Sartono memandang komputer di hadapannya dengan tegang.
Mahasiswa itu duduk di sebuah warung internet di Klaten, Jawa Tengah. Sudah semalaman ia di situ, hampir 10 jam, sejak bakda isya hingga jelang subuh. Ia tak menggubris nasihat kawan-kawannya agar segera pulang. Sartono belum puas berjudi online. Baginya, pulang bisa nanti-nanti.
Ya, Sartono seorang pejudi. Meski sudah kehilangan Rp 8 juta malam itu, ia belum kapok. Ia masih penasaran main. Pikirnya, toh ia masih punya sisa duit Rp 2 juta di rekening. Selama duit belum habis, ia masih bisa bertaruh. Sampai rekeningnya kosong. Namun, teman- teman Sartono tak diam saja melihatnya kerasukan judi subuh itu.
Mereka mengambil dompet Sartono—yang berisi kartu debitnya—
agar ia berhenti bermain. Sartono jadi tak bisa memasukkan nomor kartunya ke meja judi virtual untuk bertaruh. Ketika itu, tahun 2014, Sartono belum memakai metode deposit dana judi via m-banking atau transfer e-money. Sartono pun menghela napas dan untuk sementara mengalah. Ia pulang bersama kawan-kawannya. Tapi sesampainya di rumah, Sartono membuka laptop dan lanjut berjudi. Kalau punya uang tak terbatas, bisa jadi ia akan berjudi sampai mati.
“Aku merasa bahagia saat berjudi,” kata Sartono kepada kumparan, Jumat (25/8). Kebahagiaan itu membuncah karena ia akhirnya menang di meja judi online. Uang Rp 2 jutanya yang terakhir mengembang jadi Rp 35 juta. Sayangnya, duit Rp 35 juta itu habis hanya dalam dua hari. Seluruhnya hilang—lagi-lagi—di meja judi. “Dari Rp 2 juta jadi Rp 35 juta, aku pakai main judi bola. Akhirnya habis semua dalam dua hari,” ujar Sartono, enteng.
Tahun 2012 adalah awal mula Sartono kecanduan judi. Gara- garanya, ia absen kuliah selama setengah semester untuk memulihkan diri dari cedera lutut. Celakanya, sehari-hari menganggur tanpa kegiatan kampus membuat setan judi mendatanginya. Tak butuh waktu lama bagi Sartono untuk keranjingan berjudi. Sartono sebetulnya sudah mengenal judi online sejak SMA. Kala itu, ia mencoba bermain poker online di Facebook. Namanya Zynga Poker.
Pada gim itu, pemain bisa mendapat chip seharga Rp 20 ribu yang nilainya Rp 1 miliar dalam permainan tersebut. “Saya dulu pernah menang Rp 100 miliar. Jika diuangkan mencapai Rp 2 juta,” kata Sartono. Namun, entah kenapa akunnya dibekukan dan dia tak bisa menarik duit kemenangannya. Bukannya jadi hilang kepercayaan terhadap perjudian, Sartono justru penasaran dengan ajakan temannya untuk mencoba permainan lain bernama Dewa Poker. Namun, gim itu menggunakan deposit uang tunai. Meski Sartono sudah membuka rekening dan mendaftarkan rekeningnya itu untuk bermain Dewa Poker, ia akhirnya batal melakukan deposit. “Enggak jadi, karena aku takut dana dari rekening itu tersedot,” ucapnya. Rupanya, ia relatif lebih waspada saat duduk di bangku SMA.Kewaspadaan itu hilang saat Sartono dilanda bosan karena tidak bisa ke mana-mana pasca- operasi lutut. Ia kembali bermain poker, dan mencoba pula judi bola.
“Aku deposit Rp 100 ribu, lalu kalah, dan kalah lagi. Tapi karena teman-temanku juga main dan menang, aku masih penasaran. Aku tambah deposit jadi Rp 300 ribu, dan waktu itu dalam hati bilang:
Kalau ini kalah, aku berhenti,” ucap Sartono. Nyatanya ia menang kali itu. “Rp 300 ribu berubah jadi Rp 11 juta. Serius,” ujarnya, bungah.
Sartono begitu bahagia. Adrenalinnya membuncah. Ia bermain judi lagi dengan menambah deposit secara berkala—Rp 500 ribu hingga jutaan rupiah. “Aku merasa, adrenalin inilah yang aku cari. [Hidup jadi] enggak hambar,” kata Sartono.Kisah serupa datang dari Agung.
