KARYA TULIS K R E A T I V I T A S
YAYASAN PESANTREN ISLAM AL-AZHAR
KOMPLEKS MASJID AGUNG AL-AZHAR KEBAYORAN BARU
CABANG JAWA TIMUR
Disusun Oleh
HENDRO YULIUS SURYO PUTRO
SMP ISLAM AL-AZHAR 13 SURABAYA
JL. FLORENCE J-4 NO.31 KOMPLEKS PAKUWON CITY LAGUNA
TELP. (031) 5922205 FAX. (031) 5922239
"Kreativitas adalah menemukan, bereksperimen, tumbuh, mengambil risiko, melanggar aturan,membuat kesalahan, dan bersenang-senang."
-Mary Lou Masak
I. PENDAHULUAN
Pada zaman globalisasi dan canggih seperti sekarang ini, manusia dituntut untuk lebih dapat berinovasi dan berkreasi untuk dapat tetap mempertahankan eksistensinya dalam kehidupan, agar dapat menyesuaikan pada keadaan zaman yang serba instan dan cenderung lebih praktis, dan juga untuk tidak ketinggalan zaman tentunya. Manusia yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan keadaan zaman lambat laun akan tenggelam dan terpuruk. Contohnya saja orang yang tidak dapat mengoperasikan komputer akan kesulitan untuk menjalankan program kerjanya yang sudah 90% menggunakan komputer. Ketika ada tenaga baru yang lebih mahir dan lebih pandai untuk mengoperasikan komputer, maka orang yang tidak dapat mengoperasikan komputer akan tergantikan posisinya. Dalam hal ini kesempatan bekerja akan lebih sulit dan sangat kompetitif. Contoh lainnya adalah persaingan dalam bidang perdagangan. Pengusaha yang tidak dapat mengembangkan karyanya akan tertinggal dengan pengusaha lain yang selalu kreatif dan inovatif dalam menciptakan produk-produk baru yang dapat menarik minat dan perhatian masyarakat. Hal tersebut sangat merugikan dalam dunia perdagangan. Gambaran yang sama tampak dalam bidang pendidikan.
Penekanannya lebih pada hafalan dan mencari satu jawaban yang benar terhadap soal-soal yang diberikan. Proses-proses pemikiran tinggi termasuk berpikir kreatif jarang dilatih. Hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi juga terjadi di negara-negara lain, sebagaimana dinyatakan oleh Guilford (1950) dalam pidato pelantikannya sebagai presiden dari American Psychological Association, bahwa:
Keluhan yang paling banyak saya dengar mengenai lulusan perguruan tinggi kita adalah bahwa mereka cukup mampu melakukan tugas-tugas yang diberikan dengan menguasai teknik-teknik yang diajarkan, namun mereka tidak berdaya jika dituntut memecahkan masalah yang memerlukan cara-cara yang baru.
Lalu apa artinya kreativitas itu sendiri, bagaimana ciri-ciri orang yang kreatif, bagaimana mengembangkan kreativitas dalam diri seseorang sampai saat
ini belum menemukan jawaban dan titik terang. Dari berbagai alasan tersebut maka penyusun tertarik untuk membahas dan mengkaji lebih dalam mengenai pengertian kreativitas yang ditinjau dari beberapa sudut pandang dan mengkaji dari hubungan variabel kreativitas dengan variabel-variabel lainnya.
II. KAJIAN TEORI II.1. Definisi Kreatif
Kata “kreatif” adalah bentuk sifat dari kata dalam bahasa Inggris ”create”.
Create menurut Kamus Inggris Indonesia susunan John M. Echols dan Hassan Shadily (2000) berarti “menciptakan, menimbulkan, membuat”. Kata turunannya antara lain kreativitas (creativity) yang berarti daya cipta, kreatif (creative) yang berarti bersifat memiliki daya cipta, kreasi (creation) yang artinya ciptaan, dan kreator (creator) yang artinya pencipta. Secara bebas, proses kreatif dapat diartikan sebagai proses yang bersifat menciptakan atau proses terciptanya sesuatu. Sesuatu yang diciptakan itu dapat berupa benda konkret (misalnya karya seni dan produk teknologi), konsep (hipotesis atau teori ilmiah), dan dapat pula berupa ide untuk memecahkan masalah atau cara tertentu untuk menyikapi hidup sehari-hari.
Menurut Rhodes, ada empat aspek yang menandai adanya kreativitas.
