• Tidak ada hasil yang ditemukan

BCA House View Report

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BCA House View Report"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

Published on: 7 November 2022

(2)

Table of Contents

Executive Summary

Intisari & Tactical Asset Allocation Topic of the Month

Likuiditas USD Semakin Berkurang Di Seluruh Dunia.

Global Economic Outlook Indonesia Economic Outlook Currency Outlook

Commodity Snapshot

On Asset Class: Money Market On Asset Class: Fixed Income (USD) On Asset Class: Fixed Income (IDR) On Asset Class: Equity (USD) On Asset Class: Equity (IDR) Economic Calendar

Glossary

3

4

5 7 9 13 14 15 16 17 18 19 20

(3)

T a c ti c a l A s s e t A ll o c a ti o n

Sejak akhir tahun 2021, The Fed melakukan pengetatan kebijakan moneter yang sangat agresif dimulai daritapering, kenaikan suku bunga, hingga pengurangan nilai balance sheet.Hal tersebut membuat likuiditas USD menurun tidak hanya di AS melainkan di seluruh dunia. Alhasil, hampir semua mata uang dunia baik negara berkembang maupun negara maju melemah signifikan terhadap USD. Secara tidak langsung, hal ini melemahkan daya beli dan menambah tekanan inflasi yang sudah cukup tinggi di seluruh dunia. Di sisi lain, kenaikan suku bunga The Fed yang agresif berakibat pada naiknya yield US Treasury sebagai risk-free asset atau safe haven asset. Akibatnya, investor juga meminta imbal hasil yang lebih tinggi dibandingkan sebelumnya untuk seluruh kelas aset.

Inflasi yang masih persisten tinggi dan data ketenagakerjaan AS yang masih cukup kuat semakin membuka ruang untuk The Fed menaikkan suku bunganya. IMF (International Monetary Fund) kembali merevisi turun pertumbuhan ekonomi global di tahun 2023. Perlambatan ekonomi global semakin terlihat seiring dengan semakin melemahnya aktivitas manufaktur di berbagai negara terutama di Eropa. Akan tetapi, di tengah perlambatan ekonomi global, perekonomian Indonesia masih relatif kuat. Neraca dagang Indonesia terus mencatatkan surplus dalam 29 bulan berturut-turut secara tidak langsung membuat pelemahan IDR relatif terbatas di tengah kuatnya USD. Namun, risiko pelemahan IDR semakin besar ke depan seiring dengan kuatnya USD dan ekspektasi kenaikan inflasi domestik.

3 Pada RDG (Rapat Dewan Gubernur) Oktober 2022, BI (Bank Indonesia) kembali menaikkan suku bunga sebesar 50 bps. Normalisasi kebijakan moneter BI membuat valuasi obligasi jangka pendek di bawah 1 tahun semakin menarik.

Money Market – SLIGHTLY OVERWEIGHT

Fixed Income USD – NEUTRAL

View bulan sebelumnya

Underweight Slightly Slightly

Overweight Neutral

Executive Summary

Intisari & Tactical Asset Allocation

Equity USD – NEUTRAL

Sentimen pasar yang kurang baik sejak awal tahun 2022 membuat saham sektor teknologi di negara maju dan Asia Pasifik terkoreksi signifikan. Hal ini membuat valuasi saham sektor teknologi semakin menarik.

Fixed Income IDR – NEUTRAL

Yield US Treasury 10 tahun naik seiring dengan ekspektasi The Fed yang terus agresif dalam mengetatkan kebijakan moneternya. Hal ini turut mendorong kenaikanyieldINDON 10 tahun. Secara valuasi, INDON terlihat semakin menarik.

Sepanjang bulan Oktober 2022, emiten-emiten IHSG mulai melaporkan pertumbuhan laba yang sangat fantastis. Secara seasonality, IHSG membukukan kinerja yang paling baik di kuartal-IV.

Equity IDR – SLIGHTLY OVERWEIGHT

Yield FR 10 tahun mulai menunjukkan kenaikan seiring dengan kenaikan yield US Treasury, pelemahan IDR, kenaikan suku bunga BI, serta foreign outflow di pasar obligasi Indonesia. Secara valuasi, yield tenor pendek jauh lebih atraktif dibandingkan tenor panjang.

(4)

110.95 4.10

0.50 1.00 1.50 2.00 2.50 3.00 3.50 4.00 4.50

75.00 80.00 85.00 90.00 95.00 100.00 105.00 110.00 115.00

Jan-15 Apr-15 Jul-15 Oct-15 Jan-16 Apr-16 Jul-16 Oct-16 Jan-17 Apr-17 Jul-17 Oct-17 Jan-18 Apr-18 Jul-18 Oct-18 Jan-19 Apr-19 Jul-19 Oct-19 Jan-20 Apr-20 Jul-20 Oct-20 Jan-21 Apr-21 Jul-21 Oct-21 Jan-22 Apr-22 Jul-22

DXY (USD Index) (L) UST 10YR Yield (R)

Topic of the Month

Likuiditas USD Semakin Berkurang Di Seluruh Dunia

Dalam kondisirisk on, investor cenderung menjualsafe haven assetseperti USD danUS Treasurylalu beralih ke aset yang lebih berisiko seperti saham. Hal ini membuat USD melemah danyield US Treasurynaik. Sebaliknya, dalam kondisi risk off,investor cenderung mencarisafe haven assetseperti USD danUS Treasurysehingga USD menguat danyield US Treasuryturun. Dalam 2 kondisi tersebut, USD danyield US Treasurymemiliki hubungan (korelasi) yang negatif. Akan tetapi, sejak awal tahun 2021, korelasi antara USD danUS Treasuryberubah menjadi positif. Hingga 25 Oktober 2022, USD naik +15,97% YTD dan menyentuh level 110,95 sementarayield US Treasury10 tahun naik 259 bps dan menyentuh level 4,10%(Exhibit 1).

Hal ini disebabkan oleh aksi dari pelaku pasar untuk mengantisipasi pengetatan kebijakan moneter oleh The Fed yang dimulai daritapering,kenaikan suku bunga, hingga pengurangan nilaibalance sheet.Hal tersebut membuat likuiditas USD menurun tidak hanya di AS melainkan di seluruh dunia. Terbukti dari beberapa bank sentral seperti bank sentral Swiss, Eropa, dan Jepang yang mengambil fasilitas swapdengan The Fed untuk mencegah kesulitan likuiditas USD. Kondisi tersebut membuat USD menguat dan secara tidak langsung melemahkan mata uang lain di dunia seperti EUR (-12,35%

YTD), GBP (-15,22% YTD), dan JPY (-22,21% YTD). Tekanan dari depresiasi mata uang merugikan pertumbuhan ekonomi di berbagai negara. Di saat inflasi sedang tinggi-tingginya, depresiasi mata uang akan semakin melemahkan konsumsi yang berakibat pada pelemahan ekonomi.

Di sisi lain, kenaikan suku bunga The Fed yang agresif berakibat pada naiknya yield US Treasuryyang menyandang statusrisk-free assetatausafe haven asset. Faktor lain yang membuatyield US Treasurynaik adalah kondisi likuiditas di pasar AS. Para perbankan besar AS yang berfungsi sebagaidealermengurangi posisi kepemilikanUS Treasurydi buku mereka. Implikasinya terhadap seluruh kelas aset adalah investor juga meminta imbal hasil yang lebih tinggi dari sebelumnya. Hal ini yang menyebabkan harga dari hampir semua aset di seluruh dunia turun.

Pengetatan kebijakan moneter The Fed secara umum berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi global dan juga pergerakan harga aset. Pelemahan mata uang dapat menambah tekanan inflasi sehingga ekonomi melemah. Di sisi lain,risk premiumsemua aset di dunia naik (harga turun) sebagai akibat dari naiknyayield US Treasurysebagairisk-free assetatausafe haven asset.

Sumber: Bloomberg (25 Oktober 2022)

Exhibit 1: DXY (USD Index) & UST 10YR Yield

%

(5)

Global Economic Outlook

Inflasi yang masih persisten tinggi dan pasar tenaga kerja yang kuat di AS semakin membuka ruang untuk The Fed terus agresif dalam mengetatkan kebijakan

moneternya.

Pada bulan September 2022, inflasi AS tercatat naik +8,20% YoY, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya (+8,30% YoY) (Exhibit 2). Walaupun inflasi secara keseluruhan mulai menunjukkan penurunan dalam 3 bulan terakhir, inflasi inti (yang mengeluarkan faktor harga makanan dan energi) malah terus menunjukkan kenaikan sebesar +6,60% YoY, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya sebesar +6,30% YoY. Hal ini mengindikasikan bahwa inflasi terlihat semakin sticky dan persisten, serta telah meluas ke seluruh sektor perekonomian. Padahal, The Fed telah melakukan pengetatan kebijakan moneter secara agresif dengan menaikkan suku bunganya sebesar 3,00% sejak bulan Maret 2022 hingga September 2022. Pertumbuhan gaji yang masih relatif tinggi sebesar +6,30% YoY per September 2022, masih jauh lebih tinggi dari level pre- pandemi di +3,80% YoY, menjadi salah satu faktor pendorong yang membuat inflasi bertahan di level yang tinggi.

