• Tidak ada hasil yang ditemukan

Buku Petunjuk Praktikum Layanan Kefarmasian

N/A
N/A
salsabila putri aulia

Academic year: 2025

Membagikan " Buku Petunjuk Praktikum Layanan Kefarmasian"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

BUKU PETUNJUK PRAKTIKUM LAYANAN KEFARMASIAN SEMESTER GASAL 2023/2024

Dosen Pengampu :

apt. Nia Kurnia Sholihat, M.Sc.

apt. Vitis Vini Fera RU, M.Sc.

apt. Masita Wulandari S, M.Sc.

apt. Nurina Mayasari, MHLM, Extn.

JURUSAN FARMASI

FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

PURWOKERTO

2023

(2)

SILABUS

Tahun akademik : 2023/2024

Semester : VII

Nama Mata Kuliah : Layanan Kefarmasian Kode Mata Kuliah : FAM166704

SKS : 3 (2 – 1)

Prasyarat : Konseling dan Farmakoterapi 1 Deskripsi singkat Praktikum Konseling :

Mahasiswa farmasi yang menempuh mata kuliah Layanan Kefarmasian wajib untuk mengikuti praktikum. Pada saat praktikum, mahasiswa akan menyelesaikan kasus DRP pada ibu hamil dan menyusui, geriatrik, pediatrik, dan neonatus, serta mendemonstrasikan cara berkomunikasi yang efektif dan etis antara apoteker dengan tenaga kesehatan lain serta farmasis dengan pasien.

Capaian Pembelajaran Mata Kuliah:

1. CPMK 1: Mampu menjelaskan pengertian, sejarah, dan filosofi pelayanan kefarmasian

2. CPMK 3: Mampu mendeteksi dan menyelesaikan drug related problem 3. CPMK 4: Mampu menganalisis kasus swamedikasi

4. CPMK 6: Mampu menganalisis permasalahan layanan kefarmasian pada pasien khusus, yaitu pasien lansia, pasien anak dan neonates, dan pasien hamil dan menyusui

(3)

TATA TERTIB PRAKTIKUM LAYANAN KEFARMASIAN

1. Mahasiswa datang maksimal 10 menit sebelum praktikum dimulai.

2. Praktikum akan dilaksanakan secara luring dan bertempat di ruang kelas Gedung Integrated Academic Building (IAB) lantai 7.

3. Mahasiswa berpakaian rapi dan sopan:

a. Memakai jas praktikum.

b. Memakai kemeja, celana bahan kain untuk mahasiswa laki-laki dan memakai rok bahan kain untuk mahasiswa perempuan, dilarang menggunakan bahan denim baik atasan maupun bawahan.

c. Memakai sepatu tertutup (tidak boleh sepatu sandal).

d. Rambut tidak boleh dicat.

e. Bagi mahasiswa laki-laki, rambut tidak boleh melebihi batas kerah baju dan tidak boleh memakai asesoris apapun.

f. Selama praktikum tidak menggunakan masker, kecuali yang sedang tidak sehat.

4. Satu Kelas akan dibagi menjadi 2 golongan, yaitu golongan A dan B. Tiap golongan akan dibagi menjadi 5 kelompok.

5. Mahasiswa wajib menjaga ketenangan dan menghindari hal-hal yang dapat menghambat atau menggagalkan setiap acara praktikum.

6. Sebelum praktikum mahasiswa wajib mempelajari materi praktikum yang akan dilaksanakan.

7. Dosen berhak melarang mahasiswa mengikuti praktikum konseling farmasi jika terbukti secara nyata dan dapat dipertanggungjawabkan melanggar tata tertib ini.

(4)

PETUNJUK TEKNIS PELAKSANAAN PRAKTIKUM LAYANAN KEFARMASIAN

A. Pembagian Kelompok

Mahasiswa dibagi menjadi kelompok yang terdiri dari maksimal 5 mahasiswa per kelompok. Kelas akan dibagi menjadi 2 golongan, yaitu golongan A dan golongan B, masing- masing terdapat 5 kelompok.

