• Tidak ada hasil yang ditemukan

budaya peran domestik keluarga di kecamatan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "budaya peran domestik keluarga di kecamatan"

Copied!
141
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Zainal dalam penelitiannya tentang dominasi laki-laki terhadap perempuan Bugis (Catatan Kritis tentang Marginalisasi Perempuan dalam Budaya Bugis). Di dalam Al-Qur'an terdapat beberapa ayat yang berkaitan dengan peran antara laki-laki dan perempuan, termasuk peran antara suami dan istri. Laki-laki (laki-laki) bertanggung jawab terhadap perempuan (perempuan) karena Allah telah memilih sebagian dari mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan) dan karena mereka (laki-laki) menafkahkan sebagian hartanya.

Berdasarkan analisis peneliti, stratifikasi peran laki-laki dan perempuan yang timpang di Kecamatan Cenrana tergolong dalam kategori patriarki privat.

Deskripsi Fokus dan Fokus Penelitian

Rumusan Masalah

Bagaimana pandangan hukum keluarga Islam dan gaya hidup modern terhadap peran domestik keluarga di Kecamatan Cenrana Kabupaten Maros.

Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat mempertimbangkan pemikiran para tokoh agama dan budaya khususnya di Kecamatan Cenrana Kabupaten Maros mengenai kedudukan laki-laki dan perempuan dalam masyarakat. Khusus bagi masyarakat Bugis Makassar, penelitian ini diharapkan mampu menyadarkan kita akan hakikat nilai-nilai budaya yang harus dijaga dan kesesuaiannya dengan gaya hidup modern saat ini. Bagi masyarakat pada umumnya, baik yang sudah mempunyai maupun ingin berkeluarga, penelitian ini diharapkan mampu memberikan solusi bagaimana pembagian peran dalam keluarga.

Garis Besar Isi Tesis

Bab keempat berisi tentang hasil penelitian dan pembahasan, bab ini berisi tentang uraian hasil penelitian dan pembahasan.

TINJAUAN PUSTAKA

Penelitian yang Relevan

21 Zainal, “Dominasi Laki-Laki terhadap Perempuan Bugis (Catatan Kritis Terhadap Marginalisasi Perempuan dalam Budaya Bugis)” Dalam Jurnal Etnoreflika, Volume 5, Nomor 03, Oktober 2016, hal. Penelitian Musyfikah Ilyas yang berjudul Peran Perempuan Bugis dalam Dunia Perspektif Hukum Hukum Keluarga Islam menjelaskan tentang jati diri perempuan Bugis yaitu siri' sipakatau, sipakalebbi, sipakainge Perspektif hukum keluarga Islam menjelaskan bahwa peran perempuan Bugis baik dalam keluarga maupun masyarakat tetap mengedepankan ajarannya. keadilan, kesetaraan dan demokrasi.23.

23 Musyfikah Ilyas, “Peranan Perempuan Bugis Dalam Perspektif Hukum Keluarga Islam”, dalam Jurnal Al-Risala, Volume 19, Nomor 01, Mei 2019, hal.

Analisis Teoritis

Setiap aspek kehidupan Bugis Makassar pasti memiliki norma-norma pannggadereng, termasuk dalam lingkungan keluarga yang membagi peran antara laki-laki dan perempuan dalam rumah tangga. Jika perempuan dan laki-laki menjalankan perannya masing-masing sesuai dengan norma masyarakat Bugis Makassar, maka akan tercipta keharmonisan dan kedamaian dalam rumah tangga. Al-Qur'an sebagai pedoman hidup menjelaskan bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai kedudukan yang sama.

Gerakan feminis telah mempengaruhi gaya hidup banyak perempuan saat ini yang menginginkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Paradigma dalam penelitian ini didasarkan pada pemikiran dialektis integratif untuk memahami hukum keluarga Islam secara komprehensif, khususnya dalam pembagian peran antara laki-laki dan perempuan dalam keluarga. Setiap aspek kehidupan pasti mempunyai norma pannggadereng (panggadakkang), bahkan dalam lingkungan keluarga dimana peran rumah tangga terbagi antara laki-laki dan perempuan.

