PENGARUH PENERAPAN STRATEGI BELAJAR AKTIF TIPE KWL (KNOW – WANT – LEARN) TERHADAP HASIL
BELAJAR BIOLOGI SISWA KELAS X SMAN 5 PADANG
Silvia Hedriyanti, Siska Nerita, Gustina Indriati Program Studi Pendidikan Biologi STKIP PGRI Sumatera Barat
e-mail: [email protected]
ABSTRACT
The low result of learning biology students, most of the students still get low score under minimum achievent of biology. The method/strategy that used by the teacher still monoton and it’s caused the studentshaven’t motivation in reading and learning process. One of alternative to solve the problem is implementing active learning strategy type KWL. This research has purpose to know the effect of mplementing active learning strategy type KWL (know-want-learn) toward result of students biology learning at class X in SMAN 5 Padang. Type of this research is experiment by using Randomized Control–Group Postes Only Design. Population of this research is students at class X in SMAN 5 Padang of academic year 2014/2015 that consistof five classes.
Sample is taken by using Purposive Sampling. Technique of data analysis uses uji – T with corelation level of 95% (α= 0,05). The result of research shows that t–test 3,68 and t–table 1,67.
T–test > t–table, it means that hypothesis (H1) is accepted. Attitude of competence in experiment class was good (3,27), and in the control class was enought (2,78). Knowlegde competence in experiment class was B+(3,20), and in control class was B (3,01). Skill competence in experiment class was A-(3,62), and in the control class was B+(3,32). This research can be congluded that by using active learning strategy type KWL (know-want-learn) can in inprove the students biology score in class X at SMAN 5 Padang.
Key Word: KWL, Active learning, Result of learning
PENDAHULUAN
Proses belajar mengajar ideal merupakan proses belajar mengajar yang bukan saja terfokus kepada hasil yang dicapai peserta didik, namun bagaimana proses pembelajaran itu mampu memberikan pemahaman yang baik, kecerdasan, ketekunan, kesempatan dan mutu serta dapat memberikan perubahan prilaku dan mengaplikasikannya dalam kehidupan mereka. Pelaksanaan pembelajaran yang efektif ditinjau dari kondisi dan suasana serta upaya pemeliharaannya. Guru selaku pembimbing harus mampu melaksanakan proses pembelajaran tersebut secara maksimal. Hal ini juga didukung di dalam kurikulum 2013 secara utuh dan menyeluruh, hendaknya setiap sekolah mampu mengembangkan berbagai potensi peserta didik secara optimal, terutama dalam kaitannya dengan pengembangan karakter,
akhlak, dan moral peserta didik. Lebih lanjut dikatakan bahwa desain kurikulum 2013 tidak hanya menekankan pada aspek ilmiah saja. Justru kurikulum ini akan lebih kaya dengan nilai-nilai seni budaya dan moral.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara penulis di SMAN 5 Padang, penulis menemukan bahwa metode yang digunakan guru kurang bervariasi. Guru menggunakan metode ceramah dan tanya jawab. Salah satu akibat yang mungkin disebabkan oleh metode ceramah ini adalah siswa kurang bersemangat untuk mendalami materi yang diajarkan dan siswa juga kurang berpartisipasi dalam proses pembelajaran sehingga hanya sebagian siswa saja yang berani mengeluarkan idenya untuk bertanya tentang materi. Siswa juga kurang berminat dalam membaca materi yang akan diajarkan karena terlalu banyak konsep dalam pembelajaran biologi. Akibatnya beberapa
siswa masih mengandalkan contekan temannya dalam mengerjakan tugas yang diberikan guru. Salah satu materinya adalah materi Virus, dimana materi ini merupakan materi yang sulit dipahami oleh siswa, seperti siswa kesulitan dalam memahami dan membedakan antara siklus litik dan siklus lisogenik.
