Wealth Management Division
Published on: 7 September 2023
BCA House View Report
Tactical Asset Allocation
Money Market – Neutral
BI menahan suku bunga di 5,75% pada RDG Agustus 2023. Alasannya, inflasi telah berada dalam target BI dan stabilitas IDR masih terjaga.
Kenaikan suku bunga akan menjadi opsi terakhir BI dalam menopang IDR.
Suku bunga yang telah berada di puncak dan likuiditas yang berlimpah membuat ruang kenaikan bunga deposito lebih terbatas ke depannya.
Fixed Income USD – Slightly Overweight
Kenaikan yield UST membuat yield INDON turut mengalami kenaikan di seluruh tenor. Yield INDON berada di kisaran tertinggi dalam 10 tahun terakhir sehingga menarik untuk diakumulasi. Ke depannya, yield dapat turun bila suku bunga The Fed mulai diturunkan dan CDS Indonesia bertahan rendah.
Fixed Income IDR – Slightly Overweight
Yield FR di seluruh tenor naik karena asset repricing ditengah kenaikan yield UST yang merupakan risk free asset, pelemahan IDR, dan outflow investor asing. Walaupun volatilitas dapat terjadi dalam jangka pendek, permintaan investor domestik yang diperkirakan tetap tinggi ditengah penerbitan yang terus dikurangi berpotensi menopang pergerakanyieldFR.
Equity USD – Slightly Underweight
Volatilitas di pasar saham AS terutama sektor teknologi berpotensi meningkat seiring dengan penurunanearnings yield yang dapat memicu adanya aksi profit taking dan rotasi ke pasar obligasi. Di Asia, pasar saham Tiongkok terus terkoreksi karena data ekonomi mengecewakan dan kekhawatiran di sektor properti meningkat. Koreksi membuat valuasi semakin murah.
Equity IDR – Neutral
Indeks LQ45 yang merepresentasikan saham big cap mencatatkan pertumbuhan laba yang cukup baik di kuartal-II 2023. Kenaikan laba terbesar tercatat pada sektor consumer staples, consumer discretionary, dan finansial. Namun, valuasi indeks LQ45 yang relatif tinggi berpotensi menahan kenaikan harga saham dalam beberapa waktu ke depan.
Topics of The Month
⚫ View bulan sebelumnya Underweight Slightly
Underweight
Slightly
Overweight Overweight Neutral
TAA (Tactical Asset Allocation)
Topic 3: Indonesia: Slowing, But Still In A Better Place
• Neraca transaksi berjalan (current account) Indonesia tercatat defisit USD 1,93 miliar di kuartal-II 2023 seiring dengan turunnya harga komoditas ditengah tingkat permintaan yang masih relatif tinggi dan adanya lonjakan pembayaran dividen serta pembayaran utang luar negeri (repayment).
• Namun, peningkatan investasi, belanja pemerintah, serta konsumsi menjelang pemilu 2024 diharapkan dapat membuat pertumbuhan PDB terjaga dalam rentang 5,10-5,20% di tahun 2023.
Topic 2: Asia Starting To Take The Hit
• Penguatan USD Index ditengah ekspektasi suku bunga The Fedhigher for longermembuat mata uang di Asia melemah signifikan. Indeks yang mengukur pergerakan mata uang di Asia terhadap USD (ADXY) berada di 91,30, mendekati level terendah pada Oktober 2022 (89,16).
• Ekspor di berbagai negara Asia turun cukup signifikan bahkan mayoritas mencapai double digit seiring dengan turunnya permintaan global dan harga komoditas. Perlambatan ekonomi yang mulai terjadi di kawasan Asia juga turut membuat mata uang Asia melemah terhadap USD.
Topic 1: The Fed Might Need To Stop Raising Rates
• Tingkat kas pemerintah dan tabungan masyarakat AS turun signifikan sejak pertengahan 2021 karena meningkatnya aktivitas belanja ditengah pulihnya pandemi COVID-19 dan kenaikan inflasi.
• Tingkat utang pemerintah dan masyarakat AS justru melonjak naik hingga menyentuh level tertinggi. Pemerintah bahkan perlu membayar bunga hampir USD 1 triliun atas utang tersebut.
• Kondisi ini mungkin membatasi The Fed untuk menaikkan suku bunga secara agresif. Semakin tinggi suku bunga, semakin tinggi pula risiko gagal bayar baik pemerintah maupun masyarakat AS.
32.61 17.06
6.00 8.00 10.00 12.00 14.00 16.00 18.00
5.00 10.00 15.00 20.00 25.00 30.00 35.00
US Government Debt (L) US Household Debt (R)
The Fed Might Need To Stop Raising Rates
Topic 1
Tingkat kas pemerintah AS (Treasury General Account) dan tingkat tabungan masyarakat AS turun signifikan sejak pertengahan tahun 2021. Pulihnya aktivitas ekonomi pasca pandemi COVID-19 serta kenaikan inflasi membuat tingkat belanja pemerintah dan masyarakat meningkat.
Treasury General Accountberada pada level USD 470,80 miliar (Exhibit 1). Padahal, departemen keuangan AS biasanya menargetkan saldo sebesar USD 500-600 miliar untuk kebutuhan pembayaran tagihan negara. Rendahnya tingkat kas pemerintah AS membuat pemerintah harus melakukan pengisian kembali (refill) dengan menerbitkan surat utang.
Di sisi lain, tingkat tabungan masyarakat AS turun ke USD 705,60 miliar (Exhibit 1), lebih rendah dibandingkan pre- pandemic level. Sebagian besar excess savings yang berasal dari paket stimulus fiskal yang digelontorkan selama pandemi telah digunakan untuk kebutuhan belanja dan konsumsi.
Ditengah tingkat kas yang menurun drastis, tingkat utang pemerintah (USD 32,61 triliun) dan masyarakat (USD 17,06 triliun) AS justru melonjak naik dan bahkan mencapai level tertinggi sepanjang masa (Exhibit 2).
Pemerintah AS bahkan perlu mengeluarkan beban bunga senilai hampir USD 1 triliun atas utang tersebut. Saat ini, kegiatan belanja masyarakat AS juga lebih banyak ditopang oleh penggunaan kartu kredit. Credit card loan, auto loan, student loan, dan housing debt seluruhnya mengalami kenaikan sehingga kenaikan suku bunga akan turut meningkatkan biaya atas pinjaman tersebut.
Kondisi ini mungkin membatasi ruang bagi The Fed untuk terus menaikkan suku bunga secara agresif ke depannya.
