Harga daging kambing memang tidak semahal daging sapi, namun pemeliharaan kambing jauh lebih sederhana dibandingkan sapi. Selain itu, beternak kambing juga jauh lebih murah dari segi bibit, pakan dan biaya kesehatan. Hal ini terlihat dari populasi kambing di Indonesia yang terus meningkat dari tahun ke tahun.
Berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS), populasi kambing di Indonesia pada tahun 2011 adalah sebagai berikut. 3 1.1.1 Pemeliharaan kambing muda 1.1.2 Pemeliharaan sapi dara 1.1.3 Pemeliharaan kambing jantan 1.1.4 Pemeliharaan induk bunting 1.1.5 Pemeliharaan kambing laktasi.
PEMILIHAN BIBIT DAN PENYEDIAAN KANDANG
Kambing Gaddi juga dikenal sebagai kambing himachal pradesh.Kambing ini banyak ditemukan di daerah pegunungan di utara India dan Pakistan. Komponen teknologi intensifikasi budidaya kambing PE meliputi penyiapan bibit unggul, kandang, pakan (pakan) dan pengendalian penyakit. Calon tetua dan pejantan kambing PE terpilih dapat diinvestigasi dengan membandingkan data yang berbeda dari sumber yang berbeda.
Usaha pemuliaan kambing PE sebaiknya dilakukan di daerah yang tidak ada tanda-tanda klinis tuberkulosis, brucellosis (penularan keluron), antraks (radang limpa), anaplasmosis, piroplasmosis dan mange. Perencanaan dan produksi kandang kambing PE harus memenuhi persyaratan biologis peternakan, teknik konstruksi dan aspek ekonomi.
TEKNOLOGI PENGOLAHAN PAKAN KAMBING
Pengolahan kulit kakao dengan metode fermentasi menggunakan starter jamur tempe Rhizophus oligosporus dapat meningkatkan kualitas kulit kakao berupa peningkatan protein menjadi 16,46%, serat kasar 14,15%, lemak 2,08%, Ca 0,11%, P 0,08% dan BETN 36,7%. Peternakan sebenarnya lebih menyukai buah kakao segar, namun dapat berdampak buruk bagi ternak karena buah kakao segar mengandung zat anti gizi yaitu teobromida dan asam fitat yang dapat menyebabkan diare pada ternak dan menghambat penyerapan nutrisi. di usus. Selama proses fermentasi, mikroba memecah nutrisi pada kulit buah kakao sehingga memudahkan ternak untuk mencernanya karena sebelumnya telah diurai oleh mikroba.
Mikroba yang berkembang biak pada kulit buah kakao akan menghasilkan asam laktat dan bakteriosin (antibiotik) sehingga kulit kakao tidak dapat terkontaminasi oleh bakteri pembusuk. Cara yang sama dapat digunakan untuk mengolah limbah pertanian lainnya seperti kulit singkong, ampas sagu, ampas kelapa, kulit buah sawit, daun lontar, kulit pisang, dll. Pemanfaatan kulit buah kakao sebagai bahan pakan konsentrat menghadapi beberapa kendala berupa nilai gizi yang rendah, cepat busuk atau busuk dan tidak tahan lama penyimpanan serta adanya zat pembatas berupa theobromide dan asam fitat yang dapat menyebabkan diare yang disebabkan pada ternak.
Kandungan asam fitat yang tinggi juga dapat menurunkan kemampuan usus ruminansia (sapi, kambing, kerbau) dalam menyerap nutrisi. Kambing dapat memakan rumput karena mikroba rumen hidup dan berkembang biak di dalam perutnya yaitu bakteri, protozoa dan jamur yang bekerja mengurai rumput agar dapat diserap oleh dinding saluran pencernaan kambing. Semakin banyak mikroba maka semakin banyak rumput yang dapat diolah dan nafsu makan ternak meningkat dan semakin banyak nutrisi yang didapat ternak maka produktivitas kambing secara alami akan meningkat dalam bentuk laju pertumbuhan atau produksi anak (reproduksi).