Kebanyakan siswa mendapatkan nilai di bawah KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal). KKM yang ditetapkan di SMAN 5 Padang adalah 80. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata nilai ulangan harian 1 kelas X SMAN 5 Padang Tahun Pelajaran 2013/2014. Adapun nilai rata-rata ulangan harian I pada materi virus, siswa kelas X1=73,1, X2=43,1, X3=43,6, X4=48,3, X5=59,4, X6=47,8, X7=66,3, X8=52,7 dan X9=60,2. Mengatasi permasalahan di atas maka guru biologi harus mampu menggunakan bermacam-macam strategi sehingga siswa menjadi lebih tertarik dalam mengikuti pelajaran biologi dan menjadikan siswa aktif dalam proses pembelajaran biologi. Salah satu strateginya adalah strategi belajar aktif tipe KWL (Know-Want- Learn). Mengacu pada Hamzah dan Mohamad (2012: 108) KWL merupakan kepanjangan dari know yang berarti mengetahui, want yang berarti ingin, dan learn yang berarti belajar. Jadi strategi KWL merupakan suatu strategi yang dapat membuat anak berfikir tentang apa yang diketahuinya dari suatu topik dan apa yang ingin diketahuinya tentang topik.
Mengacu pada Buehl (2009: 107) strategi KWL adalah strategi yang dapat digunakan dalam semua materi pembelajaran untuk mempermudah siswa dalam memahami materi. Strategi ini dapat membantu siswa mengetahui seberapa besar pengetahuan siswa tentang materi sebelum materi itu diajarkan oleh guru. Jadi strategi KWL adalah strategi yang digunakan oleh guru membimbing siswa untuk dapat mengaktifkan latar belakang pengetahuan materi dan membuat siswa tertarik untuk mempelajari materi yang akan diajarkan.
Mengacu pada McKenna (2002: 90) KWL memiliki keuntungan dimana siswa bertindak sebagai students center (siswa yang lebih aktif) dan secara natural berfikir.
Strategi KWL ini juga dapat mengaitkan atau menghubungkan pembelajaran yang baru dipelajari dengan pelajaran yang lama.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan strategi belajar aktif tipe KWL terhadap hasil belajar biologi dengan hipotesis yang akan diuji adalah hasil belajar pada kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan. Manfaat penelitian ini adalah sebagai pedoman bagi penulis dalam memilih metode pembelajaran dan sebagai bekal dalam mengajar biologi dimasa yang akan datang. Sebagai bahan masukan bagi guru biologi dalam menggunakan metode pembelajaran dan dapat dijadikan sebagai alternatif dalam proses pembelajaran di kelas.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan September-Oktober 2014 pada kelas X semester I tahun pelajaran 2014/2015 di SMA Negeri 5 Padang. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian Eksperimen. Penelitian ini menggunakan rancangan Randomized Control-Group Posttest Only Design, yang digambarkan Lufri (2005: 69). Prosedur penelitian terdiri dari tiga bagian yaitu tahap persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penilaian kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan. Penilaian kompetensi sikap berupa lembaran observasi, penilaian kompetensi pengetahuan dilakukan berupa soal objektif yang terdiri dari 5 option dan penilaian kompetensi keterampilan pada kelas eksperimen dilakukan melalui chart KWL, sedangkan kelas kontrol melalui laporan hasil diskusi siswa. Teknik analisa data yang digunakan pada penilaian kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan berdasarkan Permendikbud No 104, dimana pada penilaian kompetensi sikap diperoleh dari nilai modus (nilai yang sering muncul)., Penilaian kompetensi pengetahuan melalaui uji hipotesis (Sudjana, 2005: 239) dan skor rerata yang dikonversikan. Penilaian kompetensi keterampilan diperoleh dari capaian optimum (nilai tertinggi yang dicapai).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Setelah dilakukan penelitian di SMAN 5 Padang maka didapatkan thitung >
ttabel. t hitung 3,68 dan t tabel 1,67, sehingga hipotesis diterima. Hasil belajar siswa dari 3
penilaian kompetensi yaitu kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan yang dikonversikan menurut Permendikbud No 104 seperti Tabel di bawah ini.
