• Tidak ada hasil yang ditemukan

BS Penyelesaian Sengketa Medik

N/A
N/A
Cendrawasih Langit Mataram

Academic year: 2023

Membagikan "BS Penyelesaian Sengketa Medik"

Copied!
50
0
0

Teks penuh

(1)

PENYELESAIAN

SENGKETA MEDIK

(2)

Sistematika Bahasan Sistematika Bahasan

Sengketa di Rumah Sakit

• Hak atas Tuntutan Ganti Rugi

• Penyelesaian Sengketa yang tersedia

• Konsiliasi dan Model

(3)

Sengketa Di Rumah Sakit Sengketa Di Rumah Sakit

Lingkup sengketa: luas

Internal: ketenagakerjaan, kontrak mitra nakes, kontrak kerja, outsourcing, perilaku profesi, antar profesi, dll

Eksternal: kerjasama RS-RS, RS-Mitra, RS-FK,

RS-Farmasi /alkes, RS/nakes-pasien

(4)

Pasien vs Rumah Sakit Pasien vs Rumah Sakit

Masalah hukum RS – Pasien:

Ketidakpuasan layanan (admin,

akomodasi, sikap-perilaku, kenyamanan, pelecehan, kekerasan

Pelanggaran hak pasien (privasi, informasi, rahasia, keputusan/

persetujuan)

Malpraktik/Kelalaian medis

(5)

ILUSTRASI TUNTUTAN

• Pasien melayangkan somasi kepada RS karena tidak memberitahukan perkiraan biaya

pelayanan kesehatan yang akan dilakukan

terhadapnya, yang ternyata “besarannya luar biasa”.

• Suami pasien menuntut RS karena berbohong dengan mengatakan bahwa isterinya tidak

dirawat dan melahirkan anak di RS tsb

Ilustrasi Kasus

Ilustrasi Kasus

(6)

ILUSTRASI TUNTUTAN

• Pasien menuntut RS dan dokter karena tidak menerapkan pelayanan sesuai SOP sehingga terlambat diagnosis dan terapi.

• Pasien tidak mau pulang dari RS karena ia

merasa masih berhak memperoleh perawatan paliatif di RS.

• Pasien protes karena selama pemeriksaan radiologi, pasien telah dilecehkan dengan hanya diberi baju pengganti tak berkancing

Ilustrasi Kasus

Ilustrasi Kasus

(7)

HAK PASIEN

• Right to medical care of good quality

• Right to freedom of choice

• Right to self determination

• Right to information

WMA DECLARATION OF LISBON ON THE RIGHTS OF THE PATIENT

A

Adopted by the 34dopted by the 34 World Medical Assembly, Lisbon, Portugal, September/October 1981 World Medical Assembly, Lisbon, Portugal, September/October 1981 and amended by the 47

and amended by the 47 WMA General Assembly, Bali, Indonesia, September 1995 WMA General Assembly, Bali, Indonesia, September 1995 and editorially revised by the 171

and editorially revised by the 171 WMA Council Session, Santiago, Chile, October 2005 WMA Council Session, Santiago, Chile, October 2005 and rea rmed by the 200

and rea rmed by the 200 WMA Council Session, Oslo, Norway, April 2015 WMA Council Session, Oslo, Norway, April 2015

PREAMBLE

The relationship between physicians, their patients and broader society has undergone signi cant changes in recent times. While a physician should always act according to his/her conscience, and always in the best interests of the patient, equal e ort must be made to guarantee patient autonomy and justice. The following Declaration represents some of the principal rights of the patient that the medical profession endorses and promotes. Physicians and other persons or bodies involved in the provision of health care have a joint

responsibility to recognize and uphold these rights. Whenever legislation, government action or any other administration or institution denies patients these rights, physicians should pursue appropriate means to assure or to restore them.

PRINCIPLES

1. Right to medical care of good quality

a. Every person is entitled without discrimination to appropriate medical care.

b. Every patient has the right to be cared for by a physician whom he/she knows to be free to make clinical and ethical judgements without any outside interference.

c. The patient shall always be treated in accordance with his/her best interests. The treatment applied shall be in accordance with generally approved medical principles.

d. Quality assurance should always be a part of health care. Physicians, in particular, should accept responsibility for being guardians of the quality of medical services.

e. In circumstances where a choice must be made between potential patients for a particular treatment that is in limited supply, all such patients are entitled to a fair selection procedure for that treatment.