B. Jadwal Pelaksanaan

Jadwal pelaksanaan praktikum adalah sebagai berikut :

Pertemuan Topik Golongan

P1 Pendahuluan Semua

P2 Desain Layanan Kefarmasian pada pasien geriatri A P3 Desain Layanan Kefarmasian pada pasien geriatri B

P4 Presentasi Semua

P5 Desain Layanan Kefarmasian pada pasien pediatri B P6 Desain Layanan Kefarmasian pada pasien pediatri A

P7 Presentasi Semua

P8 Desain Layanan Kefarmasian pada pasien ibu hamil dan menyusui A P9 Desain Layanan Kefarmasian pada pasien ibu hamil dan menyusui B

P10 Presentasi Semua

P11 Desain Layanan Kefarmasian pada pasien geriatric II B P12 Desain Layanan Kefarmasian pada pasien geriatric II A

P13 Presentasi Semua

P14 Responsi (individu) Semua

C. Teknis Pelaksanaan

Berikut adalah teknis pelaksanaan praktikum konseling farmasi:

1. Praktikum akan dilaksanakan secara luring dan bertempat di ruang kuliah Gedung Integrated Academic Building (IAB) lantai 7 dan lantai 4 (untuk responsi).

2. Setiap kelompok melakukan praktikum dengan tema yang sama (geriatric, pediatri, ibu hamil dan menyusui) pada setiap pertemuan praktikum, akan tetapi dengan detail kasus yang berbeda.

3. Sebelum praktikum mahasiswa wajib melakukan hal-hal sebagai berikut:

a. Mempelajari materi yang akan dipraktikumkan.

b. Membuat daftar pertanyaan untuk melakukan penggalian informasi, membuat daftar kemungkinan jawaban pasien, dan kemungkinan solusi atas permasalahan tersebut secara berkelompok.

(5)

c. Menunjuk satu orang mahasiswa yang akan bertugas untuk melakukan penggalian informasi pada pasien dan/atau dokter simulasi.

4. Pada saat pertemuan praktikum Desain Layanan Kefarmasian, setiap mahasiswa akan melakukan tugas berikut:

a. Mempraktekkan penggalian informasi kepada pasien dan/atau dokter simulasi.

b. Membuat rangkuman hasil yang diperoleh dari penggalian informasi dan menyelesaikan permasalahan kasus tersebut. Tuliskan pula hal-hal lain yang perlu disampaikan terkait pengobatan yang disarankan, seperti KIE, monitoring, dan tindak lanjut.

c. Meminta acc kepada dosen atas solusi yang disarankan.

5. Pada pertemuan praktikum Presentasi, setiap kelompok akan melakukan presentasi terhadap kasus yang telah diselesaikan. Waktu presentasi setiap kelompok maksimal 10 menit. Presenter ditentukan oleh dosen jaga.

6. Pada saat presentasi, kelompok lain bertugas untuk membuat rangkuman dan memberikan feedback atau masukan.

7. Seluruh daftar pertanyaan (sebelum praktikum Desain Layanan Kefarmasian), rangkuman (setelah praktikum penyelesaian kasus), bahan presentasi dan rangkuman presentasi diunggah masing-masing individu di Eldiru secara langsung.

D. Metode Evaluasi

Penilaian diberikan oleh dosen dengan menggunakan “Rubrik Penilaian Praktikum Layanan Kefarmasian”. Nilai yang diberikan mempunyai rentang 0 sampai 100. Penilaian dalam mata praktikum ini meliputi 3 komponen yaitu :

1. Penyelesaian kasus: 10%, dengan komponen penilaian meliputi:

a. Ketepatan identifikasi DRP b. Ketepatan penggalian informasi c. Ketepatan solusi yang diusulkan d. Keterampilan dalam berkomunikasi

2. Presentasi: 10%, dengan komponen penilaian meliputi:

a. Ketepatan waktu

b. Keterampilan dalam menyampaikan informasi c. Ketepatan informasi yang disampaikan d. Ketepatan dalam menjawab/berdiskusi 3. Responsi Praktikum: 10%

Total persentase praktikum adalah 30% terhadap nilai akhir mata kuliah Layanan Kefarmasian.

(6)

BAHAN KAJIAN

1. LAYANAN KEFARMASIAN (PHARMACEUTICAL CARE) Pendahuluan

Lebih dari 4 dekade terjadi kecenderungan perubahan pekerjaan kefarmasian.

Peran apoteker berubah dari peracik obat (compounder) dan suplair sediaan farmasi kearah pemberi pelayanan dan informasi dan akhirnya berubah lagi sebagai pemberi kepedulian pada pasien. Disamping itu tugas seorang apoteker adalah memberikan obat yang layak, lebih efektif dan seaman mungkin serta memuaskan pasien. Para apoteker harus mempunyai kemampuan untuk meningkatkan dampak pengobatan dan meningkatkan kualitas hidup pasien dari sumber daya yang tersedia dan posisi mereka sendiri harus terdepan dalam sistem pelayanan kesehatan.