Tabel. Tabel Skor Dan Predikat Hasil Belajar Untuk Setiap Kompetensi N
o Kelas
Sikap Pengetahuan Keterampilan
Modus Predikat Skor
Rerata Huruf Capaian
Optimum Huruf
1. Eksperimen 3,27 B 3,20 B+ 3,62 A-
2. Kontrol 2,78 C 3,01 B 3,32 B+
Secara keseluruhan diperoleh hasil penilaian kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan pada kelas eksperimen lebih baik dari pada kelas kontrol. Kelas eksperimen menerapkan strategi belajar aktif tipe KWL, sedangkan kelas kontrol menerapkan metode diskusi. Mengacu pada Hamzah dan Mohamad (2012: 108) KWL merupakan kepanjangan dari know yang berarti mengetahui, want yang berarti ingin, dan learn yang berarti belajar. Jadi strategi KWL merupakan suatu strategi yang dapat membuat anak berfikir tentang apa yang diketahuinya dari suatu topik dan apa yang ingin diketahuinya tentang topik.
Berdasarkan indikator yang diamati strategi belajar aktif tipe KWL menyebabkan siswa lebih aktif dan kreatif, seperti siswa aktif dalam bertanya baik dengan guru maupun teman atau pasangannya, siswa juga santun dalam bertanya dengan cara menunjuk tangan sebelum mereka bertanya. Pertanyaan atau pendapat yang diajukan siswa sudah mulai terlihat ilmiah karena sudah mengarah ke materi yang dipelajari. Siswa sudah mampu bekerjasama dengan pasangannya dalam mendiskusikan tugas yang diberikan atau chart KWL. Siswa sudah dapat berkomunikasi dengan teman dan gurunya pada saat proses pembelajaran jika ada yang tidak dimengerti. Pada saat diskusi dan mengkomunikasikannya siswa sudah bisa menghargai pendapat orang lain dengan menerima kritik dan saran dari teman atau pasangan lain.
Mengacu pada Silberman (2009: 1) belajar aktif merupakan sebuah kesatuan sumber kumpulan strategi-strategi pembelajaran yang komprehensif. Belajar aktif meliputi berbagai cara untuk membuat peserta didik sejak awal melalui aktifitas- aktifitas yang membangun kerja kelompok
dan dalam waktu singkat membuat mereka berfikir tentang materi pelajaran. Terdapat teknik-teknik memimpin belajar bagi seluruh kelas, bagi kelompok kecil, merangsang diskusi dan debat, mempraktikkan keterampilan-keterampilan, mendorong adanya pertanyaan-pertanyaan, bahkan membuat peserta didik dapat saling mengajar satu sama lain.
Penilaian kompetensi sikap dari semua indikator yang diamati pada kelas kontrol berada pada predikat cukup (2,78).
Rendahnya penilaian sikap kelas kontrol disebabkan karena dalam pembelajaran guru menerapkan pembelajaran dengan menggunakan metode diskusi. Dimana siswa hanya berdiskusi dalam kelompok homogen, sehingga hanya sebagian siswa yang aktif dalam pembelajaran. Kerjasama dalam kelompok belum terlihat karena mereka masih mengandalkan temannya yang pintar untuk mengerjakan tugas yang diberikan, sehingga komunikasi dan menghargai pendapat antara anggota pun juga belum terlihat. Siswa sudah berani dalam bertanya tetapi masih didominasi oleh kelompok yang pintar saja. Pertanyaan atau pendapat siswa belum ilmiah karena tidak berdasarkan materi atau teori.
Penilaian kompetensi sikap berhubungan dengan penilaian kompetensi pengetahuan seseorang. Setelah penelitian dilakukan di SMAN 5 Padang diperoleh rata- rata nilai siswa pada kelas eksperimen yaitu 82,10, hasil belajar dikonversikan berada pada predikat B+ (3,20). Siswa yang mencapai KKM sebanyak 20 orang dengan persentase ketuntasannya 66,67%, sedangkan nilai siswa yang berada di bawah KKM sebanyak 10 orang dengan persentase 33,33%. Mengacu pada Djamarah dan Zain (2010: 107) bahwa “tingkat keberhasilan
belajar mengajar dikatakan baik apabila bahan pelajaran yang diajarkan hanya 60%- 75% dikuasai oleh siswa”.