That choice must be based on medical criteria and made without discrimination.

f. The patient has the right to continuity of health care. The physician has an obligation to cooperate in the coordination of medically indicated care with other health care providers treating the patient. The

physician may not discontinue treatment of a patient as long as further treatment is medically indicated, without giving the patient reasonable assistance and su cient opportunity to make alternative

arrangements for care.

2. Right to freedom of choice

a. The patient has the right to choose freely and change his/her physician and hospital or health service institution, regardless of whether they are based in the private or public sector.

b. The patient has the right to ask for the opinion of another physician at any stage.

3. Right to self-determination

a. The patient has the right to self-determination, to make free decisions regarding himself/herself. The physician will inform the patient of the consequences of his/her decisions.

b. A mentally competent adult patient has the right to give or withhold consent to any diagnostic procedure or therapy. The patient has the right to the information necessary to make his/her decisions. The patient should understand clearly what is the purpose of any test or treatment, what the results would imply, and what would be the implications of withholding consent.

c. The patient has the right to refuse to participate in research or the teaching of medicine.

4. The unconscious patient

a. If the patient is unconscious or otherwise unable to express his/her will, informed consent must be obtained whenever possible, from a legally entitled representative.

b. If a legally entitled representative is not available, but a medical intervention is urgently needed, consent of the patient may be presumed, unless it is obvious and beyond any doubt on the basis of the patient’s previous rm expression or conviction that he/she would refuse consent to the intervention in that situation.

th th

th th

st st th

th

• Right to confidentiality

• Right to health education

• Right to dignity

• Right to religious assistance

Hak Pasien (WMA)

Hak Pasien (WMA)

(8)

HAK PASIEN RUMAH SAKIT

• UU No 44 tahun 2009 ttg Rumah Sakit, Pasal 32, antara lain:

Layanan yg manusiawi, adil, jujur, tanpa diskriminasi

Layanan kesehatan yg bermutu sesuai standar profesi dan SOP

Layanan yg efektif dan efisienMengajukan pengaduan

Memilih dokter dan kelas perawatan

Meminta second opinionPrivasi dan kerahasiaanInformasi kesehatannya

Memberi persetujuan atau menolak

Menggugat rumah sakitMengeluhkan di media

Hak Pasien

Hak Pasien

(9)

STANDAR HPK 1

• Rumah sakit memberikan asuhan dengan

menghargai agama, keyakinan dan nilai-nilai pribadi pasien, serta merespons permintaan yang berkaitan dengan bimbingan kerohanian.

(HPK 1.1)

Umumnya hanya merupakan tanggungjawab moral untuk dipenuhi,

Penistaan terhadap agama dapat menjadi perkara pidana

Standar HPK 1

Standar HPK 1

(10)

STANDAR HPK 2

• Pasien diberitahu tentang semua aspek asuhan medis dan tindakan. (HPK 2.1)

• Pasien dan keluarga menerima informasi

tentang penyakit, rencana tindakan, dari DPJP serta para PPA lainnya agar mereka dapat

memutuskan tentang asuhannya. (HPK 2.2)

Frasa “semua aspek” dimaknai sebagai aspek yang secara umum perlu diketahui. Kegagalan menginformasikan dapat masalah

Standar HPK 2

Standar HPK 2

(11)

STANDAR HPK 3

• Rumah sakit memberikan penjelasan kepada pasien dan keluarganya tentang proses untuk menerima, menanggapi, dan menindaklanjuti bila ada pasien menyampaikan keluhan,

konflik, serta perbedaan pendapat tentang pelayanan pasien. Rumah sakit juga

menginformasikan tentang hak pasien untuk berpartisipasi dalam proses ini. (HPK 3)

Standar HPK 3

Standar HPK 3

(12)

STANDAR HPK 4 & 5

• Semua pasien diberi tahu tentang hak serta kewajiban dengan metode dan bahasa yang mudah dimengerti. (HPK 4)

