MSCI World Consumer Staples Index
-41.80 -29.74
-38.80 -44.39
-3.43 -3.49 -25.47
2000 2001 2002 2008 2011 2018 2022
Dot com bubble GFC 2008
Di tengah volatilitas global, IHSG mampu bertahan dan membukukan kinerja yang positif secara YTD dibandingkan mayoritas indeks global lainnya.
Setelah mengalami kenaikan sekitar ~10% secara YTD pada akhir bulan April 2022, IHSG akhirnya terkoreksi sekitar ~9% secara mingguan paska Libur Lebaran kemudian kembalireboundsekitar ~5% secara mingguan.Secara YTD per 23 Mei 2022, IHSG naik sebesar +3,93%. Kinerja IHSG cukup fantastis apabila dibandingkan dengan indeks global lainnya di tengah aksi risk off sentimentglobal(Exhibit 22). Fundamental yang kuat, didukung oleh penguatan ekonomi dalam negeri menjadi salah satu faktor penguatan IHSG saat ini, tercermin pada pertumbuhan laba emiten IHSG yang kuat. 333 emiten dari total 720 emiten IHSG yang melaporkan laporan keuangan pada Kuartal-1 2022 mencatatkan pertumbuhan laba naik sebesar +54,80% secara YoY. 60,70%
emiten yang melaporkan laporan keuangan mencatatkan pertumbuhan laba yang positif, 29,39% mencatatkan pertumbuhan laba yang negatif, dan 9,90%
mencatatkan pertumbuhan laba yang flat.Selain itu, investor asing cenderung underowneddi pasar saham Indonesia sejak tahun 2018. Hal ini turut membuat potensi keluarnya investor asing dari pasar saham Indonesia yang lebih terbatas.
Dilihat dari sisi foreign flow, investor asing membukukan inflow sebesar IDR 64,20 Triliun secara YTD walaupun secara MTD terdapat outflowsebesar IDR 9,14 Triliun disebabkan oleh risk off sentiment investor global (Exhibit 23).
Beberapa faktor investor asing membukukaninflowsecara YTD adalah:
Pertama, inflasi Indonesia masih cenderung rendah dibandingkan mayoritas negaradeveloped marketlainnya seperti AS, Inggris, dan Uni Eropa. Secara teori apabila inflasi naik, biaya perusahaan dapat meningkat sehingga berpotensi menekan profitabilitas perusahaan secara keseluruhan.
Kedua, potensi menguatnya ekonomi Indonesia ke depan. Seiring dengan turunnya kasus COVID-19, relaksasi aturan penggunaan masker, dan kenaikan harga komoditas, ekonomi Indonesia berpotensi semakin menguat ke depannya sehingga dapat berdampak positif terhadap laba perusahaan dan IHSG ke depannya.
Ketiga,pelemahan Rupiah cenderung terbatas di tengah pengetatan kebijakan moneter The Fed yang agresif danglobal sell off. Biasanya, investor asing akan cenderung membukukan outflow karena volatilitas Rupiah yang sangat tinggi.
Namun, selama dua tahun terakhir Rupiah sangat stabil bahkan cenderung menguat sehingga membuat investor asing lebih nyaman berinvestasi di pasar saham Indonesia dibanding sebelumnya.
Equity (IDR)
SLIGHTLY OVERWEIGHT (no change)
Exhibit 23: Foreign Flow IHSG (IDR Tn) Exhibit 22: Indeks Pasar Saham Global (% YTD)
Sumber: Bloomberg (23 Mei 2022) Sumber: Bloomberg (23 Mei 2022)
17 Berbanding terbalik dengan pasar
obligasi Indonesia yang
mencatatkan foreign outflow dalam hampir 3 tahun terakhir, terlihat investor asing justru membukukan inflow di IHSG.
3.9% 1.8%
-6.6%
-10.5%
-11.9% -12.3%
-12.5%
-13.5%
-16.6%
-26.3%
16.50
(22.08) 46.74
(21.90) 17.04
(40.22) (53.10)
48.22
(45.19) 38.35
64.20
2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 YTD 2022
18 Secara MTD per 23 Mei 2022, sektorconsumer staplesnaik +3,48%, menduduki urutan ketiga setelah sektor transportasi danhealthcare (Exhibit 24). Biasanya sektorconsumer staplesadalah pilihan utama ketika terjadi pelemahan ekonomi atau risk off sentiment. Hal ini dikarenakan ~60% dari PDB Indonesia dikontribusikan oleh konsumsi domestik. Namun, sejak tahun 2018 sektor ini cenderung ditinggalkan oleh investor asing disebabkan oleh valuasi yang mahal dan pertumbuhan laba yang kurang menarik. Adanya pandemi COVID-19 dan lockdownpada tahun 2020 memperparah kinerja perusahaan-perusahaan pada sektor ini. Ditambah lagi, pergantian aturan free float capitalization pada pembobotan bursa secara tidak langsung berdampak pada sektor consumer staples sehingga membuat bobot kepemilikan investor institusi dan pergerakan saham sektor ini turun pada tahun 2021.