Pada kelas eksperimen siswa diminta untuk mendiskusikan chart KWL yang telah disediakan dengan pasangannya masing-masing. Melalui pengisian chart KWL ini dapat memotivasi siswa dalam membuat pertanyaan dan membaca materi untuk menjawab pertanyaan dengan pasangannya, sehingga dapat meningkatkan kemampuan belajar dan berfikir siswa. Chart KWL ini dilengkapi dengan berbagai gambar yang berhubungan dengan materi, sehingga siswa lebih mudah memahami materi.
Gambar-gambar yang terdapat pada chart KWL dapat memotivasi siswa dalam belajar dan membaca materi untuk menjawab pertanyaan yang mereka buat, sehingga mereka mudah untuk mengingat materi.
Meningkatnya hasil pembelajaran biologi pada kelas eksperimen juga disebabkan, karena sebelum siswa mempelajari pelajaran di sekolah, siswa dituntut untuk membaca materi tersebut di rumah untuk pengisian kolom K. Jadi sebelum pelajaran itu dipelajari secara keseluruhan siswa telah memiliki informasi tentang materi tersebut, sehingga pembelajaran dapat berlangsung secara baik.
Mengacu pada McKenna (2002: 90) KWL memiliki keuntungan dimana siswa bertindak sebagai students center (siswa yang lebih aktif) dan secara natural berfikir. Strategi KWL ini juga dapat mengaitkan atau menghubungkan pembelajaran yang baru dipelajari dengan pelajaran yang lama.
Rata-rata nilai siswa yang diperoleh pada kelas kontrol yaitu 75,36, hasil belajar dikonversikan berada pada predikat B (3,01).
Siswa yang mencapai KKM sebanyak 12 orang dengan persentase ketuntasannya 37,5%, sedangkan nilai siswa yang berada di bawah KKM sebanyak 20 orang dengan persentase 62,5%. Mengacu pada Djamarah dan Zain (2010: 107) bahwa “tingkat keberhasilan belajar mengajar dikatakan kurang apabila bahan pelajaran yang diajarkan kurang dari 60% dikuasai oleh siswa”.
Rendahnya hasil belajar siswa ini disebabkan karena pada saat proses pembelajaran hanya sebagian siswa saja yang berdiskusi dengan kelompoknya. Beberapa kelompok masih mengandalkan teman
kelompoknya yang pintar untuk membuat tugas yang disuruh, sedangkan sebagian siswa lain hanya diam saat diskusi berlangsung. Pada saat pembagian anggota kelompok dibagi berdasarkan urutan bangku, sehingga saat berdiskusi masih banyak siswa yang main-main dan tidak saling bekerjasama dengan sesama anggota kelompok akibatnya pembelajaran hanya didominasi oleh siswa tertentu saja.
Mengacu pada Kunandar (2013:
249) hasil belajar psikomotorik tampak dalam bentuk keterampilan (skill) dan kemampuan bertindak individu. Hasil belajar psikomotor sebenarnya merupakan kelanjutan dari hasil belajar kognitif dan hasil belajar afektif (yang baru tampak dalam bentuk kecendrungan- kecendrungan untuk berperilaku atau berbuat). Hasil belajar kognitif dan afektif akan menjadi hasil belajar psikomotorik apabila peserta didik telah menunjukkan perilaku atau perbuatan tertentu sesuai dengan makna yang terkandung dalam ranah kognitif dan afektif.