Empat aspek itu adalah pribadi kreatif (the creative person), proses kreatif (the creative process), produk kreatif (the creative product), dan pendorong atau lingkungan kreatif (the creative press or environment). Keempat aspek ini disebut Four P’s of Creativity: Person, Process,Product, dan Press. Keempatnya berhubungan sebagai berikut: pribadi kreatif yang melibatkan diri dalam proses kreatif, dengan dukungan pendorong atau lingkungan kreatif, akan menghasilkan produk kreatif (Munandar, 1999).
Definisi kreativitas selalu dikaitkan dengan satu atau lebih faktor-faktor tersebut. Menurut Rhodes, yang telah menganalisis lebih dari 40 definisi kreativitas, pada umumnya kreativitas dirumuskan dalam istilah pribadi, proses, dan produk. Definisi kreativitas dalam istilah pendorong (press) atau lingkungan adalah satu tinjauan lain yang dia tawarkan, yaitu bahwa ada faktor pendorong
dari sisi pribadi (motivasi) dan pendorong dari luar (lingkungan) yang mengarahkan individu kepada perilaku kreatif (Munandar, 1999).
II.1. Pribadi Kreatif
Definisi yang menekankan pada faktor pribadi misalnya dikemukakan oleh Sternberg (Munandar, 1999), bahwa kreativitas merupakan titik pertemuan yang khas antara tiga atribut psikologis: inteligensi, gaya kognitif, dan kepribadian/motivasi. Inteligensi meliputi antara lain pemikiran dan pengetahuan serta integrasi intelektual secara umum. Gaya kognitif atau intelektual dari pribadi yang kreatif menunjukkan kelonggaran dari keterikatan pada konvensi, dengan menciptakan aturan sendiri atau melakukan hal-hal dengan cara sendiri.
Sedangkan dimensi kepribadian/motivasi meliputi ciri-ciri seperti fleksibilitas, dorongan untuk berprestasi dan mendapat pengakuan, serta keuletan menghadapi rintangan.
Definisi lain yang dikemukakan oleh Abraham Maslow, tokoh psikologi humanistik, juga dapat dilihat dalam pengertian pribadi. Maslow memaknai kreativitas sebagai kreativitas aktualisasi-diri, yang dalam beberapa hal hampir serupa dengan kesehatan mental yang baik, atau sifat-sifat istimewa bagi kemanusiaan yang sempurna. Bagi Maslow, seorang yang kreatif dalam menjalani kehidupannya adalah dia yang telah mencapai tingkat aktualisasi-diri.
Definisi kreativitas dalam aspek pribadi mendorong berbagai penelitian tentang ciri-ciri orang kreatif. Munandar meneliti sekitar seratus siswa kreatif, dan mendapatkan ciri-ciri sebagai berikut (dalam Munandar, 1999):
1. Memiliki daya imajinasi yang kuat 2. Memiliki inisiatif
3. Memiliki minat yang luas
4. Bebas dalam berpikir (tidak kaku atau terhambat) 5. Bersifat ingin tahu
6. Selalu ingin mendapat pengalaman baru 7. Percaya pada diri sendiri
8. Penuh semangat
9. Berani mengambil risiko (tidak takut membuat kesalahan)
10. Berani dalam pendapat dan keyakinan (tidak ragu dalam menyatakan pendapat meskipun mendapat kritik dan berani memertahankan pendapat yang menjadi keyakinannya).
Melihat ciri-ciri di atas, orang-orang kreatif tampaknya memiliki sifat-sifat unggul dan ideal yang tidak dimiliki orang-orang biasa. Namun satu yang perlu dicatat ialah bahwa tidak berarti setiap orang kreatif memiliki semua ciri-ciri tersebut sekaligus. Misalnya, ada orang yang memiliki daya imajinasi kuat, tetapi minatnya terbatas pada bidang yang ia geluti saja. Tidak sedikit pula seniman yang mengalami depresi akut, neurotis, bahkan bunuh diri. Hal lain yang menarik ialah bahwa kecerdasan (inteligensi) tidak dimasukkan sebagai ciri pribadi kreatif. Jurnal primary physical education perspective on creativity menjelaskan sejauh mana siswa mengekspresikan kreativitas dan karakteristik kemampuan yang diperlukan bagi siswa untuk menjadi kreatif.
Grafik ketergantungan siswa dapat mengekspresikan kreativitas
Grafik karakteristik kemampuan yang diperlukan bagi siswa untuk menjadi kreatif
Berdasarkan kedua grafik di atas diperoleh bahwa untuk menjadi kreatif, seseorang memiliki personal yang baik dan lingkungan yang mendukung.
