REVIEW JURNAL
Judul Hydrocarbon Mapping on Reservoir Carbonate Using AVO Invension Method
Jurnal JPSE: Journal of Physical Science and Engineering
Volume dan Halaman Vol. 6 No. 1, Pages 19-25
Tahun 2021
Penulis D Setyawan
Reviewer Sintia Safitri Tanggal Revier 26 Juli 2022
Pendahuluan Sebagian besar reservoir penghasil batupasir di Indonesia merupakan reservoir perkembangan yang ditinggalkan oleh zaman Belanda. Paradigma eksplorasi mencari reservoar batupasir sebagai penghasil migas terkemuka mulai bergeser ke reservoar karbonat. Potensi reservoar karbonat di Indonesia relatif besar karena mengandung lebih dari 50% cadangan hidrokarbon.
Reservoir karbonat memiliki karakteristik yang lebih beragam dibandingkan dengan reservoir batupasir, sehingga diperlukan pendekatan yang lebih komplek. Kompleksitas dan keragaman kondisi lapangan merupakan beberapa hal yang memerlukan perhatian khusus dan tidak hanya menggunakan pengolahan data yang sederhana. Namun demikian, diperlukan pengolahan lebih lanjut (metode inversi) yang bertujuan untuk memperoleh berbagai informasi penting mengenai cadangan hidrokarbon.
Salah satu alat metode inversi AVO adalah Lambda-Mu-Rho (LMR) yang diperkenalkan oleh Goodway.pada tahun 1997.
Dengan mengamati karakter respon di zona gas, metode inversi AVO Lambda-Rho dan Mu-Rho dapat membatasi zona gas dibandingkan denganPimpedansi danSparameter impedansi.
Parameter LMR menggambarkan Mu-Rho (µρ) yang
berhubungan dengan kekakuan, dan Lambda-Rho (λρ) yang berhubungan dengan inkompresibilitas
Metode inversi LMR diterapkan pada cekungan Sumatera Utara, cekungan busur belakang yang dibatasi oleh Pegunungan Bukit Barisan di sebelah barat, Laut Andaman di sebelah utara, dan platform Malaka di sebelah timur. Cekungan Sumatera Utara merupakan kombinasi dari sistem cekungan pull-apart dan half- graben yang terbentuk sejak era Eosen akhir ketika lempeng Samudera Australia bertabrakan dengan lempeng benua Eurasia.
Formasi Peutu dan Notai dianggap sebagai reservoir gas penting di cekungan Sumatera Utara. Formasi Peutu terdiri dari lempung dan batulanau dengan kandungan karbonat sedang sampai sangat tinggi (di beberapa tempat juga mengandung mineral glauconite).
Lapisan batugamping yang mengandung foraminifera dan glauconite terbentuk pada ketinggian selama pemaparan.
Sedangkan Formasi Unai yang terdiri dari batuan karbonat, batupasir dan batugamping lempung, terbentuk di daerah yang lebih rendah. Ketebalan Formasi Peutu bervariasi dari 35 hingga 50 meter pada paparan hingga 200 hingga 1.100 meter di daerah terumbu.
Metode Penelitian dilakukan untuk mengidentifikasi gas yang ada di daerah penelitian dan membedakan jenis litologi menggunakan metode AVO LMR. Langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi beberapa tahapan pelaksanaan, dimulai dengan persiapan data (data log sumur, data seismik, dan informasi pendukung lainnya), analisis data sumur, pengolahan data seismik dengan melakukan proses inversi untuk mendapatkan nilai impedansi akustik, yang kemudian ditransformasikan oleh parameter Mu-Rho dan Lambda-Rho.
Tahap awal penelitian ini adalah mengumpulkan dan menyiapkan data dan informasi di wilayah penelitian yang dibutuhkan untuk proses penelitian. Data yang disiapkan adalah
data pre-stack 3D, data log sinar gamma, dan data geologi daerah penelitian (termasuk data stratigrafi, geologi regional, dan geologi struktur daerah penelitian yang dijadikan acuan dalam penelitian.
Pengolahan data dalam penelitian ini menggunakan software Hampson Russell V7. Perangkat lunak Hampson Russell dilengkapi dengan fitur geoview, E-log, AVO, dan strata.
Geoview berfungsi sebagai database untuk menyimpan data log yang dapat digunakan di fitur Hampson Russell lainnya. E-log digunakan untuk mengedit dan menganalisis data log. AVO digunakan untuk pembuatan atribut dan analisis AVO. Crossplot dilakukan pada data log eksisting untuk melihat parameter yang paling menggambarkan fluida dan litologi daerah target. Data seismik berupa Common Deep Point (CDP) mengumpulkan Pre Stack Time Migration (PSTM) dengan sampling rate 2 ms. Proses pengumpulan sudut dilakukan pada data seismik untuk membawa setiap jejak di area offset ke area sudut.
