Published on: 2 September 2022
Table of Contents
Executive Summary
Intisari & Tactical Asset Allocation Topic of the Month
The Fed Menegaskan Belum Akan Memperlambat Kenaikan Suku Bunga
Global Economic Outlook Indonesia Economic Outlook Currency Outlook
Commodity Snapshot
On Asset Class: Money Market On Asset Class: Fixed Income (USD) On Asset Class: Fixed Income (IDR) On Asset Class: Equity (USD) On Asset Class: Equity (IDR) Economic Calendar
Glossary
3
4
5 7 9 11 12 13 14 15 16 18 19
2
Tactical Asset Allocation
Inflasi AS yang sudah mulai turun dari +9,10% YoY ke +8,50% YoY pada bulan Juli 2022 dan ekonomi AS yang secara teknis telah memasuki resesi karena pertumbuhan PDB yang negatif selama dua kuartal berturut-turut membuat pasar sempat“overconfident” bahwa The Fed tidak akan terlalu agresif dalam pengetatan kebijakan moneternya ke depan.
Namun, pidato Jerome Powell pada pertemuan Jackson Hole tanggal 26 Agustus 2022 mematahkan gagasan tersebut.
Jerome Powell menyatakan bahwa The Fed masih tetap berkomitmen untuk menekan inflasi walaupun pertumbuhan ekonomi berpotensi melemah. Pidato Jerome Powell secara tidak langsung menyadarkan pasar bahwa The Fed berpotensi akan tetap agresif dalam menaikkan suku bunga ke depan.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal-II 2022 terus menunjukkan penguatan dengan tumbuh +5,44% YoY. Akan tetapi, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa dihadapkan pada beberapa tantangan seperti inflasi yang berpotensi melanjutkan kenaikan, ekspektasi kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI), dan ekspektasi perlambatan ekonomi global. Di tambah lagi, apabila kenaikan harga BBM subsidi (Pertalite) terjadi ke depan, inflasi berpotensi semakin melonjak. Hal ini secara tidak langsung akan mempengaruhi kenaikan suku bunga BI ke depannya.
3 Pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Agustus 2022, BI telah menaikkan suku bunganya sebesar 0,25%.
Normalisasi likuiditas yang terus dilakukan oleh BI dapat mendorong bank umum menaikkan suku bunga depositonya.
Money Market – SLIGHTLY OVERWEIGHT
Fixed Income USD – SLIGHTLY OVERWEIGHT
⚫ View bulan sebelumnya Underweight Slightly
Underweight
Slightly
Overweight Overweight Neutral
Executive Summary
Intisari & Tactical Asset Allocation
Equity USD – NEUTRAL
Volatilitas berpotensi terjadi di pasar saham AS yang sebelumnya sempat rally sekitar dua bulan terakhir karena ekspektasi The Fed tidak terlalu agresif dalam kebijakan moneternya yang akhirnya terpatahkan dengan pidato Jerome Powell di Jackson Hole.
Fixed Income IDR – SLIGHTLY OVERWEIGHT
Pernyataan Jerome Powell di Jackson Hole secara tidak langsung menyebabkan volatilitas di pasar obligasi. Namun, diperkirakan volatilitas akan lebih berkurang ke depan karena ekspektasi pasar dengan The Fed mulai selaras.
Kinerja IHSG yang cukup kuat dalam sebulan terakhir didorong oleh pertumbuhan PDB Indonesia yang sangat baik, laba bersih emiten yang fantastis, serta adanyainflowinvestor asing.
Equity IDR – SLIGHTLY OVERWEIGHT
Dalam sebulan terakhir, foreign inflow ke pasar obligasi Indonesia mulai terlihat. Permintaan domestik yang masih tetap kuat dapat terus menopang pergerakanyield.
12,141.71
3.40 0.00 0.50 1.00 1.50 2.00 2.50 3.00 3.50 4.00 10,000
11,000 12,000 13,000 14,000 15,000 16,000 17,000
Nasdaq (Left) UST 2 Year Yield (Right)
Topic of the Month
The Fed Menegaskan Belum Akan Memperlambat Kenaikan Suku Bunga
Secara teknis, AS sudah memasuki fase resesi karena pertumbuhan PDB yang negatif selama dua kuartal berturut-turut.
Hal ini membuat pasar yakin bahwa The Fed tidak akan terlalu agresif dalam menaikkan suku bunga. Sejak bulan Juli sampai Agustus 2022, investor melakukan aksi beli di pasar obligasi dan pasar saham AS terutama saham-saham teknologi. Sejak pertengahan Juni sampai Agustus 2022, yield US Treasury2 tahun masih terus naik, sedangkan di periode yang sama indeks Nasdaq naik 22% dari titik terendahnya di tahun ini(Exhibit 1). Padahal, para pejabat The Fed terus menekankan akan melakukan pengetatan moneter sampai inflasi kembali ke kisaran 2,00%.
Pada pertemuan Jackson Hole di hari Jumat, 26 Agustus 2022, Jerome Powell menegaskan bahwa The Fed masih berkomitmen untuk menurunkan inflasi dengan cara menaikkan suku bunga walaupun itu dapat berdampak negatif pada ekonomi AS. Pernyataan ini membuat pasar menaikkan probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 0,75% di pertemuan FOMC tanggal 21 September 2022 dari angka 41% sebulan lalu menjadi 61%.Yield US Treasury2 tahun naik mencapai angka tertinggi selama 15 tahun terakhir ke kisaran 3,40%. Indeks Nasdaq kembali terkoreksi sekitar 4% dalam sehari setelah mengalami kenaikan sekitar 22% dalam 2 bulan terakhir.
Data historis menunjukkan The Fed tidak pernah berhenti menaikkan suku bunga, apalagi menurunkan suku bunga sebelum inflasi lebih rendah dari suku bunga. Data historis juga menunjukkan suku bunga The Fed mungkin belum mencapai puncaknya jikayield US Treasury2 tahun belum berhenti naik.
Pidato Jerome Powell di Jackson Hole berhasil menyadarkan pasar bahwa The Fed tetap akan menaikkan suku bunga walaupun akan berdampak negatif terhadap ekonomi. Namun, ini tidak berarti tugas The Fed sudah selesai.
Jika aksi The Fed tidak sesuai dengan komitmennya, maka pasar akan kembali meragukan fakta bahwa The Fed akan dapat terus menaikkan suku bunga ke depannya. Artinya pasar akan kembali ke mentalitas“bad news is goodnews” yang berarti The Fed akan kembali menurunkan suku bunga ketika data ekonomi lemah.
4 Sumber: Bloomberg (26 Agustus 2022)
Exhibit 1: Nasdaq vs UST 2YR
%
6.3% 6.7%
2.3%
6.9%
-1.6% -0.6%
-1.2%
5.6%
0.9% 1.3% 0.8%
-0.1%
-0.1%
2.1% 2.3%
0.4% 0.5% 0.6%
Q1 2021 Q2 2021 Q3 2021 Q4 2021 Q1 2022 Q2 2022
US UK Euro Area
Global Economic Outlook
Kontrak harga listrik 1 tahun di Jerman dan Perancis masing- masing naik hampir 23 kali lipat dan 19 kali lipat dibandingkan level pre-pandemi, mencapai all time high. Hal ini berpotensi membuat inflasi bersifat persisten dan mendorong bank sentral menaikkan suku bunga secara agresif.
Perlambatan ekonomi global sudah mulai terlihat terutama di negara- negara maju. Inflasi yang tinggi, pengetatan kebijakan moneter yang agresif, dan perlambatan ekonomi di Tiongkok akibat zero COVID policy dapat semakin menekan perekonomian global.
Secara teknis, resesi ekonomi terjadi ketika pertumbuhan ekonomi dalam dua kuartal berturut-turut negatif. Di AS, pertumbuhan PDB telah berada di teritori negatif sejak kuartal-I 2022, mengindikasikan bahwa AS secara teknis mengalami resesi ekonomi (Exhibit 2). Di Inggris, pertumbuhan ekonomi juga mulai menunjukkan pelemahan pada kuartal-II 2022. Sementara di Eropa, pertumbuhan ekonomi masih cukup kuat dibandingkan AS dan Inggris akibat liburan musim panas di negara-negara Eropa Selatan walaupun secara keseluruhan mulai menunjukkan perlambatan dibandingkan tahun 2021. Ke depannya, pertumbuhan ekonomi secara global dapat semakin melambat seiring dengan inflasi yang berpotensi masih tetap tinggi akibat kenaikan harga energi dan pangan sehingga membuat bank sentral menaikkan suku bunga secara agresif. Selain itu, perlambatan ekonomi di Tiongkok akibat zero COVID policy dan krisis properti dapat memberikan spillover effect terhadap perekonomian global mengingat Tiongkok berkontribusi 18,62% terhadap PDB global pada tahun 2021. Sebagai informasi, IMF bahkan merevisi kembali pertumbuhan ekonomi global dari 3,60% ke 3,20% pada tahun 2022.