Sedangkan pengetahuan awal dan inteligensi hanya faktor kecil dalam mendukung kreativitas.
II.2. Proses Kreatif
Definisi yang menekankan pada proses antara lain diajukan oleh Torrance (Langgulung, 1991) yang menyatakan, “Kreativitas adalah proses yang mengandung kepekaan terhadap masalah-masalah dan kesenjangan-kesenjangan (gaps) di bidang tertentu, kemudian membentuk beberapa pikiran atau hipotesis
untuk menyelesaikan masalah tersebut, menguji kesahihan hipotesis ini, dan menyampaikan hasilnya kepada orang lain.”
Dengan rumusan lain, definisi tersebut dapat pula dipandang sebagai suatu model proses kreatif yang dibagi ke dalam empat tahap:
Menyadari adanya masalah
Menyusun hipotesis
Menguji hipotesis
Membuat laporan
Tampak jelas bahwa proses di atas pada dasarnya mirip atau bahkan serupa dengan langkah-langkah dalam metode ilmiah. Langkah-langkah yang umum diterima dalam metode ilmiah, terlepas dari sejumlah variasi rumusan, adalah: 1) merumuskan masalah; 2) mengumpulkan data; 3) menyusun hipotesis; 4) menguji hipotesis dengan observasi atau eksperimen; 5) menarik kesimpulan.
Sebagian pakar psikologi meragukan model proses kreatif semacam ini dapat diterapkan pada semua bentuk karya kreatif. Satu keberatan yang muncul adalah bahwa kreativitas menjadi tidak ada bedanya dengan proses pemecahan masalah (problem solving). Taylor (dalam Langgulung, 1991) menyatakan, “Ada semacam kebimbangan antara kreativitas dan penyelesaian masalah. Ada di antara pencipta-pencipta yang tidak mengumpulkan data yang cukup dalam bidang di mana ia bekerja atau berusaha membuat hipotesis-hipotesis, tetapi dibiarkannya pikirannya menerawang bebas dalam bidang itu. Inilah yang mengherankan teman-temannya.”
Hilgard (Langgulung, 1991) menyokong pendapat Taylor dengan menyatakan, “Ada berbagai penyelesaian yang kita tidak menilainya menurut kesahihannya, tetapi menurut keasliannya (originality). Sudah tentu ada karya seni dalam bidang sastra dan musik yang tidak tunduk kepada bentuk penyelesaian masalah.”
Kalimat terakhir dari Hilgard itu dapat ditemukan contohnya dalam penciptaan puisi dan lagu. Puisi dan lagu tidak selalu lahir dari suatu proses yang dipersiapkan terlebih dahulu. Seringkali ia muncul begitu saja tanpa direncanakan, tanpa diniatkan, tanpa dipikirkan, bahkan tanpa dikehendaki.
Misalnya, seorang pemuda yang sedang patah hati, tanpa berniat membuat puisi, tiba-tiba kalimat-kalimat puitis muncul begitu saja dalam benaknya. Jika pemuda itu seorang penyair atau orang yang terbiasa menulis puisi, peristiwa ini dapat dipahami sebagai hasil dari proses persiapan yang ia lakukan selama bertahun-tahun dalam disiplin dan latihannya. Bagi seorang penyair, setiap saat atau periode dalam kehidupannya dapat dipandang sebagai masa inkubasi, di mana dia akan selalu siap menerima inspirasi (insight) apa pun yang muncul dari fase itu. Tetapi kasus semacam ini tidak jarang pula menimpa orang yang sama sekali tidak pernah menulis puisi.
Terhadap keberatan ini, mungkin dapat dikatakan bahwa masalah dalam konteks kreativitas adalah masalah dalam arti yang seluas-luasnya. Setiap bentuk kesenjangan antara harapan atau keinginan dan realitas, itulah masalah. Abd.
Ghafar menyatakan (Langgulung, 1991), “Tidak ada perbedaan mendasar antara bentuk pemecahan masalah dan proses kreativitas.”
Satu hal yang membedakan proses kreatif dari pemecahan masalah biasa ialah adanya unsur imajinasi. Menurut Vinacke (Suharnan, 2005), proses atau aktivitas kreatif dapat dimengerti dengan baik apabila dipahami sebagai kombinasi antara pemecahan masalah dan imajinasi. Meskipun dalam prosesnya menyertakan sejumlah informasi atau data-data, seorang kreatif akan lebih dibimbing oleh faktor-faktor khayalan daripada informasi-informasi itu. Makanya tidak heran jika pada akhirnya diperoleh suatu pemecahan yang orisinal, tidak lazim, bagi suatu masalah.