Pasalnya, beban bunga yang terus meningkat ditengah tingkat utang yang tinggi akan membebani masyarakat maupun pemerintah AS dalam melunasi beban bunga dan pokok pembayaran atas utang-utang tersebut. Hal ini lebih lanjut dapat meningkatkan risiko gagal bayar dan mengakibatkanfinancial instabilitydi AS.
Exhibit 2: US Government & Household Debt (USD Tn)
Sumber: FRBNY Consumer Credit Panel, FRED (August 2023)
−Cash IDR Tidak terdapat dampak langsung
▼Fixed Income USD Yield INDON naik
seiring dengan kenaikanyield UST
ditengahsupply yang bertambah
− Equity IDR Tidak terdapat dampak langsung
▼Fixed Income IDR Yield FR naik seiring
dengan kenaikan yield UST ditengah
supply yang bertambah
▲Equity USD
Ekspektasisoft landing dan suku bunga The Fed
sudah berada di puncak membuat pasar saham AS naik terutama sektor
teknologi
Sumber: FRED, St. Louis Fed (31 August 2023)
Exhibit 1: Treasury General Account & Personal Savings (USD Bn)
Tingkat kas pemerintah dan masyarakat AS yang naik signifikan selama pandemi COVID-19mulai menipis
Di sisi lain, tingkat utang justru naik hingga mencapai
level tertinggi. Beban bunga meningkat signifikan ditengah
kenaikan suku bunga
Kondisi ini mungkin membatasi ruang The Fed untuk menaikkan suku bunga
secara agresifke depannya
470.80 705.60
0 1,000 2,000 3,000 4,000 5,000 6,000 7,000
0 200 400 600 800 1,000 1,200 1,400 1,600 1,800 2,000
2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 Treasury General Account (L) US Personal Savings (R)
91.30
85.00 90.00 95.00 100.00 105.00 110.00 115.00
2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023
Asia Dollar Index (ADXY) merupakan indeks yang mengukur pergerakan mata uang di Asia terhadap USD.
CNY (48%) merupakan penyusun terbesar indeks, dilanjutkan oleh KRW (12%), SGD (12%), INR (10%), TWD (8%), MYR (3%), THB (3%), PHP (2%) dan IDR (2%). Semakin tinggi nilai ADXY, maka semakin menguat mata uang di Asia terhadap USD.
Penguatan USD Index ditengah data ekonomi AS yang masihresilientdan ekspektasi suku bunga The Fedhigher for longermembuat mata uang di Asia melemah signifikan di sepanjang tahun 2023. Pasalnya, kontras dengan AS, bank sentral negara-negara di kawasan Asia telah berhenti menaikkan bahkan mulai menurunkan suku bunga seiring dengan inflasi yang mengalami penurunan. ADXY berada di level 91,30 per 31 Agustus 2023, mendekati level terendah yang sempat dicapai di bulan Oktober 2022 (89,16)(Exhibit 3).
Selain perbedaan kebijakan moneter dengan The Fed yang masih cenderung hawkish, perlambatan ekonomi yang mulai terjadi di kawasan Asia turut membuat mata uang Asia melemah terhadap USD. Ekspor di berbagai negara Asia menunjukkan penurunan yang cukup signifikan bahkan mayoritas mencapaidouble digitseiring dengan penurunan permintaan global (Exhibit 4).
Pemulihan ekonomi Tiongkok yang berlangsung lambat juga turut membebani permintaan sehingga memperparah penurunan ekspor yang terjadi.
CNY melemah -5,00% terhadap USD secara YTD karena data ekonomi Tiongkok mengecewakan. Selain ekspor yang turun, tingkat konsumsi domestik juga relatif rendah sehingga terjadi deflasi. JPY melemah paling signifikan (-9,91%) karena BoJ masih mempertahankan kebijakan moneter ultra longgarnya dan kembali melakukan pembelian obligasi tidak terencana setelah sempat melonggarkan kebijakan yield curve control.IDR menjadi satu-satunya mata uang di Asia yang menguat terhadap USD karena kondisi makroekonomi Indonesia yang baik.
Exhibit 4: Asia Export & Currency Performance YTD
Sumber: Bloomberg (31 August 2023)
−Cash IDR Tidak terdapat dampak langsung
− Fixed Income USD Tidak terdapat dampak langsung
− Equity IDR IHSG sideways karena investor risk
off dan minim katalis positif
▼Fixed Income IDR IDR melemah sehingga mendorong
outflow dan membuatyield FR
naik terbatas
▼Equity USD
Pasar saham EM Asia terkoreksi karena data
ekonomi Tiongkok melemah sehingga memicusell off
Sumber: Bloomberg (31 August 2023)
Exhibit 3: Asia Dollar Index (ADXY) Movement
Topic 2
Asia Starting To Take The Hit
lowest since 2006
2.3%
-0.1%
-0.9%
-4.7% -5.0%
-9.9%
-18.0%
-13.2%
-18.2%
-16.4%
-14.5%
-0.3%
Indonesia India Singapore Korea China Japan Currency Performance YTD Export YoY
Penguatan USD membuatmata uang Asia melemah signifikan,
IDR menjadi satu-satunya mata uang yang menguat terhadap USD
secara YTD Kuatnya data ekonomi AS
meningkatkan ekspektasi suku bungahigher for longer sehinggaUSD menguat
Selain itu, perlambatan ekonomi di Asia yang ditandai dengan penurunan
eksporturut membebani pergerakan mata uang Asia
Topic 3
Setelah konsisten mencatatkan surplus sejak tahun 2021, neraca transaksi berjalan (current account) Indonesia tercatat defisit sebesar USD 1,93 miliar di kuartal-II 2023 (Exhibit 5). Defisit tersebut dikontribusikan oleh surplus neraca dagang yang semakin menyempit ditengah turunnya harga komoditas serta perlambatan permintaan global (ekspor turun). Di sisi lain, tingkat permintaan barang masih relatif tinggi (impor terjaga). Selama kuartal- II 2023, neraca dagang Indonesia masih mencatatkan surplus sebesar USD 7,81 miliar namun terus melambat dibandingkan kuartal sebelumnya(Exhibit 5).
Komponen lainnya dari neraca transaksi berjalan juga mengalami peningkatan defisit yang didorong oleh lonjakan pembayaran dividen atas investasi langsung dan investasi portofolio ditengah peningkatan pendapatan korporasi pada tahun sebelumnya serta pembayaran utang luar negeri (repayment). Disamping itu, banyaknya masyarakat Indonesia yang berwisata ke luar negeri turut berkontribusi pada peningkatan defisit di akun jasa.
PDB kuartal-II 2023 Indonesia tumbuh 5,17% YoY, lebih tinggi dari ekspektasi analis (5,00% YoY) (Exhibit 6).