Dimana rumput diolah/dicerna menjadi nutrisi yang diserap oleh tubuh dan sisanya dikeluarkan sebagai feses. Mikroba rumen sangat halus dan tidak dapat dilihat dengan mata, jumlahnya milyaran di dalam perut kambing Mikroba rumen ini mengurai rumput menjadi zat makanan yang dapat diserap oleh tubuh ternak dan juga jasad mikroba mati seperti sumber protein bagi ternak, sehingga kebutuhan protein kambing dapat terpenuhi, meskipun hanya memakan rumput, kacang-kacangan, limbah pasar bahkan jerami. Oleh karena itu, mikroba rumen perlu dipupuk dan dipelihara agar dapat tumbuh subur di dalam perut kambing agar berfungsi optimal untuk mencerna rumput dan tubuh mikroba dapat menjadi sumber protein bagi kambing.
Formulasi ini dengan tujuan memenuhi nutrisi esensial mikroba rumen dengan kata lain menjadi dasar pembuatan suplemen. Untuk kambing berproduksi tinggi (masa tutup, bunting > 3 bulan, penggemukan) berikan suplemen 2 kali sehari, pagi dan sore, masing-masing 1 genggam.
MANAJEMEN PEMELIHARAAN KAMBING
Jika kambing buang air kecil dalam jumlah tersebut diperkirakan bunting sekitar 1-2 bulan, jika kambing buang air kecil dalam waktu 20 detik diperkirakan bunting sekitar 3-4 bulan, dan jika kambing buang air kecil dalam waktu 10 detik maka diperkirakan telat hamil sekitar 5 bulan. Kambing bunting harus menghindari perkelahian dengan hewan lain, tidak boleh dipukul, jatuh atau dipaksa melakukan pekerjaan berat. Setelah masa kehamilan sekitar 150 hari, induk kambing biasanya melahirkan tanpa bantuan orang lain.
Proses persalinan akan berjalan dengan baik jika kondisi tubuh ibu sehat dan tidak terlalu gemuk. Jika proses melahirkan sulit sementara anak dalam posisi normal, anak kambing sebaiknya dikeluarkan dengan bantuan petani dengan cara berikut. Bayi akan menyusu pada ambing ibunya untuk mendapatkan kolostrum, atau susu pertama yang bersifat antibodi.
Sehari setelah lahir, induk kambing biasanya disuntik antibiotik sebanyak 4 ml untuk mencegah penyakit/infeksi dan sebagai penahan sakit kambing pasca melahirkan. Namun bagi peternak kambing perah, toleransi anakan cempe menyusu dari induknya maksimal 10 hari, sesuai dengan waktu keluarnya kolostrum dari induk kambing setelah lahir. Anakan Cempe mulai umur 3 minggu sudah mulai belajar makan rumput muda, daun muda, dan sudah bisa diberikan konsentrat berupa bubur sebagai bahan penguat.
Anakan Cempe tidak boleh diberi susu setelah berumur 3 bulan (tepat mulai disapih) karena sudah waktunya disapih. Perpisahan ini biasanya menimbulkan keributan, namun tidak lama, beberapa hari setelah dipisahkan, mereka akan tenang dengan sendirinya, biasanya seminggu mereka sudah lupa, kecuali induk kambing yang tidak kalah keibuan dan sifatnya galak, setelah melahirkan, dia memiliki anak yang terlupakan. Kambing yang sudah disapih harus dipisahkan antara jantan dan betina, dan ditempatkan di kandang masing-masing setelah disapih, serta diberi obat cacing.
MENGENAL PENYAKIT DAN PENCEGAHAANNYA
Ada banyak jenis cacing yang dapat menyebabkan cacingan pada kambing, antara lain Trichuris sp., Oestophagostomum sp. dll. Ciri-ciri yang ditimbulkan dari penyakit ini antara lain tubuh kambing menjadi kurus dan kulit tampak merah, bersisik dan gatal. Program pengendalian dan pencegahan yang biasa dilaksanakan antara lain kandang dan ternak (kambing) sedapat mungkin selalu dalam kondisi bersih dan steril.
Penyakit ini biasanya disebabkan oleh mata kambing yang terkena benda tajam, seperti ujung kayu, debu, bekatul saat makan, duri, atau bisa juga disebabkan oleh parasit. Penyebab penyakit ini adalah kambing yang terkena rumput berbulu atau debu dari konsentrat saat makan, kemudian terjadi infeksi. Pengobatan penyakit ini adalah dengan membuat luka baru pada keropeng dan memberikan preparat iodin serta menyuntikkan antibiotik.
