• Tidak ada hasil yang ditemukan

View of Peningkatan Hasil Belajar Matematika melalui Pembelajaran Student Teams Achievement Divisions pada Siswa Kelas I SD

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "View of Peningkatan Hasil Belajar Matematika melalui Pembelajaran Student Teams Achievement Divisions pada Siswa Kelas I SD"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

(JIPG)

Available online: http://jurnal.ustjogja.ac.id/index.php/jipg/index

This is an open access article under the CC–BY-SA license.

DOI: 10.30738/jipg.vol4.no1.a12904

Peningkatan Hasil Belajar Matematika melalui Pembelajaran Student Teams Achievement Divisions pada Siswa Kelas I SD

Dewi Indarwati* 1, Dian Artha Kusumaningtyas 2, Rumgayatri 3

1,2 Universitas Ahmad Dahlan, Indonesia

3 SD Negeri Kotagede III

E-mail: 1 [email protected]; 2 [email protected]

* Corresponding Author

Received: 05 Agustus 202; Revised: 31 Januari 2022 ; Accepted: 07 Februari 2023

Abstrak: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan hasil belajar matematika melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas.

Penelitian dilakukan dalam dua siklus. Subjek dari penelitian ini adalah siswa kelas I SD Negeri 3 Kalikotes yang berjumlah 29 siswa, terdiri dari 10 siswa laki-laki dan 19 siswa perempuasn. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, tes, dan dokumentasi. Instrumen dalam penelitian ini berupa lembar observasi dan tes tertulis. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis deskripsi kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa. Peningkatan tersebut terlihat dari perolehan nilai rata-rata kelas dari hasil tes siswa pada setiap tahapan siklus meningkat, yaitu nilai rata-rata kelas pada prasiklus sebesar 54,48, pada siklus I sebesar 70,52 dan pada siklus II sebesar 82,6.

Kata Kunci: Hasil Belajar, Matematika, STAD

Improving Mathematics Learning Outcomes through Student Teams Achievement Divisions Learning in Grade I Elementary School Students

Abstract: The purpose of this research is to improve the student learning outcomes in mathematics through the aplycation of the STAD type cooperative learning model. This type of research is Classroom Action Research. This research consisted of two cycles. The subject of this research were the 1st grade students of SD Negeri 3 Kalikotes with total of 29 students, consisting of 10 male students and 19 female students. The data collecting technique used observation, test, and documentation. The instruments of this research were observation sheets and test. Data analysis in this research used qualitative and quantitative descriptive analysis. The result showed that the use of the STAD type cooperative learning model could improve student learning outcomes, this can be seen from the acquisition of class average scores from student test results at each stage of the cycle. The increase is, the class average value in pre- cycle is 54,48, in cycle I is 70,52 and in cycle II is 82,59.

Keywords: Student Learning Outcomes, Mathematics, STAD

How to Cite: Dewi Indarwati, Kusumaningtyas, D. A. ., & Rumgayatri. (2023).

Peningkatan Hasil Belajar Matematika melalui Pembelajaran Student Teams Achievement Divisions pada Siswa Kelas I SD. Jurnal Ilmiah Profesi Guru (JIPG), 4(1), 32–

38. Retrieved from https://jurnal.ustjogja.ac.id/index.php/JIPG/article/view/12904

(2)

Copyright © 2023, Dewi Indarwati, Dian Artha Kusumaningtyas, Rumgayatri 2723-0295(ISSN Online) | 2775-0973 (ISSN Cetak)

Pendahuluan

Pendidikan dasar diselenggarakan dengan tujuan untuk mengembangkan potensi siswa, baik aspek kognitif, afektif, maupun psokomotorik dengan mengembangkan sikap, memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar yang diperlukan peserta didik dalam hidup di lingkungan masyarakat serta mepersiapkan peserta didik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Adapun kemampuan dasar yang ditekankan pada jenjang sekolah dasar meliputi kemampuan membaca, menulis, dan berhitung. Ketiga kemampuan tersebut sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu mata pelajaran yang memiliki peran penting dalam memngembangakan kemampuan dasar siswa adalah matematika.. Matematika merupakan mata pelajaran yang diharapkan dapat melatih siswa dalam berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif. Hal ini diperlukan sebagai bekal siswa dalam hidup bermasyarakat dan melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi.