• Pada saat pasien diterima waktu mendaftar rawat jalan dan setiap rawat inap, diminta

menandatangani persetujuan umum ( general consent). Persetujuan umum (general

consent) harus menjelaskan cakupan dan batasannya. (HPK 5)

Standar HPK 4 dan 5

Standar HPK 4 dan 5

(13)

STANDAR HPK 5

• Rumah sakit menetapkan regulasi

pelaksanaan persetujuan khusus (informed consent) oleh DPJP dan dapat dibantu oleh staf yang terlatih dengan bahasa yang dapat dimengerti sesuai dengan peraturan

perundang-undangan. (HPK 5.1)

Kegagalan beri informasi yg adekuat, kegagalan memperoleh persetujuan, dapat dituntut karena kelalaian

Standar HPK 5.1

Standar HPK 5.1

(14)

STANDAR HPK 6

• Rumah sakit memberikan penjelasan kepada pasien dan keluarganya tentang bagaimana cara mendapatkan akses untuk penelitian/uji klinis (clinical trial) yang melibatkan manusia sebagai subjek. (HPK 6.2)

Informasi tentang penelitian klinik metode atau pengobatan baru, terutama bagi pasien yang pada posisi “no choice”. Kegagalan dapat

dianggap melakukan diskriminasi, dan validitas penelitiannya dapat diragukan.

Standar HPK 6.2

Standar HPK 6.2

(15)

STANDAR HPK 7

• Rumah sakit mempunyai sebuah komite etik penelitian untuk melakukan pengawasan atas semua penelitian di rumah sakit tersebut yang melibatkan manusia/pasien sebagai

subjeknya. (HPK 7)

KEPK bukan hanya untuk menerbitkan ethical

clearance, melainkan yg lebih penting mengawasi pelaksanaan penelitian di RS

Kegagalan dapat membawa masalah hukum

Standar HPK 7

Standar HPK 7

(16)

STANDAR HPK 8

• Rumah sakit memberi informasi pada pasien serta keluarga tentang bagaimana memilih untuk

mendonorkan organ dan jaringan lainnya. (HKP 8)

Organ atau jaringan adalah sumber daya

kesehatan yang paling terbatas, dan memiliki rambu yang sangat ketat.

Kegagalan mengikuti aturan yg berlaku dapat menimbulkan masalah hukum

Standar HPK 8

Standar HPK 8

(17)

STANDAR HPK 8

• Rumah sakit menetapkan kebijakan dan prosedur untuk melakukan pengawasan

terhadap proses kemungkinan terjadi jual beli organ dan jaringan. (HPK 8.1)

• Rumah sakit menyediakan pengawasan terhadap pengambilan serta transplantasi organ dan jaringan. (HPK 8.2)

RS membentuk tim advokasi dan seleksi donor, selain tim transplantasi. Pengawasan dilakukan Komite Etik dan Hukum

Standar HPK 8.1 dan 8.2

Standar HPK 8.1 dan 8.2

(18)

Malpraktik Malpraktik

Dugaan Malpraktik umumnya dapat digolongkan ke dalam :

– Melakukan sesuatu tindakan medis tanpa persetujuan

– Melakukan yg seharusnya tidak dilakukan atau tidak melakukan yg seharusnya dilakukan

(kesalahan atau kelalaian)

– Melakukan pembohongan, penyesatan, fraud, atau pidana lain

– Melakukan wanprestasi

(19)

Kelalaian Medik Kelalaian Medik

Ada 4 komponen yang umumnya terjadi:

1. Adanya kewajiban untuk melakukan sesuatu atau untuk tidak melakukan sesuatu pada waktu atau keadaan tertentu

2. Adanya pelanggaran atas kewajiban tersebut

3. Adanya cedera atau kerugian pada pihak pasien 4. Adanya hubungan kausal antara pelanggaran

kewajiban dengan cedera atau kerugian

(20)

Sistematika Bahasan Sistematika Bahasan

• Sengketa di Rumah Sakit

Hak atas Tuntutan Ganti Rugi

• Penyelesaian Sengketa yang tersedia

• Konsiliasi dan Model

(21)