Di sisi lain, data ketenagakerjaan AS masih relatif kuat dengan tingkat pengangguran berada di 3,50% per September 2022 dan nonfarm payroll bertambah 263.000 (vs. 250.000 konsensus). Tingkat pengangguran yang rendah menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja di AS masih relatif kuat. Data ketenagakerjaan yang masih relatif kuat serta inflasi yang semakin persisten tinggi menunjukkan bahwa The Fed masih mempunyai ruang untuk menaikkan suku bunganya ke depan.

Tingginya inflasi membuat bank sentral dunia secara agresif melakukan pengetatan kebijakan moneternya. Terlihatbalance sheetbank sentral negara G- 3 seperti The Fed, BoJ (Bank of Japan), dan ECB (European Central Bank) mulai menunjukkan penurunan(Exhibit 3). Di AS, The Fed bahkan telah mengurangi nilai aset padabalance sheetsejak Juni 2022 sebesar USD 47,50 miliar/bulan, kemudian dilanjutkan sebesar USD 95 miliar/bulan di September 2022.

Pengetatan kebijakan moneter yang agresif memang diperlukan untuk mengurangi inflasi yang sudah naik signifikan secara global. Namun, pengetatan kebijakan moneter yang agresif (kenaikan suku bunga dan pengurangan nilai aset pada balance sheet) berpotensi membuat likuiditas semakin berkurang dalam skala global. Hal ini secara tidak langsung dapat membuat perekonomian global semakin tertekan kedepannya.

Tingginya Inflasi AS Mendorong The Fed Semakin Agresif Dalam Mengetatkan Kebijakan Moneternya

Exhibit 2: US Inflation & Core Inflation (% YoY)

Sumber: Bloomberg (25 Oktober 2022) Balance sheet bank sentral besar di dunia mulai menunjukkan penurunan, mengindikasikan bahwa likuiditas global mulai turun.

6.63 8.20

-2.00 0.00 2.00 4.00 6.00 8.00 10.00

US Core CPI Food and Energy US CPI

Exhibit 3: Fed, BoJ, & ECB Balance Sheet (USD Tn)

Sumber: Bloomberg (25 Oktober 2022)

8.63 8.74 4.60

0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 25.00 30.00

ECB The Fed BoJ

(6)

Perekonomian global berpotensi semakin melemah kedepannya.

IMF kembali merevisi turun pertumbuhan ekonomi di tahun 2023 secara global.

IMF (International Monetary Fund) kembali merevisi turun pertumbuhan ekonomi global di tahun 2023 dari 2,90% YoY ke 2,70% YoY (Exhibit 4). IMF bahkan memperkirakan bahwa lebih dari 33% perekonomian negara di dunia akan mengalami kontraksi di tahun 2022-2023 dan memperingatkan kondisi ekonomi di tahun depan berpotensi semakin tertekan. Selain karena inflasi, pengetatan kebijakan moneter bank sentral dunia yang agresif, dan perang Rusia-Ukraina, risiko perlambatan ekonomi semakin besar seiring dengan keputusan OPEC (Organization of the Petroleum Exporting Countries) untuk memangkas produksi minyak sebesar 2 juta barel per hari (setara dengan 2% dari pasokan minyak global). Pemangkasan produksi minyak dari OPEC berpotensi membuat harga minyak bertahan di level yang tinggi sehingga dapat semakin mendorong kenaikan inflasi. Implikasinya, bank sentral dunia kemungkinan besar perlu lebih agresif dalam mengetatkan kebijakan moneternya sehingga dapat membuat perekonomian global semakin tertekan.

PMI Manufaktur merupakan survei yang mengukur persepsi pelaku usaha terhadap aktivitas manufaktur. Sejak bulan Juni 2022 hingga September 2022, aktivitas manufaktur terus melemah (Exhibit 5). Turunnya aktivitas manufaktur terutama disebabkan oleh implementasi zero COVID policy yang masih terus dilakukan oleh pemerintah Tiongkok. Tiongkok merupakan negara yang memiliki pengaruh signifikan terhadap rantai pasok global dengan berkontribusi sekitar 28% terhadap outputmanufaktur global. Implementasizero COVID policy yang terus dilakukan oleh pemerintah Tiongkok membuat aktivitas manufaktur global tertekan. Selain itu, tingginya inflasi serta pengetatan kebijakan moneter yang agresif semakin menekan permintaan sehingga mempengaruhi aktivitas manufaktur secara global. Ditambah lagi, krisis energi yang semakin parah di Eropa, di mana Rusia telah menutup penuh aliran gas alam dari Rusia ke Eropa, semakin menghambat aktivitas manufaktur terutama di Eropa. Seiring dengan ekspektasi perlambatan ekonomi global, aktivitas manufaktur diperkirakan akan terus melambat kedepannya.

Ekonomi Global Diperkirakan Akan Semakin Melambat Kedepannya

Exhibit 4: GDP Projection Across Countries in 2023 by IMF (%)

Sumber: IMF (Oktober 2022)

Exhibit 5: Manufacturing PMI Across Countries

Sumber: Bloomberg (Oktober 2022) PMI Manufaktur secara global

semakin melemah,

mengindikasikan bahwa aktivitas ekonomi global semakin melambat.

Jan-22 Feb-22 Mar-22 Apr-22 May-22 Jun-22 Jul-22 Aug-22 Sep-22

US 55.5 57.3 58.8 59.2 57.0 52.7 52.2 51.5 52.0

Euro 58.7 58.2 56.5 55.5 54.6 52.1 49.8 49.6 48.4

China 49.1 50.4 48.1 46.0 48.1 51.7 50.4 49.5 48.1

UK 57.3 58.0 55.2 55.8 54.6 52.8 52.1 47.3 48.4

France 55.5 57.2 54.7 55.7 54.6 51.4 49.5 50.6 47.7

Germany 59.8 58.4 56.9 54.6 54.8 52.0 49.3 49.1 47.8

Japan 55.4 52.7 54.1 53.5 53.3 52.7 52.1 51.5 50.8

Italy 58.3 58.3 55.8 54.5 51.9 50.9 48.5 48.0 48.3

Canada 56.2 56.6 58.9 56.2 56.8 54.6 52.5 48.7 49.8

Netherlands 60.1 60.6 58.4 59.9 57.8 55.9 54.5 52.6 49.0

Sweden 61.7 57.7 56.9 54.5 54.5 53.2 52.3 50.2 49.2

Indonesia 53.7 51.2 51.3 51.9 50.8 50.2 51.3 51.7 53.7

2.9

1.0 1.2

0.5

1.7

4.6 6.1

5.2

2.7

1.0

0.5 0.3

1.6

4.4

6.1

5.0

World US Euro Area UK Japan China India Indonesia

Jul-22 Oct-22

(7)

Perekonomian Indonesia diperkirakan masih tetap solid di tengah ekspektasi perlambatan ekonomi global kedepannya.

Di tengah ekspektasi perlambatan ekonomi global, perekonomian Indonesia diperkirakan masih cukup solid di tahun 2023. Beberapa institusi finansial seperti IMF (International Monetary Fund), OECD (Organization of Economic Co-operation and Development), dan ADB (Asia Development Bank) melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 4,80%-5,00% di tahun 2023 (Exhibit 6). Adapun salah satu faktor yang dapat mendorong perekonomian Indonesia di tahun 2023 adalah ekspor melihat harga komoditas terutama batu bara diperkirakan masih tetap tinggi walaupun tidak setinggi dibandingkan tahun 2022. Dari sisi investasi juga diperkirakan relatif kuat seiring dengan hilirisasi nikel. Sebagai informasi, FDI (foreign direct investment)Indonesia di kuartal-III 2022 naik +63,60% YoY mencapaiall time highsebesar IDR 168,90 triliun. Hal ini berpotensi mendorong investasi dan pembangunan infrastruktur kedepannya. Implikasinya, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang relatif lebih kuat dibandingkan mayoritas ekonomi global lainnya dapat semakin mendorong keatraktifan Indonesia.

Akan tetapi, terdapat beberapa faktor yang berpotensi menekan perekonomian Indonesia di tahun 2023. Pertama, potensi kenaikan inflasi seiring dengan kenaikan harga BBM bersubsidi berpotensi menekan daya beli masyarakat.

