• Tidak ada hasil yang ditemukan

MODUL TEORI ASUHAN KEBIDANAN PASCA PERSALINAN DAN MENYUSUI PENYUSUN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "MODUL TEORI ASUHAN KEBIDANAN PASCA PERSALINAN DAN MENYUSUI PENYUSUN"

Copied!
41
0
0

Teks penuh

(1)

i

MODUL TEORI

ASUHAN KEBIDANAN PASCA PERSALINAN DAN MENYUSUI PENYUSUN

Bd. Ika Nur Saputri., SST., M.Keb Bd.Novita Br Ginting Munthe.,SST., M.Keb

Bd. Riris Sitorus, M.Kes

(2)

ii

VISI DAN MISI FAKULTAS KEBIDANAN Visi

“Menyelenggarakan pendidikan Kebidanan yang unggul dan professional di bidang Komplementer Kesehatan Reproduksi di tingkat Nasional dan Asia pada tahun 2028”.

Misi

1. Menyelenggarakan pendidikan dan proses pembelajaran yang unggul, berkarakter, dan kompeten di bidang komplementer kesehatan reproduksi yang adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan globalisasi;

2. Menyelenggarkan penelitian bidang kebidanan yang inovatif, produktif dan responsif terhadap ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebutuhan masyarakat;

3. Menyelenggarakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di bidang kebidanan berlandaskan nilai dan tanggung jawab sosial; dan

4. Menjalin kerjasama yang baik yang berkaitan dengan pengembangan kebidanan dengan stakeholders mulai dari pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat sebagai pengguna lulusan.

(3)

iii

VISI DAN MISI PRODI KEBIDANAN PROGRAM DIPLOMA III Visi

“Menghasilkan Lulusan yang Unggul dan Profesional pada Bidang Asuhan Kebidanan Komplementer pada Masa Nifas Tahun 2028”.

Misi

1. Menyelenggarakan pendidikan untuk menghasilkan lulusan yang kompeten di bidang kebidanan khususnya asuhan kebidanan komplementer pada masa nifas;

2. Mengembangkan penelitian kebidanan asuhan kebidanan komplementer pada masa nifas yang inovatif untuk menghasilkan publikasi bereputasi;

3. Menyelenggarakan pengabdian masyarakat di bidang asuhan kebidanan komplementer pada masa nifas yang berbasis hasil penelitian;

4. Mengembangkan jejaring kerjasama dengan berbagai pemangku kepentingan untuk meningkatkan kualitas proses pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat.

(4)

iv

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada kehadirat Allah SWT, karena atas izin-Nya Modul Teori dari Mata kuliah Asuahan Kebidanan Pasca Persaliaan Dan Menyusui ini dapat diselesaikan. Modul Teori Asuahan Kebidanan Pasca Persaliaan Dan Menyusui ini disusun untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa Program Studi D III Kebidanan Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam dalam menempuh mata kuliah Asuahan Kebidanan Pasca Persaliaan Dan Menyusui. Modul ini disusun dengan kualifikasi merangkum semua materi teoritis.

Penyusun mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang tidak bisa disebutkan satu per satu atas selesainya modul ini. Penyusun menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan modul ini. Oleh karena itu segala masukan dari berbagai pihak sangat diharapkan guna penyempurnaan modul ini.

Lubuk Pakam, 2020

(5)

v

DAFTAR ISI

VISI DAN MISI FAKULTAS KEBIDANAN ... ii

VISI DAN MISI PRODI KEBIDANAN PROGRAM DIPLOMA III... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... v

TOPIK 1 PERUBAHAN FISIK DAN EMOSI PERSALINAN ... 1

TOPIK 2 PERUBAHAN PSIKOLOGIS PADA MASA NIFAS DAN MENYUSUI ... 3

TOPIK 3 SOSIALISASI MANFAAT MOBILISASI DINI DENGANKESEMBUHAN LUKA PERINEUM ... 8

TOPIK 4 HUBUNGAN MOBILISASI DINI DENGAN KESEMBUHAN LUKA PERINEUM DERAJAT DUA PADA IBU POSTPARTUM ... 11

TOPIK 5 PENGARUH JANTUNG PISANG (MUSA PARADISIACA L) TERHADAP PRODUKSI ASI ... 14

TOPIK 6 PENYULUHAN KESEHATAN MASSAGE PUNGGUNG TERHADAP PENURUNAN NYERI PADA IBU POST SECTIO CAESAREA ... 16

TOPIK 7 PERAWATAN PAYUDARA DENGAN PIJAT OKSITOSIN ... 18

TOPIK 8 PENCEGAHAN PENULARAN PENYAKIT INFEKSI ... 20

TOPIK 9 KIE DALAM KELUARGA BERENCANA ... 25

TOPIK 10 PENGENALAN TANDA BAHAYA CULTURAL AWARNES ... 27

DAFTAR PUSTAKA ... 35

(6)

vi

(7)

1

TOPIK 1

PERUBAHAN FISIK DAN EMOSI PERSALINAN A. Uraian Teori

 Persiapan menghadapi persalinan a. Pengertian persalinan

Persalinan adalah proses fisiologis yang memungkinkan terjadinya serangkaian perubahan besar pada calon ibu untuk dapat melahirkan janinnya melalui jalan lahir (Aprillia, 2010). Persalinan atau melahirkan bayi adalah suatu proses normal pada wanita usia subur. Persalinan merupakan persiapan penting yang sangat ditunggu oleh setiap pasangan suami-istri, menyambut kelahiran sang buah hati merupakan saat yang membahagiakan setiap keluarga bahkan seluruh anggota masyarakat, demi kesejahtera ibu dan janin (Samosir, 2012).

b. Persiapan persalinan

Menurut Harumawati (2012), menyatakan bahwa dalam persalinan ada empat hal yang perlu dipersiapkan, yaitu: 1) Persiapan fisik Persiapan fisik persiapan persalinan meliputi kesiapan kondisi kesehatan ibu, meliputi kesiapan hal-hal yang berkaitan dengan perubahan fisiologis selama hamil sampai menjelang persalinan. pengaturan kebutuhan nutrisi saat kehamilan, serta upaya perencanaan persiapan persalinan dan pencegahan komplikasi yang mencakup tanda-tanda bahaya dan tanda-tanda persalinan (Depkes, 2010). Dalam menyiapkan kondisi fisik, ibu perlu menyiapkan makan makanan bergizi dan minum yang cukup banyak. Tetap melakukan aktivitas seperti berjalan pagi, atau kegiatan rumah lainnya, dan tetap istirahat yang cukup juga merupakan persiapan fisiologis yang dibutuhkan oleh ibu. Dengan mengetahui teknik mengedan dan bernafas yang baik juga dapat memperlancar dan memberikan ketenangan dalam proses persalinan (Isnandi dalam Harumawati, 2012). Penting untuk ibu menjaga kebersihan badan dan kesesuaian pakaian. Kebersihan badan menjelang persalinan bermanfaat karena dapat mengurangi kemungkinan adanya kuman yang masuk selama persalinan dan dapat mengurangi terjadinya infeksi sesudah melahirkan. Ibu akan merasa nyaman selama menjalani proses persalinan (Iskandar dalam Harumawati, 2012).

(8)

2

c. Persiapan psikologis

Salah satu yang harus dipersiapkan ibu menjelang persalinan yaitu hindari kepanikan dan ketakutan dan bersikap tenang, dimana ibu hamil dapat melalui saat-saat persalinan dengan baik dan lebih siap serta meminta dukungan dari orang-orang terdekat. Perhatian dan kasih sayang tentu akan membantu memberikan semangat untuk ibu yang akan melahirkan dan merupakan motivasi tersendiri sehingga lebih tabah dan lebih siap dalam menghadapi persalinan (Sjafriani dalam Harumawati, 2012). Perasaan takut dalam persalinan dapat diatasi dengan meminta keluarga atau suami untuk memberikan sentuhan kasih sayang, meyakinkan ibu bahwa persalinan dapat berjalan lancar, mengikutsertakan keluarga untuk memberikan dorongan moril, cepat tanggap terhadap keluhan ibu atau keluarga (Sjafriani dalam Harumawati, 2012).

d. Persiapan finansial

Persiapan finansial bagi ibu yang akan melahirkan merupakan suatu kebutuhan yang mutlak harus disiapkan, dimana berkaitan dengan penghasilan atau keuangan yang dimiliki untuk mencukupi kebutuhan selama kehamilan berlangsung sampai persalinan seperti menyiapkan biaya persalinan, menyiapkan popok bayi dan perlengkapan lainnya (Sjafriani dalam Harumawati, 2012).

Menyiapkan pendonor darah ketika dibutuhkan transfusi darah setelah persalinan merupakan hal yang perlu dipertimbangkan dan disiapkan (Gitanurani, 2017).

e. Persiapan kultural

Ibu harus mengetahui adat istiadat, kebiasaan, dan tradisi yang kurang baik terhadap kehamilan agar persiapan yang berhubungan dengan kebiasaan tidak baik selama kehamilan dapat dihindari. Kepercayaan dan budaya akan perilaku yang pantas selama masa kehamilan akan mempengaruhi respon suami maupun petugas kesehatan terhadap kebutuhan ibu (Bobak, 2004). Menurut Kemenkes RI dalam Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu (2013) menyebutkan bahwa yang termasuk persiapan persalinan, yaitu pertanyaan-pertanyaan mengenai siapa yang akan menolong persalinan, dimana akan melahirkan, siapa yang akan membantu dan menemani dalam persalinan, kemungkinan kesiapan donor darah bila timbul permasalahan, metode transportasi bila diperlukan rujukan, dan dukungan biaya.