Benchmarkkontrak harga listrik 1 tahun di dua negara besar di Eropa (Jerman dan Perancis) terus mencatatkan kenaikan sejak Perang Rusia-Ukraina terjadi pada akhir Februari 2022 dan mencetak level tertingginya (Exhibit 3).
Dibandingkan level pre-pandemi, kontrak harga listrik 1 tahun di Jerman dan Perancis masing-masing telah naik hampir 23 kali lipat dan 19 kali lipat per 26 Agustus 2022. Perang Rusia-Ukraina yang berlanjut pada pemberian sejumlah sanksi ekonomi ke Rusia turut mendorong Rusia melakukan aksi balasan dengan menurunkan pasokan gas alam ke Eropa. Di tambah lagi, perusahaan gas alam di Rusia, Gazprom, juga menyatakan akan menutup pipa gas alam Nord Stream 1 dari Rusia ke Eropa selama 3 hari pada 31 Agustus 2022 dengan alasan pemeliharan rutin. Padahal, pasokan gas alam sebelumnya sudah dikurangi dari 40% ke 20% dari kapasitas. Kenaikan harga komoditas energi yang terus berlanjut dapat membuat inflasi masih bertahan di level yang cukup tinggi, setidaknya dalam beberapa waktu ke depan. Hal ini berpotensi semakin mendorong bank sentral menaikkan suku bunganya secara agresif walaupun pertumbuhan ekonomi mulai menunjukkan pelemahan.
Perlambatan Ekonomi Global Mulai Terlihat Akibat Tingginya Inflasi
5 Exhibit 2: US, UK, & Euro Area GDP Growth Rate – Q2 2022 (QoQ)
Sumber: Bloomberg (26 Agustus 2022)
Exhibit 3: Germany & French 1 Year Forward Electricity Contract
Sumber: Bloomberg (Agustus 2022)
985 840
0.00 200.00 400.00 600.00 800.00 1,000.00
Germany French
EUR/Mwh
Note: US GDP Annualized
Inflasi AS terlihat mulai turun pada bulan Juli 2022 membuat pasar berekspektasi The Fed akan lebih dovish dalam kebijakan
moneternya. Namun, komentar Jerome Powell di Jackson Hole membuat ekspektasi pasar berubah.
Pada bulan Juli 2022, inflasi AS tercatat +8,50% YoY, mulai turun dibandingkan bulan sebelumnya (+9,10% YoY)(Exhibit 4). Inflasi inti juga cenderung melandai di AS dengan naik +5,90 YoY, berada di angka yang sama dibandingkan bulan lalu. Adapun kontributor utama kenaikan inflasi di AS secara YoY adalah harga gasoline yang walaupun turun namun masih tetap tinggi (+44,00% YoY), kenaikan harga listrik (+15,20% YoY), dan makanan rumah (+13,10% YoY). Hal ini sempat membuat pasar berekspektasi inflasi akan mulai melandai dan The Fed akan lebihdovishdalam arah kebijakan moneternya.
Padahal, inflasi masih dikatakan relatif tinggi, jauh berada di atas target bank sentral di 2% dan masih relatif lebih tinggi dari pertumbuhan gaji per jam yang naik sebesar +6,70% YoY pada bulan Juli 2022 (Exhibit 5). Data ketenagakerjaan AS juga masih cukup kuat dengan tingkat pengangguran berada di 3,50% pada bulan Juli 2022, mencapai level terendah sejak Desember 1969. Data-data tersebut semakin membuka ruang untuk The Fed lebih agresif dalam menaikkan suku bunganya untuk menekan inflasi walaupun pertumbuhan ekonomi berpotensi tertekan ke depannya. Hal ini juga didukung oleh pernyataan hawkish Jerome Powell di Jackson Hole pada 26 Agustus 2022 yang mengindikasikan bahwa kenaikan suku bunga agresif masih perlu dilakukan walaupun ekonomi berpotensi melemah. Alhasil, terjadi perubahan ekspektasi pasar dari yang sebelumnya memperkirakan The Fed akan lebihdovishmenjadi lebihhawkishdalam kebijakan moneternya. Walaupun hal ini dapat menimbulkan volatilitas dalam jangka pendek namun dalam jangka panjang volatilitas akan lebih terjaga karena ekspektasi pasar dengan The Fed lebih selaras.
Perkembangan Kondisi Ekonomi AS
Exhibit 4: US Inflation (% YoY)
Sumber: Bloomberg (Agustus 2022)
6 Exhibit 5: US Unemployment Rate and Wage Growth (%)
Sumber: Bloomberg (Agustus 2022)
8.50
5.90
0.00 2.00 4.00 6.00 8.00 10.00
US CPI US Core CPI
3.50 6.70
2.00 3.00 4.00 5.00 6.00 7.00
3.00 8.00 13.00 18.00
US Unemployment Rate (Left) US Wage Growth YoY (Right)
Pertumbuhan ekonomi Indonesia terus menunjukkan penguatan pada kuartal-II 2022. Namun, terdapat beberapa tantangan untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia yaitu ekspektasi kenaikan inflasi dan suku bunga, serta ekspektasi perlambatan ekonomi global.
Di tengah ekspektasi perlambatan ekonomi global, Indonesia justru berhasil mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang kuat. Pada kuartal-II 2022, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat tumbuh +5,44% YoY, lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya (Exhibit 6). Kuatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia terutama didorong oleh konsumsi (+5,51% YoY) dan ekspor (+19,74%
YoY). Pertumbuhan konsumsi pada kuartal-II 2022 terjadi seiring dengan perkembangan vaksinasi yang positif (total masyarakat yang sudah divaksinasi sebesar 74,16% per 26 Agustus 2022), PPKM yang longgar, serta adanya perayaan Lebaran di bulan Mei 2022. Sementara pertumbuhan ekspor didorong oleh tingginya harga komoditas terutama dari batu bara (+146,11% YTD per 26 Agustus 2022). Namun, ekspektasi kenaikan inflasi dan suku bunga, serta ekspektasi perlambatan ekonomi global dapat menekan permintaan dan ekspor sehingga berpotensi menekan perekonomian Indonesia. Tetapi setidaknya untuk kuartal-III 2022, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan masih akan tetap kuat melihat pemulihan ekonomi dalam negeri yang masih terus berlanjut serta adanyalow base effect di kuartal-III 2021 akibat penyebaran virus Delta. Tim Ekonom BCA memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 5% pada tahun 2022.
Pada bulan Juli 2022, inflasi Indonesia tercatat naik +4,94% YoY, tertinggi sejak 7 tahun terakhir(Exhibit 7). Kenaikan inflasi terjadi sejak bulan Februari 2022, di mana pada bulan tersebut Perang Rusia-Ukraina terjadi dan berujung pada kenaikan harga komoditas energi dan pangan. Adapun kontributor kenaikan inflasi di Indonesia berasal dari kelompok makanan, minuman dan tembakau (+9,35% YoY) serta kenaikan biaya transportasi (+6,65% YoY). Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada satu negara pun yang “imun” dengan inflasi, mengingat saat ini krisis pangan dan energi bisa dikatakan sudah meluas secara global. Ke depannya, inflasi Indonesia masih berpotensi naik seiring dengan harga komoditas energi dan pangan yang masih tinggi secara global serta harga BBM non-subsidi (Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex) yang kembali dinaikkan. Pemulihan konsumsi dalam negeri serta potensi transfer inflasi dari sisi produsen (PPI kuartal II-2022: +11,70% YoY) ke konsumen (CPI) juga dapat mendorong kenaikan inflasi di Indonesia. Selain itu, apabila harga BBM subsidi (Pertalite) naik, inflasi berpotensi semakin naik ke depan mengingat Pertalite merupakan jenis BBM yang paling banyak di konsumsi oleh masyarakat, mencapai kisaran 79% dibandingkan BBM jenis lainnya.