Ditambah lagi, jika harga minyak masih tetap tinggi, tidak menutup kemungkinan pemerintah akan kembali menaikkan harga BBM bersubsidi. Kedua, potensi kenaikan suku bunga BI (Bank Indonesia) dapat menekan konsumsi dan mempengaruhi profitabilitas perusahaan. Terakhir, perlambatan ekonomi global berpotensi menekan nilai ekspor sehingga berimplikasi pada pertumbuhan ekspor yang lebih rendah.

Pada bulan September 2022, neraca dagang Indonesia kembali mencatatkan surplus sebesar USD 4,99 miliar, turun dibandingkan bulan sebelumnya sebesar USD 5,76 miliar(Exhibit 7). Penurunan surplus neraca dagang disebabkan oleh turunnya ekspor secara bulanan (-10,99% MoM dan +20,28% YoY) seiring dengan turunnya permintaan global dan harga CPO (-23,16% YTD per 25 Oktober 2022). Sementara impor turun secara bulanan (-10,58% MoM dan +22,02% YoY) seiring dengan konsumsi masyarakat yang sudah mencapai puncaknya. Kedepannya, surplus neraca dagang diperkirakan masih terus berlanjut didorong oleh harga komoditas yang diprediksi masih tetap tinggi terutama batu bara menjelang musim dingin di Eropa. Tim Ekonom BCA memperkirakan surplus neraca dagang pada tahun 2022 sebesar USD 45,50 miliar dan surplus neraca transaksi berjalan di tahun 2022 sebesar 0,50%- 1,20% dari PDB. Implikasinya, surplus neraca dagang dan neraca transaksi berjalan berhasil meredam pelemahan IDR di tengah ketidakpastian global.

Indonesia Economic Outlook

Pemulihan Ekonomi Domestik Masih Terus Berlanjut

Neraca dagang Indonesia terus mencatatkan surplus dalam 29 bulan berturut-turut. Surplus neraca dagang yang terus berlanjut berhasil meredam pelemahan IDR di tengah ketidakpastian global.

Exhibit 6: Indonesia GDP Projection in 2023 (%)

Sumber: IMF, OECD, ADB (Oktober 2022)

Exhibit 7: Indonesia Trade Balance

Sumber: Bloomberg (Oktober 2022) 5.20

4.70

5.20 5.00

4.80

5.00

IMF OECD ADB

Previous Projection Latest Projection

20.28 4.99 22.02

-50.00 0.00 50.00 100.00

-2.00 0.00 2.00 4.00 6.00 8.00

Trade Balance (USD Bn) - Left Exports (YoY) - Right

Imports (YoY) - Right %

(8)

-1.20 4.75

5.95

-4.00 -2.00 0.00 2.00 4.00 6.00 8.00

Apr-16 Aug-16 Dec-16 Apr-17 Aug-17 Dec-17 Apr-18 Aug-18 Dec-18 Apr-19 Aug-19 Dec-19 Apr-20 Aug-20 Dec-20 Apr-21 Aug-21 Dec-21 Apr-22 Aug-22

Spread BI CPI

Inflasi Indonesia yang lebih tinggi dari suku bunga BI (suku bunga riil negatif) membuat keatraktifan Indonesia berkurang. Hal ini menjadi salah satu alasan pelemahan IDR.

Pada bulan September 2022, inflasi Indonesia tercatat naik +5,95% YoY, tertinggi dalam 7 tahun terakhir(Exhibit 8). Kenaikan inflasi dikontribusikan oleh kenaikan biaya transportasi (+8,88% YoY) seiring dengan kenaikan harga BBM bersubsidi sebesar 30%. Sementara di sisi lain, suku bunga BI berada di 4,75%, naik 50 bps pada RDG (Rapat Dewan Gubernur) 19-20 Oktober 2022. Inflasi yang jauh lebih tinggi daripada suku bunga acuan membuat suku bunga riil saat ini berada di teritori negatif (negative real interest rate).Hal ini membuat keatraktifan Indonesia semakin berkurang dan menjadi salah satu faktor yang membuat IDR melemah selain karena kuatnya USD (+15,97% YTD per 25 Oktober 2022) akibat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed yang agresif sertarisk off sentiment global dan kenaikan inflasi dalam negeri. Secara YTD per 25 Oktober 2022, IDR ditutup di level 15.623 dan melemah sebesar -8,77% terhadap USD.

Per September 2022, cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar USD 130,80 miliar, setara dengan pembiayaan 5,90 bulan impor dan mendekati level pre- pandemi di kisaran USD 130 miliar (Exhibit 9). Penurunan cadangan devisa terutama disebabkan oleh pembayaran utang luar negeri Indonesia dan intervensi BI di pasar valas untuk menjaga stabilitas IDR yang terus melemah.

Walaupun BI dapat menggunakan cadangan devisa untuk menjaga stabilitas IDR, hal tersebut tidak bisa dilakukan secara terus menerus mengingat standar kecukupan internasional untuk cadangan devisa suatu negara adalah setara dengan 3 bulan impor. Implikasinya, kenaikan suku bunga kemungkinan besar masih perlu dilakukan oleh BI untuk menjaga stabilitas IDR kedepannya melihat risiko pelemahan IDR yang semakin besar seiring dengan kenaikan inflasi, kuatnya USD, dan turunnya harga komoditas. Tim Ekonom BCA memprediksikan BI akan menaikkan suku bunga sebesar 75 bps ke 5,50% hingga akhir tahun 2022.

Kenaikan Inflasi dan Turunnya Cadangan Devisa Mempengaruhi Pergerakan IDR

Exhibit 8: Real Interest Rate – BI7DRR vs Indonesia CPI (%)

Sumber: Bloomberg (25 Oktober 2022)

Exhibit 9: Indonesia Foreign Exchange Reserve vs USD/IDR

Sumber: Bloomberg (25 Oktober 2022) Kenaikan suku bunga BI

kemungkinan besar masih perlu dilakukan untuk menjaga stabilitas IDR.

130.80

15,623

13,000 14,000 15,000 16,000 17,000 110.00

120.00 130.00 140.00 150.00

Oct-17 Jan-18 Apr-18 Jul-18 Oct-18 Jan-19 Apr-19 Jul-19 Oct-19 Jan-20 Apr-20 Jul-20 Oct-20 Jan-21 Apr-21 Jul-21 Oct-21 Jan-22 Apr-22 Jul-22

Foreign Reserve (Left) USD/IDR (Right) USD Bn

(9)

DXY diekspektasi bergerak pada rentang 110,00 – 115,30 sampai akhir Januari 2023.

Pergerakan DXY mendapatkan pengaruh dari: 1) Rilis data ekonomi AS di bulan September 2022 relatif melambat denganretail sales advancesebesar +0,00%

MoM (exp. +0,20% MoM, prev. +0,40% MoM); 2) IMF dan Fitch menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi AS tahun 2023, mendukung kemungkinan AS mengalami resesi tahun depan. Riset Bloomberg menunjukan bahwa hampir dipastikan AS akan mengalami resesi pada tahun 2023; 3) Inflasi AS di bulan September 2022 dirilis naik lebih dari ekspektasi pasar sehingga mendukung The Fed untuk melanjutkan kenaikan suku bunga yang agresif ke depan; 4) Dalam pertemuan kebijakan moneter bulan September 2022, The Fed menaikkan suku bunga sebesar 75 bps menjadi 3,00%-3,25%. Notulen menunjukan bahwa The Fed berkomitmen untuk terus menaikkan suku bunga untuk menurunkan inflasi ke target 2,00% meskipun beberapa mengatakan bahwa perlu melakukan kalibrasi untuk mengurangi risiko buruk yang signifikan terhadap ekonomi.

Currency Outlook

Exhibit 10: Pergerakan DXY

110.95

90 95 100 105 110 115

Sumber: Bloomberg (25 Oktober 2022)

Beberapa faktor yang mendorong pergerakan EUR/USD: 1) Rilis data ekonomi zona Eropa belum membaik denganretail salesturun -0,30% MoM (exp.-0,30%

MoM, prev. -0,40% MoM); 2) Inflasi zona Eropa terus melonjak seiring masih tingginya tensi Perang Rusia-Ukraina dan meningkatnya sanksi kepada Rusia; 3) Belum ada perubahan dari kebijakan ECB (European Central Bank) sejak menaikkan suku bunganya 75 bps pada pertemuan bulan September 2022 menjadi 1,25%. ECB berkomitmen untuk mengembalikan inflasi zona Eropa ke level 2% walaupun ekonomi Eropa berisiko melambat dan pengangguran meningkat beberapa waktu ke depan. Pelaku pasar memprediksi ECB akan menaikkan suku bunga 75 bps pada bulan Oktober 2022.

EUR/USD diekspektasi bergerak pada rentang 0,9500 – 1,0000 sampai akhir Januari 2023.