Penyebab penyakit ini adalah Bacillus anthracis yang ditularkan melalui kontak langsung, makanan atau minuman, dan. Penyebab penyakit ini adalah virus dan ditularkan melalui kontak langsung dengan urin, susu, air liur, dan benda lain yang terkontaminasi virus AE. Pengendalian penyakit ini dilakukan dengan vaksinasi dan kambing yang terinfeksi diisolasi dan dirawat secara terpisah.
Penyakit ini sangat merugikan peternak karena dapat menurunkan jumlah produksi susu dan kualitasnya kurang baik. Penyakit ini disebabkan karena kambing terlalu banyak makan rumput yang masih muda dan basah/berembun, sehingga lebih mudah terbentuk gas di dalam perutnya. Tanda-tanda penyakit ini adalah sapi terlihat kedinginan, lemas, dan kehilangan nafsu makan.
PEMERAHAN DAN PENGOLAHAN AIR SUSU KAMBING
Pegang pangkal puting dengan ibu jari dan telunjuk, lalu tekan puting dengan jari tengah, dilanjutkan dengan jari manis dan terakhir jari kelingking hingga keluar ASI. Setelah selesai memerah susu, celupkan puting ke dalam celupan puting dan diamkan beberapa saat sampai puting kering. Kambing PE diperah dua kali sehari, pagi dan sore, dengan jadwal tetap dan oleh pemerah yang sama.
Dalam selang waktu 2-3 bulan sebelum kambing melahirkan, pemerahan sebaiknya dihentikan guna menjaga kesehatan induk kambing dan mempersiapkan kelahiran bayinya. Sebagai alternatif, susu kambing PE dapat diolah menjadi coklat, mocha, vanilla, strawberry dan susu rasa lainnya. Susu kambing sangat potensial untuk dijadikan dadih, karena khasiatnya dipercaya sebagai obat berbagai jenis penyakit seperti penyakit paru-paru, hipertensi, sakit kepala dan beberapa penyakit lainnya.
Proses fermentasi susu menjadi whey akan menyederhanakan molekul protein yaitu memutus ikatan peptida, hal ini merupakan keunggulan susu fermentasi dibanding susu segar karena protein akan lebih mudah dicerna. Selain penyederhanaan molekul protein, keunggulan dadih yang tidak kalah penting adalah adanya antibiotik alami yang dihasilkan oleh aktivitas mikroba. Caranya adalah dengan membuat jus buah (mangga, alpukat, dll) lalu tambahkan dadih dan gula ke dalam jus hingga halus dan siap disajikan.
PENGOLAHAN LIMBAH KOTORAN KAMBING
Pada bagian 40 cm dari bawah dibuat lubang kecil dengan jarak 5 x 5 cm agar api dapat membakar sekam. Masukkan kertas yang disiram minyak tanah ke dalam kompor dan nyalakan. Sekam akan terbakar dari dalam pembakar dan kemudian menyusut, kemudian secara berkala menaikkan tumpukan luar sampai semua sekam berubah menjadi arang.
Selanjutnya siapkan Trichoderma yang bisa diperoleh dari Kementerian Pertanian, kemudian diperbanyak secara berkala di kelompok tani. Trichoderma dicampur terlebih dahulu dengan serbuk kayu agar aplikasinya lebih merata di seluruh bagian kotoran kambing. Aduk adonan hingga rata lalu tumpuk hingga ketinggian 1/2 meter atau jika memungkinkan masukkan ke dalam bak semen.
Kemudian dikeringkan dengan udara dengan menyebarkannya di halaman yang terlindung matahari hingga kering. Mengajarkan berbagai mata pelajaran di bidang peternakan sapi perah, seperti peternakan sapi perah, IPTEK peternakan sapi perah dan peternakan ruminansia. Arief, MS telah meluluskan banyak mahasiswa bimbingan, baik mahasiswa sarjana, magister maupun doktoral, yang mengambil landasan keilmuan teknologi produksi peternakan.
Arief meraih gelar S1 dari Fakultas Peternakan Universitas Andalas (1986), S2 dari Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran (1992) dan Dr. dari Universitas Andalas pada tahun 2013. Dr. Arief ditengah kesibukannya tetap melakukan pengabdian masyarakat dan telah melakukan beberapa penelitian untuk meningkatkan produksi dan kualitas susu kambing. Tulisan hasil penelitiannya telah dipublikasikan di banyak jurnal internasional yang terindeks Scopus.