Indonesia Economic Outlook
Pemulihan Ekonomi Indonesia Terus Berlanjut Walaupun Dibayangi Oleh Kenaikan Inflasi
7 Kenaikan inflasi Indonesia pada
Juli 2022 terutama disebabkan oleh kenaikan harga pangan.
Diperkirakan inflasi masih akan tetap tinggi ke depan, di tambah apabila harga Pertalite naik ke depannya.
Exhibit 6: Indonesia GDP (% YoY)
Sumber: Badan Pusat Statistik (Agustus 2022)
Exhibit 7: Indonesia Inflation Contributors (YoY)
Sumber: Badan Pusat Statistik (Agustus 2022)
4.94%
-0.50%
0.50%
1.50%
2.50%
3.50%
4.50%
5.50%
Jan-21 Feb-21 Mar-21 Apr-21 May-21 Jun-21 Jul-21 Aug-21 Sep-21 Oct-21 Nov-21 Dec-21 Jan-22 Feb-22 Mar-22 Apr-22 May-22 Jun-22 Jul-22
Foodstuffs Core Administered prices CPI
Russia- Ukraine War
-0.70 7.07
3.51
5.02 5.01 5.44
-5.00 0.00 5.00 10.00
Q1-2021 Q2-2021 Q3-2021 Q4-2021 Q1-2022 Q2-2022
Others Net Export
Government Spending Fixed-Asset Investment Household Consumption GDP
4.22 32.03 39.86
-60.00 -40.00 -20.00 0.00 20.00 40.00 60.00 80.00
-2.00 0.00 2.00 4.00 6.00 8.00
Jan-21 Feb-21 Mar-21 Apr-21 May-21 Jun-21 Jul-21 Aug-21 Sep-21 Oct-21 Nov-21 Dec-21 Jan-22 Feb-22 Mar-22 Apr-22 May-22 Jun-22 Jul-22
Trade Balance - Left Exports (YoY) - Right Imports (YoY) - Right Pada bulan Juli 2022, cadangan devisa Indonesia tercatat turun dari USD 136,40 miliar ke USD 132,20 miliar, merupakan nilai terendah sejak Juni 2020 dan mendekati rata-rata 5 tahunnya di kisaran 130 miliar (Exhibit 9). Turunnya cadangan devisa disebabkan oleh aksi BI untuk melakukan stabilitas terhadap IDR mengingat pada bulan Juli 2022, IDR sempat bergerak di kisaran Rp 15.000/USD. Selain itu, turunnya cadangan devisa juga disebabkan oleh pembayaran utang dalam negeri pemerintah. Ke depannya, diperkirakan cadangan devisa Indonesia dapat melemah seiring dengan ekspektasi surplus neraca dagang yang turun dan kebutuhan BI untuk menjaga stabilitas IDR di kemudian hari. Namun, penggunaan cadangan devisa untuk menjaga stabilitas IDR walaupun efektif namun kurang bisa dilakukan secara berkelanjutan dalam jangka panjang.
Walaupun BI telah menaikkan suku bunganya sebesar 25 bps pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Agustus 2022, kemungkinan besar BI masih akan menaikkan suku bunganya melihat ekspektasi inflasi yang naik. Seberapa besar kenaikan BBM subsidi (Pertalite) akan mempengaruhi kenaikan inflasi sehingga hal ini akan menjadi salah satu faktor penentu seberapa agresif BI menaikkan suku bunganya. Penguatan USD akibat ekspektasi The Fed yang semakin agresif dalam menaikkan suku bunganya juga berpotensi menekan pergerakan IDR. Faktor-faktor tersebut dapat menjadi pendorong untuk BI menaikkan suku bunganya ke depan.
8 Neraca dagang Indonesia masih
terus mencatatkan surplus. Ke depannya, surplus berpotensi melemah seiring dengan menguatnya konsumsi dalam negeri dan ekspektasi perlambatan ekonomi global.
Hingga bulan Juli 2022, neraca dagang Indonesia mencatatkan surplus 27 bulan berturut-turut (Exhibit 8). Surplus bulan Juli 2022 tercatat sebesar USD 4,22 miliar dengan ekspor tercatat naik +32,03% YoY dan impor naik +39,86% YoY.
Kenaikan ekspor didorong oleh usaha pemerintah untuk mengakselerasi ekspor CPO, di mana produsen CPO diperbolehkan ekspor hingga 7 kali lipat dari volume CPO yang dijual di domestik pada Juli 2022. Sementara kenaikan impor didorong oleh kuatnya konsumsi masyarakat seiring dengan pemulihan ekonomi dalam negeri. Ke depannya, pemulihan ekonomi domestik yang berlanjut dapat membuat impor naik. Selain itu, ekspektasi perlambatan ekonomi global dapat membuat ekspor turun. Kedua hal tersebut berpotensi membuat surplus neraca dagang Indonesia berpotensi turun ke depannya sehingga dapat menekan pergerakan IDR di tengah mata uang USD yang menguat karena kebijakan moneter The Fed yang agresif.
Perkembangan Kondisi Ekonomi Indonesia
Exhibit 8: Indonesia Trade Balance
Sumber: Bloomberg (Agustus 2022)
Exhibit 9: Indonesia Foreign Exchange Reserves (USD Bn)
Sumber: Bloomberg (Agustus 2022)
Cadangan devisa Indonesia pada bulan Juli 2022 mencapai titik terendah sejak Juni 2020. Potensi surplus neraca dagang yang turun dan kebutuhan BI untuk menjaga stabilitas IDR dapat membuat cadangan devisa melemah ke depannya.
USD bn %
146.87 132.20
110.00 120.00 130.00 140.00 150.00
Jan-17 Apr-17 Jul-17 Oct-17 Jan-18 Apr-18 Jul-18 Oct-18 Jan-19 Apr-19 Jul-19 Oct-19 Jan-20 Apr-20 Jul-20 Oct-20 Jan-21 Apr-21 Jul-21 Oct-21 Jan-22 Apr-22 Jul-22
FX Reserve Average 5YR
All Time High
DXY diekspektasi bergerak pada rentang 106,80-111,80 hingga akhir November 2022
Pergerakan DXY mendapatkan pengaruh dari: 1) Ekonomi AS bulan Juni 2022 menunjukkan adanya penurunan dengan angka penjualan ritel berada di level 0,00% MoM (vs. 0,80% MoM Mei 2022). Ekonomi AS terindikasi resesi secara teknikal secara terkontraksi selama 2 kuartal berturut-turut; 2) Inflasi AS bulan Juli 2022 mengalami penurunan seiring dengan turunnya harga bahan bakar. Data ketenagakerjaan cukup kuat dengan tingkat pengangguran turun dari 3,60% ke 3,50%. The Fed diperkirakan akan melanjutkan pengetatan kebijakan moneter walaupun tidak lebih agresif dibandingkan sebelumnya; 3) Pada Juli 2022, The Fed menaikkan suku bunga 75 bps sesuai dengan ekspektasi pasar untuk mendukung komitmennya dalam menurunkan inflasi ke 2,00%.
Beberapa faktor yang mendorong pergerakan EUR/USD: 1) Ekonomi Eropa cukup stagnan dengan penjualan ritel Juni 2022 turun ke -1,20% MoM (vs. 0,50%
MoM Mei 2022); 2) Krisis energi di zona Eropa memburuk setelah Gazprom Rusia mengurangi pasokan gas nya melalui pipa Nord Stream 1 dari 40% ke 20%. Ada risiko Rusia menghentikan pasokan gas nya pada akhir tahun. Harga gas Eropa sudah naik sekitar 200% di sepanjang tahun 2022 dan inflasi naik dari 8,10% YoY menjadi 8,60% YoY di bulan Juli 2022; 3) Pada pertemuan bulan Juli 2022, ECB menaikkan suku bunga 50 bps (ekspektasi pasar 25 bps) untuk pertama kalinya sejak tahun 2011. ECB juga memperkenalkan Transmission Protection Instrument (TPI) sebagai alat tambahan baru untuk mengatasi masalah fragmentasi dan memastikan kebijakan ECB dapat diimplementasikan di semua negara di zona Eropa.