Exhibit 11: Pergerakan EUR/USD

0.9966

0.9500 1.0000 1.0500 1.1000 1.1500

Sumber: Bloomberg (25 Oktober 2022)

(10)

Faktor yang menyebabkan pergerakan GBP/USD antara lain: 1) Rilis data ekonomi menunjukkan perekonomian Inggris yang memburuk dengan PDB tercatat turun -0,30% MoM (exp.0,00% MoM,prev. +0,10% MoM); 2) Gejolak di dalam negeri membebani GBP, ketidakpastian program stimulus fiskal pemerintah Inggris yang membawa PM Truss menghadapi tekanan untuk mengundurkan diri dan dimulainya krisis dana pensiun Inggris; 3) Pada pertemuannya bulan September 2022, BoE (Bank of England) menaikkan suku bunganya sebesar 50 bps menjadi 2,25% sesuai ekpektasi namun pelaku pasar kecewa karena BoE tertinggal dari The Fed yang menaikkan 75 bps. BoE mengatakan akan terus mengendalikan inflasi, meskipun berisiko resesi. BoE diperkirakan akan menaikkan suku bunganya 75 bps pada bulan November 2022.

GBP/USD diekspektasi bergerak pada rentang 1,0700 – 1,1500 sampai akhir Januari 2023.

Exhibit 12: Pergerakan GBP/USD

1.1472

1.0500 1.1000 1.1500 1.2000 1.2500 1.3000 1.3500 1.4000

Sumber: Bloomberg (25 Oktober 2022)

Pergerakan AUD/USD hingga akhir Januari 2023 dipengaruhi oleh: 1) Rilis data terakhir menunjukkan ekonomi Australia yang melambat dengan Westpac consumer confidenceSA di Oktober 2022 turun -0,90% MoM (prev.3,90% MoM);

2) Terbatasnya kenaikan harga komoditas seiring ekspektasi menurunnya permintaan global khususnya dari Tiongkok mengurangi dukungan AUD; 3) Pada pertemuannya bulan Oktober 2022, RBA (Reserve Bank of Australia) menaikkan suku bunga 25 bps menjadi 2,60% lebih rendah dari ekspektasi di 50 bps. Hal itu dilakukan dengan alasan bahwa tingkat suku bunga telah meningkat tajam dalam waktu singkat sehingga RBA melihat laju kenaikan suku bunga perlu lebih lambat ke depan.

AUD/USD diekspektasi bergerak pada rentang 0,6080 – 0,6550 sampai akhir Januari 2023.

Exhibit 13: Pergerakan AUD/USD

0.6394

0.6100 0.6300 0.6500 0.6700 0.6900 0.7100 0.7300 0.7500

Sumber: Bloomberg (25 Oktober 2022)

(11)

2,50% (exp. 2,50%, prev. 2,60%); 2) Defisit neraca dagang periode Januari- September 2022 mencetak rekor JPY 11 triliun, didorong oleh melonjaknya biaya bahan bakar dan pelemahan JPY sebesar 20%. Hal tersebut menyebabkancost push inflationsehingga melemahkan daya beli Jepang dan terjadi pergeseran pendapatan dari domestik ke luar negeri; 3) Pihak otoritas Jepang terus melakukan intervensi verbal atas pelemahan JPY dengan mengatakan bahwa pihak berwenang tidak menghendaki pelemahan JPY dan siap untuk menanggapi pergerakan mata uang spekulatif; 4) JPY tertekan oleh perbedaan kebijakan BoJ (Bank of Japan) dan The Fed. Dalam pertemuannya di bulan September 2022, BoJ mempertahankan suku bunga acuannya -0,10% dan berkomitmen untuk terus mempertahankan kebijakan yang longgar.

sampai akhir Januari 2023.

Exhibit 14: Pergerakan USD/JPY

147.93

110 115 120 125 130 135 140 145 150 155

Beberapa faktor yang mendorong pergerakan USD/CNH antara lain: 1) Rilis data terakhir menunjukkan ekonomi Tiongkok belum membaik denganindustrial profits di Agustus 2022 turun -2,10% YoY (prev. +1,10% YoY); 2) Pergerakan CNH tertekan akibat krisis properti yang masih berlanjut, zero COVID policy yang masih diimplementasikan oleh pemerintah Tiongkok, serta tensi perang dagang dengan AS; 3) Pihak otoritas Tiongkok melanjutkan kebijakannya yang longgar.

Pada pertemuan kebijakan bulan September 2022, PBoC (ThePeople’s Bank of China) mempertahankan loan prime rate (LPR) 1 tahun di 3,65% dan LPR 5 tahun di 4,30%.

USD/CNH diekspektasi bergerak pada rentang 7,0300 – 7,4300 sampai akhir Januari 2023.

Sumber: Bloomberg (25 Oktober 2022)

Exhibit 15: Pergerakan USD/CNH

7.3140

6.2000 6.4000 6.6000 6.8000 7.0000 7.2000 7.4000

Sumber: Bloomberg (25 Oktober 2022)

(12)

Faktor yang menyebabkan pergerakan USD/IDR antara lain: 1) Rilis data ekonomi menunjukkan ekonomi Indonesia di bulan September 2022 relatif baik dengan consumer confidence index berada di 117,20 (prev. 124,70); 2) Terbatasnya kenaikan harga komoditas seiring dengan ekspektasi menurunnya permintaan global khususnya dari Tiongkok mengurangi dukungan terhadap IDR.

Sentimen pasar juga kurang mendukung akibat kekhawatiran pelaku pasar akan resesi ekonomi global, terlihat dari indeks saham global yang memasuki tren bearish;3) Pada pertemuan kebijakan bulan Oktober 2022, BI (Bank Indonesia) kembali menaikkan suku bunga BI7DRR sebesar 50 bps menjadi 4,75%.

USD/IDR diekspektasi bergerak pada rentang 15.250 – 15.750 sampai akhir Januari 2023.

Exhibit 16: Pergerakan USD/IDR

15,623

14,200 14,400 14,600 14,800 15,000 15,200 15,400 15,600 15,800

Sumber: Bloomberg (25 Oktober 2022)

(13)

Minyak WTI.Pada 25 Oktober 2022, harga minyak WTI ditutup di level USD 85,32/barel (+13,44% YTD). Dalam 1 bulan terakhir, harga minyak sempat turun ke bawah USD 80/barel kemudian kembali naik. Terdapat beberapa faktor yang dapat membuat harga cenderung turun kedepannya:

Pertama, ekspektasi perlambatan ekonomi global ke depan berpotensi membuat permintaan minyak melemah sehingga berimplikasi pada penurunan harga.

OPEC bahkan telah memangkas proyeksi permintaan minyak di tahun 2022 dari yang sebelumnya diperkirakan naik 3,10 juta barel/hari diturunkan menjadi 2,64 juta barel/hari (turun 460.000 barel/hari). Proyeksi di tahun 2023 juga diturunkan dari yang sebelumnya diperkirakan permintaan naik 2,70 juta barel/hari menjadi 2,34 juta barel/hari (turun 360.000 barel/hari).

Kedua, pemerintah AS telah melepas cadangan minyak strategis (strategic petroleum reserve)ke pasar. Hal ini membuat cadangan minyak strategis turun dari kisaran 618 juta barel di akhir September 2021 ke kisaran 427 juta barel di bulan September 2022, mencapai titik terendah dalam 40 tahun terakhir.

Pasokan minyak yang bertambah setidaknya di pasar AS dapat membuat harga cenderung turun kedepannya.

Akan tetapi, terdapat faktor yang dapat mendorong pergerakan harga minyak kedepannya yaitu turunnya produksi minyak dari OPEC. Pada bulan Oktober 2022, OPEC memutuskan untuk memangkas produksi minyak sebesar 2 juta barel/hari mulai dari November 2022. Padahal, per September 2022, OPEC mencatatkan produksi minyak sebesar 29,89 juta barel/hari, lebih tinggi dari level pre-pandemi di kisaran 28 juta barel/hari (Exhibit 17). Pasokan minyak yang diperkirakan relatif terbatas secara global berpotensi menopang harga minyak kedepannya.

Commodity Snapshot

Setelah sempat turun ke bawah USD 80/barel, harga minyak kembali naik karena keputusan OPEC untuk memangkas produksi minyak sebesar 2 juta barel/hari.

Sumber: Bloomberg (Oktober 2022)

Exhibit 17: OPEC Oil Production (million barrel per

day) Exhibit 18: Coal Price (USD/metric ton)

Batu bara. Pada 25 Oktober 2022, harga batu bara ditutup di level USD 388,15/metric ton (+128,86% YTD)(Exhibit 18). Harga batu bara bahkan sempat naik ke kisaran USD 450/metric ton pada bulan September 2022 disebabkan oleh ekspektasi permintaan yang semakin tinggi menjelang musim dingin di Eropa dan Asia. Selain itu, ditutupnya aliran gas alam dari Rusia ke Eropa secara penuh membuat Eropa beralih ke batu bara sebagai substitusi gas alam untuk pembangkit listrik. Hal ini membuat permintaan batu bara semakin tinggi sehingga mendorong pergerakan harga.