(9)

3

TOPIK 2

PERUBAHAN PSIKOLOGIS PADA MASA NIFAS DAN MENYUSUI A. Konsep Dasar Masa Nifas

1. Pengertian

Masa nifas atau masa puerperium adalah masa setelah persalinan selesai sampai 6 minggu atau 42 hari. Selama masa nifas, organ reproduksi secara perlahan akan mengalami perubahan seperti keadaan sebelum hamil. Perubahan organ reproduksi ini disebut involus (Maritalia, 2012).

2. Tahapan Masa Nifas

Menurut Maritalia (2012) masa nifas dibagi menjadi 3 tahap, yaitu:

a. Puerperium dini Puerperium dini merupakan masa pemulihan awal dimana ibu diperbolehkan untuk berdiri dan berjalan-jalan. Ibu yang melahirkan per vagina tanpa komplikasi dalam 6 jam pertama setelah kala IV dianjurkan untuk mobilisasi segera.

b. Puerperium intermedial Suatu masa pemulihan dimana organ-organ reproduksi secara berangsur-angsur akan kembali ke keadaan sebelum hamil. Masa ini berlangsung selama kurang lebih enam minggu atau 42 hari

c. Remote puerperium Waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat kembali dalam keadaan sempurna terutama bila ibu selama hamil atau waktu persalinan mengalami komplikasi. Rentang waktu remote puerperium berbeda untuk setiap ibu, tergantung dari berat ringannya komplikasi yang dialami selama hamil atau persalinan.

3. Perubahan Fisiologis

Masa Nifas Ibu dalam masa nifas mengalami perubahan fisiologis. Setelah keluarnya plasenta, kadar sirkulasi hormon HCG (human chorionic gonadotropin), human plasental lactogen, estrogen dan progesteron menurun. Human plasental lactogen akan menghilang dari peredaran darah ibu dalam 2 hari dan HCG dalam 2 mingu setelah melahirkan. Kadar estrogen dan progesteron hampir sama dengan kadar yang ditemukan pada fase follikuler dari siklus menstruasi berturut-turut sekitar 3 dan 7 hari. Penarikan polipeptida dan hormon steroid ini mengubah fungsi seluruh sistem sehingga efek kehamilan berbalik dan wanita dianggap sedang tidak hamil (Walyani, 2017).

(10)

4

Perubahan- perubahan fisiologis yang terjadi pada ibu masa nifas menurut Maritalia (2012) dan Walyani (2017) yaitu:

a. Uterus Uterus

merupakan organ reproduksi interna yang berongga dan berotot, berbentuk seperti buah alpukat yang sedikit gepeng dan berukuran sebesar telur ayam. Panjang uterus sekitar 7-8 cm, lebar sekitar 5-5,5 cm dan tebal sekitar 2, 5 cm. Letak uterus secara fisiologis adalah anteversiofleksio. Uterus terbagi dari 3 bagian yaitu fundus uteri, korpus uteri, dan serviks uteri. Menurut Walyani (2017) uterus berangsur- angsur menjadi kecil (involusi) sehingga akhirnya kembali seperti sebelum hamil:

1) Bayi lahir fundus uteri setinggi pusat dengan berat uterus 1000 gr.

2) Akhir kala III persalinan tinggi fundus uteri teraba 2 jari bawah pusat dengan berat uterus 750 gr.

3) Satu minggu postpartum tinggi fundus uteri teraba pertengahan pusat dengan simpisis, berat uterus 500 gr.

4) Dua minggu postpartum tinggi fundus uteri tidak teraba diatas simpisis dengan berat uterus 350 gr.

5) Enam minggu postpartum fundus uteri bertambah kecil dengan berat uterus 50 gr. Pemeriksaan uterus meliputi mencatat lokasi, ukuran dan konsistensi antara lain:

1) Penentuan lokasi uterus Dilakukan dengan mencatat apakah fundus berada diatas atau dibawah umbilikus dan apakah fundus berada digaris tengah abdomen/

bergeser ke salah satu sisi.

2) Penentuan ukuran uterus Dilakukan melalui palpasi dan mengukur TFU pada puncak fundus dengan jumlah lebar jari dari umbilikus atas atau bawah.

3) Penentuan konsistensi uterus Ada 2 ciri konsistensi uterus yaitu uterus kerasa teraba sekeras batu dan uterus lunak.

(11)

5

b. Serviks Serviks

merupakan bagian dasar dari uterus yang bentuknya menyempit sehingga disebut juga sebagai leher rahim. Serviks menghubungkan uterus dengan saluran vagina dan sebagai jalan keluarnya janin dan uterus menuju saluran vagina pada saat persalinan. Segera setelah persalinan, bentuk serviks akan menganga seperti corong. Hal ini disebabkan oleh korpus uteri yang berkontraksi sedangkan serviks tidak berkontraksi. Warna serviks berubah menjadi merah kehitaman karena mengandung banyak pembuluh darah dengan konsistensi lunak. Segera setelah janin dilahirkan, serviks masih dapat dilewati oleh tangan pemeriksa. Setelah 2 jam persalinan serviks hanya dapat dilewati oleh 2-3 jari dan setelah 1 minggu persalinan hanya dapat dilewati oleh 1 jari, setelah 6 minggu persalinan serviks menutup.

c. Vagina

Vagina merupakan saluran yang menghubungkan rongga uterus dengan tubuh bagian luar. Dinding depan dan belakang vagina berdekatan satu sama lain dengan ukuran panjang ± 6, 5 cm dan ± 9 cm. Selama proses persalinan vagina mengalami penekanan serta pereganganan yang sangat besar, terutama pada saat melahirkan bayi. Beberapa hari pertama sesudah proses tersebut, vagina tetap berada dalam keadaan kendur. Setelah 3 minggu vagina kembali kepada keadaan tidak hamil dan rugae dalam vagina secara berangsur- angsur akan muncul kembali. Sesuai dengan fungsinya sebagai bagian lunak dan jalan lahir dan merupakan saluran yang menghubungkan cavum uteri dengan tubuh bagian luar, vagina juga berfungsi sebagai saluran tempat dikeluarkannya sekret yang berasal dari cavum uteri selama masa nifas yang disebut lochea.

B. Perubahan Psikologis Masa Nifas

Adanya perasaan kehilangan sesuatu secara fisik sesudah melahirkan akan menjurus pada suatu reaksi perasaan sedih. Kemurungan dan kesedihan dapat semakin bertambah oleh karena ketidaknyamanan secara fisik, rasa letih setelah proses persalinan, stress, kecemasan, adanya ketegangan dalam keluarga, kurang istirahat karena harus melayani keluarga dan tamu yang berkunjung untuk melihat bayi atau sikap petugas yang tidak ramah (Maritalia, 2012). Minggu- minggu pertama masa nifas merupakan masa rentan bagi seorang ibu. Pada saat yang sama, ibu baru (primipara) mungkin frustasi

(12)

6

karena merasa tidak kompeten dalam merawat bayi dan tidak mampu mengontrol situasi.

Semua wanita akan mengalami perubahan ini, namun penanganan atau mekanisme koping yang dilakukan dari setiap wanita untuk mengatasinya pasti akan berbeda. Hal ini dipengaruhi oleh pola asuh dalam keluarga dimana wanita tersebut dibesarkan, lingkungan, adat istiadat setempat, suku, bangsa, pendidikan serta pengalaman yang didapat (Maritalia, 2012). Perubahan psikologis yang terjadi pada ibu masa nifas menurut Maritalia (2012) yaitu:

 Adaptasi psikologis ibu dalam masa nifas Pada primipara, menjadi orang tua merupakan pengalaman tersendiri dan dapat menimbulkan stress apabila tidak ditangani dengan segera. Perubahan peran dari wanita biasa menjadi seorang ibu memerlukan adaptasi sehingga ibu dapat melakukan perannya dengan baik.

Perubahan hormonal yang sangat cepat setelah proses melahirkan juga ikut mempengaruhi keadaan emosi dan proses adaptasi ibu pada masa nifas. Fase- fase yang akan dialami oleh ibu pada masa nifas menurut Dewi (2012) antara lain adalah sebagai berikut:

a. Fase taking in

Fase taking in merupakan fase ketergantungan yang berlangsung dari hari pertama sampai hari kedua setelah melahirkan. Ibu terfokus pada dirinya sendiri sehingga cenderung pasif terhadap lingkungannya.

Ketidaknyamanan yang dialami ibu lebih disebabkan karena proses persalinan yang baru saja dilaluinya. Rasa mules, nyeri pada jalan lahir, kurang tidur atau kelelahan, merupakan hal yang sering dikeluhkan ibu.

Pada fase ini, kebutuhan istirahat, asupan nutrisi dan komunikasi yang baik harus dapat terpenuhi. Bila kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, ibu dapat mengalami gangguan psikologis berupa kekecewaan pada bayinya, ketidaknyamanan sebagai akibat perubahan fisik yang dialami, rasa bersalah karena belum bisa menyusui bayinya dan kritikan suami atau keluarga tentang perawatan bayinya.

b. Fase taking hold Fase taking hold

merupakan fase yang berlangsung antara 3- 10 hari setelah melahirkan. Ibu merasa khawatir akan ketidakmampuan dan rasa tanggung jawab dalam perawatan bayinya. Perasaan ibu lebih sensitif sehingga mudah tersinggung. Hal yang perlu diperhatikan adalah komunikasi yang

(13)

7

baik, dukungan dan pemberian penyuluhan atau pendidikan kesehatan tentang perawatan diri dan bayinya.

c. Fase letting go

Fase ini merupakan fase menerima tanggung jawab peran barunya sebagai seorang ibu. Fase ini berlangsung selama 10 hari setelah melahirkan. Ibu sudah mulai dapat menyesuaikan diri dengan ketergantungan bayinya dan siap menjadi pelindung bagi bayinya.