Faktor yang menyebabkan pergerakan GBP/USD antara lain: 1) Ekonomi Inggris bulan Juni 2022 relatif belum membaik denganretail sales inc auto fuelkembali turun -0,10% MoM (vs. -0,80% MoM Mei 2022) Inflasi Inggris di bulan Juli 2022 melonjak naik ke 10,10% YoY (vs. 9,40% YoY Juni 2022); 2) Ketidakpastian politik dalam negeri terkait pengganti perdana menteri Johnson masih menjadi tekanan terhadap pergerakan GBP; 3) Pada pertemuan Agustus 2022, BoE kembali menaikkan suku bunga 50 bps menjadi 1,75% sesuai ekspektasi. BoE memperingatkan bahwa ekonomi Inggris menghadapi risiko kontraksi yang berkepanjangan. Diproyeksikan Inggris akan memasuki resesi pada Q4-2022 dan akan berlangsung selama 5 kuartal dengan penurunanoutputsebesar 2,10%.
Pergerakan AUD/USD hingga akhir November 2022 dipengaruhi oleh: 1) Ekonomi Australia bulan Juni 2022 yang cukup baik dimana penjualan ritel tumbuh 0,20% MoM (vs. -0,70% MoM Mei 2022); 2) AUD masih didukung oleh harga komoditas yang tinggi.Bloomberg Commodity Indexkembali naik di bulan Juli 2022 dan berlanjut ke bulan Agustus 2022 setelah turun signifikan di bulan Juni 2022; 3) Pada bulan Agustus 2022, RBA menaikkan suku bunga 50 bps menjadi 1,85% sesuai ekspektasi. Hal tersebut dilakukan setelah inflasi Australia di Q2-2022 dirilis relatif tinggi walaupun lebih rendah dibandingkan ekspektasi.
USD/JPY bergerak didorong oleh beberapa faktor di antaranya: 1) Ekonomi Jepang bulan Juni 2022 menunjukkan kondisi yang masih kurang baik dimana angka penjualan ritel turun -1,40% MoM (vs. 0,70% MoM); 2) Sentimen kurang baik dari kekhawatiran perlambatan ekonomi global dan meningkatnya tensi antara Tiongkok dan AS memberikan dukungan terhadap JPY sebagai safe haven asset; 3) Tekanan terhadap JPY menurun seiring dengan ekspektasi perlambatan kenaikan suku bunga The Fed walaupun pada pertemuan bulan Juli 2022 BoJ kembali mempertahankan kebijakan yang ultra longgar dengan suku bunga tetap di -0,10% danyieldJGB di maksimal 0,25%. BoJ melihat rata-rata inflasi akan berada di level 2,30% hingga Maret 2023.
Currency Outlook
EUR/USD diekspektasi bergerak pada rentang 0,9650-1,0150 hingga akhir November 2022.
GBP/USD diekspektasi bergerak pada rentang 1,1400-1,2000 hingga akhir November 2022.
AUD/USD diekspektasi bergerak pada rentang 0,6600-0,7100 hingga akhir November 2022.
9 USD/JPY diekspektasi bergerak
pada rentang 133,00-143,00 hingga akhir November 2022.
Beberapa faktor yang mendorong pergerakan USD/CNH antara lain: 1) Ekonomi Tiongkok bulan Juli 2022 membaik seiring denganindustrial profityang tumbuh 0,80% MoM (vs. -6,50% MoM Juni 2022); 2) CNH tertekan oleh tensi antara Tiongkok dan AS dan kebijakanzeroCOVID; 3) Pada pertemuan bulan Juli 2022, PBoC mempertahankan kebijakan moneter yang longgar. PBoC mempertahankan suku bungaloan prime rate1 tahun di 3,70% danloan prime rate 5 tahun di 4,45%. PBoC terus berkomitmen untuk menjaga ekonomi Tiongkok dari ancaman inflasi serta menghindari stimulus besar-besaran dalam rangka mendorong ekonomi.
Faktor yang menyebabkan pergerakan USD/IDR antara lain: 1) Ekonomi Indonesia berada dalam kondisi yang baik dimana pertumbuhan PDB Q2-2022 tercatat sebesar 5,44% YoY. Pertumbuhan PDB di Q2-2022 ditopang oleh konsumsi yang sangat kuat pasca hari raya Idul Fitri; 2) Tingginya harga komoditas dan adanya ekspektasi laju kenaikan suku bunga The Fed yang tidak lebih agresif dari sebelumnya diperkirakan dapat mendukung kestabilan IDR; 3) Di pertemuan bulan Juli 2022, BI mempertahankan suku bunga acuan di 3,50%
sesuai dengan ekspektasi pasar. BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi di tahun 2022 sebesar 4,50%-5,30% sementara pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi di tahun 2022 sebesar 5,10%-5,40%.
10 USD/CNH diekspektasi bergerak
pada rentang 6,7500-7,1000 hingga akhir November 2022.
USD/IDR diekspektasi bergerak pada rentang 14.650-15.150 hingga akhir November 2022.
Minyak WTI. Per 26 Agustus 2022, harga minyak WTI ditutup di level USD 93,06/barel dan secara MTD harga minyak telah turun -5,64%. Turunnya harga terutama disebabkan oleh ekspektasi perlambatan ekonomi global akibat inflasi yang masih tetap tinggi dan adanya lockdown ketat di beberapa daerah di Tiongkok. Sementara itu, dari sisi pasokan terlihat produksi minyak dari OPEC juga mulai mengalami kenaikan secara gradual dan telah mencapai rata-rata 5 tahun terakhirnya pada bulan Juli 2022 setelah sempat turun signifikan akibat pandemi COVID-19 di tahun 2020 (Exhibit 10). Di tambah lagi, adanya kesepakatan untuk menghidupkan kembali perjanjian nuklir Iran dengan negara- negara barat berpotensi melepas pasokan minyak ke pasar lebih dari 1 juta barel per hari. Hal ini membuat harga minyak sempat turun.
Akan tetapi harga minyak mulai kembali rebound pada minggu ketiga Agustus 2022 disebabkan oleh rendahnya pasokan minyak mentah di AS. Rilis data inventori minyak mentah di AS secara mingguan (API weekly crude oil stocks) pada 23 Agustus 2022 menunjukkan penurunan sebesar -5,632 juta barel, jauh lebih tinggi dibandingkan ekspektasi penurunan sebesar -900.000 barel. Selain itu, Menteri Energi Arab Saudi juga menyatakan akan ada potensi OPEC akan menurunkan pasokan minyak untuk menjaga harga minyak tetap tinggi. Alhasil, harga yang sempat turun kembali menguat sepanjang Agustus 2022.
Commodity Snapshot
Harga minyak sempat turun karena ekspektasi pasokan yang
meningkat di pasar di tengah perekonomian yang berpotensi melemah secara global namun kemudian rebound karena ada kemungkinan OPEC untuk menurunkan produksi minyak untuk menjaga harga minyak tetap tinggi.
11 Sumber: Bloomberg (Agustus 2022)
Exhibit 10: OPEC Oil Production (million barrel per
day) Exhibit 11: Pergerakan Harga CPO (MYR/ton)
CPO. Setelah sempat mencapai titik tertingginya akibat Perang Rusia-Ukraina, harga CPO turun signifikan. Dari titik tertingginya, harga CPO telah turun -49,17%
per 26 Agustus 2022 (Exhibit 11). Turunnya harga disebabkan oleh melimpahnya pasokan CPO di pasar karena aksi pemerintah Indonesia mengakselerasi ekspor CPO dengan memperbolehkan produsen untuk mengekspor 9 kali volume yang dijual di pasar domestik pada bulan Agustus 2022, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya di mana produsen hanya diperbolehkan mengekspor sebesar 7 kali volume yang dijual di pasar domestik.
Selain itu, pemerintah Indonesia juga melakukan relaksasi penghapusan tarif ekspor CPO hingga 31 Agustus 2022 dengan tarif pajak sebesar Rp 0/metric ton.
Sementara di Malaysia, pekerja asing sudah mulai masuk ke Malaysia berpotensi membuat pasokan CPO melimpah di pasar. Alhasil, harga CPO turun signifikan.
Harga CPO turun signifikan dari titik tertingginya pada bulan Maret 2022 akibat melimpahnya pasokan di pasar.