Hak ganti rugi Hak ganti rugi

Pasal 58 ayat (1) UU No 36 / 2009

Setiap orang berhak menuntut ganti rugi terhadap seseorang tenaga kesehatan, dan/atau penyelenggara kesehatan yang menimbulkan kerugian akibat

kesalahan atau kelalaian dalam

pelayanan kesehatan yang diterimanya

(22)

Pengecualian:

Pengecualian:

Pasal 58 ayat (2) UU No 36 / 2009

Tuntutan ganti rugi sebagaimana

dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku

bagi tenaga kesehatan yang melakukan tindakan penyelamatan nyawa atau

pencegahan kecacatan seseorang

dalam keadaan darurat.

(23)

Pengecualian?

Pengecualian?

Pasal 45

(1)Rumah Sakit tidak bertanggung jawab secara hukum apabila pasien dan/atau keluarganya

menolak atau menghentikan pengobatan yang dapat berakibat kematian pasien setelah

adanya penjelasan medis yang komprehensif.

(2) Rumah Sakit tidak dapat dituntut dalam melaksanakan tugas dalam rangka

menyelamatkan nyawa manusia.

(24)

Tanggung Jawab Institusi Tanggung Jawab Institusi

Pasal 46

Rumah Sakit bertanggung jawab secara hukum terhadap semua kerugian yang

ditimbulkan atas kelalaian yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di Rumah Sakit.

tanggungjawab institusi RS dianggap sama dg

konsep respondeat superior. Benarkah?

(25)

Tanggungjawab Institusi Tanggungjawab Institusi

Bila diartikan sebagai respondeat superior (1367 KUHPer)

Pegawai RS

– Bertanggungjawab kepada RS – Terikat UU Ketenagakerjaan

– Termasuk Pasal 1367 KUHPerdata

Bukan pegawai RS

– Terikat KUHPerdata : Perjanjian kerja/mitra. Bila memenuhi

“kriteria tertentu” (kendali), dapat diberlakukan Pasal 1367

KUH Per

(26)

ALASAN GUGATAN PERDATA ALASAN GUGATAN PERDATA

PS 1365 KUH PERDATA :

Tiap perbuatan melanggar hukum, yang membawa kerugian kepada orang lain, mewajibkan orang

yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu, menggantinya

PS 1366 KUH PERDATA

– Juga yang disebabkan kelalaian

PS 1367 KUH PERDATA

– Juga akibat respondeat superior

PS 1338 KUH PERDATA: WANPRESTASI

(27)

ALASAN GUGATAN PERDATA ALASAN GUGATAN PERDATA

PS 1370 KUH PERDATA :

– Dalam hal kematian akibat kesengajaan atau

kelalaian, ahli waris berhak menuntut ganti rugi, yg dinilai menurut kedudukan & kekayaan kedua pihak

PS 1371 KUH PERDATA :

– Dalam hal luka / cacat, ganti rugi : biaya

penyembuhan dan kerugian akibat luka / cacat

tersebut

(28)

Sistematika Bahasan Sistematika Bahasan

• Sengketa di Rumah Sakit

• Hak atas tuntutan Ganti Rugi

Penyelesaian sengketa yang tersedia

• Konsiliasi dan Model

(29)

Penyelesaian Sengketa Penyelesaian Sengketa

Perkembangan hukum kesehatan RI tidak

menawarkan paradigma baru ataupun tata cara

penyelesaian yang “lex specialis” (liability system?)

Mediasi yang diwajibkan UU Kesehatan /UURS masih tetap diartikan sebagaimana diatur dalam peraturan perundangundangan

Tidak ada peradilan profesi, tidak ada imunitas

pidana, tidak ada plafon ganti rugi (cap), dan tidak

ada cap success-fee

(30)

Tanggungjawab Institusi Tanggungjawab Institusi

• Bertanggungjawab adalah tanda Akuntabel

• Apabila Anda berkendara, menabrak seseorang

pengguna lalu-lintas lain, terluka. Apa yang akan Anda lakukan?