Namun, kedepannya harga batu bara diperkirakan turun setelah musim dingin berakhir di Eropa dan Asia. Selain itu, ekspektasi perlambatan ekonomi global dapat membuat permintaan batu bara melemah sehingga berpotensi menekan harga batu bara kedepannya.

Sumber: Bloomberg (25 Oktober 2022) 29.89

22.00 24.00 26.00 28.00 30.00 32.00 34.00

Oct-17 Oct-18 Oct-19 Oct-20 Oct-21

388.15

50.00 150.00 250.00 350.00 450.00 550.00 Harga batu bara turun dalam 1

bulanan terakhir karena meredanya kekhawatiran ketatnya pasokan menjelang musim dingin dan ekspektasi perlambatan ekonomi global.

(14)

BI menaikkan suku bunga acuan ke 4,75% di Oktober 2022.

Kenaikan suku bunga sesuai dengan ekspektasi pasar melihat depresiasi IDR yang lebih signifikan, kenaikan inflasi yang lebih tinggi, dan BI perlu menjaga selisih suku bunga dengan The Fed agar Indonesia tetap atraktif.

Di RDG (Rapat Dewan Gubernur) 19-20 Oktober 2022, BI menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 bps ke 4,75%. Keputusan ini sesuai dengan ekspektasi pasar melihat depresiasi USD/IDR yang lebih signifikan, kenaikan inflasi yang lebih tinggi, serta BI perlu menjaga selisih suku bunga dengan The Fed agar Indonesia tetap atraktif. Dari segi pergerakan mata uang, per 25 Oktober 2022, USD/IDR ditutup di level 15.623 (-8,77% YTD). USD/IDR masih menjadi mata uang terkuat ketiga di Asia dan melemah lebih terbatas dibandingkan USD/TWD (-14,37%

YTD), USD/KRW (-17,05% YTD), dan USD/JPY (-22,21% YTD). Namun, risiko pelemahan USD/IDR semakin besar kedepannya seiring dengan kenaikan inflasi, kuatnya USD, dan cadangan devisa yang menurun dari IDR 146,70 miliar di September 2021 ke IDR 130,80 miliar di September 2022. Untuk menjaga pergerakan USD/IDR, kenaikan suku bunga perlu dilakukan. Dari segi inflasi, per September 2022 inflasi Indonesia tercatat di +5,95% YoY dan inflasi inti di +3,20% YoY. Salah satu kontributor terbesar dari kenaikan inflasi adalah kenaikan harga BBM bersubsidi di awal September 2022. Walaupun kenaikan harga BBM sudah mulai terefleksi pada angka inflasi, kenaikan harga barang dan jasa secara keseluruhan sebagai dampak dari kenaikan harga BBM (second round inflation) kemungkinan besar baru akan terefleksikan dalam beberapa bulan ke depan. Sebagai langkah preventif dari kenaikan inflasi yang terlalu signifikan, BI menaikkan suku bunga. Dari segi selisih suku bunga, kenaikan suku bunga perlu dilakukan untuk menjaga keatraktifan imbal hasil aset di Indonesia.

Per Oktober 2022, selisih suku bunga ada di 1,50% (Exhibit 19). Dengan ekspektasi The Fed kembali menaikkan suku bunga acuan 75 bps di FOMC November dan Desember 2022, kenaikan suku bunga acuan BI menjadi langkah yang cukup tepat untuk diambil.

Akibat kenaikan suku bunga acuan, kenaikan suku bunga di instrumen OPT (Operasi Pasar Terbuka) dan implementasi strategi operation twistBI (menjual kepemilikan obligasi tenor pendek untuk membeli obligasi tenor panjang), imbal hasil instrumen pasar uang dalam bentuk obligasi tenor pendek mengalami kenaikan signifikan. Contohnya, imbal hasil FR 1 tahun naik dari 3,11% di 25 Oktober 2021 ke 5,56% di 25 Oktober 2022(Exhibit 20).Hal tersebut membuat imbal hasil obligasi tenor pendek menjadi atraktif. Namun, walaupun imbal hasil obligasi tenor pendek sudah mengalami kenaikan, imbal hasil deposito masih belum menunjukkan kenaikan. Alasannya, likuiditas yang ada di sistem perbankan belum tersalurkan dengan maksimal lewat kredit.Loan to deposit ratio per September 2022 berada pada level 84,30%, jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata 5 tahunnya di level 90,20%. Bank umum baru akan memiliki insentif yang lebih besar untuk menaikkan bunga deposito ketika penyaluran kredit lebih maksimal dan likuiditas berkurang drastis di sistem perbankan.

Faktor risiko: 1) BI memperlambat kenaikan suku bunga acuan; 2) Butuh waktu yang lebih lama untuk bunga deposito naik.

Money Market

SLIGHTLY OVERWEIGHT (no change)

Exhibit 19: BI & The Fed Interest Rate Differential (%) Exhibit 20: FR 1 Year Yield Movement (%) Imbal hasil instrumen pasar uang

terutama obligasi jangka pendek naik signifikan di tengah kenaikan suku bunga acuan, kenaikan suku bunga di instrumen Operasi Pasar Terbuka, dan implementasi operation twist BI. Hal tersebut membuat imbal hasil obligasi tenor pendek menjadi atraktif.

5.56

2.50 3.00 3.50 4.00 4.50 5.00 5.50 6.00

Oct-21 Nov-21 Dec-21 Jan-22 Feb-22 Mar-22 Apr-22 May-22 Jun-22 Jul-22 Aug-22 Sep-22 Oct-22

4.75 3.25

0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00 7.00

Apr-16 Sep-16 Feb-17 Jul-17 Dec-17 May-18 Oct-18 Mar-19 Aug-19 Jan-20 Jun-20 Nov-20 Apr-21 Sep-21 Feb-22 Jul-22

BI The Fed

(15)

4.00% 4.50% 4.75%

4.00%

4.75% 5.00%

Nov 2022 Dec 2022 Feb 2023

25-Sep-22 25-Oct-22 Data ketenagakerjaan AS yang

menguat di tengah inflasi yang persisten tinggi pada bulan September 2022 membuat pasar berekspektasi The Fed akan menaikkan suku bunga dengan lebih agresif lagi kedepannya. Hal ini membuat yield US Treasury 10 tahun kembali naik dan menyentuh 4,10% di 25 Oktober 2022.

Pelaku pasar kembali dikejutkan dengan rilis data ketenagakerjaan dan inflasi AS di bulan September 2022. Pasalnya, data ketenagakerjaan mengindikasikan kondisi pasar tenaga kerja yang kuat dimana angka pengangguran turun ke 3,50% (vs. 3,70% konsensus) dan nonfarm payroll bertambah 263.000 (vs.

250.000 konsensus). Sementara, inflasi AS terlihat turun dari +8,30% YoY ke +8,20% YoY per September 2022. Akan tetapi inflasi inti justru naik dari +6,30%

YoY ke +6,60% YoY. Hal ini mengindikasikan bahwa inflasi semakinstickydan persisten tinggi serta telah meluas ke seluruh sektor perekonomian. Kombinasi dari pasar tenaga kerja yang kuat dan inflasi yang tinggi membuat pasar berekspektasi The Fed untuk menaikkan suku bunga dengan lebih agresif lagi.

Per 25 Oktober 2022, pelaku pasar memperhitungkan 96% kemungkinan suku bunga naik ke 4,00% di November 2022, 51% kemungkinan suku bunga naik ke 4,75% di Desember 2022, dan 50% kemungkinan suku bunga naik ke 5,00% di Februari 2023. Ekspektasi tersebut lebih tinggi dibandingkan 1 bulan lalu dimana pelaku pasar hanya memperkirakan 72% kemungkinan suku bunga naik ke 4,00% di November 2022, 69% kemungkinan suku bunga naik ke 4,50% di Desember 2022, dan 68% kemungkinan suku bunga naik 4,75% di Februari 2023 (Exhibit 21). Alhasil,yield US Treasury 10 tahun kembali naik dan menyentuh 4,10% di 25 Oktober 2022.

Naiknyayield US Treasury 10 tahun ke 4,10% disertai dengan tingginyacredit default swap (CDS) 5 tahun Indonesia di 156 bps membuat yield INDON 10 tahun ikut naik ke level 5,93% di perdagangan 25 Oktober 2022. Kenaikan tersebut membuat valuasi INDON semakin menarik. Jika dilihat menggunakan yield spread,selisih antara INDON danUS Treasury 10 tahun melebar ke 183 bps. Level tersebut berada jauh di atas rata-rata 5 tahun pada level 130 bps (Exhibit 22).