Aktivitas konsumsi melambat namun meningkat secara riil karena terjadinya disinflasi. Investasi aset tetap (FAI) turut berkontribusi positif bagi pertumbuhan PDB karena banyaknya proyek pemerintah yang baru selesai di kuartal-II, termasuk LRT Jabodetabek. Belanja pemerintah juga mengalami peningkatan, mencerminkan tingkat kas pemerintah yang tinggi sehingga mendorong belanja dan pemberian THR yang lebih besar.
Ke depannya, pelemahan ekonomi global akan terus berdampak pada pelemahan ekonomi Indonesia, seperti yang sudah terlihat pada surplus neraca dagang yang kian menipis dan neraca transaksi berjalan yang mulai mencatatkan defisit. Namun, peningkatan investasi dan belanja pemerintah serta konsumsi yang berpotensi tetap terjaga menjelang pemilu 2024 diharapkan dapat membuat pertumbuhan PDB terjaga dalam rentang 5,10%
- 5,20% di tahun 2023.
Exhibit 6: Indonesia GDP (% YoY)
Sumber: BPS, BCA Economist (August 2023)
−Cash IDR Tidak terdapat dampak langsung
− Fixed Income USD Tidak terdapat dampak langsung
− Equity IDR IHSG sideways karena investor risk
off dan minim katalis positif
▼Fixed Income IDR Pelemahan IDR memberikan tekanan terhadap pergerakan
yield FR
−Equity USD Tidak terdapat dampak langsung
Sumber: Bank Indonesia, BPS (August 2023)
Exhibit 5: Indonesia Trade Balance & Current Account (USD Bn)
Indonesia: Slowing, But Still In A Better Place
(0.69) 7.08
3.53 5.03
5.02 5.46 5.73 5.01 5.04 5.17
-3.00 -1.00 1.00 3.00 5.00 7.00 9.00
Q1-21 Q2-21 Q3-21 Q4-21 Q1-22 Q2-22 Q3-22 Q4-22 Q1-23 Q2-23
Consumption Investment
Government Spending Net Exports
Others GDP
-1.93
-12.00 -8.00 -4.00 0.00 4.00 8.00 12.00 16.00
Trade Balance Other Current Account Current Account
7.81
-9.75 Current account Indonesia
tercatat defisit di kuartal-II 2023 karena penyempitan surplus neraca dagang dan peningkatan
defisit di akun jasa
Namun, PDB kuartal-II 2023 tumbuh 5,17% YoY, ditopang oleh peningkatan investasi dan belanja pemerintah. Aktivitas konsumsi juga masih terjaga
Pertumbuhan PDB Indonesia diharapkan dapat terjaga dalam rentang 5,10 – 5,20% di
tahun 2023 ditengah kondisi perlambatan ekonomi global
Currency Outlook
DXY (102,00-105,80)
EUR/USD (1,0625-1,0925)
GBP/USD (1,2400-1,2800)
USD/IDR (15.000-15.475) AUD/USD (0,6270-0,6600)
USD/JPY (142,50-148,80)
USD/CNH (7,2300-7,3750)
Commodity Snapshot
Pergerakan DXY dipengaruhi oleh:
• Data bulan Jul-23 menunjukkan ekonomi AS yang masih solid dimana: 1) Tingkat pengangguran turun ke 3,50% (prev 3,60%); 2) ISMServices Indexberada dalam zona ekspansi di 52,70 (prev53,90); dan 3)Retail salesnaik 0,70% MoM (prev0,30% MoM).
• Aliran ke safe haven asset akibat ketidakpastian pemulihan ekonomi Tiongkok dan kekhawatiran pelaku pasar atas suku bungahigher for longermenopang USD.
• Pada FOMC Jul-23, The Fed menaikkan suku bunganya 25 bps menjadi 5,25% - 5,50%. Timbul ekspektasi bahwa The Fed tidak akan menaikkan suku bunga lagi namun menahannya di level tinggi setelahcoreCPI AS dirilis turun.
Pergerakan USD/IDR dipengaruhi oleh:
• Data bulan Jul-23 menunjukkan ekonomi yang mixedmeskipun secara umum masih relatif terjaga dimana: 1) PMI manufaktur sedikit naik ke 53,30 (prev52,50); 2) Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) turun ke 123,50 (prev127,10);
dan 3) Surplus neraca dagang turun ke USD 1,31 Bn (prevUSD 3,45 Bn).
• PDB Indonesia pada kuartal-II tumbuh 5,17% YoY (3,86% QoQ), walaupun current accountmenjadi defisit USD 1,93 miliar. Menteri Keuangan Sri Mulyani optimis ekonomi Indonesia dapat tumbuh 5,00% tahun ini.
• IDR tertekan oleh arus dana keluar investor asing ditengah ketidakpastian pemulihan ekonomi Tiongkok yang berpotensi menurunkan ekspor Indonesia dan ekspektasi The Fed akan menahan suku bunganyahigher for longer.
• Pada RDG Jul-23, BI menahan suku bunga di 5,75% karena inflasi Indonesia turun ke 3,08% YoY (prev3,52% YoY).
Minyak Brent
• Harga minyak Brent mengalami kenaikan selama bulan Juni– Agustus 2023 dan berada di level USD 86,86/barel per 31 Agustus 2023 karena kekhawatiran keterbatasan persediaan ditengah pengurangansupplyoleh OPEC+(Exhibit 7).
Arab Saudi memperpanjang pengurangan produksi sebesar 1 juta barel per hari hingga Desember 2023. Rusia juga memperpanjang pengurangan ekspor minyak secara sukarela sebesar 300.000 barel per hari hingga akhir tahun.
• Sementara itu, ketidakpastian perekonomian global terus membebani prospek permintaan minyak ditengah melemahnya data manufaktur dan jasa terutama di negara-negara maju.
Sumber: Bloomberg (31 August 2023)
Exhibit 7: Brent Oil Price (USD/barrel)
Sumber: Bloomberg (31 August 2023)
Exhibit 8: Coal Price (USD/metric ton)
Batu Bara
• Setelah turun signifikan (~60%) di sepanjang tahun 2023, harga batu bara kembali naik ke level USD 156,00/metric ton per 31 Agustus 2023, merupakan level tertinggi dalam 3 bulan terakhir (Exhibit 8). Kenaikan harga terjadi seiring dengan impor batu bara Tiongkok yang melonjak naik karena meningkatnya permintaan listrik termal.
• Ke depannya, pergerakan harga batu bara berpotensi tetap terjaga di kisaran tersebut karena terdapat potensi peningkatan permintaan dari sektor industri Tiongkok dan penurunan rata-rata produksi batu bara harian di Tiongkok.