Data hasil wawancara tersebut digunakan untuk menganalisis peran yang ada antara laki-laki dan perempuan. Peran perempuan dan laki-laki dalam masyarakat Cenrana tidak lepas dari praktik dan pemahaman nenek moyang mereka. Jadi, menurut masyarakat Cenran, sosok laki-laki dan perempuan mempunyai karakter dan peran tertentu yang sudah dipetakan.

Pada dasarnya jika perempuan dan laki-laki menjalankan perannya masing-masing sesuai dengan norma masyarakat Bugis Makassar maka akan tercipta keharmonisan dan kedamaian dalam rumah tangga. Faktanya keterlibatan laki-laki dalam urusan rumah tangga di Kecamatan Cenrana masih dianggap sesuatu karena erat kaitannya dengan budaya siri'. Al-Nahl/16: 90, keterlibatan laki-laki di sektor domestik harus dimaknai sebagai bentuk keadilan yang diberikan kepada perempuan yang turut serta mencari nafkah.

Temuan penelitian ini mempertimbangkan pemikiran umat beragama dan budayawan khususnya di Kecamatan Cenrana Kabupaten Maros mengenai kedudukan laki-laki dan perempuan dalam masyarakat.

Kerangka Teoritis Penelitian

METODE PENELITIAN

  • Jenis Pendekatan Penelitian
  • Paradigma Penelitian
  • Sumber Data
  • Waktu dan Lokasi penelitian
  • Intsrumen Penelitian
  • Tahapan Pengumpulan Data
  • Teknik Pengumpulan Data
  • Teknik Pengolahan dan Analisis Data
    • Teknik Pengujian Keabsahan Data

Kecamatan Cenrana mempunyai 7 desa dengan jumlah penduduk 14716 jiwa dengan informasi 7455 perempuan dan 7125 laki-laki dengan jumlah 3616 KK. Kondisi perempuan yang demikian menjadikan peran laki-laki di sektor domestik sebagai sesuatu yang sangat diidamkan dan dikagumi, namun disisi lain hal tersebut masih dianggap sebagai sesuatu yang tidak wajar. Di sisi lain, keputusannya untuk mengambil peran di sektor publik tidak mendapat respons berimbang dari laki-laki.

Keadaan ini mengakibatkan terjadinya stratifikasi peran yang tidak setara, dimana perempuan mempunyai peran yang lebih banyak dibandingkan laki-laki. Perempuan bersedia terlibat dalam urusan publik, namun masih belum wajar jika laki-laki terlibat dalam urusan rumah tangga. Dalam ayat di atas dipahami bahwa laki-laki bekerja untuk mencari nafkah di sektor publik, maka hendaknya perempuan berada di sektor rumah tangga agar terjadi keseimbangan dan keselarasan dalam penyelenggaraan rumah tangga.

Pekerjaan rumah tangga bukanlah hal yang wajar, melainkan suatu keterampilan yang harus dimiliki laki-laki dan perempuan, sehingga dalam rumah tangga baik istri maupun suami dapat menggunakan keterampilan tersebut dan saling membantu. Bukan hal yang aneh jika laki-laki bekerja di rumah tangga dalam sebuah keluarga, sebagaimana lumrahnya seorang istri menghidupi keluarganya. Jika menganut prinsip timbal balik, maka siri' bagi perempuan tidak boleh kehilangan nilai jika laki-laki membantu rumah tangga.

Keterlibatan laki-laki di ranah domestik hendaknya disikapi secara positif sebagai bentuk saling membantu dan bersikap baik terhadap pasangannya. Kebudayaan Bugis Makassar memerlukan kajian lebih lanjut untuk memahami ajaran budayanya dengan menyesuaikan dengan kondisi gaya hidup saat ini seperti Ketika perempuan ikut terlibat dalam mencari nafkah, tentu tidak salah jika laki-laki juga ikut membantu urusan domestik keluarga.