Sumber: Bloomberg (26 Agustus 2022) 29.05
Jul-17 Nov-17 Mar-18 Jul-18 Nov-18 Mar-19 Jul-19 Nov-19 Mar-20 Jul-20 Nov-20 Mar-21 Jul-21 Nov-21 Mar-22 Jul-22
Production Average 5 YR
COVID-19
8,163
4,149
3,000 4,000 5,000 6,000 7,000 8,000
-49,17%
Per Agustus 2022, BI menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps ke 3,75%. Suku bunga belum dinaikkan secara agresif melihat kenaikan inflasi inti yang
cenderung terjaga serta depresiasi IDR yang lebih sedikit
dibandingkan mata uang Asia lainnya.
Di bulan Agustus 2022, BI akhirnya menaikkan suku bunga acuan BI 7 days reverse repo rate sebesar 25 bps ke 3,75%. Sebelumnya, BI menahan suku bunga acuan di 3,50% selama 18 bulan berturut-turut untuk mendorong pemulihan ekonomi Indonesia pasca COVID-19. Kenaikan suku bunga akhirnya dilakukan dalam rangka mitigasi kenaikan inflasi dan ekspektasi inflasi di tengah kenaikan harga BBM non subsidi, wacana kenaikan BBM yang disubsidi, bahan- bahan pangan serta menjaga stabilitas mata uang IDR di tengah tingginya ketidakpastian global. Akan tetapi, kenaikan suku bunga belum dilakukan secara agresif seperti di Brazil (+450 bps), Kanada (+225 bps), dan AS (+225 bps) melihat inflasi inti Indonesia yang terjaga dan depresiasi mata uang IDR terhadap USD yang relatif lebih baik dibandingkan negara-negara Asia lainnya. Walaupun headline inflationdi bulan Juli 2022 (+4,94% YoY) telah naik melampaui target BI di 2%-4%, inflasi inti masih terjaga di +2,86% YoY (Exhibit 12). Inflasi inti digunakan sebagai acuan karena mengeluarkan komponen volatil seperti bahan pangan dari perhitungannya sehingga dapat lebih menggambarkan kondisi ekonomi yang sesungguhnya. Untuk mata uang, per 26 Agustus 2022, mata uang IDR terdepresiasi -3,81% terhadap USD secara YTD. Depresiasi tersebut jauh lebih rendah dibandingkan mata uang Asia lainnya seperti JPY (-16,39%), KRW (-10,71%), dan PHP (-9,00%) yang terkoreksi lebih signifikan terhadap USD secara YTD.
Walaupun suku bunga acuan baru dinaikkan di bulan Agustus 2022, BI sudah melakukan normalisasi kebijakan lewat penarikan likuiditas. BI berencana menaikkan ketentuan Giro Wajib Minimum (GWM) secara gradual hingga menyentuh 9% di September 2022, menaikkan suku bunga di instrumen operasi pasar terbuka, serta sudah menjual kepemilikan SBN sebesar IDR 15 triliun hingga 16 Agustus 2022 (dari IDR 70 triliun untuk tenor 0-5 tahun). Alhasil, likuiditas yang ada di sistem perbankan turun dari IDR 1.020 triliun di Januari 2022 menjadi IDR 585 triliun di 25 Agustus 2022 (Exhibit 13). Selain itu, pertumbuhan kredit konsisten mengalami kenaikan dan tercatat sebesar +10,50% YoY di bulan Juli 2022. Kenaikan suku bunga acuan, likuiditas yang menurun, dan kredit yang terus tumbuh akan membuka ruang yang lebih besar bagi bank umum untuk mulai menaikkan suku bunga deposito ke depannya.
Faktor risiko:Perlambatan ekonomi global dan Indonesia membuat suku bunga kembali diturunkan.
Money Market
SLIGHTLY OVERWEIGHT (no change)
12 Exhibit 12: Indonesia Headline and Core CPI July
2022 (%)
Sumber: Bloomberg (Agustus 2022)
Exhibit 13: Liquidity in Banking System (IDR Tn) BI sudah melakukan normalisasi
kebijakan moneter lewat penarikan likuiditas di pasar. Suku bunga yang dinaikkan, likuiditas yang menurun, serta kredit yang terus tumbuh akan membuka ruang yang lebih besar bagi bank umum untuk mulai menaikkan suku bunga deposito ke depannya.
4.94
2.86 0.00
2.00 4.00 6.00 8.00
Jan-15 Jul-15 Jan-16 Jul-16 Jan-17 Jul-17 Jan-18 Jul-18 Jan-19 Jul-19 Jan-20 Jul-20 Jan-21 Jul-21 Jan-22 Jul-22
CPI Core CPI
584.99
200 300 400 500 600 700 800 900 1,000 1,100
Aug-17 Aug-18 Aug-19 Aug-20 Aug-21 -IDR 436 tn
Sumber: Bloomberg (Agustus 2022)
Ekspektasi pasar akan The Fed yang kembali melonggarkan kebijakan moneternya memudar pasca pernyataan Jerome Powell di simposium Jackson Hole.
Volatilitas kembali terlihat di pasar obligasi namun diperkirakan akan berkurang karena ekspektasi pasar dan The Fed yang lebih searah ke depannya.
Setidaknya dalam 1 bulan terakhir, pasar bergerak berdasarkan ekspektasi kenaikan suku bunga di AS sudah mencapai puncaknya dan The Fed akan mulai berbalik arah dengan memperlambat kenaikan suku bunga sebelum melonggarkan kebijakan moneternya di tahun 2023. Akan tetapi, ekspektasi tersebut terpatahkan seiring dengan pernyataan Jerome Powell di Jackson Hole 26 Agustus 2022. Dalam pidato singkatnya, Jerome Powell mempertegas komitmen The Fed untuk memerangi inflasi yang masih berada di level tertinggi dalam 40 tahun terakhir. Walaupun suku bunga telah dinaikkan ke 2,50% hingga Juli 2022, tidak ada ruang bagi The Fed untuk menunda atau berhenti menaikkan suku bunga meskipun dapat berakibat pada perlambatan ekonomi. Hal ini sejalan dengan mandat utama The Fed yakni menstabilkan harga. Merespon pernyataan hawkish Jerome Powell di Jackson Hole, pasar kembali memperhitungkan kemungkinan suku bunga dinaikkan 75 bps di FOMC September 2022 (probabilitas: 61%) dan kemungkinan suku bunga naik ke 3,75% di Desember 2022 (probabilitas: 44%)(Exhibit 14). Alhasil, yield US Treasury 2 tahun yang lebih sensitif terhadap kenaikan suku bunga menyentuh level tertinggi sejak tahun 2007 di level 3,40% sementarayield US Treasury10 tahun naik ke 3,04%
setelah bertahan di bawah 3,00% dalam periode 1 bulan (21 Juli 2022 hingga 19 Agustus 2022). Volatilitas diperkirakan akan lebih berkurang karena ekspektasi pasar dan The Fed yang lebih searah ke depannya.
Yield US Treasury 10 tahun yang kembali naik di atas 3,00% membuat yield INDON 10 tahun ikut naik ke 4,13% di perdagangan 26 Agustus 2022. Yield spread antara INDON 10 tahun dan UST 10 tahun melebar ke 109 bps atau berada di kisaran rata-rata 5 tahunnya di 127 bps(Exhibit 15). Secara relatif, valuasi INDON kembali menarik setelah sebelumnya sempat turun di bawah 100 bps pada pertengahan Agustus 2022.
Faktor risiko: Inflasi AS persisten berada di level yang cukup tinggi dan data ketenagakerjaan masih tetap kuat sehingga membuka ruang bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga dengan lebih agresif dari ekspektasi pasar.
Fixed Income (USD)
Foreign Currency Bonds (INDON) – SLIGHTLY OVERWEIGHT (change from NEUTRAL)
13 Yield spread INDON 10 tahun dan
UST 10 tahun kembali naik ke kisaran rata-rata 5 tahunnya. Hal ini menandakan valuasi yang kembali atraktif.