1. Berhenti, menolong korban, bawa ke Faskes, bayarin yankes?

2. Kabur?

• Bagaimana bila anda melakukan tindakan medis, lalai,

berakibat cedera atau kerugian?

(31)

Penyelesaian Sengketa Penyelesaian Sengketa

• Litigasi (Peradilan Perdata)

• Non Litigasi (ADR)

– Arbitrasi – Konsiliasi – Mediasi – Fasilitasi – Negosiasi

Sistematika dan jenis ADR yang ditawarkan dapat berbeda dari satu

negara ke negara lainnya, demikian pula tata cara pelaksanaannya

(32)

Penyelesaian Sengketa Penyelesaian Sengketa

• ADR dipilih atau diajukan oleh karena memiliki keunggulan:

– Lebih cepat, lebih murah, dan lebih sederhana

– Lebih bersifat “bersahabat” dan tidak menimbulkan sikap “bermusuhan”

– Lebih mementingkan kepentingan daripada salah-benar

(To prevent undue cost and delay, To relieve court congestion, To facilitate access to justice, To provide effective dispute

resolution)

(33)

Penyelesaian Sengketa Penyelesaian Sengketa

Arbitrasi:

Penyelesaian sengketa alternatif dimana para pihak yang bersengketa menyatakan ketidaksepakatan mereka kepada seorang atau beberapa orang arbitrator. Arbitrator kemudian akan memutuskan penyelesaian sengketa diantara mereka

Konsiliasi:

Penyelesaian sengketa alternatif dimana para pihak yang

bersengketa menyatakan ketidaksepakatan mereka kepada

Konsiliator. Konsiliator memfasilitasi diskusi dan menawarkan

opsi penyelesaian untuk disepakati para pihak

(34)

Penyelesaian Sengketa Penyelesaian Sengketa

Mediasi:

Penyelesaian sengketa alternatif dimana para pihak yang bersengketa menyatakan ketidaksepakatan mereka kepada Mediator. Mediator memfasilitasi diskusi untuk menemukan opsi penyelesaian yang dapat disepakati para pihak.

Arbitrator, Konsiliator dan Mediator adalah pihak ketiga yang tidak memihak yang disepakati oleh para pihak.

Perannya berbeda sesuai dengan Namanya atau nama

proses ADR nya

(35)

Penyelesaian Sengketa Penyelesaian Sengketa

Negosiasi:

Penyelesaian sengketa alternative (ADR) yang dilakukan langsung antara para pihak, tanpa pihak ketiga, dengan cara bernegosiasi.

Ilmu negosiasi tidak diajarkan, lebih bersifat

keahlian alami.

(36)

Sistematik Bahasan Sistematik Bahasan

• Sengketa di Rumah Sakit

• Hak atas Tuntutan Ganti Rugi

• Penyelesaian Sengketa yang tersedia

Konsiliasi dan Model

(37)

Analisis Medikolegal?

Analisis Medikolegal?

• Setiap adverse event harus dianalisis dari sisi teknis medis agar dapat diketahui akar

masalahnya.

• Apabila disebabkan oleh human error, baru dinilai, apakah telah terjadi kelalaian (duty, dereliction of duty, damage, dan direct causalship).

• Barulah kemudian dapat dinilai apakah error tsb dapat dipertanggungjawabkan .

Richard Smith, BMJ

(38)

ANALISIS MEDIKOLEGAL ANALISIS MEDIKOLEGAL

• Adakah Error atau Violation? Bukti?

• Bagaimana posisi hukumnya? Defensible?

Hubungan dg pasien?

• Adakah kemungkinan tuntutan hukum? Pidana atau Perdata? Seberapa “besar” tuntutannya?

• Pertimbangkan penyelesaian yg efektif dan efisien. Dampak bagi dokter, RS, profesi?

• Tentukan langkah-langkahnya

(39)

KASUS DIANALISIS SECARA MEDIKOLEGAL DAN DINILAI

POSISI HUKUMNYA

KASUS DIANALISIS SECARA MEDIKOLEGAL DAN DINILAI

POSISI HUKUMNYA

KASUS HITAM KASUS KELABU KASUS PUTIH

PERDATA:

NON LITIGASI LITIGASI

?