Keterampilan berhitung menjadi salah satu kemampuan yang harus dikuasai oleh para siswa di SD. Di kelas I SD kemampuan operasi penjumlahan dan pengurangan menjadi materi pokok matematika yang diajarkan. Kemampuan penjumlahan dan pengurangan menjadi dasar atau prasyarat untuk menguasai kemampuan berhitung selanjutnya, yaitu perkalian dan pembagian yang diajarkan pada kelas berikutnya. Siswa yang belum mahir dalam mengoperasikan penjumlahan dan pengurangan akan mengalami kesulitan dalam mengikuti materi berikutnya di kelas selanjutnya.

Berdasarkan hasil observasi di SD Negeri 3 Kalikotes menunjukkan bahwa hasil belajar matematika siswa kelas I masih belum memuaskan. Siswa mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal penjumlahan dan pengurangan dengan tepat. Siswa masih sering salah dalam menempatkan angka sesuai dengan nilai tempatnya, sehingga jawaban yang diperoleh menjadi tidak tepat. Oleh sebab itu diperlukan suatu strategi yang dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa.

Menurut (Slameto, 2015: 55) ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar siswa, salah satunya yaitu metode pengajaran. Berdasarkan hasil observasi pembelajaran matematika di kelas I SD Negeri 3 Kalikotes masih bersifat konvensional, pembelajaran masih berpusat pada guru (teachered center) yaitu hanya menggunakan metode ceramah. Dalam proses pembelajaran guru belum menerapkan pembelajaran yang inovatif, yang dapat mengaktifkan siswa. Hal ini dapat mengakibatkan siswa menjadi bosan, mengantuk, pasif, dan hanya mencatat saja.

Dari wawancara dengan guru kelas I, dalam pembelajaran matematika, guru hanya menggunakan buku siswa dan belum memanfaatkan media pembelajaran yang menarik. Hal ini mengakibatkan siswa terlihat kurang antusias dan bosan dalam mengikuti pembelajaran.

Menurut Susanto (Nelnialis, 2021: 246), matematika merupakan ide-ide abstrak yang berisi simbol-simbol, sehingga sebelum memanipulasi simbol-simbol itu konsep-konsep matematika harus dipahami terlebih dahulu. Dalam proses pembelajaran seperti ini diperlukan alat bantu atau media yang bersifat konkret sesuai dengan tingkat perkembangan siswa. Sebagai keterampilan yang mendasar maka keterampilan berhitung permulaan harus benar-benar diperhatikan guru. Guru harus lebih kreatif dan inovatif dalam mengelola kelasnya.

Agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik, efektif, dan menyenangkan dibutuhkan suatu strategi pembelajaran yang sesuai. Salah satu strategi dalam pembelajaran matematika ialah dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif. Ada banyak tipe dalam model pembelajaran kooperatif. Salah satu tipe model pembelajaran kooperatif adalah tipe Student Teams Achievemt Divisions (STAD). Menurut Slavin (2015: 143) STAD merupakan

(3)

Copyright © 2023, Dewi Indarwati, Dian Artha Kusumaningtyas, Rumgayatri 2723-0295(ISSN Online) | 2775-0973 (ISSN Cetak)

pembelajaran kooperatif paling sederhana yang dapat digunakan dalam pelajaran matematika dan cocok sebagai permulaan bagi para guru yang baru menggunakan pendekatan kooperatif.

STAD terdiri dari lima komponen utama, yaitu presentasi kelas, tim, kuis, skor kemajuan individual, dan rekognisi tim.

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut maka peneliti ingin melakukan penelitian tindakan dengan judul “Peningkatan Hasil Belajar Matematika Siswa SD Kelas I melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD di SD Negeri 3 Kalikotes”

Metode

Jenis penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tiandakan Kelas (PTK) atau Classroom Action Research. Penelitian tindakan kelas merupakan penelitian yang dilakukan terhadap sejumlah subjek yang menjadi sasaran, yaitu peserta didik yang bertujuan untuk memperbaiki situasi pembelajaran di kelas agar terjadi peningkatan kualitas pembelajaran (Arikunto, 2010: 10). Subjek dalam penelitian ini adalah 29 siswa kelas I SD Negeri 3 Kalikotes yang terdiri dari 10 siswa laki-laki dan 19 siswa perempuan, sedangkan objek penelitian adalah hasil belajar matematika melalui pembelajaran STAD. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, tes, dan dokumentasi. Instrumen penelitian ini berupa lembar observasi dan tes tertulis. Indikator keberhasilan dalam penelitian ini adalah meningkatnya hasil belajar matematika siswa yang dapat dilihat dari hasil tes dan lembar observasi.