“Penetapan terapi obat dan pelaksanaannya begitu sederhana, aman, dan tidak mahal. Dokter meresepkan dan apoteker meracik obat. Meskipun demikian ada bukti dasar bahwa metoda peresepan dan peracikan demikian tidak selalu aman dan efektif.

Pekerjaan profesional yang bertanggungjawab adalah isu utama dalam kepedulian kesehatan, dalam hubungan tradisional antara dokter dan apoteker, dokter bertanggungjawab atas hasil farmakoterapinya dan apoteker bertanggungjawab dalam meracik obatnya. Sekarang praktek pelayanan farmasi berubah dimana apoteker bertanggungjawab juga kepada pasien dengan kepeduliannya”

(7)

DIMENSI BARU PELAYANAN KEFARMASIAN

KONSEP PHARMACEUTICAL CARE

• Dengan mengambil tanggungjawab langsung pada kebutuhan obat pasien individual, apoteker dapat memberikan kontribusi yang berdampak pada pengobatan serta kualitas hidup pasien. Pendekatan cara ini disebut

"pharmaceutical care“ (asuhan kefarmasian; peduli kefarmasian).

Pharmaceutical care adalah tanggungjawab pemberi pelayanan obat sampai pada dampak yang diharapkanya itu meningkatnya kualitas hidup pasien (Hepler dan Strand, 1990).

• Seteleh diadopsi oleh International Pharmaceutical Federation (FIP) pada tahun 1998, definisi itu ditambah dengan timbulnya dampak yang jelas atau menjaga kualitas hidup pasien. Jadi menurut definisi FIP, pharmaceutical care adalah tanggungjawab pemberi pelayanan obat sampai timbulnya dampak yang jelas atau terjaganya kualitas hidup pasien

• Perubahan ke arah pharmaceutical care adalah faktor yang kritis dalam proses ini. Meskipun upaya untuk berkomunikasi atau memberikan informasi yang benar pada pasien adalah faktor penting dalam self medication, apoteker juga harus memberikan kontribusi yang vital melalui manajemen terapi obat dan penyediaan obat tanpa resep ataupun terapi alternatif lain.

• Pharmaceutical care adalah konsep dasar dalam pekerjaan kefarmasian yang mengisyaratkan bahwa semua praktisi kesehatan harus memberikan tanggungjawab atas dampak pemberian obat ke pasien.

• Pharmaceutical care yang berbasiskan masyarakat menggunakan data demografi dan epidemiologi untuk mengembangkan formula atau daftar obat,

(8)

memonitor kebijakan unit pelayanan kesehatan, mengembangkan dan mengelola jaringan farmasi, menyiapkan serta menganalisa laporan penggunaan obat, biaya obat, peninjauan penggunaan obat, dan mendidik tenaga kesehatan tentang prosedur dan kebijakan obat.

TAHAPAN PHARAMACEUTICAL CARE

1. Hubungan yang professional dengan pasien harus terbangun

2. Informasi medik yang spesifik dari pasien haruslah dikumpulkan, diorganisasi, direkam, dipelihara

3. Informasi medik yang spesifik dari pasien haruslah dievaluasi dan rencana terapi dibangun dengan kerjasama dengan pasien

4. Farmasis harus memastikan bahwa pasien mempunyai semua persediaan, informasi, pengetahuan yang dibutuhkan untuk keluar dari perencanaan terapi/sembuh.

5. Farmasis harus meninjau ulang, memonitor dan memodifikasi rencana terapetik sebagaimana yang diperlukan dan sesuai/tepat, dengan persetujuan pasien dalam tim kesehatan lain

JAMINAN MUTU PELAYANAN KEFARMASIAN (Quality Assurance of Pharmaceutical Care)

Quality Assurance adalah rangkaian aktifitas yang dilakukan untuk memonitor dan meningkatkan penampilan sehingga pelayanan kesehatan seefektif dan seefisien mungkin. Dapat juga didefinisikan QA sebagai semua aktifitas yang berkontribusi untuk menetapkan, merencanakan, mengkaji, memonitor, dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.

• Tujuan Quality Assurance adalah meningkatkan mutu layanan.