Faktor risiko: Data ketenagakerjaan AS terus menguat dan inflasi persisten tinggi sehingga semakin membuka ruang untuk The Fed lebih agresif dalam mengetatkan kebijakan moneternya.

Fixed Income (USD)

Foreign Currency Bonds (INDON) – NEUTRAL (changed from SLIGHTLY OVERWEIGHT)

15 Yield spread antaraUS Treasury

dan INDON 10 tahun melebar ke 183 bps dan jauh berada di atas rata-rata 5 tahunnya. Lebarnya yield spread menandakan valuasi yang menarik.

Exhibit 21: Market Expectation Towards Fed Fund Rate

Sumber: CME Group (25 Oktober 2022)

Exhibit 22: INDON 10YR & UST 10YR Yield Spread Movement (%) 5 x

0,25% 5 x

0,25%

4 x 0,25%

61%

51%

48%

44%

44%

Terminal rate

2.59

0.58

1.83

1.30 0.00

1.00 2.00

Oct-17 Jan-18 Apr-18 Jul-18 Oct-18 Jan-19 Apr-19 Jul-19 Oct-19 Jan-20 Apr-20 Jul-20 Oct-20 Jan-21 Apr-21 Jul-21 Oct-21 Jan-22 Apr-22 Jul-22

Spread 5YR Average -1 STD

+1 STD -2 STD +2 STD

(16)

Foreign ownership: 42%

Yield FR 10 tahun menyentuh level 7,67% (+30 bps MTD) di perdagangan 25 Oktober 2022. Kenaikan yield US Treasury 10 tahun ke level 4,10%, CDS 5 tahun Indonesia ke level 156 bps, pelemahan USD/IDR ke 15.623 (-8,87% YTD), foreign outflowsebesar -IDR 157,38 triliun YTD, serta kenaikan suku bunga BI menjadi alasan kenaikanyield.Tidak hanya di tenor 10 tahun, kenaikanyieldFR juga terjadi baik di tenor pendek maupun tenor panjang. Akan tetapi, kenaikan yieldlebih besar terjadi di tenor pendek karena sensitivitas yang lebih tinggi atas perubahan kebijakan moneter, ekspektasi inflasi yang meningkat dalam jangka pendek, serta implementasi strategi operation twist dimana BI menjual kepemilikan obligasi di tenor pendek untuk membeli obligasi di tenor panjang.

Alhasil,yieldtenor pendek lebih menarik karena semakin mendekatiyieldtenor panjang.

Dari segi valuasi, tenor panjang relatif mahal (overvalued). Menggunakan FR 10 tahun sebagai proksi untuk menghitung valuasi,yield spreadantara FR danUS Treasury10 tahun terus menyempit dan menyentuh level 357 bps, sangat jauh di bawah rata-rata 5 tahun pada level 503 bps(Exhibit 23). Valuasi serupa pernah dicapai di tahun 2018 silam. Namun menariknya, di tahun 2018 proporsi kepemilikan investor asing di pasar obligasi Indonesia berada di 42% (all time high) sementara saat ini proporsi kepemilikan investor asing hanya berada di 14% (all time low). Hal ini secara tidak langsung mengindikasikan bahwa valuasi yang relatif mahal lebih disebabkan oleh investor domestik. Setidaknya sejak tahun 2021, kepemilikan investor domestik memang naik secara signifikan di pasar obligasi Indonesia. Di satu sisi, hal ini menguntungkan karena pergerakan yieldyang lebih terjaga. Namun di sisi lain, hal ini membuat valuasi mahal karena kenaikanyieldtidak sebesar kenaikanyieldobligasi dunia lainnya.

Investor asing membukukan net outflow sebesar IDR 293,82 triliun di pasar obligasi Indonesia dalam 3 tahun terakhir (2020 hingga YTD 25 Oktober 2022).

Salah satu faktor yang memegang peranan penting untuk investor asing kembali membukukaninflowke Indonesia adalah valuasi yang menarik. Dengan kondisi valuasi tenor panjang yangovervalued, kecil kemungkinan investor asing kembali mengakumulasi tenor panjang secara agresif. Hal ini sebenarnya sudah terlihat dari proporsi kepemilikan tenor panjang yang menurun. Di tahun 2017-2018, kepemilikan investor asing di tenor panjang (lebih dari 10 tahun) berada di kisaran 37%-38%. Akan tetapi, per September 2022, kepemilikan investor asing di tenor panjang jauh menurun ke 24%. Kenaikan proporsi kepemilikan terjadi di tenor pendek yang memang menawarkanyieldyang lebih menarik(Exhibit 24).

Kecilnya ketertarikan investor untuk mengakumulasi tenor panjang membuat risiko kenaikan yieldsemakin besar kedepannya.

Faktor risiko: 1) Kenaikan inflasi bersifat struktural sehingga bertahan dalam waktu yang lebih lama; 2) Ada negative surprises yang dapat menyebabkan pelemahan IDR; 3) Investor asing terus membukukanoutflow; 4) Berkurangnya dukungan investor domestik di pasar obligasi Indonesia.

Fixed Income (IDR)

Local Currency Bonds (FR/Indonesia Government IDR Bonds) – NEUTRAL (changed from SLIGHTLY OVERWEIGHT)

Yield FR tenor pendek maupun panjang melanjutkan kenaikan.

Akan tetapi, kenaikan lebih besar terjadi di FR tenor pendek. Hal ini membuatyield tenor pendek lebih menarik karena semakin

mendekatiyield tenor panjang.

Exhibit 23: FR 10YR & UST 10YR Yield Spread (%) Secara valuasi, FR tenor panjang

relatifovervalued. Yield spread antara FR 10 tahun dan US Treasury 10 tahun ada di 357 bps, jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata 5 tahunnya. Valuasi yang tinggi lebih disebabkan oleh peran investor domestik dibandingkan investor asing.

3.56

7.24

3.57 5,03

3.20 5.20 7.20

Spread 5YR Average -2 STD

-1 STD +2 STD +1 STD

Foreign ownership: 14%

Exhibit 24: Foreign Investor Ownership by Tenor

10% 8% 9% 9% 8% 14%

17% 18% 22% 22% 24% 22%

36% 36% 34% 36% 39% 40%

37% 38% 35% 33% 29% 24%

0-2 >2-5 >5-10 >10

Yield tenor pendek yang semakin menarik disertai dengan valuasi tenor panjang yang mahal membuat investor asing merubah preferensi kepemilikan obligasinya ke tenor pendek. Hal ini secara tidak langsung menambah risiko kenaikanyield di tenor panjang kedepannya.

(17)

Saham teknologi di negara maju dan Asia Pasifik terkoreksidouble digit secara YTD per 25 Oktober 2022. Walaupun perlambatan pertumbuhanearnings mulai terlihat di kuartal-II dan kuartal-III 2022, penurunan harga saham pada mayoritas emiten jauh lebih signifikan dibandingkan penurunan earnings-nya.

Secara YTD per 25 Oktober 2022, saham-saham teknologi di negara maju dan Asia Pasifik terkoreksi signifikan dalam kisaran 15%-55%. Koreksi yang terjadi di negara maju disebabkan oleh pengetatan kebijakan moneter yang sangat agresif oleh bank sentral. Ketika likuiditas digelontorkan secara masif di tahun 2020, investor banyak yang melakukan akumulasi di saham teknologi dan membuat harganya naik signifikan. Lantas, ketika likuiditas mulai ditarik di tahun 2022, saham teknologi juga yang terkena sell off besar-besaran. Ditambah lagi, pengetatan kebijakan moneter yang agresif, cepat atau lambat akan menurunkan permintaan dan profitabilitas emiten. Sementara itu, koreksi yang terjadi di negara berkembang disebabkan olehrisk off sentimentdari pasar saham global dan sentimen negatif dari Tiongkok yang melakukan zero COVID policy dan pengetatan regulasi (crackdown) pada sektor teknologinya.

Koreksi yang sudah terjadi diperparah dengan kebijakan Joe Biden yang melarang ekspor chip semikonduktor dari AS ke Tiongkok. Bukan hanya melarang perusahaan AS yang bergerak di bidang semikonduktor, kebijakan tersebut juga melarang perusahaan semikonduktor lain di Asia seperti TSMC dan Samsung yang banyak menggunakan teknologi dari AS. Hal ini membuat saham teknologi baik di negara maju maupun Asia Pasifik kembali terkoreksi. Dilihat secara fundamental, mayoritas emiten memang melaporkan pertumbuhan earnings yang melambat di kuartal-II dan kuartal-III 2022 secara YoY. Akan tetapi, turunnya harga saham jauh lebih signifikan dibandingkan penurunan earnings. Untuk Alibaba dan Tencent, pengenaan denda oleh pemerintah Tiongkok serta aktivitas bisnis yang lebih terbatas di tengah pengetatan regulasi membuat earnings terpukul. Namun, saham Alibaba dan Tencent juga sudah terkoreksi -49% dan -19% di tahun 2021(Exhibit 25).