Ia mengenal judi dari teman-temannya yang hobi menggandakan duit lewat judi. Selembar Rp 50 ribu menjadi Rp 200 ribu dalam waktu singkat. Agung pun tergoda. “Aku akhirnya minta tutorial cara mainnya. Aku coba deposit Rp 50 ribu, dapat Rp 100–150 ribu.
Rasanya senang banget. Aku tarik Rp 80 ribu dan main lagi,” tutur Agung.
Lambat laun, jumlah deposit dan frekuensinya bermain judi online meningkat, namun belum sampai mengganggu kehidupannya sehari- hari. Sampai akhirnya ia tamat kuliah dan pulang ke kampung halamannya di Purwokerto, Jawa Tengah. Di kota kelahirannya, tak disangka ia makin lengket dengan judi online. Musababnya sama seperti saat kuliah: pengaruh kawan sepergaulan. “Bermain sama temen itu ‘panas-panasan’. Maksudnya, ketika teman yang satu menang tapi yang lain kalah, itu yang enggak menang jadi panas, jealous. Nggak mau kalah kan sama teman karena mainnya bareng,”
kata Agung.Meski demikian, Agung menyebut kegemarannya berjudi kala itu masih terkontrol. Sayangnya, sejak awal 2023 saat ia mulai buka usaha dan punya duit sendiri, situasi jadi tak terkendali. Lagi-lagi karena ajakan sesat konco untuk bertaruh. “Aku deposit Rp 150 ribu, menang Rp 3 juta. Aku merasa minus ketutup dan niat berhenti. Tapi karena teman pada main, aku ikut main lagi,” ucap Agung yang tak kuasa menolak godaan judi. Ia merasa kehidupannya makin kacau saat pekerjaannya waktu itu, berjualan ponsel, sepi pelanggan. Apalagi pemodal usahanya berkata hendak berhenti berbisnis dengannya.
Menghadapi situasi tak menguntungkan ini, Agung bukannya menghemat pengeluaran, malah berpikiran untuk meraup untung dari berjudi guna menambah modal bisnisnya yang terancam. “Pikirku, karena pernah menang Rp 3 juta, bisalah cari tambah-tambah duit [dari menang judi] buat nerusin jualan handphone atau modal usaha lainnya. Jadi aku main, deposit Rp 100–200 ribu, tapi keterusan dan rugi, sampai aku ambil pinjaman online (pinjol) Rp 6 juta,” beber Agung. Sialnya, duit pinjol itu bahkan tak bersisa di mesin judi online.
Sudah begini pun, Agung tak berniat berhenti berjudi. Hatinya malah makin panas karena tak menang-menang. Ia mengambil pinjaman online lagi Rp 6 juta, dan akhirnya menang—tapi hanya Rp 6 juta.
Padahal pinjamannya sudah Rp 12 juta, dan itu pun masih ia tambah lagi.
“Menang Rp 6 juta buat mulangin utang [pinjol] Rp 6 juta. Tapi kan ada pinjaman berikutnya Rp 6 juta juga, dan aku pinjam lagi—
juga Rp 6 juta. Jadi Rp 12 juta aku pasang semua buat berjudi. Hilang semua. Kalah sampai Rp 14 juta,” kata Agung.Sejak kekalahan Rp 14
juta itu, Agung sempat berhenti berjudi selama setahun. Pada masa
“bersih” itu, ia memulai kehidupan baru. Ia mendapat pekerjaan di Jakarta dan memperoleh gaji yang layak. Agung pun bisa mencicil tagihan pinjolnya yang dulu ludes di layar judi. Tapi, lagi-lagi, godaan menghampiri. Ia goyah dan membatalkan pantangannya berjudi.
Terjerat rasa penasaran, Agung mulai bermain judi slot.
“Dalam slot, ada Maxwin (menang maksimum) dengan kelipatan 5.000. Jadi duit kecil bisa menang sampai Rp 5 juta. Aku termotivasi, penasaran, karena ada praktik yang bikin aku percaya,” ucap Agung.Sayangnya, harapan sekadar khayalan yang tak mewujud kenyataan. Tak sekali pun Agung menang besar seperti yang ia bayangkan. Pada titik ini, Agung bertobat. Ia akhirnya berhenti berjudi sama sekali. Kini, Agung hidup sewajarnya dengan gaji yang ia dapat, dan mampu membayar angsuran pinjolnya secara teratur. Ia sudah sepenuhnya sadar, bahwa berjudi tidak melipatgandakan uangnya, hanya memutar-mutar uangnya, bahkan malah mengeruk dompetnya
“Intinya, kalau dikalkulasi total, ya hasilnya rugi. Kalau pernah menang, itu hanya kemenangan sementara. Hiburan semu,” tandas Agung.