86.86
70.00 74.00 78.00 82.00 86.00 90.00
156.00
100.00 150.00 200.00 250.00 300.00 350.00 400.00 450.00
Suku bunga BI yang sudah berada di puncak membuat potensi kenaikan imbal hasil instrumen pasar uang terutama deposito menjadi lebih terbatas ke depannya.
Likuiditas yang masih cukup tinggi di sistem perbankan turut mendukung hal tersebut.
Per 31 Agustus 2023, likuiditas yang direpresentasikan oleh BI OMO Instruments bertahan di level IDR 668 triliun (vs. 31-Des-19: IDR 297 triliun) (Exhibit 10).
Tingginya likuiditas menurunkan urgensi bank umum untuk menaikkan bunga deposito. Ke depannya, imbal hasil malah berpotensi turun ketika BI mulai menurunkan suku bunga. Tim Ekonom BCA melihat suku bunga dapat mulai diturunkan di awal tahun 2024.
Money Market
NEUTRAL– no change
Potensi kenaikan imbal hasil pasar uang terutama bunga deposito relatif terbatas melihat suku bunga BI yang sudah berada di puncak dan likuiditas yang masih cukup tinggi. Imbal hasil malah berpotensi turun ketika BI mulai menurunkan suku bunga.
Di Rapat Dewan Gubernur Agustus 2023, BI kembali menahan suku bunga acuan di 5,75%. Keputusan BI didukung oleh inflasi Indonesia yang konsisten turun (Jul-23:
3,08% YoY) dan IDR yang masih bertahan sebagaibest performing currencydi Asia dengan penguatan 2,22% YTD 31 Agustus 2023. Suku bunga yang bertahan di 5,75%
membuat selisih suku bunga BI dan The Fed menyempit ke 0,25% (Exhibit 9).
Kondisi ini sebenarnya menimbulkan risiko pelemahan IDR ke depannya, namun beberapa regulasi seperti Devisa Hasil Ekspor (DHE) dan penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) diharapkan dapat menjaga kestabilan IDR. BI juga dapat melakukan intervensi langsung di pasar spot dan DNDF melihat cadangan devisa Indonesia yang relatif tinggi. Kenaikan suku bunga akan menjadi opsi terakhir BI dalam menjaga pergerakan IDR.
Selisih suku bunga BI & The Fed menyempit ke 0,25%
sehingga menimbulkan risiko pelemahan IDR. Namun, regulasi DHE, SRBI, dan intervensi langsung dari BI diharapkan mampu
mempertahankan stabilitas IDR. Kenaikan suku bunga menjadi opsi terakhir BI dalam menjaga pergerakan IDR.
Faktor risiko: BI mulai menurunkan suku bunga sehingga imbal hasil pasar uang terutama bunga deposito semakin rendah.
Source: Bloomberg (31 August 2023) Source: Bloomberg (31 August 2023)
Last 3 months:
N
Jun 23
N
Jul 23
N
Aug 23 Suku bunga BI yang sudah
berada di puncak & likuiditas yang cukup tinggi di sistem perbankan membatasi kenaikan imbal hasil pasar uang terutama bunga deposito.
Imbal hasil justru berpotensi turun ketika BI mulai
menurunkan suku bunga.
Exhibit 9: BI & The Fed Interest Rate Differential (%) Exhibit 10: BI OMO Instruments (IDR Tn)
0.25 5.75
5.50
0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00 7.00
Aug-18 Dec-18 Apr-19 Aug-19 Dec-19 Apr-20 Aug-20 Dec-20 Apr-21 Aug-21 Dec-21 Apr-22 Aug-22 Dec-22 Apr-23 Aug-23
Spread BI7DRR FFR
668.06
100 200 300 400 500 600 700 800 900 1,000 1,100
Sep-18 Sep-19 Sep-20 Sep-21 Sep-22
Fixed Income (USD)
SLIGHTLY OVERWEIGHT– no change
PenurunanyieldINDON (kenaikan harga) tertahan oleh tingginya suku bunga The Fed danyield US Treasury.Padahal, persepsi risiko investor asing terhadap Indonesia (CDS) membaik. YieldINDON berada di level yang sangat menarik saat ini dan berpotensi turun ke depannya ketika The Fed mulai menurunkan suku bunga dan CDS bertahan rendah.
Selama bulan Agustus 2023,yield US Treasury (UST) naik di seluruh tenor. Namun, kenaikan yield di tenor menengah panjang jauh lebih signifikan dibandingkan yield tenor pendek (Exhibit 11). Kenaikan yield tenor menengah panjang dipicu oleh budget deficit pemerintah AS yang melebar dan tingkat utang pemerintah yang menyentuh level tertinggi sepanjang masa di USD 32,61 triliun sehingga membuat penerbitan UST bertambah. Akibatnya, investor banyak melakukansell offdan rotasi ke tenor pendek. Di sisi lain, pasar memperkirakan 5,50% merupakan terminal rate The Fed dan suku bunga dapat mulai diturunkan di pertengahan tahun 2024(Exhibit 12).Tenor pendek yang lebih sensitif terhadap pergerakan suku bunga menjadi lebih atraktif untuk diakumulasi. Ketika suku bunga turun,yieldakan ikut turun (harga naik).
Exhibit 12: Market Expectation Towards Fed Fund Rate
Exhibit 11: UST Yield Curve Spread 31-Aug-23 vs.
31-Jul-23 (Bps)
Source: Bloomberg (31 August 2023) Source: Bloomberg (31 August 2023)
Investor melakukan rotasi dari UST tenor menengah panjang ke tenor pendek karena ekspektasi suku bunga The Fed sudah berada di puncak dan dapat diturunkan di 2024.
Obligasi tenor pendek lebih sensitif terhadap pergerakan suku bunga sehingga lebih atraktif untuk diakumulasi.
Tingginya suku bunga The Fed dan yield UST menahan penurunan yield INDON walaupun persepsi risiko investor terhadap kredit pemerintah Indonesia membaik.
Faktor risiko: The Fed kembali menaikkan suku bunga secara agresif di luar ekspektasi pasar.
Kenaikan yieldUST membuat yield INDON ikut naik di seluruh tenor selama bulan Agustus 2023. Sebagai acuan, yield INDON 10YR naik 53,06 bps sehingga yield berada di kisaran tertinggi dalam 10 tahun terakhir. Padahal, credit default swap (CDS) Indonesia yang mencerminkan persepsi risiko investor terhadap risiko kredit Indonesia membaik. CDS 5YR Indonesia turun ke 81,24 bps (vs. 30-Des-22: 99,57 bps). Secara historis, yield INDON dan CDS memiliki korelasi yang positif. Namun, penurunanyieldINDON saat ini tertahan oleh tingginya suku bunga The Fed danyield UST. Ke depannya, yielddapat mulai turun ketika The Fed mulai menurunkan suku bunga dan CDS Indonesia bertahan rendah.