Salah satu indikator yang paling sering digunakan untuk mengukur valuasi dari suatu saham adalahprice to earning ratio (p/e).Semakin rendahp/e ratioberarti harga saham tersebut juga semakin murah. Per 25 Oktober 2022,p/e ratiodari saham teknologi di negara maju dan Asia Pasifik lebih rendah dibandingkan rata- rata 5 tahunnya dan sudah sangat mendekati level terendahnya dalam 5 tahun terakhir. Bahkan,p/e ratiodari TSMC dan Alibaba sudah berada di level terendah dalam 5 tahun terakhir (Exhibit 26). Hal ini mengindikasikan valuasi yang semakin menarik.

Faktor risiko: 1) The Fed lebih agresif dalam mengetatkan kebijakan moneternya; 2) Risk off sentiment terus terjadi; 3) Tensi AS-Tiongkok terus memanas.

Equity (USD)

NEUTRAL (no change)

Indikatorprice to earning ratio dari saham teknologi baik di negara maju dan Asia Pasifik berada di bawah rata-rata 5 tahun dan semakin mendekati level terendah dalam 5 tahun terakhir. Hal ini mengindikasikan valuasi yang semakin menarik.

-3% -20%

59%

-8% -2%

-86%

-53%

-2%

-26% -30% -40%

-55%

-26% -49% -52%

-15%

Q3 Earnings YTD Performance Exhibit 25: Tech Stocks YTD Performance and EPS

Growth YoY Exhibit 26: Tech Stocks Price to Earning Ratio

Sumber: Bloomberg (25 Oktober 2022) Q2 Earnings

Max

Min Now

Sumber: Bloomberg (25 Oktober 2022)

(18)

0.3%

-0.3%

-4.7%

0.6%

-0.6%

1.0% 1.9%

0.8%

-1.5%

2.1% 1.6%

4.2%

Per akhir Oktober 2022, emiten di IHSG mulai melaporkan kinerja keuangan kuartal-III 2022 dengan sektor perbankan sebagai

pembukanya. Empat bank besar di Indonesia yakni BBCA, BBRI, BBNI, dan BMRI membukukan

pertumbuhanearnings yang fantastis.

IHSG mempertahankan posisi sebagai salah satu indeks saham terbaik di dunia hingga 25 Oktober 2022. Pasalnya, IHSG berhasil kembali ke level 7.048 dan mencatatkan kenaikan sebesar +7,09% YTD di saat mayoritas indeks dunia lain terkoreksi double digit. Walaupun pergerakan IHSG tidak luput dari risk off sentimentglobal, fundamental yang sangat baik mampu kembali meningkatkan optimisme investor domestik maupun asing. Di akhir bulan Oktober 2022, emiten- emiten di IHSG mulai melaporkan earnings di kuartal-III 2022 dengan laporan keuangan sektor perbankan sebagai pembuka. Sektor perbankan merupakan sektor dengan bobot terbesar di IHSG (26,51%) sehingga pergerakannya akan berdampak cukup besar terhadap pergerakan indeks secara keseluruhan.

Outlook sektor perbankan yang sangat positif dimana permintaan kredit terus mengalami peningkatan, kredit gagal bayar bergerak dalam tren stabil cenderung menurun, serta restrukturisasi kredit yang mengecil terefleksi pada kinerja empat bank besar di Indonesia yang fantastis. Hingga Agustus dan September 2022, net profitBBCA tercatat sebesar IDR 28,95 triliun (+24,80% YoY), BBRI sebesar IDR 33,60 triliun (+88,00% YoY), BBNI sebesar IDR 13,69 triliun (+76,80% YoY), dan BMRI sebesar IDR 30,70 triliun (+59,40% YoY). Laba BBCA sudah mendekati laba full year 2021 sementara BBRI, BBNI, dan BMRI sudah melampaui labafull year2021(Exhibit 27).Sektor perbankan diekspektasi masih dapat membukukan kinerja yang baik setidaknya hingga akhir tahun 2022.

Selain kondisi fundamental yang baik, katalis yang diharapkan mampu menopang kinerja indeks kedepannya datang dari seasonality di kuartal-IV. Berdasarkan data historis dalam 5 tahun terakhir, rata-rata kinerja bulanan paling baik terjadi di bulan Oktober sebesar 2,10%, November sebesar 1,60%, dan Desember sebesar 4,20%(Exhibit 28).Padahal, pertumbuhan laba perusahaan dalam 5 tahun terakhir tidak setinggi pertumbuhan laba di tahun 2022. Pertumbuhan laba emiten yang fantastis membuka peluangseasonality dapat kembali terjadi.

Faktor risiko:1) Risk off sentiment karena kekhawatiran resesi terus berlanjut; 2) Kenaikan inflasi lebih cepat terefleksi pada profitabilitas emiten; 3) Rilisearnings kuartal III-2022 lebih rendah dibandingkan konsensus pasar.

Equity (IDR)

SLIGHTLY OVERWEIGHT (no change)

Exhibit 27: Big Banks’ Earnings 2020-2022 (IDR Tn) Dari data historis 5 tahun terakhir,

IHSG membukukan rata-rata kinerja bulanan paling baik di kuartal-IV.

Pertumbuhan laba perusahaan yang fantastis di tahun 2022 membuka peluangseasonality dapat kembali terjadi.

Exhibit 28: JCI Index 5YR Average Return per Month (2017-2022) Sumber: Bloomberg, BCA Sekuritas (25 Oktober 2022)

8M 2022

27.1

18.7

3.3

17.1

31.4 31.1

10.9

29.0 33.6 28.0

13.7

30.7

BBCA BBRI BBNI BMRI

2020 2021 9M 2022

(19)

Calendars

Economic Calendar Product Calendar

Countries Events Dates

ADP Employment Change October 2022 2-Nov-22 FOMC Rate Decision November 2022 3-Nov-22 Trade Balance September 2022 3-Nov-22 Unemployment Rate October 2022 4-Nov-22 Change in Nonfarm Payrolls October 2022 4-Nov-22

CPI October 2022 10-Nov-22

University of Michigan Sentiment November 2022 11-Nov-22

PPI October 2022 15-Nov-22

Retail Sales Advance October 2022 16-Nov-22 Industrial Production October 2022 16-Nov-22 Durable Goods Orders October 2022 23-Nov-22 Conf. Board Consumer Confidence November 2022 29-Nov-22 GDP Annualized Q3 2022 30-Nov-22

Core PCE Q3 2022 30-Nov-22

Bank of England Bank Rate November 2022 3-Nov-22

GP Q3 2022 11-Nov-22

Industrial Production September 2022 11-Nov-22 Manufacturing Production September 2022 11-Nov-22 Jobless Claims Change October 2022 15-Nov-22

CPI October 2022 16-Nov-22

Gfk Consumer Confidence November 2022 18-Nov-22 Retail Sales October 2022 18-Nov-22 S&P Global/CIPS UK Manufacturing PMI November

2022 23-Nov-22

RBA Cash Rate Target November 2022 1-Nov-22 Building Approvals September 2022 2-Nov-22 Trade Balance September 2022 3-Nov-22 Westpac Consumer Conf SA November 2022 8-Nov-22 Unemployment Rate October 2022 17-Nov-22 Employment Change October 2022 17-Nov-22 Retail Sales October 2022 28-Nov-22 Private Sector Credit October 2022 30-Nov-22 Jibun Bank Japan PMI Composite October 2022 4-Nov-22 BoP Current Account Balance September 2022 9-Nov-22

PPI October 2022 11-Nov-22

GDP Q3 2022 15-Nov-22

Industrial Production September 2022 15-Nov-22 National CPI October 2022 18-Nov-22 Jobless Rate October 2022 29-Nov-22 Industrial Production October 2022 30-Nov-22 Trade Balance October 2022 7-Nov-22

PPI October 2022 9-Nov-22

CPI October 2022 9-Nov-22

Industrial Production October 2022 15-Nov-22 Retail Sales October 2022 15-Nov-22 Manufacturing PMI November 2022 30-Nov-22 Non-manufacturing PMI November 2022 30-Nov-22 Foreign Reserves October 2022 7-Nov-22

GDP Q3 2022 7-Nov-22

Trade Balance October 2022 15-Nov-22 Bank Indonesia 7D Reverse Repo November 2022 17-Nov-22

Name Type Launch/Mature Period

ST009 Bonds Launch Nov-22

Ashmore Saham Dinamis

Nusantara Mutual Funds Launch Nov-22

(20)

Balance sheet: neraca.

Consumer Price Index: indikator yang digunakan untuk mengukur inflasi dari sisi konsumen. Biasa disingkat menjadi CPI.