Keberhasilan penelitian ini ditandai dengan danya perubahan ke arah perbaikan. Indikator keberhasilan penelitian tindakan kelas ini yaitu apabila nilai hasil belajar matematika siswa mencapai rata-rata minimal 70 sesuai dengan Kriteria Ketuntasan Minimal yang ditetapkan oleh sekolah dan mencapai persentase ketuntasan belajar 80% dari jumlah siswa kelas I SD Negeri 3 Kalikotes.

Hasil dan Pembahasan Hasil

Hasil penelitian setelah dilakukan tindakan pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD, terjadi peningkatan hasil belajar matematika siswa dari pra-tindakan hingga akhir siklus II. Hasil belajar matematika siswa kelas I dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 1. Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas I SD Negeri 3 Kalikotes Interval Nilai Pra-Siklus Siklus I Siklus II Kategori

≥ 70 31% 66% 83% Tuntas

< 70 69% 34% 17% Tidak Tuntas

Jumlah Nilai 1580 2045 2395

Rata-rata 54,48 70,52 82,59

Kriteria Kurang Cukup Baik

Tabel di atas menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa. Peningkatan tersebut dapat dilihat dari persentase ketuntasan hasil belajar matematika siswa pada pra-siklus sebesar 31% pada

(4)

Copyright © 2023, Dewi Indarwati, Dian Artha Kusumaningtyas, Rumgayatri 2723-0295(ISSN Online) | 2775-0973 (ISSN Cetak)

kategori kurang, meningkat menjadi 66% pada siklus I dengan kategori cukup, dan meningkat lagi pada siklus II menjadi 83% dengan kategori baik.

Pembahasan

Hasil observasi di SD Negeri 3 Kalikotes diperoleh informasi bahwa hasil belajar matematika siswa kelas I masih belum memuaskan. Siswa mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal penjumlahan dan pengurangan dengan tepat. Siswa masih sering salah dalam menempatkan angka sesuai dengan nilai tempatnya, sehingga jawaban yang diperoleh menjadi tidak tepat Mulyasa (Noviana, 2016:206) mengemukakan bahwa hasil belajar adalah hasil yang dicapai siswa dalam bentuk angka-angka setelah diberikan suatu tes hasil belajar pada akhir suatu pertemuan, pertengahan semester maupun akhir semester. Untuk mengetahui sejauh mana kemampuan berhitung siswa, peneliti melakukan test awal atau pretest untuk mengambil data hasil belajar matematika siswa sebelum tindakan dilakukan. Dari hasil pretest diketahui hasil nilai rata-rata pretest siswa kelas I yaitu 54,48 dengan rincian 69% dari jumlah siswa atau sebanyak 20 siswa memperoleh nilai di bawah KKM dan hanya 31% atau 9 siswa yang telah mencapai KKM.

Berdasarkan hasil pretest tersebut menunjukkan bahwa hasil belajar matematika siswa di kelas I SD Negeri Kalikotes termasuk dalam kategori kurang dan belum optimal. Oleh sebab itu, peneliti tertarik untuk melakukan tindakan peningkatan hasil belajar matematika siswa kelas I SD Negeri 3 Kalikotes dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD.

Sebelum melakukan tindakan guru melalukan perencanaan, yaitu menyusun RPP, menyiapkan materi dan media pembelajaran yang akan digunakan dalam pembelajaran, serta menyiapkan instrumen pengamatan berupa lembar observasi dan soal tes.

Pelaksanaan tindakan dilakukan dalam dua siklus di mana setiap siklus ada dua kali pertemuan. Guru membuka pembelajaran dengan mengucap salam dan menanyakan kabar, dilanjutkan dengan berdoa bersama dan menyanyikan lagu nasional. Guru melakukan apersepsi, mengaitkan pengetahuan awal siswa dengan materi yang akan dipelajari.

Selanjutnya menyampaikan tujuan pembelajaran dan memberikan motivasi siswa agar semangat mengikuti pembelajaran yang akan dilaksanakan.