Berbeda dengan dua model di atas, namun masih dapat digolongkan ke dalam pengertian proses, ialah teori Guilford yang melihat kreativitas sebagai suatu cara berpikir. Guilford memerkenalkan dua macam cara berpikir yang disebut konvergen dan divergen. Cara berpikir konvergen mencari satu cara yang paling tepat untuk menyelesaikan masalah, disebut juga cara berpikir analitis dan kritis. Cara berpikir divergen memerlakukan berbagai alternatif pemecahan masalah dengan sikap yang sama, atau berpikir dengan cara di luar kebiasaan umum. Secara lebih spesifik, cara berpikir divergen melibatkan
kemampuan-kemampuan intelektual tertentu, yang oleh Guilford diuraikan menjadi empat:
1. Kelancaran (fluency), ialah kemampuan untuk menghasilkan gagasan yang banyak.
2. Kelenturan (flexibility), yaitu kemampuan untuk memberikan gagasan dari kategori yang beragam atau melihat sesuatu dari beragam sudut pandang.
3. Elaborasi (elaboration), adalah kemampuan untuk memerinci suatu gagasan pokok ke dalam gagasan-gagasan yang lebih kecil.
4. Keaslian (originality), atau berpikir secara tidak lazim (unusual thinking), yakni berpikir mengenai sesuatu yang belum dipikirkan orang atau tidak sama dengan pemikiran orang-orang pada umumnya (Suharnan, 2005).
Cara berpikir divergen inilah yang kemudian dijadikan sinonim dari kreativitas. Misalnya, Munandar (1999) menyatakan, “Kreativitas adalah kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan, dan orisinalitas dalam berpikir, serta kemampuan untuk mengelaborasi (mengembangkan, memerkaya, memerinci) suatu gagasan.”
Istilah lain yang sering dianggap serupa dengan berpikir divergen misalnya lateral thinking, flexible thinking, dan fluid intelligence. Psikologi populer sering menghubungkan kreativitas atau berpikir divergen dengan kinerja otak kanan;
sebaliknya, otak kiri dihubungkan dengan berpikir konvergen.
II.3. Produk Kreatif
Kriteria kreatif yang dikemukakan oleh Suharnan (2005), bahwa kreativitas adalah “aktivitas kognitif atau proses berpikir untuk menghasilkan gagasan-gagasan yang baru dan berguna atau new ideas and useful.” Jadi, produk kreatif itu juga harus berguna. Sifat berguna ini ditekankan karena bisa saja suatu temuan baru tidak memiliki manfaat apa-apa atau malah merusak. Menurut Stein (Munandar, 1999), karya kreatif harus memiliki makna sosial, dalam arti bermanfaat bagi dan dapat dinikmati oleh masyarakat. Carl R. Rogers (Munandar, 1999) menggunakan istilah “constructive creativity” dan memeringatkan jangan sampai kreativitas dari genius menghasilkan produk atau cara-cara baru untuk mengeksploitasi, menindas, membunuh, pokoknya merugikan orang lain, atau
untuk mengembangkan bentuk-bentuk organisasi politik atau bentuk-bentuk seni yang membawa umat manusia pada destruksi diri secara fisik atau psikologis.
Tetapi ada juga sebagian ahli yang memandang sifat kegunaan ini tidak perlu ditekankan. Sebab kegunaan atau aspek praktis dari dari suatu gagasan seringkali bersifat relatif, bergantung pada suatu budaya, perjalanan waktu, dan tujuan yang diinginkan oleh pemikir sendiri (Suharnan, 2005). Terkadang suatu gagasan baru dianggap nyeleneh atau merusak oleh suatu masyarakat, tetapi dianggap penting oleh masyarakat dari budaya lain. Atau tidak jarang suatu gagasan atau produk kreatif dipandang dengan cemooh dan hina oleh satu generasi, namun oleh generasi berikutnya dipandang dengan penuh apresiasi. Kemudian tidak sedikit pula produk kreatif yang tidak memiliki makna sosial, misalnya puisi-puisi karya seorang pemalu yang disimpan untuk dirinya sendiri.
Soal kekhawatiran Rogers bahwa suatu hasil kreativitas digunakan untuk merusak atau mengeksploitasi, hal ini lebih merupakan masalah etis. Pisau dapat digunakan untuk memotong sayur ataupun membunuh orang, tetapi bukan berarti pisau lalu tidak boleh dibuat. Analogi ini tidak bermaksud menunjukkan bahwa produk kreatif sepenuhnya bersifat netral. Tetapi dibanding materinya, faktor manusialah yang lebih berperan dalam mengarahkan suatu hasil kreatif hendak dibawa ke mana atau untuk tujuan apa.