Perawatan ibu terhadap diri dan bayinya semakin meningkat. Rasa percaya diri ibu akan peran barunya mulai tumbuh, lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan dirinya dan bayinya. Dukungan suami dan keluarga dapat membantu ibu untuk lebih meningkatkan rasa percaya diri

(14)

8

TOPIK 3

SOSIALISASI MANFAAT MOBILISASI DINI DENGAN KESEMBUHAN LUKA PERINEUM

A. Pendahuluan

Sebelum mengalami menstruasi pertama kali atau sering disebut dengan menarche, remaja puteri mebutuhkan suatu konseling, edukasi, dan informasi terkait menstruasi secara lengkap atau memadai. Dengan demikian remaja puteri akan mengerti perubahan yang akan terjadi dalam dirinya, sehingga mereka tidak merasa khawatir atau terkejut saat mengalami haid pertama sekali. Yang perlu diperhatikan juga adalah konseling, informasi, dan edukasi yang diberikan harus dipertimbangkan kedalaman materi terkait menstruasi, sehingga remaja puteri merasa tentram, nyaman, dan sesuai dengan tingkat kedewasaan mereka (Ernawati Sinaga, dkk, 2017). Salah satu peristiwa penting yang di alami setiap remaja puteri adalah menstruasi yang berkaitan dengan kesehatan reproduksinya. Maka sangat penting untuk diperhatikan dari segi aspek kesehatan. Selain dari aspek kesehatan remaja puteri yang menjadi perhatian juga adalah aspek kesehatan fisik, mentalitas, spritual, serta sosial. Setiap wanita perlu mengetahui dan memahami bagaimana jarak dan pola masing-masing dari menstruasi, sehingga mampu memperhatikan dan menilai jika ada terjadi di luar kebiasaan yang arahnya patologis. Menjaga kebersihan dan kesehatan saat menstruasi wajib diperhatikan untuk menghindari masuknya kuman ke bagian organ reproduksi (Sri Lestari Kartikawati, 2016 dan Yuni, E, N., 2015).

Penelitian United Nations Emergency Children’s Fund (UNICEF) pada tahun 2015 menyebutkan bahwa telah terjadi peningkatan kesadaran akan dampak praktik pengelolaan menstruasi terhadap pendidikan, kesehatan, dan psikososial bagi remaja puteri dan wanita di negara dengan berpenghasilan mulai dari tingkar rendah sampai menengah. Penelitian yang telah dilakukan di negara bagian Afrika, Asia, dan Amerika Latin menjelaskan bahwa wanita akan menghadapi tantangan, seperti keterbatasan dalam mengakses informasi yang lengkap mengenai menstruasi, rendahnya pengetahuan dalam pengelolaan darah menstruasi, ketidakcukupan sanitasi, air, dan fasilitas yang tidak mendukung, adanya pantanganyang dianggap masih tabu, serta keyakinan sosial dan budaya yang dianggap menyesatkan. Sakit yang timbul dari gejala menstruasiseperti

(15)

9

pusing, lemas, dan lesumenyebakan partisipasi remaja puteri di sekolah menurun. Satu dari tujuh remaja putri tidak masuk ke sekolah satu hari atau lebih saat menstruasi (Sri Ayu Maharani, Linda Ratna Wati, dan Yuseva Sariati, 2019). Penelitian Unicef (2015) memperlihatkan bahwa sebagian besar remaja putri menggunakan pembalut sekali pakai saat menstruasi, yaitu lebih dari 99% peserta di daerah urban dan lebih dari 97% peserta di daerah rural yang menggunakan pembalut sekali pakai. Untuk pembalut cuci ulang yang terbuat dari kain, di daerah rural 9.6% dan urban 5.5% peserta yang menggunakannya. Khusus remaja putri di Sulawesi Selatan, hasil penelitian menunjukkan 14% menggunakan kain disaat menstruasi yang terakhir dibandingan dengan remaja putri di provinsi lain.

Remaja puteri lebih menyukai pembalut sekali pakai dari pada kain dalam mengatasi pendarahan saat menstruasi dengan alasan lebih menyerap, mudah dan praktis digunakan, serta mudah untuk dibuang. Beberapa remaja puteri juga menyatakan bahwa mereka tidak merasa nyaman menggunakan pembalut karena dapat menyebabkan timbul gatal dan iritasi. Beberapa remaja puteri mengasumsi bahwa setiap pembalut mengandung bahan kimia dan pemutih dan yang dapat menyebabkan suati penyakit seperti kanker dan iritasi yang parah. Hanya dua pertiga remaja puteri di daerah perkotaan dan kurang dari setengah (41%) remaja puteri di daerah rural yang mengganti pembalut setidaknya setiap 4-8 jam sekali atau atau setiap kali kotor. Sisanya, 46%

remaja putri mengganti pembalut kurang dari dua kali sehari. Penggantian pembalut terendah terjadi di kalangan remaja puteri NTT yaitu hanya 31% yang mengganti pembalut dalam rentang 4-8 jam atau jika sudah dianggap penuh atau kotor. Selain rendahnya partisipasi di sekolah dan dalam setiap kegiatan yang ada, praktik dan tantangan yang dihadapi oleh remaja puteri di sekolah juga memiliki risiko kesehatan yaitu timbulnya infeksi karena kurangnya kebiasaan dalam mencuci tangan dan kurang bersihnya kain yang dipakai saat menstruasi (Ernawati Sinaga, dkk., 2017).

(16)

10

Salah satu peristiwa penting yang di alami setiap remaja puteri adalah menstruasi yang berkaitan dengan kesehatan reproduksinya. Maka sangat penting untuk diperhatikan dari segi aspek kesehatan. Selain dari aspek kesehatan remaja puteri yang menjadi perhatian juga adalah aspek kesehatan fisik, mentalitas, spritual, serta sosial. Setiap wanita perlu mengetahui dan memahami bagaimana jarak dan pola masing-masing dari menstruasi, sehingga mampu memperhatikan dan menilai jika ada terjadi di luar kebiasaan yang arahnya patologis. Menjaga kebersihan dan kesehatan saat menstruasi wajib diperhatikan untuk menghindari masuknya kuman ke bagian organ reproduksi (Sri Lestari Kartikawati, 2016 dan Yuni, E, N., 2015).

(17)

11

TOPIK 4

HUBUNGAN MOBILISASI DINI DENGAN KESEMBUHAN LUKA PERINEUM DERAJAT DUA PADA IBU POSTPARTUM

A. Pendahuluan

Persalinan merupakan sesuatu hal yang dialami oleh seorang wanita dan terjadi secara fisiologis. Akan tetapi ada kalanya persalinan menjadi patologis dimana menimbulkan traumatik bagi seseorang wanita yang meningkatkan kejadian morbiditas dan mortalitas pada ibu. Permasalahan morbiditas yang sering timbul karena proses persalinan pervaginam adalah terjadinya laserasi pada perineum, dapat terjadi spontan pada saat persalinan, terutama pada ibu primipara. Salah satu penyebab morbiditas dan mortalitas ibu adalah infeksi masa nifas dimana infeksi tersebu berawal dari ruptur perineum (Affandi, 2014). Menurut Laporan World Health Organization (WHO) pada tahun 2014 Angka Kematian Ibu (AKI) di dunia yaitu 289.000 jiwa, di Amerika Serikat sebesar 9.300 jiwa, Afrika Utara sebesar 179.000, dan Asia Tenggara 16.000 jiwa.

Menurut laporan dari WHO pada tahun 2015, negara-negara Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) seperti Thailand pada tahun 2013 menyebutkan 644/100 pesalinan tanpa luka ruptur perenium, di Malaysia 572/100 persalinan tanpa luka ruptur perenium, dan Singapura 408/1000 persalinan tanpa ruptur perenium (Widia, 2017).

Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia pada tahun 2015 adalah 305/100.000 kelahiran hidup, hal ini menunjukkan penurunan dibandingkan pada tahun 2012 yaitu 359/100.000 kelahiran hidup (Kemenkes RI, 2016). Berdasarkan Data dari Dinas Kesehatan Provinsi Sumatra Utara di tahun 2014, menunjukkan jumlah AKI sebesar 206/100.000 kelahiran hidup, dan mengalami penurunan dibanding tahun 2013 sebesar 268/100.000 kelahiran hidup (Dinkes Sumatera Utara, 2014). Setiap ibu yang telah menjalani proses persalinan dengan mendapatkan luka perineum akan merasakan nyeri.

Nyeri karena luka perineum yang dirasakan ibu postpartum dapat menimbulkan suatu efek yang tidak menyenangkan seperti kesakitan, dan rasa khawatir saat mau bergerak sehingga ibu-ibu postpartum dengan luka perineum sangat membatasi pergerakannya pasca persalinan sehingga dapat menimbulkan banyak masalah diantaranya subinvolusi uterus, pengeluaran lochea yang tidak lancar, dan pendarahan pasca partum. Ibu bersalin dengan luka perineum akan mengalami nyeri dan ketidaknyamanan (Rohmin, 2017).