HASIL PENELITIAN

Stratifikasi Peran Laki-laki dan Perempuan di Masyarakat

Dari informasi yang disampaikan oleh Ibu Fatimah terlihat jelas bahwa terdapat perbedaan stratifikasi peran antara laki-laki dan perempuan di Desa Baji Pa'mai, dimana perempuan dikatakan terlibat dalam mencari nafkah, namun belum ada informasinya. tentang keterlibatan laki-laki dalam rumah tangga domestik. pekerjaan. Tanggapan informan menunjukkan bahwa keterlibatan laki-laki dalam peran domestik hanya sekedar harapan bagi informan karena tidak ada informasi yang jelas mengenai keterlibatannya. HPI: “Iya, perempuan nggak jadi ibu bagi laki-laki” (tertawa) DSR: “Cuma di sini, semuanya perempuan, semuanya perempuan.

Menurut Sylvia Walby, patriarki privat terjadi dalam urusan rumah tangga dimana laki-laki yang berperan sebagai ayah atau suami akan mengambil keuntungan lebih banyak dibandingkan perempuan yang berperan sebagai istri atau ibu. Pertentangan tersebut ditunjukkan oleh para orang tua yang beranggapan bahwa keterlibatan laki-laki dalam ranah domestik akan membawa banyak hal buruk bagi keluarga, khususnya hubungan suami-istri. Peneliti kemudian menyimpulkan dari keterangan informan bahwa persepsi masyarakat setempat terhadap peran laki-laki di sektor rumah tangga sebenarnya dianggap sebagai sesuatu yang tidak wajar, sangat berbeda dengan perempuan yang ikut mencari nafkah dengan membantu tugas pokok suami, hal ini dianggap biasa. dan sangat jarang mendapat pujian.

Laki-laki Bugis Makassar dituntut mampu mencari nafkah untuk keluarganya, maka dari itu laki-laki yang akan menikah diwajibkan mampu mattuliwi Dapureng wekka petu (berkeliling dapur sebanyak tujuh kali). Artinya laki-laki Bugis Makassar wajib memenuhi kebutuhan keluarganya, sedangkan perempuan yang akan menikah dengan Dapureng Hilang (Macca Maddapureng) diwajibkan yaitu mampu mengatur dan menjalankan tugas-tugas rumah tangga khususnya dapur. Dulu perempuan lebih fokus pada peran domestik, seperti halnya laki-laki yang lebih fokus pada sektor publik, namun saat ini hampir tidak ada perbedaan peran antara laki-laki dan perempuan di sektor publik. KHI semakin menegaskan pandangan dominan dalam fikih yang menempatkan perempuan sebagai subordinat laki-laki dalam hal kewajiban suami-istri.

Beberapa pakar reformasi bidang kajian hukum Islam menyikapi budaya peran keluarga yang terkadang timpang antara perempuan dan laki-laki. Landasan hukum yang dihasilkan muncul dari analisis teks hukum yang komprehensif dan proporsional serta dari perhatian terhadap manfaat yang seharusnya dirasakan oleh laki-laki dan perempuan. Misalnya perbedaan alat reproduksi wanita dan pria akan menyebabkan perbedaan fungsi diantara keduanya.

Masyarakat Cenrana juga meyakini bahwa siri' laki-laki mampu menghidupi keluarganya, namun siri' yang dimiliki laki-laki juga tidak kalah bagusnya karena adanya peran serta perempuan di dalamnya.

Resistensi Budaya Patriari Terhadap Lifestyle Perempuan Modern

Pandangan Hukum Keluarga Islam Terhadap Peran Domestik Keluarga

PENUTUP

Simpulan

Stratifikasi peran rumah tangga keluarga pada masyarakat Cenrana Kabupaten Maros didominasi oleh perempuan baik yang berperan sebagai istri maupun yang telah menjadi ibu. Resistensi budaya patriarki terhadap gaya hidup modern perempuan ditunjukkan oleh sebagian kalangan disebabkan oleh kuatnya pendidikan budaya di masyarakat mengenai karakter perempuan yang lebih mampu di bidang domestik serta didukung oleh pemahaman agama dan aturan normatif yang mengharuskannya. perempuan untuk tunduk secara jasmani dan rohani kepada suaminya. Peran keluarga bagi perempuan diyakini bersifat siri' dan erat kaitannya dengan keyakinan agama di Kecamatan Cenrana, sehingga keterlibatan suami dalam ranah domestik diyakini melanggar aturan agama.