Last 3 months:
SOW
Jun 23
OW
Jul 23
SOW
Aug 23 0.51
2.93
7.67
14.73
19.30 20.30
1Y 3Y 5Y 10Y 20Y 30Y
0 0 0 0
0 -1 -2
-2 -3
-4 -4 5.4 5.4 5.4 5.4
5.3 5.1 5.0
4.8 4.6
4.4 4.2
-5.50 -4.50 -3.50 -2.50 -1.50 -0.50 0.50 1.50
4.00 4.20 4.40 4.60 4.80 5.00 5.20 5.40 5.60
Number of Hike/Cut (25 bps each) (R) Implied Rate (L)
Fixed Income (IDR)
SLIGHTLY OVERWEIGHT– no change
Kenaikanyield US Treasury,pelemahan IDR, danoutflowinvestor asing meningkatkan volatilitas FR namun permintaan terutama dari investor domestik yang diperkirakan bertahan tinggi ditengah penerbitan yang dikurangi diharapkan mampu menopangyield.ke depannya,yielddapat kembali turun ketika BI mulai menurunkan suku bunga.
Di bulan Agustus 2023,yieldFR naik di seluruh tenor disebabkan oleh kenaikanyield US Treasury (UST), pelemahan IDR, danoutflow investor asing (Exhibit 13). UST merupakan risk free asset sehingga kenaikannya turut menyebabkan repricing di seluruh kelas aset di dunia termasuk FR. Kondisi tersebut diperparah oleh pelemahan IDR -0,98% MTD 31 Agustus 2023 sehingga menurunkan optimisme investor terhadap Indonesia dan memicu outflowsebesar IDR 8,15 triliun dalam satu bulan.
Namun, kenaikanyieldFR membuat tingkatyieldmenjadi lebih menarik.
Source: Bloomberg (31 August 2023) Source: DJPPR Kementerian Keuangan (31 August 2023)
Yield FR naik di seluruh tenor selama bulan Agustus 2023.
Kenaikan yield membuat FR menjadi lebih menarik untuk diakumulasi.
Permintaan terutama dari investor domestik yang diperkirakan tetap tinggi ditengah penerbitan yang dikurangi diperkirakan dapat menopang yield FR. Ke depannya, ada potensi yield FR dapat kembali turun terutama ketika BI mulai menurunkan suku bunga.
Faktor risiko: 1) The Fed kembali menaikkan suku bunga secara agresif di luar ekspektasi pasar; 2) Adanegative surprisesterutama dari sisi fiskal sepertibalance of payment dan current account deficit yang memburuk sehingga menyebabkan pelemahan IDR; 3) Inflasi Indonesia kembali naik karena dampak El Nino; 4) Dukungan investor domestik mulai menurun.
Walaupun volatilitas mungkin terjadi dalam jangka pendek, permintaan terutama dari investor domestik yang bertahan tinggi ditengah penerbitan yang dikurangi dapat menopang pergerakan yield FR. Salah satu katalis yang mendorong permintaan adalah imbal hasil FR yang jauh lebih tinggi dibandingkan instrumen pasar uang. Per 31 Agustus 2023, selisih yield FR 10 tahun dan rata-rata bunga deposito 12 bulan berada di 259 bps, jauh lebih tinggi dari rata-rata 10 tahun di level 180 bps.
Dari sisi penerbitan, pemerintah memangkas target defisit fiskal dari yang semula diperkirakan dapat mencapai IDR 598 triliun (-2,80% terhadap PDB) menjadi IDR 486 triliun (-2,28% terhadap PDB). Defisit fiskal yang mengecil disertai dengan tingkat kas pemerintah yang berada di titik tertinggi sepanjang masa memungkinkan penerbitan obligasi diturunkan ~47% dari target awal tahun (IDR 690 triliun) menjadi IDR 363 triliun hingga akhir tahun 2023 (Exhibit 14). Ke depannya, ada potensi yield FR kembali turun terutama ketika BI mulai menurunkan suku bunga.
Last 3 months:
SOW
Jun 23
SOW
Jul 23
SOW
Aug 23
Exhibit 14: Budget Deficit & Bond Supply (IDR Tn) Exhibit 13: FR Yield Curve Movement 31-Aug-23 vs.
31-Jul-23 (Bps) 40.52
25.70 19.71
10.04 13.28
6.45 15.02
2.30
1Y 3Y 5Y 7Y 10Y 15Y 20Y 30Y
269 349
948
775 732
598
486 269
384
1,118 808
677 690
363
2018 2019 2020 2021 2022 2023
Initial 2023 Revised Budget Deficit Bonds Issuance
12.25
-10.24 4.50
-5.20 -8.95
3.38 9.30
-8.50 20.87
1.40 5.17
-0.65 -1.68 1.99 6.60
-12.33 Jan-23 Feb-23 Mar-23 Apr-23 May-23 Jun-23 Jul-23 Aug-23
Performance Flow
Equity (USD)
SLIGHTLY UNDERWEIGHT– changed from NEUTRAL
Pasar saham AS overvalued ditandai dengan earnings yield yang lebih rendah dari yield risk free rate. Hal ini membatasi ruang kenaikan pasar saham karena aksiprofit takingdan rotasi ke pasar obligasi rentan terjadi. Sementara itu, pasar saham Tiongkok melanjutkan koreksi karena data ekonomi dan krisis properti yang memburuk. Walaupun valuasi semakin murah, dibutuhkan stimulus lanjutan untuk mengembalikan optimisme investor.
Pasar saham AS yang direpresentasikan oleh indeks S&P 500 naik 17,40% YTD 31 Agustus 2023. Kenaikan didorong oleh beberapa saham teknologi seperti Apple, Alphabet, Microsoft, Amazon, META, Tesla, dan NVIDIA yang dikenal dengan julukan The Magnificent 7(bobot ~25% dari indeks S&P 500) karena optimismesoft landingdi AS, ekspektasi suku bunga sudah berada di puncak, dan euforia AI. Akan tetapi, kenaikan indeks S&P 500 (17,40%) tidak diikuti oleh kenaikan earnings (-2,84%) sehingga valuasi cenderungovervalueddanearnings yieldterus menurun. Di sisi lain, yield US Treasury (UST) 2 tahun yang merupakan risk free asset naik signifikan sehingga menggerus premium yang diberikan pasar saham. Selisih earnings yield S&P 500 dan yield UST 2 tahun memasuki teritori negatif untuk pertama kalinya dalam 10 tahun terakhir(Exhibit 15).Hal ini akan membatasi kenaikan pasar saham ke depannya karenaprofit takingdan rotasi ke pasar obligasi rentan dilakukan.