(18)

12

Dampak terjadinya ruptur perineum pada ibu antara lain terjadinya infeksi nifas bila berasal dari perlukan jalan lahir tempat yang mudah berkembangnya kuman. Infeksi ini dapat menjalar ke saluran kandung kemih atau di jalan lahir yang dapat menimbulkan komplikasi infeksi saluran kemih (ISK) maupun infeksi di jalan lahir. Selain itu pendarahan juga dapat terjadi karena pembuluh darah masih terbuka dan belum menutup secara sempurna sehingga pendarahan terjadi terus menerus dan mengakibatkan terjadinya anemia. Penanganan yang lambat terhadap komplikasi yang terjadi dapat menyebabkan kematian pada ibu post partum karena kondisi secara fisik pada ibu post partum masih lemah (Affandi, dkk, 2014). Biasanya penyembuhan luka pada pada robekan perineum ini akan sembuh bervariasi, ada Ibu yang sembuhsecara normal (5-7 hari) dan ada yang mengalami kelambatan dalam penyembuhan (Saleha, 2018). Penyembuhan luka pada ibu bersalin dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya mobilisasi dini, pola makan, dan personal higiene (Widia, 2017). Beberapa faktor yang mempengaruhi proses penyembuhan pada luka perineum ibu post partum yaitu karakteristik ibu bersalin, proses mobilisasi dini, status gizi, grade luka dan cara perawatannya (Rohmin, 2017). Umumnya semua luka baru, di area episiotomi membutuhkan waktu untuk pulih selama 6 hingga 7 hari (Marmi, 2017).

Mobilisasi tidak hanya mempercepat proses penyembuhan luka perineum tetapi juga memperbaiki kondisi tubuh ibu apabila dilaksanakan dengan baik dan tepat.

Mobilisasi dini bisa mencegah aliran darah yang tersumbat atau terhambat yang menyebabkan terjadinya thrombosis vena dalam dan infeksi. Mobilisasi dini merupakan faktor eksternal selain perawatan luka. Sedangkan faktor internal yaitu budaya makan, atau pola konsumsi yang mempengaruhi kesembuhan luka perineum (Widia, 2017). Dari hasil penelitian tentang hubungan mobilisasi dini terhadap percepatan kesembuhan luka perineum pada ibu post partum di RSIA Pertiwi Makassar tahun 2014, didapatkan bahwa dari total 58 orang (77,3%) yang dalam kategori mobilisasi dini yang cukup, didapatkan 54 orang ibu (72.0%) dalam kategori percepatan kesembuhan luka perineum yang baik dan 4 orang lainnya (5,3%) dalam kategori percepatan kesembuhan luka perineum yang kurang baik. Sedangkan dari total 17orang ibu (22.7%) yang dalam kategori mobilisasi dini yang kurang semuanya dalam kategori percepatan kesembuhan luka perineum yang kurang baik (Afandi, dkk, 2014).

(19)

13

Berdasarkan hasil survey pendahuluan yang dilakukan didapatkan di Klinik Nining Pelawati didapatkan jumlah ibu post partum selama bulan Maret 2019 sebanyak 24 orang.

Hampir 80% mengalami luka perineum. Dari hasil observasi dari beberapa ibu, tampak ibu takut untuk melakukan mobilisasi dini karena alasan nyeri dan takut jahitan terbuka.

Berdasarkan latar belakang diatas maka mendorong peneliti untuk mengetahui tentang apakah ada “Hubungan mobilisasi dini terhadap kesembuhan luka perineum derajat 2 pada ibu post partum”.

(20)

14

TOPIK 5

PENGARUH JANTUNG PISANG (MUSA PARADISIACA L) TERHADAP PRODUKSI ASI

A. Pendahuluan

Pemberian Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif merupakan salah satu bentuk upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan status gizi anak dalam 1000 Hari Pertama Kelahiran (HPK). Hal ini didukung dengan kebijakan pemerintah tentang pemberian ASI eksklusif di wilayah Indonesia yang sudah ditetapkan mulai tahun 2004 yang lalu, melalui Kepmenkes RI Nomor 450/Menkes/SK/IV/2004 dan didukung oleh Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012. Akan tetapi, aturan pemerintah terkait ASI eksklusif tidak dibarengi dengan tingginya capaian pemberian ASI eksklusif.di Indonesia sendiri sudah menjadi budaya namun praktik pemberian ASI masih jauh dari yang diharapkan oleh pemerintah. Menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2015 hanya terdapat 10% bayi yang mendapat ASI segera setelah lahir, 73% yang mendapat ASI sampai usia 2 bulan, 53% mendapat ASI sampai usia 2 ke 3 bulan, 20% mencapai 4 bulan dan hanya 49% yang menysusu eksludif hingga usia bayi 6 bulan [1].

Organisasi Kesehatan Dunia juga merekomendasikan agar setiap bayi dapat disusui secara eksklusifsampai usia bayi mencapai 6 bulan pertama, karena menyusui merupakan bagian penting ASI juga mampu memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh bayi selama usia 6 bulan, tetapi hanya sedikit ibu yang dapat memberikan ASI secara eksklusif selama 6 bulan pertama, hal ini dikarenakan banyak faktor, diantaranya karena kurangnya pengetahuan dan informasi ibu tentang manfaat ASI secara Eksklusif, Pendidikan ibu yang rendah, dan masih banyak ibu yang beranggapan bahwa menyusui bayi kerap dihubungkan dengan keindahan payudara karena menganggap bahwa bayi yang menyusu ASI secara langsung dapat membuat payudara ibu menjadi kendor [4]. dr. Roesli, seorang spesialis anak mengadakan seminar ASI mengungkapkan bahwa sesungguhnya bukan dikarenakan menyusui yang merubah bentuk payudara ibu, tetapi karena proses kehamilan yang menyebabkan perubahan tersebut terjadi secara fisiologis [5].

ASI memiliki kandungan laktosa yang sangat tinggi dan memilikikandungan lemak yang akanmeningkat selama ibu menyusui. Meningkatnya angka menyusui akan meningkatkan kesehatan ibu dan anak, tetapi banyak hambatan untuk dapatbertahan

(21)

15

menyusui hal ini juga disebabkan karena Produksi ASI ibu yang kurang sehingga ASI tidak dapat keluar dengan lancar dan kebutuhan bayi menjadi tidak tercukupi.Banyak cara untuk menilai produksi ASI salah satunya dapat dilihat dari indikator bayi misalnya dengan cara mengukur urin bayi selama 24 jam, frekuensi bayi buang air kecil sebanyak 6- 8 kali selama 24 jam, warna urin kuning jernih, frekuensi buang air besar 3-4 hari sekali, jumlah jam tidur bayi 16 – 18 jam per/hari, jika ASI cukup setelah menyusu maka bayi tertidur atau tenang selama 2- 3 jam sekali [6].

Dampak dari ASI yang tidak lancar membuat ibu berpikir bahwa bayi mereka tidak akan mendapat cukup nutrisi sehingga ibu langsung mengambil keputusan untuk berhenti menyusui dan menggantinya dengan susu formula, sementara bayi yang tidak diberi ASI secara efektif, tetapi diberi susu formula akan lebih berisiko alergi terhadap makanan atau paparan udara, mudah terserang diare, menderita asma, gampang obesitas, dapat menderita diabetes, terjadi gangguan pencernaan, gangguan pada gigi dan maloklusi, dapat menderita anemia defisiensi besi, hipertensi bahkan sampai komplikasi pada bagian jantung.

Berdasarkan hasil penelitian para ilmuan bayi yang diberi susu formula memiliki IQ yang lebih rendah dibandingkan dengan bayi yang mendapat ASI secara eksklusif [7].

Adapun cara yang dapat dilakukan untuk memperbanyak Produksi ASI misalnya dengan cara mengkonsumsi sayur sayuran, buah buahan, adapun contoh sayuran yang dapat meningkatkan Produksi ASI adalah Jantung Pisang. Jantung pisang merupakan bunga yang dihasilkan oleh pohon pisang yang berjenis Musaceae yang berwarna gelap coklat keunguan, kemerahan dibagian luar dan warna putih krim susu dibagian dalam.

Jantung pisang mengandung banyak vitamin yaitu 30kkl energi, 1 gr protein, 7 gr karbohidrat, 50 mg lemak, 170 IU Vitamin A, 0,05 mg Vitamin B 1 dan 10 mg Vitamin C.

Tentu saja semua kandungan nutrisi yang ada di dalam jantung pisang sangat berguna bagi tubuh kita [8].

Jantung pisang mudah di peroleh dan pohonya mudah di taman, jenis jantung pisang yang digunakan dalam penelitian ini adalah jantung pisang kepok karena memiliki rasa yang lebih gurih dan dapat diolah dengan berbagai macam ragam olahan makanan sehingga mudah dikonsumsi ibu menyusui untuk meningkatkan produksi ASI minimal selama 6 bulan pertama dan membuat ASI ibu semakin lancar serta membantu kesuksesan pemberian ASI secara eksklusif sehingga membantu bayi untuk dapat tumbuh dan berkembang dengan baik sesuai yang diharapkan oleh orang tua[9].

(22)

16

TOPIK 6

PENYULUHAN KESEHATAN MASSAGE PUNGGUNG TERHADAP PENURUNAN NYERI PADA IBU POST SECTIO CAESAREA A. Pendahuluan

COVID-19 (Coronavirus Disease 2019) merupakan salah satu jenis virus dan penyakit yang saat ini sedang mewabah atau pandemik, setiap harinya terjadi peningkatan jumlah kasus dengan cukup pesat penyakit ini juga sudah menyebar hampir diseluruh negara. (Sukesih, dkk, 2020). Risiko kematian yang tinggi secara global terjadi pada kelompok lanjut usia (lansia) diatas 50 tahun, di Indonesia diatas 40 tahun. Hingga saat ini, Coronavirus Disease telah menginfeksi lebih dari 100.000 penduduk dunia dan sekitar 4.000 orang di antaranya dinyatakan meninggal dunia. Kematian paling banyak terjadi pada penderita COVID-19 yang berusia 80 tahun dengan persentase mencapai 21,9%

(Kementerian Kesehatan RI dan Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat, 2020).