Beberapa ayat Al-Qur’an menyebutkan bahwa peran-peran tertentu secara spesifik hanya dimainkan oleh perempuan atau laki-laki, namun hal ini tidak menunjukkan adanya prioritas di antara keduanya. Jika dianalisa secara komprehensif dan proporsional, seharusnya laki-laki juga wajib terlibat dalam urusan rumah tangga jika perempuan terlibat dalam penghidupan.

Implikasi

Rekomendasi

Jawaban: Tugas seorang wanita, selain mengurus rumah, terutama membantu suami mencari nafkah. Jawaban: Menurut saya tidak masalah asal suami istri ikhlas saling membantu, justru akan tercipta keharmonisan dalam keluarga. 15. Jawaban: Terbentuknya keluarga SAMAWA dalam keluarga bisa saja terjadi. karena adanya saling mendukung dan pengertian antara suami dan istri mengenai perannya masing-masing, misalnya suami, tugas utamanya adalah sebagai kepala keluarga dimana ia harus bertanggung jawab untuk menafkahi keluarganya, namun mungkin saja wanita itu bisa membantu, tapi itu tidak nyaman.

Jawaban: Saling berbagi tugas sesuai peran masing-masing dan bila diperlukan dapat saling membantu dalam mengerjakan tugas. Jawaban: Mencari nafkah adalah tanggung jawab laki-laki, namun TDK melarang perempuan membantu keluarga. Jawaban: Meski mencuci, memasak, dan mengurus rumah, para pria juga menyadari bahwa mereka harus saling membantu sebagai pasangan.

Jawaban: Peran laki-laki adalah sebagai kepala rumah tangga, sedangkan peran perempuan adalah sebagai ibu rumah tangga, kepala dan ibu bekerja sama dengan baik dalam setiap pekerjaan. Jawaban: Karena anak membutuhkan kasih sayang orang tua, dalam keluarga yang bertugas mencuci, memasak dan mengurus kebutuhan rumah tangga. Jawaban : Untuk saling membantu pekerjaan, ada kalanya istri mampu membantu pekerjaan suami, begitu pula sebaliknya.

Referensi

Dokumen terkait

Dari empat informan pasangan suami istri beda agama, diperoleh kesimpulan, Ada 2 variasi interaksi keagamaan pasangan orangtua beda agama yaitu pasangan suami istri

Dalam penelitian ini, peneliti bermaksud untuk mengetahui alasan suami berpoligami, alasan istri mengijinkan suaminya berpoligami dan perilaku coping yang dilakukan oleh

Teluk Seberang Kota Jambi adalah mewujudkan hubungan yang baik/harmonis antara suami istri, dapat dicapai antara lain melalui: adanya saling pengertian, saling menerima

Disisi lain dapat dipandang sebagai reformasi substantif, karena seorang suami yang kawin lagi dengan wanita lain tanpa persetujuan  istri pertama dijadikan alasan

Teluk Seberang Kota Jambi adalah mewujudkan hubungan yang baik/harmonis antara suami istri, dapat dicapai antara lain melalui: adanya saling pengertian, saling menerima

Pada ayat pertama, sebagai seorang partner hidup, maka suami istri selayaknya menunjukkan sikap saling tolong-menolong, saling membantu dalam menjalankan perannya

Informan dalam penelitian ini 24 (Dua Puluh Empat) orang yaitu keluargaterpisah sebanyak 15 orang diantaranya suami 6 orang, istri 7 orang dan anak 2 orang, orang

Jarak yang jauh tentu bukan menjadi suatu alasan untuk suami melakukan kewajibannya terhadap istri terutama dari segi perhatian, bagi pasangan pekerja tambak udang sukarami semua