Exhibit 16: MSCI China Performance (%) & Flow To China Stocks (USD Bn)
Source: Bloomberg (31 August 2023) Source: Bloomberg (31 August 2023)
Earnings yield pasar saham AS terus turun, menandakan valuasi yang cenderung overvalued. Hal ini berpotensi memicu profit taking dan rotasi ke pasar obligasi (US Treasury) yang dapat
memberikan imbal hasil yang lebih menarik.
Faktor risiko:1)Profit takingdi pasar saham AS; 2) Krisis di sektor properti Tiongkok berlanjut dan semakin parah; 3) Tensi politik AS dan Tiongkok semakin panas.
Last 3 months:
N
Jun 23
N
Jun 23
N
Jul 23 Exhibit 15: S&P Earnings Yield – UST 2YR Yield Spread (%)
Data ekonomi yang melemah dan krisis di sektor properti yang semakin parah
menyebabkan sell off di pasar saham Tiongkok. Namun, earnings emiten dirilis lebih baik dari ekspektasi dan valuasi cenderung murah. Ke depannya, dibutuhkan stimulus lebih lanjut untuk mengembalikan optimisme investor dan mendorong kenaikan harga saham.
Pasar saham Tiongkok yang direpresentasikan oleh MSCI China Index terkoreksi di bulan Agustus 2023 (-8,50%) karena data ekonomi mengecewakan. Deflasi mulai terjadi, ekspor turun signifikan,dan penyaluran kredit berada di titik terendah dalam 14 tahun terakhir. Kekhawatiran mengenai krisis properti juga kembali meningkat setelah Country Garden mengalami gagal bayar atas kupon obligasinya dan Zhong Rong tidak mampu membayar bunga beserta pokoknya ke investor. Akibatnya, investor melakukansell offsebesar USD 12,33 miliar selama Agustus 2023(Exhibit 16). Secara fundamental, laba bersih per lembar saham (EPS) dari beberapa emiten besar di Tiongkok seperti Alibaba (USD 17,37;exp.USD 14,59), JD.com (USD 5,39;
exp.USD 4,92), dan Tencent (USD 3,88;exp.USD 3,76) berada diatas ekspektasi.
Koreksi juga turut membuat valuasi pasar saham Tiongkok menjadi semakin murah, bahkan termurah di kawasan Asia. Per 31 Agustus 2023,price to earnings ratio (p/e) berada di 12,67x, jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata 10 tahun di level 13,62x.
Namun, dibutuhkan dorongan berupa stimulus fiskal yang lebih besar dan terarah untuk mengembalikan optimisme investor dan mendorong harga saham kembali naik.
-0.33
-1.00 0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00 7.00
2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022
Performance Up Performance Down
Equity (IDR)
NEUTRAL– no change
Emiten terutamabig capmasih memiliki fundamental yang solid ditandai dengan pertumbuhan laba kuartal-II 2023 yang cukup baik. Namun, valuasi yang sudah berada di level yang cukup tinggi kemungkinan besar membatasi kenaikan harga saham.
Walaupunbig capmemiliki prospek pertumbuhan yang cukup baik hingga akhir tahun 2023, valuasi sudah berada di level yang cukup tinggi. Rasio price to earnings dari indeks LQ45 dan IHSG berada di level 0,90x atau 1 standar deviasi diatas rata-rata 10 tahun pada level 0,83x (Exhibit 18).Valuasi yang relatif tinggi berpotensi menahan kenaikan harga saham big cap dalam beberapa waktu kedepan. Saat ini, rata-rata volume transaksi perdagangan di IHSG memang sedikit membaik dari IDR 6-7 triliun pada semester-I 2023 menjadi sekitar IDR 7-9 triliun. Namun, dibutuhkan katalis positif yang cukup besar salah satunya inflow dari investor asing untuk membuat harga saham kembali naik signifikan.
Exhibit 18: LQ45/JCI Index Price To Earnings Ratio Exhibit 17: LQ45 Earnings Result (Q2-2023) (X)
Source: Bloomberg (31 August 2023) Source: Bloomberg (31 August 2023)
Valuasi big cap yang relatif tinggi berpotensi menahan kenaikan harga saham dalam beberapa waktu kedepan walaupun fundamental solid dan prospek pertumbuhan laba cukup baik.
Emiten terutama big cap masih membukukan pertumbuhan laba yang cukup baik di kuartal-II 2023. Sektor
consumer staples, consumer discretionary, dan finansial menjadi tiga sektor dengan pertumbuhan laba paling superior.
Faktor risiko: 1) Ada negative surprises yang menyebabkan pelemahan IDR; 2) Inflasi Indonesia kembali naik karena dampak El Nino; 3) Tensi politik meningkat menjelang tahun politik 2024.
Di kuartal-II 2023, emiten khususnya big capmasih membukukan pertumbuhan laba yang baik. Dari 93% emiten di indeks LQ45 (indeks yang merepresentasikan saham- sahambig cap) yang telah melaporkanearnings, tercatat pertumbuhan laba sebesar 13,24%. Pertumbuhan yang superior dikontribusikan oleh sektor consumer staples, consumer discretionary, dan finansial (Exhibit 17). Pertumbuhan laba di sektor consumer staples (125,12%) disebabkan oleh kenaikan harga jual rata-rata dan penurunan harga bahan baku. Pertumbuhan laba di sektor consumer discretionary (65,89%) disebabkan oleh peningkatan konsumsi terutama karena hari raya Idul Fitri dan liburan tengah semester di kuartal-II 2023. Sementara, pertumbuhan laba di sektor finansial (34,09%) disebabkan oleh pertumbuhan kredit yang terjaga di high single digit, net interest margin yang cukup stabil, dan non performing loan yang bertahan rendah. Ketiga sektor ini diperkirakan masih akan membukukan laba yang baik hingga akhir tahun 2023. Katalis positif yang mendorong kenaikan sektor tersebut adalah konsumsi masyarakat dan belanja pemerintah yang diperkirakan meningkat menjelang tahun politik 2024. Kenaikan konsumsi memiliki dampak langsung ke sektor consumer staplesdan consumer discretionary. Sementara dampak ke sektor finansial berasal dari potensi peningkatan distribusi kredit.