Pada siklus I materi yang diberikan lebih difokuskan pada materi penjumlahan, yaitu pada Tema 7 (Benda, Hewan, dan Tanaman di Sekitarku), Subtema 3 (Tanaman di Sekitarku), pembelajaran 5 pada pertemuan pertama dan pembelajaran 6 pada pertemuan kedua. Guru membagi siswa ke dalam kelompok secara heterogen kemudian melakukan pembelajaran sesuai dengan langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe STAD, yaitu presentasi kelas atau penjelasan materi kepada siswa, diskusi/ kerja kelompok menyelesikan LKPD, memberikan soal kuis yang harus dikerjakan secara mandiri oleh siswa, melakukan penghitungan peningkatan skor individu dengan memabandingkan skor kuis pada tiap akhir pertemuan, kemudian memberikan penghargaan kelompok sesuai dengan poin peningkatan yang diperoleh tiap kelompok. Selain itu guru juga memberikan reward bagi kelompok yang paling aktif dan memperoleh skor tertinggi. Hal ini sesuai dengan pernyataan Slavin (2015:

143), STAD terdiri atas lima komponen utama, yaitu presentasi kelas, tim, kuis, skor kemajuan individual, dan rekognisi tim. Pembelajaran diakhiri dengan menyimpulkan pembelajaran yang telah dilakukan, refleksi, dilanjutkan doa bersama yang dipimpin oleh salah seorang siswa dan salam penutup.

Pada akhir pertemuan siklus I dilakukan pengambilan data hasil belajar matematika dengan memberikan tes tertulis posttest.Tes dilakukan untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa

(5)

Copyright © 2023, Dewi Indarwati, Dian Artha Kusumaningtyas, Rumgayatri 2723-0295(ISSN Online) | 2775-0973 (ISSN Cetak)

terhadap materi yang diberikan. Dari hasil tes pada siklus I terlihat nilai rata-rata kelas 70,52 pada kategori cukup dengan rincian ada sebanyak 19 siswa atau 66% siswa yang tuntas mencapai KKM dan 10 siswa atau 34% siswa belum mencapai KKM. Perolehan hasil belajar pada siklus I masih belum memenuhi indikator keberhasilan yang telah ditetapkan dalam penelitian di mana indikator keberhasilan hasil belajar siswa dengan rata-rata kelas 80 mencapai 80% dari seluruh siswa.

Dalam penelitian ini juga dilakukan pengukuran terhadap aktivitas siswa selama proses pembelajaran menggunakan model koopertif tipe STAD dengan menggunakan lembar observasi yang diisi oleh observer. Hasil observasi aktivitas belajar siswa pada siklus I memperoleh rata-rata sebesar dengan rata-rata aktivitas belajar sebesar 44,66%, yaitu 1) memperhatikan penjelasan guru sebanyak 72,24%; 2) bertanya, sebanyak 13,79%; 3) aktif berdiskusi, sebanyak 58,62; 4) membuat catatan, sebanyak 79, 31%; 5) merespon/ menjawab, sebanyak 44,82%; dan 6) berani berpendapat, sebanyak 17,24%. Dari hasil tersebut terlihat capaian keaktifan siswa antara 13,79% - 79,31% di mana ada 3 indikator keaktifan di bawah nilai yang ditargetkan yaitu 51%. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas belajar siswa masih perlu ditingkatkan. Pada siklus I observasi terhadap aktivitas guru memperoleh skor 86,7. Hal ini dilakukan untuk mengetahui keterlaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD yang dilakukan. Dengan demikian, keterlaksanaan pembelajaran menggunakan pembelajaran STAD dapat dikatakan sudah sangat baik.

Refleksi dilakukan untuk mengetahui kekurangan-kekurangan yang terjadi pada pelaksanaan siklus I dan potensi yang mana yang perlu ditingkatkan, sehingga menjadi dasar perbaikan pada siklus berikutnya, yaitu siklus II. Hasil refleksi pada siklus I, yaitu berdasarkan hasil observasi pelaksanaan tindakan siklus I melalui pembelajaran STAD sudah berjalan dengan baik sesuai dengan prosedur yang telah direncanakan. Meski demikian, terdapat permasalahan-permasalahan yang ditemukan pada pembelajaran siklus I antara lain, siswa masih kebingungan dan belum terbiasa dengan langkah-langkah pembelajaran menggunakan model pembelajaran STAD karena pembelajaran sebelumnya lebih banyak dilakukan secara daring, siswa belum pernah melakukan pembelajaran menggunakan model pembelajaran STAD. Siswa sangat antusias belajar berhitung dengan media kantong bilangan meskipun ada beberapa siswa yang masih kebingungan tentang cara penggunaannya. Ada beberapa siswa yang tidak aktif berdiskusi saat kerja kelompok serta masih ada beberapa siswa yang asik ramai sendiri.