Exhibit 14: Market Expectation Towards Interest Rate Hike (Probability)
Sumber: CME Group (26 Agustus 2022)
Exhibit 15: INDON 10YR and UST 10YR Yield Spread (%)
Sumber: Bloomberg (26 Agustus 2022)
1.09
0.00 1.00 2.00 3.00
Aug-17 Aug-18 Aug-19 Aug-20 Aug-21
Spread 5YR Average
+1 STDEV -1 STDEV
3 x
0,25% 5 x
0,25% 5 x
0,25%
2 x
0,25% 4 x
0,25%
4 x 0,25%
61%
51%
48%
44%
44%
41%
3.25%
3.75% 3.75%
3.00%
3.50% 3.50%
Sep-22 Nov-22 Dec-22
26-Aug-22 26-Jul-22
61% 51% 48% 44% 44% 41%
Di perdagangan 26 Agustus 2022,yieldFR 10 tahun berhasil bertahan di level 7,06% (+68 bps secara YTD) walaupunyield US Treasury10 tahun kembali naik ke level 3,04% (+153 bps secara YTD) danyieldINDON 10 tahun kembali naik ke level 4,13% (+196 bps secara YTD). Kenaikan yield FR lebih terbatas dibandingkan UST dan INDON disebabkan oleh mata uang IDR yang cukup kuat di level 14.818 (-3,81% secara YTD), CDS 5 tahun Indonesia yang tidak banyak pergerakan di level 103 bps, dukungan dari investor domestik yang sangat mendominasi di pasar obligasi Indonesia, serta investor asing yang mulai kembali membukukan inflow. Dari investor domestik, permintaan khususnya dari bank umum, BI, dana pensiun dan asuransi, serta ritel terus mengalami peningkatan (Exhibit 16).Berdasarkan data DJPPR Kementerian Keuangan secara YTD per 26 Agustus 2022, tercatat kenaikan kepemilikan SBN bank umum sebesar IDR 51,29 triliun, BI sebesar IDR 69,34 triliun, dana pensiun dan asuransi sebesar IDR 154,67 triliun, dan investor ritel sebesar IDR 70,63 triliun. Di tambah lagi, investor asing mulai kembali membukukan inflow dengan besaran IDR 13,55 triliun secara MTD 26 Agustus 2022 walaupun secara YTD masih membukukan net outflowdengan besaran -IDR 99,48 triliun(Exhibit 17).
Kombinasi peningkatan demand baik dari investor domestik maupun investor asing serta supplyyang terjaga diharapkan dapat terus menopang pergerakan yieldFR ke depannya. Dari segidemand,salah satu katalis positif untuk investor domestik berasal dari selisihyieldFR 10 tahun dan bunga deposito yang masih lebar. Per 26 Agustus 2022, selisih ada di level 3,80%, jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata 20 tahun di level 2,19%. Sementara untuk investor asing, semula investor asing cukup khawatir BI tertinggal dalam merubah arah kebijakan moneternya melihat mayoritas bank sentral global sudah menaikkan suku bunga secara agresif. Namun, investor mulai kembali optimis melihat normalisasi kebijakan terus dilakukan dan BI pada akhirnya menaikkan suku bunga acuan ke 3,75% di Agustus 2022. Dari sisi supply, penerbitan SBN terutama di tahun 2023 dapat lebih rendah karena defisit APBN harus kembali di bawah -3,00% PDB serta pemerintah masih memiliki Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang dapat digunakan untuk membiayai kebutuhan anggaran.
Faktor risiko:1) Volatilitas padayield US Treasury;2)Negative surprisesyang dapat menyebabkan pelemahan IDR; 3) Lonjakan inflasi yang terlalu tinggi; 4) Berkurangnya dukungan investor domestik dan asing di pasar obligasi Indonesia.
Fixed Income (IDR)
Local Currency Bonds (FR/Indonesia Government IDR Bonds) – SLIGHTLY OVERWEIGHT (change from NEUTRAL)
14 Yield FR 10 tahun terjaga di
kisaran 7,00% disebabkan oleh mata uang IDR yang cukup kuat, CDS 5 tahun Indonesia yang tidak banyak bergerak, dukungan investor domestik yang masih sangat mendominasi di pasar obligasi Indonesia, serta investor asing yang mulai kembali membukukan inflow.
Exhibit 16: Kepemilikan Investor Asing, Bank Indonesia, dan Bank Umum di Obligasi Indonesia
Sumber: Bloomberg (26 Agustus 2022)
Kombinasi peningkatan demand baik dari investor domestik maupun investor asing di tambah dengan supply yang terjaga ke depannya diharapkan dapat terus menopang pergerakan yield.
Exhibit 17: Foreign Flow to Indonesia Bond Market (IDR Tn)
Sumber: DJPRR Kemenkeu (26 Agustus 2022)
764.49 1,642.40 1,290.07
0.00 500.00 1,000.00 1,500.00 2,000.00
Investor Asing Bank Umum Bank Indonesia
13.55
(99.48)
-120.00 -100.00 -80.00 -60.00 -40.00 -20.00 0.00 20.00
Monthly Flow Cummulative IDR tn
-23.23%
-17.00%
-40.00%
-30.00%
-20.00%
-10.00%
0.00%
10.00%
MSCI World IT Index MSCI Asia Pacific Ex Japan Index Di tahun 2022, kinerja pasar saham
Asia Pasifik cenderung
mengungguli kinerja pasar saham AS karena inflasi yang terjaga dan valuasi yang sangat menarik.
MSCI World IT Index merupakan indeks yang mengukur kinerja sektor teknologi di 23 negara maju dengan bobot terbesar di AS (~89%) sementaraMSCI Asia Pacific ex Japan merupakan indeks yang mengukur kinerja sektor teknologi di kawasan Asia Pasifik dengan bobot terbesar di Tiongkok (~36%). Tingginya inflasi di AS serta pengetatan kebijakan moneter The Fed yang sangat agresif sejak akhir tahun 2021 membuat kinerja pasar saham AS terkoreksi lebih signifikan dibandingkan kinerja pasar Asia Pasifik di tahun 2022 (Exhibit 18).
Sementara di Asia Pasifik, inflasi yang relatif terjaga (Juni-22: +3,34% YoY) serta valuasi yang sangat menarik menjadi katalis positif untuk pergerakan pasar saham.
Namun, sejak pertengahan Juni 2022 hingga pertengahan Agustus 2022, investor kembali melakukan pembelian di pasar saham AS sehingga terjadi reboundsekitar 23% di MSCI World IT Index.Reboundterjadi karena rilis laporan keuangan emiten yang lebih baik dari apa yang dikhawatirkan dan pasar yang meyakini bahwa The Fed tidak akan terlalu agresif dalam menaikkan suku bunga ke depannya. Akan tetapi, pada simposium Jackson Hole 26 Agustus 2022, Jerome Powell mematahkan keyakinan tersebut dengan menegaskan bahwa The Fed berkomitmen untuk menurunkan inflasi dengan cara menaikkan suku bunga walaupun dapat berdampak negatif terhadap ekonomi AS. Alhasil, MSCI World IT Index kembali terkoreksi 4% dalam 1 hari di perdagangan 26 Agustus 2022.
Secara keseluruhan, kondisi fundamental AS belum banyak mengalami perubahan. Dari segi laba bersih,walaupun rilis laba bersih kuartal-II 2022 lebih baik dari apa yang dikhawatirkan pasar, mayoritas perusahaan memberikan guidancesbahwa penjualan akan mulai melambat di kuartal-III 2022. Konsensus Bloomberg merevisi turun pertumbuhan laba bersih emiten di S&P500 dari 9,70% ke 4,50% untuk kuartal-III 2022. Dari segi kebijakan moneter, Jerome Powell menyatakan The Fed akan terus memerangi lonjakan inflasi dengan cara mempertahankan kebijakan moneter yang ketat. Dari segi kebijakan fiskal, ruang pemberian stimulus semakin kecil mengingat midterm election akan segera dilaksanakan di bulan November 2022 mendatang. Melihat kondisi di atas, volatilitas masih dapat terjadi ke depannya. di tambah lagi, dari segi teknikal, pasar saham AS belum pernah terkoreksi secara signifikan dalam 5 tahun terakhir(Exhibit 19).
Faktor risiko: 1) Risk off sentiment kembali terjadi; 2) Tensi antara AS dan Tiongkok terkait Taiwan semakin memanas.
Equity (USD)
NEUTRAL (no change)
Exhibit 19: MSCI World IT Index and MSCI Asia Pacific ex Japan Index 5YR Performances (%) Dari pertengahan Juni 2022-
Agustus 2022 sempat ada rebound
~23% di pasar saham AS karena rilis laporan keuangan yang tidak terlalu buruk serta ekspektasi The Fed tidak terlalu agresif dalam menaikkan suku bunga. Namun, ekspektasi tersebut dipatahkan oleh pernyataan Jerome Powell di Jackson Hole.