Last 3 months:
SOW
Jun 23
N
Jul 23
N
Aug 23
0.90
0.50 0.60 0.70 0.80 0.90 1.00 1.10
2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023
LQ45/JCI Index P/E Average -2 STD
-1 STD +1 STD +2 STD
LQ45 Index Materials Cons. Staples Energy Cons. Discretionary Communication Financials Health Care
Positive Inline Negative Earnings Growth -15,98%
34,09%
65,89%
-95,77%
125,12%
-19,81%
-40,92%
13,24%
Economic Calendar & Product Highlights
Economic Calendar Product Highlights
Name Type Launch/Mature Period
SR013 Bond Mature Sep-23
ORI018 Bond Mature Oct-23
INDON23NEW Bond Mature Oct-23
ORI024 Bond Launch Oct-23
ST008 Bond Mature Nov-23
ST011 Bond Launch Nov-23
Countries Events Dates
Nonfarm Payrolls August 2023 1-Sep-23 Unemployment Rate August 2023 1-Sep-23 Manufacturing PMI August 2023 1-Sep-23 Service PMI August 2023 6-Sep-23 Composite PMI August 2023 6-Sep-23 Initial Jobless Claims 7-Sep-23
CPI August 2023 13-Sep-23
Retail Sales August 2023 14-Sep-23 Initial Jobless Claims 14-Sep-23
PPI August 2023 14-Sep-23
FOMC Rate Decision 21-Sep-23 Initial Jobless Claims 21-Sep-23 New Home Sales August 2023 26-Sep-23 Initial Jobless Claims 28-Sep-23 Manufacturing PMI August 2023 1-Sep-23
Service PMI August 2023 5-Sep-23 Composite PMI August 2023 5-Sep-23 Monthly GDP July 2023 13-Sep-23 Industrial Production July 2023 13-Sep-23 Trade Balance July 2023 13-Sep-23
CPI August 2023 20-Sep-23
Retail Sales August 2023 20-Sep-23
PPI August 2023 20-Sep-23
GDP Q2 2023 29-Sep-23
Manufacturing PMI August 2023 1-Sep-23 Service PMI August 2023 5-Sep-23 Composite PMI August 2023 5-Sep-23
PPI July 2023 5-Sep-23
Retail Sales July 2023 6-Sep-23
GDP Q2 2023 7-Sep-23
Industrial Production July 2023 13-Sep-23 Trade Balance July 2023 15-Sep-23 Current Account July 2023 19-Sep-23
CPI August 2023 19-Sep-23
Manufacturing PMI August 2023 1-Sep-23 Service PMI August 2023 5-Sep-23 Household Spending July 2023 5-Sep-23 Current Account July 2023 8-Sep-23
GDP Q2 2023 8-Sep-23
PPI August 2023 13-Sep-23
Industrial Production July 2023 14-Sep-23 Trade Balance August 2023 20-Sep-23
CPI August 2023 22-Sep-23
Manufacturing PMI August 2023 1-Sep-23 Service PMI August 2023 5-Sep-23 Composite PMI August 2023 5-Sep-23 Trade Balance August 2023 7-Sep-23 FX Reserves August 2023 7-Sep-23
CPI August 2023 9-Sep-23
PPI August 2023 9-Sep-23
Industrial Production August 2023 15-Sep-23 Retail Sales August 2023 15-Sep-23 Unemployment Rate August 2023 15-Sep-23 Manufacturing PMI August 2023 1-Sep-23
Inflation August 2023 1-Sep-23 FX Reserves August 2023 7-Sep-23 Trade Balance August 2023 15-Sep-23 United States
United Kingdom
Japan
China
Indonesia Euro Zone
Glossary
Consumer Price Index:indikator yang digunakan untuk mengukur inflasi dari sisi konsumen. Biasa disingkat menjadiCPI.
Credit Default Swap:instrumen derivatif yang mencerminkan persepsi risiko investor terhadap investasinya di sebuah negara. Biasa disingkat menjadi CDS.
Deflasi:penurunan harga barang dan jasa secara umum.
Defisit fiskal:kelebihan belanja pemerintah dibandingkan dengan penerimaannya.
Devisa Hasil Ekspor:kebijakan pemerintah untuk memulangkan dana hasil ekspor ke dalam negeri. Biasa disingkat menjadiDHE.
Domestic Non Deliverable Forward:transaksi derivatif valas terhadap rupiah yang standar berupa transaksiforwarddengan mekanismefixingyang dilakukan di pasar domestik.
Earnings:laba.
Earnings yield:rasio yang mengukur perbandingan laba bersih terhadap harga saham.
Foreign inflow: aliran dana masuk dari investor asing ke kelas aset tertentu.
Foreign outflow: aliran dana keluar dari investor asing dari kelas aset tertentu.
Hawkish:istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi kebijakan moneter ketat. Biasanya ditandai dengan suku bunga tinggi.
Indeks Kepercayaan Konsumen: indeks yang mencerminkan keyakinan konsumen Indonesia mengenai kondisi ekonomi saat ini dan ekspektasi konsumen dalam periode yang akan datang. Biasa disingkat menjadi IKK. Dalam Bahasa Inggris adalahConsumer Confidence Index (CCI).
Kebijakan fiskal: kebijakan yang diambil pemerintah untuk mempengaruhi kondisi ekonomi. Kebijakan yang diambil biasanya berkaitan dengan perpajakan dan subsidi.
Kebijakan moneter:kebijakan yang diambil bank sentral untuk mengatur jumlah uang yang beredar. Kebijakan yang diambil biasanya berkaitan dengan suku bunga dan giro wajib minimum perbankan.
Neraca perdagangan:catatan seluruh transaksi ekspor dan impor suatu negara dengan negara lainnya di periode tertentu. Dalam Bahasa Inggris adalah Trade Balance.
Neraca transaksi berjalan:catatan yang meliputi transaksi ekspor dan impor, pembayaran dari luar negeri, serta hibah. Dalam Bahasa Inggris adalah Current Account.
Net Interest Margin:selisih antara pendapatan dan beban bunga yang ditanggung oleh sebuah institusi finansial. Rasio ini mengukur profitabilitas dari institusi tersebut. Biasa disingkat menjadiNIM.
Non Performing Loan:kredit gagal bayar. Biasa disingkat menjadiNPL.
PMI manufaktur: manufacturing purchasingmanagers’ index, merupakan indikator ekonomi yang mengukur aktivitas manufaktur di suatu negara.
Price to Earnings ratio:indikator valuasi yang dihitung dengan cara membagi harga saham dengan laba emiten. Biasa disingkat menjadiP/E.