Dari beberapa kekurangan yang ada pada siklus I, maka perlu adanya perbaikan pada tindakan siklus II agar upaya yang dilakukan untuk meningkatkan hasil belajar matematika mengunnakan model pembelajaran STAD dapat makasimal dan berhasil melampaui indikator keberhasilan yang telah ditetapkan. Berikut adalah rencana perbaikan yang akan dilakukan pada tindakan siklus II: 1) memperjelas perintah dan langkah-langkah yang harus dikerjakan dalam pembelajaran model STAD; 2) memperjelas cara penggunaan media kantong bilangan kepada siswa; 3) selalu mengingatkan dan memberi motivasi siswa untuk aktif bekerja sama saat berdiskusi mengerjakan tugas kelompok; 4) mengingatkan siswa agar saling membantu teman yang mengalami kesulitan menyelesaikan soal saat diskusi kelompok.

Pada siklus II materi yang diberikan lebih difokuskan pada materi pengurangan, yaitu pada Tema 7 (Benda, Hewan, dan Tanaman di Sekitarku), Subtema 4 (Bentuk, Warna, Ukuran, dan Permukaan Benda), pembelajaran 3 pada pertemuan pertama dan pembelajaran 5 pada pertemuan kedua. Langkah-langkah pembelajaran pada siklus II hampir sama dengan siklus I, namun ada perbaikan yang dilakukan sesuai refleksi pada siklus I.

(6)

Copyright © 2023, Dewi Indarwati, Dian Artha Kusumaningtyas, Rumgayatri 2723-0295(ISSN Online) | 2775-0973 (ISSN Cetak)

Pada akhir pertemuan siklus II dilakukan pengambilan data hasil belajar matematika dengan memberikan tes tertulis posttest. Tes dilakukan untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang diberikan. Dari hasil tes pada siklus II dipeoleh nilai rata-rata kelas mencapai 82,59 pada kategori baik, sebanyak 24 siswa atau 83% telah mencapai KKM sementara ada 5 siswa atau 17% belum mencapai KKM. Meskipun belum seluruh siswa berhasil mencapai KKM namun perolehan hasil belajar pada siklus II telah mengalami peningkatan sebesar 52% dari hasil belajar pra-siklus, dan 17% dari hasil belajar pada siklus I, yaitu 66%

menjadi 83%

Sementara hasil observasi aktivitas belajar siswa pada siklus II memperoleh rata-rata-rata aktivitas belajar sebesar 59%, yaitu 1) memperhatikan penjelasan guru sebanyak 89,66%; 2) bertanya, sebanyak 31,03%; 3) aktif berdiskusi, sebanyak 86,62%; 4) membuat catatan, sebanyak 93,10%; 5) merespon/ menjawab, sebanyak 55,17%; dan 6) berani berpendapat, sebanyak 37,93%. Dari hasil tersebut terlihat capaian keaktifan siswa antara 31,03% - 93,10%

di mana ada 2 indikator keaktifan di bawah nilai yang ditargetkan yaitu 51%. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas belajar siswa mengalami peningkatan. Selanjutnya observasi terhadap aktivitas guru pada siklus II juga meningkat dari 86,7 pada siklus I menjadi 95,6 pada siklus II dengan kategori sangat baik.

Berdasarkan hasil tersebut terlihat hasil belajar siswa pada siklus II telah melampaui indikator keberhasilan kinerja dengan memperoleh hasil 83% siswa kelas I mencapai KKM dengan rata-rata kelas 82,59 melebihi target yang ditetapkan yaitu 80. Selain hasil belajar matematika, aktivitas siswa dan guru juga mengalami peningkatan. Dengan demikian maka dapat dikatakan bahwa tindakan yang dilakukan sebagai upaya meningkatkan hasil belajar matematika siswa melalui model pembelajaran STAD telah berhasil dan diputuskan bahwa penelitian berhenti pada siklus II.