Tentang kriteria baru, sebenarnya sifatnya juga relatif. Tetapi semua ahli sepakat dengan kriteria ini, dengan catatan bahwa produk atau gagasan itu mungkin baru secara mutlak, dalam arti belum ada yang serupa dengan karya itu sebelumnya dan di tempat manapun, atau mungkin baru hanya bagi penciptanya atau kelompok tertentu dalam masyarakat. Ia mungkin baru secara keseluruhan, mungkin baru dalam bagian-bagian. Menurut Abd. Ghaffar, sebagaimana dikutip oleh Hasan Langgulung (1991), “Salah satu sifat terpenting dari karya kreatif adalah sifat baru. Sedang baru itu bersifat nisbi, dapat dipahami menurut apa yang diketahui atau diperkatakan dalam bidang tertentu dalam berbagai bidang kehidupan, dan di kalangan anggota kumpulan tertentu dan dalam waktu tertentu.”
Menurut Anderson (Suharnan, 2005), sifat baru dari produk kreatif dapat dilihat dalam dua perspektif: psikologis dan budaya. Dalam perspektif psikologis, suatu gagasan dipandang baru jika ia baru bagi penciptanya, meski di tempat lain gagasan yang serupa telah pernah diproduksi. Sementara dalam perspektif budaya, suatu gagasan dianggap baru jika gagasan itu belum pernah dijumpai di lingkungan budaya masyarakat.
Selain itu, kriteria baru tidak berarti bahwa gagasan atau produk itu sama sekali belum pernah ada, tetapi boleh jadi gagasan itu dikembangkan dari hasil modifikasi atau mengubah gagasan-gagasan yang sudah ada sebelumnya. Oleh sebab itu, Evans (Suharnan, 2005) berpendapat bahwa “kreativitas merupakan kemampuan membuat kombinasi baru berdasarkan konsep-konsep yang sudah ada, selain juga kemampuan menemukan hubungan-hubungan baru dan memandang sesuatu menurut perspektif yang baru.” Pengertian inilah yang diadopsi oleh Wikipedia, ensiklopedi bebas di internet, yang menyebutkan,
“Kreativitas adalah suatu proses mental yang melibatkan penciptaan konsep atau ide baru, atau hubungan-hubungan baru dari konsep atau ide yang sudah ada.”
Tampaknya tidak begitu mudah menyepakati kriteria produk yang dianggap kreatif. Tapi yang pasti, produk kreatif merupakan ukuran paling jelas dari kreativitas. Asalkan seseorang telah menghasilkan suatu produk atau gagasan yang bersifat kreatif, berarti dia adalah seorang yang kreatif, tak peduli bagaimana pun keadaannya. Makanya, dibanding definisi lain, definisi produk tampaknya memeroleh perhatian yang paling besar dari para ahli. Mereka yang mengartikan kreativitas dalam istilah pribadi atau proses pun tidak akan lupa menyertakan kategori produk dalam definisi yang dibuatnya.
Sehubungan dengan karya-karya agung, baik dalam seni, ilmu, maupun filsafat, menurut Maslow (Munandar, 1999), yang dibutuhkan untuk mewujudkannya tidak hanya bakat, tetapi juga kerja keras dengan pelibatan diri secara menyeluruh serta masa persiapan yang lama dalam bentuk pendidikan atau latihan secara formal maupun informal serta pengalaman. Juga menuntut criticism, kesediaan untuk menerima kritik dari dunia luar maupun memberi kritik terhadap diri sendiri.
Sementara Rogers (Munandar, 1999) menerangkan kriteria produk kreatif itu ada tiga, yaitu:
1. Produk itu harus nyata (observable) 2. Produk itu harus baru
3. Produk itu adalah hasil dari kualitas unik individu dalam interaksi dengan lingkungannya.
Kriteria “harus nyata” (observable) menunjukkan bahwa yang dimaksud Rogers dengan produk adalah sesuatu yang berbentuk, atau merupakan suatu benda, baik abstrak maupun konkret.
III. PEMBAHASAN
Pada pembahasan ini, kreativitas dikaitkan dengan variabel lain dalam psikologi. Bagaimana variabel tersebut dapat mempengaruhi kreativitas seseorang.
III.1. Kreativitas, Kaitannya dengan Inteligensi Emosional
Meski inteligensi atau kecerdasan tidak dimasukkan sebagai ciri-ciri orang kreatif, bukan berarti inteligensi tidak berperan sama sekali dalam kreativitas.