Penilaian kompetensi keterampilan pada kelas ekperimen berada pada predikat A- (3,62). Meningkatnya penilaian keterampilan pada kelas eksperimen disebabkan karena siswa sudah mampu merumuskan pertanyaan dari chart ataupun gambar yang tersedia dengan baik. Gambar- gambar yang terdapat pada chart KWL mempermudah siswa untuk merumuskan pertanyaan, sehingga pertanyaan tentang materi lebih bervariasi. Mengacu pada Hamzah dan Mohamad (2012: 108) strategi KWL memberikan kepada siswa tujuan membaca dan memberikan suatu peran aktif, sebelum dan sesudah membaca. Strategi ini membantu siswa memikirkan informasi yang diterima. Selain itu, strategi ini juga bisa
memperkuatkan kemampuan
mengembangkan pertanyaan-pertanyaan tentang berbagai topik dan siswa juga dapat menilai pekerjaan mereka sendiri.
Penilaian kompetensi keterampilan pada kelas kontrol berada pada predikat B+ (3,32). Pada kelas kontrol ini siswa dituntut membuat laporan diskusi sesuai dengan indikator yang diamati. Pada indikator merumuskan pertanyaan masih ada beberapa kelompok yang tidak membuat pertanyaan, sedangkan sebagian kelompok membuat pertanyaan tetapi masih bersifat umum.
Berdasarkan data yang diperoleh dari ketiga ranah yang diamati, maka penilaian sikap, pengetahuan dan keterampilan pada kelas eksperimen lebih baik dari pada kelas kontrol. Dimana penilaian sikap pada kelas eksperimen berada pada predikat baik dengan penilaian pengetahuan siswa yang berada pada predikat B+, sehingga pada penilaian keterampilan pada kelas eksperimen mengalami kenaikan yang berada pada predikat A-. Hal ini sesuai dengan tuntutan kurikulum 2013 yang mengharuskan melakukan penilaian dari ketiga ranah. Dalam hal ini, Mendikbud mengungkapkan tiga hal yang tidak terlepas dari kurikulum 2013, yakni pengembangan skill, attitude dan knowledge. Pada kelas kontrol penilaian kompetensi sikap berada pada predikat cukup dan penilaian kompetensi pengetahuan berada predikat B, sedangkan penilaian kompetensi keterampilan berada pada huruf B+.
Mengacu pada Permendikbud nomor 104 (2014: 12) bahwa ketuntasan belajar untuk pengetahuan ditetapkan dengan skor rerata 2,67 untuk keterampilan ditetapkan dengan capaian optimum 2,67. Berdasarkan uraian di atas, pembelajaran menggunakan strategi belajar aktif tipe KWL dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan.
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
Strategi belajar aktif Tipe KWL dapat meningkatkan hasil belajar siswa biologi kelas X SMAN 5 Padang baik pada kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan.
Saran
1. Guru bidang studi khususnya guru biologi di SMAN 5 Padang dapat menerapkan strategi belajar aktif Tipe KWL sebagai salah satu alternatif pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
2. Kepada peneliti selanjutnya, agar dapat menjadikan skripsi ini sebagai pedoman.
DAFTAR PUSTAKA
Buehl, D. (2009). Classroom Strategies for Interactive Learning. Chicago:
International Reading Assciation, Inc.
Djamarah, S. B. & Azwan, Z. (2010).
Strategi Belajar Mengajar. Jakarta:
Rineka Cipta.
Hamzah & Nurdin, M. (2012). Belajar Dengan Pendekatan Pailkem (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Lingkungan, Kreatif, Efektif, Menarik). Jakarta: Bumi Aksara.
Kunandar. (2013). Penilaian Autentik (Penilaian Hasil Belajar Peserta Didik Berdasarkan Kurikulum 2013). Depok: Rajagrafindo Persada.
Lufri. (2005). Metodologi Penelitian.
Padang: UNP Press.
McKenna, M. (2002). Help for Struggling Readers. New York: Guilford Publications Inc.
Permendikbud Nomor 104. 2014. Tentang Penilaian Hasil Belajar Oleh Pendidik Pada Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta.
Silberman, M. (2009). Active Learning 101 Strategi Pembelajaran Aktif.
Yogyakarta: Pustaka Insan Madani.
Sudijono. (2010). Pengantar Evaluasi.
Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Sudjana. (2005). Metoda Statistika. Bandung:
Tarsito.