Peningkatan mutu adalah suatu proses pengukuran derajat kesempurnaan pelayanan dibandingkan dengan standar dan tindakan perbaikan yang sistematik dan berkesinambungan, untuk mencapai mutu pelayanan yang optimal sesuai dengan standar dan sumber daya yang ada.

(9)

2. PENGENALAN PERMASALAHAN PELAYANAN KESEHATAN

PERUBAHAN PARADIGMA FARMASIS

Tabel 1. Perubahan Paradigma Farmasis Dispensing Pharmacy Pharmaceutical care

• Product Bussiness

• Bring the product to customer

• Decisions focus on the business

• Inventory generates revenue

• Available service supports products

• Success measured as of Rx

• Space to display and sell

• Records kept for legal purposes

• Visit determined by refill supply

• Bussiness passive via prescreptions

• Service (people) business

• Bring the practitioner to patients

• Decisions focus on the patients

• Patients care generates revenue

• Available products support service

• Success measured as patients outcomes

• Space organized to meet patient needs

• Documentation to provide quality care

• Visit determination by patient risk

• Practice grows via patient recuitment

DIRECT PATIENT CARE

DIRECT PATIENT CARE-CONTINOUS CARE

(10)

PHARMACEUTICAL CARE PRACTICE

HEALTH CARE SYSTEM – old paradigm

HEALTH CARE SYSTEM – new paradigm

Think like a practitioner -

Pharmacotherapy Workup Act like practitioner -

Standards of Practice Speak like a practitioner - practice vocabulary

(11)

3. ARTI DAN KLASIFIKASI DRP (DRUG RELATED PROBLEM)

Arti DRP (Drug Related Problem)

Drug therapy problem merupakan kejadian tak diinginkan yang dialami pasien, yang terkait atau diduga ada kaitannya dengan terapi obat dan dapat menggangg tercapainya tujuan terapi dan membutuhkan pertimbangan professional dalam pengatasannya (Cipolle dkk., 2012). Drug therapy problem yang tidak terselesaikan akan berdampak klinis bagi pasien. Oleh karena itu, drug therapy problem memerlukan professional judgment dalam penyelesaiannya. Identifikasi drug therapy problem menjadi peran pokok apotekerdalam pelayanan kefarmasian. Drug therapy problem menggambarkan tanggung jawab besar seorang apotekerdalam pelayanan kefarmasian. Hal yang perlu ditekankan pada apotekerdalam pelayanan kefarmasian adalah mencegah kejadian drug therapy problem(Cipolle dkk., 2012).

Komponen DRP (Drug Therapy Problem)

Identifikasi, penyelesaian, dan pencegahan drug therapy problem memerlukan kejelian dari seorang apotekeruntuk menemukan masalah tersebut pada pasien.

Drug therapy problem pada pasien memiliki tiga komponen utama, yaitu:

1. Kejadian atau risiko tak diinginkan yang dialami oleh pasien. Permasalahan yang muncul dapat berupa keluhan medis, tanda klinis, gejala klinis, diagnosis, penyakit, rasa sakit, gangguan organ, ketidakmampuan pasien, abnormalitas data laboratorium, atau sindrom. Kejadian tersebut dapat merupakan akibat dari kondisi fisiologis, psikologis, sosiokultural, dan ekonomi.

2. Terapi obat (produk obat maupun regimen dosis obat) yang berkaitan dengan problem pasien.

3. Keterkaitan antara kejadian tak diinginkan dengan terapi obat. Keterkaitan

(12)

tersebut dapat berupa konsekuensi dari penggunaan obat atau kebutuhan modifikasi terapi untuk menyelesaikan atau mencegah problem pengobatan.

Semua problem pasien dapat dikategorikan pada satu dari tujuh tipe drug therapy problem. Problem tersebut termasuk efek samping, reaksi toksik, kegagalan terapi, kebutuhan tambahan terapi (sebagai terapi tambahan, terapi sinergis, terapi pencegahan), serta permasalahan terkait dengan kepatuhan pasien. Kategori drug therapy problem tersebut adalah:

1. Terapi yang tidak perlu 2. Kebutuhan terapi tambahan 3. Obat tidak efektif

4. Dosis terlalu rendah (underdose)

5. Reaksi obat yang tidak diinginkan (Adverse Drug Reaction) 6. Dosis terlalu tinggi (overdose)

7. Ketidakpatuhan

Kebutuhan pasien akan terapi dapat digolongkan menjadi empat, yaitu indikasi, efektivitas, keamanan, dan kepatuhan (adherence). Kebutuhan terapi pasien yang tidak terpenuhi selanjutnya disebut sebagai drug therapy problem.