Jika kreativitas disamakan dengan cara berpikir divergen, inteligensi merupakan nama lain dari cara berpikir konvergen. Dalam model proses kreatif dari Wallas, tahap pertama (persiapan) dan tahap terakhir (verifikasi) merupakan tahap yang sepenuhnya melibatkan inteligensi atau cara berpikir konvergen. Sedangkan tahap kedua (inkubasi) dan ketiga (iluminasi) tergolong cara berpikir divergen. Dilihat dari model ini, tampak bahwa kreativitas merupakan gabungan antara cara berpikir konvergen dan cara berpikir divergen. Dengan kata lain, ada peran inteligensi dalam aktivitas kreatif, dan peran itu cukup besar sehingga tidak bisa diremehkan.
Pemikiran ini didukung oleh beberapa hasil penelitian (Suharnan, 2005).
Misalnya, Munandar menemukan korelasi positif dan signifikan antara inteligensi (IQ) dengan kreativitas dengan angka korelasi 0,53. Hasil penelitian Suharnan menemukan angka korelasi sebesar 0,23. Wijati menemukan angka korelasi 0,23.
Nur menemukan angka korelasi 0,34. Kemudian Kuncel, Hezlett, dan Ones
menemukan angka korelasi 0,36. Berdasarkan hasil penelitian ini, korelasi antara inteligensi dengan kreativitas cenderung bergerak dari tingkat rendah sampai sedang.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa orang-orang dengan inteligensi tinggi cenderung lebih kreatif daripada mereka yang inteligensinya rendah.
Namun tidak berarti bahwa makin tinggi inteligensi (IQ) seseorang, dengan sendirinya ia akan lebih kreatif daripada orang lain. Sebab antara inteligensi dengan kreativitas menunjukkan korelasi yang tidak sempurna atau sedang-sedang saja. Menurut Davidoff (1991), ukuran inteligensi dari pengarang, seniman, ahli matematika, dan ilmuwan hampir selalu di atas rata-rata. Tetapi angka IQ sendiri tidak dapat meramalkan seberapa jauhkah seseorang itu kreatif nantinya.
Dengan kata lain, memang orang-orang dengan inteligensi tinggi cenderung atau berpotensi menjadi orang kreatif. Tetapi untuk menjadi kreatif, bekal inteligensi saja tidak cukup. Masih diperlukan peran-peran tertentu dari variabel-variabel penting lain misalnya pengetahuan, imajinasi, motivasi, karakteristik kepribadian tertentu, dan lingkungan (Suharnan, 2005).
Heyes (Suharnan, 2005) menyimpulkan bahwa kreativitas memerlukan inteligensi pada taraf tertentu. Tanpa inteligensi yang memadai, bisa jadi seseorang akan kesulitan mengerjakan tugas-tugas baru yang menuntut pencarian gagasan-gagasan baru dan bermutu. Menurut Csikszentmihalyi (Suharnan, 2005), orang-orang kreatif cenderung memiliki IQ sekitar 120 poin, dan akan kesulitan jika IQ-nya lebih rendah daripada itu. Tetapi IQ di atas itu tidak secara otomatis menjadikan mereka bertambah kreatif.
Seperti halnya dengan inteligensi, kaitan kreativitas dengan emosi pun tampaknya tidak mudah diramalkan. Ciri-ciri pribadi kreatif sebagaimana diterangkan di bagian awal bab ini dapat dibagi ke dalam dua kategori: aptitude dan nonaptitude. Aptitude berkaitan dengan bakat atau pembawaan alami dari seorang kreatif, yaitu kemampuan kognitif seperti kelancaran, keluwesan, keaslian, dan elaborasi. Nonaptitude berkaitan dengan sikap dan perasaan, seperti rasa ingin tahu, senang bertanya, dan selalu ingin mencari
pengalaman-pengalaman baru. Kesemua ciri tersebut menggambarkan bahwa pribadi kreatif itu seorang yang ideal: di samping cerdas, dia juga memiliki sikap dan emosi yang baik. Bahkan Maslow dalam teorinya mengidentikkan kreativitas dengan aktualisasi-diri atau sifat-sifat kemanusiaan yang sempurna.
Dalam jurnal emotional intelligence and creativity in teacher education, dijelaskan bahwa dalam masyarakat modern, beranggapan bahwa emosi dan kreativitas tidak dapat dipisahkan. Hal inilah yang dapat membantu seseorang siap menghadapi berbagai tantangan di luar.