Proses pengumpulan sudut dilakukan pada data seismik untuk membawa setiap jejak di area offset ke area sudut. Proses ini dilakukan dengan ray tracing menggunakan fungsi kecepatan.
Kemudian dilakukan super gathering untuk trace smoothing, yang bertujuan untuk memperkuat respon amplitudo. Proses stacking pada PSTM seismik mengumpulkan data dengan menambahkan jejak seismik dalam satu CDP setelah koreksi Normal Move Out.
Data CDP stack yang diperoleh kemudian dikorelasikan dengan data well seismic tie. Model awal diperlukan untuk semua metode inversi sebagai hard constraint pada hasil akhir inversi atau membatasinya agar hasil inversi tidak bergeser jauh dari model.
Proses inversi data seismik pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode berbasis model dengan soft constraint.
Hasil & Pembahasan Berdasarkan penelitian ditemukan bahwa bagian kedalaman hasil cross-plot akan ditampilkan pada penampang. Analisis sensitivitas ini penting dilakukan untuk menentukan parameter
yang dapat digunakan sebagai indikator litologi dan indikator fluida. Analisis cross-plot parameter Lambda-Rho dan Mu-Rho juga dapat menampilkan kandungan cairan gas area target dengan benar. Hasil studi cross-plot anomali gas diwakili oleh kadar saturasi air kurang dari 0,6472 Sw, yang ditunjukkan dengan warna kuning hingga hijau. Nilai saturasi air yang lebih kecil mencirikan reservoir yang cocok.
Di daerah penelitian, formasi Belumai dan Peutu memiliki banyak struktur sesar dan sesar. Jika dilihat dari satu sisi sistem perminyakan, jebakan hidrokarbon diduga merupakan jebakan struktural, yaitu jebakan yang terbentuk akibat efek deformasi batuan reservoir seperti sesar. Lapisan batuan yang porous dan permeabel, seperti karbonat pada formasi Peutu, ditunggangi oleh batuan yang impermeabel. Ini bertindak sebagai caprock, seperti yang ditunjukkan oleh batas ketidakselarasan antara reservoir dan batuan di atasnya. Dalam hal ini batuan yang berperan sebagai stamp rock adalah formasi serpih dan Belumai yang tersusun atas serpih karbonat, batupasir, dan batugamping lempung.
Penampang dari hasil inversi (Pimpedansi danSimpedansi) dapat memisahkan variasi litologi secara vertikal maupun lateral tetapi belum dapat mengidentifikasi adanya fluida gas. Oleh karena itu, dilakukan transformasi untuk mendapatkan nilai parameter Lambda-Mu-Rho.
Parameter Lambda-Rho sensitif dalam mengklasifikasikan keberadaan fluida dan dapat menunjukkan adanya gas pada penampang inversi. Sedangkan parameter Mu-Rho merupakan parameter elastisitas yang sensitif terhadap perubahan litologi.
daerah anomali atau zona prospek memiliki nilai Lambda-Rho yang lebih rendah (ditunjukkan dengan warna kuning) daripada serpih sebagai batuan penutup (ditunjukkan dengan warna hijau- biru). Artinya situs tersebut merupakan reservoir batuan karbonat yang mengandung fluida gas. Nilai Lambda-Rho relatif lebih rendah dari 10 Gpa gr/cc. Sementara itu, zona dengan nilai
Lambda-Rho yang lebih tinggi diidentifikasi sebagai zona basah.
Hasil analisis pada zona target dapat diartikan sebagai akumulasi batuan karbonat gas pada ketinggian struktur (patahan).
Kesimpulan Berdasarkan penelitian yang dilakukan ditemukan hasil proses analisis AVO LMR dan proses inversi serta estimasi parameter elastis untuk identifikasi fluida dan litologi, disimpulkan bahwa Lambda-Rho dapat mengidentifikasi fluida dimana karbonat yang terisi cairan akan memiliki nilai Lambda- Rho yang lebih rendah. daripada karbonat yang tidak terisi cairan.
Mu-Rho sangat sensitif terhadap perubahan litologi batuan karbonat yang memiliki nilai lebih tinggi dari nilai serpih.
Kombinasi Lambda-Rho dan Mu-Rho dapat mengidentifikasi daerah prospek hidrokarbon yaitu daerah dengan nilai Mu-Rho tinggi dan Lambda-Rho rendah.