Exhibit 18: MSCI World IT Index and MSCI Asia Pacific ex Japan Index YTD Performances
Sumber: Bloomberg (26 Agustus 2022)
15 -16.6 -4.9
15.8 19.8
-16.2 33.5
-23.1 29.1 46.0 42.7
-3.5 36.9
YTD 2022 2021
2020 2019 2018 2017
MSCI Asia Pacific Ex Japan Index MSCI World IT Index
Sumber: Bloomberg (26 Agustus 2022)
IHSG membukukan kinerja positif (+8,41% YTD) per 26 Agustus 2022 disebabkan oleh kondisi ekonomi Indonesia yang sangat baik, rilis earnings emiten di kuartal-II 2022 yang fantastis, serta adanya inflow investor asing.
Di perdagangan 26 Agustus 2022, IHSG ditutup di level 7.135 atau naik +8,41%
secara YTD. Kenaikan IHSG dijustifikasi oleh beberapa hal diantaranya kondisi ekonomi Indonesia yang sangat baik, rilis laba bersih emiten di kuartal-II 2022 yang fantastis, serta investor asing yang kembali membukukaninflowdi pasar saham Indonesia.
Dari segi pertumbuhan ekonomi, Indonesia kembali mencatatkan pertumbuhan PDB yang positif di kuartal-II 2022 (+5,44% YoY) setelah mencatatkan pertumbuhan yang positif di kuartal-I 2022 (+5,01% YoY). Pertumbuhan ekonomi dikontribusikan oleh kenaikan ekspor (+19,74% YoY) di tengah tingginya harga dan permintaan energi terutama batu bara seiring dengan konflik geopolitik Rusia-Ukraina yang tak kunjung selesai serta kenaikan konsumsi (+5,51% YoY) di tengah pelonggaran PPKM dan perayaan Idul Fitri di kuartal-II 2022.
Ekonomi yang menguat terefleksikan pada kinerja para emiten yang ada di IHSG terutama emiten dengan kapitalisasi besar. Per 26 Agustus 2022, dari 472 emiten IHSG yang telah melaporkan kinerja di kuartal-II 2022,~75% emiten melaporkan pertumbuhan penjualan yang positif dengan pertumbuhan keseluruhan sebesar 8,89% dan ~56% emiten melaporkan pertumbuhan laba yang positif dengan pertumbuhan keseluruhan sebesar 16,29%. Sedangkan untuk LQ45, dari 26 emiten yang telah melaporkan kinerja di kuartal-II 2022, ~92% emiten melaporkan pertumbuhan penjualan yang positif dengan pertumbuhan keseluruhan mencapai 22,76% dan ~69% emiten melaporkan pertumbuhan laba yang positif dengan pertumbuhan keseluruhan sebesar 45,95%(Exhibit 20).
Sentimen yang membaik di pasar saham global, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sangat baik, serta fundamental emiten yang kuat menjadi daya tarik untuk investor asing kembali membukukaninflow.Per 26 Agustus 2022, tercatatinflow sebesar IDR 65,83 triliun secara YTD diall market (Exhibit 21). Saham yang dibeli oleh investor asing didominasi oleh saham berkapitalisasi besar yakni BBCA (IDR 5,70 triliun), TLKM (IDR 3,40 triliun), BMRI (IDR 1,90 triliun), ASII (IDR 1,30 triliun), dan BBNI (IDR 796 miliar).
Equity (IDR)
SLIGHTLY OVERWEIGHT (no change)
Exhibit 21: Foreign Inflow to Indonesia Equity Market (IDR Tn) Exhibit 20: JCI & LQ45 Earnings Result Q2 2022
Sumber: Bloomberg (26 Agustus 2022)
Sumber: Bloomberg (26 Agustus 2022) 16
8.89%
22.76%
16.29%
45.95%
IHSG LQ45
Sales Growth Earnings Growth
JCI: 64% emiten telah melaporkan earnings LQ45: 58% emiten telah melaporkan earnings
6.68 65.83
Jan-22 Feb-22 Mar-22 Apr-22 May-22 Jun-22 Jul-22 Aug-22 Monthly Flow Cummulative Flow
dalam 3 bulan ke depan terdiri dari sektor finansial (perbankan), telekomunikasi (data provider), dan consumer discretionary. Untuk sektor perbankan, katalis positif berasal dari kredit yang konsisten tumbuh seiring dengan kredit gagal bayar dan restrukturisasi yang terus menurun. Untuk sektor telekomunikasi, konsolidasi industri membuat persaingan menjadi lebih sehat sehingga emiten dapat meningkatkan rata-rata harga jualnya. Untuk sektor consumer discretionary,ekonomi dan konsumsi yang terus menguat memberikan dukungan terhadap profitabilitas emiten. Segmentasi consumer discretionary untuk masyarakat kelas menengah atas lebih disukai mengingat daya beli yang lebih kuat walaupun inflasi Indonesia mulai menunjukkan kenaikan.
Faktor risiko: 1) Risk off sentiment di pasar regional kembali terjadi dan berdampak negatif terhadap pergerakan IHSG; 2) Inflasi Indonesia terus naik dan berdampak pada profitabilitas emiten.
17 telekomunikasi (data provider), dan
consumer discretionary menjadi sektor yang menarik untuk diperhatikan setidaknya dalam 3 bulan ke depan.
18
Calendars
Economic Calendar Product Calendar
Name Type Launch/Mature Period
Bahana Gebyar Dana Likuid RDPU Launch Sep-22
ORI022 Bonds Launch Sep-22
Countries Events Dates
Nonfarm Productivity Q2 2022 1-Sep-22 Manufacturing PMI August 2022 1-Sep-22 ISM Manufacturing PMI August 2022 1-Sep-22 Unemployment Rate August 2022 2-Sep-22 US Trade Balance July 2022 7-Sep-22 Core CPI August 2022 13-Sep-22
CPI August 2022 13-Sep-22
Core PPI August 2022 14-Sep-22
PPI August 2022 14-Sep-22
Core Retail Sales August 2022 15-Sep-22 Retail Sales August 2022 15-Sep-22 Industrial Production August 2022 15-Sep-22
FOMC Statement 22-Sep-22
Fed Interest Rate Decision 22-Sep-22 Manufacturing PMI August 2022 1-Sep-22
Composite PMI August 2022 5-Sep-22 Service PMI August 2022 5-Sep-22 Construction PMI August 2022 6-Sep-22 Industrial Production July 2022 12-Sep-22 Manufacturing Production July 2022 12-Sep-22 Unemployment Rate July 2022 13-Sep-22
CPI August 2022 14-Sep-22
BoE Interest Rate Decision 15-Sep-22 Core Retail Sales August 2022 16-Sep-22 Retail Sales August 2022 16-Sep-22 Private New Capital Expenditure Q2 2022 1-Sep-22
Current Account Q2 2022 6-Sep-22 RBA Interest Rate Decision 6-Sep-22
GDP Q2 2022 7-Sep-22
Westpac Consumer Sentiment August 2022 13-Sep-22 Employment Change August 2022 15-Sep-22 Unemployment Rate August 2022 15-Sep-22 Capital Spending Q2 2022 1-Sep-22
Service PMI August 2022 5-Sep-22 Household Spending July 2022 6-Sep-22
GDP Q2 2022 8-Sep-22
Industrial Production July 2022 14-Sep-22 Trade Balance August 2022 15-Sep-22 Caixin Manufacturing PMI August 2022 1-Sep-22
Caixin Service PMI August 2022 5-Sep-22 Trade Balance August 2022 7-Sep-22
CPI August 2022 9-Sep-22
PPI August 2022 9-Sep-22
Fixed Asset Investment August 2022 16-Sep-22 Industrial Production August 2022 16-Sep-22 Core Inflation August 2022 1-Sep-22
Inflation August 2022 1-Sep-22 Trade Balance August 2022 15-Sep-22
Interest Rate Decision 22-Sep-22
Consumer Price Index: indikator yang digunakan untuk mengukur inflasi dari sisi konsumen. Biasa disingkat menjadi CPI.
Core Inflation: perhitungan inflasi yang mengeluarkan komponen volatile seperti makanan dan energi dari perhitungannya.
Credit Default Swap: instrumen derivatif yang mencerminkan persepsi risiko dan risk appetite investor terhadap sebuah investasi.
Dovish: istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi kebijakan moneter longgar. Biasanya ditandai dengan suku bunga yang rendah.