Dengan bertambahnya usia, tubuh akan mengalami berbagai penurunan fungsi akibat dari proses penuaan, hampir semua fungsi organ dan gerak menurun, selain itu diikuti dengan menurunnya imunitas sebagai pelindung tubuh yang tidak dapat bekerja sekuat ketika masih usia muda (Moudy.J dan Syakurah. A.R, 2020). Lansia juga rentan terhadap penyakit jantung, kencing manis, stroke, rematik, kolestrol dan hipertensi. Oleh karena itu, kelompok lansia lebih rentan terinfeksi dibandingkan orang dewasa atau anak- anak. tetapi sayangnya, masih banyak lansia yang punya kebiasaan di dirumah ataupun diluar rumahnya yang tidak menerapkan protokol kesehatan atau tidak menerapkan 3M (Memakai masker, Mencuci tangan dan Menjaga jarak (Wardhani, dkk, 2020).

Berdasarkan hasil survey awal tim pengmas di Desa Sidodadi Ramunia Kecamatan Beringin, di jumpai banyak usia lansia yang berkumpul di balaibalai depan rumahnya tidak menerapkan 3M, bahkan dari hasil wawancara terhadap 2 orang lansia mereka mengatakan bahwa virus corona sudah merupakan hal yang biasa dan mereka juga mengatakan bahwa mereka tidak memahami bagaimana cara pencegahan virus corona, mereka hanya tau dengan menggunakan masker aja dan itupun tidak diterapkan dengan baik. Dampak dari virus corona dapat menyebabkan kematian terutama pada usia rentan, jika tidak diterapkan protokol kesehatan maka jumlah kematian akibat terinfeksi virus corona akan semakin meningkat dan salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menambah pengetahuan dan

(23)

17

merubah sikap para kelompok yang rentan khususnya lansia adalah dengan melakukan penyuluhan secara langsung, baik dengan menggunakan media video ataupun leaflet (Prabandari. W.A, 2018). Media video merupakan media pembelajaran yang paling tepat dan akurat dalam menyampaikan pesan karena dapat dilihat dan didengarkan secara langsung untuk membantu pemahaman para lansia selain itu, leaflet yang di desain dengan gambar dan cara pencegahan virus corona juga akan membantu para lansia untuk lebih memahami lagi (Nakoe, Ayini, dan Mohamad, 2020).

Berdasarkan hasil PKM yang dilihatdari pengetahuan lansia sebelum (Pre-test) dan sesudah (post-test) terjadi peningkatan pengetahuan dari yang mayoritas berpengetahuan kurang menjadi mayoritas berpengetahuan baik hal ini dikarenakan antusiasnya para lansia dapat mengikuti penyuluhan protokol kesehatan dan mayoritas lansia juga menyatakan senang melihat vedio yang ditampilkan di layar serta dapat memahami gambar-gambar yang ada di leaflet, sehingga mereka lebih muda untuk dapat memahami pencegahan covid-19 dengan menerapkan 3M yaitu mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak. Informasi yang diberikan kepada para peserta PKM dengan menggunakan media video dan leaflet dapat lebih mudah dimengerti karena para peserta (lansia) akan mudah mencermati jika terpapar dengan gambar yang dapat dilihat dan suara yangtdapat didengar.

Dalam hal ini dianggap metode penyuluhan protokol kesehatan yang digunakan sangan efesien. Hal ini sejalan juga dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Sabarudin, dkk (2020) yang meneliti tentang efektivitas pemberian edukasi secara online melalui media video dan leaflet terhadap tingkat pengetahuan pencegahan covid-19 dari hasil penelitianya menunjukkan bahwa ada perbedaan yang bermakna setelah diberikan edukasi secara online dengan menggunakan media video dan leaflet di kota Baubau dari hasil penelitianya disarankan agar para dapat mematuhi protokol kesehatan untuk menurunkan angka penularan virus corana (covid19).

(24)

18

TOPIK 7

PERAWATAN PAYUDARA DENGAN PIJAT OKSITOSIN A. Pendahuluan

Proses menyusui merupakan keseluruhan proses mulai dari Air susu ibu (ASI) diproduksi sampai proses bayi menghisap dan menelan ASI. Menyusui merupakan cara terbaik untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bayi, selain itu proses menyusui dapat membangun hubungan intim dan hangat antara ibu dan anaknya (Cresoft, 2008). Dalam proses menyusui seringkali terjadi masalah selama menyusui diantaranya: payudara bengkak, mastitis, puting tenggelam, ASI belum keluar serta teknik menyusui yang tidak benar berpengaruh terhadap kegagalan menyusui (Roesli, 2013).

Dampak dari masalah tersebut pada ibu yaitu dapat menimbulkan distensi payudara, mastitis, dll. Sedagkan dampak pada bayi, rendahnya pemenuhan kebutuhan nutrisi pada bayi, dapat mempengaruhi proses tumbuh kembang anak dan kebutuhan bayi yang tidak terpenuhi yaitu : rasaa aman, kehangatan dekapan ibu, sentuhan lembut (Saleha, 2015).

Berdasarkan data di Jawa Timur tahun 2014, sebanyak 72,89% cakupan bayi yang mendapat ASI eksklufsif, bila dibandingkan dengan tahun 2013 (68,48%) cakupan tersebut mengalami peningkatan (Dinkes Jatim, 2015). Di Kabupaten Tulungagung presentasi bayi yang diberi ASI eksklusif selama tahun 2015 sebesar 68,94% dari jumlah keseluruhan bayi 0-6 bulan yaitu sebanyak 10.326 orang (Dinkes Tulungagung, 2017). Berdasarkan data tersebut diatas cakupan ASI eksklusif pada bayi belum tercapai 100%. Hasil survey pendahuluan yang dilakukan pada tanggal 17 September 2019 di Puskesmas Sumbergempol diketahui bahwa dari 10 ibu post partum hanya 6 ibu yang melakukan pemberian ASI eksklusif dan 4 lainnya memberikan susu formula pada bayinya.

Hal tersebut dapat terjadi karena masalah-masalah dalam menyusui seperti kurang lancarnya produksi ASI pada ibu sehingga kebutuhan ASI tidak terpenuhi dan pada akirnya diberikan tambahan ASI seperti susu formula. Produksi ASI yang kurang dapat ditingkatkat dengan cara farmakologi maupun dengan non farmakologi. Farmakologi adalah dengan menggunakan obat-obatan serta penggunaan susu formula khusus untuk ibu menyusui. Adapun yang non farmakologi dapat dilakukan dengan pola makan dengan gizi

(25)

19

seimbang untuk ibu menyusui, mobilisasi dini, dengan pijat oksitosin dan perawatan payudara (Depkes RI, 2016). Pijat oksitosin setelah melahirkan dapat merangsang keluarnya hormon prolaktin dan oksitosin (Roesli, 2013). Hormon oksitosin sendiri menyebabkan sel otot saluran pembuat susu menjadi berkontraksi sehingga mendorong ASI untuk keluar dan siap untuk dihasap oleh bayi. Selain merangsang produksi ASI pijat bayi juga bermanfaat untuk mengurangi bengkak pada payudara, memberikan kenyamanan pada ibu, mencegah sumbatan ASI dan dapat mempertahankan produksi ASI saat ibu dan bayi sakit (Depkes RI, 2016). Selain tehnik pijat oksitosin untuk memperlancar produksi ASI juga dapat dengan melakukan perawatan payudara (breast care).

Dengan perawatan payudara juga mampu merangsang sekresi hormon oksitosin, sehingga dapat merangsang produksi ASI sedini mungkin. Rangsangan putting susu dan tehnik pemijatan saat dilakukan perawat payudara, mengahasilkan latihan seperti efek saat bayi melakukan hisapan pada payudara ibu sehingga memicu pengeluaran ASI (Tamboyang, 2015).

(26)

20

TOPIK 8

PENCEGAHAN PENULARAN PENYAKIT INFEKSI A. Pengertian Infeksi

Penyakit infeksi adalah penyakit yang disebabkan oleh mikroba patogen, dan bersifat sangat dinamis. Secara umum proses terjadinya penyakit melibatkan tiga faktor yang saling berinteraksi yaitu : faktor penyebab penyakit (agen), faktor manusia atau pejamu (host), dan faktor lingkungan.

B. Penyebaran Penyakit Infeksi

Dalam garis besarnya mekanisme transmisi mikroba patogen ke pejamu yang rentan melalui dua cara :

 Transmisi Langsung

Penularan langsung oleh mikroba patogen ke pintu masuk yang sesuai dari pejamu. Sebagai contoh adalah adanya sentuhan, gigitan, ciuman, atau adanya droplet nuclei saat bersin, batuk, berbicara atau saat transfusi darah dengan darah yang terkontaminasi mikroba patogen.

 Transmisi Tidak Langsung

Penularan mikroba patogen yang memerlukan media perantara baik berupa barang/bahan, air, udara, makanan/minuman, maupun vektor.

a. Vehicle Borne

Sebagai media perantara penularan adalah barang/bahan yang terkontaminasi seperti peralatan makan, minum, alat-alat bedah/kebidanan, peralatan laboratorium, peralatan infus/transfusi. b. Vektor Borne Sebagai media perantara adalah vektor (serangga) yang memindahkan mikroba patogen ke pejamu adalah sebagai berikut:

 Cara Mekanis Pada kaki serangga melekat kotoran/sputum mikroba patogen, lalu hinggap pada makanan/minuman, dimana selanjutnya akan masuk ke saluran cerna pejamu.

 Cara Bologis Sebelum masuk ke tubuh pejamu, mikroba mengalami siklus perkembangbiakkan dalam tubuh vektor/serangga, selanjutnya mikroba dipindahkan ke tubuh pejamu melalui gigitan.