Namun, dalam sebulan terakhir, tren ini cenderung berbalik. Investor asing dan institusi mulai kembali membukukan inflow di sektor consumer staples. Selain karena alasan valuasi, kinerja saham sektor consumer staples yang menguat mengindikasikan bahwa investor lebih optimis terhadap penguatan ekonomi Indonesia dan konsumsi masyarakat ke depan. Akan tetapi, masih ada tantangan untuk sektor consumer staples ke depan yaitu inflasi. Seiring dengan inflasi Indonesia yang berpotensi naik akibat kenaikan harga pangan dan komoditas, hal ini berpotensi menekan laba perusahaan sektorconsumer staples.
Dari awal bulan Oktober 2021 hingga akhir April 2022 (7 bulan), IHSG naik sekitar ~16%. Bisa dikatakan IHSG belum terkoreksi secara signifikan. IHSG kemudian terkoreksi signifikan pada awal Mei 2022 dan menyentuh garisMoving Average200 (MA 200) lalu kemudianreboundcukup kuat(Exhibit 25). Secara teori analisa teknikal, garis MA 200 merupakan garis support atauresistance yang paling kuat. Pada akhir Mei 2021 dan akhir September 2021, IHSG menyentuh garissupportkemudian juga kembalirebound. Reboundyang cukup kuat pada IHSG kali ini juga cukup terjustifikasi dengan fundamental IHSG yang kuat, tercermin pada rilis pertumbuhan laba pada Kuartal-1 2022.
Faktor risiko: 1) Kasus COVID-19 kembali naik sehingga pembatasan sosial yang lebih ketat harus kembali diberlakukan; 2) Kenaikan biaya produksi dan inflasi dari sisi produsen menekan laba perusahaan; 3)Risk off sentimentglobal semakin buruk sehingga pada akhirnya berdampak ke pasar saham Indonesia.
Setelah ditinggalkan hampir 5 tahun terakhir oleh investor asing dan lokal, sektor consumer staples mulai rebound dalam sebulan terakhir. Valuasi yang menarik dan pemulihan ekonomi yang terus berlanjut membuat sektor ini kembali atraktif.
Exhibit 24: JCI Sectoral Performance (MTD)
Sumber: Bloomberg (23 Mei 2022)
Exhibit 25: JCI Technical – Moving Average 200
Sumber: Bloomberg (23 Mei 2022) -11.18%
-9.60%
-9.54%
-3.35%
-2.44%
-2.33%
-2.03%
1.72%
3.48%
3.64%
4.66%
Technology Infrastructures Financials Property and Real Estate Consumer Cyclical Basic Materials Industrial Energy Consumer Staples Healthcare Transportation and Logistic
6.841 6.608
3,500 4,500 5,500 6,500 7,500
JCI Index Moving Average (Simple,200,0) Koreksi pada IHSG pada awal Mei
2022 bisa dikatakan koreksi sehat.
Rebound IHSG yang kuat kali ini cukup terjustifikasi dengan fundamental IHSG yang kuat.
19
Calendars
Economic Calendar Product Calendar
Countries Events Dates
ISM Manufacturing May 2022 1-Jun-22
ADP Employment Change May 2022 2-Jun-22
Change in Non-farm Payroll 3-Jun-22
Unemployment Rate May 2022 3-Jun-22
PPI Final Demand May 2022 14-Jun-22
FOMC Rate Decision 15-Jun-22
US CPI May 2022 15-Jun-22
Retail Sales Advance May 2022 15-Jun-22
Industrial Production May 2022 17-Jun-22
Existing Home Sales May 2022 21-Jun-22
S&P Global US Manufacturing PMI June 2022 23-Jun-22 University of Michigan Sentiment June 2022 24-Jun-22
New Home Sales May 2022 24-Jun-22
Durable Goods Orders May 2022 27-Jun-22
GDP Annualized Q1 2022 29-Jun-22
Industrial Production April 2022 13-Jun-22
Manufacturing Production April 2022 13-Jun-22
Jobless Claims Change May 2022 14-Jun-22
Bank of England Bank Rate June 2022 16-Jun-22
Retail Sales Inc Auto Fuel May 2022 17-Jun-22
CPI May 2022 22-Jun-22
CPI Core May 2022 22-Jun-22
GDP Q1 2022 30-Jun-22
GDP SA Q1 2022 1-Jun-22
Trade Balance April 2022 1-Jun-22
GDP Q1 2022 1-Jun-22
Melbourne Institute Inflation May 2022 6-Jun-22
RBA Cash Rate Target June 2022 7-Jun-22
Unemployment Rate May 2022 16-Jun-22
Employment Change May 2022 16-Jun-22
GDP SA Q1 2022 8-Jun-22
BoP Current Account Balance April 2022 8-Jun-22
PPI May 2022 10-Jun-22
Core Machine Orders April 2022 15-Jun-22
BoJ Policy Balance Rate June 2022 17-Jun-22
Retail Sales May 2022 29-Jun-22
Industrial Production May 2022 30-Jun-22
Caixin China PMI Manufacturing May 2022 1-Jun-22
Trade Balance May 2022 9-Jun-22
PPI May 2022 10-Jun-22
Industrial Production May 2022 15-Jun-22
Retail Sales May 2022 15-Jun-22
Non-manufacturing PMI June 2022 30-Jun-22
S&P Global Indonesia PMI Manufacturing May 2022 2-Jun-22
CPI May 2022 2-Jun-22
Foreign Reserve May 2022 8-Jun-22
Trade Balance May 2022 15-Jun-22
BI 7D Reverse Repo Rate 23-Jun-22
Name Type Launch/Mature Period
Bahana Gebyar Dana Likuid Reksa Dana Launch Jul-22
Balance sheet: neraca keuangan.