Foreign inflow: aliran dana masuk dari investor asing ke kelas aset tertentu.
Foreign outflow: aliran dana keluar dari investor asing dari kelas aset tertentu.
Giro Wajib Minimum: merupakan dana dalam bentuk saldo rekening giro yang harus disetorkan oleh bank umum ke Bank Indonesia. Biasa disingkat menjadiGWM.
Hawkish: istilah finansial yang mendeskripsikan pandangan kebijakan moneter yang ketat. Biasanya ditandai dengan suku bunga yang tinggi.
Jackson Hole: acara symposium tahunan tempat berkumpulnya bank sentral seperti The Fed, ECB, BoE, dan BoJ untuk membicarakan seputar perekonomian dan menentukan arah kebijakan moneter ke depannya.
Kebijakan fiskal: kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah dalam bentuk alokasi pengeluaran pemerintah dan sistem perpajakan untuk mempengaruhi perekonomian.
Kebijakan moneter: kebijakan yang dilakukan oleh bank sentral atau otoritas keuangan di suatu negara untuk mengontrol jumlah uang yang beredar di pasar.
Neraca perdagangan: akun yang mencatat atas ekspor-impor yang dilakukan oleh suatu negara dengan negara lain di seluruh dunia.
Producer Price Index: indikator yang digunakan untuk mengukur inflasi dari sisi produsen. Biasa disingkat menjadiPPI.
Produk Domestik Bruto: indikator ekonomi yang digunakan untuk mengukur jumlah barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu negara dalam periode tertentu. Biasa disingkat menjadiPDB. Dalam Bahasa Inggris adalahGross Domestic Product (GDP).
Resesi: seubah kondisi di mana pertumbuhan ekonomi mengalami penurunan. Resesi biasanya ditandai oleh pertumbuhan PDB yang terkontraksi selama 2 kuartal berturut-turut.
Retail sales: indikator yang mengukur level pengeluaran konsumen untuk berbelanja barang eceran.
Safe haven asset: aset yang dinilai aman di tengah ketidakpastian ekonomi, politik, atau geopolitik.
Transmission Protection Instrument: merupakan instrumen yang dibuat oleh European Central Bank (ECB) untuk mengatasi masalah fragmentasi dan memastikan kebijakan moneter ECB dapat diimplementasikan di semua negara di zona Eropa. Biasa disingkat menjadiTPI.
Year-to-date: periode yang dimulai pada awal tahun kalender hingga tanggal tertentu. Biasa disingkat menjadi YTD.
Yield spread: selisih imbal hasil antar obligasi.
19
Glossary
20
Contributor List
BCA Wealth Panel
BCA Wealth Panel Members
SEVP Treasury & International Banking Branko Windoe
Head of Wealth Management Ugahary Yovvy Chandra
Chief Economist David Sumual
Wealth Management Division
Lilyana Sutianto Baling – Head of Investment Business & Research Management Richie Norbert Tandias– Head of Research & Portfolio Management
Anastasia Gracia– Research Analyst Catherine Ashikin– Research Analyst
Treasury Team
Junita Gunawan– Head of Treasury
Yeni Marliana Laurence – Head of Position Management Dionysius Kelvin – Currency Analyst
Yuliastono Candra – Fixed Income Analyst
Economist Team Barra Kukuh Mamia– Economist
Lazuardin Thariq - Economist
BCA Sekuritas Team Andre Benas– Head of Research Johanes Prasetya– Deputy Head of Research
Muhammad Fariz– Research Analyst
Disclaimer
Laporan BCAHouse View(“Laporan”) ini hanya bersifat sebagai informasi dan bukan merupakan rekomendasi, saran, ajakan, atau arahan, serta tidak dimaksudkan sebagai penawaran atau permintaan untuk melakukan transaksi tertentu.
Tidak ada satu pun baik PT Bank Central Asia Tbk(“BCA”), perusahaan terafiliasinya, dan/atau karyawan maupun agen dari BCA dan seluruh perusahaan terafiliasinya yang memberikan pernyataan atau jaminan (baik tersurat atau tersirat) atau bertanggung jawab sehubungan dengan akurasi atau kelengkapan dari informasi, penilaian, proyeksi, perkiraan, analisis, dan pendapat lainnya yang tercantum dalam Laporan ini (“Informasi”). Dalam hal Informasi berasal dari sumber di luar BCA, Informasi tersebut diperoleh dari sumber yang menurut BCA dapat diandalkan. Namun demikian, BCA tidak menjamin bahwa Informasi tersebut akurat, lengkap, maupun terkini (up-to-date).
BCA, perusahaan terafiliasinya, dan/atau karyawan maupun agen dari BCA dan seluruh perusahaan terafiliasinya tidak bertanggung jawab dan tidak dapat dituntut atas kerugian apa pun baik yang bersifat langsung maupun tidak langsung atau atas kerugian lainnya dalam bentuk apa pun yang mungkin timbul dari setiap penggunaan Informasi yang tercantum dalam Laporan ini (termasuk setiap kesalahan atau kekeliruan yang mungkin ditemukan dalam Laporan ini). Segala akibat dan kerugian yang timbul dari penggunaan Informasi untuk keperluan apa pun menjadi tanggung jawab pengguna Informasi sepenuhnya dan pengguna Informasi membebaskan BCA, perusahaan terafiliasinya, dan/atau karyawan maupun agen dari BCA dan seluruh perusahaan terafiliasinya dari segala tuntutan, gugatan, dan/atau tindakan hukum lainnya dalam bentuk apa pun.
Setiap Informasi terkandung dalam Laporan ini mungkin didasarkan pada sejumlah asumsi dan perkiraan yang mungkin dapat berbeda dengan kondisi yang sesungguhnya atau kondisi yang terjadi di kemudian hari. Asumsi dan perkiraan yang berbeda dapat mengakibatkan hasil yang berbeda pula. BCA perusahaan terafiliasinya, dan/atau karyawan maupun agen dari BCA dan seluruh perusahaan terafiliasinya tidak mewakili atau menjamin bahwa Informasi apa pun akan terpenuhi.
Kinerja masa lalu yang dimuat dalam Laporan ini bukan merupakan indikator maupun jaminan kinerja di masa mendatang.
Informasi yang disampaikan dalam Laporan ini dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan terlebih dulu. Informasi yang tercantum pada Laporan ini dapat berasal dari pihak lainnya. BCA tidak bertanggung jawab atas kebenaran, keakuratan, atau kelengkapan Informasi, termasuk kesalahan Informasi yang tercantum pada Laporan ini.
Laporan ini dibuat secara umum tanpa mempertimbangkan tujuan investasi, situasi keuangan, dan kebutuhan pihak tertentu, serta tidak ditujukan untuk satu/sekelompok pihak tertentu. Sebelum Anda melakukan transaksi investasi apa pun, Anda harus melakukan pengkajian dan analisis secara independen dan meminta saran atau masukan dari segi finansial dan hukum dari tenaga profesional (jika diperlukan).
Informasi yang dimuat dalam Laporan ini tidak mencerminkan posisi BCA, perusahaan terafiliasinya, dan/atau karyawan maupun agen dari BCA dan seluruh perusahaan terafiliasinya dalam melakukan transaksi efek dan/atau instrumen keuangan lainnya baik dalam kapasitasnya sebagai pelaku transaksi maupun sebagai prinsipal atau agen sehingga transaksi efek dan/atau instrumen keuangan lainnya yang dilakukan BCA, perusahaan terafiliasinya, dan/atau karyawan maupun agen dari BCA dan seluruh perusahaan terafiliasinya dapat tidak konsisten dengan Informasi yang dimuat dalam Laporan ini.
Produk investasi yang disebutkan dalam Laporan ini (selain produk simpanan atau deposito BCA) BUKANmerupakan produk maupun tanggung jawab BCA dan bukan juga merupakan bagian dari simpanan pihak ketiga pada BCA, sertaTIDAK TERMASUKdalam cakupan obyek program penjaminan Pemerintah atau penjaminan simpanan yang dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
Laporan ini tidak diperbolehkan untuk diproduksi ulang, disalin/difotokopi, diduplikasi, dikutip, atau disediakan dalam bentuk apa pun, dengan sarana apa pun, atau didistribusikan kembali kepada pihak lain manapun tanpa izin tertulis terlebih dahulu dari BCA.
21