Defensibilias

Keterjangkauan

(40)

INTERNAL RESOLUTION

System thinking

INTERNAL RESOLUTION

System thinking

NEGLECT / USED WRONG PROCEDURE

DID NOT KNOW CORRECT

PROCEDURE

KNEW CORRECT PROCEDURE

NEVER KNEW

FORGOT

LACKED EXPERIENC E

LACKED

INFORMATION

LACKED

TRAINING OR PRACTICE

LACKED TRAININ G

MANAGEMENT ACTION TO CORRECT THE SYSTEM

DELIBERATE, INTENTIONAL

TOLERATED

PRESSURES

LACKED

DISCIPLINE

PUNISHMENT

(41)

UU 36/2009 UU 36/2009

Pasal 29

• Dalam hal tenaga kesehatan diduga

melakukan kelalaian dalam menjalankan profesinya, kelalaian tersebut harus

diselesaikan terlebih dahulu melalui mediasi.

sengketa

akibat

(42)

UU 30/1999 Arbitrase & APS UU 30/1999 Arbitrase & APS

Pasal 6

• (1) Sengketa atau beda pendapat perdata dapat diselesaikan oleh para pihak melalui alternatif penyelesaian sengketa yang didasarkan pada itikad baik dengan mengesampingkan penyelesaian secara litigasi di Pengadilan Negeri.

• (2) Penyelesaian sengketa atau beda pendapat melalui alternatif penyelesaian sengketa sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)

diselesaikan dalam pertemuan langsung oleh para pihak dalam waktu paling lama 14 (empat belas) hari dan hasilnya dituangkan dalam

suatu kesepakatan tertulis.

• (3) Dalam hal sengketa atau beda pendapat sebagaimana dimaksud

dalam ayat (2) tidak dapat diselesaikan, maka atas kesepakatan tertulis

para pihak, sengketa atau beda pendapat diselesaikan melalui bantuan

seorang atau lebih penasehat ahli maupun melalui seorang mediator.

(43)

UU 30/1999 Arbitrase & APS UU 30/1999 Arbitrase & APS

• (6) Usaha penyelesaian sengketa atau beda pendapat melalui mediator sebagaimana dimaksud dalam ayat (5) dengan

memegang teguh kerahasiaan, dalam waktu paling lama 30 ( tiga puluh ) hari harus tercapai kesepakatan dalam bentuk tertulis yang ditandatangani oleh semua pihak yang terkait.

• (7) Kesepakatan penyelesaian sengketa atau beda pendapat secara tertulis adalah final dan mengikat para pihak untuk dilaksanakan dengan itikad baik serta wajib didaftarkan di Pengadilan Negeri dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak

penandatanganan.

• (8) Kesepakatan penyelesaian sengketa atau beda pendapat

sebagaimana dimaksud dalam ayat (7) wajib selesai dilaksanakan

dalam waktu paling lama 30 ( tiga puluh) hari sejak pendaftaran.

(44)

Perma No 1 / 2008 Perma No 1 / 2008

Mediasi adalah cara penyelesaian sengketa melalui proses perundingan untuk memperoleh

kesepakatan para pihak dengan dibantu oleh mediator (Pasal 1 angka 7)

• Para pihak dengan bantuan mediator wajib

merumuskan secara tertulis kesepakatan yang

dicapai dan ditandatangani oleh para pihak, yang memuat klausul pencabutan perkara atau

pernyataan perkara telah selesai (Ps 17 ayat (1)(6))

(45)

BPRS Provinsi BPRS Provinsi

Pasal 60

Badan Pengawas Rumah Sakit Provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 ayat (1) bertugas :

• a. mengawasi dan menjaga hak dan kewajiban pasien di wilayahnya;

• b. mengawasi dan menjaga hak dan kewajiban Rumah Sakit di wilayahnya;

• c. mengawasi penerapan etika Rumah Sakit, etika profesi, dan peraturan perundang-undangan;

• d. melakukan pelaporan hasil pengawasan kepada Badan Pengawas Rumah Sakit Indonesia;

• e. melakukan analisis hasil pengawasan dan memberikan rekomendasi kepada Pemerintah Daerah untuk digunakan sebagai bahan pembinaan;

dan

• f. menerima pengaduan dan melakukan upaya penyelesaian sengketa

dengan cara mediasi.