Bear flattening: merupakan salah satu bentuk yield curvedi mana menunjukkan kenaikan yieldtenor pendek lebih besar dibandingkan yield tenor panjang.
Behind the curve: kebijakan moneter suatu negara yang cenderung tertinggal seiring dengan kenaikan inflasi.
Consumer Price Index: indikator yang digunakan untuk mengukur inflasi dari sisi konsumen. Biasa disingkat menjadi CPI.
Consumer staples:merupakan sektor usaha yang memproduksi dan menjual barang-barang esensial (kebutuhan dasar) masyarakat.
Credit Default Swap: instrumen derivatif yang mencerminkan persepsi risiko dan risk appetiteinvestor terhadap sebuah investasi.
Defensive stocks: saham yang kinerjanya tidak terlalu dipengaruhi oleh siklus dan kondisi ekonomi.
Developed market: negara maju. Biasa singkat menjadi DM.
Dot com bubble: peristiwa di mana saham teknologi di AS mengalami kenaikan harga yang signifikan pada tahun 2000.
Emerging market: negara berkembang. Biasa disingkat menjadi EM.
Free float capitalization: metode pembobotan indeks dengan memperhitungkan total saham minoritas investor dengan kepemilikan kurang dari 5% dan dapat ditransaksikan di pasar reguler.
Growth stocks: saham yang diyakini akan memiliki pertumbuhan penjualan dan profitabilitas yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata emiten yang ada.
Kebijakan moneter: kebijakan yang dilakukan oleh bank sentral atau otoritas keuangan di suatu negara untuk mengontrol jumlah uang yang beredar di pasar.
Neraca perdagangan: akun yang mencatat atas ekspor-impor yang dilakukan oleh suatu negara dengan negara lain di seluruh dunia.
Panic buying: aksi melakukan pembelian barang secara masif di tengah situasi yang darurat.
Price to earning ratio: rasio yang menghitung perbandingan harga dengan laba per saham suatu perusahaan. Biasa disingkat menjadi PER.
Pro-growth: arah kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dalam negeri.
Relative valuation: salah satu metode valuasi di mana membandingkan satu instrumen investasi dengan lainnya yang memiliki karakteristik yang sama.
Resistance: titik yang menggambarkan batas atas harga suatu instrumen investasi.
Retail sales: indikator yang mengukur level pengeluaran konsumen untuk berbelanja barang eceran.
Risk off sentiment: aksi para investor mengurangi risiko investasinya seiring dengan tingginya volatilitas di pasar finansial.
Safe haven asset: aset yang dinilai aman di tengah ketidakpastian ekonomi, politik, atau geopolitik.
Spillover effect: efek beruntun yang ditimbulkan dari suatu keputusan atau kejadian.
Support: titik yang menggambarkan titik hambatan suatu instrumen investasi untuk turun.
Year-on-year:metode menghitung pertumbuhan untuk variabel tertentu antara periode tertentu (bulan atau kuartal) pada tahun ini dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Biasa disingkat menjadi YoY.
Year-to-date: periode yang dimulai pada awal tahun kalender hingga tanggal tertentu. Biasa disingkat menjadi YTD.
Yield spread: selisih imbal hasil antar obligasi.
20
Glossary
21
Contributor List
BCA Wealth Panel
BCA Wealth Panel Members
SEVP Treasury & International Banking Branko Windoe
BCA Sekuritas Head of Equity Teguh Hartanto
Head of Wealth Management Ugahary Yovvy Chandra
Chief Economist David Sumual
Wealth Management Division
Lilyana Sutianto Baling – Head of Investment Business & Research Management Richie Norbert Tandias– Head of Research & Portfolio Management
Anastasia Gracia– Research Analyst Catherine Ashikin– Research Analyst
Treasury Team
Junita Gunawan– Head of Treasury
Yeni Marliana Laurence – Head of Position Management Dionysius Kelvin – Currency Analyst
Yuliastono Candra – Fixed Income Analyst
Economist Team Barra Kukuh Mamia – Economist
Derrick Gozal – Economist
BCA Sekuritas Team
Johanes Prasetia– Deputy Head of Research Muhammad Fariz– Research Analyst