(27)

21

b. Food Borne

Makanan dan minuman adalah media perantara yang cukup efektif untuk menyebarnya mikroba patogen ke pejamu, yaitu melalui saluran cerna.

c. Water Borne

Tersedianya air bersih baik secara kuantitatif maupun kualitatif, terutama untuk kebutuhan rumah sakit adalah mutlak. Kualitas air yang meliputi aspek fisik, kimiawi, dan bakteriologis diharapkan terbebas dari mikroba patogen sehingga aman untuk dikonsumsi. Jika tidak, sebagai media perantara, air sangat mudah menyebarkan mikroba patogen ke pejamu, melalui pintu masuk saluran cerna atau yang lainnya.

d. Air Borne

Udara sangat mutlak diperlukan oleh setiap orang, namun adanya udara yang terkontaminasi oleh mikroba patogen sangat sulit untuk dideteksi. Mikroba patogen dalam udara masuk ke saluran nafas pejamu dalam bentuk droplet nuclei yang dikeluarkan oleh penderita saat batuk atau bersin, bicara atau bernafas, melalui mulut atau hidung. Sedangkan debu merupakan partikel yang dapat terbang bersama partikel lantai/tanah. Penularan melalui udara ini umumnya mudah terjadi di dalam ruangan yang tertutup seperti di dalam gedung, ruangan/bangsal/kamar perawatan, atau pada laboratorium klinik.

Dalam riwayat perjalanan penyakit, pejamu yang peka akan berinterksi dengan mikroba patogen yang secara alamiah akan melewati 4 tahap:

 Tahap Rentan Pada tahap ini pejamu masih dalam kondisi relatif sehat namun peka atau labil, disertai faktor predisposisi yang mempermudah terkena penyakit seperti umur, keadaan fisik, perilaku/kebiasaan hidup, sosial ekonomi, dan lain-lain. Faktor predisposisi tersebut mempercepat masuknya mikroba patogen untuk berinteraksi dengan pejamu.

 Tahap Inkubasi Setelah masuk ke tubuh pejamu, mikroba patogen mulai bereaksi, namun tanda dan gejala penyakit belum tampak. Saat mulai masuknya mikroba patogen ke tubuh pejamu hingga saat munculnya tanda dan gejala penyakit disebut inkubasi. Masa inkubasi satu penyakit berbeda dengan penyakit lainnya, ada yang hanya beberapa jam, dan ada pula yang bertahun-tahun.

(28)

22

 Tahap Klinis Merupakan tahap terganggunya fungsi organ yang dapat memunculkan tanda dan gejala penyakit. Dalam perkembangannya, penyakit akan berjalan secara bertahap. Pada tahap awal, tanda dan gejala penyakit masih ringan. Penderita masih mampu melakukan aktivitas sehari-hari. Jika bertambah parah, penderita sudah tidak mampu lagi melakukan aktivitas sehari-hari.

 Tahap Akhir Penyakit Perjalanan penyakit dapat berakhir dengan 5 alternatif, yaitu:

1) Sembuh sempurna Penderita sembuh secara sempurna, artinya bentuk dan fungsi sel/jaringan/organ tubuh kembali seperti sedia kala.

2) Sembuh dengan cacat Penderita sembuh dari penyakitnya namun disertai adanya kecacatan. Cacat dapat berbentuk cacat fisik, cacat mental, maupun cacat social

3) Pembawa ( carrier ) Perjalanan penyakit seolah–olah berhenti, ditandai dengan menghilangnya tanda dan gejalan penyakit. Pada kondisi ini agen penyebab penyakit masih ada, dan masih potensial sebagai sumber penularan.

4) Kronis Perjalanan penyakit bergerak lambat, dengan tanda dan gejala yang tetap atau tidak berubah.

5) Meninggal dunia Akhir perjalanan penyakit dengan adanya kegagalan fungsi–fungsi organ.

C. Sifat-sifat penyakit infeksi Sebagai

Agen penyebab penyakit, mikroba patogen memiliki sifat–sifat khusus yang sangat berbeda dengan agen penyebab penyakit lainnya. Sebagai makhluk hidup, mikroba patogen memiliki ciri–ciri kehidupan, yaitu :

a. Mempertahankan kelangsungan hidupnya dengan cara berkembang biak.

b. Memerlukan tempat tinggal yang cocok bagi kelangsungan hidupnya.

c. Bergerak dan berpindah tempat.

Ciri–ciri kehidupan mikroba patogen tersebut di atas, merupakan sifat–sifat spesifik mikroba patogen dalam upaya mempertahankan hidupnya. Cara menyerang/invasi ke pejamu/ manusia melalui tahapan sebagai berikut.:

(29)

23

 Sebelum pindah ke pejamu (calon penderita), mikroba patogen hidup dan berkembang biak pada reservoir (orang/penderita, hewan, benda–benda lain).

 Untuk mencapai pejamu (calon penderita), diperlukan adanya mekanisme penyebaran.

 Untuk masuk ke tubuh pejamu (calon penderita), mikroba patogen memerlukan pintu masuk (port d’entrée) seperti kulit/mukosa yang terluka, hidung, rongga mulut, dan sebagainya.Adanya tenggang waktu saat masuknya mikroba patogen melalui port d’entrée sampai timbulnya manifestasi klinis, untuk masing – masing mikroba patogen berbeda–beda.

 Pada prinsipnya semua organ tubuh pejamu dapat terserang oleh mikroba patogen, namun berbeda mikroba patogen secara selektif hanya menyerang organ–organ tubuh tertentu dari pejamu/target organ.

 Besarnya kemampuan merusak dan menimbulkan manifestasi klinis dari mikroba patogen terhadap pejamu dapat dinilai dari beberapa faktor berikut.

1) Infeksivitas Besarnya kemampuan mikroba patogen melakukan invasi, berkembang biak dan menyesuaikan diri, serta bertempat tinggal pada jaringan tubuh pejamu.

2) Patogenitas Derajat respons/reaksi pejamu untuk menjadi sakit.

3) Virulensi Besarnya kemampuan merusak mirkoba patogen terhadap jaringan pejamu.

4) Toksigenitas Besarnya kemampuan mikroba patogen untuk menghasilkan toksin, di mana toksin berpengaruh dalam perjalanan penyakit.

5) Antigenitas Kemampuan mikroba patogen merangsang timbulnya mekanisme pertahanan tubuh/antibodi pada diri pejamu. Kondisi ini akan mempersulit mikroba patogen itu sendiri untuk berkembang biak, karena melemahnya respons pejamu menjadi sakit.

D. Upaya Pencegahan Penularan Penyakit Infeksi

Tindakan atau upaya pencegahan penularan penyakit infeksi adalah tindakan yang paling utama. Upaya pencegahan ini dapat dilakukan dengan cara memutuskan rantai penularannya. Rantai penularan adalah rentetan proses berpindahnya mikroba patogen dari sumber penularan (reservoir) ke pejamu dengan/tanpa media perantara. Jadi, kunci untuk mencegah atau mengendalikan penyakit infeksi adalah mengeliminasi mikroba patogen yang bersumber pada reservoir serta mengamati mekanisme transmisinya, khususnya yang

(30)

24

menggunakan media perantara. ebagai sumber penularan atau reservoir adalah orang/penderita, hewan, serangga (arthropoda) seperti lalat, nyamuk, kecoa, yang sekaligus dapat berfungsi sebagai media perantara. Contoh lain adalah sampah, limbah, ekskreta/sekreta dari penderita, sisa makanan, dan lain–lain. Apabila perilaku hidup sehat sudah menjadi budaya dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari–hari, serta sanitasi lingkungan yang sudah terjamin, diharapkan kejadian penularan penyakit infeksi dapat ditekan seminimal mungkin.

(31)

25

TOPIK 9

KIE DALAM KELUARGA BERENCANA A. Pendahuluan

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional atau lebih dikenal dengan singkatan BKKBN sebagai instansi yang memiliki kewenangan dalam pengendalian kuantitas dan meningkatkan kualitas penduduk tentunya tidak tinggal diam dalam mengantisipasi perubahan lingkungan strategis yang terjadi dewasa ini. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) memberikan perhatian khusus pada masalah tingginya angka kelahiran sehingga dipandang memerlukan penanganan khusus untuk hal tersebut. Usaha untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk ke arah suatu angka pertumbuhan penduduk yang diinginkan ditempuh melalui suatu kebijaksanaan dan kegiatan pemerintah dibidang kependudukan. Hal tersebut dilakukan sebagai upaya mengubah persebaran penduduk agar serasi, selaras, dan seimbang dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan. Demikian pula BKKBN Kota Manado menjalankan program Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) sebagai bentuk kegiatan komunikasi untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku keluarga, masyarakat dan penduduk dalam program Keluarga Berencana (KB). Program KB mempunyai arti yang sangat penting dalam upaya mewujudkan masyarakat Kota Manado yang sejahtera disamping program pendidikan dan kesehatan yang juga merupakan langkah penting dalam mencapai pembangunan yang berkelanjutan. Kota Manado mempunyai tingkat pertumbuhan penduduk cukup tinggi (BKKBN, 2013).