(46)

BPRS Provinsi BPRS Provinsi

Peraturan Pemerintah No 47 tahun 2013:

1. BPRS Provinsi dibentuk oleh Gubernur apabila terdapat sekurang-kurangnya 10 rumah sakit dalam satu provinsi

2. Dalam hal BPRS Provinsi belum terbentuk, tugas dan fungsinya dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Provinsi

3. Keanggotaan BPRS Provinsi terdiri dari unsur

Pemda, Asosiasi rumah sakit, Organisasi Profesi

bidang Kesehatan, Tokoh Masyarakat

(47)

Conciliation is an

alternative out-of-court dispute resolution

instrument.

Like mediation,

conciliation is a voluntary, flexible, confidential, and interest based process

Concilliation

KONSILIASI

KONSILIASI

(48)

The main difference between conciliation and mediation

proceedings is that, at some point during the conciliation, the conciliator will be asked by the parties to provide

them with a non-binding settlement proposal.

Apakah perbedaannya dengan mediasi?

KONSILIASI

KONSILIASI

(49)

PROSES KONSILIASI PROSES KONSILIASI

• Konsiliator

memperkenalkan diri, buat ground rule

• Pengaju complain bicara dulu, pihak RS diam

• RS memberi jawaban

• Konsiliator buat resume isu dari kedua pihak

• Konsiliator meminta pihak mengusulkan opsi

penyelesaian yg mungkin

• Diskusi antar pihak

• Konsiliator mendorong para pihak memperjelas isu,

eksplore opsi yang mungkin

• Bila perlu dilakukan

pertemuan terpisah untuk memperoleh privasi

• Bila opsi penyelesaian memungkinkan, buat kesepakatan

• Tandatangani kesepakatan

(50)

Take Home Message Take Home Message

• Ganti rugi atas cedera atau kerugian akibat kesalahan atau kelalaian tenaga kesehatan adalah bentuk

akuntabilitas kinerja tenaga kesehatan atau fasilitas kesehatan

• Penyelesaian dilakukan dengan pilihan beberapa cara, sesuai peraturan perundang-undangan

• KONSILIASI adalah varian Mediasi, yang bila dilakukan dengan baik dan terarah dapat

menyelesaikan sengketa dengan cepat, murah, tepat guna, pelihara hubungan dan mendukung upaya

patient safety

Referensi

Dokumen terkait

“Dalam hal Tenaga Kesehatan diduga melakukan k elalaian dalam menjalankan profesinya yang menyebabkan kerugian kepada penerima pelayanan kesehatan, perselisihan yang

Bahkan dalam Pasal 29 butir (e) disebutkan bahwa konsumen listrik berhak mendapat ganti rugi apabila terjadi pemadaman listrik akibat kesalahan/ kelalaian

Tanggung jawab terhadap ganti rugi pelaku usaha jasa parkir terhadap kendaraan yang hilang berdasarkan kesalahan/kelalaian pelaku usaha jasa parkir yaitu pelaku

Bahkan dalam Pasal 29 butir (e) disebutkan bahwa konsumen listrik berhak mendapat ganti rugi apabila terjadi pemadaman listrik akibat kesalahan/ kelalaian

laundry ,kerugian konsumen akibat kelalaian pelaku usaha jasa laundry .Bentuk tanggung jawab pelaku usaha pada konsumen adalah dengan memberikan kompensasi atau ganti rugi

laundry ,kerugian konsumen akibat kelalaian pelaku usaha jasa laundry .Bentuk tanggung jawab pelaku usaha pada konsumen adalah dengan memberikan kompensasi atau ganti rugi

Terhadap kerugian yang diderita oleh pihak ketiga karena kelalaian Likuidator, upaya hukum yang dapat dilakukan oleh pihak ketiga adalah gugatan ganti

Pertanggung jawaban negara bersifat melekat pada negara tersebut, artinya negara wajib memberikan ganti rugi manakala terjadi kerugian akibat kelalaian yang dilakukan oleh negara,