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas I SD Negeri 3 Kalikotes. Peningkatan tersebut dapat dilihat dari persentase nilai rata-rata siswa yang mencapai KKM pada prasiklus 31% pada kategori kurang, meningkat pada siklus I menjadi 66% pada kategori cukup, dan meningkat kembali pada siklus II menjadi 83% pada kategori baik. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas I SD Negeri 3 Kalikotes ini dilakukan dengan cara: a) siswa menyimak penjelasan materi yang disampaikan guru tentang penjumlahan dan pengurangan menggunakan media pembelajaran kantong bilangan, b) siswa dibagi menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari 5-6 anak secara heterogen, c) siswa berdiskusi saling membantu menyelesaikan soal (LKPD), d) siswa mengerjakan kuis secara mandiri, e) memberi penghargaan kepada kelompok atau siswa yang aktif dan memperoleh skor tertinggi, e) siswa diberi soal evaluasi (posttest), f) siswa bersama guru menyimpulkan pembelajaran yang telah dilakukan.

(7)

Copyright © 2023, Dewi Indarwati, Dian Artha Kusumaningtyas, Rumgayatri 2723-0295(ISSN Online) | 2775-0973 (ISSN Cetak)

Daftar Pustaka

Arikunto, S., dkk.(2016). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara Asri. B. C, (2012). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Asdi Mahasatya

Izzati, R. E., dkk. 2008. Perkembangan Peserta Didik. Yogyakarta: UNY Press Kurniawan, A.P. 2019. Strategi Pembelajaran Matematika. Surabaya: UINSBY

Nelnialis. (2021). Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Menggunakan Media Kantong Bilangan pada Siswa Kelas I UPTD. SD Negeri 20 Baringin. Ensiklopedia of Journal, 3(4), 245-255

Noviana, E., & Huda, M. N. (2018). Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD untuk meningkatkan hasil belajar PKN siswa kelas IV SD Negeri 79 Pekanbaru. Primary: Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 7(2), 204-210.

Slameto. (2015). Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi. Jakarta: Rineka Cipta Slavin, R.E. (2015). Cooperative Learning Teori, Riset, dan Praktik. Bandung: Nusa Media Supinah dan Agus D.W. 2009. Strategi Pembelajaran Matematika Sekolah Dasar.

Suprijono, A. (2020). Cooperative Learning Teori dan Aplikasi Paikem. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset

Susanti, Y., Wahjoedi, W., & Utaya, S. (2017). Peningkatan Aktivitas dan Hasil Belajar melalui Pembelajaran Kooperatif tipe STAD. Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian, dan Pengembangan, 2(5), 661-666.

Referensi

Dokumen terkait

Pada jalur lalu lintas terdiri dari beberapa lajur yang terletak memanjang, dibatasi oleh marka lajur jalan dan memiliki lebar yang cukup untuk dilewati suatu

Dari hasil yang diperoleh penulis berdasarkan analisis Economic Value Added dapat diketahui bahwa kinerja keuangan perusahaan pada periode tersebut dapat dikatakan baik karena

Bagi para pengusaha kecil dan menengah yang memiliki keterbatasan dalam modal usaha untuk promosi dan menjual produk dapat memanfaatkan teknologi e-Commece ini, karena tidak

Sikap merek adalah evaluasi konsumen secara menyeluruh terhadap merek dan memebentuk dasar yang digunakan konsumen dalam keputusan dan perilakunya. Jika dianalogikan dengan

Setelah dicapai pH yang diinginkan, medium disterilisasi dengan autoklaf pada suhu 121 o C dan tekanan 2 bar selama 15 menit... Lampiran 1.2 Pembuatan Koloidal Kitin

Mahmudi (Pedagang Bandeng), Umi Komsiyah (Pedagang Kios), Setiawan (Pedagang Kelontong), Suroso (Pedagang Sembako), Sri Maryati (Pedagang sembako), Jumiyem

Sehubungan dengan telah dilakukannya evaluasi dokumen penawaran paket pekerjaan Peningkatan Jalan Dengan Konstruksi HRS-Base dalam kawasan Perumahan RSS Oesapa dan

Divisi Noodle Semarang ” sebagai bahan bahasan dalam laporan ini karena penulis ingin mengetahui proses dan prosedur pengawasan mutu finished goods serta