Tabel 2. Hubungan Kebutuhan Terapi Pasien Dengan Drug Therapy Problem

Kebutuhan Terapi Drug therapy problem Indikasi Terapi tidak diperlukan

Kebutuhan terapi tambahan Efektivitas Obat tidak efektif

Underdose

Keamanan Adverse Drug Reaction

Overdose

Ketidakpatuhan Ketidakpatuhan pasien

Klasifikasi DRP (Drug Related Problem)

1.

Terapi tidak diperlukan

Terapi obat tidak diperlukan karena pasien tidak mengalami indikasi yang sesuai dengan terapi yang diberikan. Beberapa penyebab berikut sering menyebabkan problem terapi yang terkait dengan ketidakperluan terapi pada pasien.

• Duplikasi terapi

• Tidak ada indikasi yang menunjukkan pasien membutuhkan terapi tersebut

• Terapi tanpa obat lebih sesuai

• Penggunaan obat rekreasional

• Terapi untuk adverse drug reaction yang dapat dihindari

(13)

2.

Kebutuhan terapi tambahan

Terapi obat tambahan diperlukan untuk mengatasi atau mencegah perburukan kondisi penyakit. Beberapa penyebab berikut sering menyebabkan problem terapi yang terkait dengan kebutuhan terapi tambahan pada pasien adalah :

• Pasien memerlukan terapi untuk mencegah memburuknya kondisi pasien

• Terdapat indikasi dan/atau gejala yang belum diterapi

• Memerlukan tambahan terapi untuk mencapai sinergitas terapi

3.

Obat tidak efektif

Obat dikatakan tidak efektif jika produk obat yang diberikan tidak menunjukkan respon terapi yang diinginkan. Penyebab di bawah ini merupakan pemicu terjadinya problem obat tidak efektif :

• Terdapat obat yang lebih efektif

• Kondisi medis pasien yang sulit diobati meskipun pengobatan sudah sesuai guideline terapi

• Dosis yang diberikan tidak sesuai

• Kondisi pasien kontraindikasi dengan obat yang diberikan

• Obat yang diberikan tidak efektif untuk kondisi pasien

4.

Underdose

Obat dikatakan underdose atau subterapi jika respon terapi yang diinginkan dari suatu obat tidak tercapai. Beberapa penyebab di bawah ini menjadi pemicu kondisi subterapi :

• Dosis tidak efektif

• Obat yang diberikan memerlukan monitoring tambahan

• Frekuensi penggunaan obat tidak sesuai

• Durasi penggunaan obat tidak sesuai

• Cara penggunaan obat tidak tepat

• Cara penyimpanan obat tidak tepat

• Interaksi obat yang menurunkan kadar obat dalam darah

5.

Adverse Drug Reaction (ADR)

Obat yang diberikan memicu terjadinya ADR. Sebagai contoh, pasien mengalami rash pada bagian lengan dan dada setelah menggunakan Cotrimoksazol untuk terapi luka infeksi. Penyebab lain yang mungkin dapat menimbulkan ADR adalah :

• Terjadi efek yang tidak terduga

• Obat yang diberikan tidak aman untuk pasien

• Interaksi obat dengan obat

• Interaksi obat dengan makanan

(14)

• Cara penggunaan obat tidak tepat

• Terjadi reaksi alergi

• Dosis menurun/meningkat terlalu cepat

6.

Overdose

Suatu obat dikatakan overdose jika dosis obat yang diberikan menimbulkan efek toksik. Overdose tidak hanya akibat dari kekeliruan pemberian dosis sebelum diminum. Berikut adalah penyebab-penyebab yang mungkin dialami pasien sehingga menimbulkan efek toksik :

• Dosis terlalu tinggi untuk pasien

• Obat yang diberikan memerlukan monitoring tambahan

• Frekuensi pemberian obat terlalu rapat

• Durasi obat lama

• Interaksi obat yang menyebabkan peningkatan kadar obat dalam darah

7.

Adherence

Permasalahan kepatuhan tidak sepenuhnya menjadi tanggung jawab pasien.

Adakalanya pasien bukan tidak mau minum obat, tetapi pasien tidak mampu membeli obat. Berikut adalah beberapa penyebab yang terkait dengan kepatuhan pasien.