Komunikasi, Informasi dan Edukasi dilakukan sebagai sebuah proses penyampaian isi pesan program Keluarga Berencana (KB) dari pengelola dan pelaksana program kependudukan dalam hal ini BKKBN kepada keluarga dan masyarakat, terutama bagi Pasangan Usia Subur (PUS) yang sudah ber KB maupun yang belum ber KB untuk diketahui, dimanfaatkan dan mendapatkan tanggapan, yang didasarkan pada data dan fakta tentang program KB. Kegiatan KIE dilakukan BKKBN Kota Manado agar program KB dapat dipahami, dimengerti dan dilaksanakan oleh setiap keluarga. Melalui kegiatan KIE diharapkan dapat meningkatkan wawasan dan pengetahuan tentang Keluarga Berencana serta jenis layanannya. Lebih jauh daripada itu diharapkan dengan pemahaman dan

(32)

26

tanggapan masyarakat terhadap program KB tersebut pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat itu sendiri. Kelurahan Tingkulu Kecamatan Wanea Kota Manado merupakan salah satu wilayah yang menjadi sasaran BKKBN dalam mensosialisasikan program Keluarga Berencana (KB) lewat Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) karena:

1. Kurangnya pengetahuan tentang Keluarga Berencana (KB).

2. Jumlah peserta KB yang relatif sedikit.

3. Tingkat pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi.

Kondisi masyarakat Kelurahan Tingkulu Kecamatan Wanea Kota Manado berasal dari beragam latar belakang, baik tingkat pendidikan, pekerjaan, suku, juga agama. Karena itu materi KIE, kegiatan KIE, bahkan media yang digunakan dalam pelaksanaan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) sebagai bentuk sosialisasi program KB di Kelurahan Tingkulu Kecamatan Wanea Kota Manado tersebut harus disesuaikan dengan latar belakang masyarakat yang ada tanpa mengurangi makna isi pesan yang sesungguhnya.

(33)

27

TOPIK 10

PENGENALAN TANDA BAHAYA CULTURAL AWARNES

Indonesia adalah bangsa multikultural yang memiliki berbagai macam seni dan tradisi yang unik dan khas, yang tidak bisa didapatkan di negara-negara lainnya di dunia ini.Sayangnya, keragaman budaya tersebut masih kurang dimanfaatkan dengan baik padahal berbagai budaya yang dimiliki oleh negara ini memiliki potensi yang begitu besar untuk dapat maju dan berkembang baik di tingkat nasional maupun internasional.Di tengah era globalisasi, tidak sedikit juga kaum generasi penerus bangsa yang menganggap kesenian negerinya sendiri sudah kuno dan menyukai segala macam hal yang berasal dari luar negeri karena terlihat lebih keren dan modern. Maka dari itu kita sebagai manusia Indonesia yang menjunjung tinggi nasionalisme haruslah bisa melestarikan budaya bangsa dan juga memfilter budaya asing yang masuk ke Indonesia. Salah satu cara untuk melestarikan budaya bangsa adalah dengan menumbuhkan sikap kesadaran budaya pada diri masyarakat Indonesia

Kesadaran Budaya

Kesadaran budaya (Cultural awareness) adalah kemampuan seseorang untuk melihat ke luar dirinyasendiri dan menyadari akan nilai-nilai budaya, kebiasaan budaya yang masuk.Selanjutnya, seseorang dapat menilai apakah hal tersebut normal dan dapat diterima pada budayanya atau mungkin tidak lazim atau tidak dapat diterima di budaya lain.Oleh karena itu perlu untuk memahami budaya yang berbeda dari dirinya dan menyadari kepercayaannya dan adat istiadatnya dan mampu untuk menghormatinya.(Vacc et al, 2003) Wunderle (2006) menyebutkan bahwa kesadaran budaya (cultural awareness) sebagai suatu kemampuan mengakui dan memahami pengaruh budaya terhadap nilai-nilai dan perilaku manusia. Implikasi dari kesadaran budaya terhadap pemahaman kebutuhan untuk mempertimbangkan budaya, faktor-faktor penting dalam menghadapi situasi tertentu. Pada tingkat yang dasar, kesadaran budaya merupakan informasi, memberikan makna tentang kemanusian untuk mengetahui tentang budaya.Prinsip dari tugas untuk mendapatkan pemahaman tentang kesadaran budaya adalah mengumpulkan informasi tentang budaya dan mentranformasikannya melalui penambahan dalam memberikan makna secara progresif sebagai suatu pemahaman terhadap budaya.

(34)

28

Pantry (dalam Sturges, 2005) mengidentifikasikan 4 kompetensi yang dapat terhindari dari prejudis, miskonsepsi dan ketidakmampuan dalam menghadapi kondisi masyarakat majemuk yaitu: Kemampuan berkomunikasi (mendengarkan,menyimpulkan, berinteraksi), Kemampuan proses (negosiasi, lobi, mediasi, fasilitasi), Kemampuan menjaga informasi (penelitian, menulis, multimedia), Kemampuanmemiliki kesadaran dalam informasi, cara mengakses informasi, dan menggunakan informasi. Keempat kompetensi tersebut memberikan peran penting dalam menghadapi masyarakat yang multikultural dalam kesadaran budaya. Fowers & Davidov (Thompkins et al, 2006) mengemukakan bahwa proses untuk menjadi sadar terhadap nilai yang dimiliki, bias dan keterbatasan meliputi eksplorasi diri pada budaya hingga seseorang belajar bahwa perspektifnya terbatas,memihak, dan relatif pada latar belakang diri sendiri.Terbentuknya kesadaran budayapada individu merupakan suatu hal yang terjadi begitu saja. Akan tetapi melalui berbagai hal dan melibatkan beragam faktor diantaranya adalah persepsi dan emosi maka kesadaran (awareness) akan terbentuk. Berdasarkan hal di atas, pentingnya nilai- nilai yang menjadi faktor penting dalam kehidupan manusia akan turut mempengaruhi kesadaran budaya (terhadapnilai-nilai yang dianut) seseorang dan memaknainya. Penting bagi kita untukmemiliki kesadaran budaya (cultural awareness) agar dapat memiliki kemampuan untuk memahami budaya dan faktor-faktor penting yang dapat mengembangkan nilai-nilai budaya sehingga dapat terbentuk karakter bangsa.

Tingkat Kesadaran Budaya (Cultural Awareness)

Wunderle (2006) mengemukakan limatingkat kesadaran budaya yaitu:

a) Data dan information.

Data merupakan tingkat terendah dari tingkatan informasi secara kognitif. Data terdiri dari signal-signal atau tanda-tanda yang tidak melaluiproses komukasi antara setiap kode-kode yang terdapat dalam sistim, atau rasa yang berasal dari lingkungan yang mendeteksi tentang manusia. Dalam tingkat inipenting untuk memiliki data dan informasi tentang beragam perbedaan yang ada. Dengan adanya data dan informasi maka hal tersebut dapat membantu kelancaranproses komunikasi.

b) Culture consideration.

Setelah memiliki data dan informasi yang jelas tentangsuatu budaya maka kita akan dapat memperoleh pemahaman terhadap budaya dan faktor apa saja yang menjadi nilai-nilai dari budaya tertentu. Hal ini akan memberikan pertimbangann tentang konsep-konsep yang dimiliki oleh suatubudaya secara umum dan dapat memaknai arti dari culture code

(35)

29

yang ada. Pertimbangan budaya ini akan membantu kita untuk memperkuat proses komunikasi dan interaksi yang akan terjadi.

c) Cultural knowledge.

Informasi dan pertimbangan yang telah dimiliki memangtidak mudah untuk dapat diterapkan dalam pemahaman suatu budaya. Namun, pentingnya pengetahuan budaya merupakan faktor penting bagi seseorang untuk menghadapi situasi yang akan dihadapinya. Pengetahuan budaya tersebut tidak hanya pengetahuan tentang budaya oranglain namun juga penting untukmengetahui budayanya sendiri. Oleh karena itu, pengetahuan terhadap budayadapat dilakukan melalui pelatihan-pelatihan khusus.Tujuannya adalah untuk membuka pemahaman terhadap sejarah suatu budaya.Ini termasuk pada isu-isu utama budaya seperti kelompok, pemimpin, dinamika, keutaman budaya danketerampilan bahasa agar dapat memahami budaya tertertu.

d) Cultural Understanding.

Memiliki pengetahuan tentang budaya yang dianutnya dan juga budaya orang lain melalui berbagai aktivitas dan pelatihan penting agar dapat memahami dinamika yang terjadi dalam suatu budaya tertentu. Oleh karena itu, penting untuk terus menggali pemahaman budaya melalui pelatihan lanjutan.Adapun tujuannya adalah untuk lebih mengarah pada kesadaran mendalam pada kekhususan budaya yang memberikan pemahaman hingga pada proses berfikir, faktor-faktor yang memotivasi, dan isu lain yang secara langsung mendukungproses pengambilan suatu keputusan.

e) Cultural Competence.

Tingkat tertinggi dari kesadaran budaya adalah kompetensi budaya. Kompetensi budaya berfungsi untuk dapat menentukan dan mengambil suatu keputusan dan kecerdasan budaya. Kompetensi budaya merupakan pemahaman terhadap kelenturan budaya (culture adhesive). Dan hal ini penting karena dengan kecerdasan budaya yang memfokuskan pemahaman padaperencanaan dan pengambilan keputusan pada suatu situasi tertentu. Implikasidari kompetensi budaya adalah pemahaman secara intensif terhadap kelompoktertentu. Seperti yang dijelaskan di awal, sesungguhnya kebudayaan itu sendiri mempunyai tiga bentuk dasar, yaitu yang berwujud ide, kelakuan, dan wujud fisik.