III.2. Kreativitas, Kaitannya dengan Pola Asuh Orang Tua
Kreativitas merupakan salah satu potensi yang dimiliki anak yang perlu dikembangkan sejak usia dini. Namun yang sering terjadi adalah para orang tua lebih mengedepankan perkembangan otak, dan menganggap anak yang pandai adalah anak yang dapat menguasai dan akhirnya mendapatkan nilai akademis yang memuaskan. Orang tua merupakan pendidik utama dan pengasuh bagi anak, mendidik anak dengan baik dan benar berarti menumbuh kembangkan totalitas potensi anak secara wajar. Sehingga orang tua akan menerapkan pola asuh yang menurutnya benar agar anak menjadi cerdas dan disiplin sesuai dengan keinginan orang tua.
Setiap anak memiliki bakat kreatif yang dapat dikembangkan dan karena itu perlu dipupuk sejak dini. Bila bakat kreatif anak tidak dipupuk maka bakat tersebut tidak akan berkembang, bahkan menjadi bakat yang terpendam yang tidak dapat diwujudkan. Seorang anak dikatakan kreatif jika memiliki salah satu atau beberapa dari ciri-ciri anak kreatif. Ciri-ciri tersebut adalah senang mencari pengalaman baru, memiliki keasyikan dalam mengerjakan tugas, memiliki ketekunan tinggi, kritis terhadap orang lain, berani menyatakan pendapat, selalu ingin tahu, peka atau perasa, enerjik dan ulet, menyukai tugas yang majemuk, percaya diri, mempunyai rasa humor, memiliki rasa keindahan, dan penuh imajinasi.
Pola asuh orang tua adalah suatu cara terbaik yang dapat ditempuh orang tua dalam mendidik anak sebagai perwujudan dari rasa tanggung jawab kepada anak.
Peran keluarga menjadi penting untuk mendidik anak baik dalam sudut tinjauan agama, tinjauan sosial kemasyarakatan maupun tinjauan individu. Jika pendidikan
keluarga dapat berlangsung dengan baik maka mampu menumbuhkan perkembangan kepribadian anak menjadi manusia dewasa yang memiliki sikap positif terhadap agama, kepribadian yang kuat dan mandiri, potensi jasmani dan rohani serta intelektual yang berkembang secara optimal.
Orang tua dengan pola asuh otoriter berdampak anak kurang inisiatif, merasa takut, tidak percaya diri, pencemas, rendah diri, minder dalam pergaulan, bakat dan kemampuannya akan terpendam begitu saja. Orang tua dengan pola asuh autoritatif akan mendorong anak menjadi seorang yang mandiri, kreatif, inisiatif dan mampu mewujudkan aktualisasinya. Orang tua dengan pola asuh permisif akan membuat anak menjadi cenderung nakal, manja, lemah, tergantung pada orang lain, dan yang bersifat kekanakan secara emosional.
Penerapan pola asuh autoritatif disebabkan karena kepedulian orang tua terhadap perkembangan anak. Orang tua yang memberikan rasa aman, otonomi dan kebebasan serta kepercayaan pada anak, menghargai pertanyaan dan gagasan imajinatif anak, mendorong agar dalam mengerjakan sesuatu dilakukan dengan sebaik-baiknya, dan memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar atas prakarsanya sendiri dan memberikan reward kepada anak, sehingga anak mendapatkan dorongan dan dukungan yang tepat untuk perkembangannya.
Kreativitas merupakan dimensi kemampuan anak dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Kreativitas merupakan sebuah proses yang mampu melahirkan gagasan, pemikiran, konsep dan atau langkah-langkah baru pada diri seseorang (Mutiah, 2010). Menurut Jean Piaget, perkembangan kreativitas juga merupakan perkembangan proses kognitif, menurutnya ada empat tahap perkembangan kognitif yaitu : Tahap Sensori-Motoris, Tahap Praoperasional, Tahap Operasional Konkrit, dan Tahap Operasional Formal.
Menurut Utami Munandar, ada 5 faktor yang mempengaruhi perkembangan kreativitas, yaitu : usia anak, tingkat pendidikan orang tua, pola asuh orang tua, ketersedianya fasilitas, dan penggunaan waktu luang. Kreativitas merupakan salah satu potensi yang dimiliki anak yang perlu dikembangkan sejak usia dini. Dengan penerapan pola asuh orang tua yang sesuai akan dapat mengoptimalkan kreativitas anak.
III.3. Kreativitas, Kaitannya dengan Kepemimpinan (Leadership)
Fundamental untuk hidup di era konseptual akan menggunakan kreativitas.