• Pasien tidak memahami instruksi penggunaan obat

• Pasien tidak dapat membeli obat

• Pasien memilih tidak minum obat

• Pasien lupa minum obat

• Produk obat tidak tersedia

• Pasien tidak dapat minum/menggunakan obat

(15)

DESAIN LAYANAN KEFARMASIAN PADA PASIEN GERIATRI

Kasus 1

Pasien laki-laki 85 tahun MRS dengan keluhan anoreksia, mual, dan muntah. Pasien memiliki riwayat penyakit atrial fibrilasi, CHF, dan GGK. Saat ini mendapatkan terapi Digoxin 250 mcg sekali sehari dan furosemide 80 mg 2x sehari. Setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium, diperoleh hasil sbb:

Parameter Hasil pemeriksaan Nilai normal

K 4,5 mmol/L (3,5-5)

Urea 40 mmol/L (3,0-6,5)

Creatinin 600 µmol/L (50-120)

Digoxin 3,5 µcg/L (1-2)

Jawablah pertanyaan tambahan berikut:

• Apakah problem medis pasien tersebut dan bagaimana pengaruh terapi terhadap keluhan pasien?

Kasus 2

Pasien perempuan 80 tahun, dengan riwayat penyakit hipotiroid, mengalami nyeri abdomen dan muntah. Pasien tidak BAB selama 7 hari. Dua minggu sebelumnya, pasien mendapatkan obat kombinasi parasetamol dan kodein untuk mengatasi OA pada pinggangnya.

Jawablah pertanyaan tambahan berikut:

• Apakah penyebab konstipasi pasien?

Kasus 3

Wanita 75 tahun menderita OA panggul dan sendi lutut. Pasien datang dengan keluhan BAB berwarna hitam. Pasien sedang menjalani terapi OA menggunakan Na diklofenak 50 mg 3x sehari dan parasetamol 1 gram bila perlu.

Jawablah pertanyaan tambahan berikut:

• Apakah penyebab keluhan pasien?

Kasus 4

Laki-laki 70 tahun baru terdiagnosis hipertensi dan dokter meresepkan Lisinopril 5 mg sekali sehari. Pasien memiliki riwayat peripheral vascular disease dan membutuhkan angioplasty untuk mengatasinya. Setelah 2 minggu terapi hipertensi, pasien mengalami penurunan nafsu makan, mual, dan jarang BAK.

Jawablah pertanyaan tambahan berikut:

• Apakah penyebab keluhan pasien?

(16)

Kasus 5

Seorang laki-laki 65 tahun menderita diabetes melitus selama 10 tahun. Satu bulan terakhir merasa kesemutan dan penglihatan agak kabur. Datang ke apotek anda membawa resep sebagai berikut:

Pasien juga membawa hasil laboratorium: GDP 110 mg/dL, GD 2jPP 210 mg/dL, HbA1C 12,2%. Pasien mulai mendapatkan resep insulin sejak sebulan yang lalu. Pasien takut disuntik jarum dan tidak paham cara penggunaan insulin.

Purwokerto Telp.0281-323571 Purwokerto Telp.0281-325768

dr. FH, Sp.PD

(17)

DESAIN LAYANAN KEFARMASIAN PADA PASIEN PEDIATRI

Kasus Praktikum Kelompok Kasus

1 Anak usia 15 bulan dengan keluhan diare

2 Bayi usia 5 bulan dengan keluhan demam 40⁰C sudah 2 hari 3 Anak usia 3 tahun (anak ke UGD) dengan keluhan takipnea

4 Anak usia 2 tahun dengan keluhan muntah hari pertama sudah 5x dalam 1 jam

5 Anak usia 14 bulan dengan keluhan sesak nafas

(18)

DESAIN LAYANAN KEFARMASIAN PADA PASIEN IBU HAMIL DAN MENYUSUI

Kasus Praktikum Kelompok Kasus

1 Ibu hamil 10 minggu dengan keluhan konstipasi

2 Ibu hamil 29 minggu dengan keluhan batuk kering sudah 2 minggu 3 Ibu hamil 33 minggu dengan keluhan low back pain

4 Ibu menyusui (anak 3 bulan) dengan keluhan flu

5 Ibu menyusui (anak 1 bulan) dengan keluhan mastitis (demam, nyeri payudara)

(19)

DESAIN LAYANAN KEFARMASIAN PADA PASIEN GERIATRI II

Kasus 1

Seorang pasien lansia dan pendampingnya mendatangi klinik dengan keluhan diare.