Ketiga wujud kebudayaan tersebut ada dalam masyarakat. Hal ini yang harusnya kita lestarikan dan kita perhatikan karena kebudayaan merupakan identitas jati diri kita. Maka dari itu, kesadaran budaya perlu untuk kita tumbuh dan kembangkan sejak dini. Untuk menumbuhkan jiwa yang sadar akan budaya tersebut, berikut sekiranya ada 4 cara, yaitu:

(36)

30

Penanaman sikap multikulturalisme sejak dini, Penanaman sikap untuk saling bertoleransi dan untuk saling menghargai antar budaya merupakan fondasi awal agar seseorang mampu menyadari akan perbedaan dari masing-masing budaya. Sikap mental akan pentingnya saling menghargai kebudayaan diharapkan nantinya integrasi bangsa menjadi semakin kuat karena penanaman sikap saling menghormati dan menghargai tersebut juga sudah mendarah daging di masyarakat.

Sosialisasi budaya melalui lembaga pendidikan. Dimasukkannya budaya lokal dalam kurikulum pendidikan sebagai muatan lokal merupakan langkah yang bijak untuk lebih menjaga eksistensi budaya lokal mengingat sekarang ini mulai banyaknya generasi muda yang mulai enggan untuk memperhatikan kebudayaannya yang sesungguhnya itu merupakan asset kekayaan yang sekiranya wajib dan harus untuk kita lestarikan.

Penyelenggaraan berbagai pentas budaya, Penyelenggaraan berbagai pentas budaya tentu hal ini merupakan salah satu cara yang mampu untuk menumbukan kesadaran akan berbudaya. Pentas ini dapat berupa tari-tari daerah ataupun juga musik-musik daerah yang dilakukan dengan melibatkan kaum-kaum muda sebagai salah satu cara menghidupkan kembali budaya masing-masing daerah dengan melibatkan generasi muda sebagai generasi penerus. Seni budaya yang akan ditampilkan pun dapat berupa seni tradisional, modern, ataupun juga gabungan dari keduanya.

Mencintai dan menjaga budaya yang dimiliki. Hal inilah yang sekiranya penting untuk selalu kita wujudkan. Rasa cinta dan rasa untuk menjaga budaya yang kita miliki haruslah muncul sesuai dengan keinginan dan kesadaran dari dalam diri kita masing-masing. Tanpa rasa cinta dan peduli terhadap kebudayaan mustahil kita dapat menjaga eksistensi budaya yang kita miliki.

Selain itu, Robert Hanvey menyebutkan 4 tingkat cross-cultural awareness (Yan-li, 2007) yaitu:

a) Awareness of superficial or visible cultural traits.

Pada tingkat ini informasi yangdiperoleh oleh seseorang berasal dari media atau saat dia mengunjungi suatuNegara atau daerah atau dari pelajaran di sekolah. Yan-li (2007) menyatakan padalevel ini pemahaman mereka hanya terlihat dari cirri yang nampak dan merekajadikan sebagai pandangan streotipe terhadap budaya yang tidak benar- benarmereka pahami.

(37)

31

b) Awareness of significant and subtle cultural traits that others are different and therefore problematic.

Pada level ini seseorang mulai memahami dengan baiktentang signifikansi dan ciri budaya yang sangat berbeda dengan caranya sendiri.Hal ini terkadang menimbulkan frustrasi dan kebingungan sehingga terjadi konflikdalam dirinya.

c) Awareness of significant and subtle cultural traits that others are believable in anintellectual way.

Pada level ini seseorang sudah memahami secara signifikan dan perbedaan budayanya dengan orang lain, namun pada level ini seseorang sudah mampu untuk menerima budaya lain secara utuh sebagai manusia.

d) Awareness of how another culture feels from the standpoint of the insider.

Level ini adalah level yang tertinggi dari cross-cultural awareness. Pada level ini seseorang mengalami bagaimana perasaan yang dirasakan oleh budaya lain melalui pandangan dari dalam dirinya. Hal ini melibatkan emosi dan juga perilaku yang dilakukannya melalui pengalaman-pengalaman langsungnya dengan situasi dan budaya tertentu seperti belajar bahasa, kebiasaan, dan memahami nilai-nilai yang ada dalam budaya tersebut.

Kesadaran Budaya Bangsa Indonesia

Jika kita mendengar kata budaya, maka yang terpikir dibenak kita adalah seni seperti tari- tarian daerah, dan adat istiadat. Padahal makna dari budaya sangat luas. Korupsi yang merupakan suatu tindakan yang haram dilakukan, namun sekarang menjadi budaya karena banyak orang yang melakukan hingga seperti menjadi suatu hal yang biasa dilakukan.Tawuran pelajar yang sering terjadi seperti sudah menjadi “ikon” yang melekat pada pelajar.Seperti inilah kesadaran budaya masyarakat saat ini.Sesuatu hal yang tidak patut menjadi biasa dan mengkristal didalam masyarakat sehingga menjadi budaya.

Dari sudut pandang yang berbeda, yaitu budaya yang berkaitan dengan seni dan adat.Adanya globalisasi membuat masyarakat berubah. Budaya yang merupakan warisan leluhur dan merupakan suatu hal yang patut kita jaga dan lestarikan lama kelamaan menjadi lenyap. Budaya barat dengan mudahnya masuk kedalam kehidupan masyarakat melalui internet dan mempengaruhi gaya hidup pemuda. Pandangan hidup yang moderat yang menimbulkan munculnya pandangan bahwa kebudayaan yang ada tidak lagi relevan dengan jaman yang modern ini.

Ketika budaya milik negeri ini sudah diklaim oleh negara lain, baru masyarakat ingat dan sadar bahwa budaya yang dimiliki bangsa ini kaya dan tak ternilai harganya.

(38)

32

Pentingnya kesadaran budaya

Masyarakat menghasilkan suatu kebudayaan melalui proses sosialisasi. Kebudayaan selalu mengikuti keberadaan masyarakat. Tidak ada satupun masyarakat yang tidak menghasilkan kebudayaan dan tidak akan pernah tercipta suatu wujud kebudayaan tanpa adanya masyarakat. Namun, meskipun budaya diciptakan oleh masyarakat, budaya tersebut dapat pula mengendalikan masyarakat itu sendiri.Sehingga masyarakat haruslah pandai dalam mengatur arah gerak dari kebudayaannya.

Kesadaran budaya merupakan sikap positif manusia dalam menyikapi perbedaan- perbedaan yang ada dalam masyarakat.Kesadaran budaya sangatlah dibutuhkan dalam mengelola perbedaan-perbedaan budaya yang ada.Hal ini dikarenakan oleh seringnya perbedaan budaya yang menimbulkan konflik-konflik di dalam masyarakat. Masyarakat terkadang lupa bahwa pada dasarnya setiap masyarakat memiliki pola dan corak kebudayaan yang berbeda satu sama lain. Sehingga mereka cenderung memperlakukan sama pada setiap bentuk kebudayaan. Padahal budaya itu sendiri terbentuk sesuai dengan corak masyarakat yang bersangkutan.Sikap semacam inilah yang sering sekali memicu kesalahpahaman yang berujung konflik etnis. Dengan kesadaran yang di terapkan oleh anggota masyarakat, maka diharapkan integrasi sosial akan tetap terjaga.

Arus globalisasi dan modernisasi, memicu unsur-unsur budaya asing masuk dan bersanding dengan kebudayaan lokal. Hal ini akan menimbulkan masalah, jika unsur-unsur budaya asing tersebut tidak sesuai dengan kebudayaan lokal, apabila masyarakat kurang selektif dalam menerima dan memakai budaya luar yang tidak sesuai dengan kebudayaan lokal dan kurangnya kesadaran masyarakat terhadap kebudayaan yang telah dimilikinya, maka kebudayaan lokal yang merupakan identitas atau jati diri tersebut lambat laun akan pudar. Sebagai contoh Budaya dan bahasa Jawa saat ini semakin terdesak oleh arus perkembangan zaman atau globalisasi, perubahan masyarakat Jawa juga terjadi sangat signifikan dari perubahan pola bahasa hingga tingkah laku, padahal jati diri orang Jawa penuh dengan ajaran kebaikan, kebijaksanaan, narima ing pandum (menerima apa yang telah digariskan oleh Tuhan). Maka dari itu, kesadaran budaya perlu ditumbuhkan di dalam benak anggota masyarakat, kesadaran budaya menciptakan masyarakat menerapkan kearifan lokal dalam menghadapi perubahan zaman khususnya dalam globalisasi dan modernisasi, tanpa kearifan lokal proses modernisasi tidak akan berjalan dengan baik karena kearifan budaya lokal menjadi filter dari modernisasi dalam masyarakat. Sehingga,

Referensi

Dokumen terkait

Dengan ini menyatakan dengan sesungguhnya, bahwa karya tulis ilmiah ini bukan Merupakan hasil karya orang lain (plagiat) dan belum pernah disampaikan untuk mendapat gelar

Salah satu upaya bidan untuk menurunkan AKI dan AKB yaitu dengan melakukan asuhan kebidanan secara berkelanjutan (Asuhan Kebidanan Komperhensif Pada Kehamilan, Persalinan, Bayi

kehamilan (NKB-SMK). b) Dismaturitas : bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat. badan seharusnya untuk masa

Hal yang diperbaharuhi adalah merekomendasikan bahwa semua persalinan harus ditolong oleh para profesional kesehatan terlatih untuk menjamin hasil yang terbaik bagi ibu dan bayi

Dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini sebagai salah satu persyaratan untuk menyelesaikan program pendidikan Ahli Madya Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan

lendir serviks selama siklus menstruasi, yang menggambarkan masa subur dalam siklus dan waktu fertilitas maksimal dalam masa subur. c) Metode suhu basal tubuh:

Untuk memperoleh dukungan teoritis terhadap masalah penelitian yang dipilih, maka peneliti perlu banyak membaca buku literature, baik berupa buku teks (teori)

berkesinambungan untuk melihat keefektifan dari asuhan yang sudah.. diberikan, sesuai dengan perubahan perkembangan kondisi