Akibatnya, salah satu tanggung jawab utama guru adalah untuk menanam benih kreativitas siswa. Kreativitas tidak hanya masalah berpikir dengan cara tertentu, melainkan itu adalah sikap terhadap kehidupan. Tujuan utama pendidikan adalah untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan mereka dan pada gilirannya memaksimalkan potensi mereka dalam penggunaan praktis dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Westby dan Dawson "s (1995) dalam jurnal leadership recipes for promoting students’ creativity, siswa yang ideal dalam pikiran guru yang berlawanan dengan pola perilaku prototipe kreatif.
Hal ini menunjukkan bahwa guru mungkin membangun sistem penyaringan untuk menyambut hanya beberapa jenis mahasiswa bukan siswa dengan potensi kreatif. Guru harus menahan godaan untuk memikirkan otoritas dan manajemen top-down di kelas dengan mengorbankan pengembangan kreatif. Sebagai model teoritis ini disarankan, perilaku kepemimpinan guru yang tepat dan memadai bisa sebenarnya memfasilitasi siswa "kinerja kreatif. Strategi menangkap lima komponen potensial yang dapat meningkatkan kreativitas, termasuk konstruksi pengetahuan dan pemikiran kreatif, motivasi dan self-efficacy, penetapan tujuan dan kelompok kerja, gaya kepemimpinan transformasional, dan kepemimpinan yang mendukung. Disarankan agar guru dapat mempertimbangkan strategi ini untuk menumbuhkan lingkungan kreativitas berorientasi bagi siswa. Lebih penting lagi, guru memiliki harus kemampuan untuk memperkenalkan teknik pembelajaran yang menumbuhkan kreativitas.
Dengan demikian, terdapat tiga tiga hal yang mendorong guru menumbuhkan kreativitas siswa. Pertama, beberapa pendekatan pengajaran tradisional harus disesuaikan atau diubah secara mendasar. Sebagai contoh, adalah keterampilan analitis cocok untuk setiap skenario kelas. Kedua, sistem pendidikan harus menyediakan jenis pelatihan yang mempromosikan pengembangan kreativitas bagi guru dan siswa. Ketiga, guru harus mendorong keragaman di kelas yang memungkinkan anak-anak kreatif untuk mengekspresikan potensi mereka.
IV. PENUTUP
Berdasarkan hasil kajian dari berbagai sumber, diperoleh bahwa :
1. Seseorang menjadi kreatif, harus memiliki personal yang baik dan lingkungan yang mendukung. Sedangkan pengetahuan awal dan inteligensi hanya faktor kecil dalam mendukung kreativitas.
2. Kreativitas dan intelegensi emosional tidak dapat dipisahkan. Karena seseorang yang memiliki intelegensi emosional yang baik, dapat menyiapkan diri menghadapi berbagai tantangan
3. Dalam lingkungan keluarga, penerapan pola asuh orang tua yang sesuai akan dapat mengoptimalkan kreativitas anak.
4. Dalam lingkungan sekolah, guru sebagai leader di kelas harus dapat mendesain sekaligus melaksanakan pembelajaran yang dapat mendorong kreativitas siswa
V. DAFTAR PUSTAKA
Kasiati, Djalali As’ad, Sofiah Diah. 2012. Pola Asuh Orang Tua Demokratis, Efikasi Diri dan Kreativitas Remaja. Surabaya: Jurnal Pesona.
Konstantinidou Elisavet, dkk. 2013. Jurnal “Primary Physical Education Perspective on Creativity”. Komotini: Department of Physical Education and Sport Science.
Langgulung Hasan. 1991. Kreativitas dan Pendidikan Islam. Jakarta: Pustaka Al-Husna.
Munandar Utami. 1999. Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta:
Rineka Cipta.
Ogoemeka. 2011. Jurnal “Emotional intelligence and Creativity Teacher Education”. Ondo State Nigeria: International Journal of Psychology and Counselling
Teviana Fenia. 2012. Pola Asuh Orang Tua Terhadap Tingkat Kreativitas Anak.
Jurnal Stikes.
TRNOVA Eva & TRNA Josef. 2014. Jurnal “Implementation Of Creativity In Science Teacher Training. Brno Porici Czech Republic”: Masaryk University.
Tsai Kuan Chen. 2013. Jurnal “Leadership Recipes for Promoting Students’
Creativity”. San Antonio USA: Univesity of the Incarnate Word.
Suharnan. 2011. Kreativitas Teori dan Pengembangannya. Surabaya: Loros