• Tidak ada hasil yang ditemukan

Belajar tentang Agama Islam

N/A
N/A
Muhammad Alwani

Academic year: 2024

Membagikan "Belajar tentang Agama Islam"

Copied!
2
0
0

Teks penuh

(1)

Agama Islam adalah agama yang sangat memperhatikan penegakan Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar. Amar Ma’ruf Nahi Munkar merupakan pilar dasar dari pilar-pilar akhlak yang mulia lagi agung. Kewajiban menegakkan kedua hal itu adalah merupakan hal yang sangat penting dan tidak bisa ditawar bagi siapa saja yang mempunyai kekuatan dan kemampuan melakukannya. Sesungguhnya diantara peran-peran terpenting dan sebaik-baiknya amalan yang mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala, adalah saling menasehati, mengarahkan kepada kebaikan, nasehat-menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. At-Tahdzir (memberikan peringatan) terhadap yang bertentangan dengan hal tersebut, dan segala yang dapat menimbulkan kemurkaan Allah Azza wa Jalla, serta yang menjauhkan dari rahmat-Nya.

Perkara al-amru bil ma‟ruf wan nahyu anil munkar (menyuruh berbuat yang ma’ruf dan melarang kemungkaran) menempati kedudukan yang agung. Mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran merupakan ciri utama masyarakat orang-orang yang beriman setiap kali Al Qur’an memaparkan ayat yang berisi sifat-sifat orang-orang beriman yang benar, dan menjelaskan risalahnya dalam kehidupan ini, kecuali ada perintah yang jelas, atau anjuran dan dorongan bagi orang-orang beriman untuk mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, maka tidak heran jika masyarakat muslim menjadi masyarakat yang mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran; karena kebaikan negara dan rakyat tidak sempurna kecuali dengannya. Al Qur’an al-karim telah menjadikan rahasia kebaikan yang menjadikan umat Islam istimewa adalah karena ia mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Pengertian Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Menurut al-Maraghi yang dimaksud dengan al-ma’ruf adalah ma istahsanahu al-syar’ wa al-‘aql (sesuatu yang dipandang baik menurut agama dan akal). Sedangkan al-munkar adalah dlidduhu (lawan atau kebalikan dari yang ma’ruf). Selanjutnya dalam Mu’jam Mufradat AlFadz al-Qur’an, yang dimaksud dengan al-ma’ruf adalah ism li kull fi’l yu’rafu bi al-‘aql aw al-syar’ husnuhu (nama bagi setiap perbuatan yang diakui mengandung kebaikan menurut pandangan akal dan agama). Sedangkan al-munkar adalah ma yunkiru bihima (sesuatu yang ditentang oleh akal dan agama). 1

Abul ‘Ala al-Maududi berpendapat bahwa kata ma’ruf yang jamaknya ma’rufat adalah nama untuk segala kebajikan atau sifat-sifat baik yang sepanjang masa telah diterima dengan baik oleh hati nurani manusia. Amar ma’ruf dapat diartikan sebagai setiap usaha mendorong dan menggerakkan ummat manusia untuk menerima dan melaksanakan hal-hal yang sepanjang masa telah diterima sebagai suatu kebaikan berdasarkan penilaian hati nurani manusia, dalam kehidupan sehari-hari.

Sementara itu ada pula yang berpendapat bahwa kebaikan yang terdapat pada kata al- ma’ruf adalah kebaikan yang didasarkan pada nilai agama semata-mata. Pendapat seperti ini misalnya dapat dijumpai pada pendapat As-Syahid Abdul Kadir ‘Audah yang mengatakan bahwa amar ma’ruf adalah menggerakkan orang sehingga tertarik untuk melakukan segala apa yang sewajarnya harus dikatakan atau dilakukan yang cocok atas nas-nas syari’at Islam.

Dari berbagai pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa yang termasuk kategory al- ma’ruf adalah segala sesuatu dalam bentuk ucapan, perbuatan, pemikiran dan sebagainya

(2)

yang dipandang baik menurut syariat (agama) dan atau akal pikiran, atau yang dianggap baik menurut akal namun sejalan atau tidak bertentangan dengan syariat. Dengan demikian kebebasan akal dalam menentukan dan menilai suatu kebaikan dibatasi oleh ketentuan agama. Oleh karena boleh jadi ada sesuatu yang menurut akal baik dan menurut syariat juga baik, dan boleh jadi menurut akal baik tapi menurut syariat buruk. Dan jika terjadi keadaan yang menurut akal baik dan menurut syariat ini buruk, maka pendapat akal harus dicegah. Sebagai contoh dapat dikemukakan misalnya hidup bareng sebelum menikah atau kumpul kebo yang didasarkan atas suka sama suka menurut akal adalah baik, sedangkan menurut agama tidak baik. Orang-orang Barat yang hanya berpatokan pada pendapat akal saja misalnya membolehkan adanya kumpul kebo tersebut.

Adapun nahi munkar mengandung pengertian hal-hal yang munkar, yang menurut al- Maududi adalah nama untuk segala dosa dan kejahatan-kejahatan yang sepanjang masa telah dikutuk oleh watak manusia sebagai jahat.

Sebagai halnya yang ma’ruf yang munkar pun banyak macamnya yang meliputi kejahatan dalam bidang sosial, pendidikan, ekonomi, kebudayaan, politik, dan sebagainya, seperti memperbodoh, menyengsarakan dan menzalimi masyarakat, berbuat curang, berzina, korupsi, manipulasi, memfitnah, memusuhi, menindas, menjatuhkan nama baik, menyudutkan, memalsukan, dusta, dan lain sebagainya.

Referensi

Dokumen terkait

Dalam rangka menegakkan amal ma‟ruf nahi munkar , banyak cara yang dilakukan dalam berdakwah di antaranya ; dakwah dengan lisan, dakwah dengan perbuatan dan

Partai PAS yang bermisikan “ amar ma’ruf nahi munkar ” sebagai misi utamanya sejak dari awal dipimpin Oleh Ulama’ atau seorang yang menguasai selok belok tentang agama

Ibnu Khaldun menyatakan bahwa hisbah merupakan institusi keagamaan yang termasuk bagian dari amar ma’ruf dan nahi munkar yang merupakan kewajiban bagi seluruh

Perencanaan strategi guru dalam mengajarkan amar ma‟ruf nahi munkar pada mata pelajaran akidah akhlak di MTs Hasyim Asy‟ari Kota Batu yaitu guru membuat RPP yang dapat membantu

menata moralitas bangsa yaitu mampu menghantarkan manusia menjadi orang yang bertaqwa dan beriman kepada Allah SWT dengan prinsip am ar ma ’ruf dan nahi munkar,

Menjadi kewajiban kita adalah amar ma‟ruf nahi mungkar sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasulullah, para sahabatnya, dan orang-orang setelahnya dari para pemuka agama,

Jadi, definisi pesan dakwah adalah sesuattu yang disampaikan komunikator kepada komunikan yang berisi tentang amar ma,ruf nahi mungkar (menyeru kepada kebaikan

Permasalahan yang peneliti angkat dalam penelitian ini peran pemerintah dalam menegakkan amar ma’ruf nahi munkar menurut Buya Hamka dalam tafsir al-Azhar, metode penelitian yang di