Credit Default Swap: instrumen derivatif yang mencerminkan persepsi risiko dan risk appetite investor terhadap sebuah investasi.

Foreign inflow: aliran dana masuk dari investor asing ke kelas aset tertentu.

Foreign outflow: aliran dana keluar dari investor asing dari kelas aset tertentu.

Giro Wajib Minimum: merupakan dana dalam bentuk saldo rekening giro yang harus disetorkan oleh bank umum ke Bank Indonesia. Biasa disingkat menjadiGWM.

Kebijakan fiskal: kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah dalam bentuk alokasi pengeluaran pemerintah dan sistem perpajakan untuk mempengaruhi perekonomian.

Kebijakan moneter: kebijakan yang dilakukan oleh bank sentral atau otoritas keuangan di suatu negara untuk mengontrol jumlah uang yang beredar di pasar.

Neraca perdagangan: akun yang mencatat atas ekspor-impor yang dilakukan oleh suatu negara dengan negara lain di seluruh dunia.

Nonfarm payroll: data tingkat ketenagakerjaan AS diluar sektor pertanian, pemerintahan, rumah tangga, dan lembaga non-profit.

Operation twist: aksi bank sentral untuk menjual kepemilikan obligasi tenor pendek dan membeli obligasi tenor panjang.

Produk Domestik Bruto: indikator ekonomi yang digunakan untuk mengukur jumlah barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu negara dalam periode tertentu. Biasa disingkat menjadiPDB. Dalam Bahasa Inggris adalahGross Domestic Product (GDP).

Resesi: seubah kondisi di mana pertumbuhan ekonomi mengalami penurunan. Resesi biasanya ditandai oleh pertumbuhan PDB yang terkontraksi selama 2 kuartal berturut-turut.

Retail sales: indikator yang mengukur level pengeluaran konsumen untuk berbelanja barang eceran.

Risk free asset: aset yang dipandang bebas risiko.

Risk off: istilah yang menggambarkan bahwa pasar pesimis dengan prospek perekonomian dan cenderung mengurangi risiko investasinya.

Risk on: istilah yang menggambarkan bahwa pasar optimis dengan prospek perekonomian dan cenderung mengalihkan investasinya ke aset tinggi risiko.

Safe haven asset: aset yang dinilai aman di tengah ketidakpastian ekonomi, politik, atau geopolitik.

Swap: transaksi pertukaran dua valas melalui pembelian tunai dengan penjualan kembali secara berjangka atau penjualan tunai dengan pembelian kembali secara berjangka.

Tapering: kebijakan moneter bank sentral untuk mengurangi laju pembelian aset dalam program QE-nya.

Year-to-date: periode yang dimulai pada awal tahun kalender hingga tanggal tertentu. Biasa disingkat menjadi YTD.

Yield:imbal hasil.

Yield spread: selisih imbal hasil antar obligasi.

Glossary

(21)

Contributor List

BCA Wealth Panel

BCA Wealth Panel Members

SEVP Treasury & International Banking Branko Windoe

Head of Wealth Management Ugahary Yovvy Chandra

Chief Economist David Sumual

Wealth Management Division

Lilyana Sutianto Baling – Head of Investment Business & Research Management Richie Norbert Tandias– Head of Research & Portfolio Management

Anastasia Gracia– Research Analyst Catherine Ashikin– Research Analyst

Treasury Team

Junita Gunawan– Head of Treasury

Yeni Marliana Laurence – Head of Position Management Dionysius Kelvin – Currency Analyst

Yuliastono Candra – Fixed Income Analyst

Economist Team

Barra Kukuh Mamia– Economist

Lazuardin Thariq - Economist

BCA Sekuritas Team

Andre Benas– Head of Research

BCA Sekuritas Head of Equity

Aldo Benas

(22)

Disclaimer

Laporan BCAHouse View(“Laporan”) ini hanya bersifat sebagai informasi dan bukan merupakan rekomendasi, saran, ajakan, atau arahan, serta tidak dimaksudkan sebagai penawaran atau permintaan untuk melakukan transaksi tertentu.

Tidak ada satu pun baik PT Bank Central Asia Tbk(“BCA”), perusahaan terafiliasinya, dan/atau karyawan maupun agen dari BCA dan seluruh perusahaan terafiliasinya yang memberikan pernyataan atau jaminan (baik tersurat atau tersirat) atau bertanggung jawab sehubungan dengan akurasi atau kelengkapan dari informasi, penilaian, proyeksi, perkiraan, analisis, dan pendapat lainnya yang tercantum dalam Laporan ini (“Informasi”). Dalam hal Informasi berasal dari sumber di luar BCA, Informasi tersebut diperoleh dari sumber yang menurut BCA dapat diandalkan. Namun demikian, BCA tidak menjamin bahwa Informasi tersebut akurat, lengkap, maupun terkini (up-to-date).

BCA, perusahaan terafiliasinya, dan/atau karyawan maupun agen dari BCA dan seluruh perusahaan terafiliasinya tidak bertanggung jawab dan tidak dapat dituntut atas kerugian apa pun baik yang bersifat langsung maupun tidak langsung atau atas kerugian lainnya dalam bentuk apa pun yang mungkin timbul dari setiap penggunaan Informasi yang tercantum dalam Laporan ini (termasuk setiap kesalahan atau kekeliruan yang mungkin ditemukan dalam Laporan ini). Segala akibat dan kerugian yang timbul dari penggunaan Informasi untuk keperluan apa pun menjadi tanggung jawab pengguna Informasi sepenuhnya dan pengguna Informasi membebaskan BCA, perusahaan terafiliasinya, dan/atau karyawan maupun agen dari BCA dan seluruh perusahaan terafiliasinya dari segala tuntutan, gugatan, dan/atau tindakan hukum lainnya dalam bentuk apa pun.

Setiap Informasi terkandung dalam Laporan ini mungkin didasarkan pada sejumlah asumsi dan perkiraan yang mungkin dapat berbeda dengan kondisi yang sesungguhnya atau kondisi yang terjadi di kemudian hari. Asumsi dan perkiraan yang berbeda dapat mengakibatkan hasil yang berbeda pula. BCA perusahaan terafiliasinya, dan/atau karyawan maupun agen dari BCA dan seluruh perusahaan terafiliasinya tidak mewakili atau menjamin bahwa Informasi apa pun akan terpenuhi.

Kinerja masa lalu yang dimuat dalam Laporan ini bukan merupakan indikator maupun jaminan kinerja di masa mendatang.

Informasi yang disampaikan dalam Laporan ini dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan terlebih dulu. Informasi yang tercantum pada Laporan ini dapat berasal dari pihak lainnya. BCA tidak bertanggung jawab atas kebenaran, keakuratan, atau kelengkapan Informasi, termasuk kesalahan Informasi yang tercantum pada Laporan ini.

Laporan ini dibuat secara umum tanpa mempertimbangkan tujuan investasi, situasi keuangan, dan kebutuhan pihak tertentu, serta tidak ditujukan untuk satu/sekelompok pihak tertentu. Sebelum Anda melakukan transaksi investasi apa pun, Anda harus melakukan pengkajian dan analisis secara independen dan meminta saran atau masukan dari segi finansial dan hukum dari tenaga profesional (jika diperlukan).

Informasi yang dimuat dalam Laporan ini tidak mencerminkan posisi BCA, perusahaan terafiliasinya, dan/atau karyawan maupun agen dari BCA dan seluruh perusahaan terafiliasinya dalam melakukan transaksi efek dan/atau instrumen keuangan lainnya baik dalam kapasitasnya sebagai pelaku transaksi maupun sebagai prinsipal atau agen sehingga transaksi efek dan/atau instrumen keuangan lainnya yang dilakukan BCA, perusahaan terafiliasinya, dan/atau karyawan maupun agen dari BCA dan seluruh perusahaan terafiliasinya dapat tidak konsisten dengan Informasi yang dimuat dalam Laporan ini.

Produk investasi yang disebutkan dalam Laporan ini (selain produk simpanan atau deposito BCA) BUKAN merupakan produk maupun tanggung jawab BCA dan bukan juga merupakan bagian dari simpanan pihak ketiga pada BCA, sertaTIDAK TERMASUKdalam cakupan obyek program penjaminan Pemerintah atau penjaminan simpanan yang dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Laporan ini tidak diperbolehkan untuk diproduksi ulang, disalin/difotokopi, diduplikasi, dikutip, atau disediakan dalam bentuk apa pun, dengan sarana apa pun, atau didistribusikan kembali kepada pihak lain manapun tanpa izin tertulis terlebih dahulu dari BCA.

Referensi

Dokumen terkait

In order to fulfill the heterogeneous demands of users, cloud providers are offering variety of services SaaS, PaaS, IaaS and deployment models Public, Private, Hybrid to the