Produk Domestik Bruto:indikator ekonomi yang digunakan untuk mengukur jumlah barang dan jasa yang dihasilkan oleh sebuah negara dalam periode tertentu. Biasa disingkat menjadiPDB.Dalam Bahasa Inggris adalahGross Domestic Product (GDP).
Profit taking:aksi merealisasikan keuntungan.
Retail sales:indikator yang mengukur level pengeluaran konsumen untuk berbelanja barang eceran.
Save haven asset:aset rendah risiko.
Sekuritas Rupiah Bank Indonesia: surat berharga dalam mata uang IDR yang diterbitkan BI sebagai pengakuan utang jangka pendek dengan underlying assetberupa SBN milik BI. Biasa disingkat menjadiSRBI.
Soft landing:kondisi dimana ekonomi melemah secara perlahan.
Terminal rate:titik dimana The Fed berhenti menaikkan suku bunga.
Yield:imbal hasil.
Wealth Panel Contributors
BCA Wealth Panel
BCA Wealth Panel Members
SEVP Treasury & International Banking Branko Windoe
Head of Wealth Management Ugahary Yovvy Chandra
BCA Sekuritas Head of Equity Aldo Benas
Wealth Management Division
Lilyana Sutianto Baling – Head of Investment Business & Research Management Richie Norbert Tandias– Head of Research & Portfolio Management
Anastasia Gracia– Research Analyst Grace Natalia – Research Analyst
Treasury Team
Junita Gunawan– Head of Treasury
Yeni Marliana Laurence – Head of Position Management Dionysius Kelvin – Currency Analyst
Yuliastono Candra – Fixed Income Analyst
Economist Team Barra Kukuh Mamia– Economist
BCA Sekuritas Team Andre Benas– Head of Research
Chief Economist David Sumual
Disclaimer
Laporan BCA House View (“Laporan”) ini hanya bersifat sebagai informasi dan bukan merupakan rekomendasi, saran, ajakan, atau arahan, serta tidak dimaksudkan sebagai penawaran atau permintaan untuk melakukan transaksi tertentu.
Tidak ada satu pun baik PT Bank Central Asia Tbk(“BCA”), perusahaan terafiliasinya, dan/atau karyawan maupun agen dari BCA dan seluruh perusahaan terafiliasinya yang memberikan pernyataan atau jaminan (baik tersurat atau tersirat) atau bertanggung jawab sehubungan dengan akurasi atau kelengkapan dari informasi, penilaian, proyeksi, perkiraan, analisis, dan pendapat lainnya yang tercantum dalam Laporan ini(“Informasi”). Dalam hal Informasi berasal dari sumber di luar BCA, Informasi tersebut diperoleh dari sumber yang menurut BCA dapat diandalkan. Namun demikian, BCA tidak menjamin bahwa Informasi tersebut akurat, lengkap, maupun terkini (up-to-date).
BCA, perusahaan terafiliasinya, dan/atau karyawan maupun agen dari BCA dan seluruh perusahaan terafiliasinya tidak bertanggung jawab dan tidak dapat dituntut atas kerugian apa pun baik yang bersifat langsung maupun tidak langsung atau atas kerugian lainnya dalam bentuk apa pun yang mungkin timbul dari setiap penggunaan Informasi yang tercantum dalam Laporan ini (termasuk setiap kesalahan atau kekeliruan yang mungkin ditemukan dalam Laporan ini). Segala akibat dan kerugian yang timbul dari penggunaan Informasi untuk keperluan apa pun menjadi tanggung jawab pengguna Informasi sepenuhnya dan pengguna Informasi membebaskan BCA, perusahaan terafiliasinya, dan/atau karyawan maupun agen dari BCA dan seluruh perusahaan terafiliasinya dari segala tuntutan, gugatan, dan/atau tindakan hukum lainnya dalam bentuk apa pun.
Setiap Informasi terkandung dalam Laporan ini mungkin didasarkan pada sejumlah asumsi dan perkiraan yang mungkin dapat berbeda dengan kondisi yang sesungguhnya atau kondisi yang terjadi di kemudian hari. Asumsi dan perkiraan yang berbeda dapat mengakibatkan hasil yang berbeda pula. BCA perusahaan terafiliasinya, dan/atau karyawan maupun agen dari BCA dan seluruh perusahaan terafiliasinya tidak mewakili atau menjamin bahwa Informasi apa pun akan terpenuhi.
Kinerja masa lalu yang dimuat dalam Laporan ini bukan merupakan indikator maupun jaminan kinerja di masa mendatang.
Informasi yang disampaikan dalam Laporan ini dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan terlebih dulu. Informasi yang tercantum pada Laporan ini dapat berasal dari pihak lainnya. BCA tidak bertanggung jawab atas kebenaran, keakuratan, atau kelengkapan Informasi, termasuk kesalahan Informasi yang tercantum pada Laporan ini.
Laporan ini dibuat secara umum tanpa mempertimbangkan tujuan investasi, situasi keuangan, dan kebutuhan pihak tertentu, serta tidak ditujukan untuk satu/sekelompok pihak tertentu. Sebelum Anda melakukan transaksi investasi apa pun, Anda harus melakukan pengkajian dan analisis secara independen dan meminta saran atau masukan dari segi finansial dan hukum dari tenaga profesional (jika diperlukan).
Informasi yang dimuat dalam Laporan ini tidak mencerminkan posisi BCA, perusahaan terafiliasinya, dan/atau karyawan maupun agen dari BCA dan seluruh perusahaan terafiliasinya dalam melakukan transaksi efek dan/atau instrumen keuangan lainnya baik dalam kapasitasnya sebagai pelaku transaksi maupun sebagai prinsipal atau agen sehingga transaksi efek dan/atau instrumen keuangan lainnya yang dilakukan BCA, perusahaan terafiliasinya, dan/atau karyawan maupun agen dari BCA dan seluruh perusahaan terafiliasinya dapat tidak konsisten dengan Informasi yang dimuat dalam Laporan ini.
Produk investasi yang disebutkan dalam Laporan ini (selain produk simpanan atau deposito BCA)BUKANmerupakan produk maupun tanggung jawab BCA dan bukan juga merupakan bagian dari simpanan pihak ketiga pada BCA, sertaTIDAK TERMASUKdalam cakupan obyek program penjaminan Pemerintah atau penjaminan simpanan yang dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
Laporan ini tidak diperbolehkan untuk diproduksi ulang, disalin/difotokopi, diduplikasi, dikutip, atau disediakan dalam bentuk apa pun, dengan sarana apa pun, atau didistribusikan kembali kepada pihak lain manapun tanpa izin tertulis terlebih dahulu dari BCA.