Pasien mengalami diare sejak kemarin. Pasien datang dengan kondisi lemah, turgor kembali lambat, dan mata cekung. Sebelumnya, pasien merupakan pasien control rutin di klinik dengan diagnosis depresi dan kecemasan. Riwayat terapi terakhir di rekam medis tertulis: Sertralin, Lorazepam, dan Haloperidol.

Kasus 2

Seorang pria datang ke apotek minta obat untuk mengatasi gatalnya. Gatal terjadi di kepala, wajah, punggung, tangan, dan kaki. Daerah yang gatal membentuk lesi bulat dengan sisik putih bagian pinggirnya bersisik tinggi. Bagian lesi mengalami peradangan dan berwarna merah. Pasien juga mengeluhkan ketombe yang tidak kunjung sembuh meskipun telah menggunakan sampo anti ketombe.

Kasus 3

Seorang pasien melakukan kontrol rutin di RSUD Kabupaten. Pasien mengeluhkan pegal- pegal sejak seminggu yang lalu. Pasien juga merasa agak sulit menelan dan bicaranya mulai kesulitan. Menurut data rekam medik, pasien terdiagnosis hipertensi dan hyperlipidemia dengan pengobatan Simvastatin 2x 10mg sehari dan Amlodipin 1x 10mg sehari sejak sebulan terakhir. Data lab LDL terakhir adalah 153 mg/dL

Kasus 4

Pasien perempuan datang ke poliklinik onkologi dengan keluhan nyeri pada kaki dan tangannya. Keluhan tersebut muncul pada 14 hari setelah kemoterapi. Pasien terdiagnosis kanker rectum dan mendapatkan kemoterapi yang dimulai sejak 14 hari yang lalu.

Kemoterapi dengan Capecitabine dilakukan setiap hari selama 14 hari, dan Oxaliplatin hanya diberikan di hari pertama. Siklus kemoterapi berulang setiap 14 hari dengan jeda waktu 7 hari.

Kasus 5

Seorang wanita datang ke apotek dengan keluhan gula darah yang meningkat beberapa minggu terakhir. Pasien merasa frustasi karena merasa telah melakukan diet makanan dengan baik, namun gula darah yang awalnya terkendali menjadi tidak terkendali. Awalnya pasien melanjutkan pola makan seperti sebelumnya, karena gula darahnya terkendali.

Sejak gula darahnya kembali meningkat, pasien mengurangi porsi makan menjadi separuhnya, dan mengganti makan malam dengan buah. Akan tetapi gula darah tetap tinggi dan di waktu tertentu pasien merasa sangat lemas.

(20)

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian ini meliputi (1) buku petunjuk praktikum terdiri bagian pendahuluan, bagian isi berisi pengenalan mikroskop dan tiga petunjuk praktikum dilengkapi dengan

Tujuan penelitian pengembangan ini adalah menghasilkan buku petunjuk praktikum kimia SMK kompetensi keahlian Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian kelas XI semester

Buku Petunjuk Praktikum Dasar-dasar Pemisahan Analitik (1996) direvisi dengan mengganti judul dan materi menjadi Petunjuk Praktikum Kimia Analisis II (1998) yang kemudian direvisi

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan sebagai berikut: (1) dihasilkan buku petunjuk praktikum fisika pengujian jenis kawat konduktor komersial yang

Pengembangan Buku Petunjuk Praktikum IPA Berbasis Inquiri di Kelas V: Skripsi, Jurusan Pendidikan Anak Usia Dini dan Dasar, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah

JADWAL KULIAH DAN PRAKTIKUM PROGRAM STUDI INFORMATIKA FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI UNIVERSITAS ATMA JAYA YOGYAKARTA SEMESTER GASAL 2022/2023 Sesi

Buku ini disusun dengan tujuan untuk membantu peserta didik memperoleh bahan ajar baru yang berupa buku petunjuk praktikum dengan judul “Buku Petunjuk Praktikum Materi Protista

 30 Agustus 2023 : Jadwal kuliah dan KRS Kartu Rencana Studi Semester Gasal 2023/2024  18 September 2023 : Awal perkuliahan Semester Gasal 2023/2024  31 Agustus 2023 : Kartu Hasil